Lompat ke konten utama
EP 6

Ngobrolin DevFest

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini membahas DevFest bersama Danang, community manager Google untuk region Indonesia dan Brunei. DevFest adalah konferensi teknologi tahunan yang diselenggarakan komunitas Google Developer Groups di seluruh dunia pada rentang waktu yang sama, biasanya menjelang akhir tahun. Dijelaskan juga peta komunitas di bawah Developer Relations Google: Google Developer Student Clubs yang berbasis kampus, Google Developer Groups yang berbasis kota dengan sepuluh chapter di Indonesia ditambah tiga chapter khusus cloud, Google Developer Experts yang berbasis keahlian produk, program accelerator untuk startup, dan Women Techmakers. Untuk menjadi GDE, dua kualitas yang diharapkan adalah keahlian yang cukup untuk mengajar di tingkat intermediate hingga advanced, dan jiwa berkomunitas. Saran paling praktisnya bertumpu pada kisah nyata: jalan menuju GDE biasanya dimulai dari datang sebagai peserta, lalu menjadi volunteer, lalu ditawari menjadi pembicara. Format DevFest sendiri bebas — bisa talk, workshop, panel, atau exhibition — dan slot pembicara terbuka untuk siapa saja, bukan hanya GDE. Ada juga kabar praktis: karena Chrome Dev Summit tahun itu ditiadakan, tim Chrome dibuka untuk hadir di acara komunitas lokal, asalkan diundang jauh-jauh hari. Untuk kota yang belum punya GDG, chapter baru bisa diusulkan, dengan syarat ekosistem komunitasnya sudah cukup hidup lebih dulu.

Poin-poin Utama

  • •Jalan menuju GDE biasanya dimulai dari datang sebagai peserta, lalu jadi volunteer, lalu ditawari mengisi — dan proses rekomendasinya harus melalui Googler
  • •Dua kualitas yang diharapkan dari GDE: keahlian yang cukup untuk mengajar di tingkat intermediate hingga advanced, dan jiwa berkomunitas
  • •Slot pembicara DevFest terbuka untuk siapa saja, bukan hanya GDE — dan formatnya bebas: talk, workshop, panel discussion, atau exhibition
  • •Topik web di DevFest tidak terbatas teknologi Google — apa pun yang termasuk web API boleh dibahas karena web API adalah kesepakatan banyak pemangku kepentingan, bukan produk eksklusif satu browser
  • •Chapter GDG baru bisa diusulkan untuk kota yang belum punya, tetapi syaratnya ekosistem komunitasnya sudah hidup lebih dulu — GDG tidak bisa berdiri sendirian tanpa komunitas lain di sekitarnya
  • •Ketika Chrome Dev Summit ditiadakan, tim Chrome justru dibuka untuk hadir di acara komunitas lokal — asalkan diundang jauh-jauh hari karena perlu waktu perjalanan dan persetujuan
  • •Kalau ingin mulai berkomunitas tetapi belum ada acara di kota sendiri, kontribusi bisa berbentuk tulisan, video, podcast, atau kelompok belajar kecil — tidak harus jadi pembicara di panggung

Halo-halo, selamat malam, selamat hari selasa.

Seperti biasa, setiap hari selasa waktunya ngobrolin web.

Kali ini bersama, ya, kali ini bersama saya Riza dan Eka.

Kali ini ada yang kurang ya kayaknya?

Ada yang kurang, ada yang di liburan hari ini.

Jadi berhubung, apa, ifannya tidak bisa hadir, jadi kita pake pemeran spesial malam hari ini.

Pemain pengganti.

Ini pemeran spesial, bukan pengganti ya.

Oh iya, bintang tamu.

Bintang tamu, jadi biasanya tuh di akhir-akhir tahun gitu ya, ada banyak event dari salah satu ini, dari Google.

Itu namanya DevFest, dan malam hari ini kita senang banget bisa ngajak-ngajak ngobrol

Mas Danang dari Google.

Jadi kita say hello aja, halo Mas Danang.

Halo, gak ada suaranya.

Oh iya, halo, sorry, agak nge-like.

Ada.

Nah, halo.

Halo, halo, halo.

Terima kasih ya, udah mampir-mampir ya.

Kita ngobrol-ngobrol malam ini tentang salah satu event yang, apa ya, yang sangat seru di akhir-akhir tahun.

Biasanya September sampai Desember ya.

Setiap Desember ya.

Saya yang senang banget nih, diundang sama teman-teman web bisa sharing-sharing.

Iya, ini adalah salah satu hasil nyata dari, kemarin kita habis ngumpul-ngumpul di Bali.

Di Bali.

Terus kita bingung, nanti kalau DevFest kita mau bawain apa nih materinya nih, gitu kan.

Jadi akhirnya, yuk kita ngobrol-ngobrol aja minggu gitu, nyantai-nyantai ngobrol.

Ya udah, jadilah ini, apa, acara ini, gitu ya.

Acara mingguan, ya oleh kita yang sebagai Google Developer Expert dalam web teknologi di Indonesia.

Jadi biar ada, kalau mungkin kalau podcast atau acara-acara lain yang tentang web sebenarnya udah banyak.

Lihat transkrip lengkap (765 segmen lagi)

Tapi mungkin kalau dalam bahasa Indonesia, belum sebanyak yang berbahasa Inggris kan ya.

Jadi buat alternatif juga, buat teman-teman yang pengen ikutin dan khususnya dalam bahasa Indonesia, bisa banget subscribe.

Iya, jadi kita butuh apa, kita mau kasih apa, update-update kan, update terkini dari dunia web yang sangat luas dan sering banget update-nya.

Sangat cepat juga.

Kita sangat butuh bantuan teman-teman juga.

Kalau misalkan ada berita-berita menarik atau ada topik-topik menarik, bisa langsung ke bit.ly/ngobrolinweb.

Di sana nanti kita bisa diskusi juga.

Oke, sekarang kita menuju ke materi utama kita malam hari ini, yaitu tentang DevFest.

Mas Danang, boleh dijelaskan sedikit nggak, DevFest itu apa sih?

Nah, DevFest itu, wah ini sebenarnya Mas Rizal lebih tepat sebelum menjelaskan.

Cuman sebetulnya DevFest itu tech conference event, kita adakan anuali.

Yang mengadakan adalah teman-teman dari Google Developer Groups.

Dan diadakan di seluruh dunia di rentang waktu yang sama.

Tadi Mas Rizal sempat sampaikan juga, biasanya di akhir tahun betul.

Kalau DevFest itu biasanya di akhir tahun, diadakan oleh GDG dan kita formatnya conference.

Seperti itu singkatnya kira-kira.

Oke, nah kalau apa namanya, mungkin sebelum kita lebih detail kepada DevFest ini,

Mas Danang ini kan sebagai community managernya Google, di Google kan,

yang urusin komunitas Google di region Indonesia Brunei kalau nggak salah ya.

- Southeast Asia ya? - Southeast Asia.

- Indonesia Brunei. - Indonesia Brunei.

Oke, Indonesia Brunei.

Nah, boleh dijelaskan nggak sih, landscape-nya komunitas yang di bawahnya Google atau Mas Danang urus ini apa aja dari mulai,

kalau nggak salah GDG, terus kemana-kemana gitu ya.

- Siap. Terima kasih banget Mas Rizal.

Jadi sebetulnya kita ada di dalam komunitasnya Google itu di developer relations gitu ya namanya.

- DevRel. - DevRel ya.

Kita ada 5 besar ini apa namanya, komunitas.

Yang pertama tadi sempat disebutkan ada Google Developer Student Club.

Basically itu kita punya setiap di beberapa universitas, satu universitas punya GDS-nya sendiri.

Jadi GDSC misalnya Universitas Indonesia, GDSC, Komunitas Lambung, Amang Kurat,

jadi dia per universitas, itu isinya students dan mereka boleh misalnya mau menerima,

teman-teman SMK mau belajar dari situ juga diperbolehkan jadi membernya.

Untuk ke sana bisa ke gahamannya GDSC, tinggal di-search di Google, Google Developer Student Club,

terus bisa cari universitasnya yang paling ada di situ gitu ya.

Terus kemudian setelah GDSC kita ada Google Developer Groups.

Ini city based, jadi per kota.

Di Indonesia sendiri ada sekitar 13 chapter, ada 10 chapter GDG, dan 3 chapter GDG Cloud.

Kalau GDG membahas di luar cloud lah, karena cloud itu ternyata banyak banget gitu ya.

Nah kita ada di Jakarta, Bandung, Bogor, Depok, Semarang, Yogyakarta, Surabaya,

terus ada di Bali, Makassar, dan lain-lain juga.

Kalau untuk cloud-nya hanya ada di Jakarta, Bandung, dan Surabaya sejauh ini.

Tadi Google Developer Groups nih.

Terus sebetulnya kita ada juga namanya Google Developer Experts.

Nah ini seperti Mas Riza dan Baekak disini.

Jadi Google memiliki teman-teman expert, sebagai Google Developer Expert,

yang di produk aja tertentu, misalnya kayak disini ada di web, di cloud, di Android,

dan lain sebagainya.

Kemudian kita juga ada accelerator, sayangnya saya nggak handle secara langsung, karena itu cukup kompleks.

Tapi untuk startup, saya rasa Mas Riza adalah salah satu mentor favoritnya kita.

Karena pengalamannya ya, pertama secara teknikal menjalani sangat expert,

dan secara startup juga sangat expert, jadi pengetahuan nya keren banget.

Dan terakhir, yang paling saya banggakan itu Women Technikers.

Supaya program-program kita itu diversify.

Harapannya kita bisa meningkatkan lebih banyak peran perempuan.

Gitu sih Mas.

- Oke, dan saya juga ikut mentor kemarin yang tahun lalu ya.

- Memang favoritnya Mas.

- Ini harus diversity, harus lebih banyak lagi orang yang lain.

Jangan saya terus ya.

- Nah ini seru banget nih.

Jadi ada beberapa teman atau beberapa orang yang komen di sosial media,

sering banget nanyain gimana caranya jadi GDI.

Nah ini Mas Danang ini yang harus didekatin ya.

Jadi harus ketemu orangnya, langsung ngajak kenalan aja nih.

Ini orang dalamnya yang bisa mengubah kalian jadi GDI.

- Sebenarnya...

Balik ke topiknya first tadi ya.

Mungkin pertama kali datang sebagai peserta atau mungkin bantu-bantu jadi volunteer.

Nah dari situ bisa...

- Jenjang karirnya ya, jenjang karir menuju GDI gitu ya.

- Bisa dari situ maksudnya bisa networking, terus nanti bisa di-reverse sebagai GDI.

Karena proses referensinya harus melalui Googler ya.

Ada syarat tertentu nggak sih Mas Danang untuk menjadi GDI?

- Nah sebetulnya kalau kita bahas lebih ke GDI, dia yang idealnya dia memiliki 2 kualitas mas.

Yang pertama, lagi dia ekspert.

Berarti ya memang sudah ekspert di bidangnya.

Ekspertnya sampai dimana kita harapkan paling mudah adalah dia bisa mengajar di tingkatan intermediate dan advanced.

Bukan cuma warna luar, harapannya begitu.

Dan yang kedua, ada jiwa komunitinya.

Ya seperti Mas Riza dan Mba Eka disini bayangkan ini Selasa setiap minggu kita ngobrol-ngobrol begini.

Kalau nggak ada jiwa komunitinya, nggak akan melakukan hal ini gitu.

Iya kan?

- Iya benar-benar.

Ada banyak lagi panutan-panutan ya.

Ada sidik dari Android, ya kan? Ada Imbre juga dari Cloud, Giri, banyak lah.

Jadi kalau kita mah web ya bertiga ya sama event yang malam ini tidak hadir.

Oke. Nah sekarang kita kembali ke DevFest.

Tadi apa itu DevFest sudah. Terus kenapa? Kenapa Google mengadakan event ini?

Itu pertanyaan yang bagus. Yang saya sendiri belum jelas jawabannya.

Tapi karena saya nggak pernah nanya kenapa, itu pertanyaan yang bagus.

Cuman memang selama ini kan kita butuh yang semaman saya, kita butuh satu event puncak gitu ya.

Yang dimana dari berbagai negara menilanggarakan dan sebagainya juga festival.

Semua kompat dengan tema yang sudah disediakan.

Karena dari pihak Google sendiri, kami menyediakan banyak resource lah ya

buat teman-teman Google developer group untuk melaksanakan baik tema, atau dukungan.

Sebenarnya yang paling penting sebenarnya dukungan dari GDI sih ya.

Dari GDI buat speaks on the events juga itu sih.

Oke. Selain GDI, apakah kita boleh apply menjadi speaker?

Jawabannya boleh banget sih Mas.

Jadi ada beberapa yang saya lihat kayak Medan, Bandung juga kalau nggak salah,

itu lagi opening slots buat siapapun yang ingin berbicara di GDG, bisa sharing di situ.

Dan justru pengalaman pribadi aku, pertama kali jadi speaker beneran,

literally pertama bicara di tech event secara live itu di DevFest 2019 di Bandung.

Dan itu belum berstatus GDI sih, random aja.

Jadi Twitteran gitu di Twitter, kenalan sama Tiwi dan Nimas dari GDG Bandung.

Terus ditawarin jadi speaker. Ya udah gitu doang.

Apa, kelihatannya karena bahas pas lagi pernah nge-tweet PWA atau semacamnya,

jadi kebetulan topiknya cocok, ditawarin, ya udah dari aku sih, ya iya aja.

Dan itu sama sekali belum, bahkan belum tahu GDI itu apa sih.

Tapi itu jadi pintu pembukaan untuk menuju ke GDI kali ya? Bener nggak sih?

Itu tadi yang diambil, yang tadi banget soal rekomendasi datang ke DevFest dulu,

itu diambil dari kisah nyata kok. Tadi pengalaman pribadi.

- Mungkin bisa lanjut ceritanya Eka, pengalaman mengisi DevFest,

berapa kali dan di mana dan topiknya mungkin, pokoknya cerita tentang pengalamannya aja.

- Itu pengalaman pertama 2019 di Bandung, dan waktu itu Sepanggung,

itu dia muncul orangnya, Sepanggung sama Ivan.

Waktu itu Ivan udah bersatu sebagai GDI, GDI web, dan present juga membawakan sebuah talk

pas di DevFest Bandung. Lupa talk-nya apa. Cuma justru itu pertama kali Sepanggung bersama Ivan.

Terus selanjutnya tahun lalu 2021, itu kan masih online ya, masih remote semua.

Waktu itu aku udah sebagai GDI ikut di acaranya teman-teman Depok, dan waktu itu formatnya

lumayan seru juga baru pernah dengan format workshop. Itu lumayan cocok sih menurutku,

karena kan itu online ya. Jadi besertanya juga emang di depan laptop, udah buka laptop semua,

bikin workshop soal PWA dan Workbox. Jadi baru 2 kali sih.

- Oke. Jadi DevFest ini bukan hanya TED Talk ya, tapi ada workshop juga ya Mas Danang?

- Iya. Jadi sebetulnya formatnya lumayan bebas. Kita bisa ke workshop, kita bisa ke panel discussions,

kita bisa juga exhibition misalnya mau membahas satu topik,

jadi bebas, jadi modalnya conference aja. Kayak conference sih biasanya.

- Itu yang menentukan siapa? Apakah mau workshop atau misalkan TED Talk atau panel discussion?

Apakah dari GDG-nya atau propose? - Organizer-nya atau speaker-nya atau gimana itu?

- Biasanya sih itu kita serahkan sama organizer-nya. Kadang-kadang organiser-nya juga tanya nih,

speaker-nya lagi pengen bahas apa, karena kan masing-masing tentu bersentuhan langsung

dengan grassroots level, terus kadang-kadang dari pembicara juga misalnya,

"Wah, gue abis nemuin ini nih. Ini seru banget kalau di-share nih."

Ada sesuatu yang, yang kayak gitu itu yang gem banget, yang pengen kita tahu kan.

Justru misalnya pengalaman dia dalam mengerjakan satu project tertentu misalnya atau apa.

Jadinya, "Wah, ada kayak gitu ya." Sebenarnya menarik begitu sih kayaknya.

- Iya, jadi kita harus ini juga ya, harus inisiatif ya. "Wah, kayaknya nih lebih seru jadikan workshop aja deh."

Kita propose ke Panitia gitu ya. - Berarti kita semacam ngobrol kali ya,

kalau kita sebagai pengisi acara, kita kayak diskus sama organizer-nya kan, GDG-nya kan,

mereka yang tahu crowd-nya kayak gimana, masanya tertarik sama apa.

- Nah, kalau ngomongin topik, kalau ngomongin topik, topik apa aja sih yang dibahas di DevFest, Mas Danang?

- Wah, ini menarik. Kalau untuk topik sebetulnya lumayan luas.

Basically ada semua teknologinya Google ya.

Jadi kalau yang paling populer di Indonesia tentunya Android, cloud, dan web.

Dan tentu, next-nya ada juga teman-teman banyak banget yang tertarik machine learning dan AI,

terutama karena para bapak-bapak dosen tercinta di universitas kayak mewajibkan.

- Oh, baru tahu. - Iya, skripsinya AI ya.

- Oh, oke, tema seksi ya. Tema menarik. - Betul, betul.

- Iya, jadi karena banyak di-push ke arah sana, akhirnya banyak banget yang berjalan-jalan.

Belajar time short flow, machine learning, Jacks. Jadi tema itu juga menarik.

Tentunya selain dari situ kita juga misalnya mau belajar tentang Google Maps,

ada Angular, Access State, Accessibility banyak juga.

Cuman yang paling populer pasti Android, web, dan cloud.

Mungkin nanti tambahannya kadang-kadang ada yang mau belajar Firebase, ataupun Flutter.

- Flutter, oke. - Cuma mungkin kalau web kan orang suka,

kalau khusus di web ya, mungkin ada orang salah paham,

mungkin atau bertanya-tanya kalau Devise, teknologi Google, apakah harus Chrome only.

Nah, sebenarnya kalau web lebih bebas ya, keliatannya, maksudnya nggak harus yang ada di Chrome,

tapi apapun yang web API. Jadi kayak misalnya kalau web API itu kan sebetulnya

kesepakatan berbagai stakeholder ya. Jadi misalnya ada pihak Google,

ada pihak browser lain juga. Jadi itu nggak eksklusif produk yang hanya ada di Chrome,

cuma apapun yang di web API, teknologi web secara umum, boleh dibahas sebagai topik.

- Betul. Jadi nggak hanya apa yang berhubungan dengan teknologinya Google, misalkan Angular,

framework base-nya dari Google. Tapi lebih umum ya, lebih umum gitu.

Bisa semua topik yang berkaitan dengan web.

- Betul, betul. - Oke, nah.

Kalau pengalaman saya sendiri ngisi Devise itu kayaknya baru dua kali ya,

yang saya ingat ya. Yang pertama itu 2018, itu seru banget.

Itu saya ngisi di Jakarta. Iya, ngisi di Jakarta itu panggungnya megah sekali.

Kita kayak anak band, jadi ada panggung vertikal, ada vertikalnya kesana gitu.

Jadi bisa jalan kesana gitu. Udah gitu kan dikasih kaos, diseru bagiin,

jadi saya lempar aja kayak rockstar gitu. Itu seru banget, keren.

- Serasa di Mountain View ya? Kayak acara Chrome Dev Summit atau semacamnya.

- Serasa jadi anak band gitu kan. Terus kemudian absent berapa lama,

habis itu pandemi, dan terakhir di 2021 online. 2021 online saya bahas tentang web components.

Kalau di 2018 saya bahas tentang tensorflow.js. Jadi ada kaitannya sedikit dengan mesin learning juga,

tapi di sisi webnya. Kalau ini ada pertanyaan bagus dari Luki.

Deve sekarang hybrid kan acaranya, full-on atau offline?

- Nah, ini akan tergantung di masing-masing chapternya. Cuman sejauh ini kayaknya

ternyata offline ya, in person. Ada beberapa yang dicoba buat di hybrid.

Mirip kayak IO Extended kemarin. - Oke. Ini pertanyaan dari host kita yang ikutan juga.

- Yang lagi liburan. - Iya, lagi liburan mau nonton juga ya.

Kalau ada teman-teman yang mau aktif jadi volunteer, mau bantu-bantulah,

mau terlibat langsung di event Deve, itu kira-kira info-nya bisa kita dapat dari mana

atau kita mau approach ke siapa? - Ini pertanyaan yang bagus.

Sayangnya kita memang nggak ke standarisasi persiapan seperti apa, tapi biasanya masing-masing dari GDG

akan opening volunteer di sosial media masing-masing. Yang paling sering Semarang, Bogor, Jakarta itu sering.

Ditunggu aja, kalau nggak nanti pas acaranya bisa approach organisernya,

tanya sama mereka, "Eh, saya pengen terlibat, nanti bisa dimasukin grup atau untuk next event-event,

pasti bisa dilibatkan." - Oke. Jadi mungkin langkah pertamanya adalah gabung dulu

ke komunitasnya ya, komunitas GDG masing-masing kota gitu ya.

- Nah, cara cari apa, komunitas GDG-nya gimana tuh kira-kira? Bisa dicari di?

- Bisa dicari di gdg.community.dev atau bisa search aja ya, bisa search aja Google Developer Groups,

nanti ada gdg.community.dev. Di situ bisa cek kayak masing-masing di kota terdekat yang mana,

nanti bisa jadi member di situ. Dan setiap kali ada event, ada apapun, informasinya bakal dapet

dari situ, dari email. Gitu sih. - Oke. Ini, salah tadi copy-pastenya.

- Pala links. - Nggak bisa diapus lagi.

Nggak bisa diapus. Nggak, ampun. gdg.community.dev.

Nah, jadi teman-teman kudu cari tuh di kotanya masing-masing, pertanyaannya,

kalau tidak ada? Seperti contohnya mas Farhan nih, di Kalimantan nggak ada GDG.

- Bisa bikin baru atau gimana tuh? - Bisa propose dari sini gitu.

Saya pengen bikin GDG di kota saya gitu. - Iya. Jadi sebetulnya semua bisa propose,

jadi misalnya nggak ada GDG di kotanya, mereka bisa mengusulkan untuk ada,

hanya saja tentunya nggak bisa semua diterima. Mungkin hints-nya yang aku bisa share,

pertama kita berharap ekosistemnya memang sudah maju di situ, jadi misalnya memang sudah ada

teman-teman komunitasnya lah ya, karena tanpa komunitas GDG ini sendiri juga

nggak bisa hidup. Harus ada yang lain-lain juga, gitu sih kira-kira.

Masa ibu kota nggak ada GDG-nya nih?

- Mungkin kalau udah jadi ibu kota, ada apa? - Ada ya, harus ada ya.

- Eh tadi gimana syaratnya? - Ada syaratnya ga sih?

- Syaratnya sebetulnya, yang pertama untuk kotanya sebetulnya kita lebih banyak

organizer-nya. Organizer-nya pertama sudah berusia lebih dari 18 tahun,

kemudian yang kita harapkan dia sudah profesional, jadi sudah bekerja.

- Oh sudah. - Ya sudah menjadi profesional.

Kalau masih kuliah kan ada GDG. Terus ketiga tadi memiliki memang pengalaman dan jiwa

komuniti yang pernah menyelenggatakan event-event sejenis,

yang berarti dia juga punya hubungan dengan graduate level nih sama teman-teman

programmer yang lain tau, kenal, dan mengerti gimana mendapatkan aspirasi dari mereka

dan membuat event yang tepat, gitu sih. Itu aja.

- Jadi tidak harus ada GDG dulu ya, baru ada GDG gitu ya?

- Nah sebetulnya itu menjadi pertimbangan, kan nanti pasti minta pertimbangan dari

komuniti manager juga. Itu juga jadi salah satu. Karena kalau misalnya di kota tersebut

GDG-nya gak banyak gitu. Berarti kan mungkin kita juga akan bertanya sama dia,

"Oke, berapa orang developer yang ada di sana?"

Karena kita juga pengen tau seberapa semarak, soalnya kalau enggak akan berat banget,

Mas. Kebayang ya, mereka mau ngadain, terus ini yang datang 3 orang, 10 orang,

kan lama-lama sesemangat-semangat apanya juga kalau dukungan.

- Gak remes ya. - Udah gini mah, mending tau ya.

- Oh, berarti kita harus ini ya, kita harus cari tau ya, target marketnya, terus

berapa orang kira-kira yang jadi developer-nya di sana, berapa orang, gitu ya.

Itu harus riset ya? - Iya.

Itu sebetulnya kan kita bisa pasti kebayang ya, kalau kayak Mas. Liza, Mbak Eka,

atau teman-teman yang bisa berkomuniti kan, setelah datang acaranya mungkin JS,

atau acaranya mana kan mulai terasa, oh ini cocok nih, ada masanya nih,

jadi gampang kalau kita mengadakan meetup, dan ada kebutuhannya,

oh kayaknya banyak nih yang bisa, karena yang kita harapkan GDG itu mandiri,

bisa menjalankan kerjanya sendiri, karena sebenarnya kan ada resource-nya

udah banyak nih Mas, kalau nanti teman-teman dapet aja di GDG,

sebetulnya ada kayak resource library, mereka bisa ambil semua dari situ,

mau bikin pembelajaran Android, mau bikin pembelajaran Flutter,

ada semua, tinggal diajarkan, bahkan sampai code lab, slide, ada beberapa,

mereka tinggal baca dan bisa belajar secara mandiri, gitu sih harapannya.

Berarti bisa mulai dari komunitas lokal ya? - Bisa, betul.

Menarik sekali ya, jadi ini peluang ya buat teman-teman di daerah yang di daerahnya

belum ada GDG, mungkin bisa propose supaya bisa dapat materinya juga,

tadi ada Mas Darang sempet bahas code lab, code lab itu apa Mas?

Code lab itu ini sih Mas, jadi kayak semacam tantangan coding lah ya,

gampang aja, jadi di situ mereka bisa mengikuti misalnya ada material tertentu,

nanti ada materinya, terus ada semacam quiz-nya, jadi aktivitasnya memang

dilancang seperti kurikulum. - Step by step, tapi mereka langsung protect ya?

- Bisa lebih kesan. - Oke.

Nah ini ada GDG lagi, banyak GDG malam ini ya.

- Ini GDG. - Ngomongin politik dia langsung hadir ya, luar biasa.

Itu di Pedang belum ada ya GDG ya?

- Belum. - Bikin dong, embre dong.

Di Amerika nih jam berapa nih? Subuh ya kali ya, subuh ya?

- Jam 8 pagi kayaknya. - Gede semua SIE-nya.

Iya, termasuk yang nonton juga gede, ya ampun.

Nah ini pertanyaan dari hos kita juga, Chrome Dev Summit tahun ini kan udah

lagi nggak ada, lagi ditiadakan, terus diganti dari tim dari Chrome Dev itu

- bisa disebar ke event lokal. - Gatang ke event in person ya?

Iya, kalau jangan cuma Jakarta ya, di kota-kota yang lain juga bisa ngadain event,

meskipun bukan DevFest atau bukan GDG gitu ya, ngadain aja misalkan

Surabaya.js atau Jogja.js atau Go Jakarta lah, atau apa gitu,

bisa ngadain, kalau Go termasuk Chrome, nggak ya, yang web ya.

Ya misalkan Frontend gitu ya, React ID misalkan mau bikin gitu.

Bisa, ada kemungkinan dapat peluang untuk mengundang expert dari tim Google Chrome ya.

Bener nggak sih, Mas?

Bisa banget, yang pasti sih ngundangnya harus agak lamaan,

terutama kan kalau mau ngundang, biasanya kalau tim Google Chrome kayaknya nggak dari Indonesia ya,

kayaknya buat tim engineer-nya. Jadi mungkin butuh waktu beberapa bulan,

dan mereka buat travelling cukup jauh kan, butuh planning itu aja sih.

Jadi kalau diplanin dengan baik, siapa tau bisa bersaing sama tim sebelah, Mas,

yang ngadain conference akhir minggu ini.

Tim sebelah mana tuh?

Android kan bikin satu-satu. Nggak, sorry, tim Android kan bikin Android Jam.

Tim Android.

Akhirnya tim sebelah apa?

Bukan, bukan.

Masuk ke tas.

Android.

Iya kan Android bikin Android Jam, terus ngundang juga beberapa Googler gitu.

Tapi berarti nggak ada masalah ya, walaupun Tim Chrome domisinonya di Eropa kan ya, rata-rata.

Cuma itu nggak masalah berarti, Mas.

Sebenarnya nggak masalah, kita bisa mastiin komunikasi sama mereka.

Mereka ada waktu karena, again, buat mereka terbangan butuh waktu aja.

Itu aja sih biasanya.

Sama ada apa, approval segala macam ya. Oh, Tyler. Oh, Tyler. Mereka bukan Tyler.

Internal sekali.

Internal sekali.

Iya.

Nah, ini menarik banget ya.

Jadi kalau teman-teman biasanya nonton Chrome Dev Summit tahun lalu itu nonton online gitu kan.

Pembicara-pembicaranya bisa dilihat online gitu kan.

Bisa diundang, siapa tahu bisa ngisi di Kalimantan, di Padang atau di mana gitu ya.

Seru nih.

Jadi jangan dilewatkan ya.

Ini apa, peluang menarik ini.

Apaan lagi kita bisa ngundang dan semuanya ditangguh oleh Google.

Kalau dia approve ya, tentunya ya.

Kalau dia approve.

Ada maksimumnya nggak, misalkan mau ngundang 10 orang gitu.

Biasanya sih tergantung kebutuhan.

Tentu kan kita bisa ngeliat ininya sih, Mas.

Pengennya sih bisa support se-maximal mungkin.

Tapi tentu nanti kesebaik-kese.

Misalnya jumlah pesertanya berapa, terus kebutuhannya seperti apa.

Lebih kesana sih.

Iya. Kalau beberapa tahun yang lalu kita ngadainya namanya Chrome Dev Summit Extended.

Sama seperti Google I/O Extended juga.

Seperti I/O Extended ya.

Jadi materi-materi yang dibawakan di sana mungkin kita review atau kita bawakan ulang dengan bahasa Indonesia tentunya.

Dengan bahasa lokal.

Mungkin bisa dibikin juga video reaction-nya ya.

Udah. Siap-siap.

Jadi tahun ini Chrome Dev Summit-nya ditiadakan, tapi ada kemungkinan tim dari developer Chrome-nya itu bisa menghadiri lokal-lokal komunitas.

Jadi manfaatkan, di eksploitasi ya.

Kalau mau ngadain acara besar di kota itu syaratnya apa aja?

Mengadain acara besar, syaratnya cari tempat, cari sponsor, terus jual tiket. Apa lagi ya syaratnya?

Gak ada sih ya.

Oh mungkin ini kali, ada hubungannya sama itu nggak sih protokol kesehatan gitu-gitu, minimum attendance-nya berapa, harus ngikutin ke masing-masing daerah kali ya.

Itu lokal kan ya, berat.

Iya, beda-beda kan tiap kota ya.

Betul.

Mungkin ini kali ya.

Mas Danang bisa, kan Mas Danang udah cukup sering ya ngadain event ya.

Mungkin bisa diceritakan kalau mau bikin event itu gimana sih?

Buat teman-teman yang belum pengalaman mungkin pengen bikin event.

Siap.

Sebetulnya yang paling pertama, why-nya dulu sih.

Aku selesat kalau soalnya.

Kenapa ya?

Eh kenapa mau ngadain event ini? Kenapa kok misalnya mau web kenapa judulnya ini?

Berarti kan kita harus tarik aspirasi dari grassroot, kira-kira apa nih yang lagi happening.

Terus di satu sisi kita tanya juga sama organizernya, kenapa kalian mau mengadakan hal ini?

Bisa jadi mereka melihat, oh kalau kita belajar ini, ini sesuatu yang sangat bagus untuk masa mendatang.

Untuk membawa komentar ini ke tempat yang lebih atau sesuatu yang lebih advance lah.

Aranya ada di situ, kemudian planning sih sebetulnya.

Yang pertama, pick tanggal, pick tanggal dulu.

Kemudian simultaneously kita mulai, kan tadi sudah ada judulnya berarti ya.

Berarti pick tanggal, pick tempat, massing speaker.

Habis itu baru kita jalan ngelengkapin kepinggan-kepinggan lainnya.

Perdanaannya seperti apa, terus marketing channelnya seperti apa.

Secara garis besar sebetulnya seperti itu.

Mungkin kalau pengalaman sih kalau tanggal ditentukan oleh venue biasanya.

Kita ngikutin gedungnya biasanya.

Cuman kalau misalkan teman-teman baru banget nih, tiba-tiba pengen bikin event besar.

Saran saya sih ikutan ngurusin event yang akan jalan dulu aja.

Misalkan kalau event itu sering ngadain world camp. Jakarta JS dulu sempat bikin sekali GSD.

Jadi, volunteer aja dulu di event-event yang sudah ada.

Nah, dari situ baru dapat pengalaman gimana sih cara organize sebuah event gitu ya.

Atau yang lebih kecil lagi meet up. Jadi ngadain meet up kecil-kecil.

Mungkin jumlahnya ya 10, 20, naik di 30, akhirnya bisa sampai 70, 100, dan lain-lain.

Habis itu baru ngadain event yang lebih besar.

Jadi nggak kaget tiba-tiba kok event-nya besar gitu.

Kadang-kadang kan overwhelmed ya kalau terlalu cepat gitu step by stepnya.

Nah, Mas Danang, pre-event The Fest ini mulai kapan?

Kalau nggak salah kemarin ceritanya ada pre-event dulu.

- Sebelum The Fest. - Berarti itu belum The Fest ya?

Iya nih, wah ini memang apa namanya?

- Kalau Mas Imre, infonya A1 mungkin ya. - Cepet ya.

Nggak ada info ya.

Nah, sebetulnya buat teman-teman cloud, aduh aku kok jadi aku yang ngomong ya.

Di rencanakan ada pre-event.

Oh iya cloud.

Iya, yang cloud rencananya mau ada pre-event.

Jadi mereka rencananya, ini kok udah aku, semoga teman-teman cloud nggak marah ya.

Tapi ada event-event besar.

Tapi di rencanakan mau ada pre-event di tiap-tiap kotanya di tadi Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Nanti event-nya yang besarnya sekali offline, tapi yang tiga lainnya kayaknya bakal online.

Gitu sih Mas Imre.

Wah pocoran narik nih, cuma ada di channel ini.

Jangan diklip ya. Jangan diklip, bahaya ini.

Insider information.

Oke.

Jadi kalau sekarang di tahun ini, ada berapa kota masih yang bakal ngadain The Fest?

Insyaallah harusnya ke 10-10-nya ada.

10-10-nya ada ya.

10-10-nya ada The Fest.

Nah itu bakal di tanggal yang berbeda, atau kemungkinan ada yang bentrok sama, atau gimana penentuannya?

Ada yang bentrok.

Ada yang bentrok.

Ada yang bentrok sih misalnya.

Jadi mereka mau mengadakan dari November sampai Desember, masih kayaknya masih padang, tadi kata Mas Dina juga bener ya.

Walaupun kita udah pinginnya tanggal segini, tapi kan masih subject to change.

Oh venue-nya adanya ini nih, akhirnya kita rubah.

Atau speaker yang kita idam-idamkan, bisanya tanggal segini nih.

Ya udah kita bisa. Jadi masih dalam hal-hal seperti itu.

Apalagi sebagian besar dari The Fest ini diadakannya di weekend kan, Sabtu atau Minggu.

Jadi tanggalnya ya cuman ada, kalau Sabtu misalkan berbarengan Sabtu ya cuman sebulan cuman ada 4 gitu kan.

Sama Desember berarti ada 8.

Jadi ya 8 dari 10 pasti bentrok gitu.

Ya betul Mas.

Tapi memang mungkin gak terlalu masalah ya karena target audiens utamanya lokal kan.

Berarti ya cuma yang di kota itu aja kan.

Betul, betul.

Ada beberapa yang memang di-hybrid-in nih mbak, jadi harapannya biar beberapa bisa lihat.

Cuman kayaknya yang hybrid tidak terlalu banyak.

Yang hybrid tidak terlalu banyak.

Jakarta, Depok, diitung dua kota ya Jakarta, Depok, Tangerang, apalagi Tangerang.

Ada The Fest gak? Gak ada GDG-nya, gak ada The Fest, bikin dong GDG-nya Nur Holid.

Dipropos, dipropos.

10 kota apa aja?

Wah ini ngerasa hafalan ya.

Jakarta, Depok, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali atau Denpasar, Makassar, Medan.

Pak, 10. / Hapal, kerjaan sehari hati sih ya.

Mas Denang udah menjelajahi berapa kota di Indonesia?

Kalau untuk GDG-nya sebetulnya... / Udah 10-10-nya?

Yang belum justru Yogyakarta sama Semarang.

Yogyakarta sama Semarang.

Karena tanggalnya samaan, jadi sama tim split gitu, oh yang ini kesini ya, yang saya kesitu gitu.

Kalau untuk tahun ini rencananya mau ke mana? Belum tau?

Pinginnya sih karena tanggalnya belum pas, pinginnya sih tiap minggu pingin dateng ke masing-masing The Fest sih.

Ngobrol-ngobrol juga sama temen-temen di lokal situ kan, kira-kira gimana.

Narik aspirasi juga supaya kita bisa lebih baik.

Mantap, mantap. Ini ada nih, Bandung, Cimahi.

Cimahi.

Batam, oh Batam belum ada ya? / Batam belum ada.

Batam ini termasuk kota yang cukup unik.

Karena komunitinya all professionals.

Jadi kayak, termasuk kayak students.

Jadi kan kemarin sempet ngobrol-ngobrol sama temen-temen di sana.

Kalau Batam, ini please correct me if I'm wrong ya, ini yang aku dapet pas ngobrol sama di sana.

Even mahasiswanya kan kebanyakan kelas malam.

Jadi yang memang kerja. / Jadi sambil bekerja.

Iya dan Batam itu kan salah satu pusat banyak kerjaan dateng dari Singapura, dari hub nya lah ya, buat ke Asia Tenggara disana.

Jadi sangat-sangat profesional, agak beda gitu.

Jadi kalau hawa nya profesional, beda lah ininya, hawa komunitinya.

Ya sementara nebeng GDG Singapur aja kali ya.

Keterterikan berkomunitasnya tapi tinggi mas kalau di Batam.

Maksudnya masih pada suka bikin meet up atau justru males karena udah pada sibuk kerja masing-masing?

Itu sih, jadinya karena kerja kuliah,

gairahnya masih ada tapi nggak sebesar kota-kota lain.

Kan biasanya yang banyak ngedrive, biasanya mungkin dari temen-temen GDG nya yang organizer,

yang ngasih ide apa segala macem.

Nanti sama temen-temen mahasiswa atau GDC dibantu buat jadi volunteer, execute sih.

Nah ini semuanya profesional jadinya.

Oh iya, iya, iya.

Kadang-kadang kita kalau bikin meet up itu kan kalau misalkan bikin meet up di weekdays, di hari kerja, after office,

itu kan yang datang profesional biasanya kan.

Orang-orang kerja, orang kantoran.

Kalau kita bikin di weekend, di akhir pekan biasanya anak-anak kuliah gitu kan.

Nah kalau di Batam, kalau kita bikin after office, mereka kuliah.

Kerja sambil kuliah.

Kalau di weekend, udah senin sampai jumat kuliah,

terus masa weekend harus datang meet up lagi, malas gitu kan.

Jadi mungkin ya itu tantangannya kali ya di sana ya, Batam.

Jabur Tabet banyak juga ya GDG-nya ya. Apa tadi ya Jakarta, Depok, Bogor ya.

Ya, 3 itu.

Tangerang yang belum ya.

Oke, deface kali ini 3 hari juga, Kak?

Nah ini kayaknya Mas Razan nanya tentang di Jepang Jakarta.

Kebetulan ada Mas Patrick disitu. Mas Patrick disitu.

Oh iya, saya jawab.

Atau mau ini, diinvite kesini, diinvite.

Ikut ngobrol juga boleh.

Tadi kan link stream yard-nya udah ada tuh.

Iya, udah diapus sih tapi.

Oh.

Oke.

Ini, tuh Imre dia pengen bikin jauh banget.

Masalah orang Amerika.

Masalah lokal orang sana.

Iya, selamat lah ya. Kalau disini kan masalahnya berbeda.

Kalau disana masalahnya syuting-syutingan ya.

Teri banget.

Mudah-mudahan aman-aman aja ya.

Amin-amin.

Aceh, Aceh datangnya ke deface Medan.

Iya, salah satunya.

Iya, ini Medan juga baru.

Medan juga baru ya.

Baru, baru jalan setengah tahun.

Termasuk yang lumayan ramai sebetulnya Medan.

Karena pertama di Sumatra kan ya?

Betul, pertama di Sumatra.

Iya, pertama di Sumatra ya.

Cuma satu kan di Sumatra?

Pertama dan satu-satunya sejauh ini.

Pertama dan satu-satunya sampai saat ini.

Bekasi itu, Iqvan mau bikin bekasi dia.

Bekasi.

Di Surabaya kemarin ada yang datang dari Malang sama dari mana ya?

Punya dari kota kecil di sekitarnya.

Semua pada datang ke Surabaya.

Pas IO Exended kemarin.

Iya, bener.

Jadi ada beberapa daerah yang bela-belain datang.

Ada tuh beberapa orang yang bela-belain.

Misalkan kalau Surabaya dengan Malang kan deket juga ya.

Yang kayak antara Jakarta-Bogor gitu ya.

Itu masih pada mau datang ya.

Ini Aceh.

Aceh ke Medan itu perjalanannya.

Tergantung Acehnya ya.

Kalau di dalam daerah itu 7 jam.

Makan aja itu.

Tapi datang gitu ya.

Luar biasa, hebat ya.

Butuh haus akan kegiatan komunitas.

Ada info nih.

Batam game dev yang rame ya.

Sama ini, apa?

Yang 3D ya.

Yang bikin-bikin 3D itu kalau nggak salah di Batam juga rame ya.

Iya, animasinya kuat.

Animasi, betul.

Insyaallah Jakarta 2 hari aja cukup.

Karena offline kali ini ya.

Udah ada jawaban langsung dari panitianya.

Balik Papan.

Next Jadi First GDG.

Farhan.

Di Kalimantan.

Kalimantan.

Sumatra baru ada satu.

Tangerang komunitasnya sepi.

Masa sih?

Langsung kan banyak kan ya?

Tangerang sekarang bukannya lagi ini ya.

Ada beberapa startup yang mulai buka di Tangerang.

Salah satunya Traveloka.

Yang baru pindah dari...

Enggak baru juga sih.

Berapa tahun yang lalu ya pindah.

Terus juga ada...

Cirklo kalau nggak salah di Serpong.

DSD juga.

DSD juga.

Jadi harusnya...

Terus juga ada kampus juga di sana kan.

Banyak kampus yang gedungnya unik itu.

Multimedia bukan?

Multimedia, Universitas Multimedia Nusantara ya.

Ada venture kapitalnya juga di situ.

Mantap itu sebenarnya ya.

Secara ekosistem sebetulnya Tangerang itu sangat-sangat potensial.

Karena banyak kan perusahaan teknologi ada pindah ke sana.

Tinggal di sana jadi lebih enak lah ya.

Komutnya, mereka juga secara kota udah enak banget, mall ada, kehidupan ala sekolah, rumah sakit ada semua.

Kayaknya ke depan mungkin 2-3 tahun bakal jadi pusat tek sih.

Kayaknya kan diingatkan begitu oleh teman-teman sinarmas ya.

Ya kan kita lihat.

Oh iya.

Oke, mudah-mudahan.

Kalau di...

Ini udah ada belum ya di Bukit Menggaya?

Nggak ya?

Saya...

saya berubah pikiran.

Oke.

Nanti di Jakarta bisa dilihat.

Oh berarti Jakarta hybrid ya, Patrick ya?

Mantap-mantap.

Buat teman-teman di daerah kalau mau tahu gimana Devesh, keseruan Devesh itu bisa cek di YouTube-nya GDG.

GDG Indonesia apa di GDG Jakarta?

GDG Jakarta pasti.

GDG Jakarta.

Terus ini Razan ya.

Acer cek ombak dulu dari GDG. Betul mulainya dari GDG aja.

Kalau rame bisa jadi GDG ya.

Kalau GDG gimana mas ininya mas konsepnya?

Itu kan per kampus kan.

Terus setiap orang yang jadi lead-nya itu masa jabatannya berapa lama?

Syaratnya apa?

Ada gak sih?

Sebetulnya mirip juga sama GDE ya.

Jadi kalau syaratnya dia ada kemampuan teknis.

Karena nanti kan dia punya akses.

Tujuan GDSE adalah manufakan risori sos kita yang ada tadi.

Buat dia pelajarin terus dibagikan sama temennya.

Terus bikin kayak study group gitu lah.

Harapannya GDSE itu seperti itu.

Jadi eskelating the learning.

Nah pertama, berarti punya kemampuan teknis untuk mempelajari hal itu.

Yang kedua, ada semangat berkomunitasnya.

Untuk menjadi lead itu masa jabatannya selama satu tahun.

Pendaftarannya biasanya dibuka di antara Mei sampai Juli.

Mei sampai Juli, oke.

Di libur semester ya?

Di libur semester.

Idealnya yang mendaftar itu temen-temen yang mungkin di tahun ke-3.

Jadi di semester 5.

Jadi sekarang.

Semester 10 ya?

Semester 10?

Kenyataan saya beda banget.

Ada yang tanya tuh.

Odeh.

Semester 10.

Berapa semester?

8 kan ya?

Jangan.

Semester 10 jangan.

Udah fokus ke lulus aja.

Atau skripsi ya.

Jangan ya.

Di situ dipilih di semester-semester tengah itu.

Karena semester awal harus adaptasi dulu.

Semester akhir itu udah harus selesai gitu ya.

Kita harus gara-gara cabut dari kampus gitu ya.

Jadi yang di tengah-tengah.

Nah kalau misalkan udah setahun nih.

Abis itu kita boleh play lagi kah?

Atau udah gak boleh lagi?

Biasanya kita satu kali.

Berapa priodom?

Oh sekali aja ya?

Iya.

Oke.

Hanya sekali.

Dan mudah-mudahan setelah dari GDSC udah dapat experience ya.

Bisa buka GDG juga ya.

Bisa jadi GDG Lead juga gitu ya.

Betul.

Dan kalau untuk temen-temen yang perempuan bisa ke Women Techmaker ya?

Iya.

Maaf ya.

Saya kan tadi sudah berubah pikiran.

Tidak mau mancing-mancing.

Semester 10.

Bentar lagi lulus janganlah.

Semester 13 lebih parah ini.

Harusnya udah D.O ya?

Harusnya udah D.O.

Harusnya gak bisa deh.

Kalau jaman aku kuliah dulu masih bisa.

Masih bisa ya.

Angetan berapa nih?

Belum banget.

Sebelum Masehi.

Sebelum Masehi.

Saya lulus semester 10.

Berarti kalau semester 10 itu 5 tahun ya.

Oke.

Normalnya 3-4 tahun kan ya.

Nah ini tadi udah kita jawab ya.

Jadi silahkan cari aja di menit-menit awal.

Kita udah jawab.

Singkatnya adalah temen-temen punya passion di komunitas.

Mungkin secara teknis udah pasti ya.

Udah pasti oke gitu ya.

Udah cukup oke.

Kemudian suka share di komunitas-komunitas.

Jadi ya kalau emang ada niat mau jadi GDI ya.

Sebaiknya ngisi-ngisi dulu.

Ya walaupun belum jadi GDI ya ngisi aja dulu gitu.

Nanti udah istilahnya udah direkognisi sama temen-temen komunitas.

Baru cari Googler ya.

Cari Mas Danang.

Mas saya mau apply GDI gitu.

Di web lagi.

- Terus kalau bikin di daerah temen-temen gak ada apa sih?

Acara offline bisa juga kan bikin tulisan, artikel.

Atau dalam bentuk tulisan bisa atau dalam bentuk bikin channel misalnya live streaming.

Atau bikin video juga bisa.

Jadi apa, bebas sih.

Gak harus sebagai speaker di acara.

- Oh iya bener.

Bikin podcast, bikin video, bikin artikel ya.

Bisa.

Atau kalau misalkan ada keinginan untuk ini ya.

Coba bikin apa, mulai dari yang kecil-kecil aja komunitasnya.

Kelompok belajar.

Tiga orang, lima orang.

Saling sharing.

Nanti lama-lama kan jadi besar.

Kemudian ya udah.

Dari situ juga udah bisa jadi portfolio kita untuk menjadi GDI atau GDG lead ya.

Terus juga ini ada masukan dari Imbre ini.

Ada program yang namanya Road to GDI.

Kalau tertarik mau jadi GDI.

Nah, program ini apa Mas?

Mungkin bisa dijelaskan sedikit.

- Mungkin Mas Imbre bisa dijelaskan ya.

- Masukin aja apa ke stream nih.

- Wah seneng nggak ya kalau disekit ngobrol.

Basically Road to GDI itu program mentoring.

Buat temen-temen yang tertarik buat GDI-GDI.

Nanti dikurasi.

Terus di matchmaking sama GDI existing.

Buat ada sesi one on one.

Saya lupa escape seminggu atau dua minggu sekali.

Selama berapa saat.

Untuk memoles supaya siap untuk mendaftar GDI-GDI.

Gitu sih.

- Wah menarik tuh.

Buat temen-temen yang bingung ya.

- Nanti kalau temen-temen mau dapat informasi tentang GDI.

Pembukaannya GDSC dan segala macamnya.

Mungkin bisa follow twitternya Google Devs ID.

Karena informasi biasanya kita sebarikan salah satu kanalnya dari situ.

Dan ini juga bisa lewat discordnya kita juga.

Di Google Devs ID juga ada.

Gitu.

- Silahkan Ible kalau tertarik.

Silahkan kita ngobrol-ngobrol.

- Kirain salah face lagi.

- Kali ini sengaja.

- Kali ini sengaja.

- Ada linknya ke landing place atau website informasi tentang yang tadi?

Road to GDI.

- Ini sebetulnya kita baru pilot kemarin.

Dan saat ini penasaran sudah ditutup.

Jadi kita lagi ngecek sambil lihat kira-kira bagaimana.

Mas Imre adalah salah satu mentor kita di Road to GDI.

Thank you banget, Mas.

- Mas Imre, terus juga Sidik ya kalau gak salah ya.

- Ya, tapi kayaknya buat yang Road to GDI ini dari Indonesia,

yang akhirnya jadi mentor, baru Mas Imre doang sih.

- Baru Imre? Wow, luar biasa.

Masih sempat ngasih anak lagi ya, luar biasa.

Kelaki yang lengkap.

- Mantap, mantap.

Ada lagi, Mas Denang, informasi-informasi yang bisa dibagikan

yang berhubungan dengan DevFace atau program-program Google?

- Rasanya itu sih.

- Again, kalau saya bisa sharing, misalnya teman-teman yang kita lagi bikin launch di Discord channelnya,

bisa ke situ sebentar, aku mungkin nanti sambil titip link kali ya, Mas ya, buat teman-teman yang...

- Oh iya, apa, Discord ya, kita baru buka Discord ya, untuk teman-teman berkomunitas.

- Aku kasih chattingnya di private chat, nanti mungkin Mas Risa bisa kasihin,

jadi linknya itu bisa masuk ke Discord kita, bisa ngobrol sama Mba Eka.

Ada Mba Eka disitu, nanti ngomong ngobrol sama Mba Eka, belum tentu juga kan,

kadang-kadang kita gak terlalu laku juga ya di Discord.

Cuman at least disitu GDE, GDG, GDLC, ada semua.

- Ada semua, jadi kalau di kotanya belum ada, bisa join di Discord,

siapa tau bisa nanya-nanya di sana gimana cara berkomunitas, cara bikin komunitas gimana,

mau bikin event gimana, bisa belajar lah, belajar barang-barang kita ya.

- Mantap. - Mantap.

- Oke, dari Eka ada yang mau ditambahin lagi? - Belum ada ya.

- Belum ada, kalau gitu mungkin cukup sekian untuk malam hari ini.

Seru sekali ya chat kita, seru sekali obrolan kita malam hari ini.

Terima kasih buat teman-teman semuanya, buat informasinya juga.

Terima kasih banyak buat Mas Denang juga yang sudah menimpatkan hadir malam hari ini,

di antara meeting-meeting. Buat yang mau follow-follow, nih Mas Denang.

Mau follow kemana? - Ini follow akunnya saya?

- Follow pribadi lah. - Pribadi boleh, kerjaan boleh?

- Iya, terserah. - Semua akun sosial media aku,

dajuf semua, D-A-N-J-U-F. Itu dari TikTok ada semua.

- TikTok? - Interes ya.

- Isinya apa TikTok? - Aku gak pernah nge-post, cuman...

- Oh, squat yang nama biarnya diambil ya? - Oh, bisa juga.

- Biar gak diambil. - Bukan itu sinyal ya.

Cuman waktu pas itu sempat ada masanya di mana banyak orang share tips fotografi

di TikTok, dan aku follow akun itu dulunya ya.

Gitu sih kalau dulu, karena seneng fotografi.

- Semuanya dajuf ya, dari Twitter, TikTok, Instagram. - LinkedIn, Facebook, Pinterest.

S-F-M, anak lama. S-F-M. Oh, S-F-M itu.

Oh ya gitu lah, Mas. Dulu kita bisa nanya sesuatu, terus kayak crowdsourcing.

- Oh, Ask S-F-M. - S-F-M.

- Saya tahunnya Google+. - Bisa nanya anggung gitu.

- Google+. - Google+ aku punya, dan dulu termasuk yang...

- Aktif? - Iya, aktif banget.

Di Discord-nya boleh nanya seputar komunitas? Boleh, ada channel-channelnya ya?

- Ada channel-channelnya. - Ya, boleh.

Oke, kalau gitu. Eka, yang mau follow-follow Eka ke mana? Ke Twitter?

- Di semua akun, Eka Fyi. - Oke.

Kalau saya Rizamie di semua akun kecuali Twitter, gak dapat soalnya.

- Yang bilang orangnya. - Twitter saya Rizamie.

Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak buat Mas Denang, terima kasih banyak buat...

...teman-teman semua yang sudah hadir. Malam hari ini seru sekali.

Kita ketemu lagi minggu depan, dan kita ketemu lagi di The Fest Terdekat.

- Ketemu di The Fest. - Selamat malam semuanya. Bye-bye.

- Bye-bye malam. Thank you semuanya. Thank you, Mas Rizamie. - Thank you, thank you.

Deskripsi asli dari YouTube

Membahas tentang DevFest 2022 yang akan segera diselenggarakan di seluruh belahan dunia. Membahas tentang apa itu DevFest, kenapa DevFest diadakan, di kota mana saja dan hal lain seputar ekosistem komunitas yang diinisiasi oleh Google. ----------------------------------------------------------------------------------- Bergabung menjadi anggota elit di kanal ini: https://www.youtube.com/channel/UCHhAlFGFCGgIusQkQIqJLYw/join Donasi dapat meningkatkan kualitas kanal ini: 💰 https://karyakarsa.com Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .