IO Connect Shanghai
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiEpisode ini membahas pengalaman para host menghadiri Google I/O Connect di Shanghai, China. Mereka menjelaskan perbedaan antara Google I/O (acara utama di Mountain View), I/O Connect (versi regional untuk berbagai wilayah seperti Asia Pacific), dan I/O Extended (acara lokal yang diorganisir GDG di masing-masing kota). Diskusi mencakup berbagai aktivitas di acara tersebut seperti keynote speech, demo booth interaktif termasuk Phone and App (ngobrol dengan Gemini untuk generate app), dan lomba gambar yang dinilai oleh AI. Para host juga berbagi cerita lucu tentang salah pasang channel penerjemah saat menonton presentasi berbahasa Mandarin, serta membahas panel diskusi tentang web dan AI termasuk Gemini Nano.
Poin-poin Utama
- •Google I/O Connect adalah versi regional dari Google I/O yang memungkinkan developer bertemu Googler tanpa harus ke Amerika
- •I/O Connect Shanghai mencakup peserta dari seluruh Asia Pacific, China, Australia, dan New Zealand
- •Ada demo booth interaktif seperti Phone and App untuk generate aplikasi dengan Gemini melalui voice
- •Presentasi keynote menggunakan bahasa Inggris namun slide tetap dalam bahasa Mandarin
- •Panel diskusi web fokus pada AI termasuk Gemini Nano dan interoperability dengan custom model lain
- •Sayangnya tidak ada workshop khusus web tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya
- •Kultur tech conference di Silicon Valley sangat aktif dengan meetup hampir setiap hari dalam seminggu
[MUSIC]
[TINGGALOW]
[TINGGALOW]
-Halo, halo. -Beda pembukaannya sekarang.
-Oh, pembukaannya beda ya? -Gak ada itu.
-Iya. -Sama.
-Ebak-tebakan. -Bukan.
-Gak ada itunya. -Gak ada pesan sposongnya.
-Oh, belum. -Belum.
-Pesan sponsornya. -Kalau ada yang mau, silakan.
Disponsori oleh belum ada sponsor.
[TINGGALOW]
Iya, iya, iya, iya.
Oke, oke.
Wah, ini udah lama gak live ya, padahal baru seminggu.
-Iya. -Pakai baru semuanya.
-Pakai baru selama ya. -Pakai teman-teman yang baru habis dari Shanghai.
-Makin gemuk. -Makin gemuk, banyak makannya enak ya.
Wah, luar biasa.
Gua tuh di hotel ada timbangan badan, tapi gua gak berani timbang badan sendiri.
-Kenapa? -Sama, gua pake buat timbang koper dong.
Sama, gua juga timbang koper dong di akhir acara.
-Kaya, "Aku lihat badan gua naik." -Takut menerima kenyataan.
[TINGGALOW]
-Iya, jadi... -Kenapa Mas Liza gak ikut?
Kenapa ya, gak bisa.
Hilang deh roommate saya.
-Ulah, emang bakal satu kamar juga, gak mungkin ya. -Gak sih.
-Iya, jadi gua... -Koyanginnya sama istri, terus di tengah-tengah ya Mas Liza.
Bahaya itu.
Lihat transkrip lengkap (1196 segmen lagi)
Gua jadi setan, jadi... jadi setan ke orang ketiga.
Orang ketiga setan.
Ada istilahnya itu kalau di web, third party.
-Third party kukis. -Third party kukis.
[TERTAWA]
-Diskusi apa ini? -Di kue.
[TERTAWA]
Oke, sebelum kita semakin gak nyambung ya sama teman-teman, mungkin bingungin nih yang nonton ya.
Teman-teman dari LinkedIn, dari YouTube ya, "Ini ngomongin apa sih?" gitu.
Jadi, minggu lalu ya, minggu lalu itu kan kita gak live.
Karena teman-teman dari Google Developer Expert diundang ke Google I/O Connect.
Di China, lebih tepatnya di kota Shanghai ya.
-Kota ya? Itu kota? -Kota, kota gede banget.
-Gede banget katanya. -Kota. Nah yang masih bingung, apa itu I/O, ada I/O...
-Connect. -Ada I/O, ada I/O Connect, ada I/O Extended.
I/O, acara tahunannya juga yang di Mountain View ya, Simpon Valley.
Yang disana acara tahunan, yang ya kita ada watch longnya juga kan tuh di GDG Discord.
Untuk mengumumkan semua teknologi baru, produk baru, ya punya update-update yang menarik.
Ada demo-nya, ada apa nya, ada demo, ada aktivitas, macem-macem lah.
Nah, terus setelah I/O, biasanya ada I/O Extended.
-I/O Extended. -Maksudnya lokal di masing-masing kota.
Yang diorganisasi dan terbiadakan oleh teman-teman GDG ya, GDG di masing-masing kota ya.
-Masing-masing kota yang ada GDG-nya. -Iya, ada di Jakarta, ada di Bandung, ada di Jogja dan lain-lain.
Itu tujuannya buat bahas atau menggosipin konten-konten yang dari I/O tadi.
Nah, tapi si Google I/O nya sendiri itu kan semua ekosistem developer yang di Google Developer Community,
itu kan enggak memungkinkan secara logistik buat didatengin ke San Francisco, ke Amerika semua.
Nah, gimana caranya biar para Googleer bisa ketemu sama ekosistem developer.
Nah, sejak beberapa tahun terakhir kali ya, dua, tiga tahun terakhir itu, diada ini yang namanya I/O Connect.
Jadi, itu region. Jadi, kalau yang kita kali ini nih, di Shanghai ini, APEC Asia Pacific dan punya China,
seluruh Asia Tenggara sama Australia dan Mozilla itu dijadikan satu.
Jadi, bisa mendapatkan experience yang mendekati I/O lah.
Ada keynote speech nya, ada demo booth, ada interaksi, ada bisa ngobrol langsung sama Googleer,
ya nanti bakal kita bahas lebih detail.
Jadi, ada di Asia, terus EMEA ya, Eropa sama Afrika, event sendiri.
Terus Amerika, mungkin Amerika Utara sama Amerika Selatan ya, Amerika Latin,
ya gabung ada event sendiri, begitu kira-kira.
Ada satu lagi di Bangalore, khusus India, ada India di Bangalore.
Oh iya, waktu itu sempat kalian pergi juga ya.
Iya, tiga tahun lalu.
Tiga tahun lalu, iya, iya, iya. Nah, ini teman-teman yang nonton, mungkin pengen tau dong siapa yang ikutan I/O Extended
atau yang pernah, yang pernah ikut, yang pernah nonton lah, yang pernah nonton I/O Extended di kota masing-masing.
- Ya, seru, seru. - Pernah dengar Alvin Prayuda hadir di Google I/O Mountain View,
- iya, sebelum apa ya, sebelum, - Sebelum bergerak, sebelum winter ya.
Iya, sebelum winter juga, beberapa orang yang terpilih itu memang diundang kesana.
Cuman ketika apa, mulai Covid, winter dan lain-lain, acaranya juga tidak dibuka untuk terlalu banyak orang, gitu.
- Iya, tidak terlalu besar. - Terus lain itu juga jumlah developer GDI, GDG,
punya dari ekosistem developer Google juga jauh bertambah banyak sih, lebih banyak, jadi kayak lebih sulit kalau semua harus dibawa kesana.
Dan sebetulnya, limited sih, ada yang diberangkatin kayak tahun ini, kemarin yang diberangkatin ada satu orang ya, dari Indonesia, Mas Dana.
- Hmm, iya, iya, iya. Karena dia dananya banyak. - Iya, dia adalah Dana. Bukan dananya banyak, dia Dana, dia satu, tapi dia Dana.
- Dananya satu. - Gapetnya sih jobnya Irvan.
- Tadi dari ikonnya mana, udah lupa. Jadi Dana itu adalah salah satu GDI firebase sama AI sekarang ya. - Iya, dan AI juga ya.
- Jadi Leo diberangkatin ke Mountain View, mewakili kita semua.
Dulu beberapa tahun yang lalu, kalau nggak salah, sebelum Covid juga, sempat diundang juga, cuman tidak dibayarin full, jadi kayak subsidi.
- Eka ikut ya, itu ya? - Enggak.
- Kan sempat Eka ikut sekali kan? Oh itu ya GDI. - Gak, bukan. Itu GDI same.
- Gak pernah, sejak gue jadi GDI, udah Mas Quinter sayangnya, jadi udah nggak pernah... - Tapi kan lu pernah ikut yang...
- Di Bali, GDI summit. - Bukan, yang pernah ikut yang soal AI pertama, kalau nggak, di US.
- Eka pernah ikut sekali. - GDI bootcamp, bootcamp, bootcamp.
- Bootcamp, bootcamp, bootcamp. - GDI bootcamp, expert bootcamp, cuman nggak pernah ngerasain yang literal di Google I/O, liat Kak Sundar ngomong...
- Enggak, saya juga nggak pernah. Belum dapet kesempatan begitu ditawarin, tapi harus bayar setengah ya kalau nggak salah.
Dan setengahnya itu Taula sendiri ya, kalau ke Amerika ya. Lumayan.
- Berarti yang ngerasain, yang ngalamin itu, berarti GDI dari generasi yang lawas banget ya? - Sebelum-sebelum kita.
- Generasinya Mas Andrew, Sidi. - Iya, Sidi dan lain-lain.
- Dan dulu GDI pun diberangkatin ya. - Iya betul, GDI diberangkatkan.
- Ah, tapi Mas Rica kan juga diberangkatkan saat meta, eh Facebook punya acara juga kan di San Jose.
- Kan beda komunitas, beda komunitas. Walaupun di satu area, itu biasanya 3 tuh, berturut-turut.
Jadi F8 dulu yang meta, Facebook, abis itu Google I/O, biasanya dilanjutkan dengan Apple.
- Apple. - Iya, jadi pada saat Q1 ya.
- Summer, summer semua itu. - Q1 apa Q2 gitu yang menjalankan Q2 setiap tahun itu.
Dulu ya, nggak tahu sekarang ya. Dulu. Jadi daerah Mountain View dan sekitarnya itu.
- San Jose. - Harga hotel itu naik.
- Itu naik karena susah. - Oh iya iya, karena apa? Pick season kan berarti?
- Pick season, iya. Itu pick seasonnya di saat itu gitu. Jadi banyak konferensi di sana.
Dan rame sekali, kalau kita misalkan naik Uber gitu, mereka udah bisa nebak nih.
Kalian mau ikut acara apa nih? Udah tahu dia. Karena udah setiap tahun seperti itu.
- Tapi lu juga ya, pick season karena musim conference. - Iya, musim conference.
- Biasanya kan karena apa ya, public holiday. - Karena liburan.
- Biasanya kan karena liburan sekolah. - Ya, tapi ada juga, ada banyak juga acara yang lain.
- Kayak si Github, Github Universe, apa lagi itu Github. - Iya banyak, banyak, banyak.
- Universe yang berdekatnya juga. - Okto, Oktoverse ya, Oktoverse.
Iya Oktoverse juga ada di sana. Terus nanti ada event-event yang lebih.
- Kalau ada banyak event, terus jadi banyak mitap-mitap juga. Jadi full. - Betul.
Satu season itu jadi acara besar, terus mitap kecil-kecil, acara besar, mitap kecil-kecil.
Itu menirankan sih jaman itu sebenarnya.
Kalau meet-up, kalau meet-up di sana memang jalan banget.
Kalau dapet pocoran dari orang sana, katanya seminggu bisa lima hari itu ada meet-up semua.
Setiap hari, setiap hari sampai Jumat itu meet-up, beneran literally ada offline meet-up.
Jadi setelah pandemi ya, kalau dulu lebih parah lagi, lebih parah, lebih banyak lagi.
Bisa ada yang berbarangan gitu. Setiap hari ada meet-up. Setiap malam.
Seru juga ya kalau sekali berangkat ke sana, kayak sebulan semua buat meet-up, networking.
Iya, jadi kalau anak kuliah gitu ya, bingung cari makan, datang aja ke meet-up, dapet pizza gratis.
- Iya juga ya ngobrol-ngobrol. - Iya kan? Pasti dapet belum sih kan?
Cuma mungkin kayak gitu ya. Makanya di sana ada kultur start-upnya tuh kayak semua orang bisa bikin start-up gitu loh.
Yang kayak ketemu orang random di jalan, pada punya start-up semua.
Karena ya pada berburu kayak gitu, makannya makan seadanya, konsumsi meet-up atau apa-apa.
Tapi pergi ke banyak tempat, pitching ide, siapa tahu dapet investor.
Padahal niat mau makan gitu tiba-tiba, "Eh, jualin company kita." Oh boleh. Tiba-tiba ke air aja gitu ya.
Tiba-tiba di atresisi.
- Tiba-tiba di atresisi. - Ini juga ngareng sih, cuma kayaknya seru aja.
Iya, ngomong-ngomong soal itu kayak pitching ide gitu, saya ingat jadi di I/O Connect ini ada satu demo booth.
Cuma nggak sempat foto aja, namanya phone and app.
- Apa tuh? - Phone and app, jadi kayak booth telepon.
Ya kan? Kayak booth telepon gitu. Terus kita angkat teleponnya dan ngomong sama jamanai.
- Oh, oke. - Terus kita kasih ide-nya kita, nanti dia ini, dia kembangkan ide-nya dan jadi app.
- Itu dimana sih yang sampingnya lomba-lomba gambar? - Iya sampingnya ngomong-ngomong sama lomba gambar.
Bukan lomba gambar, itu apa namanya, kayak ada dia suruh gambar misalnya dinosaur, terus kita susun-susun legonya jadi dinosaur.
- Terus dinilai jurinya sama jamanai, vision. - Jurinya jamanai.
- Oh nggak, ada yang lomba gambar juga, ada yang suruh gambar. - Ada gambar ya? Oh, aku nggak lihat yang gambar.
Ada, ya kayak gitu juga. Cuma ada brief-nya jadi kayak misalnya kucing, terus gambar yang nilai jamanai seberapa mirip.
- Oh, nggak, nggak. - Sampingnya ramalan.
- Nggak salah, gua langsung kabur ke web. - Gua malah nggak sempat ngebayang phone and app itu.
Jangan nanti bahas detail aja.
- Mas Abu datang ke Jakarta, berarti ketemu dong kita, melihat saya dan Ivan.
- Dari jauh. - Dan waran. Iya, ditodong jadi panelis, padahal nggak ada topiknya.
- Kan seru. - Padahal datang menonton.
- Iya, padahal datang menonton, udah bayar lagi. Pas lagi ngantri, selalu masuk langsung.
- Bayar bener. - Bayar dong, kan itu pake commitment fee.
- Oh gitu, terus kembali nggak? - Ya nggak lah.
- Bukannya commitment fee. - Kan nggak dateng.
- Hah, kok nggak dateng? Dateng kan? - Kan nggak daftar masuk, kan langsung disuruh masuk lewat jalur belakang, lewat calon.
- Itu dia anggap nggak dateng, jadinya nggak balik. - Ya iyalah, kan nggak absen.
- Mana nggak ngambil nasi kotak lagi. Oh nggak ada ya, nggak ada, peserta nggak dapat ya.
- Kita makan di tempat lain. - Peserta nggak dapat.
- Tapi dapet speaker dinner. - Iya, dapet speaker dinner, nggak juga. Kita dinner sendiri.
- Nah apa pengalamannya di ini nih, pengalaman di Shanghai. - Gimana-gimana, kan kalau tahun lalu kan di Beijing, tahun ini di Shanghai.
Sebenernya sebelum kita ke I/O-nya, bahas kotanya dulu deh, antara Beijing sama Shanghai.
- Ini belum konten acaranya berarti ya? - Iya, belum.
- Eka lebih banyak jalan-jalan. - Shanghai lebih panas, kata Ivan ya.
- Nah nggak tahu karena Shanghai versus Beijingnya, atau pemanasan global ya, atau mungkin time off.
Cuma waktunya sih exactly sama kayak tahun lalu ya, nggak tahu lah, panas, panas banget.
Jadi kayak selama ini kan ngerasa kita tinggal di Indonesia tuh tergelong panas ya, itu nggak ada apa-apanya.
- Nggak ada apa-apanya? - Pas di sana, tuh kayak udah nggak bakal komplain lagi ke panasannya.
Di sana tuh apa ya, jadi kan sebelumnya gue sempat jalan-jalan ke kota lain namanya Hangzhou,
kayak itu naik kereta tuh satu jam lah dari Shanghai, mungkin kayak Jogja Solo kali ya.
- Ya gitu, pokoknya pas keluar... - Jakarta-Bandung sih.
- Gak sih, kayaknya lebih deket. Eh, terus keluar kawannya panas.
Cuma sebetulnya banyak pohon dan lain-lain sih, hijau gitu, terus dari jauh lihat kayak banyak angin.
Kan baru keluar stasiun nih, masih lagi apa, masih teduh, masih ada atapnya,
cuma dari jauh mikir, oh ya udah walaupun panas, tapi banyak angin lah berisi silir, lumayan.
Eh, pas keluar, selain panas, mataharinya panas, anginnya juga panas karena saking awannya panas.
Anginnya anget, tau nggak? Kayak cuci tangan tuh, kalau di toilet cuci tangan, ngeringin tangan dry air kan anginnya besar,
tapi anginnya anget, nah kayak gitu. Udah, jadi sudut rata-ratanya tuh punya 37-38,
tapi kan di weather app biasanya ada tulisannya feels like ya, rasanya seperti berapa,
itu rasanya seperti 42-44.
- Tapi panas dari Surabaya ya? - Oh iya, punya lebih panas dari Indonesia menakut.
Nah, terus pas ada jalan-jalan di semacam, ada danau yang cukup besar banget,
ada danau, terus kayak ada pulau-pulau kecil, agak mirip yang di San Francisco,
Pier itu, tau nggak sih, yang kayak pelabuhan, terus kayak kehubungan pulau kecil-kecil,
nyambung sama situ, ya agak mirip itu, terus lagi jalan, ya jalan iseng, muter-muter,
tempatnya enak sih, bagus, maksudnya, dan besar banget, dan penuh, cuma penuh kemana-mana penuh orang,
karena ya emang di sana banyak orangnya, satu, dan dua, emang itu lagi libur musim panas.
Nah itu selain penuh, jalan, panas, saking panasnya, tiba-tiba jam tangan smartwatch itu ngerestart sendiri,
saking panasnya, tiba-tiba ngerestart, terus ada tulisannya over-heated, restarting, atau semacamnya,
nggak tau, cuma jalan aja, cuma tiba-tiba ini sampai over-heated gitu, ya gitu lah punya panas.
Nah, terus bedanya sama Beijing yang lain apa ya? Subjektif sih, kayaknya,
terus Shanghai itu kayak arsitekturnya lebih apa ya? Pasik kali ya?
Jadi ternyata Shanghai itu, baru tau gara-gara ini juga, jadi googling,
apa, pernah ada kolonial Eropa, atau gimana gitu, jadi style gedung-gedungnya itu Eropa banget sih,
arsitektur gedungnya, kalau Beijing kan kayak cuma gedung-gedung tinggi banget,
sama ya kayak, ya jalanan, ya punya gedung-gedung tinggi, tapi ya style-nya gitu-gitu aja.
Kalau Shanghai itu ada quarter yang punya yang style-nya masih Eropa banget.
Terus apa lagi ya bedanya selain arsitektur, cuaca, kalau yang kesamaannya sih sama-sama ada itu,
transport, public transportnya bagus banget, gampang banget.
- Bagus ya. - Bikable banget di mana-mana ada, itu yang sewaspeda yang murah lah,
dan di mana-mana ada, itu sih sama sih. Terus kayak, apa ya, itu kan kotanya besar,
jadi apa ya, kita di Indonesia tuh, Indonesia itu kan luasnya, kayak apa,
sebenarnya luas, tapi pulau-pulaunya kan kecil kan, dan kita selama ini juga banyak mikir,
ya Java sentrik lah, terpusat di Pulau Jawa, dan terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa,
kalau ngomongin transport public kan. Nah, kalau di sana kan udah luas banget,
itu daratan semua cuy, gila. Jadi Shanghai-nya sendiri itu kan besar banget,
dan apa ya, kayak ada macem-macem. - Ada sungai-sungainya juga tapi.
- Ada sungai, ada apa, ada segala macam. Terus gimana caranya menghubungkan area yang luas banget itu
dengan orang sebanyak itu, aktivitasnya banyak ke berbagai tempat, kayak, nah itu metro sistemnya,
itu software koneksi. - Keren.
- Luar biasa ya. - Iya.
- Dan semua dalam satu app. - Super app.
- Pakai si Ali itu Ali Pay, dan bisa untuk segala mode transportasi,
bisa buat metro, subway, konon bisa buat bus, belum nyoba naik bus sih, cuma bisa.
Bisa buat sepeda, dan ke kota lain, bahkan ke kota lain, ke Hang Chou,
itu kan sebetulnya kayak pemda atau pemkot atau apa lah, pemerintah daerahnya,
itu kan sebenarnya beda ya, terpisah sama Shanghai.
Mereka punya sistem metro sendiri yang lebih kecil, bisa integrate pakai ASIP juga,
pakai satu app juga. Bayangin dong kalau di sini.
- Satu app buat semua, satu man buat semua. Semua QR code.
- Di kota A naik bus harus download app ini, kalau mau naik kereta harus pakai app itu,
kalau pindah kota B naik bus harus pakai app ini, naik kereta harus pakai app itu,
sepeda pakai app itu, kota C, ya kebayang kan kalau di sini ribetnya, kalau di sana beneran seamless sih.
- Chris, Chris nggak bakal. Mereka, nggak bisa, nggak bisa.
Justru mereka yang mau harus, orang yang datang harus ngikutin produknya mereka,
yang mereka bikin. Justru nggak pakai... - QR sih, semua pakai QR sih mereka,
semua pakai QR, tapi bukan Chris. - Ya, yang QR itu di Bangkok,
ya di Bangkok kita pernah coba, bisa. - Ya, kita beli apa itu, beli jus manga ya, Mas Riza?
- Beli minuman ya, minuman. - Ya, minuman manga,
terus pakai QR, tes, eh bisa gitu.
Sama swagnya bagus, Mas Riza, kali ini Mas Riza ngomongin swagnya, itu keren.
Ini saya mau tunjuki nih sesuatu yang keren, ini pakai istri saya nih. Tadi ya.
Apa itu? - Swagnya...
Eh, ya benar ya. - Jacket, kaos, buka.
- Ya, jacket. - Oh, gua remote dulu, gua remote lu.
Mana, mana, mana, ulang, ulang. - Add nggak?
- Nggak, add lagi, dah, dah, dah. - Hello.
- Oh itu jacketnya. Oh, yang hijau. - Nah, menyesuaikan, jadi apa,
ke-refund lokal, apa misalnya nyesuaikan kondisi lokal, jadi itu jacketnya emang jacketnya tipis,
tipis banget. Ya, biar adem nyarep keringat, terus ada itunya, ada hudinya, sama ya itu yang,
apa, tangan bisa masuk, tau kan, jacket buat lari, karena emang itu kebutuhan, kebutuhan.
- Panas banget. - Tapi kalian foto pakai swag itu jadi kayak TNI lho.
- Pernanya hijau begitu. - Ini full-nya, ini full-nya.
Ini full-nya kalau mau lihat. Tuh, full kan. Tuh, tangannya bisa masuk, Google Developer Expert.
- Mantap. - Senang dia pakai jacket ini.
- Iya. - Ketutup semua tuh, sampai semuka-muka.
Terus, ya, kalau dari saya, disana tuh foto-foto, jalan-jalan, makan-makan, shopping-shopping.
- Sama shopping-shopping, semua, dan terakhir tuh 100% cashless.
- Nah, itu tadi berbahas itu sih. - Dari Beijing juga cashless kan?
- Iya. - Dari Beijing juga udah begitu kan?
- Iya, maksudnya confirm di berbagai kota, di kota manapun, emang kayak gitu,
bukan Beijing doang yang ibu kota. Jadi, gue bahkan nggak bawa cash sama sekali.
Tadinya pengen bawa cash, cuma di Money Changer terdekat tuh kayak nggak punya pecahan kecil,
cuma paling kecilnya 100 atau berapa ratus. Terus kayak, "Ah, males, soalnya tahun lalu udah bawa cash."
Malah banyak kan nggak kepake kalau ditukar lagi, kan jadi berkurang kan, rate-rate-jual sama beli lain kan.
Terus akhirnya, ya udahlah, nekat aja nggak bawa cash, beneran nggak kepake sama sekali.
Nggak ada kondisi apapun yang perlu cash. Dan mereka biasanya super multiple itu.
Rata-rata kan kita mau dimajuin pake Qrease, Qrease, banyak sudah pake Qrease,
tapi akhir-akhir ini saya undang-undang banyak nggak mau pake Qrease lagi.
Jadi kalau saya bilang pake Qrease, bisa nggak? Transfer aja deh, saya tanya.
- Iya, menyediakan transfer. - Banyak, banyak masalah.
Kan, Qrease pun belum terintegrasi secara full, karena biasanya nanya-nanya, "Qrease dari bang apa?"
Biasanya kan gitu. Padahal tujuannya kan supaya seamless, kan.
- Ternyata... - Nggak ada masalah bang apapun.
- Oh, katanya... - Kalau bisa.
- Lagi di apro sama BI, masa sih. - Nice, kalau berhasil, ya.
- Kita lihat saja siapa yang menang. - Kalau yang setahun saya, Qrease itu...
Karena kan si Alipay itu ada di Indonesia, kan? Alipay masuk ke Indonesia, kan? Tapi Qrease kan belum, kan?
Tapi nggak bisa dipake bayar, kan, di Indonesia? Memang bisa?
- Oh, nggak tahu. - Oke, sudah.
Namanya Alipay? Masa nggak bisa bayar Alipay?
Nah, dia kan... jadi Alipay-nya sendiri itu menarik sih. Dia kan satu service.
Dia tuh punya kayak jadi mini-app, kayak applet gitu, buka webview di dalam webview.
Banyak banget. Nah, kalau udah sampai situ, Alipay-nya itu berfungsinya jadi kayak SSO gitu lah.
- Jadi kayak out semacam SSO. - Iya, sama payment. SSO sama payment aja.
- Iya. - Iya.
Jadi bisa aja Alipay-nya yang payment via Alipay-nya belum bisa.
Tapi mungkin dia beroperasi sebagai ya itu kayak maklar service-service lain, nggak tahu sih.
Nah, kuncinya sebenarnya di situ, kan? Karena payment itu langsung connect ke kartu kredit, makanya bisa dipakai untuk semua jenis transaksi.
- Misalkan kayak sepeda, bis. - Tapi saya nggak pakai kartu kredit sih, Mas. Saya pakai jenius debit.
- Virtual card boleh. - Iya, virtual card.
- Iya, seisi sal. - Iya, ada pilihannya macem-macem.
Iya, kalau... eh, debit bisa ya? Baru tahu juga.
- Karena kan kalau misalkan kayak naik sepeda gitu kan, kayak Arbo gitu misalkan kreditnya harus gimana tuh? - Oh.
Kalau sepeda beda. Kalau sepeda itu kita... saya ya, saya top up sepedanya itu untuk 7 hari.
- Oh, per kilometer ya? Iya, iya. Oh, per hari. - Oh, itu macam-macam sih. Ada paketnya.
Jadi kayak paket itu, ya itu ada itunya, ada paket-paketnya 7 hari, bayar misalnya berapa, 5 yuan.
Bisa buat maksimalnya 2 jam atau berapa ya, pokoknya ada terms-terms-nya deh.
Enggak, tahun lalu kan sempat ngobrol sama siapa gitu ya. Cuman penasaran aja kayak misalkan sepeda itu.
Orang-orang sepeda nggak dibawa pulang tuh sepedanya, atau nggak dimaling atau gimana gitu kan.
Itu kan konek ke kartu kredit. Semakin jauh kita jalan, semakin habis kartu kreditnya itu yang bikin dia masih aman gitu kan.
Tapi sebenarnya kan bisa juga kalau memang mau usil, nggak usah buka sepedanya, curi aja kan bisa.
Diambil dimasukin ke pick-up itu lebih sempat.
Nah istri saya juga bertanya hal yang sama, ini sepeda, itu bahan sepedanya bagus loh mas, kayak besi itu.
Kalau diketuk-ketuk itu, dan berat. Berat, bagus. Gak ecek-ecek deh, meskipun dia made in China nggak ecek-ecek, Cik.
Nah, satu yang saya bilang, saya baru ngeh setelah jalan-jalan kemana-mana, itu CCTV satu sudut aja bisa 4 CCTV.
Nah baru mau bilang gitu. Sebenarnya kan pakai kartu kredit atau nggak, nggak nge-prevent orang paling sepedanya.
Yang nge-prevent adalah itu, big brother nge-watching.
Itu istri saya bilang, ini kok kayak rasanya nggak ada yang usil gitu, kayak yang orang usil yang berniat jahat,
buang sampah pun nggak ada yang, maksudnya nggak ada yang sembarangan sengaja buang sampah, itu nggak ada.
Terus nggak ada yang berusaha kayak, kayak nawarin-nawarin kita, maksa-maksa gitu, nggak ada gitu.
Atau yang berusaha nyuri, itu kita nggak lihat ada orang yang berusaha nyuri, atau berusaha nyopet, itu nggak ada.
Oh aman, aman banget disana.
Nah, terus saya mulai nyadar, terus kemudian saya bilang, mungkin kalau disini pencuri atau perampok itu,
bisa berhasil melakukan operasi sekali atau maksimal dua kali, setelah itu ilang mereka itu kayaknya.
Karena semua sudut itu ada kamera, mungkin dia berhasil nyuri sekali kan, tapi besoknya orangnya ilang pasti.
Ya nggak, terus kalau kasus kayak sepeda itu kan sebelum bikin akun, itu kan nge-upload identitas dulu.
- Nge-upload identitas. - Iya, justru itu, justru itu makannya.
Sepedanya pasti ada chipnya juga kan, ada trackernya pasti, nah misalnya dia nyolong atau merusak sepeda,
ya gampang banget lah di tracknya di kombinasi dengan data dari CCTV jalanan, kapan terhasil di track, kapan nya buka.
Nah, kalau yang tadi pertanyaan soal Argo tadi, gue juga koneknya ke Virtual Card, Virtual Card Genius juga top up.
- Kalau abis... - Genius bisa buat di payment luar negeri, bisa aman, aman.
Bisa, ke charge nya itu kepotongnya abis selesai, jadi kalau udah selesai,
jadi ternyata nggak auto, kan kirain bakal kepotong otomatis ya, kita kebiasaannya gitu kalau udah masukin kartu kan,
ini nggak jadi kayak totalnya seberapa, kita nge-click pay, ya abis itu baru kepotong.
Kalau misalnya kita cuekin aja, kita nggak pay, ya nggak tahu kalau yang kemarin sih karena jumlahnya kecil banget ya,
kayak cuma 1-2 yuan, konsekuensinya cuma nggak bisa unlock, selanjutnya pas mau pake lagi, ya nggak bisa, suruh bayar dulu.
Sama kalau naik kereta, naik metro juga gitu, kalau belum di pay, jadi nggak bisa naik kereta lagi.
Nah, pertanyaannya kalau naik kereta muter-muter sampai billing-nya puluhan yuan atau naik sepeda,
berhari-hari sampai feeling-nya ekstrim, itu apa yang terjadi ya nggak tahu sih. Cuma ya pasti udah gitu.
Coba dong tahun depan, coba tahun depan.
Sekaligus mau sharing tips buat teman-teman, kalau misalnya mau keluar negeri, mau jalan-jalan atau ada urusan,
saya kalau keluar negeri, sebisa mungkin menghindari menggunakan credit card, sebisa mungkin.
Pertama, saya pakainya jenius, bukan lagi promo jenius, tapi karena di jenius itu kan bisa ada ini ya,
bisa ada, bisa create account currency asing, ya kan, dan bisa di link ke main card-nya.
Jadi, bisa rupiah, saya punya rupiah, Hong Kong, Chinese Yuan, Singapura dollar, US dollar,
saya bisa create berbagai macam currency account.
Nah, kedua, kalau misalnya kita beli currency-nya saat di jam apa, maksudnya currency conversion-nya si jenius itu,
menurut saya masih yang terbaik, compared daripada bank lainnya.
Jadi, kalau kita mau beli, jadi spread-nya mereka itu antara jual dan beli, kecil dibanding sama bank lain.
Jadi, saya tuh suka tuker dari rupiah, misalnya ke Chinese Yuan, itu sudah saya budget-in.
Oke, sekiranya kalau lagi di sana, saya udah hitung-hitung tuh kalau makan sekian, kalau ini sekian, itu sekian.
Saya sudah transfer dan convert dulu ke Chinese Yuan, ya kan? Baru saya umumkan M card-nya.
Nah, jadi kalau dengan teknik seperti ini, saya bisa pastikan, misalnya, oke, kalau saya pakai belanja,
itu jadi terlimit, karena sudah saya bayar duluan.
Jadi, kalau saldo-nya habis, ya sebentar lah, gitu ya, sudah, berarti budget-nya sudah habis.
- Ketimbang saya pakai credit. - Jadi itu untuk keperluan budgeting-nya?
Budgeting, iya, terus kemudian kalau misalnya kita pakai...
Nah, terus tilang tukarnya sama standar FUSA atau Mastercard masih lebih bagus sih, itu berarti?
Iya, bedanya kalau saya pakai misalnya card-to-credit,
itu nanti spread-nya diambil oleh card-to-credit itu jadi lebih tinggi daripada kalau saya tuker duluan pakai jenius.
Contohnya, satu Chinese Yuan ke rupiah itu di Rp2.260 saat saya beli.
Bisa jadi kalau misalnya saya pakai card-to-credit, kita kan nggak bisa lihat berapa duitnya dikonversi sampai besoknya.
- Sampai charge-nya masuk kan? - Iya, karena di card-to-credit-nya kan di aplikasi belum kelihatan,
besoknya baru kelihatan setelah disetel biasanya.
Ya lagian card-to-credit kan pas transaksi emang nggak bisa langsung ketahuan berapa kan karena belum di-charge kan, itu kayak pending gitu kan.
Betul, jadi saya besoknya baru lihat ya ampun, dia bisa Rp2.300-an.
Jadi bisa mengambil lebih tinggi currency conversion-nya.
Ya kalau misalnya cuma belanjanya Rp100 Yuan-nya nggak sakit, tapi kalau sudah sampai Rp1.000, ya lumayan kan?
Meskipun selisih Rp100, kalau kali Rp1.000, sudah Rp100.000 selisih hanya dari konversi.
Jadi plus minimalisir dua hal, yang belanjanya jadi nggak karuan, contohnya asal gesek ya kan.
Karena bedanya kalau kita melihat harga, itu disana itu cuma Rp20.000-an, Rp50.000 dibanding dengan kalau kita lihat Rp50.000, Rp100.000.
Kan sakit ya kalau belanja Rp100.000 gitu ya, wah mahal amat.
Kalo sedangkan disana Rp100.000 itu setara dengan Rp40.000, Rp40.000 misalnya.
Kan angkanya lebih kecil secara visualisasi dan psikologi.
Kita melihat Rp40.000, ih kecil ah cuma Rp40.000 dibanding lihat harga Rp100.000.
Enggak, ini langsung dikali, ini murni karena Ivan kemarin bawa istri, gue aja.
Kalo dulu mah enggak pake kartu kredit, biasa waktu sama kita-kita.
Pake Jenius, wah. - Ah enggak, waktu Chris di Bangkok juga enggak, itu kan pake langsung aplikasi banknya kan.
- Itu kita ngetes, ih coba pake, tapi ya bisa juga sih. - Nggak bisa kan, ada satu bank nggak bisa kan.
- Iya waktu itu kita satu bisa ya kalau nggak salah pake BCA, BCA nggak bisa, CMB bisa, CMB bisa.
Itu karena pengen belanja aja, karena memang ada niat belanja.
- Kedua, jadi keren kalau misalnya saldo-nya habis, ya sudah berarti udah habis budget, jangan ditambah terus.
- Nggak ko, ini murni Ivan aja, kalo saya mah udah siap converter di handphone, jadi begitu ngeliat Rp40.000 udah dikali berapa gitu, udah pasti.
Nggak, nggak bakal ketipu. Tapi memang ada faktor itu sih, ada faktor itu.
- Biasanya kita bulat kita kan. - Waktu kita ke US, dulu ingat nggak kita ke US?
Semuanya 1 dollar, 2 dollar, 2,9 kan enak, tap-tap-tap, semuanya di-guessing aja.
- Udah gitu nih, malah kita tuh, dollar itu masih 1 dollar 10 ribu, jadi kita ngitung 10 ribu, padahal 15 ribu gitu, nggak.
- Kalau 15 gitu 15 ribuan. - Iya 15 ribuan gitu kan, iya sih memang.
Cuman nggak segitunya sih, nggak segitunya.
- Nah ini, eka nyobain dimsum nggak? - Oh nyobain dong, segala makanan yang bisa dimakan.
Ternyata dimsum ada yang selain ada yang asin, ada yang manis, isinya kayak kacang merah gitu.
- Nggak tau apa ya, red bean kalo di translate gitu. - Red bean.
Oh kalo dimsum kita pernah liat, tapi nggak nyoba ya, kita pernah liat tahun lalu di Hongkong ya, dimsum apa waktu itu?
- Dimsum apa somai ya, siomai ya, siomai. - Oh kita lihat bareng yang disebrangnya tempat kita ngopi ya.
- Iya disebrangnya tempat ngopi, iya. - Kalau yang di Shanghai kemarin, dimsumnya kecil-kecil gitu, kecil-kecil banget.
Terus kayak apa, dilipetnya kayak ada motif-motif, bentuk pattern-nya lucu-lucu gitu lah.
Oke, foto-foto, jalan-jalan, makan-makan, shopping-shopping, cashless-cashless, AI-AI, AI ini apa?
- AI-AI. - Nah itu akhirnya kalo topiknya adalah semua akan menjadi AI.
- Saya coba cari food. - Topiknya disini ya? Eh mana dia?
- Bentar, ini ya? - Iya disitu ada, coba diliat dulu.
- Yang web ya? - Topik web dikit banget.
- Was new in Chrome, extension. - Oh, spri saya ilang.
- Ilang ya, extension, terus nano, DevTool, AI, oke lah masih ada yang lain gitu.
AI-nya cuma berapa gitu, satu, dua, tiga, dua doang. Yang lainnya kan bukan AI, oke lah.
- Nonton semua ini, nonton semua? - Enggak.
- Temen-temen bisa nonton loh. - Bisa didekon kan?
Bisa, ada YouTube-nya, jadi kalo temen-temen mau nonton, ini bahasa apa?
- Inggris. - Kasi Inggris kalo keynote-nya.
- Ada dua ya? - Nah, terus ini yang sama kayak tahun lalu sih, yang menarik.
Menariknya menarik sih. Kalo keynote-nya yang oleh Googler itu kan hampir semua bahasa Inggris.
Tapi ada beberapa workshop yang bahasa Cina. Cuma kalo web tahun ini tuh malah gak ada workshop sama sekali sih.
- Gak ada workshop ya? - Kita kebal dari masalah itu, cuma ya isunya masih sama.
Jadi kayak disana tuh secara dari segi bahasa tuh kayak apa ya, lawan kata inklusif apa tuh?
- Exclusive. - Exclusive.
Secara bahasa mereka terbiasa, secara kultur terbiasa harus pake bahasa mereka.
Jadi walaupun yang present adalah Googler dari luar China, presentnya pake bahasa Inggris,
slide-nya tetap pake bahasa sana, pake bahasa Madarin.
Nah, terus kalo untuk talk, oh ada sih ada talk yang case study itu.
Yang case study gue sama Ivan salah pasang channel penerjemah.
Ada talk case study yang speakernya orang lokal, yaudah full in Chinese.
Nah, ada interpeneternya, nah ini kegoblokan kita berdua, kita udah dengerin.
Karena sebelumnya session yang di stage satunya itu pake channel, kan ada channel-channelnya 1234.
Nah, channel Inggrisnya tuh nomor 2, nah terus pas pindah stage kita pasang lagi, oh nomor 2 nih.
Cuma kok kayaknya setelah bermenit-menit, dan itu emang abis makan atau apa gitu.
Jadi kita agak beku sih sambil ngantuk-ngantuk gitu, udah ngantuk,
yang di depan ngomong dan present slide-nya pake bahasa yang kita gak ngerti.
Itu kan walaupun ada terjemahan, tetep aja kan harus kita pasti mencermah apa yang di depan kita kan.
Jadi kita sambil nonton, sambil dengerin, cuma kok gak nyambung, cuma apa emang begini, apa delay.
Setelah beberapa menit baru Ivan yang nyadar, salah channel tau harusnya 4 OI ya.
- Jadi itu channel apa? Channel 2? - Nah, panggung satunya, panggung satunya.
- Ya beda panggung. - Oh, tapi bahasa Inggris juga.
Iya kan itu sesinya kayak sama-sama ke study, sama-sama ke study, cuma kalau yang kita datengin kan yang web.
- Beda judul ya, beda topik ya. - Betul lah, flat atau android atau apa.
Ya sama ke study juga, ada, maksudnya ada speaker, ada speakernya dari industri,
jadi dari Alibaba atau dari yang perusahaannya, yang bikin Alibaba itu, sama ke study juga.
Nah, itu kita dengerin kok, kayak gak nyambung, terjemahan bahasa Inggrisnya sama orangnya kok.
- Nggak kayaknya gak nyambung, nah ternyata. - Tapi masih sama gak sih antara yang waktu tahun lalu,
apa, pengalaman tahun lalu kan pas present, terus kita dengerin terjemahannya,
itu terjemahannya agak delay, jadi kita agak mikir dulu kan, ngeliat yang ini udah next leg dia masih ngomong gitu kan.
- Masih juga, sama aja gitu juga ya. - Iya, maksudnya ada delay ya.
Kadang ngerasa banget, kadang gak, nah itu, makanya pas gak nyambung itu cuma asumsi apa karena delay.
Tapi kok makin lama makin gak jelas, terus sampe ngatuk-ngantuk pas serah gitu ya.
- Oke, gak ada workshop ya, sayangnya ya. - Ada, ada, ada.
- Penal-penal gitu? - Ada workshop, beda ruangan.
- Tapi cuma buat cloud. - Iya, iya, maksudnya web.
- Gak ada workshop yang kita, yang gak ada yang kayak kita tahun lalu sama Mas Adam itu gak ada.
- Gak ada, Mas Adamnya udah gak ada sih. - Kayak tahun lalu, maksudnya gak ada yang gantiin, sayangnya.
- Gak, terus kalau yang panel, diskusi panel yang waktu itu ada Jiseline, ada, siapa? - Ada, ada ya.
- Oh ada, kita lagi. - Ada Thomas, ada Thomas dan Thomas, Thomas Steiner, terus kemudian.
- Ada Jason Mayer, siapa lagi? - Enggak, enggak, enggak, enggak.
- Kok Mayer? - Dia khusus kayak, kayak khusus yang.
- Khusus web AI. - Web AI, jadi.
Iya, Thomas Steiner, ada yang PM-nya untuk Jemenai Dano, gak salah ya, atau di web.
Ada 2 orang deh, 3 orang mereka ngobrolin soal web.
- Eka nanya tuh, interoperability. - Iya dong, karena emang, emang belum dibahas.
Iya, interoperability dan kemungkinan menggunakan custom model yang lain.
Itu pertanyaan tipik panifan, jadi panelnya ya tetap aja sih, walaupun web.
- Ujung-ujungnya AI juga fokus tadi, apa Jemenai Nano yang built in di Chrome. - Ini ada, ini ada orangnya, ini fotonya gue tunjukin.
- Oh, ada fotonya. - Fotonya. Tadinya Eka mau naik juga tuh ke.
- Naik dong. - Enggak, enggak, enggak.
- Naik ke panggung. - Apa ini?
- Naik ke panggung. Kan biar seru Eka. - Nanti perpindakan anarkis.
Eh, salah. Di Tanah Anarki dong. Eh, sunset di Tanah Anarki.
- Nah ini, jadi si Thomas Steiner. - Thomas.
Someone, ini Googler juga pinter juga, ini siapa ya?
- Dia pinter juga. - Ini Warlock, Warlock.
Maksudnya, iya Warlock, tapi dia ada bawa ini juga tau, ada bawa Sesi juga.
- Dia bahasa Inggris, tapi ngomongnya. - Bahasa Inggris.
- Pertanyaannya bahasa Inggris. - Bahasa Inggris semua kok.
- Maksudnya dia pintar. Maksudnya pintar menjelaskan, membawakan suatu topik dengan mudah dimengerti. Nah itu maksud saya pintar.
Kalau pintar sih, semuanya pintar. Cuma kan ada, kayak saya kan, susah menjelaskan.
Nah, kalau dia tuh, penjelasan dia menarik sekali. Bahkan, kalau dia menjelaskan.
- Emang sebagai Defrel kan kelebihan di situ kan? - Iya, saat dia menjelaskan saya bisa kayak nyimak
dan terhook gitu ya, untuk mengetahui lebih.
Wah, pengen pake. Wah, ini cocok buat use case ini, kayak meng-engage audience.
- Iya. - Itu butuh skill tersendiri.
Di Chrome, ini hanya khusus Chrome ya. Hanya khusus Chrome 138 selanjutnya, akan ada namanya Prom API.
Terus kemudian, Summarizer API, Writer API, Rewriter API.
Nah, teman-teman silahkan screenshot ini, cari tahu sendiri.
- Ya tinggal di Googling aja itu. - Atau nanti kita akan bahas...
Ya nanti kita bikin episode ini lah. Satu kotak, satu episode, lumayan kan?
Nggak lah, semuanya bisa. Semuanya bisa satu episode.
Nah, bisa pakai. Namun API ini high-level API yang akan connect ke model yang sudah dibawa.
Dari Chrome, yaitu jamannya Nando yang built-in, di dalam Chrome, tanpa internet connection.
Nah, terus karena ini kan idealnya, maksudnya kalau dari perspektif idealisnya,
ini ditulis sebagai spesifikasi, sebagai web standard.
Nah, pertanyaan gue pas kemarin ya tentang ini juga.
Jadi kalau idealnya, maksudnya konsep sebagai web standard itu kan produk agnostik ya.
Jadi misalnya nih, misal Edge, ya Edge jelas nggak pengen pakai Jemunai Nano ya.
Cuma misalnya mereka pengen ngembangin built-in AI sendiri, atau mungkin Safari pengen punya,
pengen include AI sendiri di browser mereka.
Harusnya API-API tadi itu bisa dipakai juga di browser-browser lain,
kalau memang didesainnya sebagai web standard.
Nah, cuma sejauh ini, kan sebetulnya tahun lalu juga gue udah tahu tentang ini ya.
Jadi kayak sejauh ini tuh perkembangannya sebagai web standard masih belum masuk working draft W3C.
Dulu kan kita pernah bahas juga ya step-stepnya untuk bisa approve sebagai web standard,
rekomendasi, dan lain-lain. Nah, ini tuh kayak masih step B yang namanya kayak review TAG tuh apa ya?
Technical, bla-bla-bla, guidance. Nah, gue iseng nanyain tentang itu.
Tahu sih bakal dapet jawaban yang diplomatis, tapi ya emang jawabannya Pak Thomas bagus kok.
Jadi emang mereka ya menginpolk banget Safari, terutama yang CS-an.
Maksudnya kalau Firefox agak sulit ya kalau untuk hal-hal yang gini.
Mereka nggak terlalu punya, ya nggak terlalu tertarik lah buat kayak gini.
Cuma sama Safari ya ada progress lah buat diskusi dan ngelibatin apa gitu.
Apanya apa, strateginya Chrome adalah reach out ke lingkup yang lebih luas
terkait mempropos memajukan API-API ini sebagai web standard.
Ya tetap aja alok-aloknya surem sih, cuma ya udahlah minimal nggak kaya browser world jaman dulu
yang masing-masing browser yang bikin fitur proprietary sendiri yang nggak nyambung sama sekali
dan nanti browser lain bikin fitur kayak gitu, tapi API-nya sintaksnya beda lagi.
Nah, maksudnya kemungkinan nggak bakal terulang hal-hal yang kayak gitu.
Cuma kalau untuk dalam waktu dekat ini yang bisa API-API itu tadi ya, paling tetap cuma Google Chrome doang.
Kemungkinan sih bakal kejadian seperti itu sih.
Malah kalau prediksi saya ya, karena yang kita udah sempet diskusi beberapa waktu yang lalu juga,
ini browser sekarang coba masukin AI, Chrome malah masukinnya ke low level kan, kalau ada Brave itu ada AI-nya.
Edge ada, Microsoft Edge juga ada, Copilot, terus, apa lagi?
Arc juga ada.
Ya, Arc juga udah ada, terus abis itu dia bikin browser baru namanya Dia, itu juga isinya seperti itu ada AI-nya.
Perflexity bikin juga, jadi browser masukin AI, perusahaan yang bikin AI mau bikin browser.
Open AI, cloud, antropik dan lain-lain itu mereka bakal bikin.
Nah, makanya yang di-propos sama si Chrome itu API-nya mas, high level API-nya.
Kalau brosernya ada AI-nya sih ya terserah sih, kalau itu gimana lagi ya. Di luar konteksnya web developer,
maksudnya kita kan nggak bisa nulis kode apapun untuk mempengaruhi cara jalannya si browser Dia,
atau perflexity dan lain-lain kan, bukan kita yang nulis kodenya.
Iya, ngerti. Jadi, walaupun sebenarnya kayak Brave, terus misalkan Dia browser, terus apa lagi yang lain-lain itu kan,
basic-nya kan Chromium-based juga kan sebenarnya kan.
Tapi mereka udah memasukkan AI-nya sendiri, mungkin tanpa menggunakan SDK-nya yang disediakan oleh Chrome atau Chromium.
Jadi sifatnya si AI yang dibawa oleh perflexity atau AR, itu adalah AI untuk di browser-nya.
Jadi misalnya kita visit konten, terus pakai kayak di AR itu kita bisa, oke kita bisa blog, text, dan minta di-summarize.
Itu di browser, itu adalah bawaan browser, feature browser-nya.
- Kayak CGPT tapi di extension lah gitu lah ya. - Iya betul.
Yang similar kayak, kalau kayak saya bilang feature browser, berarti kayaknya misalnya, oke ganti tema, itu kan bawa, itu adalah feature browser gitu ya.
Dia gak bisa diotak-otak sama web developer di level down kan?
Iya, di level down kita gak bisa ngapa-ngapain gitu, kita gak bisa pakai.
Jadi kalau misalnya kita bikin web application, ya itu bukan, itu di luar kendali kita sebagai web dev.
Sedangkan yang dibikin sama Chrome adalah API untuk konek ke model yang bawaan si browser, high-level API.
Saat ini masih text doang, masih text.
Cuma image kemarin di web API, sorry, di Chrome API itu sudah bisa menggunakan image untuk, apa namanya, untuk detect image-nya.
Bisa, terakhir untuk multimodal, kayaknya masih belum bisa ya, kayak video.
Belum bisa, banyak yang tanya kan tuh, serta lain banyak yang tanya, karena kan use case yang paling umum kan, text to speech kan.
Dan di acknowledge juga sama Pak Thomas sama siapa itu yang lain lagi di stage, emang banyak input kayak misalnya banyak yang request untuk integrasi dengan web speech API ya.
Karena emang itu logical, kayak itu logical connection-nya kan, buat orang voice command kan, apalagi voice kan agak sensitif kalau harus dikirim ke server eksternal,
belum lagi latensinya, nah sayangnya itu belum, belum concrete.
Terus Eka nanya, kalau kita mau pakai custom model lain, bisa gak? Belum bisa.
Sayangnya gak bisa.
Gak ada, gak ada plan ke arah sana, cuma katanya kalau ada.
All back-nya adalah pakai library yang...
Bukan, dia bilang kalau ada case-nya, kita bisa berikan case-nya dan justify kita butuh custom model yang lain, ya open aja isu buat di, kalau banyak yang mau, ya baru mereka dengerin.
Ya kan salah satu tujuan IO connect ini ya itu apa, membuka input developer, walaupun ya gak tahu di mana yang bakal di prioritasin.
Tapi kalau untuk sekarang, skenario fullback-nya misalnya kita ngerasa demenai nano yang bawaan di built-in Chrome itu kan terbatas ya, gak pinter-pinter amat.
Maksudnya itu dia kan dilatih khusus buat tugas-tugas text yang kayak translate, summarize, kalau buat Chrome udah nyoba sendiri ya gak pinter-pinter amat sih.
Nah kalau kita pengen misalnya pakai JMA atau apa lah open access model lainnya yang lebih pinter, itu disarankan untuk sekarang pakai library in browser udah banyak kan.
Kayak apa media pipe task, nah itu jalannya di web GPU, pakainya wasm yang dulu pernah kita bahas.
Nah maksudnya solusi immediate-nya kalau misalnya kita butuh use case, butuh kemampuan modelnya, ya cuma ya itu setiap origin masing-masing website nih, example.com, ya harus ngedownload model sendiri.
Nah kalau misalnya ada website lain harus ngedownload lagi, ya cuma kalau mengutamakan kepinteran atau kita pengen nge-custom model, local modelnya ya solusinya baru itu untuk di web.
Hmm oke, apa lagi yang menarik, ada lagi yang menarik?
Apa ya?
Swag.
Swag? Udah tadi?
Dapat tas juga tau gak sih, dapet tas, dapet tas.
Tasnya juga bagus.
Iya tasnya juga bagus, kita lagi bikin FOMO Mas Riza nih ceritanya.
Oh gitu, bukan FOMO penonton ya.
Apa lagi ya?
Apa ya butuhnya sih seru-seru, cuma gak sebanyak tahun lalu ya kayaknya sebetulnya.
Iya, terus lebih hari kedua nya lebih singkat deh gak sampai habis, kayaknya jam 4 udah kelar.
Eventnya gak terlalu banyak, dan hari kedua gak ada event web sama sekali, jadi kita aktivitas.
Ya selain sore kabur jalan-jalan, kalau pagi sama siangnya ya muter-muter di boot aja ngobrol-ngobrol sama yang jaga boot.
Dan itu sih justru kalau menurut gue salah satu highlight-nya ya, karena sebetulnya kan kalau keynote speech sama yang talk-talk yang major itu.
Itu kan kontennya kurang lebih mirip sama konten IO yang bisa kita lihat juga di YouTube kan.
Tapi kalau kayak panel tadi, sama kalau misalnya ngider boot, terus ngobrol-ngobrol langsung sama orang-orang yang mengembangkan fiturnya.
Nah itu sih yang poin menariknya.
Oke. Terus ada ini gak, kayak kemarin itu yang tahun lalu kan ada tour kan, yang naik bis kita lari-lari.
Ada, ada.
Tapi gak ikut, gak pada ikut, atau gimana?
Ikut, ikut.
Eka sudah duluan kedepannya kan.
Iya.
Apa itu kedepan?
Ada daerah satu kayak, apa ya?
Ya, satu area itu tulisannya The T H A E.
B-U-N-C.
Dari kata, dari bunda.
Tapi B-U-N-D aja gitu, bun.
Deban.
Jadi area itu.
Sungai, apa ya itu?
Ya pokoknya bagus lah.
Gak deskriptif ya.
Ya pokoknya bagus lah.
Kalau di Beijing kan kita lihat itu kan.
Lihat apa? Lihat stadion olimpiada kan.
Kalau ini berdiri.
Jadi kalau di sini saya pinggir sungai.
Kayak pinggir.
Jadi itu pinggir sungai.
Sama ada jembatan.
Sama bun itu ternyata bahasa Inggris.
Kayak apa ya? Semacam kebendungan.
Yang pokoknya yang nahan air sungai gitu lah.
Bendungan.
Gak bendungan sih.
Kayak tembok.
Kok tembok sih?
Nah bentar googling sendiri deh.
Artiban. B-U-N-D.
Embankment or causeway.
A wall or bank of earth or stone.
To prevent a river flooding an area.
Ya bendungan.
Ya gitu lah.
Kayak tinggi biar kalau sunganya meluap ya gak kebanjiran.
Nah cuma intinya itu kolonial banget.
Sama kayak tour guide-nya tuh ngasih kayak sejarah-sejarah.
Kayak hotel-hotel itu dulunya apa.
Kayak sejarah-sejarah.
Kerajaan dan lain-lain.
Itu bagus banget.
Oh kalian kayak kebendungan Hilir gitu ya?
Kebendungan Hilir.
Ben Hill. Ben Hill.
Tingkat estetikanya 1.000 juta kali lipat.
Oke.
Kan biasanya ya seperti tahun-tahun lalu kan.
Habis I/O Connect biasanya ada GDI Summit.
Nggak boleh ya? Nggak boleh share. NDA ya?
Oh iya.
GDI Summit ya gak usah share kontennya.
Cuma maksudnya aktivitas di hari ketiga itu jadi summit.
Seharian dari pagi sampai sore.
Yang pertama, opening tentang overview tentang program GDI.
Terus kayak ada sekarang ada berapa banyak GDI.
Dan random say aja jadi tahu apa bidang-bidang GDI itu.
Ada yang kita nggak expect kita loh.
Ada GDI di Google Maps.
Dua orang.
Oh ya? Tapi ada orangnya?
Oh berantah.
Yang kedua nggak tahu. Cuma yang satu ada.
Dan ngobrol sama dia pas breakfast.
GDI di Google Maps kita aja yang web ngerasa.
Oh kontennya mungkin deket nih kali ini.
Mereka itu apa? Google Map API?
SDK-nya? Atau apa?
Ya apanya Google Maps.
Service-nya juga kali ya.
Dan dia malah sekarang kerjaannya apa sih?
Ngobrol sama mas lupa namanya GDI di Maps itu.
Sekarang kerjaannya ya nggak pakai Google Maps juga sih.
Pakainya cloud.
Kan di Cina di block kan Google Maps?
Oh nggak dia bukan dari Cina deretan tepatnya.
Dari Hongkong atau Taiwan apa pun ya.
Sempat yang Google nggak di block.
Kalau nanya ke dia,
"Saya mau makan di sini,
saya harus lihat mana dia bisa jawab nggak?"
Kan expert di Google Maps.
Tapi nggak bisa. Google Maps di China nggak bisa.
Nggak bisa ya?
Nggak bisa.
Pokoknya kalau aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan,
bahkan sampai Gmail aja itu nggak bisa.
Jadi harus pakai VPN.
WhatsApp aja nggak bisa.
Eh WhatsApp bisa ya?
Enggak. Kamu roaming.
Kalau pakai Wi-Fi Hotel coba deh.
Atau pakai SIM card China, nggak bisa.
Apple Maps bisa ya?
Apple Maps bisa.
Cuma lebih akurat A-Map.
Bisa.
Jadi pokoknya di sana tuh kayak punya dunia sendiri lah.
Iya YouTube nggak ada.
Terus pokoknya ada aplikasi yang sama.
Facebook misalnya pakenya red-null, dijelasin sama guide-nya pas jalan-jalan.
Jadi kayak ada bagian jembatan yang viral banget.
Semua orang foto-foto di situ sampai sulit jalan.
Karena viral di sosmed mereka.
Sosmed ada sendiri buat jual beli.
Maksudnya buat pembayaran transaksi pengansial ada sendiri.
Terus buat komunikasi ada sendiri.
Pake WeChat yang kayak beneran kepisah dari rest of Asia.
Nggak ada tuh Amazon gitu nggak ada ya.
Pakainya Taobao.
Kalau YouTube bilibili.
Iya bilibili.
Itu tadi GDI Summit.
Yang pertama opening-nya overview tentang program GDI.
Terus biasa bisa ngasih feedback atau pertanyaan.
Kadang tanya-tanya juga pada yang aneh-aneh.
Ada itu nggak?
Ada roundtable ada ya?
Roundtable ada.
Ada dan itu bagian yang paling fun.
Seru.
Lebih seru tahun lalu apa gimana?
Bukan nggak seru sih.
Karena alokasi waktunya tuh singkat.
Padahal yang paling kayak yang paling meaningful lah.
Yang paling seru ya.
Yang paling daging kan itu karena udah spesifik ya.
Google-ernya juga yang emang ngerjain in charge of web features.
GDI-nya, expert-nya juga punya banyak input.
Dan diskusinya seru.
Maksudnya beneran menyenangin.
Cuma karena timekeeping kayak cuma alokasi waktu satu jam.
Itu kayak diburu-buru banget.
Ya, maksudnya bukan salahnya yang nge-buru-buru juga sih.
Cuma karena emang kontennya banyak.
Karena kontennya banyak, yang pengen dibahas banyak.
Dan sebetulnya juga para Google-ers.
Ya, Google-ers-nya pengen tahu.
Harusnya roundtable-nya di hari kedua I/O Connect aja.
Karena udah nggak ada kan.
Jadi lebih panjang.
Jadi summit-nya hari ketiga.
Kan Google-ernya juga ada tugas lain.
Iya, jaga bud.
Terus apa lagi abis roundtable?
Ada lagi yang menarik nggak? Sesi apa?
Udah sih.
Makan-makan?
Ada yang ini nggak?
Ada yang presentasi dari perwakilan GDI?
Oh, ada, ada, ada.
Tahun lalu kan ada dua ya, kalau nggak salah ya.
Ada banyak tuh.
Xiangyi.
Yang tahun lalu.
Tahun lalu Xiangyi.
Tahun lalu banyak juga.
Terus yang dua kalau nggak salah dari Cina kan.
Dari Tuan Duma.
Mas AI.
AI siapa? Mas Sam.
Ya gitu, tahun lalu.
Lihat-lihat atau lima kan.
Oh, dia jadi itu juga.
Talk juga ya.
Tahun ini nggak? Tahun lalu ya?
Oh, tahun lalu ya.
Tahun ini siapa yang dari GDI?
Tahun ini itu...
Nggak kenal.
Lagi ngantuk gitu nggak perhatian.
Ada banyak cewek-cewek dari Hongkong.
Namanya siapa ya?
Masukannya gimana Hongkongnya dari GDI?
Lightning Talk.
Yang GDI yang talk.
Banyak.
Iya, iya. Dibahasih siapa.
Siapa siapa? Ada yang kita kenal nggak?
Ada empat atau lima gitu?
Yang kita kenal aja. Yang disirkel kita.
Dari SEA lah.
Dari SEA. Nggak ada ya SEA.
Ada sih dari SEA. Dari Malaysia.
Satu. Cuma yang...
Kalau nggak salah dia GDI Cloud deh.
Kalau nggak salah.
Oh iya. Yang dari Malaysia.
Nah, Mas.
Mas Ajo. Itu pas...
Gue lagi check out juga. Lagi ngambil koper.
Nah.
Terus ada cewek dari Hongkong.
GDI dari Hongkong.
Itu tentang
apa ya?
Pake AI untuk...
Apa?
Kayak meng-improve workflow gitu loh.
Jadi kalau contoh use case yang
gue inget adalah dia pakai
Vertex AI.
Buat
masukin semua
dokumentasi kayak
semacam
rec gitu lah.
Masukin dokumentasinya.
Swell, View, blablabla.
Jadi dia tinggal tanya aja.
Dia tinggal chat misalnya
tinggal tanya apa.
Dia bisa langsung dijawab
untuk semua framework yang dia
define.
Ada satu GDI
yang pakai...
Oh, yang seru. Itu yang Australia.
Yang text to speech.
Cuma
kalau ini lebih ke
apa? Veo ya?
Oh iya.
Cara bikin Youtube video.
Video Youtube. Cuma animasi.
Tapi pakai animasi Veo.
Dia nggak pengen ngeshoot mukanya sendiri.
Jadi maksudnya bikin karakter
buat dianimate.
Jadi kayak intinya sih
ngepasin scriptnya juga dibikin
pakai Gemini. Kayak Vtuber
gitu ya, Vtuber.
Jadi dia pakai
kontennya pakai
Gemini.
Dia bikin text to speech pakai Gemini.
Seru banget.
Terus dia pakai video
VO2 dia pakai karena
murah ada VO2.
Dia bandingin VO2 sama VO3 kayak plus minusnya.
Cuma cost.
Constraint di cost.
Constraint di
waktu durasi.
Cuma mungkin kalau pakai
Veo continuity-nya bermasalah
atau gimana. Ya pokoknya tips and tricks.
Bikin video
buat channel kita sendiri.
Teknismu berarti ya tahun ini ya?
Teknisannya teknisunya sih.
Keringan. Kayak siapa?
Kemarin bahas tentang presentasi kan.
Oh iya yang
tahun lalu.
Yang tahun lalu tuh ada 2 orang lagi
bahas presentasi. Bahas tentang Youtube kan.
Tentang Youtube kan.
Iya.
Yang tahun lalu
yang soal soft skill-nya
lebih seru sih ya.
Yang satu lagi siapa ya?
Yang dari China atau Hongkong atau apa?
Yang nge-shoot video sama anak.
Ada anaknya itu. Oh iya, iya, iya.
Tentang Youtube juga.
Cara nge-deliver-nya.
Itu malah
kalau yang soft skill
kayak gitu malah lebih seru yang tahun lalu sih.
Kalau tahun ini lagi-lagi
ada suatu angle
AI-nya semua.
Oh AI.
Itu di kantor Google.
Di kantor Google acaranya.
Oh tahun lalu kan di kantor Google kan?
Yang di Beijing kantor Google kan?
Di Shanghai nggak ya?
Nggak. Katanya karena
bukan karena kantornya
tuh apa?
Jadi kantornya sebenarnya kapasitasnya ya
besar juga sama kayak
Beijing. Tapi ruangannya kecil-kecil
semua. Tricky. Maksudnya nggak bisa
buat semua peserta.
Oke, oke.
Oke, ada lagi sebelum kita...
Oh, terakhir
si tertingginya
yang untuk urusan GDE
ikut Alfredo Moresi.
Ada. Oh iya, siapa itu?
Mas Alfredo.
Mas Alfredo.
Oh dia datang.
Selama ini cuma
lihat di email. Apa?
Nama doang.
Yang menaungi GDE
yang dari sisi leadership-nya
datang.
Oke.
Jadi bisa ngobrol langsung sama beliau juga
kayak gue tanya...
gue nanyain, apa?
Kan sebetulnya masukin link YouTube
itu enak. Karena jumlah like-nya
update sendiri kan. Dia
otomatis ngambil yang mana kalau kita
input manual kan
agak sulit prediksi
update-nya. Update like
secara manual sulit. Cuma
kekurangannya masukin link YouTube itu kan
deskripsinya auto ambil dari YouTube.
Kita nggak bisa ngejelasin
bagian mana yang sesuai sama
fokus kita kan,
ekspertis kita. Nah, terus
malah dapet kisi-kisi. Dia bilang, oh itu
nggak apa-apa. Masukin aja. Karena sebenarnya
di dashboard-nya dia
dia itu pakai jamenai buat
ternyata baru tahu juga.
Iya, buat
nge-grab transkript
video kalau dari YouTube bisa.
Jadi kayak udah ada auto itunya
ngambil transkript dari YouTube,
auto translate, auto
summarize. Jadi dia bisa ngeliat
apa? At a glance dia bisa ngeliat
sesuai atau enggak sama topiknya.
Oh, baru tahu.
Iya, Mas Dadang tuh sempat nanya
waktu itu. Tiba-tiba dia WhatsApp
nanyain. Kalo
aku masukin link YouTube itu
deskripsinya langsung otomatis ya.
Karena kan selama ini kan dia berharap
kita masukinnya bahasa Inggris kan supaya
bisa dimengerti kan. Masuk gue
bilang, iya, karena
otomatis dia langsung
scraping dari API-nya.
Nggak bisa di-edit gitu. Oh gitu.
Yaudah.
Nah, gue nanyain ke dia kan, mikir
apa? Maksudnya dia lebih rekomend
gimana? Tetep kayak gitu? Tetep pakai YouTube?
Atau apakah harus manual?
Biar kita bisa jelasin juga, mana yang
sesuai sama itu kita.
Ternyata nggak apa-apa, dia bisa liat.
Tapi menurut saya,
ya maksudnya, additional on
that, memang
masih Jemena itu masih the best untuk
summarize YouTube,
loh, daripada yang lain.
Ya iyalah, kan dia pakai
training-nya, training itu juga.
Satu grup juga, satu ini.
Dibuat oleh pemiliknya
YouTube. Kalo misalnya
saya lagi nonton YouTube,
ah, panjangan, minta aja Jemena
summarize. Ini isinya apa?
Kalo memang ada yang menarik bagi saya, baru saya
nonton.
Iya. Tapi
kan beberapa
waktu yang lalu,
waktu awal-awal Gemini
yang kayak Cloud Code,
Gemini CLI
keluar tuh,
masih kurang sih
kalo untuk nge-moding ya, untuk
bikin konten, untuk coding,
itu masih jujur, masih kalah
lah. Tapi kalo untuk
summarize YouTube, ya
memang dia nomor satu sih.
Ya emang dibuat untuk itu.
Iya.
Bukan untuk itu sih, cuma maksudnya
emang salah satu, ya itu
training datanya, pasti
banyak. Kalo Gemini,
Gemini itu menangnya di integrasi.
Mau email,
workspace, iya semua
docks ya,
dokumen,
bahkan kayak spreadsheet dan lain-lain tuh kayaknya
integrasinya udah luar biasa.
Ya karena kekuatannya
emang di situ sih.
Iya.
Mungkin nanti connect ke
GCP, dan lain-lainnya,
tergantung ininya, jadi AI itu
kayak dia punya apa ya,
punya spesialisasinya juga.
Kayaknya ya.
Akan
ada spesialisasinya kemana, misalkan
Cloud ini bagusnya untuk ini,
OpenAI bagusnya untuk ini,
Gemini bagusnya untuk ini, karena
kayaknya ada beberapa artikel yang bilang
kan, kalo mau generate
code, bagusnya pakai model
dari si ini. Tapi untuk
fixing bugs, itu
bagusnya yang lain.
Jadi, iya,
pernah baca, tapi gak ini sih,
gak disipen.
Kayaknya sekarang sudah mulai berlomba-lomba
jauh lebih baik deh.
Jelas.
Gemini kan sekarang sudah ada gemini untuk
code.
Ada, ada.
Gemini code, kok gak salah namanya ya.
Gemini CLI.
Pro, 2.5 Pro.
Oh, idin ya modelnya.
Gemini, iya.
Ada modelnya khusus code.
Emang dari dulu ada ya? Emang dari dulu ada,
cuman kita gak pake aja.
Gemini code assist, kok gak salah namanya ya.
Oh.
Itu esensian.
Iya, tapi apa namanya sih?
Esensian, tapi modelnya 2.5 Pro.
Modelnya.
Iya.
Code assist.
Google kan.
Dapat ini loh, dapat itu kan?
Dapat
credit kan?
Dari
Community Hub.
Pecah dong, di Community Hub
ada creditnya untuk
pake 2.5 Pro assist.
Iya.
Oke, ada lagi, ada lagi.
Udah, udah, udah.
Udah, udah ya.
Topik, topik.
Sekarang kita
bahas topik untuk minggu depan
kira-kira bahas apa?
Yang bukan AI lah.
AI?
Yang bukan AI?
Yang bukan AI.
Mereka kan udah AI mulu ini.
Apa ya?
AI.
Itu, apa, ininya
EKAI.
Itu kan?
EKA kan
FYE.
Jadi AI.
Hoisting udah ya?
Hoisting belum.
Hoisting belum.
Beberapa fundamental itu
dua.
Hoisting dan pure function
atau semacamnya lah.
Bukannya kita sudah pernah ya
hoisting ya?
Hoisting belum. Hoisting
kayaknya nggak cocok ya sama
pure function. Hoisting itu
cocoknya sama
closure, nggak?
Boleh.
Ya, biar fundamental aja.
Mau saya apa bahas fundamental?
Framework,
dokumentasi,
dokumentasi belum menang-menang dari kemarin ya?
Oh ya, kalau
suruh put ya.
Ya udah masukin lagi aja.
Put lagi?
Ok, polling ya.
Topic minggu depan.
Dokumentasi
versus fundamental.
Fundamental.
Udah itu aja dua.
Fundamentalnya itu tadi
hoisting sama closure.
Ada topic yang baru nggak ya?
Latest Activity.
Fundamental 100%.
Budas Titus ada yang baru?
Oh, Budas Titus Eka belum.
Itu kan cuma
buat kalau lagi berurat.
Udah jangan hati-hatiannya.
Kalau udah bingung banget nggak ada yang dibahas,
bisa pakai itu.
Wah 50/50, jangan dong.
Jangan 50/50 lah.
Berarti tiebreaker harus ada
satu orang lagi yang nge-vote.
Pasti za yang pilih.
Pasti za yang pilih.
Nggak bisa.
Harus login sebagai orang lain dulu.
Tunggu penonton satu lagi.
Tunggu ada yang nge-vote satu lagi.
Begitu ada yang nge-vote satu lagi, udah langsung ditutup.
Jahat banget.
Ya soalnya kalau ada yang nge-vote satu,
terus nanti ada yang nyamain lagi.
Seri lagi.
Nggak ada, eh.
Satu lagi dong.
Bedah web, aduh jangan dong.
Wah jangan.
Emang udah ada webnya ya?
Buat apa? Buat apa?
Maksudnya webnya buat landing page ya?
Eh Kak.
Eh apa?
Pasti za yang pilih lah.
Kalau udah tiebreaker begini.
Tiebreaker ya.
Ya sudah kalau gitu.
Kita tunggu sampai 2120.
18.
18.
2118 ya.
Kalau
masih tiebreaker, berarti kita pilih
dokumentasi ya.
Oke.
10, 9,
oh belum.
7, 6.
Oh iya, kemarin tuh ada
ini lagi, ada survey,
has to survey lagi, state of
death.
State of death.
Ha?
State of JS, state of AI,
state of, ya pokoknya seru sih.
Baru denger dari Syntax FM, mereka bahas
tentang state of death.
Jadi tentang kehidupannya developer.
Jadi misalkan
demografinya,
terus karirnya, ini
masih satu grup sama state of
JS, state of CSS ya.
Terus misalkan
teknologinya tapi developernya.
Ya orangnya, orangnya.
Ini apa? Kok ada?
Ada Jos Komeu,
ada Anjana Fakil,
eh gue pernah ketemu
tapi lupa foto bareng nih sama
si mbak ini, sayang sekali.
Temu di mana?
Ada acara, dulu ngisi
acara, gue ngisi workshop, dia ngisi
keynote kan.
Jadi pas dinner speaker gitu
malam-malam di
hotel di Kuningan gitu,
tiba-tiba ada peringatan gempa,
turun kita rame-rame.
Iya.
Makanya, tapi sayangnya
gak sempet foto bareng, jadi gak ada buktinya.
Lagi, lagi,
darurat begitu
minta foto bareng, juga aneh.
Iya makanya gak berani, justru itu
gak berani. Jadi malu.
Dia mungkin gak pake make up
atau gimana. Lah ngapain
pake make up orang lagi makan malam.
Oh.
Ya kan ada AIO buat. Hobi, hobi, hobi.
Hobinya apa?
Video game.
Movies. Ya tapi menarik sih.
Movie apa yang
ditonton oleh Declopper? Ada gak disini?
Nggak jauh-jauh dari Silicon Valley.
Bicycle Activity.
Bicycle Activity.
Hiking ya.
Strength Training lah. Strength Training.
Favorit musik.
Pink Floyd.
Flinking Park, Taylor Swift.
Oh banyak yang suka tool.
Yay.
Siapa? Tool? Nomor 6.
Oh.
Ini nama bandnya lucu banget
Sleep Token.
Itu buat ini, karena
AI banget kan.
Iya AI banget. Disesuaikan
dengan token.
Sleep Token.
Nah favorite movies.
Dune.
Substance. Kok gak ada yang
dikenal ya? Apa
gitu. Deadpool.
White Robot.
Nggak sih.
Favorit TV.
Mickey.
Severance.
Last of Us. Andor. Black Mirror.
Pastilah ya. Black Mirror pada nonton lah ya.
Ya. Shiloh juga.
Gua suka nonton Shiloh.
Shiloh itu yang Apple TV ya?
Iya.
Ada yang suka Severance ya.
Gua belum nonton si Severance.
Kayaknya bagus.
Udah lewat.
Yang menang fundamental. Gimana dong?
Oke ya gak apa-apa.
Ya udah.
Tapi ada minta bedah web dan nantara tuh.
Iya.
Kita cuma bisa
bedah web yang disubmit oleh
pembuatnya.
Yang in charge.
Kemarin kita
ngobrol sama
sponsor sebelumnya
yang beberapa episode yang lalu.
Mereka mau bantuin
mau nyebarin
nanti bikin form disebarkan
ke klien-kliennya mereka untuk
di bedah website-nya.
Jadi biar banyak.
Banyak yang dibahas.
Oke kalau gitu.
Untuk malam ini sekian dulu.
Terima kasih banyak buat semuanya.
Minggu depan kita akan bahas tentang fundamental.
Javascript ya berarti ya.
Fundamental Javascript.
Sampai ketemu minggu depan.
Bye bye.
Deskripsi asli dari YouTube
🗣️🕸️ Selasa malam waktunya #ngobrolinWEB! Malam ini kita akan menyaksikan review acara Google I/O Connect yang diadakan di Shanghai. Bagaimana pengalaman Ivan dan Eka selama disana? Mari kita simak langsung! 🔔 Akan mulai mengudara pukul 20:00WIB ya. Yuk ramaikan! Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
1 Apr 2025
Ngobrolin Lebaran
Episode ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri dari tim Ngobrolin WEB. Eka, Ivan, dan Rizah memberikan salam Lebaran denga...
27 Agu 2024
Ngobrolin Google I⧸O Connect China 2024! #WPUCAST x #NgobrolinWEB
Episode ini membahas pengalaman para Google Developer Expert (GDE) dari Indonesia yang menghadiri Google I/O Connect Chi...
4 Des 2024
Persiapan DevFest Surabaya
Episode ini membahas persiapan dan agenda DevFest Surabaya 2024, acara tahunan Google Developer Group (GDG) Surabaya yan...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .