Lompat ke konten utama
EP 40

Ngobrolin Fluttercon

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini menghadirkan seorang developer asal Jakarta yang kini bekerja di ING, sebuah bank di Belanda, dan obrolannya berjalan santai — dari pola kerja hibrida yang bahkan diatur per sektor supaya kereta tidak terlalu penuh, sampai cerita sepeda yang dipreteli bagian demi bagian meski sudah dikunci di dua titik. Bagian teknisnya soal memakai Flutter sejak versinya masih beta pada 2018, untuk sebuah aplikasi loyalitas berskala besar yang selesai dalam tiga sampai empat bulan dan langsung terbit di Android maupun iOS. Datang dari pengembangan Android asli, yang paling ia sukai adalah menyusutnya jumlah berkas: dulu satu fitur berarti berkas XML untuk tampilan, berkas Java terpisah untuk logika, dan berkas XML lain lagi untuk animasi; di Flutter semuanya berada di satu tempat dalam Dart. Kelemahannya juga disebut jujur. Sebagai teknologi yang masih mencari bentuk, banyak hal belum diputuskan — terutama pengelolaan state dan arsitektur, di mana tim Google sengaja tidak menetapkan satu cara yang direkomendasikan, berbeda dengan Android yang lewat Kotlin sudah memberi jalur jelas. Bagi pendatang baru itu membingungkan, dan diakui setara dengan orang yang belajar web tapi langsung masuk ke React tanpa panduan pola. Bagian penutupnya soal FlutterCon di Berlin yang merupakan bagian dari DroidCon: pusat pengembangan ekosistemnya ternyata banyak di Eropa, sehingga bisa berbincang langsung dengan orang yang pustakanya selama ini hanya kita pakai. Ruang sesi Flutter dan Android bahkan bersebelahan, bukan bersaing.

Poin-poin Utama

  • •Sebuah aplikasi loyalitas berskala besar selesai dalam tiga sampai empat bulan dan langsung terbit di Android maupun iOS, memakai Flutter yang saat itu masih beta
  • •Datang dari Android asli, yang paling terasa adalah menyusutnya berkas — dulu satu fitur berarti XML untuk tampilan, Java untuk logika, dan XML lain untuk animasi
  • •Di Flutter semuanya berada di satu tempat dalam Dart, dan itulah yang membuatnya bertahan menyukainya
  • •Sebagai teknologi yang masih mencari bentuk, pengelolaan state dan arsitekturnya belum diputuskan — tim Google sengaja tidak menetapkan satu cara yang direkomendasikan
  • •Berbeda dengan Android yang lewat Kotlin sudah memberi jalur jelas, dan bagi pendatang baru kebebasan itu justru membingungkan
  • •Setara dengan orang yang belajar web tapi langsung masuk ke React tanpa panduan pola pengelolaan state
  • •FlutterCon di Berlin adalah bagian dari DroidCon, dan ruang sesi Flutter dan Android bersebelahan alih-alih bersaing

Halo, halo, halo. Selamat malam.

Selamat malam.

Ketemu lagi dengan kita.

Gimana Google I/O Extended-nya lancar-lancar?

Lancar, asik.

Ah, Marsiza nggak ikut di Bogor.

Kayaknya Bogor seru banget.

Seru banget.

Tenang, DevFest udah pasti ke Bogor.

Oke, oke.

Ketemu lagi bersama kita bertiga.

Ada Eka, ada Ivan dan saya, Riza.

Di acara Selasa Malam yang ditunggu-tunggu, yaitu ngobrolin web.

Malam hari ini spesial karena kita nggak berbeda.

Kita nggak ngobrolin tentang teknologi web, tapi kita ngobrolin tentang conference.

Ya, masih ada kaitannya sedikit.

Dan narasumbernya ini jauh dari Belanda.

Tapi tenang aja, dia masih bisa bahasa Indonesia.

Jadi bukan orang luar.

Dia teman kita yang November kemarin masih ketemu.

Terus abis itu sekarang dia pindah bekerja di sana.

Langsung aja kita sambut dengan Maria Angga.

Halo, Angga.

Dan Aruna.

Halo, Aruna.

Halo, dia tuh.

Selamat apa di sana? Pagi, siang, malam, pagi?

Siang hitungan kasih.

Oh, siang.

Sore deh, sore. Selamat sore.

Lihat transkrip lengkap (2398 segmen lagi)

Sore tapi masih siang begini.

Masih siang ya? Sampai jam 11 katanya ya? Luar biasa ya?

Sampai jam 11, luar biasa.

Sampai jam 11 malam.

Dunia terbalik di sini kayaknya.

Dunia terbalik.

Siangnya lebih lama daripada malamnya.

Yang susahnya kalau bulan Ramadan.

Oh iya.

Kemarin, was.

Tahun depan kayaknya kalau gue nggak pulang, di sini.

Gue malah menderita sih.

18 jam ya?

Akurnya iya.

Sampai jam sekitar 4.15, paling parah tuh ya.

Makin akhirnya makin parah.

Terus bukanya itu jam 9.

Jadi kebanyakan.

Jam 9 malam baru.

Karena matarnya baru turun.

Kayaknya harus pulang sih.

Kalau nggak, tidak.

Oke.

Terus curang kalau winter, buasannya di sana.

Nah itu.

Tidak boleh curang.

Ini niatnya apa sih?

Tidak boleh curang.

Benar.

Oke, sebelum kita ngobrolin tentang conference.

Angga baru saja alami.

Mungkin boleh kenalan singkat lah.

Kenalan siapa.

Terus kerjanya dimana.

Jadi buat yang belum kenal.

Kenalin semuanya.

Nama gue Angga.

Aslinya dari Jakarta.

Sampai 2022 kemarin.

Masih di Jakarta.

Terus pindah ke Belanda.

Sekarang kerja di bank.

Di Belanda namanya ING.

Sabangnya juga banyak sebenarnya.

Belanda, all over the world.

Philippines, Singapura.

Jakarta juga ada.

Terus gue.

Itu adalah Google Developer Expert.

Di Platar makanya bisa kenal.

Sama Mas Danba ini.

Sekarang juga masih aktif Nisi.

Cuma sekarang lebih banyak Nisi di region sini lah.

Karena di Indo kayaknya.

Nisi nya agak susah waktunya ya.

Agak terbalik.

Tapi masih ini ya.

Waktunya masih ada.

Kayak kita di malam disana siang.

Masih.

Gak separa di US kayaknya.

Kalau di US kan udah terbalik.

Kalau di US kan 12-14 jam.

Jadi kerjanya remote.

Mas Angga.

Jadi disini.

Sistemnya sekarang rata-rata ya.

Habis Covid itu hybrid.

Jadi di Belanda itu ya.

Kerjanya orang rata-rata.

Kecuali yang offline ya.

Misalnya kerja di store atau di resto.

Kita orang IP atau orang bisnis.

Itu seminggu maksimal.

Cuma sekali atau dua kali.

Ke kantor.

Makanya harinya juga dibagi.

Biasanya tuh.

Dan itu kelihatan juga.

Karena di kereta gitu ya contahnya.

Itu biar gak terlalu penuh.

Udah dibagi-bagi sektor ini.

Ke kantor tanggal segini.

Sektor lain ke kantor tanggal.

Hari ini.

Biar di transport juga bener-bener dipikirin.

Sama mereka.

Segitu rapihnya ya sistemnya.

Segitu rapihnya.

Emang crowded banget.

Kereta kalau naik kereta.

Kalau dibandingin manggaranya.

Jauh lebih.

Jangan.

Jangan dibandingin manggaranya.

Tanah abang aja tanah abang.

Bandingin tanah abang.

Kalau dibandingin itu jauh sih.

Sebenernya buat kita ya.

Cuma crowded disini.

Itu ketika ada yang gak dapet tempat duduk.

Nah itu udah crowded gitu.

Oh itu crowded.

Karena disini keretanya itu.

Kalau kita kan keretanya yang tempat duduknya.

Depan belakang gini ya.

Kalau disini keretanya kayak kereta regional kita.

Kereta jarak jauh.

Ke Jogja, ke Bandung ya.

Kalau disini yang penting.

Kalau masih bisa masuk belum crowded.

Belum jepit pintu.

Masih bisa masuk.

Tapi anaknya kalau disini.

Kalau lagi separah itu misalnya bis mungkin ya.

Kalau kereta sih mungkin agak susah.

Kalau bis lagi rame banget lagi padat.

Kita bisa ada opsi lain.

Contohnya sewa sepeda.

Jadi sewa sepeda dari halte sana.

Sampai halte deket rumah.

Naik sepeda.

Terus sisanya jalan itu bisa.

Jadi ada alternatif.

Nah itu penting juga tuh alternatif.

Cara mencegah supaya sepedanya gak ilang.

Waduh.

Kalau itu.

Bikin saya kalau punya bisnis gitu.

Disini gimana sepeda saya gak ilang?

Oh enggak tapi sih sebenarnya.

Kalau sepeda yang sharing gitu.

Gak pernah ilang.

Mungkin karena orang juga tahu.

Yang rawan sepeda pribadi kan ya disana.

Yang rawan sepeda pribadi.

Jadi kayak diwanti-wanti banget.

Pokoknya.

Minjem sepeda temen disana.

Terus jadi wanti-wantinya.

Beneran sampai kuncinya tuh.

Orang sana rata-rata kuncinya kayak di dua tempat.

Dan harus ke.

Objek yang.

Apa lah.

Terus bisa sampai dua kali.

Karena maling sepeda kita rawan banget ya disana.

Dulu.

Enggak dulu.

Kemarin saya baru malingan.

Jadi sepeda saya tuh.

Sepeda e-bike yang ada.

Apa sih monitor di depannya itu loh.

Kayak kecepatan kita berapa gitu.

Gue udah benar-benar full.

Nikat di roda.

Rodanya di ikut.

Terus di frame-nya di ikut ke.

Apa namanya.

Tiang gitu ya biar gak di maling.

Oke sepedanya sih aman.

Cuma itunya di ambil.

Rodanya di ambil.

Tapi temen ada.

Itu beneran dia di malingnya itu satu per satu.

Jadi over the course of like one month.

Beneran.

Di apartemennya padahal ditaro ya.

Di Amsterdam.

Ya ampun.

Minggu pertama bilangnya ilang.

Minggu kedua lampunya ilang.

Terus saddle-nya.

Even saddle tempat duduk diambil.

Disana ada pasar ular gak.

Kali aja ada.

Nah disini datangnya kayak.

Masuk ke talapaknya gitu.

Masuk ke talapak.

Wah sindikasinya.

Udah luar biasa ya.

Betul.

Oke.

Nah.

Boleh share sedikit dong.

Awal mulai pake Flutter tuh.

Gimana sih ceritanya.

Jadi pertama banget tuh.

Pake di 2018.

Flutter masih awal banget ya.

Belum nge-trend kayak sekarang lah.

Masih versi beta juga waktu itu.

Flutter tuh baru versi 1.0

Di Desember 2018.

Gue pake sekitar Juli-Augustus gitu.

Itu sama Kompas Gramedia.

Itu bikin aplikasi namanya My Value.

Mungkin bisa dicari di Play Store sama

App Store.

Jadi kayak program loyalty-nya gitu lah.

Buat Kompas Gramedia.

Itu gue yang bikin dulu awalnya.

Istri gue bela-belain install supaya dapet poin

dan dapet diskon.

Tapi sebenernya.

Supaya belanja di Gramedia ya.

Soalnya kan Kompas Gramedia Group itu

kan kolomerat gitu ya.

Jadi banyak bisnisnya.

Hotel Santica kan punya dia.

Terus hotel Amaris.

Punya dia juga.

Dan itu pake Flutter ya?

Itu pake Flutter.

Itu bener-bener pertama banget.

Kenapa berani?

Wah, jujur itu pertanyaan ke...

Tapi sebenernya ini sih.

Kalau gue gak salah inget ya.

Dulu yang paling jauh

dan paling make sense adalah Timeline.

Karena gue bikin apps itu

mungkin kayak dari gue join itu

mungkin baru 15-20% gitu ya.

Sampai complete.

I think it's like that.

Sampai complete.

I think it took us like 3-4 months.

Which is crazy to think about it.

Lu bisa dalam 3-4 bulan

bikin aplikasi jadi gitu ya.

Buat level Kompas Gramedia

yang user aja tuh gak sedikit.

Banyak ya.

Itu dalam 3-4 bulan aja.

Langsung bisa roll out.

Ya itu sih kayaknya.

Paling utama banget.

Dan langsung bisa di iOS bisa?

Android bisa?

Ya bisa, betul.

Jaman itu kan

kok...

Kok ini kayak Kompas...

Apa? Maksudnya hal yang sama

ada kan misalnya React Native

bisa juga ke iOS

dan Android juga.

Betul.

Mungkin alasan kedua.

Pada waktu itu.

Kayaknya gara-gara Techlead gue dulu.

CTO-nya lah.

Itu emang orangnya suka explore.

Jadi dia tuh sebelum Kompas Gramedia

setau gue kayak freelance doang gitu

6 tahun, 7 tahun.

Ini bener-bener kerjaannya ngoperate aja.

Ada skala let's say.

Atau

Haskell bahasa-bahasa

atau framework yang mungkin orang gak

familiar gitu ya.

Tapi dia udah sering coba dan apply di product.

Berarti mindset-nya emang

suka nyoba apa?

Betul. Dan itu kebawah tuh.

Sampai kita-kita.

Oke.

Berarti kecemplung, bahasa, nanggung,

belajar sekelian gitu ya.

Ini ada pertanyaan menarik

dari Norholid.

Sebelum pake Flutter udah menguasai Android kah?

Atau dari web pindah ke Flutter?

Stack sebelumnya mungkin?

Stack sebelumnya gue pake Android

for a couple of years di awal-awal.

Karena dulu Flutter belum ada gitu ya.

Jadi awalnya itu

pake Android Native.

Sempet di beberapa company juga

pake Android Native.

Terus kecemplung lah di Flutter.

Dan mungkin karena gue dari Android Native

juga, wah kalau teman-teman mungkin

yang nonton ada yang dari

Mobile Native sebelum ke Flutter gitu ya.

Itu Flutter sangat-sangat

meminimalisir stack

buat kita develop fitur baru

dibanding Native gitu ya.

Contohnya nih, di Native tuh dulu

kalau di Android mau bikin

fitur gitu ya. Kita bikin

UI-nya tuh di XML sendiri.

Satu file sendiri gitu ya.

Kita bikin kerangkanya lah kurang lebih

button dimana, image dimana.

Terus kerangkanya ini kita konekin ke

file Java dulu. Belum ada Kotlin.

Jadi kita konekin ke Java.

Terus disini baru kita

kasih perintah lah istilahnya.

Button ini kalau diklik harus ngapain?

Image ini harus ngelaut image apa?

Dan lain-lain.

Nah sekarang udah ada dua file.

Let's say gue mau tambah animasi

di XML tersebut. Itu gue bikin

satu, eh sorry bukan di XML.

Di layout tersebut gitu ya.

Gue bikin satu file XML lagi, khusus

buat animasi. Jadi ada

lumayan banyak stack yang harus

lu lawui gitu ya di Native Development

just to survive.

Just to actually

do the bare minimum.

While in Flutter, pas

gue masuk pertama kali

everything is done in Dart.

Jadi semuanya di satu file. Logic,

animasi, UI,

layouting, dan lain-lain.

Itu masuk di Flutter

sehingga sangat-sangat

mempermudah.

Di Flutter ini kayak enggak.

Jadi itu sih yang sangat-sangat

mempermudah.

Dan bikin gue suka sama Flutter sampe

hari ini.

Itu yang bikin suka? Yang bikin negatifnya apa?

Kalau menurut Angga?

Pasti ada.

Pasti ada negatifnya.

Yang pertama adalah

Flutter itu

mungkin bukan exclusive to Flutter ya.

Tapi namanya teknologi baru

itu masih banyak hal

yang not decided

yet by the framework.

Kalau paling simple, kalau di Flutter

yang selalu kita omongin. Dan sampe

sekarang masih... Belum ini beneran

tidur kayaknya.

Yang masih...

Yang masih belum jadi...

Yang masih belum

set, gitu ya, sampe sekarang.

Dimana di Android itu sudah sangat set.

Adalah state management.

Atau arsitektur, gitu ya.

Kalau di kita dulu.

Kalau di Android native dulu, gitu ya.

Let's say MVP, MVC, MVVN,

things like that.

Itu di Flutter masih sangat opinionated.

Dan team Google itu masih

enggak mau kayak ngambil

apa namanya?

Iya, kayak ini yang gue recommend.

Begitu caranya.

Perlu saya sama kayak misalnya angularnya

kan. Yes, exactly.

Bagi yang dari Google. Kalau angular kan

sebaliknya malah. Udah, pokoknya terima

jadi, mau nggak mau gini-gini caranya.

Tapi semua udah.

Exactly, exactly. Betul banget.

Jadi, itu yang terutama

kalau buat pemula baru

let's say lu belum pernah loading gitu ya.

Baru masuk, terus ketemu hal yang kayak gitu

kan lu bingung ya. Ya, ah gue harus kemana nih?

Learning stepnya

lumayan. Learning curve-nya.

Learning curve-nya.

Learning curve-nya, iya. Banyak-banyak hal-hal kayak gitu.

Dan itu cuma satu topic.

Let's say ada tiga topic lagi lah.

Kurang lebih yang mirip-mirip kayak gitu.

Tapi menurut gue itu balik lagi

ke nature-nya Flutter karena ya

emang belum mature, kan emang

masih mencari jati diri.

Gue mau ke arah mana nih?

Kayak gitu sih, yang

kurang oke di sana.

Ini ada tambahan nih.

Ini open source nggak sih?

Open source? Open source.

Cuma apa? Semuanya sama

Google. Yes.

Iya, di inisiasi oleh Google.

Ini dari atas

belum ada data model kayak Kotlin

buat model. Exactly.

Kalau di Kotlin ya Android Native tuh

lu udah jelas, lu udah

dikasih jalan nih, jalan sini-sini-sini.

Udah tinggal pake gitu ya.

Dikir harus milih mana gitu ya.

Betul, betul. Mungkin kalau udah yang

agak senior sih udah mulai paham ya.

Udah pernah megang production, oh kayaknya ini

bakal jadi problem kalau kita lanjutin.

Jadi harus jalan-jalan ini. Cuma kan kalau junior

agak kasihan juga ya, dari awal

udah langsung harus.

Yes.

Oke.

Mungkin sebenarnya itu ya, mirip kayak

equivalent-nya tuh kalau orang

belajar web, tapi misalnya

langsung react. Padahal react itu kan

UI library aja kan.

Hal-hal kayak state management segala macem

kan, ya either kita bisa

bebas gitu ya.

Atau pake, atau bahkan pake

hooks. Konteks.

Hooks dan lain-lain. Yes.

Kadang itu sih.

Kita udah punya pengalaman dan kita udah bikin

project sampe selesai, udah pernah

bentuk sangat sini, tau ternyata punya apa

bisa mutusin. Tapi kalau misalnya baru

banget dan cuma ngikutin tutorial

sangat sini, ya pasti bingung

di awal. Iya. Belum dapet

instinctnya gitu kan, belum dapet.

Kalau nggak ada pattern yang

blessed atau offici yang

Yes.

Oke.

Nah, sekarang kita belok sedikit nih

topiknya. Kan

kemarin-kemarin kita sempet ngobrol ya

di group juga, dilihat di twitter juga

Angga nih baru ngisi salah satu conference

namanya FlutterConf ya.

Di kota mana nih?

Di Berlin.

Berlin, Jerman ya.

Dan

kabarnya

baru

pengalamannya luar biasa di sana.

Luar biasa sekali. Mungkin boleh cerita

dong bahas tentang apa

kota what berarti ya.

Terus gimana selama di sana?

Jadi FlutterCon

ini adalah part of DroidCon.

Pretty much DroidCon sebenernya sih. Tapi untuk

Flutter. DroidCon kan udah sangat terkenal ya.

Mungkin dari DroidCon dulu. Ini nggak musuhan ya malah.

Android sama Flutter. Iya, nggak musuhan sama sekali.

Even ruangan gue

sama ruangan Android Native

sebelahan. Gue ngobrol sama

orang Android Native.

Jadi kayak co-creation gitu.

Ngarang kolaborasi.

Jadi awalnya ini

gue tuh kayak tau

mungkin di bulan Marat,

April gitu kali ya. Kalo oh mau ada

FlutterCon nih di Berlin.

Yang mana dulu

kalau gue lagi di Asia, lagi di Indo.

Itu kan kayaknya agak susah lah ya

kalau mau ke Berlin. Kenapa?

Karena, kalo dari

apa namanya

travel itu kan sangat

panjang lah ya. Abang itu gue kayak ke Belanda

17 jam gitu dari Jakarta.

Sangat-sangat ya long flight lah.

Terus dari segi uang juga.

Biasanya kan nggak murah.

Mungkin PP

Berlin, Jakarta

sekitar 800-900

euro gitu.

12 juta, 13 juta lah yang ekonomi gitu.

Puluhan juta lah ya.

Iya, puluhan juta.

Ekonomi pun mungkin bisa kayak lu transit

total 40 jam gitu.

Belum urusan visa sengennya.

Belum urusan visa sengennya.

Jadi ada lumayan banyak hal-hal

yang dulu nggak bisa gue lakuin.

Ketika gue lagi di Indo

sementara

kalo di Flutter nih ya.

Nggak tau kalo di framework lain atau di software lain.

Itu kita bisa bilang

epicentrumnya of the development itself.

Itu banyak banget di EU.

Maksudnya apa?

Epicentrum of the development gitu ya.

Contohnya di Flutter itu banyak

library-library

yang cukup lucu ya.

Mungkin kalo

ngomong web,

let's talk about Redux.

Dan Abrahmokh is a European, right?

The London, right?

Same goes with Flutter.

Banyak orang di Flutter

yang co-create and you know

create new things

yang sangat crucial buat Flutter gitu ya.

Buat orang di seluruh dunia itu

stay-nya di Europe.

Jadi Flutter ini epicentrumnya bener-bener

banyak banget di Europe.

Countries like Poland, let's say.

Terus Jerman,

Belanda, Inggris.

Itu banyak banget orang-orang yang

kalo kita bahasanya dewa mungkin ya.

Mungkin bukan dewa lagi, udah paling atas gitu lah ya.

Udah mengertinya

tuh udah level-level paling deep.

Bisa bikin Flutter sendiri, gitu ya.

Dibandingin sama kita yang

kayak apa namanya ya

insyaAllah hamil.

Makanya disitu gue langsung apply

si Flutter.

Dan Alhamdulillahnya dapet.

Ngomongin soal protobuf.

Tapi sebenernya tujuan utama gue bukan

dalam speaking-nya sih.

Even gue gak dapet opportunity

buat speaking pun, karena gue udah disini.

Berlin kan... - Mau datang jadi peserta.

Pasti mau datang.

Karena disini cuma 1 jam perjalanan

istilahnya kayak tetangga lah.

Cuma ke Berlin dimana dulu.

Naik kereta.

Kalo gue kemarin naik pesawat sih.

Bisa naik kereta juga tapi.

Jakarta Jogja ya?

Jakarta Jogja ini.

Kayaknya istilahnya gini lah.

Kalo tiba-tiba Dan Abramov ke Jogja,

gak mungkin kan lo gak datang.

Pasti gimana caranya lo usahain.

Lo datang gitu.

Disitu gue ngeliat banyak banget orang

yang gue bisa belajar,

gue bisa kenalan,

gue bisa banyak sharing-sharing.

Yang mana sebelumnya tuh

to be honest, it kind of feels

surreal gitu. Kayak ngomong sama

Pak Jokowi mungkin ya.

Lo gue cuma ngeliat

di YouTube gitu kan. Terus cuma

pake package-nya, pake libraries-nya.

Tapi sekarang gue ngobrol sama orang gue.

Gue bisa tanya-tanya, "Lo gimana apa

bisa come up with this idea?"

Terus apa challenge-nya?

Gitu sih.

Kalo kita kayak ngomong sama Dan Abramov,

atau Ken Sidot, tiba-tiba datang Jakarta,

pasti dateng gue.

Pasti dateng.

Lo bila-bilain pas gimana pun calanya kan.

Pasti.

Itu jadi ceritanya.

Pengalaman conference,

pernah ngalamin di Indonesia gak?

Pernah.

Dulu gue kayaknya

dulu pernah ada software

arsitektur softing conference

di Kuningan.

Di Kuningan.

Terus gue pernah satu lagi tuh

gue gak lupa. Pokoknya pernah deh.

Kayak ke some kind of

mobile conference di

Jakarta waktu itu.

Nah yang lumayan

beda. Menurut gue sangat beda

mungkin ya. Dan mulai oke.

Gue liat di software

arsitektur conf. Disini itu

people treat

conference. Kalo kita kan

di Indo banyak treat conference as

like a means of sharing.

Ya udah. Emang gue pengen

give back to the community. Pengen

meeting people gitu kan. Pengen banyak sharing.

Kalo disini, gue ngeliat

dari POV-nya si

organizer,

itu mereka lumayan

ada juga yang treat this

as some kind of business.

Like a good business.

Yang mungkin kita

fresh impressionnya bisa ngeliat bahwa

wah kayaknya conference ini

gak boleh jadi means of business

yang kayak nyari duit.

Nanti lu end up ya udah.

Just making money. Not actually like losing the real value.

Cuma yang gue liat

from this

POV gitu ya. Dari

gue liat loh. Karena si

FlutterCon dan DriveCon ini tiketnya lumayan

mahal. Kayaknya 500 euro gitu.

7,5 juta gitu.

Itu buat orang Europe pun mahal.

Lumayan 500 euro.

Tapi tetap banyak yang gak.

Nah.

Dari segi ini,

gue ngeliat perbedaannya dalam satu.

Quality of the conference itself.

Kayak venue-nya.

Itu sangat-sangat bagus.

Sangat-sangat teratur. Sangat-sangat proper gitu.

Terus yang kedua, dari segi

quality of the

like the talk itself.

Bukan dari, belum dari topiknya.

Tapi lebih dari, setiap POV itu bener-bener direkam

sama dia. Karena ngerekam itu kan

butuh effort ya. Butuh capital.

Butuh money lah.

Buat bisa actually lu ngerekam dengan

really good quality and everything.

Itu mereka ngelakuin per semua sesi.

Jadi really professional. I think bahkan

kayaknya volunteer-nya mereka itu

cuma jadi timekeeper doang. Jadi sisanya

tuh gak ada volunteer. Let's say buat ticketing.

Segala macem. Semuanya mereka pake

professional.

Bener-bener professional banget.

Itu dari...

Mirip itu. City JS ya.

Kalau City JS itu kan bener-bener

conference yang professional dan bener-bener

business sebenarnya. Betul.

Itu di Singapura kayaknya ya?

Di mana-mana. London ada Singapura.

City JS itu kayak

nama, tapi kita bisa

pake dan beneran jadi business.

Kayak sistem

royalty atau gimana.

Sama. Droidcon juga gitu.

Setau gue Droidcon pernah ada di Asia.

Tidak kenapa gak salah ya?

Dan kemarin di Singapura itu

branding-nya namanya juga

dari Droidcon ini yang original.

Nah yang original ini di EU.

Lanjut. Dari yang ketiga,

quality of the talks itself.

Jadi quality of the talks itu bener-bener

karena ketika

let's say lu ada conference yang harganya

500 euro, lu pasti

walaupun secara gak sengaja ya, pasti

punya perception of what?

Ini prestis sekali.

Conference ini bukan main-main. Ticketnya aja

segini mahal gitu kan.

Gak sembarang orang lah bisa

tiba-tiba dateng gitu kan.

Compared to

regular talks lah yang mungkin

biasanya regular talks kan gratis apa segala macem.

Nah terus

yang keempat itu

quality of the attendance juga

sangat-sangat

reflected lah.

Dari harga tiketnya menurut gue

akan sangat berbeda.

Jadi kalau ada orang yang mungkin gak ngerasa

terlalu banyak apa ya

bakal ngasih value

conference ini. Buat apa

gue buang-buang 500 euro gue?

Buat kesini terus belum flight,

belum hotel segala macem kan

terlalu banyak yang dikondisikan.

Jadi hal-hal kayak gitu sih

yang menurut gue

sangat-sangat bagus.

Dan punya

makna tersendiri lah

kalau dibandingin sama

conference lain yang gue hadirin.

Eh cuma ini insight menarik

banget sih soalnya, belum lama ini

kebetulan gue juga liat ada yang namanya

Frontier Scone.

Itu di Eropa juga

kalau gak salah di Amsterdam.

Di Utrecht nih, di Utrecht.

Wow! 500 euro juga.

Dan gue inget

itu nempel aja sih

ke otak. Wow!

500 euros? Serius?

Serius banget nih.

Dan padahal ini untuk

front-end web, jadi itu niche

spesifik. Niche-niche banget gitu ya.

Bukan cuma web secara

keseluruhan tapi front-end web yang mana

mungkin ya kalau

di kita atau secara umum front-end web

itu kan masih suka hal yang suka

dianggap ya

Sebelah mata. Dipandang sebelah mata.

Ui. Ya aplikasi

apapun kan UI ya

yang dipakai langsung oleh user

UI. Cuma maksudnya itu kan

mungkin gak

wow. Disini

hype-nya gak terlalu wow. Cuma di sana

maksudnya mereka bisa ada

konferensi yang

khusus front-end web, harga tiketnya

segitu. Dan kayaknya sih kalau

dilihat dari kursus potenya

foto-foto edisi lalu ya kayaknya

sold out-sold out aja. Kok bisa

itu gimana? Nah jawabannya ya

itu tadi terjawab secara gak langsung.

Actually

venue-nya, Frontiers Con

fighting it's only like 5 minutes

from my place. Like biking.

Iya iya iya iya.

Bahkan gue bisa ngeliat gedungnya dari sini

deket banget.

Oke. Wah seru ya.

Itu makanya sih kayak

opportunity sorry

opportunity kayak gini yang apa ya

menurut gue priceless sih

about actually living in Europe

bukan okay. I mean

like traveling around Europe

is okay and everything.

Tapi kayak kalau buat gue pribadi ya karena gue programmer

dan ya seneng juga gitu ya ngobrol

sama orang, ngobrol sama community.

To be able to actually

go in person

to conference yang sebelumnya gue

I can only dream about gitu ya.

Terus sekarang gue bisa kesana naik sepeda

let's say atau cuma naik kereta

atau cuma naik pesawat satu jam.

Itu kayak ya

really really priceless ya.

Kita bisa minta ke

pasa jual mas danang-mas danang

kirim kita.

Ya.

Ya. Semoga di Indonesia

akan apa?

Yang berkembang.

Itu sih gue berharap.

Kita belajar pelan-pelan ya

ke arah situ lah. Ini kan jelas dari

kalau ngomong conference kan

maksudnya tiket semahal ini

ya realistically

gak kebanyakan orang yang dari kantong sendiri.

Rata-rata disponsorin perusahaannya.

Karena kan itu dianggap

investasi yang worth it.

Biar developer perusahaan

nge-sponsorin developer mereka

pergi biar

apa? Lama jago ketemu

orang lain, ngobrol sama

developer lain. Lama jago

menambah value buat si

perusahaan mereka.

Ya udah kita kan, kita di Indonesia

harusnya berusaha mereplikate

itulah. Namun dari pandangan

saya sedikit berbeda ya.

Karena secara ekosistemnya sendiri

kalau misalnya conference yang

pertama jika conference berbayar

dan

tentunya

kalau misalnya topiknya advance. Karena disana

kan ekosistemnya yang datang kan

pertama yang bikin flutternya sendiri

apa yang bikin framework apanya sendiri.

Kayak sudah

super hardcore advance-nya. Jadi kalau misalnya

datang sini

misalnya kalau kita

membutuhkan ekosistemnya. Jadi dari

audiensnya, speaker-nya

itu untuk membahas the next

future of something.

The next future of

flutter itu mukarah mana.

Sedangkan kalau misalnya

kita disini kan one step

behind. Jadi apa yang sudah dibuat

disana, di sharing disini untuk

mempelajari apa yang sudah

stable kan.

Sehingga murni

sharing apa yang terjadi gitu.

Bukan ikut

istilah. -Kontribute.

-Kontribute. Nah, ekosistem yang sempat itu

belum matang

kalau saya lihat di Indonesia.

Belum banyak. - Yang gue bingung

like almost probably like 90%

of the Indonesian programmers

that I know actually is really good

at programming. Like really, really good.

Karena gue kan kerja sekarang juga

banyak sama orang dari berbagai negara

gitu ya. Like

Indonesia, one of the

most best producer of programmer

I think, Poland ya.

But when I work with

them and I worked with

Indonesian people,

I think we are not that far apart.

So what I'm a little bit

confused about is, these people

that I think are very smart,

they

must also

have needs.

They have the same needs as us.

I think they want to try to join

the community of people like that.

They want to try to

create something, contribute to something.

Nah, these people

I'm a little bit

confused if people like this

are a little bit in Indonesia.

There are a lot.

I'm sure there are a lot of juniors too.

Especially now, especially

in Flutter, I think

Flutter's telegram is now

maybe 35,000 already. There are a lot.

There are a lot

that are joining.

Mostly juniors, of course, new people in Flutter.

But there are a lot of seniors too.

So what I'm curious about is,

these people

mostly,

at least from what I know,

at the end, join a conference

that is in Europe.

Or in the US.

I mean, request for a budget from us.

Because the center is there.

The epicenter is there.

Which, even though it can actually be done,

I don't know, let's say we can invite

five, six, seven

people from Europe

with a budget

that is still manageable.

If the ticket is paid well.

Then the rest are our people.

So a discussion that is closer to us,

that is more related to

Indonesian people in Indonesia.

That's it.

It's still a question

in our mind.

Untuk FlutterCon sendiri,

itu topiknya

intermediate ke advance

atau all level?

Ya,

sebenarnya all level sih.

Jadi kalau topik gue, kebetulan

intermediate.

Tapi pun, karena dia juga

ngadain konferensi bareng sama

DroidCon ya, jadi ada beberapa

orang DroidCon yang hop in juga

ke SESID Flutter.

Nah, kalau mereka tiba-tiba dikasih topik advance,

gue gak yakin juga mereka bakal paham.

Bukan karena mereka masih junior,

karena mereka gak tahu Flutter.

Jadi masih bingung Flutter itu apa.

Mereka ekspert di dindingnya,

di Android, cuma pure beginner.

Pure beginner di Flutter.

Jadi kalau ngomong apakah

di sini full, benar-benar intermediate

sama advance, gak juga.

Banyak. Bahkan banyak juga orang

kayak, apa namanya,

let's say,

di Flutter itu ada

satu library yang terkenal banget.

Dia semua Flutter dev pasti tahu.

Provider namanya, intinya kayak buat

mpvm gitu lah.

Tapi dia wrapper, pakai si provider itu.

Nah, ini terkenal banget

dan kreator provider-nya kemarin dateng.

Dan top di FlutterCon itu.

Nah, yang dia bahas,

itu lebih ke kayak

gimana cara pakai salah satu package

yang dia bikin.

As simple as that. I think,

I mean, kalau ngomong.

Karena dia bikin.

Apa namanya, maksud gue,

lu gak harus bawa

topic yang sangat advance.

How to create Flutter.

How to dig deep into Flutter.

Banyak juga temen-temen gue,

orang sekitar EU yang bahasnya

let's say, cara integrate

Flutter ke Firebase.

Let's say. As simple as that.

Yang mungkin kalau lo baca-baca docs itu ada, di docs-nya.

Cuma, they made it interesting.

And the point is not

100% about talking.

Kayak lo seminar di depan.

Tapi more about,

ya udah, lo bisa

ngobrol. Bisa

create bareng sama temen-temen lain.

Kenalan. Networking

indeed. Terus, let's say,

nanti disini ada Google I/O Extended bisa kenalan.

"Eh, gue ke Google I/O Extended lo doang."

Which we already do everything

in Southeast Asia, right?

Udah kita lakuin hal kayak gitu.

Jadi sebenarnya banyak yang mirip juga.

Berarti ini

satu track ya?

Iya, satu track.

Kan ada juga conference yang

multi-track kan. Jadi kalau misalkan

oh, yang beginner gini, gitu.

Ah, enggak, enggak, enggak.

Ini satu track, lo bisa hop in

kemana pun.

Gak barengan, ya?

Berarti pede jam.

Gak barengan, barengan.

Barengan, paralel. Jadi Flutter fun

aja itu. Speakers-nya total ada

90 plus, hampir 100.

Banyak banget kan, banyak banget.

Hampir 100. Jadi 3 hari

itu full dari pagi jam 10

sampai jam 5 sore.

Ya udah. Ya 40 menit, 20

menit, 40 menit, 20 menit.

Kuat asem.

Worth it juga sih mungkin buat perspektif.

Iya, karena 3 hari.

Kalau pembayar ya.

500 euro.

Orangnya juga ya superstar semua.

Misalnya. Yes, yes, indeed.

Attendance-nya juga semua orang yang liat ya

udah lah kayaknya kalau disana perusahaan.

Plus bisa jadi konten juga kan.

Bisa jadi konten indeed.

Bisa jadi konten. Jadi

luar biasa sih.

Oke.

Tidak bisa berkata ke atas, saya.

Pengen banget.

Tapi pernah ada nggak yang ikut kayak

kalau di Figma kemarin kan ada config

ada beberapa orang Indo kayaknya yang gue lihat

yang datang ke Figma. Oh iya, ada.

Ada yang pernah nggak kalian? Yang ternyata diberi 3.

Ke mana gitu. Ivan paling.

WordCamp.

WordCamp Asia.

WordCamp Asia.

WordCamp Singapore.

WordCamp Japan.

WordCamp dimana-mana banyak.

Itu makanya yang

gue agak mikir juga kapan kita bisa

jadi salah satu player gitu.

Bukan jadi, kalau sekarang kan jujur

walaupun gue jujur, sangat bangga lah ya.

Bisa dibilang, kayak bisa

datang, datang aja nih bukan speaking

di FlutterCon, DroidCon itu

itu berhasilnya.

Iya, udah senang banget.

Bisa jadi kontributor.

Next step-nya dari kita

perlu kita bangun-bangun bibit di Indonesia

itu bisa jadi kontributor.

Itu, betul.

Bukan konsumen tapi produser ya.

Nah itu. Bahkan kemarin pas talk

gue tuh, gue sempat kayak mention gitu ya.

Gue dari Indonesia. Karena nggak ada orang Indonesia lagi kayaknya.

Di konferensi tuh, selain gue.

Nggak ada yang kenal Indonesia ya?

Nggak ada. Nggak ada yang kenal Indonesia.

Gue kayak, anybody of you

already heard of Indonesia

terus tanya yang pernah apa nggak

ya ada 20 orang, mungkin ada 1

atau 2. Jadi kayak kita

apa ya,

nggak dikenal padahal

gue yakin potensi kita tuh sangat-sangat

besar. Dan yang bikin gue makin

bertanya-tanya adalah, developer

yang gue pernah bekerja

itu ya pinter-pinter banget.

Jadi kayak apa yang harus

diperbuat biar kita bisa kayak mereka.

Ini source-nya dari Mas Danang

katanya pengguna Flutter di Indonesia tuh banyak lho.

Developer Flutter di Indonesia

di Indonesia tuh banyak.

Banyak sekali.

Tadi ada pertanyaan yang tertinggal.

Kan Angga sekarang kerjanya di bank.

Apakah banknya pakai Flutter?

App yang lagi gue buat. Sekarang gue lagi

migrasi. App pakai Flutter.

Tadinya pakai native.

Jadi ya kita gunakan Flutter.

Bahkan satu branch kita di Polandia

itu udah pakai Flutter. Dari setahun yang lalu.

Jadi kita gunakan Flutter.

Sebenernya Flutter

di Belanda, gue akan

ikut ini juga ya, Flutter Enel

community-nya disini. Join

tiap sebulan sekali.

Biasanya tempatnya

mungkin sekitar 50-100 orang

itu selalu ditangguhkan.

Di apa namanya tempatnya

gitu ya, RSVP-nya

di meetup.com selalu saltak.

Jadi orangnya banyak banget.

Iya denger-denger Flutter itu banyak

dipakai di perbankan.

Mungkin kalau banyak banget relatif kali ya mas.

Tapi kalau ada atau enggak

at least gue sekarang udah tahu ada

3-4 bank gitu. Bahkan ada satu

di Indonesia pakai Flutter.

Bank digital?

Bank digital.

Terus kayak dulu gue

pernah juga interview sama

I think it was

not sure if, kalau gue boleh

ngomong ya. Kayak salah satu

kolam alat lah. Di Indonesia

itu bukan Kompas Gremedia.

Ada kolam alat lain. Itu pakai Flutter juga.

Jadi kayak

big players in Indonesia actually

using Flutter. Karena it works.

In terms of money, developer experience.

Menarik ya

insightnya. Karena

di Indonesia kayak gaung

nya itu tidak terlalu terdengar

kan.

Tapi sebetulnya banyak-banyak.

Ternyata banyak gitu.

Pemain-pemain besar juga ternyata.

Yes. Yes.

Itu sih menarik banget.

Actually Flutter got me

here in Europe. Kayaknya kalau bukan karena Flutter

mungkin gue nggak sampai sini sih. Nggak bisa

dapet job offer, relocation dan sebagainya.

Aku ada komentar

tertarik untuk belajarkan.

Abis denger ini kalau ini temen-temen yang

denger ini jadi pengen belajar Flutter tuh.

Iya. Kira-kira temen-temen

yang tertarik belajar Flutter itu mulainya

dari mana? Yes.

Oke. Kalau di

saran gue sih. Karena

orang Indo

itu mostly

belajar. Oh ya. Abis ini

gue ada satu terik menarik tentang orang

Jepang dan Korea. Which I will

discuss after this. Jadi

orang Indo itu lumayan

seringnya

cari resource yang bahasa

Indonesia somehow. Mungkin karena kita agak takut

gitu ya sama bahasa Indonesia.

Masih banyak lah dari kita yang belum

terbiasa baca.

So,

coba cari di YouTube. Ada

yang gue tahu ada 2.

3. At least.

Yang Indonesia. Yang satu

Eriko. Eriko.

Pak Eriko Darmawan bisa cari di YouTube.

Terus yang kedua ada Kuldi

project. Kuldi double E

Kuldi E gitu ya. Project.

Satu lagi Code with Bahri. Nah gue kenal

sama 2 ini. Pak Eriko

sama Pak Bahri.

Jadi

bisa dibulai dari 3 itu karena mereka

sangat-sangat rutin bikin

itu

Flutter gitu ya. Mungkin kayak

setinggu sekali atau dua kali upload.

Jadi lumayan.

By the way tadi gue mau bahas

ini nih kalau boleh. Yang

soal Jepang tadi ya sama Korea.

Jadi gue kemarin ketemu orang

Jepang satu. Orang dari Tokyo.

And I think he's the only Japanese

in the whole conference. Dia doang satu.

Dia datang dari Jepang. Dia

volunteer disana.

Jadi TMT per gitu ya.

Actually kalau lu jadi volunteer disana tuh lu bisa jadi

apa namanya? Bisa dapet

tiket gratis. Jadi lu gak perlu bayar.

Lu bisa ikut conference-nya.

Terus yang gue jadi pertanyaan adalah karena

gue selama ini gaul

gitu ya di komunitas Asia.

Google at least atau Flutter Asia

gitu ya. Gue agak susah

menemukan orang di 2 negara

itu antara Korea

sama Jepang. Terus gue tanya sama dia.

Gue jujur karena lu dari

Jepang gitu gue agak penasaran nih. Dia dari

Tokyo. Kenapa sih

orang Jepang?

Specifically itu agak jarang ditemuin

ketika. Soalnya kalau kita-kita kan

let's say Southeast Asia atau Asia.

Gue sering ngobrol sama orang India.

Pakistan gitu kan.

Atau misalnya sama orang

ya Southeast Asia lain.

Filipina.

Vietnam gitu kan.

Itu lumayan sering lah.

Komunikasi, ngobrol.

Nah ternyata

satu hal yang juga jadi

blocker bagi mereka adalah

bahasa. Jadi mereka

sangat-sangat takut untuk berbahasa

Inggris. Itu datang dari orang Jepangnya

sendiri ya. Ini ya. Si Opini ini.

Makanya mereka sama mungkin

makanya tadi 11-12 sama kita

agak susah nyari tutorial.

Karena mereka susah nyari tutorial yang

bahasa Jepang.

Makanya itu pula yang jadi alasan

kenapa mungkin kalau di ekosistem

internasional gitu ya. Kalau kalian udah mulai

ikut konfon orang Jepang sama Korea tuh

gak begitu banyak. Karena mereka gaulnya ya sama

mereka sendiri. Jadi setel mereka sendiri.

For this purpose

of language I think.

Karena bahasanya mereka ya prefer

misalnya nih, gue mau speaking di Jepang

atau talk di Korea, di Seoul

ya gue harus pake bahasa Korea

atau pake bahasa Jepang.

Which is ya berapa orang sih yang berani

speaking talk gitu ya.

Seminar pake bahasa Jepang.

Ya things like this yang menurut gue

agak sayang sih sebenernya.

Jadi kalau temen-temen mungkin yang

dengerin juga ada barrier

gue takut karena bahasa Inggris

sebisa mungkin sih harus

try to overcome that barrier.

Walaupun ada susah di awal, tapi

harus bisa sih.

Nice, nice.

Flutter ini hampir sama

kayak apa ya? Bahasa-bahasa yang

niche. Yang

bahasanya dark kan ya?

Ya dark.

Meskipun tidak banyak.

Tapi

talentnya sendiri gimana?

Terbatas

juga kah? Atau kalau di

Eropa emang banyak?

Jadi Flutter ini

sebenernya kalau di

Eropa lumayan banyak.

Terutama sekarang berarti udah masuk

tahun kelima, dari 2018 sampai sekarang

dari 2023, Desember nanti ulang tahun

Flutter ini. Itu

sebenernya kalau

kita ngomongin Indo ya

itu udah banyak. Cuma yang jadi

permasalahan adalah nyari yang punya pengalaman.

Let's say build Flutter

app from ground zero gitu ya.

Itu masih agak susah

kalau boleh jujur.

Talentnya mungkin sedikit sekali.

Dan rata-rata ya udah jadi senior.

Karena baru, indie.

Karena baru, for that exact

reason. Jadi orang-orang itu

banyak yang nyari

senior Flutter deh, wujud-wujudnya

orang itu lagi, orang itu lagi.

Seandainya kalau

pindah gitu dari kayak dia dulunya

native atau Kotlin,

pindah ke Flutter itu

butuh belajar ulang atau

ada seamless migration gitu.

Ya, kalau menurut gue sih

atau dev experience-nya

beda-beda total gitu.

Sebenernya kalau dev experience itu beda total.

Jadi

Flutter ini sangat mirip sama Jetpack

Compose. Yang mana di native itu sangat

baru. Bahkan kayaknya belum

kita mungkin ya kalau gue nggak salah.

Atau di Apple itu Swift UI.

Jadi masih sangat-sangat baru.

Kalau per experience itu sangat beda. Cuma

sebenernya

under the hood Flutter itu run

berjalannya ya di Android sama

iOS. Yang mana ya mereka udah pasti

udah pahas. Jadi menurut

gue, let's say ada

yang dengerin lagi hiring

Flutter dev gitu ya. Tapi nyarinya senior

mungkin bisa juga di

consider yang

tadi. Either punya

pengalaman di Android

atau iOS native. Karena mereka udah

punya base-nya. Istilahnya udah dapet sense-nya

lah. Mobile. Apa gila nih gimana sih

flow of data-nya kira-kira seperti apa itu

kurang lebih ya paradibutannya

masih mirip-mirip. Walaupun dev experience-nya

berbeda total.

Yang penting harus ngerti

lifecycle berarti ya.

Itu penting ya.

Sama aja mungkin kayak gini kali ya. Kalau gue

ibaratin web. Kayak gue ngerti

react. Tapi gue nggak ngerti view.

Moding-nya beda apa nggak? Beda.

Tapi bisa atau nggak? Bisa pasti.

Karena gue udah ngerti oh web caranya seperti ini.

Organizing files let's say

flow of

data itu kurang lebih udah

paham lah caranya.

Karena kan framework pasti ada terus ya.

Kita nggak tau 5 tahun lagi Flutter masih ada atau nggak.

Bisa jadi. Sekarang Svelte yang

baru kan. Kalo di

web kita gedih mati aja

ada satu framework. Indie.

Kayak gitu.

Makanya ya gitu sih.

Nah.

Tadi kan kita udah sempet bahas

tentang getting started. Gimana mau

mulai belajar Flutter. Kalo kan ini

masih langka nih. Yang

dari junior mungkin temen-temen yang udah

belajar Flutter tapi mentok nih.

Gimana cara mau naik levelnya gitu?

Selain soft skill ya. Ini kita ngomongin

hard skill gitu. Apa yang harus mereka

kerjakan? Ya jadi

kalau pengalaman gue

jadi sih yang paling mudah

ngekit istilahnya.

Gimana biar bisa dapet banyak.

Dia bisa jadi jago lah istilahnya. Bisa jadi

tau. Oh caranya nih seperti ini. Bisa di luar

kepala. Itu you have to try to get

jobs with Flutter. Karena

kalo lu kerja

bikin app gitu ya.

Tiap minggu bikin fitur baru. Tiap bulan

bikin fitur baru di Flutter.

Itu lu bakal dapet sensnya sendiri

sebenernya. More or less. Oh gue tau.

Kalo gue bikin kayak gini

let's say nanti

oh ternyata 2 bulan lagi

gue pas mau testing susah. Agak

susah di maintain

kodenya let's say 3 bulan lagi, 4 bulan lagi.

Nah dari situ lu dapet sens

yang orang-orang tuh

cari. Yang ada title let's say

seniornya itu ya. Karena

senior itu kan mereka butuh karena

let's say mereka bikin app dari scratch.

Mereka butuh guidance. Mereka butuh direction.

Ada 4 langkah yang

bisa diambil. Gue harus ambil langkah yang

kira-kira-kira. Biar gue ga skak mark nanti

di ujung. Nah hal-hal kaya gitu

lu bisa dapetin ketika lu kerja.

Jangan pentingin

di Flutter dev. Gue bisa

bikin buat android iOS lu. Gaji gue harus

lebih tinggi lah. Masa?

Udah bisa bikin 2 tapi gajinya

masih sama kayak gaji 1 let's say gitu.

Menurut gue itu harus disampingkan dulu. Kalo lu

masih mau deh belajar gitu ya.

Karena kalo gue

nganggepnya gini aja misalnya

lu expect dibayar let's say lah ya

10 juta. Tapi lu dibayar cuma

5 juta. Yaudah anggap aja 5 jutanya lagi

lu dapet in return

dalam bentuk belajar. Pengalaman

itu yang menurut gue sangat-sangat tidak terbilang.

Mungkin 2018

pengalaman-pengalaman gue

which to take me here right now

yang mungkin gue ga bisa imagine gitu ya.

Wah gue sekarang ada di Belanda kerja disini.

Itu yang ya sangat-sangat

priceless. Dan itu

harus lu bisa pinter-pinter

put in your mind.

Nah, ini bagus banget sih.

Dan berlaku kayaknya bukan

buat flutter doang.

Kenapa buat semua

programming kali ya.

Pas jadi junior.

Sebagai kesempatan

buat belajar sebanyak-banyaknya.

Sebenernya, apa ya

skill itu kan

tidak dapet lagi praktek. Nah,

dipaksa buat praktek.

Nah, terus karena ada objektifnya

dibanding ngoprek atau bikin project

sendiri. Kalo salah ini kan

ada konsekuensi realnya. Jadi

kita mesti serius. Kita

input dari clear kita atau senior

atau mentor.

Ya, kalau

misalkan di JavaScript

atau di Node.js gitu kan

ada package-package NPM

gitu kan. Udah lengkap

banyak banget bahkan kayak

yang ga jelas juga banyak.

Yang berguna banyak.

Yang ga terlalu penting banyak.

Kalau di flutter sendiri gimana itu

ekosistemnya? Apakah

sudah cukup banyak? Sudah lengkap?

Atau masih butuh tambahan?

Ya, menurut

gue sih mungkin kalo

let's say lengkapnya

100% gitu ya.

Buat flutter right now we're at like 70-

75% I think.

We're more than half way there.

Udah setengah jalan. Dulu waktu

2018 gue baru tau flutter, wah itu

ya hampir ga ada apa-apa.

Jadi gue harus bikin sendiri.

Apa-apa bikin sendiri.

Cuma actually

kalo emang gue lumayan

encourage juga karena itu one hell of an

experience juga gitu ya.

Ketika lu butuh sesuatu

tapi belum ada istilahnya kan itu udah

disediain kayak fast food lah.

Lo mau beli Mcd tinggal

kalo di Indonesia tinggal pesen Go-Jet

sampe depan pintu.

Nah kalo ini

lu bisa juga dapet experience

actually kalo

lu bisa let's say

marinasi ayamnya dulu, bikin tepungnya

dan segala macem. Yang mana itu bisa

improve di lalu juga.

Every once in a while. Of course kita ga mungkin

lah. Bohong lah kalo gue pengennya

vanilla terus gitu ya ga pake library apa-apa

full. Semua mau beli sendiri ya pasti

bakal capek juga. Cuma ya

menurut gue jangan jadi blocker juga sih

kalo temen-temen nganggep flutter

karena baru mungkin library nya ga tanya

mungkin bisa

see it

in the other direction

anget aja bahwa wah ini gue bisa

jadi bahan gue belajar malahan

yang hal-hal yang mungkin sebelumnya gue ga bisa

belajar karena tinggal gue pake

fungsinya udah ada tapi sekarang gue bisa

deep dive.

Justru bisa jadi peluang kan

karena masih ada kesempatan

bisa bikin library

bikin library yang banyak dibutuhin

orang. Betul.

Tapi biasanya library itu

yang kepikiran kita mau bikin itu biasanya

akan kepikiran kalo

kita mengerjakan sesuatu yang real bukan

kayak hobi proyek.

Entar kita kerja di kantor atau

freelance atau mungkin bikin

tapi serius gitu ya.

Atau sering gaul di

komunitas terus denger.

Semua orang pada nanyain

apa nih library buat ex.

Banyak yang nanya

banyak yang nyari berarti di situ

ada peluang. Ada intres ya.

Ada market. Mas Angga

saya ada crazy opinion nih.

Ini kita

berandai-andai aja ya.

Petama

premise pertama JavaScript itu

language yang

sudah 15 tahun 20 tahun.

20 tahun kayaknya ada ya.

Dan. Saya takut

menyinggung nih kalo bahas JavaScript lagi.

Cukup lama gitu.

Dan JavaScript engine itu

sebenernya di embed di browser

sebagai engine nya gitu.

Someday, just someday

crazy opinion.

Kalo di duet kan misalnya

browser juga membawa

dark engine atau

flutter engine itu sudah di embed sebagai

core di browser.

What do you think?

Bisa kah misalnya akan

jadi lebih baik kah web kita?

At least

speaking from flutter dev gitu ya.

Menurut gue itu will open

a lot of opportunities. Karena sekarang

yang jadi bottleneck. Web app itu

kan bisa jadi misalnya experience

antar mobile, web.

Itu kan sudah dilandaskan

sama satu engine

yang sama gitu ya. Yes.

Betul.

Actually di flutter itu

sekarang masih pake

dart. Sorry sorry.

Pake JS didalamnya.

So it was actually running on top

of JS engine.

Dan itu yang sebenernya jadi bottlenecknya.

Flutter web. Kenapa orang-orang gak mau pake.

Itu di compile?

Terus nanti bakal runnya

mungkin kalo nanti coba-coba

flutter web bisa diinspect

HTML nya ya.

Ada wasm nya juga.

Ada wasm nya juga.

Makanya jadi berat.

Tapi bayangkan yang crazy opinion saya

bilang kan. Jadi web itu

punya flutter engine.

Wow it would

ya i think

it actually might revolutionize

i think

the way we program. Karena

kan kalo di cek

sekarang flutter engine yang

jalan di desktop itu udah sangat-sangat powerful.

Cepet. Hampir gak lag.

Seset-seset gitu. Karena ya

enggak.

Itu karena desktop juga dapat banyak

yang lebih oke.

Sementara kalo web

itu masih sangat bottleneck di WGS.

Ya. Sangat-sangat

bottleneck. Jadi kalo itu bisa jalan

menurut gue

maybe everyone will start

using flutter because it really works.

Karena just imagine. You can

actually code gitu ya.

Jadi satu

itu lu punya web app

dengan android, ios, sama desktop.

Yang experience nya

sama jadinya kan?

Experience nya sama. Lalu

lu bisa bayangin, lu bisa punya

ya udah satu team yang ngerjain

let's say data model nya aja.

API call and services

di dart. Terus itu bisa di

ya udah

di reuse buat semua platform.

Let's say misalnya platform

per platform UI nya beda-beda.

Very possible gitu. Ada team nya

masing-masing. Tapi let's say cuma 1-2 orang

karena gak terlalu banyak kerjaannya.

Ya, be crazy.

At least buat flutter dev

ya really good sih. Buat positif.

Ya. Kita sekarang wish

siapa tau nanti

kedengaran terus nyampe gitu ya.

Tiba-tiba engine nya

browser tuh bawa flutter engine.

Tapi jangan salah.

Dart itu kan awalnya dari

dari web kan?

Ya makanya gue bisa

hubungkan. MyClazzyOP

kan sebenernya waktu node.sass

node.sass itu

kan kita ganti jadi dart.sass

sass itu dart engine sebenernya.

Oh ya dart.sass.

Which kita compile.

Dibuat awalnya. Sebenernya bisa.

Buat menggantikan javascript awalnya.

Menggantikan javascript.

Jauh sebelum typescript kan.

Jauh sebelum typescript.

Tapi

Google Chrome nya gagal.

Belum berhasil memasukkan

menjadikan si dart ini sebagai

bahasa utama.

Sandainya flutter matang.

Stable.

That's my wish.

That's my wish.

Belajar flutter.

Belajar flutter.

Tiba-tiba jadi web standard.

Bukan web standard.

Jadi tetap ada

javascript engine.

Tapi juga punya flutter engine nya.

Jadi script type flutter.

Bukan script type.

Bukan text javascript.

Text flutter.

Dart dulu lah.

Soalnya dulu tuh gue pernah bikin

project web.

Pakai dart engine.

Pakai flutter.

Dan in the end udah mungkin udah jadi

60%. In the end karena performance ya

we have to ditch it out.

Terus gue ganti ya pakai VGS.

Jadi ya.

Ya itu. Harsh truth.

Flutter web.

Harus ini ya. Harus banyak project

success story

dari web.

Tapi waktu di ioconnect lalu

ada sedikit cerita mengenai flutter

update nya kita

denger. Mereka

banyak optimisasi

flutter for web. Banyak

aset-aset yang dikurangi yang gak perlu

dibuang-buangin supaya

javascript

yang untuk hasil kompilenya itu jauh lebih

kecil. Ya jauh lebih kecil. Betul.

Low time nya juga lebih cepat.

Cuma even that is solved. Actually there's

still quite some problem juga sih sama

masih ada javascript layernya sih.

Karena semua kududuk parsing

di client side kan.

Betul. Itu bottleneck banget

gak sih. Jadi becah dulu

baru di render ke dom. Nah tadi

kalau misalnya engine nya udah built

in di dalam browser ya udah langsung.

Harusnya performance nya jauh lebih

loncat sih harusnya.

Itu tuh krisis skenario nya nih

kali-kali aja ada pihak yang

nge-forking Chromium kan.

Bisa jadi. Nge-forking Chromium

ditambahin

flutter engine

parsing engine.

Trus Google Chrome ngeliat nih lo lo lo

itu. Bisa juga.

Flutter browser.

Terus

oke karena ada kompetisi

Google Chromium nya juga jadi adopt

engine dart atau flutter.

Nah itu krisis skenario nya

kayak gitu.

Bisa.

Let's wish.

Wish list.

Wish list.

Cuma ya kayak jujur

gue agak sorry. Gue agak

agak masih agak pessimis sih kalau boleh jujur

sama flutter web. At least kemarin sama sekali

kayak di

kayaknya topik flutter web tuh kayak yaudah lah.

Ya lewat aja. Mereka lebih fokus

ke hal-hal yang mungkin

itu yang bisa

bisa mereka kontrol.

Karena web itu masih

butuh pertama ada layer JavaScript.

Mereka stru JavaScript

dan masih ada web standar. Masih

panjang ceritanya itu.

Jauh ya.

Nah ini ada Adib nih. Adib lagi

di Jerman kan.

Kalau gak salah ya. Oh really? Di Berlin juga ya.

Ke flutter Chromium ya.

Ini dia aktifin

Jakarta JS.

Sekarang dia di Berlin JS dia.

Wow. Mantap.

Mungkin di Delivery Hero. Delivery Hero

banyak banget orang Hindu.

Wah gak tau di mana. Adib kerja di mana.

Ya

seru ya.

Reakt native.

Oh iya dia ngefans sama

react native dia.

Kiblatnya beda.

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.

Santai santai.

Apa lagi yang menarik ya

di Flutter.

Kalau web kayaknya masih

kelabu ya.

Kelabu. Terus.

Desktop mungkin. Malahan yang udah mulai banyak

use cases.

Yang udah roll up

production.

Desktop berarti seperti

buat menggantikan elektron gitu?

Buat menggantikan elektron ini.

Kayak elektron.

Ini langsung app-nya gitu ya.

Langsung app-nya.

Yang cukup famous juga

masuk ke Google I/O. Itu

BMW. Kakek di mobil ya.

Buat apa namanya.

Touch screen-nya itu.

Terus Ubuntu juga udah mulai.

Kayaknya udah mulai di roll up.

Installernya. Buat

installernya buat

Ubuntu itu udah pake

Flutter.

Berarti

Flutter harus sampai Mars. Karena JavaScript

udah sampai Mars.

Berhubung

teman-teman kita yang nonton

ini kan banyakan dari dunia web.

Kalau mau belajar Flutter

itu kira-kira gimana.

Harus belajar

dari mana. Mulai dari mana.

Experience-nya seperti apa.

Oke. Buat web ya.

Sebenernya paling enak sih

buat web. Kalian

ya udah cobain di web

dulu. It's super easy I think.

Kalian cuma download Flutter SDK-nya

aja. I think 100-200

mega. Something like that.

Nggak terlalu gede. Terus bisa

bikin project Flutter. Dan harusnya bisa

langsung jalan di Google Chrome.

Nah disitu kalian

saran gue sih. Jadi ini

lumayan beda.

Experience

programming-nya gitu ya. Antara

Flutter sama

web. Karena gue juga pernah ngodin web.

Bisa dicoba untuk

ya udah. Coba aja misalnya

memakai klon UI

yang pernah kalian buat di web. Coba bikin

di Flutter. Menurut gue cuma biar

nggak penasaran aja. Flutter gimana sih

cara ngodinya. Cara bikin UI itu

seperti apa. Timing-nya seperti

apa dan lain-lain. Itu menurut gue

udah one good

way. Nah habis itu

really note this in underline

both italic dan segala macem.

Aplikasi yang kalian bikin misalnya

kalian udah selesai compiling

di web gitu ya. Coba jalanin

di Android. Habis

itu di iOS. Habis itu jalanin

di desktop. And it should

all works just like that. Tanpa kalian

harus. Terutama kalau kalian bikin UI

doang ya. Tanpa kalian harus ubah-ubah

kodenya

segala macem bisa jalan

just like that.

Bisa di

Linux,

iOS dan Windows kah? Yes.

Lengkap.

Really nice, right? Really nice.

Jadi kalian bisa bayangin.

Kalian udah

istilahnya udah awalnya

bikin beneran buat web

aja. Setelah buat web

ternyata kode yang sama persis.

Nggak perlu diubah segala macem. Udah bisa jalan

di platform-platform lain.

5 platform lain.

Sampai bangun dia dari tidur.

Dari bibir papanya

cerita ngebosenin.

Salah satu learning curve

paling tinggi kan kalau Flutter itu berarti

Dart-nya kan. Bahasa Dart-nya.

Temen-temen yang mungkin awalnya

dari JavaScript, mungkin agak

terkendala di sana kan.

Tapi kalau yang dari TypeScript kayaknya

mirip-mirip kan. Sama-sama

Static Type kan. Sama-sama Static Type.

Actually kita bisa Dynamic Type juga.

Jadi bisa

Dynamic Type juga. Jadi kita

menurut gue

kalau JavaScript sama

Java kawin punya anak

jadi Lhadar. Mungkin

that's the way to put it.

Karena beneran

karena gue pernah experience dua-duanya

kan. Pernah di Java. Java kan yang bener-bener

bukan Static Type lagi lah ya.

Strictly Static

Fervous lah istilahnya ya.

Bener-bener jelas banget.

Kalau Java Sir kan bener-bener

terlalu

terlalu bebas.

Nah ini di tengah-tengah.

Nah terus bagusnya lagi adalah

si Dart ini

itu

sekarang udah mulai

punya fitur-fitur yang

tambahan lah.

Jadi istilahnya fitur-fitur. Dasarnya ini udah lengkap semua.

Jadi mereka coba

keep up buat

sama kayak Kotlin

atau Swift. For example yang

paling baru itu nullable.

Jadi buat variable bisa null atau enggak.

Itu kan lumayan modern lah ya.

Lumayan modern programming

language. Itu Dart udah punya

mungkin sekitar setahun, setahun setengah.

Terus sekarang ada fitur baru lagi.

Dan mereka lagi ngenjen fitur baru

setelah ini. Jadi ya they keep evolving.

One good thing that I think

ini cuma Flutter kayaknya yang punya

ya

probably ya. Cuma Flutter sih yang punya adalah

Flutter itu lumayan

versatile.

Bisa, ya udah kalau ada fitur ini mau ditambahin

tinggal tambahin.

Terus kalau ada fitur ini

kira-kira kurang oke ya mungkin bisa

diperbaiki. Hanya untuk

nge-cater Flutter aja.

Jadi dari Basadar itu

mereka mungkin nge-cater

90% usernya dari

Basadar gitu ya. 195%

given itu kepake

di Flutter. Framework lain itu cuma

sedikit aja. Jadi kalian bisa bayangin

kalau ada usage khusus

gitu ya di Flutter

yang bisa disupport sama Dart itu mungkin

at least satu tahun tuh udah bisa

langsung ke Cipta. Sementara

kalau misalnya kalian let's say

JavaScript atau Kotlin

atau Java gitu ya. Dipakainya

kan banyak banget framework.

Mereka kan nggak mungkin nge-cater semua

framework. Let's say Java,

nge-cater Spring, Android

terus tempat-tempat lain gitu ya.

Agak sulit karena permintaannya pasti

beda-beda. Sementara kalau di Dart

ya mereka buat Flutter aja.

Jadi they work really closely.

Very nice, very nice.

Mungkin equivalentnya kalau

web itu ya. Misalnya nggak mungkin

ECMAScript diubah cuma buat

bikin seneng

pengguna Svelte gitu.

Pengguna Svelte

kalau pengennya kayak gini-gini biar

lebih optimal performance-nya atau

apapun, nggak mungkin ECMAScript

nya, JavaScript nya diubah cuma

buat bikin seneng.

Betul, betul. Jadi itu

kelebihan Flutter.

Kelebihan, kekurangan justru jadi

kelebihan ya. Kurangan justru jadi kelebihan

betul. Ya, Dart hanya dipakai, saat ini

Dart hanya dipakai di Flutter secara

eksplosi. Di Flutter, betul, betul.

Justru, ya Pap, jadi

update-nya jadi jauh lebih cepat

karena dia, user-nya cuma satu.

User-nya cuma satu, betul. Jadi nggak

perlu nge-cater banyak-banyak, itu

keuntungan yang sangat oke sih, menurut

gue. Gimana dengan Dart

dikompilasi ke JavaScript,

layaknya TypeScript ke JavaScript?

Itu bisa juga kan? Bisa.

Itu yang terjadi kan? Bisa. Itu yang terjadi

di awal ya.

Tapi, Dart juga dulu ada ini

BTW, angular Dart, kalau ada yang pernah

pakai. Cuma, I don't know

anyone who is using it. Tapi dulu ada, angular Dart.

Jadi, sebenarnya, misalnya

kalau temen-temen, misalkan yang dari Web gitu

"Wah, saya udah biasa nih pakai TypeScript sama

React" misalkan. "Ah, ganti ah, pakai Dart

sama React" misalkan. Itu posibel?

Posibel. Sangat-sangat posibel.

Sangat-sangat posibel.

Tapi harus nge-compile sendiri.

Tapi harus nge-compile sendiri. Kalau di luar Flutter.

Kalau di luar Flutter harus nge-compile sendiri.

Kalau untuk akses

ke hardware, ada layer yang

diri berarti ya.

Bisa multiple. Bisa kayak iOS kan

akses hardwarenya beda sama

Android, sama Windows. Betul?

Betul. Nah, jadi kita ada

namanya method channel. Jadi

kayak bridge gitu lah ya.

Jadi, gue nyampein sesuatu lewat Dart

nanti yang nerima bagian native.

Nanti lu berarti harus bikin kode

yang kayak

receive lah. Yang nerima gitu ya.

Ada middleware.

Ada middleware.

hardwarenya ya. Harus handle

support ya. Misalnya kalau

kan gak semua

OS

akses hardwarenya sama

dan permission-nya

dikasih dan lain-lain. Betul.

Nah, itu berarti kita handle semua sendiri.

Ya. Nah, tapi

udah ada API-nya ya. Udah ada, bukan

API sih. Library. Udah ada library-nya

sekarang. Jadi kita tinggal ya. Udah

panggil fungsi Dart-nya aja udah cukup.

Udah ada yang ngerjain gitu ya.

Really nice.

Menarik, menarik.

To do list.

To do list-nya bikin

to do list pakai Flutter.

Harus dicoba sih.

Ini

selama perbincangan kita ini banyak sekali

peluang-peluang ya. Peluang untuk

jadi Flutter dev. Untuk

nyobain bahasa baru.

Untuk bikin browser baru.

Untuk conference.

Conference, betul.

Iya, peluang untuk jadi EO.

Untuk EO.

Kayaknya gue balik Indo jadi EO. Menarik juga ya.

Iya,

perlu soalnya. Karena kan selama

ini kan di Indonesia jarang.

Hampir nggak ada ya. Ini EO yang

teknologi EO.

Dulu ada yang

yang

ada sih dulu. Cuma yang

seribu startup, bukan ada tuh.

Yang itu ya. Yang

berkibar.

Tapi maksudnya

baru satu pemain belum ada.

More.

Sama ini loh. Apa namanya? Bahkan

kalau gue ngobrol sama temen gue yang non-IT

gitu ya. Mereka tuh kaget. Karena kan kita

rata-rata, kalau kita

diundang jadi speaker, ini mungkin kita semua udah

pasti udah pernah jadi speaker gitu ya.

Itu kan nggak pernah rata-rata

lah ya. Let's say 90%.

Nggak dibayar kan. Kita ya emang

volunteer aja. Kita senang

gitu. Buat.

Bahkan acaranya berbayar

kayak kemarin pun,

itu no speaker actually

get paid to actually

talk gitu ya. Sama sekali.

Jadi kita cuma yang dapet kaos ya.

Usual tuh nggak? Apa namanya? Boneka gitu

doang. Yang gam.

Tapi

di bidang lain, ini sebenarnya

nggak umum ternyata.

Ternyata di bidang lain tuh orang kalau ngomong-ngomong

jadi speaker gitu. Makanya

istri gue, nyokap gue dulu di Indonesia

juga suka ini juga. Apa ini sih lo ke

Filipin jauh-jauh gitu ya. Tapi sampe sana

nggak dibayar. Dapet cakaya doang.

Cuma itu yang kalau menurut gue pribadi

jadi apa ya. Ada kesenangan pribadi

gue bisa ketemu orang baru

dengan background yang gue nggak pernah

imagine sebelumnya gitu kan. Orang Filipin kan

ya mungkin teman gue ada berapa sih orang Filipin

gitu kan. Ya gitu-gitu sih yang

cukup menarik. Ini tuh harusnya lebih

ya. Supposedly lebih banyak

jadi. Hopefully.

Di Indonesia ada

lebih banyak misalnya lebih banyak EO untuk wedding

ada banyak. Ya.

Acara juga ada sebenernya. Acara banyak.

Acara banyak tapi lebih ke arah. Bukan teknologi

kan. Ada juga kayak e-commerce itu

masih ada. Ada lho. E-commerce itu dan

berbayar. Cuman lebih ke arah

prestigious. Kayak itu yang dari

tech, apa? Yang

perusahaan Singapor

yang khusus untuk startup-startup.

Taken Asia.

Taken Asia kan juga

EO juga bisnis ya kan.

Ya.

Ya PDC. Betul-betul.

Itu kan cuman kan itu

sudah nggak ada lanjutan tapi bukan untuk

itu lebih ke arah

product-nya ya mas. Product ya

startup-nya. Ya product-nya. Sedangkan

kalau ini kan tech-nya nggak ada.

Mungkin ada ini kali ya kayak

setau gue tuh

tiap company ada yang bikin. Dulu Ruang Guru kayak pernah

bikin. Tokopedia kan pernah bikin.

Ya ada. Ya.

Ya gitu-gitu.

Itu sih. Gimana kalau yang

kayak gitu-gitu bisa disatuin

secara yang gede gitu ya.

Tiap tahun selalu ada. Itu keren banget sih.

Banyak kan sih dari komunitas ya.

Banyak kan dari komunitas.

Banyak kan dari komunitas ini. Ya.

Ada Python, ada Ruby.

Conference yang paling konsisten

Python ya.

Pycon sama Rubycon.

Ya. Pycon sama Rubycon.

Terus yang gue nggak tahu tuh

Abis itu berhenti.

Terus yang gue nggak tahu tuh ini apa namanya

kayaknya kita tuh

mungkin juga masih ada kayak feeling

guilty little bit gitu. Kalau misalnya

kita bikin conf for

profit misalnya. Gitu ya.

Let's say bayar

tapi gue ada margin-nya nih

ada untungnya sedikit untuk

apa yang gue udah lalui waktu gue capek segala

macam gitu. Betul-betul. Kita masih ada feeling guilty.

Kita masih mikir mahal. Ya.

Mahal-mahal biar

reversible.

Betul. Nah karena belum terbiasa.

Denyanyirin sama orang lah. Cuma itu

kan nggak penting ya. Betul.

Masalahnya

yang gede-gede itu kayak

Droidcon segala macem. They actually do it for profit.

Gitu.

Dan kita nganggap mereka tuh kayak wah keren banget.

Berarti kan persepsi kita sebenarnya

udah di sana. Cuma kita mungkin nggak tahu

kalau mereka itu do it for profit.

They're actually doing it for profit. Everything.

Gue pernah ke Devcon juga

di Amsterdam.

Dilihat dari presentasinya, ya kayak tadi

Frontiers itu, Trottercon

ya jelas itu for profit.

Dan apa ya? Kan sebenarnya pertanyaannya

adalah bukan ngejar untung atau nggak

tapi bisa ngasih value yang seindah.

Atau nggak? Harus fokus di sini.

Ya kan itu

ibaratnya kalau di luar

teknologi ya.

Concertful Play gitu. Semahal itu.

Ya jelas for profit.

Semua orang untung, tapi

semua orang seneng.

Mereka nyari karena mereka dapet value yang

secara dengan harganya. Ya udah kan itu

sebenarnya bisa diperapin di industri

mana pun.

2024 kita itu, apa?

Ticket War untuk conference.

Ticket War buat conference.

Iya.

Gila.

Ya.

Yang pintar juga banyak. Cuma mungkin ya

tersendiri-sendiri aja gitu.

Tersemunyi.

Atau menyembunyikan diri.

Minder.

Kan nggak enak kan.

Bisa jadi juga.

Bisa jadi juga.

Berarti.

Artinya

kultur dan ekosistemnya belum

terbentuk.

Kultur dan ekosistemnya belum terbentuk.

Iya.

Ini gue kemarin dapet ginian doang nih BTW.

Gue kemarin dapet gini doang BTW.

Sticker.

Apa sih?

Kita ke IOX Bogor

Mas Ipun dapat

gatu kredit.

Kok bisa ada gatu kredit?

Panjang ceritanya.

Panjang ceritanya.

Bisa satu episode sendiri nih.

Homo sekali nih.

Nggak dapat gatu kredit gue di sini.

Mudah-mudahan

konferensi-konferensi di Indonesia mulai

bangkit lagi. Sebenarnya harapan saya

nggak mesti

nanti bakal kesana.

Tapi nggak mesti se mewah di

FlutterCon dan lain-lain di Eropa.

Setidaknya mulai ada lagi.

Kayaknya PyCon tahun ini bakal ada.

Yang penting rutin dulu.

Setelah tahun lama-lama kita bisa

improve kesana.

Jakarta JS.

Citycon.

Jakarta.

Jakarta.

JSD.

Itu salah satu yang berkesan juga.

JSD salah satu yang berkesan karena

baru pertama.

Seru lah.

Dan harapannya sih bakal banyak

masalahnya kita

kayak mager.

Kalau di Eropa kayaknya udah mulai

bangkit ya. Maksudnya konferensi mulai banyak.

Sebenarnya kalau kita adain ada.

Kemarin aja waktu IOS

datang banyak loh 500 orang.

Yang datang banyak. Cuman yang ngadain

penyelenggarannya.

Penyelenggarannya mager.

Mau bikin meet up aja tuh kadang

suka masih males-malesan karena

udah terbiasa di rumah.

Tinggal nyalai zoom atau

JSD 2.0 tuh udah pada minta tuh.

Ayo.

Makanya itu mungkin

moving from

volunteer way

to actually making event for profit

mungkin bisa jadi lebih sustainable

malahan loh.

Actually making more value daripada

yaudahlah. Jadi mindsetnya jangan

kayak wah gue bikin ini kan harus gratis

biar orang mau datang biar apa.

Tapi actually you can make money from this

and then you do it every year let's say

every 6 months something like that.

Terus lu bisa bikin uang

bisa bikin value yang banyak.

Dapet sponsor.

Jadi actually ya bisa jadi

malah lebih sustain

kalau kita tadi ya.

Lebih sustain betul.

Ada pengaruhnya ke winter-winter ini

gak sih? Meet up atau

konferensi gitu.

Tapi sebenarnya di

NL bukan NL sih.

Winter juga ya.

Winter juga ya.

90 hari ya

harus dapat kerjaan baru.

Iya.

Nah tapi sebenarnya

apa ya?

Mungkin bisa jadi

malahan karena ada winter

terus karena ada

apa namanya

kemarin support covid gitu ya.

Zoom-zoom terus doang. Orang malah

lebih seneng, lebih menggebu-gebu

pengen ke konferensi.

Karena itu ada, wah

gue gak pernah ketemu temen, gak pernah ketemu yang

seminat. Akhirnya sekarang bisa ngobrol.

Betul.

Saya ingat banget waktu ngisi di

Semarang, Deves

tahun kemarin kan.

Itu pembicaraannya belum datang, 400

orang udah masuk.

Makanya itu kayak baru kan

baru awal-awal mulai lagi kan.

Jadi lagi semangat-semangatnya nih, wah

ada lama nih gak ketemu orang.

Gak berjajaring gitu. Terus tiba-tiba

ada acara kayaknya

seru banget.

Buat temen-temen

yang menjalankan komunitas,

yang bikin-bikin acara, ayo semangat lagi

kita bikin lagi.

Pasarnya besar sekali dan

manfaatnya bisa banyak ya.

Yes, totally agree.

Oke, mungkin sebelum kita

udahan dari Angga, ada yang mau disampaikan

atau buat temen-temen yang mau follow-follow

bisa kemana gitu?

Oh iya, Twitter gue

anggadwia_

ya, biasa-biasalah ya.

Terus ya

gak tahu ya, masih berangan-angan.

Tapi, hopefully,

gue rencana kalau Mithan pulang Indonesia

mungkin I'll try to arrange something

mungkin kita bisa ketemu di Mitha apa-apa.

Flutter Coal.

Flutter Coal Indonesia.

Flutter Coal kecil-kecilan dulu gitu lah ya.

Selama gue pulang kan lumayan atau gimana.

Mitha Flutter ada gak sih?

Nah, Mitha Flutter itu

organisernya ada disini

sekarang.

Lalu gak ada yang ngelanjutin gitu?

Oh, belum ada?

Belum, itu makanya yang masih jadi

pikiran gue juga

yang mungkin ntar pas gue mudik

perlu gue mulai kecapin orang-orang itu.

Cari, cari.

GDF Flutter, GDF Flutter?

Nah, itu GDF Flutter juga perlu sekali sih.

Cariin, kata Mas Dena.

Sedang, proses sedang.

Sedang, sedang, ya.

Udah ada kan di date-nya, tenang saja, tenang.

Oke.

Terus buat temen-temen yang

sekarang lagi

belajar Flutter atau lagi mendalami Flutter,

apa yang harus mereka lakukan supaya Flutter ini bisa

lebih terdengarlah gaungnya?

Yes.

Sepenglihatan

gue ya, di LinkedIn,

itu udah banyak banget sih yang hiring Flutter

developer. Even kalau kalian sekarang

jadi web dev gitu ya,

terus pengen jump to Wagon,

pengen develop mobile app,

menggunakan Flutter, menurut gue

it's definitely possible even right now.

Bahkan kalau lu baru mulai gitu ya.

Masih sangat-sangat mungkin.

Jadi,

coba pelajari dulu tentu.

Tadi tuh, menurut gue

start yang sangat oke buat web dev.

Lu bikin website pake Flutter,

udah selesai, coba lu jalanin project yang sama

di Android, di iOS,

di desktop. Mungkin agak

kayak asing gitu ya, lu ga pernah mungkin

coding mobile. Tapi actually

yang lu coding itu bisa jadi aplikasi mobile juga.

Which is really cool.

Terus kalau udah,

ya, ikut

community mungkin.

Kayaknya di DevFest, DevFest, atau

I/O Extended, ada juga kok

topic Flutter. Walaupun

lagi ga ada GDA Flutter di Indonesia,

tapi tetap ada topic Flutter.

Masih banyak kok, expert-expert

Flutter di Indonesia. Yang kalian bisa

join, di kota kalian masing-masing,

terus bisa ngobrol-ngobrol gitu ya,

kayak Pania,

Kampap, Banda,

bisa doang.

Bisa

mulai dari situ, terus

kalau udah

di situ, mungkin, ya, keep exploring

karena kita cuma Flutter aja.

Technology is evolving

really fast, right?

Kayak tadi, web budget tiap minggu ada

baru gitu kan, ada

framework baru. Jadi,

keep exploring.

Berhubung, Aruna sudah mulai

ini ya.

Udah bosen ini ya.

Udah bosen ya.

Mau belajar Flutter juga itu.

Mau belajar Flutter dia.

Seneng dong dibilang budget Flutter.

Oke, kalau gitu

terima kasih banyak buat Angga

atas waktunya. Terima kasih buat Aruna

udah diganggu waktu tidurnya.

Really good to see you guys, really good to see you guys.

Thank you so much Luda coming,

Mas Angga. Very good insight.

Ngapain-ngapain kita ngobrol lagi ya. Ditunggu ya

ini apa? Artikel dan

video YouTube yang katanya mau

share lebih lanjut tentang FlutterCon.

Mudah-mudahan temen-temen bisa

Oh ya, channelnya

saya aja di YouTube, Angga Arifandi.

Ntar muncul.

Mudah-mudahan temen-temen disini juga

jadi, wah, seru nih

kita bisa ngadain di Indonesia. Minimal, minit apuluh.

Semangat lagi.

Oke, terima kasih semuanya.

Terima kasih juga Angga.

Kita ketemu lagi di lain kesempatan.

Selamat malam, selamat istirahat.

Bye, bye, bye.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Pembahasan: - 00:00 kehidupan di belanda - 08:00 intro flutter - 17:23 fluttercon - 34:07 side story fluttercon - 40:31 start learning flutter - 41:30 overcome speak in english - 45:00 DX in flutter - 37:27 Next level in Flutter - 1:00:00 learning flutter from web - 1:17:00 eo opportunity Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .