Lompat ke konten utama
EP 41

Ngobrolin Public Speaking

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Topik malam itu keluar dari kebiasaan: bukan teknologi, melainkan berbicara di depan umum. Ketiganya berbagi cerita awal masing-masing, dan tidak satu pun berangkat dari rasa percaya diri. Ada yang bertahun-tahun percaya dirinya tidak bisa berbicara jelas dan menyalahkan sifatnya sendiri. Ada yang dulu berkeringat dingin hanya untuk mengangkat tangan bertanya dari bangku penonton. Ada yang saat skripsi memilih tugas menekan tombol lanjut agar tidak perlu bicara. Yang mendorong semuanya bukan bakat melainkan keadaan: mereka mulai mengurus komunitas — WordPress yang sedang mati suri, dan meetup Meteor yang organizer-nya sudah vakum — dan mencari pembicara ternyata sulit, maka penyelenggaranya sendiri yang naik. Salah satu cerita paling berkesan adalah meetup yang tiga puluh orang mendaftar tapi hanya satu yang datang. Acaranya tetap dijalankan berdua di depan laptop, dan satu orang itu belakangan resign lalu jadi developer lepas. Dari situlah dampaknya terasa nyata. Sisanya berisi saran praktis: kenali audiensnya lebih dulu dengan bertanya ke penyelenggara, dan sadari bahwa kata kuncinya adalah publik — fokusnya pada mereka, bukan pada diri kita. Pilih topik yang benar-benar sudah diterapkan sendiri, karena yang membuat presentasi bernilai justru hal yang tidak ada di dokumentasi. Menyanggupi sebuah topik juga bisa dipakai untuk memaksa diri belajar, seperti WebAssembly yang lama ingin dipelajari tapi tak ada kesempatannya. Rancang alurnya seperti cerita dengan kail di lima menit pertama, dan berlatih bukan untuk menghafal melainkan mengukur waktu.

Poin-poin Utama

  • •Tidak satu pun berangkat dari rasa percaya diri — ada yang yakin dirinya tidak bisa bicara jelas, ada yang berkeringat dingin sekadar untuk bertanya dari bangku penonton
  • •Yang mendorong mereka bukan bakat melainkan keadaan: mengurus komunitas WordPress yang mati suri dan meetup Meteor yang vakum, lalu kesulitan mencari pembicara
  • •Sebuah meetup hanya dihadiri satu orang dari tiga puluh yang mendaftar — acaranya tetap dijalankan, dan orang itu belakangan resign lalu jadi developer lepas
  • •Kata kuncinya adalah publik: fokus pada apa yang audiens bawa pulang, bukan pada cerita tentang diri sendiri yang sudah disampaikan pembawa acara
  • •Pilih topik yang benar-benar sudah diterapkan sendiri, karena yang membuat presentasi bernilai justru hal yang tidak ada di dokumentasinya
  • •Menyanggupi sebuah topik bisa dipakai untuk memaksa diri belajar — seperti WebAssembly yang lama ingin dipelajari tapi tak ada kesempatannya
  • •Berlatih malam sebelumnya bukan untuk menghafal melainkan mengukur waktu, dengan penanda menit di catatan tiap slide

Horas!

Horas!

Maju-majuah.

Maju-majuah.

Selamat malam.

Udah cukup sampai di situ aja bahasannya, udah gak tau lagi.

Selamat malam, artinya apa selamat malam?

Selamat malam.

Selamat malam semuanya.

Halo-halo, gimana kabarnya?

Mas Rizal mau komen dan soalnya kan?

Alis, enggak.

Kan ceritanya kemarin kan bikin teaser kan.

Jadi, apa opening kita tuh selalu kalau gak halo, hai.

Nah, ini mau sedikit berbeda.

Pakai bahasa daerah tapi bingung, dapetnya baru Horas.

Iya, tapi temen-temen bisa komen.

Oh iya bener.

Tolong chat di Twitch, bilang halo.

Hai atau halo di daerahnya itu apa?

Nanti bisa kita gunakan di episode-episode berikutnya.

Soalnya beberapa bahasa daerah kayaknya gak ada halo deh.

Bisa jawab, bisa sundar, gak ada kan?

Selamat malam ada, artinya itu beda ya.

We lu jeng sundving biasanya.

Oh iya, kulun nun.

Permisi ya.

Sepadah gitu.

Kulun nun.

Pertanyaannya halo ya.

Lihat transkrip lengkap (3537 segmen lagi)

Halo atau hai.

Ya menyapa lah ya, menyapa orang gitu ya.

Selamat malam juga boleh sih sebenarnya ya.

Selamat malam.

Topiknya bukan itu.

Horas tuh ini apa sih sebenarnya?

Topiknya.

Oh halo.

Seperti biasa, ketemu lagi bersama kita bertiga.

Ada Eka, ada Ivan, dan ada saya Riza.

Di Selasa Malam.

Karena Selasa Malam adalah waktunya ngobrolin web.

Tapi malam hari ini kita gak ngobrolin web.

Kita gak ngobrolin web.

Kita gak ngobrolin web.

Iya.

Bukan karena kehabisan ide topik.

Tapi emang iya.

Enggak sih, enggak.

Cuman kita sedang mau refreshing aja.

Iya lagi ada pembahasan menarik kemarin kan.

Ivan bahas.

Suatu topik yang kelihatannya berguna buat banyak orang.

Tadinya sebenarnya ngobrol internal doang.

Jadi kita mikir-mikir kayaknya ternyata pas ya di suatu group chat banyak yang nimrum juga.

Terus kita mikir kayaknya itu hal yang menarik dan mungkin berguna buat banyak orang.

Ya udah, makanya malam ini kita gak ngobrolin web.

Plus kita juga pengen belajar dari saat masing-masing.

Betul, betul.

Berbagi tips dan trik ya.

Dari temen-temen juga kalau ada boleh lah ya.

Ini ada yang absen, Abdul Malik halo.

Abdul Malik ini dari daerah mana?

Mungkin bisa kasih tau kota dia di mana dan bahasa daerahnya halo itu apa.

Siapa tahu nanti bisa kita pake di episode berikutnya ya.

Wah halo mas Esther.

Oh ada Esther.

Ini Esther yang kita kenal lah.

Oh iya.

Ini GDI baru.

Selamat ya.

Selamat datang.

Selamat datang.

Wah harusnya Esther nih dimasukin kesini nih.

Sebagai salah satu bahara sumber.

Nanti bajak buat bahas machine learning lah.

Asik, oh iya benar.

Apakah AI akan menggantikan Nicky Loper?

Apa kita semua bakal dipecat, diganti robot?

Nah nanti kita bisa ngobrol sama yang lebih seperti machine learning.

Siap, siap, siap.

Mantap.

Nah, jadi malam ini kita akan bahas tentang public speaking.

Bahasa Indonesia apa ya?

Berbicara di depan publik.

Pidato, seminar.

Ya pokoknya itu lah ya public speaking.

Khususnya untuk materi teknis.

Untuk developer.

Tentang materi teknis karena kita di web ya kita public speaking tentang web.

Ya itulah benang merah nih malam hari ini.

Kalau nggak ada benang merah sama sekali.

Dan menggunakan Google slide yang web app.

Nggak saya nggak pakai.

Saya bukan pengguna Google slide.

Nanti ada ceritanya.

Ada cerita menarik.

Mengenai bukan hanya Google slide.

Tapi ada tools yang seperti sejenis.

Ya pokoknya ada ceritanya lah.

Cerita yang bisa dijadikan pelajaran.

Wah Esther pengen belajar cara podcast.

Asik abis ini kalau ada seri ngobrolin machine learning.

Asik.

Oke kita mulai dari mana nih dari mana?

Mungkin ini dulu kali ya.

Apa namanya cerita background dulu ya.

Kenapa apakah programmer atau developer perlu belajar public speaking.

Dan kenapa harus kenapa kita perlu sharing ke komunitas atau ke acara-acara.

That's a good topic.

Eka coba kenapa itu.

Kenapa Eka akhirnya memutuskan yang mungkin tadinya cuma di depan komputer.

Terus akhirnya memutuskan memberanikan diri untuk ngisi talk dimana gitu.

Kan nggak mudah kan. Sulit kan.

Betul sulit. Sulit banget.

Nah ini justru ceritanya rada mungkin aneh ya.

Jadi selama ini apa maksudnya dari dulu.

Aku tuh ngerasa aku nggak bisa ngomong dengan jelas.

Nggak bisa ngomong ya bisa.

Kayaknya.

Tidak bisa mengeluarkan ide di kepala gitu ya. Sulit ya.

Nah itu belibet pokoknya kalau mau selalu belibet.

Selama berpuluh-puluhan tahun hidup kayaknya mikir ya udah.

Emang gitu terus bikin pemenaran macem-macem.

Aku kan introvert. Makanya nggak bisa public speaking.

Nggak tahu disambung-sambungin aja karakter.

Padahal itu kan beda kasus ya.

Cuma lama-lama mikir ya nggak pengen jadi.

Ya nggak pengen stuck di situ.

Nah coba tolong buka yang tentang growth mindset.

Growth mindset. Siap.

Ini sebetulnya pertama kali ngulik ini agak bawah dikit.

Tuh tulisannya panjang, malas pasti pada bacanya kan.

Nah ini aja yang ada warna-warnanya.

Sebetulnya sih ini pas awal-awal lagi niat jadi developer juga ya.

Awal apa? Meniti karir.

Meniti karir sebagai developer.

Banyak yang dibelajarin dulu sih.

Sambil belajar karena kalau misalnya belajar doang.

Gak didokumentasiin sebenarnya abis itu ilang lupa lagi kan pasti.

Jadi awalnya sih lebih banyak sharing dalam bentuk tulisan, nulis.

Tulisan.

Return-nya misalnya kayak output-nya itu kayak lebih,

ya mungkin aku ngerasa aku lebih bahkan nulis.

Terus pas nulis ya sekali dua kali lah.

Ada yang nyangkut misalnya di retweet dulu,

di retweet sama Gatsby atau apalah.

Pokoknya jadi banyak di retweet, jadi banyak yang follow, pokoknya apa.

Hasilnya kayak lebih terasa.

Nah cuma ya itu kan nulis.

Itu masih nyambung sama aku nganggap diriku gak bisa ngomong dengan jelas.

Kalau ngomong belibet tapi bisa nulis.

Tapi lama-lama gak pengen stuck di situ.

Gak pengen stuck di pemenaran bahwa oh aku gak bakat talking-talking.

Aku gak bisa ngomong kalau ngomong belibet.

Jadi yaudah, terus kebetulan waktu itu tiba-tiba di Bandung,

lagi cari, lagi cari speaker.

Yaudah ditawarkan.

Saat kita bertemu bertama kali.

Iya betul.

Oh iya, pas itu Ivan udah jadi GDI.

Kok belum? Ivan presentasi.

Wow sangat profesional.

Aku presentasinya setengah materi pun,

setengah dari kontennya gak selesai.

Karena over time, ya gitu lah.

Jadi intinya sih kombinasi antara growth mindset,

gak pengen stuck dengan pemenaran oh aku gak bisa ngomong dengan jelas.

Sama neck-up dan iseng.

Udah ya kombinasi itu semua sih.

Jadi kalau kenapa, ya terus kan emang ada value-nya.

Mungkin kalau secara general kan apapun berbagi dalam bentuk tulisan,

dalam bentuk public speaking,

atau apapun kan sebetulnya emang ada value-nya.

Kita memperkuat pemahaman kita.

Terus ya maksudnya bagus buat apa portfolio dan lain-lain.

Belas networking, bisa connecting sama orang lain.

Ya kan daripada depan laptop mulu, unsourced, gak pernah ketemu orang.

Kan jadi bisa ketemu sama sesama developer ya.

Memperbuas network lah, mindset lah, blablabla.

Itu kan secara umum.

Tapi kenapa ngomong?

Itu kombinasi nantang diri sendiri biar gak stuck sama iseng dan neck-up.

Udah gitu kalau kenapa ya.

Hmm mantap.

Kalau gue, ah panjang cerita ya.

Cuman gini, saya pertama kali, jangan kan mencoba public speaking.

Misalnya lagi ikut seminar apa.

Ada yang nanya, saya berani ngangkat tangan aja saat mau nanya aja.

Awalnya gak berani, saat mau nanya aja saya keringat dingin.

Itu tongan saya hampir dingin.

Mau nanya aja dari kursi penonton, mau nanya aja dia keringat dingin gitu.

Itu pertama kali yang terjadi sama saya.

Sekarang masih keringat dingin ya?

Kalau presentasi?

Kecuali siapa ya?

Kalau presentasi, depends kalau audiens ya.

Saya sempat di...

Kira ini tergantung ruangannya.

Kalau ruangannya dingin gak bakal keringat.

Justru kalau dingin banget jadi keringat dingin.

Jadi kayak gemuteran kayak.

Beneran saya pernah satu kali.

Itu ruangannya dingin banget.

Saya sampai kayak di panggung itu kayak kedinginan gitu.

Saya sampai kayak, bentar ya aku mau ambil jacket dulu.

Pernah itu sekali.

Anyway, jadi waktu awalnya nanya aja takut.

Akhirnya saya, tapi bukan itu yang saya challenge diri saya bukan.

Tapi saya lebih keingin kan, keinginan waktu itu awalnya.

Ingin punya purpose untuk serving.

Serving the public, serving orang lain.

Melalui kemuntas.

Itu aja ya, kerinduan saya untuk menjadi public servant.

Public servant.

Ya public servant, artinya gini.

Saat itu komunitas WordPress mati suri ceritanya.

Agak tidak ada kegiatan.

Terus akhirnya saya beranikan diri aja.

"Kok gak ada sih kegiatan bit of WordPress yang selanjutnya ya gimana?"

"Kalau gua mau ada yang lagi boleh gak?"

Terus sama yang previous organizer bilang, "Boleh aja."

"Ini linknya, lu belajar, lu apply."

Nanti kita naikin menjadi co-organizer, kita manjuin gitu.

Kita jalanin gitu.

Itu doang tuh awalnya.

Jadi bener-bener ingin kayak biar ada komunitas WordPress.

Gua pengen belajar WordPress.

Sekaligus ya udah, coba organize gitu.

Out of the blue.

Out of the blue.

Ya udah lah coba.

Seperti biasa nyari speaker itu susah.

Kita yang organize, kita sendiri yang ngomong.

Itu tuh tiga mita pertama pasti begitu.

Ya mau gak mau cari topik apa yang gua angkat.

Supaya bisa ngadain.

Gua yang organize sendiri.

Gua sendiri yang ngomong.

Plus nanti yang kedua sudah mulai kan.

Yang kedua sudah mulai dapat tuh dari yang sebelumnya.

Todong-todongnya.

Karena ada yang nonton ya.

Offline.

Offline.

Terus mulai say hi, hi, hi, hi.

Terus todong-todongin.

Eh lu mau gak nanti ke depan kita omongin soal plugin lu keren tuh.

Terus mau gak yang ini, mau gak yang itu.

Yang kedua mulai dapat.

Yang ketiga mulai kayak dari audience.

Mulai oke gua bisa langsung kayak ditempat mau sharing gitu.

Ya udah lah.

Sharing dengan adanya mitap-mitap.

Ya gitu.

Kadang kalo misalnya.

Pernah suatu kali memang bener-bener ambisius.

Kayak satu bulan minimal satu kali gitu.

Ya udah gak ada ini.

Ada gak ada speaker pokoknya.

Karena sudah dapat ke working space nya kan.

Ada gak ada speaker pokoknya ada date nya dulu.

Publish dulu.

Topik nya belakangan.

Kalau dapat syukur.

Kalau gak dapat gua aja yang maju gitu.

Seperti biasa kan seperti itu kan.

Ya lama-lama dari.

Dari.

Komunitas yang hanya 10 orang.

Kadang 6 orang.

Kadang 7 orang.

15 mulai naik 50, 100.

Ya itu terlatih sendiri kan.

Minimal kalau sebagai organizer.

Meskipun bukan kita topik utamanya.

Kita yang membuka kan.

Kita yang kayak menyapa.

Dan jadi MC lah bahasanya ya.

Jadi MC.

Minimal jadi public speaking juga.

Tanpa ada text.

Kayak say hi gitu aja.

Itu sih motivasinya.

Lama-lama ya.

Ngadain event sama Mas Johan.

Trus dia bilang.

Apply nya tuh.

Oke siang.

Cuma berarti.

Bendang merahnya itu.

Masih ada gab kesulitan cari speaker ya.

Masih banyak organizer cari speaker.

Awal jaman itu yes.

Masih kayak nyari speaker itu.

Kayak nyari nairah sumber itu.

Yang tanpa pambri.

Yang tanpa pambri.

Itu susah.

Yang ada pambri nya gampang.

Keluhan organizer.

Karena yang gak ada pambri nya gampang.

Karena gini.

Cari sponsor gitu.

Jadi dari sponsor dia nitip.

Saya ngasih topik saya dong.

Tetapi topik nya jualan.

Di world place ada aturan.

Gak boleh jualan.

Gak boleh hard selling.

Kalau project open source gak apa-apa.

Tapi kalau hard sell gak boleh.

Gak boleh hard selling.

Kalau misalnya produk yang ditawarkan itu open source.

Namun ada service nya boleh.

Jadi beda.

Jadi intinya gak boleh hard selling.

Eh gue punya produk begini harganya sekian.

Beli sekarang.

Discount 50%.

Nah itu gak boleh.

Gak boleh hard selling lah ya.

Jadi.

Tapi even apa.

Desember 2019 pun.

Maksudnya itu kan gak lama-lama amat ya.

Itu juga. Aku pertama kali.

Diajak di Deves.

Kata ya sih kalau mereka pas itu gak dapet speaker web.

Ya salah satu organizer nya juga.

Yang bakal present.

Kebetulan mereka iseng nyari.

Kalau misalnya gak ada apa.

Dimas pasti turun deh itu.

Kesulitan cari apa.

Mau web, mau cloud, mau apa.

Turun tuh biasanya kayak gitu tuh.

Ya kayaknya standar organizer.

Berarti organizer nya harus jadi speaker.

Ya biasanya di Jakarta JS juga gitu.

Setiap apa.

Kontributor itu.

Punya cadangan slide.

Atau cadangan topik.

Jadi kalau misalkan kata-kata tiba-tiba.

Si speaker nya gak bisa dateng.

Atau tiba-tiba dia muter balik gara-gara macet dan lain-lain.

Itu kita yang turun.

Kayaknya waktu gue.

Deves Bogor lalu.

Kan 3 hari sebelum Deves Bogor.

Gua kena covid. Positif.

Atau siapa yang gantiin tuh.

Kayaknya siapa.

Pasti kayaknya dari organizer turun deh tuh.

Sempet ditanya.

Mau gantiin gak.

3 hari sebelum.

3 hari sebelum.

Event coba.

Kena positif.

Ya gimana kalau itu kan force majur.

Pulang kluster baru.

Kluster Deves.

Nah ini sama juga Esther juga dari organizer ya.

Di Surabaya ya.

Sekarang jadi pembicara.

Jadi narasumber.

Ya Ivan nanti minggu ini ya?

Iya nanti.

Jumat berangkat.

Jumat berangkat.

Saat itu.

Ketemu sama Abdul Malik kali ya.

Jangan lupa ya.

Hari minggu aku di Jogja.

Oh minggu di Jogja.

Aku libur dulu.

Tapi minggu depan aku Medan.

Asyik.

Pulang kampung.

Kurang lebih.

Kurang lebih.

Lo bentar origin storynya.

Mas Rizal gimana.

Origin storynya gabungan dari kalian berdua.

Sebenernya.

Jadi standar ya.

Dulu jaman kuliah itu paling takut.

Kalau disuruh presentasi.

Bahkan sampai.

Sampai skripsi.

Untungnya waktu itu di Binus.

Skripsi itu bertiga kan.

Jadi saya bagian yang next next aja.

Pokoknya gak pernah mau tampil.

Sama sekali gak mau.

Sampai.

Sampai pada satu titik entah kenapa.

Tiba-tiba kayak.

Jadi anak backend.

Kerjaan depan komputer kok kayaknya ada yang kurang.

Akhirnya join komunitas.

Pertama kali datang tuh.

Gara.

Salah satu triggernya gara-gara itu.

Susah cari orang.

Ini dikasih mandat untuk bikin tim.

Tapi gak ketemu.

Akhirnya turunlah ke komunitas-komunitas.

Salah satunya dulu.

Pertama kali di Python.

ID Python.

Terus kok seru ya.

Ngeliat orang mulik gitu kan.

Ditonton banyak orang kayaknya.

Menarik gitu.

Akhirnya.

Dari sana cuma jadi penonton aja.

Sampe akhirnya belajar.

Salah satu framework yang jarang.

Materialnya ada di Indonesia.

Namanya Meteor. Sekarang mungkin udah.

Meteor.

Itu dulu terkenal.

Dulu terkenal.

Sekarang dia berubah.

Dia sekarang memproduksi Apollo.

Apollo GraphQL itu dari dia.

Dulu.

Framework full stack ya.

Ada kayak jaman sekarang.

Dan real time itu dulu Meteor.

Salah satu yang terkenal kan.

Terus liat lah di Meetup.

Ada gak gitu kan.

Ada gak Meetup Meteor.

Ternyata gak ada.

Di Meetup.com-nya itu vakum.

Jadi ada organizer-nya.

Tapi dia gak jalanin. Akhirnya.

Kok kayak event tadi?

Iya. Dia gak jawab-jawab.

Ya udah saya beranikan diri.

Ngontek si meteor.

Dan meteornya akhirnya dikasih.

Terus ngadain lah.

Meta pertama kan.

Ngadain meta pertama.

Pinjem kantor temen.

Terus banyak yang reservasi.

Mungkin sekitar 30-an gitu kan.

Banyak banget kan yang reservasi kan.

Gak taunya. Begitu hari ha yang datang.

Satu orang.

Kirain tadi bakal.

Yang datang ternyata jauh lebih banyak.

Cos.

Sama ya. Satu orang juga.

Saya 5 orang.

5 orang. Sedi sih.

Tapi ya lanjut aja bodoh amat. Lanjut.

Ya. Show must go on kan.

Sedi memang. Cuman.

Kalau sekarang itu.

Kita bisa jadi. Bisa jadi bahan.

Tertawaan dan bisa jadi bahan pelajaran.

Jadi buat temen-temen yang mulai.

Baru mulai bikin komunitas.

Terus yang datang di atas satu orang.

Berarti kalian lebih baik dari pada saya waktu dulu ya.

Jadi ada yang

Lebih buruk dari kalian gitu.

Tapi jangan salah.

Satu orang ini adalah success story.

Kenapa? Karena dia adalah

Orang networking. Orang jaringan.

Bekerja di salah satu.

Ini. Hosting.

Hosting company.

Terus saya tanya kenapa datang kesini.

Saya tertarik mau belajar programming.

Mungkin dia ada basic IT.

Tapi gak programming kan.

Akhirnya setelah dari meet up itu.

Akhirnya kan berdua doang nih.

Gak usah pake.

Gak usah pake.

Cuman lihat di depan laptop.

Berdua ngobrol aja.

Tetap pake sliding. Karena udah disiapin kan.

Jadi ngobrol berdua.

Sesuai topiknya.

Akhirnya dari sana.

Singkat cerita.

Dia cabut dari kantornya.

Dia jadi freelancer.

Akhirnya sekarang sudah melalang buana.

Sampai ke Singapura dan lain-lain.

Kemarin ketemu di Jakarta.

Jadi itu salah satu success story sih.

Dia itu yang paling loyal.

Jadi setiap ada meet up pasti datang.

Gak pernah absen. Karena dia merasa berutang budi kali ya.

Bisa mendapatkan pekerjaan.

Karena dari awal dia kan emang niat.

Dia jadi satu-satunya orang yang beneran datang.

Berarti kan dari awal.

Bahkan sebelum dia mulai jadi programmer.

Sebelum dia mulai coding.

Dia udah punya niat.

Saya pertama kali.

Memang pernah kayak awalnya.

Merasa sedih.

Berapa kali ada meet up itu.

Justru saya lebih mengapresiasi.

Karena mereka mau datang aja itu udah effort.

Itu udah bagus banget ya.

Apalagi di Jakarta sih ya.

Kan di week.

Bukan di weekend ya.

Karena saya ngadangnya di weekday.

Berarti kan dia harus

Ijin pulang dari kantor lebih awal.

Datang lewat macet-macetan.

Apalagi Jakarta kan macet luar biasa.

Datang aja itu

sudah effort.

Jadi

setelah berapa kali ada meet up saya kayak

kalau berapa pun yang datang

selalu apresiasi.

Betul-betul.

Apalagi kan ya itu.

Baseline-nya kan rendah satu orang.

Kalau yang datang lima orang, tujuh orang itu

udah seneng banget gitu.

Karena udah pernah merasakan yang terburuk.

Cuman dari situ

gara-gara si orang ini

jadi dapat esensi dari

komunitas. Makanya saya

tidak lelah-lelah untuk

kontribusi ke komunitas gara-gara

impact-nya langsung kelihatan dari orangnya.

Jadi setelah dua minggu tiba-tiba dia

message gitu kan

saya udah

resign dari kantor. Terus saya coba

freelance dan dapat.

Itu nggak boban mental tuh

Mas Riza.

Terus

meet up berikutnya saya tolong dia untuk

ngomong. Akhirnya dia ngomong.

Jadi ya itulah.

Dan sekarang jadi teman juga.

Success story yang membuat

dampaknya itu

berasa. Kadang-kadang kan ada teman-teman

yang mikir ah bikin komunitas.

Gini-gini aja ya, kok nggak ada

perubahan dalam karir, nggak ada

perubahan, nggak kelihatan impact-nya

dan lain-lain tiba-tiba habis itu ilang.

Kalau saya karena berhubung

langsung dapat, jadi

berkesinambungan.

Seneng. Pengen banyak

success story lainnya

yang bisa

didapet dari sana.

Jadi ya itulah ceritanya.

Makanya sekarang akhirnya ya itu

dari organizing. Terus nggak ada

orang yang mau ngomong. Akhirnya

dipaksa ngomong.

Untungnya karena mulai dari

komunitas yang kecil.

Jadi kayak scaling lah.

Kayak bikin aplikasi server.

Dari kecil kan kita nggak perlu

scaling terlalu besar, nggak perlu terlalu

serius topiknya. Mau salah-salah

sedikit ngomongnya juga nggak apa-apa.

Jadi sekalian proses belajar

makin kesana makin besar jumlah

audiensnya ya makin serius lah kita

menggarap materi kita.

Oke, kita sudah agak terlalu

panjang. Ini top

pertanyaan yang

mungkin nggak ada di script.

Ditanyakan tapi penting ya.

Nah, boleh

masing-masing dari kita boleh share.

Mungkin kalau misalkan teman-teman

diminta untuk toko

di satu acara gitu.

Mulainya dari mana?

Ivan dulu deh, Ivan dulu.

Pertama

saya mulainya dari ini dulu.

Dari kesiapan.

Dari kesiapan mengetahui informasi

apa yang saya ketahui

dan apa yang audiens

yang kira-kira ingin tahu.

Yang bisa

nanya ke organizer.

Atau

bisa jadi

ada sesuatu yang baru

yang saya mau share supaya

audiens tahu. Kayak paski.

Yang lalu paski.

Kalau saya tanya

ke audiens, mungkin

audiens mau paski nggak? Pasti mereka nggak tahu

apa itu paski. Tetapi menurut saya

paski itu penting gitu ya.

Jadi biasanya saya

antara dua itu. Saya tanya dulu kesiapan

audiens atau organizer

audiensnya kira-kira seperti apa.

Level

secara

apa namanya?

Level beginner intermediate

atau ini seperti apa. Anak kuliahan

atau orang kerja gitu ya.

Iya betul.

Contohnya

nggak akan mungkin saya datang-datang

ke Jakarta JS ngomongin

soal python.

Contoh, iya kan?

Gak konek.

Gak konek, iya kan?

Atau

datang ke

ininya WordPress tapi ngomongin

"how good is Drupal?"

Gak konek juga, iya kan?

Itu kok betitar.

Iya, jadi know your

audience. Nah ada satu

hal yang, ada satu

yang saya mau share

sedikit dari

salah satu workshop yang pernah saya ikutin

waktu di GDE Summit yang waktu

kita di 2019.

Kita nonton kan?

Kita bareng kan?

Ya, sedih.

Ya, sedih.

Jadi public

dari bahasa public speaking itu

ada kata public di situ.

Jadi, kalau saya mau ngasih

sebuah

topik atau ingin menyampaikan

sebuah topik sharing ya, itu

saya mau fokusnya, selalu fokusnya

ke public, bukan fokus

ke saya. Jadi,

di semua topik yang saya sampaikan

saya tidak pernah bercerita, mungkin

awal-awal, mungkin awal-awal sebelum

belajar banyak, tapi akhir-akhir ini

saya gak pernah menyampaikan

di panggung

tentang saya.

Cukup, karena saya sudah diperkenalkan

oleh si MC.

Selanjutnya, saya ingin engage,

jadi tentang public speaking saya,

berusaha untuk konek ke

si public

ini, gitu. Dan

engage mereka, karena

dari sisi

topik, saya ingin

topik saya itu punya

apa isinya? Impact ke mereka.

Karena menurut saya, topik yang saya

ingin kasih itu bagus. Nah, makanya

pemilihan topik adalah

kunci sukses yang pertama juga.

Jadi, know your audience,

second, know your topic.

Jadi, apa topik yang mau kita sampaikan?

Mix and match antara

kebutuhan audience sama

kemampuan kita untuk mendeliver itu, ya?

Yes, jangan, kalau

misalnya saya gak tahu topik itu, saya kebut

satu malam, belajar juga

gak, gak,

apa ya, hanya

ngomong orang. Gak dapat esensinya? Iya.

Jadi, saya cuma repeating apa yang,

contoh ya, apa yang saya

sampaikan, mungkin mereka bisa cari tempat lain.

Saya harus ada

sesuatu bridging-nya, karena

sudah saya mempelajari lebih lanjut.

Jadi, bridging-nya itulah yang harus saya sampaikan.

Yang harus saya emphasize,

meskipun baseline-nya masih

sama, gitu kan. Kalau tentang

paski, ya, baseline-nya

masih sama, namun ada bridging-nya yang saya

sampaikan ke mereka, kenapa itu

perlu, kenapa itu

bermanfaat, terus kemudian

bagaimana cara mereka implementasinya,

segala macam. Jadi,

saya,

yang ketiga, berusaha mikir saat

mereka pulang,

kira-kira apa yang akan mereka bawa.

Saya membayangkan

apa yang bisa mereka ambil

satu atau dua poin dari

apa yang saya katakan aja. Gak perlu semuanya,

gitu. Karena cukup ada

hook-nya. Yang saya sampaikan itu hook-nya

doang. Nanti mereka

akan... Explore sendiri?

Explore sendiri, sebenarnya.

Nah, itu dari

saya. Oke.

Kalau Aika gimana?

Nah, itu tadi yang event

sebut sih udah lengkap, ya.

Kalau, mungkin yang aku tambahin

dari aku,

apa ya, setelah, mungkin

kalau track record

speaking aku nggak terlalu banyak, tapi

mungkin lihat presentasi

orang lain juga,

kalau dibikir-bikirkan, semua informasi

itu, semua topik itu sebetulnya

udah tersedia.

Tinggal baca dokumentasi, atau

apalah, lihat role client, baca

ridmi, apa yang bikin pemilihan

topik jadi istimewa.

Nah, di mana seorang speaker

yang emang udah praktek

apa, ya

ngelik atau menggunakan kode atau teknologi

itu, dikerjaan

sehari-hari,

nampilin, mempresentasikan

apa, misalnya

contohnya, apa sih yang menarik

dari topik itu,

atau apa kegunaannya

yang secara nyata,

yang dirasain oleh

speaker itu, itu kan hal-hal

sisi yang nggak ada

di dokumentasinya, kan?

Jadi, apa, selain

yang udah disebut Ivan tadi,

mungkin aku

selalu emang milih

hal yang emang udah

aku terapin sendiri di kerjaan,

atau hal yang

misalnya sebelumnya aku nggak terlalu

nangkep, tapi tiba-tiba

setelah pakai, oh

ini tau, bendang merah antara A, B,

dan C, kayak sesuatu hal yang

nggak langsung

obvious dengan, hanya dengan

baca dokumentasinya aja.

Nah, itu kalau pemilihan topik.

Tapi jujur, sampai sekarang pun, tadi kan

sempat disebut sekilas ya

soal apa, ya tanya organizer

jelas, apakah audience-nya

itu anak kuliah,

atau praktisi, itu aja udah beda

banget kan, apalagi kalau udah masuk

level beginner,

intermediate, advanced, karena ini

sebetulnya rada buah

simalakama sih, topik simalakama.

Jadi, kalau, apa?

Kalau untuk beginner, misalnya kita

cater untuk beginner, jadi kayak

hello world lah, yang advanced

wasn't. Nah, tapi

kalau misalnya kita pilih

advanced itu kan

apa, berarti udah

syntax atau apanya ya dianggap udah ngerti,

tapi mungkin case yang

kita pilih case yang khusus banget,

specific banget, mungkin yang advanced

yang beginner, ngantuk.

Nah, terus, apa?

Sejauh ini, ya

karena event-eventnya, jenisnya

misalnya kayak devs, io-extended,

aku masih lebih ke

antara beginner

sama intermediate

keliatannya. Dan ini

aku sendiri belum nemu rumusnya sih,

gimana biar, apa?

gimana biar tepat guna banget, karena

organizer pun sering bilang, ya

maksudnya, mereka kan juga nggak bisa sepenuhnya

nyamung prediksi

audience yang datang kayak gimana ya, paling

yang biasanya info yang

dikasih mungkin, ya misalnya

mungkin lebih dari setengah atau

75% atau

50% mahasiswa, sisanya

campur. Nah, ya udah kan, berarti

harus pakai ilmu kira-kira dikit.

Itu sih kalau untuk devs.

Dan ada satu hal lagi

yang aku sering kegocek

soal ini, topik

itu tadi topik secara umum kan,

pokailah yang berguna

untuk public jelas

sesuatu yang sudah kita terapin sendiri

atau ada insight khusus jelas.

Nah, tadi tingkatnya

apakah beginner, intermediate, advanced,

ya itu juga harus dibikir.

Nah, terus ada juga, apa,

depth dan width mungkin ya

sedalam dan seluas apa.

Nah, itu kan kalau salah,

bukan salah, maksudnya kalau kurang tepat

milih skopnya, ya itu

jadinya materinya banyak banget, padahal

waktunya sedikit dikebut.

Apa, kalau kita present sesuatu

buru-buru, ya kan malah

jadi nggak masuk, kitanya stress,

audiensnya juga jadi nggak terlalu

nangkep dengan

enak karena, apa, karena jadi

kejar tayang banget dan nggak enak banget sih itu.

Dan kalau akus, kayak aku di speaking

pertama, itu materinya tuh

materinya tuh nggak sampai

separoh, waktunya udah habis.

Gak habis.

Gak apa. Iya, betul-betul.

Nah, itu. Nah, ada juga

info yang gue tanya dari organisasi, biasanya

gue dapat slot waktu berapa lama.

Iya, itu pasti. Itu penting banget.

Karena slide-nya

itu harus dipersiapkan

sebisa mungkin tepat waktu.

Sebisa mungkin.

Karena kalau berlebih, mereka-nya, organisasinya

bisa marah, atau dipotong-potong.

Eh, sudah, sudah, sudah, gitu.

Ya kan, karena nggak ruke keseluruhan

acara. Atau, molor acaranya.

Iya, pasien speaker-nya. Dampaknya bisa

banyak. Dampaknya bisa banyak.

Ya, di sebisa mungkin

tepat waktu sih, kalau gue.

Iya, betul. Itu juga sulitnya

sih. Harus latihan.

Kalau gue, biasanya

malam sebelum

malam sebelum

presentasi, itu

latihan beberapa kali di kamar.

Itu bukan

latihan materi, tapi latihan waktu.

Sebisa mungkin

ada kayak timer, ngomong

sampai slide berapa, sudah

menit keberapa. Jadi,

dan biasanya di speaker note-nya gue itu ada

sampai slide ini, 15 menit.

Harus, harus, kan.

Iya, jadi gue bisa tahu, oke

lihat waktu sama skylight, oke,

gue masih panjang, atau masih kecepatan, atau

terlalu lambat. Jadi bisa

ngatur pace.

Hmm.

Ya, ya, ya.

Sebenarnya, ada

tambahan sedikit lagi untuk

pilihan topik, ya, selain tadi

menyesuaikan sama demografi, sama audience,

dan

apa yang mau kita sharing, ada hal

baru yang mau kita sharing, atau dapat

insight dari kerjaan dan lain-lain.

Ada satu yang cukup sering

saya pakai

adalah alasan untuk

mempelajari hal baru.

Yang tentunya saya

interess, gitu. Misalkan,

kalau, apa, bahas

paski, atau kalau saya bahas web

assembly. Kan udah lama tuh pengen belajar

web assembly kan, tapi gak ada kesempatan.

Di kantor juga, ya

siapa sih yang pakai kan

belum ada, gitu kan, belum ada

use case dan implementasinya.

Nah, pas dapat kesempatan untuk

mengisi salah satu acara, misalkan

Google IOS Ended, wah, kebetulan

ada topik web assembly, ya

udah, dipakailah itu

untuk sekaligus ajang

belajar. Itu juga salah satu

tips yang lumayan

berguna juga. Karena

apa ya,

itu memaksa kita belajar dengan

cepat.

Kalau misalkan kita

hanya

menyampaikan materi tanpa kita

paham, itu kelihatan dari

pada saat

presentasi.

Dan bisa aja

kalau misalkan ada yang nanya lebih

dalam, terus kita gak tahu, kan kita malu ya.

Jadi kita harus benar-benar menguasai materinya.

Mempelajari.

Mempelajari benar-benar, gitu. Jadi

itulah yang kadang-kadang jadi

jadi cepat bisa, gara-gara

dipaksa, wah,

bulan depan nih, talk-nya. Harus bisa, dalam

sebulan harus bisa

ngajarin web assembly. Kalau ngajarin itu kan

beda ya dengan belajar sendiri, gitu kan.

Kalau belajar ya, cukup hello world, udah.

Tapi kalau ngajarin, berarti kita harus

tahu lebih dalam, lebih tahu daripada

orang yang belajar sendiri, kira-kira

kayak gitu. Kalau untuk pemilihan topik.

Selain yang disampaikan, event udah lengkap banget.

Nah, abis

siapin topik, tentunya kan kita

biasanya, konsep kan,

bikin outline,

terus bikin slide, gitu kan.

Nah, inilah yang susahnya.

Susah? Kenapa?

Karena harus

cari flow. Nari flow

yang enak tuh gimana, gitu ya.

Itu ya, nyari jalan cerita ya.

Kan salah satu presentasi

yang bagus itu adalah

storytelling. Jalan ceritanya ada.

Jalan cerita itu apa? Contohnya

misalkan apa ya?

Misalkan Mario, Mario Bros, gitu ya.

Jalan ceritanya kan

pada suatu hari di

siang yang tenang, gitu kan.

Dia lagi nyantai-nyantai, tiba-tiba

si putrinya diculik,

akhirnya. Itu kan naik turun, kan.

Jadi, kita harus

menjelaskan, ya, ini

awalnya seperti ini,

misalkan kehidupan kita

biasa seperti ini. Terus tiba-tiba

ada masalah. Wah, si putrinya diculik.

Terus apa yang harus kita lakukan?

Kita harus cari case

yang umum

yang terjadi,

yang bisa kita siapkan

solusinya oleh talk-nya kita.

Nah, dimana case-nya

ini yang mudah ditangkap

oleh audience. Karena

saat kita membuat case itu,

itu adalah hook-nya mereka.

5 minutes, jadi first 5 minutes itu adalah

dimana mereka untuk mendapatkan

inti seharinya kita itu mau ke mana.

Karena itulah atensinya

mereka yang bisa mereka kasih itu 5 minutes

awal. Itu penting banget. Jadi

nyari, nyari

hook-nya itu loh. Bisa, itu yang

harus kadang saya bisa

bisa keliling-keliling

sambil jogging, sambil ke mana, gitu.

Untuk nyari, nyari

hook-nya itu, case-nya itu.

Jangan sampai kita hanya menyampaikan

slide-by-slide.

Slide 1 ini, slide 2 itu.

Slide 3 kayak nggak nyamu

atau loncat-loncat, gitu. Itu

orang bisa dengan mudahnya

atensi orang sekarang kan

terlalu gampang

terdistraksi, kan.

Handphone itu langsung berdistraksi.

Iya, ketika

wah, ini Ivan

lagi manggung foto. Habis foto

scroll dulu, ah, upload dulu di Instagram

gitu kan, di Twitter.

Habis itu, lihat lagi lama-lama

kalau kita tidak bisa menarik

apa, atensi mereka dalam 5 menit

tadi. Udah, hilang

itu atensinya. Udah, hilang sampai

akhir, tiba-tiba udah habis, gitu.

Berarti sebenarnya itu

kan kayak skripsi anak kuliah ya.

Kayak ada, harus ada rumusan masalah

yang kita harus bisa rumuskan

masalah dengan simple. Misalnya itu tadi

Mario, Super Mario. Putri

diculik. Harus menyelamatkan si

Putri. Nah, selanjutnya kan

sisanya tentang itu. Terus

gimana cara apa

apa sih? Kayak rumusan masalah. Terus

- Betul. - Nanti apa? Kayak

- Hipotesa. - Kayak

menyelamatkan Putri dengan cara

ya apa? Ke istana

ya udah dari seterusnya.

Nah, berarti kan itu

- Ada satu ini lain yang dari

yang saya selalu pakai. Yang itu kemarin

lagi, public speaking by Jeremy

Nowner itu.

Ada satu gini. Keep asking

yourself. Asalnya tanya kita sebagai

audience. Keep asking yourself. Kita

tempatkan diri kita sebagai

audience. Why do I even

bother untuk nonton?

Kenapa gue harus

tertarik melihat

Ivan menyampaikan

paski. - Materi.

- Materinya. Why do

I even bother? Misalnya, oh

kenapa? Karena bisa begini, bisa

begitu. Oke, menarik.

Selanjutnya menarik, selanjutnya. Jadi

terus, jadi kalau misalnya

di hook itu dapat, itu bisa

kayak,

ingat gak yang Eka gue sampaikan

waktu masalah

handphone Android gue hilang,

terus mau buka email aja. OTP-nya ternyata

di hape, terus kemudian

itu banyak

terjadi di orang kayak gitu. Jadi

handphone-nya hilang, semuanya account

ke lock. Karena yang bisa

ngebuka itu semua di handphone.

Terbiasa.

Jadi kalau handphone-nya gak ada gimana?

Mau mencari handphone-nya aja butuh

OTP yang ada di handphone, atau butuh SMS

yang kirimnya ke handphone. Terus gimana

mau nyari handphone-nya?

Contoh ya.

Itu hook-nya yang saya dapat.

Ceritanya itu hook-nya.

Dari situ kan

dia sudah dapat, oh ada case.

Why do I even bother?

Why do I even bother to hear more?

Hear more. - Maksudnya

masalahnya harus masalah

yang dialami developer atau

yang dialami user, atau akan dia

relevan. - Atau yang mudah dia mengerti.

Ya relevan kan?

Jadi misalnya contoh Super Mario tadi

kalau dipresen ke orang-orang

yang gak merasa masalah

bahwa ada putri diculik, budu

amat, ya kan gak akan tertarik.

Tapi kalau misalnya

buat orang yang concern, ya

yang emang tugasnya mengamankan putri

atau apalah gitu, yang

bagi mereka itu relevan.

Entah sudah ngalamin masalah itu

atau tahu bahwa itu

masalah yang umum dan sering

dan banyak terjadi, nah mereka kan

tertarik.

Ya, ya, ya.

Bikin slide-nya sebenarnya tidak

bukan hal yang terlalu

sulit. Tapi bagaimana...

Oh bikin slide aku sulit sih. - Oh sulit ya?

Lebih sulit

menceritakan melalui slide.

Maksudnya bikin ceritanya dulu. Itu

yang jauh lebih sulit. Mencari cerita

seperti yang Ivan ceritakan

barusan. Pengalaman pribadi

kehilangan handphone dan gak bisa login

itu yang susah.

Kalau bikin slide-nya ya udah.

Tambahin gambar,

teks jangan terlalu banyak

supaya... - Kalau

slide yang

gue bikin dulu awal-awal isinya

teks gue bacain. Itu awal-awal.

Itu kesalahan

umum. Itu kesalahan

umum. - Cuma bacain slide.

Penonton lebih cepat

baca daripada kita membacanya

loh. - Betul. Jadi kalau misalkan

iya

jangan jadikan slide

kita sebagai teleprompter.

Karena kalau

mereka, audiens bisa baca

dari slide ya

kita gak perlu ngomong. Diem aja. Silahkan liat.

Kalau udah next ya. - Udah

selesai? Next ya. - Udah selesai? Next.

Udah? Next.

Jadi atensi orang itu ke slide bukan

ke kita. Jadi

kalau slide itu ya

kalau bisa hanya

inti ceritanya aja

selebihnya narasinya dari kita.

Narasinya dari kita. - Hooknya kita untuk

point by pointnya kita yang

akan kita sampaikan. - Betul.

Jadi

itu juga salah satu trap ya

yang sering terjadi.

- Sepanjang sekolah sama kuliah

itu selalu gitu tuh. Yang kayak

slide-nya beneran point by point.

Cuma kita ngomongnya lebih panjang aja

dari slide. Nah, baru

pas ya belajar public speaking

ini terus nonton contoh-contoh

bahkan sering ya kayak

slide-nya itu ilustrasi atau

contoh atau apalah

yang diomongin

itu yang

gak point. Jadi kalau

dulu kan mungkin kalau anak-anak kesekolah

anak kuliah kira ya 3 point di

ada 3 bullet point di slide

ada 3 hal yang disampaikan.

Tapi ternyata gak sekaku

itu ya itu tergantung apatah di

flow-nya, hook-nya, blablabla.

Jadi apa

ternyata slide sama yang

kita bahas itu gak harus korelasi

secara kaku tapi yang penting

bisa mengantar ke ya

bisa apa, keep audience

interested ya tetap tertarik

sampai slide selanjutnya kan mengantar ke

point selanjutnya.

- Jadi itu hanya sebagai pengantar

aja. Pengantar dari cerita kita. Karena kan

tidak semua orang auditory kan.

Jadi dia visual. Jadi dia butuh

gambar kira-kira apa yang kita omongin

itu sesuai gak sama ini. Relate gak.

Jadi sebenarnya

part bagian slide itu

ya mungkin buat

beberapa orang sulit. Tapi jauh lebih sulit

untuk menceritakan

cerita utamanya.

Menciptakan cerita utamanya itu lebih sulit.

- Sama itu sih

masih berkait sama slide ya.

Kayak dari

topik. Teruskan kita bagi

jadi mungkin ada bagian-bagian secara kasarnya

kita brainstorm. Ada

kayak misalnya kita bikin tree gitu

bikin note gitu.

Bercapai-capai ya. - Outline.

- Outline.

Itu juga

agak sulit. Gak tahu aku doang atau

semua yang lain juga gitu.

Ini satu point di outline

ini. Kalau dulu

kayak suka gak selalu dipaksain

satu point itu satu slide.

Tapi ternyata kadang

kalau satu slide terlalu padat

dan ada beberapa hal ya

maksudnya ada banyak terlalu padat itu

mungkin kekal sulit diikuti.

Kadang ada hal yang

harus dipecah. Misalnya jadi

dua. Misalnya satu ilustrasi yang lebih

abstrak atau gambar atau apalah.

Baru satu ada ringkasan

penjelasannya. Atau

misalnya mungkin kadang dua point

bisa jadi status slide. Jadi

kadang bahkan

ngejemahin dari point-point yang

abstrak, mind mapping, brainstorm

ke dalam bentuk satu slide itu

aja juga PR kalau belum

terbiasa.

- Intinya sih supaya bagaimana

kita tetap nge-flow.

Jangan, sorry, tetap

nge-flow dalam menyampaikan. Jadi saat dari

satu topik ke satu

topik yang lain bisa tetap

nge-flow. Ada

kaitannya sampai habis.

Bagaimana

kreativitas yaitu

kembali ke masing-masing individu.

Bahkan

ada yang kalau misalnya

yang

contohnya ya, kayak

saya nonton presentasinya

dan Abramov, dia slide-nya

cuma fame.

Jadi cuma kayak

editor, udah point-satu

ini, point-dua, ini, terus dia

lanjut live-coding-nya, blablabla.

Jadi bisa juga seperti itu kan.

Jadi kayak, tapi

sambung terus. Jadi

yang point utama yang saya sampaikan,

point-satu ke point-dua ke point-tiga

itu ada

sambungannya terus, sampai

habis.

Memecahkan masalah yang

masalah yang kita

invented di awal.

Yang kita sampaikan di awal, sampai kita solve

masalahnya.

- Nah, kadang aku ngalamin

kasus yang kerja aneh sih.

Pas udah present,

kan, ya kayak misalnya

IO Extended ini, atau The Fest kemarin,

satu topic talk,

aku presentasiin di beberapa

lokasi. Kadang

sudah present,

sampai selesai, baru sadar

ada hal yang kebalik,

literatik kebalik. Maksudnya, flow-nya

akan jauh, waktu kita ngomong,

flow-nya bakal jauh lebih masuk akal

kalau ini yang duluan.

Nah, itu,

hal itu tuh kayak baru,

baru, baru, kita baru nyadar,

pas kita beneran ngomong

dengan urutan begitu, tapi

kalau kita masih brainstorm, dalam bentuk

kayak tree gitu, apa, atau

mind mapping, atau point-point doang,

kayaknya itu nggak ada bedanya

urutannya, misalnya A, C,

B, itu pas kita liat sekilas,

atau bahkan waktu kita... - Make sense.

- Itu make sense. Tapi pas

kita ngomong, loh, kok aneh?

Nah, terus, iseng-iseng nyoba

dibalik, ah,

istinya gini, nah, itu

nyebelin banget sih. - Itulah pentingnya

latihan, dan kalau bisa, latihannya

direkam.

Karena... - Saya latihannya

penceremin.

- Ada hal-hal

yang saat kita ngomong,

itu kita nggak bisa dengar kita ngomong sendiri, kan?

Misalkan, kalau saya tuh

penyakitnya paling sering adalah

filler word.

Itu sering

sekali, dan nggak nyadar.

Kalau nggak direkam, kalau direkam,

wah, ini banyak, ini kalau

dihilangin bisa lebih singkat,

lebih padet, gitu, lebih cep, apa,

jadi lebih flow, gitu kan.

Jadi, begitu

direkam, baru kedengeran. Dan termasuk

juga yang loncat-loncat itu bisa

kita tahu gara-gara kita review lagi.

Jadi, pentingnya latihan itu

adalah di situ, gitu.

- Dan latihannya kayaknya harus

niat seakan-akan kita

beneran ngomong sama orang. - Seakan-akan.

- Kayaknya, yang kayak kasus kebalik itu,

bahkan waktu kebalik pun sebetulnya

ya udah latihan. Tapi latihannya

cuma niat, ya kayak, cuma biar

apa, ya cuma nyoba

ngomong aja, tapi nggak beneran

ya itu. Mungkin pentingnya

direkam, pas kita nonton,

baru kita nyadar bahwa

ada bagian yang kurang enak.

Tapi pas kita ngomong kan, kita

ya itu, latihan cuma mikir,

cuma ngejar, apa,

masih sesuai,

masih ngejar waktunya,

masih under time.

Nah, terus soal filler word itu,

ada tips, kata kalau kita pengen

kita traffic setiap kita mau

gitu, tarik nafas tipsnya.

Nah, itu salah satu tips dari

coba tolong buka link yang

ada kursus gratis.

Jadi, Google itu ada program

apa itu? Digital Garage.

- Learn digital with Google, ya.

- Iya.

Jadi, itu kayak macem-macem kursus gratis

gitu untuk

self-improvement gitu,

self-growth, punya yang soft-skill lah.

Soft-skill dan bisnis. Mungkin kalau

teman-teman ada yang belum tahu,

bisa tuh, bisa

ikutin kursus itu.

Ini modul singkat sih, cuma salah satu

tipsnya itu. Ini ada plus-minusnya sih,

maksudnya plusnya ya bagus, maksudnya ini

materinya bermanfaat,

tapi bukan minus, tapi maksudnya

apa ya, belajar

tentang ngomong

dan cara membaca gitu, membaca di layar,

sama praktekin, itu kan

jauh banget ya. Jadi,

ini bagus

buat mulai, tapi

kalau untuk eksekusi ya tetap,

ya itu harus latihan,

direkam, direkam,

dan bahkan ngomong, apa? Ngomong di acara

beneran, ya perjalanan masih

jauh. Cuma ini salah,

ini tipsnya bagus-bagus yang

di kursus ini.

Ada banyak

apa namanya, pola-pola

yang paling

sulit itu, saat

di panggung,

itulah bagaimana cara

supaya tetap engage

dengan audience.

Nah itu, jadi kayak dari

body language, eye contact,

kitanya juga

harus

sama kita punya topik

alurnya dan materinya,

tetapi harus juga aware

dengan audience

ininya.

Connect dengan audience, karena

kita mau, ada yang

ngantuk pastinya, karena

tapi kita harus tetap bisa connect dengan mereka,

jadi harus kita, matanya mereka

harus kita tatap satu-satu. Kalau saya tuh

suka natapin mata-mata mereka, karena

siapa yang perhatiin saya tatap balik

mata mereka. Dan itu cara saya untuk

connect. Jadi bisa saya lihatin satu-satu

sambil saya gerak, sambil saya

balik, lihatin matanya satu-satu.

Itu ya

kembali lagi, untuk

supaya tetap connect dengan apa

situasinya,

saya harus, kadang-kadang

mengeringit, apa sih maksudnya, terus saya

perlambat, kadang

percepat, gitu.

Hal ini yang

saya

ngerasa hilang pada saat

ngisi webinar

online, karena kita tidak bisa melihat

gerak-gerak penonton,

tidak bisa lihat

bahasa tubuh mereka, saya

tidak tahu feedback yang saya dapatkan

apa, apakah mereka mengerti apa

yang saya sampaikan, atau tidak mengerti.

Kalau

tatap muka, saya bisa lihat, wah ini kayaknya

tidak mengerti. Bisa diulang lagi, misalkan

definisinya ini. Terus melihat mereka, wah masih

bingung. Diulang lagi dengan mungkin

menambahin analogi,

dengan cara yang berbeda, sehingga mereka

bisa lebih mengerti. Kalau online

agak susah kalau itu.

Gitu.

Sama yang sering

kali terjadi,

membuat apa ya, membuat audience disengage

adalah, begitu

naik kan, salam, blablabla,

terus tiba-tiba, kita minta maaf.

Maaf ya,

saya, apa, baru

buat slide semalam.

Persiapannya kurang cukup.

Jangan, gak boleh. Itu

jangan diumbar.

Itu kalau bisa, orang gak perlu tahu, kalau kita

buat tadi malam, atau tadi pagi

baru selesai. Itu kalau bisa, jangan

sampai audience tahu.

Jadi itu harus ditutupkan.

Penjelasan logisnya adalah, kan itu

gak momentum mereka, bahwa

mau kita bikin semalam.

Itu tanggung jawab kita, itu tugas kita.

Yang pertanyaan yang saya sampaikan,

why do I even bother?

Udah, ilang itu.

Atau, ada juga yang minta maaf,

ini, apa, ini talk pertama

saya, gitu ya. Jadi

harap maklum kalau banyak salah.

Nah, itu orang udah langsung pegang handphone

tuh. Langsung siap scroll.

Udah, udah males, gitu. Karena

kitanya sendiri aja gak pede dengan

apa yang mau kita sampaikan. Gimana

mau orang lain nonton, gitu. Berharap

orang lain nonton, gitu. Jadi

ya, walaupun kita

persiapannya kurang, ini adalah

panggung pertama, ya, kalau bisa

itu jangan sampai kelihatan.

Atau bisa juga

kita sebutin, gitu ya.

Ini adalah pengalaman saya talk.

Tapi dengan

istilahnya dengan apa ya?

Dengan bangga, dengan malu.

Dengan positif, bukan dengan

maaf ya

kalau banyak salah, karena ini

adalah talk pertama

saya. Tapi ini adalah talk pertama saya.

Dan saya senang sekali bisa bertemu

dengan teman-teman. Itu beda ya.

Jadi lebih positif.

Dan aku, beneran kan

aku pertama kali talk ya

sebenarnya in person, yaitu yang

DevFest 2019 itu. Abis itu

jangan, apa, ya kan

lockdown beberapa kali

talk, dan emang dikasih banyak talk

dulu dirempar banyak

talk, karena proses apply jadi

GDI biar ada track record

talk-nya. Semua talk online.

Nah, kan baru

baru tahun lalu

ada acara in person, kan.

Jadi ya emang acara

pertama. Dan bahkan sebagai

developer yang domisili di Yogyakarta

belum pernah misi

acara live di Yogyakarta sama sekali.

Sampai, ya sampai tahun lalu.

Ya udah, cuma

kalau itu sih aku emang dengan

sengaja bilang, karena, tapi

mungkin bukan dalam rangka

minta maaf atau gimana, bahwa ini senang sih

senang bisa, apa intronya

adalah senang bisa ngomong di depan

teman-teman semua.

Dan senang bisa, pas itu konteksnya

pertama kali ngisi di Yogyakarta, senang

bisa ngisi acara

di kota sendiri.

Jadi sama

ya betul.

Jadi ada satu

hal yang inget

saya dari, kenal gak kamu Robert

Neiman? Robert Naiman, Robert Neiman.

Ya, ya.

Waktu kita ngadain web

uncor di Yogyakarta, kan dia datang

untuk dibawahin sama Johan.

Ada satu

topiknya sebenernya PWA.

Tapi ada satu, beberapa

slide yang dia

tunjukkan, itu untuk

supaya konek dengan audiens, yaitu dia pergi

pagi-pagi sekali dia pergi

hiking ke

Merapi, terus pulang

pulangnya langsung, slide-nya itu

slide, awal satu dua slide-nya itu

tentang foto dia di Merapi.

Artinya dia bisa konek

langsung ke audiens yang di Jogja.

Karena itu kan hal

yang familiar, itu kan

hal yang familiar gitu.

Gak ada hubungan kan sama, gak ada topik

tapi dia bisa grab

karena kita

dia, apa, satu

itu hal yang familiar bagi orang

Jogja, atau warga lokal

dia dapat perhatiannya

dia bisa sampaikan

topik yang ingin dia share.

Bisa juga. It's just being creative.

Buat ini ya, buat ice breaking ya.

Yes, bahasanya

breaking the artificial wall.

Sama apa ya,

setelah dipikir-pikir,

bukan nih, gak usah dipikir, mungkin udah jelas juga ya

public speaking itu kan pada dasarnya

performance kan, suatu bentuk

performance. Nah, siapa sih

yang mau nonton suatu performance

kalau dikasih hal-hal

yang bikin down gitu.

Soalnya orang kan kemanapun

ngapain ya mau nonton konser, kayak ngapain

bahkan nonton talk

itu kan buat

kalau bermanfaat jelas dari

isi topiknya. Sama ya itu

kita sebagai performer

berarti kan mau gak mau waktu kita

melakukan public speaking kita

jadi performer. Kita harus

bisa bikin mereka senang

ya bikin audience senang

ya gak harus

dalam arti yang harafiah banget

maksudnya gak selalu harus

apalah yang kayak

speaker motivasi gak harus gitu, tapi

yang minimal itu tadi.

Gak usah jadi senang komedi juga

kalau misalnya kita gak punya bakat, senang komedi

gak usah juga. Kecuali akong bakat silahkan.

Kecuali bakat.

Salah satu hiburan yang

salah satu

yang bisa menghibur penonton

adalah kalau dari konteks

kita adalah live coding.

Itu menghiburin buat penonton

tapi

tapi itu

sangat beresiko

buat kita

terutama kalau di acara conference

kalau meet up, oke

tapi kalau conference biasanya

terlalu beresiko

tapi itu sangat

menyenangkan dan itu hal

yang apa ya, hal yang

bisa membuat

perubahan, perbedaan.

Jadi misalkan gini

katakanlah kita ngomongnya tuh

mungkin nunduk ke bawah terus

gitu ya, introvert lah gitu ya, gak berani

menatap orang, kurang engaging gitu kan

tiba-tiba ya udah

daripada saya ngomong mungkin

kurang jelas langsung aja kita demo. Itu langsung

semangat semua tuh orang. Walaupun ya

prosesnya itu apa

effortnya jauh lebih

terus nge-switch

input dulu, tak tak tak.

Saya pernah

melakukan sesuatu yang unik

tapi cuma satu kali, di

meet up wordpress.

Saya tuh pernah

langsung kayak gambarin lingkaran, terus

wordpress, terus kemudian

langsung tanya audience

"Lu mau tau tentang apa hari ini?"

langsung bikin uninya

langsung bikin mind mapping-nya

dan begitu langsung

buka laptop, bahas

karena sudah jadi mind mapping-nya, sudah tau

terus saya buat kayak mikirin

bagaimana supaya bisa nge-flow

dari satu mapping ke mapping yang lain

langsung buka laptop, langsung bikinin

ininya, arahnya

mau bikin plugin, tuh stems jadi apa

blablabla, di akhir meet up

semua happy, sayanya

capek

satu kali aja

iya, tapi itu

ya, itu sesuatu yang seru ya

kalau live-quoting itu sesuatu yang seru

itu bisa dibilang kayak apa ya

super power lah

buat nge-boost gitu ya

buat nge-boost animo penonton

yang tadinya ngantuk dan lain sebagainya

plus karena saya nggak siapin materi

nggak siapin materi awalnya

tapi kan semua kerja

semua apa

kerja, effort, dan waktu buat siapin materi

semua ditumpuk di pas manggung

pas naik

langsung spontanis

spontanis, tapi itu capek

tapi, apa ya

capek, namun

audiasi nya engage

super engage, tapi waktu itu

cuma ada 10 orang sih, jadi bisa

kalau 100 orang, bisa

gimana gimana

semua

semua hal ada trade-off nya, nah termasuk

si live-quoting ini, kan apa

itunya fun, kita juga mungkin

sebagai developer, kayak lebih

lebih nyaman ya, lebih nyaman coding

daripada ngomong, karena mungkin kita

lebih terbiasa

tapi trade-off nya, risikonya banyak

jadi, sampai sekarang

aku kayaknya mutusin

ada hal yang memang harus

live-quoting, kayak misalnya Ivan

di Bogor kemarin, apa

demonstrate

bukan live-quoting sih ya, itu live demo

live demo

live demo, karena demonstrate

pas key real-time

di laptop dan di HP

itu kan

itu emang harus banget live demo

nah, cuma kalau emang

materinya

nggak harus banget live gitu, kalau aku

pribadi prefer, nggak usahlah

tunjukin code snippet aja

salah satu alasannya, rada-rada lucu

ini, pertama kali

tahun lalu sih, di Surabaya

pertama kali

apa, pertama kali

in person, nah

terus, itu sebetulnya hal yang nggak

terlalu penting buat

live-quoting, karena cuman si SS

feature, kayak cuman nunjukin before-after

aja, nah, terus

kan sebelumnya selalu, setiap tahun

online ya, jadi nggak mikir soal

apa, koneksi

nah, terus kesana deh, nah

dulu masih pakai Macbook lama

belum pakai lightning yang

apa, colokannya beda

intinya, intinya nggak ada colokan

nggak siap, nggak punya

dan nggak siap bawa konektor, karena

nggak sadar bahwa

perlu konektor

gue selalu bawa, gue selalu bawa 2 konektor

yang berbeda, itu juga penting

itu juga penting, nggak sadar

nah, terus laptopnya, akhirnya dari

FOA kan, dari

meja sana, cuman next-next-next

ya, live demo-nya nggak

bisa, dan ya, kayak kehilangan

satu bagian yang harusnya

menarik, terus, apa ya, mungkin

karena pas itu secara mental, agak

belum terbiasa juga, jadi pas ada

halangan yang kayak gitu, ya

kena mental dikit lah, jadi apa

hal-hal yang nggak ada hubungannya

yang misalnya sebelumnya

udah, udah siap

present, jadi ngaruh, jadi

ya, jadi buyar sekian persen

lah, gara-gara

ya, itu gara-gara, itu dua

hal sih, dua hal berbeda ya, satu

nggak siap secara teknis, mungkin nggak

sadar bahwa harus punya

konektor, dan dua

live coding untuk hal yang sebetulnya

nggak penting-penting amat, kan, kalau cuman

nunjukin bedanya misalnya

pakai property CSS yang baru

dan yang lama kan sebetulnya pakai

screenshot, pakai contoh kode-nya

udah cukup, nah, terus

sebenarnya live coding ada lagi sih

kelihatannya aku tuh kurang jodoh sama

live coding atau kenapa, nggak tahu

ini online, pas online

jadi, ini pas online

dan sebelum jadi GDI kayaknya

itu sebetulnya

itu simple sih dulu core web vital

baru release, nah, terus

extension-nya tuh kan, ada extension

buat detect core web vital, jadi

kayak, pas itu

temanya low-hanging code, apa aja

yang kayak, buat

buat ngefix kode kita, kayak misalnya

kalau image, jika sih, apalah

dikasih quit sama hate

biar sebelum image-nya keload

udah, placeholder-nya udah

ukuran yang sama

hal-hal kayak gitu lah, itu, itunya sih

nggak, itu yang nggak menarik-menarik

amat, cuma pengen, karena online

nah, terus konsepnya pengen

biar semua audience juga bisa nyoba

sendiri, nah, pakai code sandbox

kan ada itunya tuh, fasilitas

coding, apa

live, kolaboratif

coding, udah dicoba

sebelum top, nyoba pakai

dua device, pakai dua device

namanya nocar aja, aman, nah

pas, pas hari-hari-ha

mungkin bisa di debat, ya, cuma pas dulu

kayaknya, aku aja yang begok

apa, ya, pas

giliran udah lebih dari 5

orang masuk, 10

atau berapa, di atas 10 inducer yang

masuk, lambat banget

dan karena streaming-nya, video

streaming-nya juga jadi great, jadi ikut lambat

hmm, oh, oh, dan delay-nya

lumayan, kayak sekian detik, jadi ya

lumayan disaster

ya nggak disaster sih, cuma maksudnya nggak

berjalan sesuai

yang direncanain, abis itu

pas nyadar, dan pas

pas udah bingung, udah stress, ya udah

top kolaboratif coding-nya

ya udah, ngetik apa, demo-in aja

sendiri, nunjukin bahwa sebelum

apa, sebelum difix

core webfile-nya begini

sesudah begini, jadi

walaupun online pun, ada

hal yang harus diperhatikan

soal koneksi

wah, kalau ngomongin online dulu, saya

pas online itu, cuek aja

jadi, gara-gara, mungkin gara-gara ini ya

gara-gara sudah terbiasa live streaming

terus live streaming itu biasanya

karena error dan

cuek aja gitu kan, akhirnya

karena udah bosan juga ya

apa, webinar ini sih

materinya, teori aja

makin, makin kesini

makin memberanikan diri

kalau diminta untuk webinar

atau online gitu

teorinya sedikit, mungkin 20 persen, selainnya udah

live-coding aja, mau error atau nggak error ya

udah biarin gitu, tapi

ya tetap persiapannya adalah, kalau

live-coding itu, biasanya saya nyiapinnya banyak

pertama adalah, nyiapin

yang normalnya dulu

yang best skenario-nya

kan, mungkin

yang best skenario-nya pun harus

disiapin dengan git tag

jadi, di tagging

start, abis itu

nomor 2, step 2, step 3, sampai

terakhir, itu normal

best skenario-nya

kalau itu nggak jalan, ada

folder yang udah disiapin

kita tinggal cd

masuk ke situ, yang udah finish

di reset tag

tertentu kan bias ya

betul, kalau itu juga

nggak jalan, entah kenapa

gitu, ada videonya

videonya diambil dari latihan saya

sebelumnya, jadi pas latihan itu

dipotong, videonya disiapin, jadi

kemarin saya coba jalan

ini videonya, ini buktinya, nah itu

jadi ada sampai 3-4 plan

saya masih ingat

ada sesuatu yang menarik dari live-coding

masih ingat waktu Mas Riza

tampil di

Jakarta JS, waktu kita di Google

jadi dia nge-train

model

tetapi, karena laptop-nya

dipakai buat connect

present juga

itu kan HDMI ya

connect ke second mirror

terus, browser-nya dipakai

buat nge-train, itu

CPU dan memori kagak cukup tuh

sampai browser-nya nge-hang

itu pake parcel itu waktu itu

pake parcel JS

jadi ada

ada second factor yang kita

nggak, ada waktu kita lagi

mau buat code-nya, aman-aman aja jalan

gitu ya, tapi waktu kita

present kan, second screen

itu pake

resource gitu

itu intinya

hal-hal yang pas udah kita ngalamin

tidak bisa diprediksi, itu obis

pas udah ngalamin, ya jelas

tapi pas belum ngalamin

kita nggak bisa, kita nggak mikir

kita nggak bisa itu, ya kayak

kalau di kasus aku, ya itu tadi pas sepuluh orang

masuk room, ternyata jadi

lambat dan ternyata ngaruh ke

streaming video

ngomongnya juga, jadi mereka

yang coding itu nggak denger instruksinya

ya itu kan pas udah

ngalamin, ya iyalah jelas, tapi pas

belum ngalamin, dan nggak ada yang

ngasih tahu bahwa itu mungkin

jadi yang belum pernah lihat

nggak kebayang

ada satu lagi common problem, itu clicker

oh iya

clickernya macet

nah itu yang kemarin itu yang di IOX

Bogor, ada yang dari India

siapa namanya, aku lupa

FreeRest

FreeRest, ya FreeRest kayaknya

dia klik-klik-klik, tapi

ngekliknya antara ke monitor atau ke

screen belakang

itu katanya, waktu dia turun dia bilang

macet dia bilang gitu kan, gue bilang

bukan macet, clickernya

arahkan ke laptop, bukan

ke screen

karena kita kebiasaannya, kalau kita

mau ngeklik itu, kita ngarahinnya ke

ke layar yang kita lihat, ke layar utama

kita ngekliknya ke layar utama

tetapi sebenarnya kita harus

sebisa mungkin tangan kita sedekat mungkin

ke laptop yang kita tahu

mana yang laptop yang akan

si USB

receivernya lah, dimana USB

receivernya kita, oh disitu

kita ngekliknya ke arah situ

jadi waktu biasanya

biasanya kan kalau gue

nge-presentasi blablabla

kan pergi agak jauh ke sudut panggung mana

tetapi sudah tahu tuh

gue sudah mau ngeklik, gue balik lagi

itu biasanya ke, dimana

USB receivernya, klik dulu

baru balik lagi

itu awarenessnya disitu tuh

perlu dijangkakan kita

nah itu tips yang bagus juga tuh

sorry sebentar

gimana gimana Eka

Eka dulu deh

itu juga agak

ngeganggu konsentrasi sih

jadi panik

flow nya ke break

jadi klik klik klik ternyata

layar kita ke klik dua kali

ke setiap slide selanjutnya

dan kita kan harus ngebalikin

dan itu lumayan bikin konsentrasi buyar

tapi kan sebetulnya kayak gini

kita harus ngalamin dan setelah ada penjelasannya

oh iya jelas

nah jelas pas udah ngalamin

itu tips yang bagus juga

dari Ivan tadi

kalau misalkan panggungnya agak gede

bukanya jalan kesana

tapi jangan jalan muter

kayak orang panik gitu ya, kayak setrikaan ya

jalan berhenti di sebelah kanan dulu

agak lama baru balik lagi, kenapa?

karena audiensinya kan nggak di sebelah kiri doang kan

kita harus menyapa juga yang di tengah

yang di ujung

itu juga penting buat engagement juga

jadi kalau

memungkinkan, kalau memungkinkan

ya coba menelusuri panggung

jangan cuma di satu sisi aja

itu penting juga

ngomong-ngomong soal klikr

klikr saya hilang

dulu bawa sendiri

terus sekarang hilang, nggak ada

kita harus cari Mas Danang berarti

terpaksa harus pakai klikr dari

oh iya ngomongin, klikr jadi inget

kemarin kejadian juga

di Jakarta

mereka klikrnya pakai

handphone, dikasih handphone buat

presenter notes, itu kan bisa

pakai handphone kan, dikasih pinjem

handphone, terus disana internetnya

jelek, jadi sempat disconnect

sampai di tengah jalan

nah ini juga penting, kalau temen-temen

pakai

alat tools

yang online

seperti Google Slide

Canva, atau apalagi

yang slide-slide yang online

pastikan temen-temen download dulu

jadi PDF

karena internet

di acara

tidak sebagus internet di rumah

rebutan kan

ketika internet nggak jalan, kalau yang

online itu macet, nggak bisa

dibuka, gitu

disiapin, karena

beberapa kali melihat

kejadian itu, pakai

Google Slide, ya ini bukan masalah Google Slide-nya

bukan salah Google Slide-nya ya

pakai yang online, terus

tiba-tiba, loh kok nggak bisa diklik

kok offline, harus direfresh dulu

harus ganti wifi dulu, jadi

ngebreak, jadi merusak

konsentrasi, jadi itu juga penting

kalau sekiranya, wah internetnya kurang bagus, ya udah

pakai PDF aja

yang offline lah

salah satu

tools, antara

pakai tools yang offline, atau

diusahakan supaya bisa diakses

secara offline, ya offline backup

gitu

terus apa lagi

yang kita bahas

ada kejadian-kejadian

mengerikan, pernah terjadi

di atas panggung

coba di-share

itu tadi

kedinginan

kedinginan

terus

ada juga

saya

kok nyari Mas Danang, iya kita butuh clicker

beliin dong

hahaha

hahaha

hahaha

kedinginan

terus apa lagi

clicker delay

connector, apa nggak bawa-bawa

connector nggak bawa-bawa

apa ya, sebenernya itu doang sih

apa ya

oh kalau audiensenya buanyak banget

itu

meskipun kita bilang

oke kita terbiasa public speaking

tapi kalau tiba-tiba audiensenya

seribu orang, itu

nge-pair juga lho

kelihatan penonton

terus sampai seribu

guset

itu kayak

misalnya tadi yang

berusaha connect

power dari audiens

jauh lebih besar kita tumu

hahaha

apa yang kalian lakukan ketika

nge-blank, tiba-tiba nge-blank gitu

nggak tau ini, tuh gue pernah sekali

lagi, lagi

presentasi, presentasi di

Tokopedia

kalau nggak salah ya, ya di Tokopedia

itu barang itu

sama barangnya Mas Yohan

waktu itu, Chrome Dev Summit

Extended, ya Chrome Dev Summit

Extended, bareng juga kita

bareng ya, dan gue tuh

nge-blank, di tengah jalan

Somehow, just nge-blank gitu kayak

iya, iya, iya

kayaknya, jadinya topik

gue mau lanjut lagi

hilang, bener-bener hilang, nggak tau

nggak tau nih ngomong apa, slide nya juga nggak

relate sama slide nya kan, gimana tuh

terus solusinya apa

ya, just accepted the faith

waktu itu ya sudah, ngomong aja

setaunya gitu

lanjut, dan

berusaha secepatnya

kelar, karena percuma juga kalau gue lama-lamain

mending cepatnya aja kelar, karena

mudah-mudahan

apa namanya

speaker selanjutnya, bisa selamatin

acara

berserah

ya kan, jadi

ya sudah gitu, mau gimana

pernah itu sekali, dan itu gue

waktu itu, karena

sebelum acara, itu

habis burn out

jadi masa-masa burn out

karena lagi di project, lagi burn out, terus akhirnya

"Aduh, gue harus ke Jakarta" ya udah

karena sudah janji, lanjut

oh, yang dulu ini ya, yang dulu remote

Amerika ya, waktu Amerika

jadi, tengah malam gitu ya

kerjanya

lagi project nya lagi apes aja

lagi capek gitu ya, lagi capek

lagi mental nya, lagi mental burn out

mau

siapin presentasinya

oke, effort gitu, tapi waktu lagi

di data sepanggung

buyar

buyar, pernah satu kali

Eka pernah gak Eka?

kalau yang blank

beneran unprompted

untungnya belum pernah, tapi

yang pernah, itu pas pertama

kali banget top in person itu

DevFest 2019, jadi gini

tengah-tengah ngomong, di belakang

ada yang ngasih sign, 15

menit

oh, kaget langsung, panik gitu ya paniknya

oh, belum

kirain, ini menit ke-15

jadi budu-budu dong

ngomong terus, biasa kan

kirain baru 15 menit

oh, baru 15 menit

5 menit, 10 menit

5 menit, iya 5 menit

baru panik

countdown

45 menit

baru 15 menit, masih ada 30 menit

tapi enggak, ternyata

itu tadi sisa 15 menit

masih angkat, sisa 5 menit

slide-nya, masih nyampe separuh

langsung ilang semua kan

ya, sama kayak Ivan tadi

yaudah ngomong cepet-cepet, yaudah bacai si slide

next, next, next, next, next

terima kasih, turun

kalau yang blank yang parah sih itu

terus kalau yang di

Serabaya I/O Extended itu

yang tadi yang harusnya bisa

demo live-coding

terus nggak, itu bukannya

nggak terlalu parah sih, cuma ya paling

jadi apa ya, fokusnya nggak

100%

benar-benar ngeblank, gue biasanya langsung

pernah satu kali, udah langsung

cepet aja, tapi

pernah lose-focus secaranya

gue suka bawa minum

jadi kalau lagi lose-focus

deep breath dulu

iya, take a deep breath, minum dulu

sambil proses

balik lagi fokusnya

iya, itu tips yang bagus juga

jadi, kan nggak salah juga

minum kan, kita biasalah

tarik napas dulu

itu sebenarnya tergantung

jam terbang nggak sih, pengalaman

bagaimana kita menghandle

apa ya, situasi

unknown, unknown situation

iya, jadi kayak

kalau saya sekarang udah

udah kayak secara natural

kalau ngeblank, tadi mau ngomong apa ya

maaf ya ngeblank, langsung gitu aja

tiba-tiba mau balik lagi

kayaknya itu aja udah natural gitu

kalau ngeblank ya udah jujur aja

iya

tadi sampe mana ya, kadang-kadang gitu kan

iya

terus liat slide, liat temen-temen

mungkin yang di baris

paling depan tuh ada yang ngomong, oh

ini, bagian ini, baru ingat lagi

jadi

iya, ini lebih ke

ya pengalaman lah ya

lebih ke jam terbang sih kayaknya

untuk menghandle situasi yang

gimana-gimana kan

ada yang tau kan, Steve Jobs gagal demo itu

terus dia dengan

hebatnya bisa

membelokkan keadaan, ya itu karena jam terbang sih

jadi emang udah

biasa

hal-hal yang ngeblank dan lain-lain

udah biasa, jadi dia bisa mengendalikan

jadi bisa dibelokin kemana

gitu

nah mungkin balik ke itu tadi

apa, hipotesis ya

hipotesis bahwa

public speaking tuh essentially performance ya

terasa banget sih

apa ya, ini bukan nari ngeblank ya

ya

emang harus, jadi

sebetulnya apa ya, kalau misalnya kita

lagi sering perform

itu emang bakal ke

bentuk instingnya, ini

hal yang agak gak nyambung sama

public speaking technical sama sekali

tapi dulu aku ngeblank

dan dulu

sempat ada periode yang cukup

sering ngamen, cukup sering

manggung, dan itu kerasa sih

kalau lagi

kalau misalnya kita sering perform

ya kan kapan pun

bisa tiba-tiba alat matilah

atau ada penonton

mabuk, rusuh, atau apalah

pokoknya hal-hal

apa pun bisa terjadi

kalau kita lagi

sering ngelakuin itu

itu ya emang, ya udah

itu tadi sebenernya kayak Ivan Willem

jalanin aja

dan makin sering dan makin terbiasa

kita, kita nyaman dan

kita otomatis tahu, kita bakal otomatis

tahu harus ngapain sih

jadi, apa ya

kita gak bisa mengandu misalnya

apa tadi tiba-tiba alat mati

kalau misalnya konteks musik ya

kalau konteks-konteks speaking ya

mati listrik, gimana coba

mau ngapain

kalau laptopnya hang atau apa, ya kalau mati listrik

malah gak bisa ngomong udah ke laptopnya misalnya

laptopnya hang, atau

kodinganya, apa error

kayak si cek archiver atau siapa itu

yang di cds

oh iya, bukan

surma-surma

laptopnya ngehang, cds

karena dia pakai

experimental api gitu

iya, bener-bener

ngehang

gak bisa ngapain, cds

tapi kita bisa ngomong dengan

kita bisa ngomong dengan

enak, kita bisa ngatasin dengan

santai dan sebisa mungkin

meminimalisir impactnya jadi gak bujur

sampe gak beneran

sampe gak bisa ngapa-ngapain sampe selesai

nah kalau itu kayaknya mungkin

mungkin ya, itu genderbang sih

ada dua tips

dua tips lagi yang saya

common problem

kalau kita ngasih tolp biasanya

di luar kota, tentu nginap di hotel ya

saya

kalau bagi saya, breakfastnya

ya jangan

bahasanya jangan maruk

makan aja seadanya

karena gak lucu kalau lagi

kalau misalnya makannya kebanyakan

pas lagi ngomong

di panggung, begah, atau perutnya sakit

nah itu susah

ya, jadi

makan yang seadanya aja

yang secukupnya, yang seperti biasa

gak usah, makan ukuran banyak banget makanannya

terus diambilin semua

satu-satu

yang kedua, biasain

sebelum naik

pipis aja dulu, daripada

kebuletnya di panggung susah

jadinya gak fokus, gitu

nah itu hal-hal

simple, tetapi

common, kalau kita gak aware

oke

berikutnya nih

pakai contekan

atau enggak?

enggak, Ivan enggak, Eka?

sejauh ini belum

dulu pas online

pakai

sebetulnya masih experimenting

tapi sejak in person, enggak

tapi masih belum

fix, kayak belum

belum yakin bilang

gak butuh speaker notes

jadi dulu pas awal-awal

pakai

pas online, apalagi pakai, cuma

gimana ya

helpfulness-nya membantunya sih 50/50

mungkin kita jadi

kelihatan lebih lancar, apalagi kalau online

soalnya kita secara fisik

duduk ya, duduk tinggal buka aja

dan lihat layar, kan

itu emang lebih lancar, tapi

pas kita lulus

track dikit, itu catch up-nya

akan lebih sulit, kalau kita

emang 100%

bergantung ke speaker notes

sejak in person

nyoba tanpa speaker notes

agak hit and miss

maksudnya secara pribadi, aku belum

100% happy sama performance

pas public speaking sih

cuma ke depannya

rencana sih, masih pengen

nyoba tanpa speaker notes

nah, ini sebenarnya ada

saran bagus banget dari Ivan

yang waktu itu pas lagi

kena macet, di dalam mobil

mobilnya Vero, di Bogor

mobilnya mark-nya apa?

apa ya?

nggak tau

konsolensinya tanpa speaker notes

kan kita harus

secara nggak langsung menghafal

bukan menguasai

bahkan dalam arti harusnya beneran

dihafal kata-kata, tapi

satu slide ini, this slide ini

kita itu nyemput talking points apa aja

itu kan kita harus

ada gambaran

di dalam pikiran, ada tips bagus banget

coba silahkan, diulang

ya, kalau saya sebutnya

main palace, tapi Eka

kasih ininya, ternyata yang benar

adalah memory palace

jadi, satu teknik yang bagaimana

memaping

steps

jadi, memaping flow

dari talking points yang saya

sebenarnya nggak mesti

presentasi apapun ya

saya relate

ke bagaimana saya bisa

kembali ke parkiran mobil di mall

tanpa perlu mengingat

di mana nomor

tempat parkirnya

saya pakai caranya

memory palace, begitu saya turun

dari mobil, saya langsung

memaping, oke, saya jalan

yang saya lihat pertama kali

ada si Boba

atau merk apapun itu ya

si Boba, terus saya jalan lagi, oh saya naik

eskalator, saya naik eskalator

saya lihat, begitu saya sampai eskalator

saya lihat ada H&M

dari H&M, saya lihat gini

saat mau pulang

saya nggak perlu hapal di mana

lantai berapa mobil saya

saya cukup kembali

ke memory saya tadi, oke

yang pertama kali saya perlu cari adalah

H&M, saya ambil eskalator

saya cari si Boba, keluar dari pintu itu

ke kanan, nyampe deh mobil saya

jadi itu adalah

memory palace, yang saya bangun

istri saya selalu berkata

"lu gimana sih cara ingat dimana

parkir mobilnya segitu banyaknya?"

ya begitu caranya

caranya aware

begitu mulai

mapping semua jalan

sama, kembali ke presentasi

memory palace

kalau saya mau misalnya

ingat talking pointnya saya

saya bisa memakai

apapun, saya sukanya

pakai memaping jalan

masuk ke rumah saya

dari

misalnya dari gerbang

apa namanya, gerbang

cluster

saya masuk, berarti

itu adalah pembukaan, saya menyapa

Satpam, maksudnya itu saya menyapa audience

menyapa audience

dan begitu saya sampai di temen

saya lihat

oh, saya ada banner

begitu

banner untuk misalnya

sesuatu yang menarik atau cerita

saya sampaikan ceritanya dulu

baru masuk ke rumah saya melok kanan

saya ambil, sebelum

sampai pintu rumah saya melihat ada

tanaman, nah tanaman ini adalah

sesuatu yang

adalah summary

karena banyak tanaman, ada warna merah, kuning

segala macam, berarti saya menyampaikan

summary talking point saya

baru begitu masuk pintu rumah

saya melihat hal-hal yang berantakan

artinya coding misalnya

coding itu saya relate dengan

berantakan dirumah, jadi

saya oke, next slide itu

bakal ada coding, berarti saya sudah siap

ada hal yang mau saya sampaikan

di coding itu, terus saya

relate sampai saya ke kantor saya

hal-hal apa yang ada di meja saya, saya bisa

misalnya laptop itu dengan ini

talking point apa

saya lihat monitor

talking pointnya apa, berarti

sewaktu saya

present

saya kayak lagi

jalan pulang

saya pulang, nyampe

satpam, menyampaikan audience, lihat banner

sampaikan terus, belok kanan

lihat

tanaman warna-warni

lihat pintu, lihat ada berantakan

ada coding, lihat ada

dapur, berarti saya harus demo memasak

berarti demo coding atau demo

live coding, balik, saya ambil minum

mungkin itu adalah waktunya

tarik napas

itu saya mapping, jadi waktu di panggung

saya

flow, ngeflow

aja, seperti itu

itu

cara saya melatih

talking points yang

tanpa melihat presenter note

jadi intinya sebenarnya idealnya

tidak perlu presenter note

depends people

depends, different people

different way, tapi itu cara saya

tanpa, yes

tekniknya talking points

dihubungkan dengan

benda yang ada dalam rumah

ada fisik yang ada urutannya

yang penting juga ada urutannya

nggak bisa masuk kamar

tanpa lewat satpam

kompleks dulu misalnya kan, berarti urutannya

sesuai

talking pointsnya

talking points

itu berguna

untuk pengingat aja

ada yang, itulah gunanya slide

itu talking points saya

talking points saya ada di slide

jadi apa ceritanya

kan setiap slide ada ceritanya

ceritanya itulah yang saya relate

kan cerita itu ada

ada key points ya

dari setiap cerita ada key points

yang mau disampaikan, key points itulah

yang saya mapping, ceritanya mengalir aja

iya iya iya

nah mas Risa gimana

pakai presenter view nggak?

pakai speaker notes nggak?

tergantung

ininya ya, tergantung

talknya dimana

tergantung seberapa

besar atau seberapa

ya kalau misalkan kayak

di meet up yang kecil ya nggak masalah

pakai presenter note gitu, nggak masalah

nggak apal-apal-apal, ini kan

ini salah satu apa ya, salah satu

challenge, tantangan

utama dari kita

yang kerjaannya

adalah sebagai developer, bukan sebagai

public speaker

itu jam latihannya

kan pasti kurang kan, karena kita

bukan pekerjaan kita untuk jadi

narasumberkan gitu kan

mas Risa masih lebih baik daripada saya

oh iya jelas

secara profesi, pengajar

iya maksudnya itu

nah itu maksudnya

kalau saya sekarang ya kebetulan

rol di kantor juga sama

jadi ya kerjaannya ya ini gitu kan

jadi persiapannya bisa lebih matang

gitu, tapi kalau misalkan

kalau saya misalkan sebagai developer

dulu kan waktu awal-awal jadi

apa, nggak ngisi acara juga

kerjaannya ngoding gitu kan

dan persiapannya juga pasti kurang gitu

nah, kalau misalkan

acaranya di meet up, saya

masih pede, masih berani nggak perlu pakai

latihan, yang penting bikin slide, ada

talking point-nya, bisa nyetek-nyetek dikit

gitu ya, kalau salah juga nggak masalah, paling

30-40 orang gitu kan

tapi kalau misalkan udah di conference

itu udah beda lagi ceritanya

udah

harus persiapan, talking point tetap

dibikin, bahkan dulu awal-awal

sampai bikin script, kayak

baca, mulai dari

nyapa, detail

gitu, semua dibaca

tapi tujuannya untuk

tapi tujuannya untuk

menghapal, untuk

ngapalin apa yang mau disampaikan

ujung-ujungnya itu nggak dipakai

gitu, nggak dipakai, cuma pas latihan

dibaca, pas latihan, ya

untuk dibaca, untuk dihapalin

ternyata nggak efektif kayak gitu

makanya kalau sekarang

misalkan, direkam nih, rekaman

take 1, ngomongnya gini

take 2 nanti beda lagi, karena

tergantung mood, dan tergantung, mungkin tergantung

kondisi di

acara juga, gitu

bisa aja ada tiba-tiba

ada joke, biasanya saya sering pakai ada joke

dari pembicara

sebelumnya, pembicara sebelumnya mungkin ngomongin

apa, terus saya pakai itu

beberapa hal yang

di pembicara sebelumnya, saya lanjutin

tadi kan udah ngomongin ini kan

di bagian sebelumnya

nah, sekarang kita bagian ini, kadang-kadang gitu

jadi ada kayak bridging-nya, gitu sih

jadi idealnya nggak

tapi kadang-kadang

tapi tetep saya bikin, kalau

talking point tetep bikin

sambil latihan juga asalnya

nah, terus kondisi value yang

macem-macem itu ngaruh juga sih

soalnya kan nggak semua tempat

maksudnya kita kan belum tahu ya

dan bahkan organisernya pun kan

mungkin pas

menjanakan acara, belum tahu exactly venue-nya

dan apa, alatnya

seperti apa, belum tentu

mereka ada layarnya

buat apa, buat liat

preview, nah, yang aku Parno tuh

maksudnya aku sekarang berusaha nggak

pakai speaker notes itu, salah satunya

karena Parno udah siapin

speaker notes, dan

siap-siap pakai speaker notes

ternyata nggak ada screen-nya

yang ada ke kita

ya worst case scenario lah

iya, berarti tetap harus

hafal kan, ya mungkin nanti

Wande bakal combine coba sama

triknya, Mas Riza

ada counter-argumentnya, tapi

sempat dengar bahwa

Googler pun, presenter di

Google I/O ya, misalnya kemarin, atau

apapun lah, from Dev Summit

mereka pun pakai speaker notes

nah, tapi counter-argumentnya

ya kan, itu acara yang

controlled ya, maksudnya itu dalam

itu kan controlled, maksudnya

ada scope-nya

iya, ada scope-nya

dan sudah plus

ada legalitasnya

di situ, harus ngomongin

apa, nggak boleh, justru nggak boleh

melebar ke mana-mana, iya, kalau

misalnya salah ngomong, urusannya

legal, bahaya

jadi, harus ada

context dan seharusnya ini

harus pakai presenter notes, ya itu, itu relnya

mereka, mereka nggak boleh keluar rel, kalau kita

kan masih bisa kan, ngomong di luar

topik kan

kalau mereka nggak bisa

jadi, harus benar-benar, harus di

kendalikan di situ, gitu

iya, itu nice to have

sih, tapi saya kembali lagi

karena

di beberapa tempat tidak bisa menyediakan

itu

akhirnya, memutuskan untuk

skenario, nggak ada presenter notes

gimana, gitu, akhirnya ya

mau nggak mau

suka atau tidak suka, ya harus

menguasai materi, gitu

nah, aku sih sempat

kepikiran pakai trik yang aneh-aneh, gitu

cuma belum sempat di eksekusi

cue card fisik, misalnya kita

tau nggak sekarang pembawah cara quiz, gitu

pembawah aja fisik, maksudnya, nah, cuma

setelah dipikir, gimana

gimana kalau mic-nya yang

begini, mic-nya begini, bukan

pegang, bukan mic ini ya

mic, clicker, kartu, gimana

kalau kartunya tiba-tiba yang jatuh, terus

kayaknya, ya, itu tadi perkara

trade off, kayaknya risikonya

lebih besar dari manfaatnya, jadi

sejauh ini belum sempat di eksekusi

mic sama clicker aja pegangnya

sudah susah itu, apalagi ditambah satu lagi

ya kan, dua tangan pas

tapi, maksudnya, berarti nggak bisa dengan nyaman

pegang cue card

iya, nah

mungkin, topik terakhir nih

kita udah satu setengah jam

mungkin kita, topik terakhir

seru ya

ngobrolin not web, tidak ngobrol-ngobrol

pernah

pengalaman talk

dengan bahasa Inggris nggak

atau bahasa non-Indonesia

pernah, Ivan, dimana tuh

boleh ceritakan nggak?

beberapa kali di WordCamp

di WordCamp, dan juga

di Company Summit

beberapa kali

pengalamannya, kalau menggunakan bahasa

yang bukan bahasa utama

itu

ada challenge

sendiri, karena gini, apa yang kita

mau sampaikan itu, nyampeknya

cuma 50% 70%

berusaha untuk

kita berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikan

tapi

yang nyampe mungkin sekitar 70-50%

yang pertama kali

pengalaman pertama kali

ya, WordCamp QL 2019

itu belepotan

saya menyampaikan tentang

progressive web app

di WordPress

dan saya sampai

demo-in plug-innya

saya pakai, saya demo-in plug-in

saya bisa bikin

jahwal if

schedule dari

event tersebut, pakai PWA

dan bisa working secara offline

saat itu

bisa langsung saya tunjukin pakai itu

belepotan

sedikit belepotan

dan entah kenapa, karena waktu itu

PWA lagi ngetrend

session-nya saya itu kayak ada

sampai hampir

600 orang, rame

sampai nggak ada tempat duduk gitu, buset

belepotan ngomongnya

terus kemudian saya nyampekan

cepet aja dan mengapa butuh

blablabla, demo, dan

so far so good

tetapi saya tahu banyak

kelemahannya, karena

pertama kesalahan utama saya saat itu

adalah saya lebih

bukan

apa ya

kesalahan utama yang saya realize dan kesalahan

terbesar saya adalah

saya ngomongin PWA saat itu adalah

lebih ke arah

pamer, ketimbang

sharing

itu yang saya

oh oke

gue lebih pamer, karena

gue bisa bikin ini, gue tunjukin ini

dan gue pamerin, itu

motivasinya

agak keliru ya

public speaking tadi

yes

itu

saya nyadarnya setelah turun panggung

this is not me

not good, terus

belajar pertama kali saya

ok, the public speaking is not about

you, but it's about the public

jadi apa ya

seharusnya kita sharing

bukan pamer

ya, selanjutnya public speaking

gak ada yang lebih besar, karena

belum ada kesempatan, tapi

next time, selanjutnya ada di

yang company summit, yang

70 orang, 50 orang juga

cukup sering, ya

online sering, dan

untuk di offline-nya

biasanya

lightning talk

lightning talk ini beda lagi, karena cuma

dikasih waktu

3 menit

yes, 3 menit

banyak topik-topik yang gue angkat

pertama, dulu pernah-pena tentang AI

kedua, tentang

bagaimana, yang lebih fun

contohnya

gue yang terakhir itu

3 hari setiap bulan

dalam 3 bulan setiap bulan

dalam 3 menit

apa itu

jadi topik gue itu adalah

gue asal itu selalu

di company sekarang, selalu ngambil

libur 3 hari

dalam sebulan

selalu

ada 3 hari libur dalam sebulan

diambil

di rencanakan

di schedule, masukin ke

high air system, gue ambil

untuk 3 bulan setiap bulan

jadi selalu ngambil 3 hari, jadi kayak

Juli, Agustus, September itu sudah gue book

tanggal libur

dan itu

booking-nya bulan apa?

dari sebelum Juli? sudah 3 bulan lalu

sudah ada gitu, selalu

gue book 3 hari, gak peduli

pokoknya, gak tahu ada libur

atau nggak, pokoknya ambil aja tanggal

sekian, mau ada acara

itu nanti acaranya dibuat

jadi 3 hari

dalam sebulan, untuk 3 bulan setiap bulan

dan gue sampaikan dalam 3 menit

isinya ya

foto-foto, liburan

foto-foto lucu-lucu

dan key pointnya

adalah, mengambil 3 hari

libur dalam sebulan

gue tuh gak perlu bikin hand over note

karena periodnya sedikit

gak perlu nyari

mengganti developer lain

karena, ya

sedikit orangnya, gak perlu

bikin pusing PM, terus kemudian

pasti, si event itu udah

steam itu udah pasti, si event bakal libur

3 hari sebelum itu, jadi mereka udah siap

oh, expected ya

expected, dan

mau kemana juga nanti

itu kayak kita sama, gue sama

keluarga, kita mau kemana

bulan depan, oke kita

kesini, ya, ayo

jadi, ambil aja

liburnya, mau kemana nya, belakangan

itu

topik lightning talk, ada juga

topik yang pernah gue sampaikan

di acara e-meetup

yang diadain company

tentang

collaborative editing

dan gue sampaikan, kenapanya

kayak kembali

seperti top biasa dan, tapi yang datang

expert, yang datang

top of the line

dari

komunitas WordPress

kayak CEO-nya si ini, CTO-nya

si ini, itu kayak enterprise

company

yang datang

ke acara itu, pengen lihat

bukan pengen liat talk

gue sih, tapi memang ikutin acaranya

dan salah satu talks yang

dibawa dari company, talks

yang gue tentang collaborative editing

menarik, cara meng-engage

expert user itu

beda lagi caranya

pertama, ngomongnya gak boleh-boleh

potan, jadi harus benar-benar siap

kedua

sudah harus siapin demo

jadi gue sebelum acara itu, sudah kayak

kita kan collaborative editing

sudah siap laptop

sudah siap ini, sudah siap ini, oke

online talk, gitu, dan semuanya

kebetulan waktu itu internetnya

bagus, alhamdulillah, jadi

lancar, lancar, aman jaya

dan

talking points itu

kalau misalnya bawa

brand company, gue itu harus

lewat

petinggi-petingginya

petinggi-petingginya harus

belajar dulu semuanya

oh ganti ini, ganti ini, termasuk slide-nya ya

yes, harus ada

yes no-nya

yang ini usah, ini

bagus, tapi kita harus kembali ke company

kita bagaimana supaya brand-nya

bagus, ya branding lah

Kalika pernah?

pernah, anehnya pernah

tapi untungnya online

sebelum jadi GDI, ya itu dulu

lagi dikasih

apa, biar

ada track-track talk-nya cukup kan

banyak apa-apa, oke

itu bahkan persiapannya relativ sedikit

jadi kasusnya GDI

sibuk, itu salah satu

speaker-nya tiba-tiba

kan, itu cuma

5, apa ya kalau nggak salah

kalau nggak salah, talk-nya tentang

wordbox, bikin

speaker note sih, dan

itu online ya, jadi kayak nggak

terlalu berat

tapi mungkin

jadi maksudnya kan sebetulnya yang menarik

untuk di-compare, apakah ada approach yang

beda saat kita present

pakai bahasa Indonesia versus

bahasa Inggris, nah sayangnya

aku belum bisa ngebandingin itu juga karena

substansisnya beda banget ya, pasti itu

online, bikin pakai speaker notes

presentnya tentang

wordbox yang apa, itu

memudahkan bikin service worker

kebetulan emang abis

barusan mulik itu, dan pas itu aku

merasa memudahkan

entah kenapa, nggak lupa, sampai tengah-tengah

oh, masalah waktu juga sih

cuma ini kayaknya bukan karena

bahasa Inggrisnya, karena ya itu

aku berkali-kali emang

sekian talk

yang pertama tuh emang selalu masalah sama

waktu, belum bisa

apa

termusin yang

compact yang sesuai sama alokasi

waktu, yang masalah waktu, dan

akhirnya pas di detik itu aku

mutusin, nggak pakai speaker notes

ya udah improve aja, tapi

mungkin, jadi, sebenarnya

aku ada background sebelum loading

itu dulu banget, pernah jadi

tenaga mengajar kursusan bahasa Inggris

kerjaan itu aneh-aneh

sebelum loading

dan pas sempat

beberapa tahun, dan

itu sebetulnya

pertama kali

ngelawan pikiran bahwa aku nggak bisa

ngomong, kalau ngomong melibat

nah kalau itu sih, sebetulnya motivatornya

adalah BU, karena itu yang

kerjaan part-time yang

kemasakannya paling lumayan, apalagi

terima, salah satu

evaluasi yang dulu didapat

paling sering didapat adalah aku ngomong

cepet, murid, dunia

cuma pertama kali aku belajar ngomong

pelan-pelan di situ, nah, cuma maksudnya

apa, backgroundnya

kenapa bisa tiba-tiba

bisa dan berani tiba-tiba improve

sebetulnya sih ya, itu karena dulu

terbiasa, tapi malah

justru sekarang kayaknya lupa, karena

udah bertahun-tahun, udah

belasan tahun nggak

nggak kerja di situ, nggak

kerja sebagai apa, pengajar

bahasa, jadi mungkin jangan-jangan

lupa, tapi ya pas

satu kali itu talk di acara

Philippine, Cebu itu sih ya

kayaknya baik-baik aja dari

pertanyaan audiens, audiens

bahkan ada yang nanya, jadi ya

kalau level of interest kan

agak sulit

di-check ya, karena event online

tapi ada beberapa yang nanya, jadi ya

not too bad, habis itu

belum pernah, sekarang

mungkin kalau misalnya besok-besok ada kesempatan ya

sebetulnya takut

cuma kalau itu tadi

growth mindset kan, kalau takut

terus, ya udah kapan mau bisa, jadi kayaknya

ya suatu hari

bakal nyoba lagi yang in person

sejauh ini belum, tapi

nervous juga loh, kalau bahasanya bukan

bahasa utama, betul, betul

iya, ya kalau

tapi kalau misalnya nggak pernah dicoba ya

udah kan nggak bakal bisa

saya dulu pernah

pertama kali

itu sebelum jadi GDI, 2016

masih

lumayan baru-baru juga, baru-baru

istilahnya baru

jarang-jarang dari Narsumber, tiba-tiba

ada undangan dari Singapura

minta untuk meet up, untungnya

meet up ya, jadi

ya 50-60 orang

take in Asia? bukan? bukan, bukan

meet up, meet up

salah satu bahasa pengograman

yang, ya meet up ya

biasa lah ya, 50-60

orang, gitu kan, tapi

ajaibnya, ada perusahaan

yang mau men-sponsori saya kesana

penginapan dan juga pesawat

itu ini sebelum

perusahaan Singapore

perusahaan Travel Singapore

undang, terus abis itu

kesana, sendirian

bener-bener sendiri

terus, sampai disana

lumayan, tadi kayak Ivan juga

lumayan belepotan, karena

kalau Ivan mungkin, udah biasa

sehari-hari, ngomongnya bahasa Inggris

karena kerja remote kan, kalau saya kan

sehari-hari bahasa Inggris, jadi kalau bahasa Inggris itu

lama kita tidak ngomong bahasa Inggris

itu kayak karatan, harus

di asah lagi, gitu kan

itu datang kesana

terus abis itu malamnya, siangnya nyampe

malamnya present, itu

bener-bener, di otaknya itu

ada bahasa Indonesia nya, kepikiran

mau ngomong apa, tapi

bahasa Inggris nya nggak ketemu

focapnya apa, kata-kata aja yang mau

dicabarkan apa, pasti itu pakai pekan nuts nggak?

pakai

cuma speaker nutsnya

nggak scripted, jadi

nggak scripted, jadi cuma

bukan kalimat ya kan, tapi

jadi ada beberapa

yang kata-kata nggak ketemu

untungnya

karena tahu saya bakal ngomong disana

ada beberapa orang Indonesia, untungnya itu

jadi mereka bisa, pas

ngomong tiba-tiba secara

natural, keluarlah bahasa Indonesia

apa ya, ini, gitu kan

dibantuin

ya diterimain

ya itu lumayan, terus

yang lebih membantu lagi adalah

ketika udah awkward gitu kan

ngomongnya juga belepotan

livecoding, itu membantu

untung livecodingnya

lancar tapi ya, untungnya

livecodingnya lancar, ada error-error dikit tapi

termasuk lancar

ngomong lepotan, livecodingnya

ancur

livecodingnya

livecodingnya pakai script, jadi

diprint gitu kan, dicetakkan

ikutin aja

itu lumayan, akhirnya

jadi kayak apa ya, orang-orang

yang tadinya mulai hilang

apa, hilang kepercayaan tiba-tiba

respect gitu, wish respect

itu juga salah satu

apa ya

dua belah mata pisau yang bisa kita

manfaatkan sebenarnya, kalau

ada pertanyaan dari mas Budi itu

oh iya, ini bagus sih pertanyaannya

tip straight ketika public speaking dengan kontek

pengosahan materi yang minim

Jangan

Jangan

Gak jadi, saya gak jadi deh

IOX Jakarta gak jadi

kurang persiapan

gak bisa

kecilin skop materinya kali ya

kalau misalnya, ya maksudnya kalau

ini kan gak tau nih, requirement-nya kayak gimana

beneran materinya harus keseluruhan

itu atau nggak, kalau keseluruhan

ya gak tau lah, improve aja kali

cuma maksudnya kalau, kalau aku misalnya

harus kayak gitu, ya mungkin

pilih satu bagian kecil

kan, maksudnya surface

surface level-nya seberapa gitu

pilih satu bagian yang

bisa dicumot buat stand alone

kali ya, jadi misalnya apa ya

kalau yang konkretnya PWA

gitu PWA luas banget

bahkan instalasi pun masih luas banget

gimana, terus

ngomong tentang manifesti aja

ngomong tentang manifesti aja

atau bahkan add to home screen doang

gitu, atau bahkan

service worker-nya aja

service worker-nya aja

service worker pun luas banget kan, jadi kayak cuma

ya udahlah, manifest doang gitu

atau apapun lah, misalnya add to home screen doang

jadi flow-nya adalah

gimana aplikasi kita

di Lighthouse, passing PWA-nya

itu di centang

sama user bisa menginstall

kemudian kan udah ada manfaatnya

tuh, jadi user gak usah nge-tick

alamat lagi

gak usah nge-bookmark, bisa langsung dibuka

yaudah, kalau aku sih bakal gitu

kalau gue benar, scope-nya diturunin

tetapi kasih hook untuk mereka

bisa belajar lebih lanjut

jadi misalnya

yang diceritakan kulitnya aja

yang kanas bisa tahu itu-nya

tetapi kalau mau belajar lebih lanjut, lanjut kesini

ada lanjutnya

namun, perbanyak

cerita, jangan tanya saya

oh, kirain, kirain bilang kamu

kirain sendiri, jangan tanya saya

iya, perbanyak cerita

yang membuat mereka tertarik untuk

mengunjungi link itu

jadi, kenapa butuh

PWA, PWA itu

dipakai di company ini-ini

tujuannya bisa begini

contohnya Twitter

engagement-nya naik, begini-begini

untuk bisa

memulai PWA

ada collab

google collab-nya

ada di sini

di akhir acara

dari collab itu, kalian sudah bisa

membuat satu PWA app sendiri

terus

mulai link-link itu, kayak

apa namanya

kalau di WordPress, sudah ada plugin ini

kalau di Drupal, sudah ada ini

kalau di JavaScript, sudah ada

workbox yang bisa pakai

framework-nya, atau library-nya

yang sudah bisa dimulai dengan mudah

anak-anak tutorial-nya

itu seperti

apa namanya ya

tidak perlu mendalam

kulit-kulitnya saja

tapi dikasih

dikasih hook

mereka seperti dikasih perasmanan

lu mau yang mana

ini, saya sudah ceritakan semua kulitnya

lalu lanjut cari lebih dalamnya

seperti itu

kalau saya kurang

persiapan

kurang persiapan

atau, bukan persiapan sebenarnya

konteks penguasaan materi-nya

ini persiapannya

persiapannya itu harus bagus

iya

betul, setuju

jadi, apa

kita bahas kulitnya

bukan bahas secara mendetail

tips lagi

tanya teman

yang lebih muasain

bukan nyuruh mereka bikinin materinya

tapi bagian apa

yang bisa dicomot

dengan apa

bisa diklik dengan waktu singkat

maksudnya, kalau kita

menguasain materi

akan lebih gampang untuk kita

memilih surface level yang menarik

tapi kalau kita

tidak menguasain, agak bingung

misalnya dari mana

mungkin bisa berinstorming dengan teman yang tahu

yang lebih paham

iya

benar-benar

mencari teman ya

yang ngerti ya

ngobrol sama teman lah

rubber duck, cuma ya jangan

rubber human

real human

ada yang pernah lakukan ini gak sih

di awal-awal acara

atau sebelum talks itu engage dengan audience

mereka kan pada ngumpul

nimbung aja ngumpung

hai, apa kabar

dari mana

hari ini ekspektasinya apa

ada gak?

belum, malu

biasanya saya telahnya

tapi kalau selanjutnya

ice breaking

aku udah tahu apa yang mau diomongin kan

kan udah biasa

gak sering, tapi beberapa kali

mencoba gitu, kayak engage dengan

kalau gak telat datangnya ya

biasanya kan juga telat ya

atau saat makan siang

datang ke circle mereka

ada yang webdev, ada yang android

ada yang cloud, ada yang machine learning

hari ini ekspektasinya apa

jangan-jangan ngomong

jadi kita bisa tahu

bisa connect dengan mereka

kalau itu biasanya saya lakukan

setelah

setelah saya turun panggung

tujuannya minta feedback

gimana tadi, ada masukan gak

atau ada yang kurang

atau gimana gitu, kalau misalkan

ada orang yang istilahnya

misalkan sama Ivan nih

begitu turun bisa nanya

karena istilahnya udah

biasa public speaking juga kan

ada yang kurang gak atau apa gitu

tapi kalau sama yang umum nanya

seberapa

pengen tahu

apa, masuk gak

apa yang kita sampaikan itu

masuk gak ke mereka gitu

buat itu aja

buat apa, buat feedback

terutama, karena kan selama ini kan

kita jarang ya

sebagai speaker, jarang

menerima feedback kan

baik itu dari apa, dari

organizer

atau pun dari

dari penonton

biasanya organizer yang

minta feedback kan

dapat email dari Vero

dikirim

thank you Vero

kalau begitu enak sekali

ada foto-foto juga

baik banget mereka organize

kita butuh feedbacknya karena buat improve

biasanya kan organizer

emang punya feedback sih

termasuk feedback untuk speaker

jadi ya mungkin lain-lain ya

cuma itu cukup umum

ya mungkin kita bisa nanya proaktif

nah, cuma kalau yang

ngedatengin secara fisik

ngajak

dan di luar

sapa-sapaan general

nanyain feedback ke penonton

aku belum pernah dan jujur

masih agak insecure

masih belum sepenuhnya

100% puas dengan

performance public speaking

aku sendiri sejauh ini, jadi kayak

masih nunda-nunda

jangan dulu lah besok-besok kalau udah

perfect, nah cuma keliatannya

ya bisa dikolon besok-besok

sebenernya nggak perlu

kita tanyain kayak gitu secara

eksplisit

jadi kayak ngobrol aja tiba-tiba

ya misalkan kayak

waktu itu saya pernah ngisi di

Tekin Asia

Product Development Conference

terus pas saya ngomongin tentang

machine learning waktu itu, machine learning for web developer

terus begitu turun

tiba-tiba ada yang nanya

mendingan, waktu itu apa ya, mendingan

pilih machine learning atau

teknologi yang lain gitu

dulu belum web3 kan

ada lah yang lain, kayaknya udah ya

apa, coin-coinan gitu ya

atau web3 gitu kan, mendingan

mana, artinya kan dia udah berfikir

kan antara ini

topicnya machine learning, oh berarti masuk nih

topicnya gitu, jadi kayak

bahkan kayak ngobrol diluar

topic pun kadang-kadang kita bisa

dapet feedback dari sana gitu

kalau misalkan dia ngomongin hal yang jauh

berbeda berarti dia nggak perhatiin kita dong

gitu kan, ketauan gitu kan

jadi ya gitu lah

kadang-kadang. Oh kalau ngobrol

tentang web topics, maksudnya sih

udah sih, dan itu

jadi inget sih, maksudnya

itu salah satu hal yang beneran

bikin senang banget sih, kalau buat aku

pribadi ya, maksudnya kan

kalau soal preferensi

lebih suka misalnya

nulis atau media lain

atau ngomong, tetap, kayaknya aku

bakal milih apapun yang nggak ngomong, karena

maksudnya, apa, effortnya

karena dari sunuhnya ngomong

belibet dan kecepatan dan nggak jelas

effortnya untuk ngomong dengan jelas

lebih tinggi, tapi itu jadi

waktu setelah talk

kita bisa ngobrol sama

audience dan

apa, bahkan

dari pas pertama kali banget

yang tadi yang over time parah

itu, kita pun

habis selesai talk, ya

ada, lucu sih, anak-anak

masih kuli ya, malah

yang ngajak ngobrol ya

tanya-tanya tentang PWA sesuai

topicnya, ya terus pasti

tempat-tempat lain juga kayak gitu, misalnya

bahas tentang UI, ya ada yang tanya tentang

CSS, atau mungkin

minta saran sesuatu, dan aku

bisa merekomendasikan sesuatu yang baru

yang kelihatannya berguna buat

yang tanya, itu nyenangin

banget sih, jadi itu satu poin yang

positif banget, cuma yang belum

belum pernah nyobain ya, itu cuma

gouging, apa

memancing feedback tentang

materi public speaking-nya sendiri, itu

yang belum

itu ada pertanyaan terakhir

kita bahas, habis itu

pernah, nggak, materinya

tabrakan sama speaker lain, kayaknya nggak

pernah, pernah-perna

koordinasi

kan soalnya dari awal kita udah itu sama

organizer-nya, kira-kira topicnya

bakal tentang ini, jadi walaupun judulnya belum

finalize, secepat mungkin

ya confirm topicnya

koordinasi

sama organizer

dan juga koordinasi sama

speaker lain

yang di bidang yang sama

di bidang yang sama

oke, kalau gitu, kita sudah hampir

2 jam

ngomongin

ngomongin tentang public speaking

masih sering teman panggung, masih

sampai saat ini saya masih

masih grogi, kadang masih

masih grogi, apalagi kemaren

DevFace Makassar, saya juga masih grogi

karena panggungnya keren banget ya

venue-nya keren, dan orangnya rame

jadi apa sih lah

grogi dan nervous itu

adalah hal yang manusiawi

jadi ya

itu membuat kita lebih waspada sebenarnya

kita takut bahwa kita nggak bisa

deliver dengan baik, dengan demikian kita harus

prepare latihan

lebih fokus, lebih banyak

latihan, latihan terus, karena nggak ada yang bisa

menggantikan latihan, jadi

bisa menurunkan sedikit kadar

nervous, tapi nervous itu nggak akan hilang

oke, mudah-mudahan

setuju, setuju banget, sama itu

satu lagi sih, kenalin

kan orang macem-macem ya

pendensi orang, seberapa

grogian, macem-macem

terus

kenalin

karakter kalian sendiri

kalau aku pribadi

aku gara-gara

dulu sering panggung itu

jadi sadar, dan itu kan satu

band

penguasaannya sama

mirip-mirip, levelnya mirip-mirip

venue panggung yang dimainin

sama, ternyata

banyak dari sekian

personel ini, macem-macem

ada yang sama sekali nggak

ngerasa apa-apa, jadi kayak ya udah

nggak apa-apa santai, ada yang grogi banget

nah, bisa ditubak, aku masuk kategori yang mana

aku grogi banget, dan sampai sekarang pun

kalau misalnya mau pribadi di

IO Extended atau DFS atau apapun

nervousnya itu sekitar 3-4

hari penuh sebelumnya

pokoknya sebelum naik

itu pasti nervous berat

terus psikosomatic sih

mau muntah, selalu mual

walaupun nggak makan apa, mau makan nggak makan

nggak ngaruh, ya udah, cuma aku terima

aku tahu bahwa itu bukan

itu bukan masalah apa-apa, emang kayak gitu

jadi ya udah, bawa santai

ya ngatasinnya, apalah

tarik nafas yang dalam-dalam

dan aku, yang lebih penting

lagi aku tahu pas aku udah naik ke atas

berapa detik pertama itu bakal

hilang, jadi ya udah

maksudnya buruk banget pas awal

itu masih panik, untung

paniknya bukan pas text speaking ya

dulu pas masih nge-band

apa jadi panik, karena aku nervous

jadi kenapa nih

ada apa, apakah ini

artinya aku nggak siap, padahal aku udah

latihan, ya ternyata bukan karena itu

ya karena karakter aja sih, jadi ya udah

grogi, grogi boleh

lose focus yang penting

jangan, tetap

keep focus

grogi boleh, keep focus

it's not about you, it's about the public

susahnya

kalau lagi grogi ya nggak bisa focus

tapi ya balik lagi, kalau kita

menghasilkan materi, bisa

latihan buat focus

jadi latihan itu melatih apa ya

melatih, yang satu melatih

mental, yang kedua melatih

naluri, jadi ketika kita

bingung, ya reflex

instinct dan reflex ya

ketika kita bingung mau ngomong apa

kalau kita udah ngapalin

udah menghasilkan materi ya, udah

jalan aja secara natural

oke, paling itu dulu

untuk malam hari ini, sudah dua jam

record, biasanya

ngomongin teknis nggak pernah se panjang

ini, tapi, oh pernah

pas visiting dulu, kayaknya pas android vs web

atau semacamnya, itu kan

rame, ini kita bertiga doang

iya sih

seru ya, jadi mungkin

mudah-mudahan kita bisa dapat

topik-topik non-technis juga, jadi kita

rolling ya, sudah beberapa waktu

kadang seru juga, bahas soal non-technis

coba munculin linknya

jangan lupa, kita butuh saran

kritik, dan pendapat

tentang acara ini

mudah-mudahan, apa yang kita sampaikan

bermanfaat buat temen-temen, baik yang

sebagai, yang pengen

jadi narasumber, ataupun sebagai

organizer

atau dua-duanya

terima kasih banyak

atas atensinya, kita ketemu lagi

hari selasa depan

jam 8 malam, dengan tamu

super istimewa, karena bukan dari

Indonesia, dari luar negeri, nggak bisa

bahasa Indonesia, dia hanya bahasa Inggris

atau bahasa Jerman, atau bahasa apa, saya nggak tahu

siap-siap, minggu depan

ya, spesial sekali, diundang

dia bersedia datang

sudah sempat kita gosipin juga ya, di episode-episode

sebelumnya ya, jadi, tungguin aja

hari selasa depan

sampai ketemu lagi, selamat malam

selamat istirahat

bye-bye

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .