Lompat ke konten utama
EP 32

Ngobrolin Google IO

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini merangkum apa yang menarik dari Google I/O tahun itu, khususnya sisi web. Pembukanya sebuah pengamatan iseng tapi telak: tahun-tahun sebelumnya semua orang bicara web3, sekarang tidak ada yang menyebutnya lagi dan semua beralih ke AI. Bedanya, yang diumumkan di ajang seperti ini bukan sekadar hype melainkan produk yang benar-benar ada. Topik yang paling banyak dibahas adalah otentikasi. Passkey — yang API-nya sendiri bernama berbeda dan lebih sulit disebut — memungkinkan aplikasi web memakai sidik jari, pengenalan wajah, atau kunci fisik langsung lewat web API, tanpa pustaka tambahan. Posisinya bukan pengganti kata sandi melainkan pengganti faktor kedua, jadi tetap ada jalan cadangan. Dibahas pula bahwa alur masuk yang terlalu berlapis justru membuat orang enggan, dan tren sekarang bergeser ke tautan sekali pakai yang dikirim lewat surel — yang pada dasarnya sekerabat dengan kode sekali pakai. Bagian privasinya menjelaskan kenapa persoalannya tidak selesai hanya dengan menghapus cookie pihak ketiga. Ada teknik yang membaca detail-detail perangkat dan browser lalu merangkumnya jadi satu sidik unik — dan sidik itu tetap sama meski kita berpindah ke mode penyamaran, karena browsernya toh sama. Itulah yang coba dijawab oleh inisiatif privasi baru, mengikuti pengetatan aturan data di banyak negara. Disinggung juga alat analitik alternatif yang mengedepankan privasi, dengan catatan jujur bahwa skalanya belum tentu meyakinkan bagi perusahaan.

Poin-poin Utama

  • •Pengamatan pembuka yang telak: web3 tak lagi disebut siapa pun dan semua beralih ke AI — bedanya yang diumumkan di ajang seperti ini adalah produk nyata, bukan sekadar hype
  • •Passkey memungkinkan aplikasi web memakai sidik jari, pengenalan wajah, atau kunci fisik langsung lewat web API tanpa pustaka tambahan
  • •Posisinya bukan pengganti kata sandi melainkan pengganti faktor kedua, jadi jalan cadangan tetap harus disediakan
  • •Alur masuk yang terlalu berlapis justru membuat orang enggan — dan tren bergeser ke tautan sekali pakai lewat surel, yang pada dasarnya sekerabat dengan kode sekali pakai
  • •Menghapus cookie pihak ketiga tidak menyelesaikan pelacakan: detail perangkat dan browser bisa dirangkum jadi satu sidik unik yang tetap sama meski kita berpindah ke mode penyamaran
  • •Inisiatif privasi baru dari tim browser muncul mengikuti pengetatan aturan data di banyak negara, bukan sekadar inisiatif teknis
  • •Ada alat analitik alternatif yang mengedepankan privasi dan sebagian open source, meski skalanya belum tentu meyakinkan bagi perusahaan besar

Halo-halo-halo, selamat malam.

Selamat malam.

Halo.

Semuanya seperti biasa, ketemu lagi bersama kita bertiga.

Ada saya Riza, ada Eka yang lagi menang mic, dan ada Ipan.

Iya.

Dan biasa di selasa malam kita...

-Wakilnya. -Nobrolin.

Nobrolin semuanya.

Iya.

Gimana teman-teman muar-muar, ini udah lumayan ya.

Ada Robi, halo Robi.

Ada NyanJS, ini penonton setia juga ini.

Iya.

Ini emoji, hand thing waving, berarti kayak gini.

Gini-gini ya.

Terus baca manual.

Terus ada, gurauan taluk, wow.

Wow, nice.

Kita ngambatnya baik-baik, dirimu gimana, dan malam hari ini kita akan bahas tentang topik minggu lalu ya.

Topik minggu lalu yang baru sedang hangat, Google I/O 2023.

Jadi kita akan bahas apa aja yang dibahas, terutama dalam di-cook teknologi web ya.

Iya, khusus.

Kita belum nonton semua video-nya ya.

Terlalu banyak, ada 52.

52 itu cuma yang web doang, belum kalau Android, AI, ratusan.

Jadi orang jaman dulu mungkin kayak kurang hiburan atau kurang materi belajar, kita nih jaman sekarang kebanyakan malah pusing juga ya.

Kan gitu ya.

Suara saya kecilan ya?

Engga, bagus.

Lihat transkrip lengkap (1906 segmen lagi)

Normal?

Normal.

Keluar, yang keluar di YouTube-nya.

Mungkin boleh nanya ke temen-temen yang lain, kalau cuma satu orang, maaf ya.

Bukan tidak mau mengikut, tapi belum valid.

Bikin ticket back.

Terus selanjutnya, yang melaporkan.

Kalau mungkin 2 atau 3 saya akan coba, mudah-mudahan sih, enggak ya.

Oke, jadi rekap-nya Google Neo 2023 adalah semua tentang AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI, AI.

AI punya intinya AI.

Ya, berarti udah ya.

Udah ya.

Ya, jadi kayaknya belakangan ini tuh crypto sama web3 udah ditinggalin, terus semua orang sekarang kayak bahas AI. Overall punya di mainstream popular technologies.

Gantian gitu ya?

Tapi kalau yang di I/O itu kan emang real ya, ada produknya, jadi ya bukan perkara hype doang.

Cuma random aja sih pas lagi keynote kemarin tuh jadi sadar. Gak ada yang bahas web3 lagi sekarang kayaknya.

Khusus di Indonesia tiga hari terakhir ini membahas raw security, data leak.

Wah serem itu.

Iya, nanti kita bahas juga privacy sandbox.

Khusus untuk web ya, bukan untuk mengamankan folder Anda dari ransomware, bukan. Khusus untuk dari web.

Kakanya kemarin kele tellernya udah bisa transaksi.

Tapi misalnya data konsumen diambil kan, terus minta tebusan si pihak peng suruh bayar biar gak di leak.

Nah, masalahnya kan itu.

Iya, kalau bisa bocor ya.

Oke, jangan ngomongin sekarang berbahaya. Kita ngomongin Google I/O aja.

Dan kita juga ini ya, teman-teman juga ada yang nonton gak sih? Ada yang ngikutin gak sih?

Ada yang nonton live?

Nonton update dari Google I/O, kemarin juga teman-teman dari Google Live Indonesia juga gak ada itu.

Jadi ya, nonton bareng bersama saya dan beberapa teman lain. Maksudnya ada GDI dari cloud, dari Android, dari Flutter.

Bikin nobber sebelum, apa sambil nunggu, kayaknya mereka tuh pada sambil nunggu champions ya.

Sambil nunggu nonton bola jangan-jangan.

Gak tau deh.

Buat yang belum tau Google I/O, mungkin bisa Mas Liza share screen itu, I/O Google I/O 23.

Sedikit recap aja. Apa sih Google I/O ini?

Ayo.

Acara tengah-tengah yang diadakan oleh Google buat announce.

Update sepanjang setahun. Setahun terakhir.

Nama I/O ya diambil dari input-output ya, biar terkesan sedikit aja.

Produknya Google banyak sekali kan. Ada web yang berhubungan dengan Google Chrome,

Chromium, Chrome OS, ada Flutter, ada Dart, apa lagi, ada filebase.

Ya, produk fisik, gadget pun ada.

Android.

Banyak mereka, termasuk juga I/I, mobile pastinya, Android ya.

Google search sendiri.

Sangat banyak. Jadi ini adalah salah satu ajang.

Biasanya itu kalau dulu ya, gak tau sekarang ya, kalau dulu itu berturut-turut.

Mulai dari Facebook, F8.

Facebook di awal tahun ya? Di awal tahun kan ya?

Enggak, selama 2 minggu kalau gak salah.

Dua minggu dulu.

Eh bentar, audio, audio. Intervensi pak ketua.

Audio itu.

Audionya kenapa?

Oh iya, bentar ya, silahkan ngomong.

Tadi sampe mana?

Biasanya Facebook.

Facebook isi dulu apa namanya ya, kok gue lupa.

Facebook itu Devci bukan ya?

Buka atau beda sendiri?

Devci itu komunitasnya.

Circle.

Nama konferensi apa?

F8.

Oh ya, F8, iya, iya, iya, iya, betul.

Suaranya sudah gimana?

Tolong di-report lagi yang tadi.

Kalau dari kita makanya sama aja.

Kalau dari sini, dari StreamYard.

Terus Apple ya, Apple biasanya sekitar Agustusan itu gak sih, abis kayak Summer gitu.

Kalau dulu itu berbandangan, bukan berbandangan.

Deket-deketan.

Deket-deketan.

Oh itu jadi kayak logikanya kayak Alphamard sama Indomard tuh biasanya deket-deketan ya.

Kompetitor secara fisik, geografis tuh, deket.

Nah, acara perusahaan teknologi raksasa juga dibuat deket-deketannya.

Biar hype-nya mungkin...

Dan ini juga daerah situ-situ juga, daerah Silicon Valley.

Silicon Valley, iya.

Kalau misalkan kita datang ke sana, terus kita sewa hotel, itu hotelnya mahal pada saat itu.

Karena rebutan.

Iya, makanya kita kemarin tuh sewanya Airbnb ya.

Terus habis F8, terus kemudian Google I/O, setelah itu Apple.

Nah, kalau yang habis setelah di bulan-bulan Oktober-nya, ada itu biasanya kan, CDS, Chrome Dev Summit.

Biasanya deketan juga ada sama itu Android.

Kalau dari sisi seberangnya, si GitHub.

Biasanya ngadain juga GitHub.

Oh iya, Oktober ya.

Iya, sekitar itu juga GitHub.

Plus, karena tahunnya waktu lagi ngobrol-ngobrol di acara CDS itu, habis ini dari kemana, dia bilang ke GitHub.

Ada yang bilang habis ini ada ke Jira, event-nya Jira juga.

Jadi biasanya...

Jira bikin event?

Iya, ada bikin event tahunannya juga.

Atlasian ya?

Iya, maksudnya...

Inget deket kerjaannya?

Bukan, numpang biasanya kan.

Oh, ternyata si Google ngadain acara.

Jadi pada partisipannya yang sudah datang, biasanya kan sudah datang itu tinggal ngikut aja daerah sekitar satu minggu itu.

Ngumpul dan ikut acaranya.

Oke, kayaknya ada kesalahan teknis nih, katanya ada yang suara saya kayak robot, mohon maaf ya.

Ini berarti masalah dikoneksi berarti ya?

Tapi koneksi ke saya bagus.

Berarti kalau saya kayak robot, saya juga kayak robot berarti. Karena kita kan dipul dulu ke stream-nya, baru tembak...

Coba saya buka Youtube ya.

Terus ada next.jscon, katanya.

Next.jscon.

Oh iya.

Next.jscon, itu kapan?

Kayaknya sering ya?

Sering ya?

Eh, udah tau beneran tahunan atau...

Oh iya, kalau namanya, sering. Eh, ya setahun sekali mungkin ya.

Oh, iya ini dari 2022.

Ada, ini cewek.

Ada ya?

Setahun sekali ini kayaknya soalnya di namanya ada kayak next.jscon 2022.

Hmm, oke oke.

Nah ini juga baru sign kayaknya deh.

Ada satu lagi yang gede banget, yang...

Tapi di luar, person teknologi memang khusus untuk web... Eh, sorry, apa?

Yang ada conference, biasanya di Eropa itu gede banget biasanya. Apa ya, saya belum sampai lupa namanya.

Atau sih react yang...

Webcon.

Ya udah, kita lanjut.

Kita terlalu jauh melenceng.

Terlalu jauh, iya.

Jadi, kemarin itu sudah, apa, sudah diselenggarakan Google I/O, ada banyak sekali update-update-nya.

Teman-teman bisa nonton sebenarnya video-videonya.

Yang di web aja tuh ada banyak banget playlist-nya, nanti bisa di-check.

Di YouTube Google, atau di Chrome ya, Google Chrome ya, kalau nggak salah ya.

Di situ ada banyak, teman-teman bisa lihat.

Nah, malam hari ini kita ingin bahas yang berhubungan dengan web.

Yang, apa ya, yang secara umum lah ya, secara umum ya, nggak secara detail.

Yang berhubungan atau nggak terlalu berhubungan juga nggak apa-apa.

Nanti mungkin kita akan bahas lebih lanjut yang menarik di...

Yang detail-detailnya tunggu episode minggu depan.

Mungkin ya, kita akan bahas di episode minggu depan.

Jadi, teman-teman kalau ada yang, kira-kira ada topik yang menarik mau dibahas, boleh juga disarankan.

Nah, ini ada web sesen-nya, ada banyak ya. Mulai dari What's New in web.

Kemudian ada, saya udah nonton ini.

Kemudian saya nonton yang...

Yang...

Banyak lihat ya di internet ini.

50an?

Yang itu, Kodik Fugu, Advanced API.

Itu saya nonton.

Capabilities.

Ya.

Mas, capabilitas ya disulitnya?

Iya.

Was in Angular, dibagain.

Dibagain ini belum sempat.

Hah, ini Advanced Web API in Real World Ads.

Nah, ini saya nonton.

Itu kayaknya si... Siapa ya? Si Thomas ya? Thomas Seiner.

Thomas Seiner.

Iya.

Sama Eji tuh.

Gua suka tuh. Paskey.

Paskey tentang security ya, biasanya.

Iya, iya.

Web Auton API.

Nah, temen-temen, mungkin ada yang udah nonton videonya,

yang udah ditonton apa aja, yang males atau belum sempat nonton apa aja,

yang mungkin yang menarik, mana aja, coba komen di chat.

Ya.

Kita share-share aja. Jadi, daripada diran lo satu-satu,

kita sharing aja nonton yang ini siapa,

jadi kita bisa berbagi ilmu dan lebih cepat berbagi.

Ya, nanti kita main.

Kita nonton yang si itu, Jesulin. Yang tentang apa?

DevTools.

BD. Automation.

Dan itu beneran belum tahu sama sekali.

Aku pribadi belum pernah pakai sebelumnya.

Temen-temen, gimana?

Apa sih?

Bahkan baru tahu.

Gua baru tahu itu.

BD.

BD. B-I-D-I.

BD.

Browser, DevTools, Automation.

Ada kok, siapa di situ?

Oh, ini WebDriver.

Ya.

Jadi, dia kayak bikinin...

Bookmark-nya.

...adapter untuk WebDriver.

Bidireksional.

BD itu Bidireksional WebDriver Protocol.

Ini lagi tanya apa, Tir? Bukan?

Oh ya, itu kayaknya standar deh.

Tapi standar ini.

Ada proposal-nya di W3C.

Di W3C, betul-betul.

Jadi, mungkin untuk men-streamline apa ya, kayak virtual browser atau headless browser, semacamnya.

Ya.

Dan apa, beneran baru tahu banget ya, gara-gara video ini.

Padahal, ya udah...

Udah ada beberapa bulan.

Eh, nggak ada yang baru bulan lalu ini.

Awalnya dia publish itu 2021 loh.

WebDriver BD.

Baru di-update lagi, 2023 ini.

Ada apanya?

Pitch-nya.

Buka, coba.

Oh, ada artiklenya.

Artiklenya di Devchrome.

Nah, buka deh artiklenya.

Coba buka.

Tuh, publish pertama kali kan 2021.

Kita malah belum tahu, ya.

Menarik nih.

Sekarang jadi tahu.

Iya, sekarang jadi tahu.

Kita menjauh aja, Pak.

Dia masih ingat nggak sama kita ya?

Masih lah.

Buat yang nggak tahu, jeselin ini dulu...

Sebelum dia join tim...

Sebelum jadi kuber, adalah XGDI, ya.

Dari Malaysia.

Di Anggular, ya?

Di Anggular, ya.

Pernah misi di JSD, jadi kita undang datang ke Indonesia.

Karena GDI kan gratis, jadi nggak perlu kita bayar.

Sebagai panitia, nggak perlu bayar, kan.

Nanti kita undang jeselin, yuk, untuk ngomongin WebD ini, yuk.

Mau nggak ya?

Dia masih ingat ya?

Masih, masih.

Ya, kalau nggak, tetap aja.

Asal mau sih, nggak apa-apa.

Walaupun lupa.

Iya sih, cuma dia di Jerman.

Di Jerman, waktunya aman, ya.

Sore. Sekarang sore.

Aman, aman, ya.

6 jam, beda sekitar 6 jam.

Ya, jam 2 siang.

Ya, nggak tahu ya.

Kalau kebetulan beliau nggak sibuk.

Ya, selasa lagi ya hari kerja, ya.

Ya nggak, live phone nggak apa-apa sih, typing misalnya.

Emang dia sudah sedih ya.

Mudah-mudahan.

Nih, ada yang nonton nih, Maulana.

Udah nonton yang WebAssembly, tapi baru separuh.

Oh iya, WebAssembly ya.

WebAssembly juga lumayan ada update ya.

Kita sempat ngobrolin kemarin, kapan ya?

WebAssembly apa update-nya ya?

Kok kayak stagnan gitu.

Setelah 3 tahun lalu sebelum pandemi.

Eh, sekarang udah muncul lagi.

Menarik, menarik.

Oke.

Apa lagi yang menarik ya?

Nah, pas.

Gimana, Gimana, Gimana?

Apa paski ya?

Paski ya, WebAutoN.

Nah, jadi sudah.

Ya sama, sebenarnya sudah lama.

Ini sudah proposal-nya atau yang lalu itu sudah 2022 sudah ada.

Yang di I/O yang lalu sudah ada.

Eh, sorry, bukan I/O, CDS yang lalu ya.

Sudah ada.

Dan sebenarnya ini kayak menggantikan passwordless login.

Jadi kita kalau di native application kan kita bisa pakai.

Kalau di handphone yang ada sidik jari.

Fingerprint.

Atau face recognition.

Terus ada yang retina.

Ya intinya biometrik.

Nah, lebih tepat biometrik.

Nah.

Selain biometrik, ada juga yang login pakai ini kan.

Pakai.

Outkey ya.

Apa, token, token fisik.

Nah, tuh yang kayak gini nih.

Yang paling aman lah itu.

Maksudnya apa tuh?

Ini kita dapat dari Chromegasanit kan?

Iya, masih berfungsi nih.

Sebagai anak-anak baru.

Masih, masih, nah.

Ini, ini.

Beberapa account masih pakai ini, saya.

Lo.

Nah, jadi.

WebAutoN API ini sendiri itu.

Kalau kita itu kan.

Di native itu kan bisa kita setelah login.

Itu ditanya mau pakai biometrik, enggak gitu.

Contohnya yang aplikasi-aplikasi banking biasanya nawarin tuh.

Mau pakai passwordless, sorry pakai biometrik, enggak.

Terus kita tinggal aktifin.

Tinggal aktifin, terus bisa.

Terus kabarnya kalau aplikasi kita di web bisa enggak, gitu ya.

Ternyata sudah bisa pakai WebAutoN API ini.

Jadi, WebAPI ya, jadi bukan pakai.

Bukan pakai framework apa pun.

Sudah ada WebAPI-nya.

Dan.

Dari WebAPI ini sendiri sudah.

Sudah bisa untuk.

Pakai key ini, pakai fingerprint, pakai biometrik wajah, latina, segala macam.

Sudah bisa connect ke hardware.

Jadi sudah.

Sudah bisa dijembatani, gitu ya.

Tinggal pakai API-nya.

Implementasi di webnya.

Tetap.

Kalian bisa menambahkan fitur ini.

Tapi ini bukan pengganti password ya.

Jadi, setelah password, tambahkan fitur ini untuk pengganti.

Biasanya second factor ya.

Pengganti second factor, untuk second factor authentication.

2FA.

2FA bisa pakai ini.

Jadi, lebih aman kan webnya.

Tapi berarti ini fallback-nya tetap regular.

Ya, apa?

Normal login biasa ya.

Ada fallback-nya pasti.

Ya, OTP.

Misalnya dari laptop.

OTP kan bisa kan ya.

OTP SMS, OTP telepon.

Ya kan, biasanya kan login itu kalau mau dibuat secure banget kan.

Pertama, username, password, pakai kapcah.

Habis itu, kena OTP pakai biometrik.

Setelah biometrik, harus konfirmasi email.

"Loh, banyak amat."

Terus orangnya nggak login lagi.

Kalau ada biometrik, nggak perlu pakai OTP lagi, kan?

Nggak perlu pakai OTP lagi, betul.

Tapi sekarang ini trendnya ada ini ya.

Menuju ke kayak send magic link.

Jadi ke email aja.

Dari email dikit, dia baru login.

Ya, itu.

Slack kan, Slack pakai magic link kan.

Magic link kan sebetulnya satu bentuk OTP kan.

Iya, OTP aja sebenarnya.

Jadi password plus kan sebenarnya kan.

Ya.

Ya, mungkin kayak ada one-time token buat authenticate.

Tapi dipakai sekali doang.

Iya.

Terus nanti kalau expired, kita harus login lagi.

Dia email lagi.

Ya, next time session selanjutnya request lagi.

Itu kan prinsip OTP sama magic link tuh kayak satu kategori lah.

Betul.

Nanti nggak lihat nih.

Itu lah.

Ya, itu tentang Paski atau WebAuthn API.

Sebenarnya Paski itu nama trendnya.

Daripada sebut WebAuthn, WebAuthn itu susah kan.

Susah ya.

WebAuthn itu nama...

Nama API-nya.

Nama API-nya, A-U-T-H-N.

Iya.

Nah, ini di IO 2020 ini urusan often ini lumayan banyak ya.

Lumayan jadi detail.

Ada Paski, terus ada privacy sandbox.

Privacy sandbox ada.

Terus kayak third party cookies kan mulai dikurangin.

Dan product Google Analytics udah mau launching yang 4 kan.

Ini kayaknya bakal ngurangin.

Oke.

Pertama, yang untuk soal privacy sandbox, ada tuh videonya.

Karena pembahasannya third party API mulai mau dihapuskan.

Preparing for the end of third party cookies.

Nah, itu judul videonya.

Yang mana tuh?

Di list web session tadi.

Ini preparing.

Nah, tuh.

Sudah di saya bookmark tapi belum sempat nonton.

Jadi...

Cuma mau saya liat kayaknya banyak aja dan ini makin santer.

Terus apalagi ada GE4 kan nih.

Temen-temen yang pakai analytics tuh pasti udah di warning semua bakal pindah ke GE4.

Universal analytics akan end of life di Juli.

Punya kalau bukan dashboard tuh udah ada counternya gitu.

Iya.

Ada countdownnya akan otomatis dialiin ke yang GE4.

Yang baru dalam sekian hari, sekian jam punya bentar lagi lah.

Dan ini keliatannya penggunaan cookiesnya juga bakal direfactor.

Cuma kayak gimana belum developing sih.

Nah, nah.

Oke.

Ini ada privacy sandbox, ada link dokumentasinya.

Okay.

Puseri and key concepts.

Share storage apa kabar ya? Belum ada ya?

Belum ada cover lagi. Gak ada ya?

Ini beta banget deh.

Permisi.

Cover tracking, share open content.

Iya, ini penting banget privacy sandbox karena sekarang fingerprint.

Untuk ini ya, fingerprinting itu ya, itu sangat marak sekali sekarang pemakaiannya.

Tau gak untuk fingerprint?

Jadi ada satu metode pakai JavaScript.

Untuk mendetek kita, meskipun kita gak aktifkan cookies, gak aktifkan.

Kita pakai VPN, kita pakai segala macem.

Kita itu bisa didetek pakai fingerprinting metode.

Bukan ngedetek fingerprint ya, tetapi.

Bukan fisik dari fingerprint JS nama itunya.

Iya, fingerprint JS. Jadi bisa...

Dari detail-detail browser dan device dan connection kita ya kan?

Betul, jadi kan kita sudah ada web API-nya yang banyak.

Bisa mengakses hardware, bisa mengakses segala macem.

Jadi itu dihashing dan hasil hashnya dapat.

Karena dia bisa didetek misalnya browsernya apa.

Terus kemudian screen size-nya seberapa.

Terus kemudian bisa ngedetek hardware lain kayak bluetooth lah, location segala macem.

Itu dikalkulasi jadi sebuah hash.

Dan hashnya itu, meskipun kita pindah browser,

antara contohnya dari normal browser ke incognito pun,

hasil fingerprintnya sama, hasil hashingnya sama.

Karena browsernya kan sama.

Jadi bisa didetek, tetap bisa di tracking kitanya.

Nah, karena maraknya sudah begini, maka dari si Chrome team,

saya nggak tahu siapa yang initial.

Sepertinya Chrome team ya, privacy sandbox.

Untuk melebih, me-secure lagi soal privacy ini.

Kalau di luar negeri, apalagi kayak di Eropa,

beberapa bagian Amerika kan hukumnya sudah mulai ketat ya

soal apa, keamanan dan pengelolaan data.

Jadi kelihatannya ya ngikutin tuntutan jaman di negara maju.

Cukup kering sih soal privacy ini.

Kita bisa diikuti terus oleh advertising.

Ya siapa aja yang website-nya kita buka.

Dikembangin sama dua mobile, karena coba kalau di laptop Windows yang ada fingerprint.

Ini buat komentar yang tadi ya?

Plug ya ya, outen.

Oh, Microsoft ada juga ya buat analytics.

Oh, bikin analytics.

Microsoft Analytics.

Microsoft Clarity, wah baru denger.

Terima kasih.

Menarik, menarik.

Mungkin Google Analytics itu kan nggak lulus.

Malah by default nggak itu GDPR ya.

Jadi mungkin nggak tahu ini Microsoft Clarity by default.

Oh, tuh. Sekarang kan gimmick-nya, gimmick utamanya GDPR dan CCPA ready.

Bulletin open source.

Dulu saya taunya Matomo, tapi sebelum Matomo itu ada lagi, saya lupa namanya.

Banyak, ada Umami.

Umami.

Dan privacy first itu namanya apa ya?

Ada tuh, lupa.

Ada banyak, banyak, banyak, banyak.

Cuma itu kan dari segi scale ya, itu kan produk yang ya bisa dibilang relatif kecil.

Maksudnya kalau buat kita sendiri sih nggak masalah ya.

Tapi kalau buat di adopt di perusahaan atau apa, mungkin belum tentu stakeholder yang percaya.

Karena gampang banget ya, Insul Analytics-nya.

Ceplok, jadi.

Oh, cuma bagusnya sih beberapa kayak, kalau nggak salah, Umami plausible itu open source.

Jadi maksudnya kalau misalnya kita nggak pengen, kita nggak percaya mereka, ya udah kita, dan kita tertarik.

Maksudnya produknya cocok, ya udah kita hosting sendiri aja, self-hosted bisa.

Iya.

Jadi, cuma kalau misalnya nggak mau self-hosted ya, itu bisa pakai itu tadi, Microsoft Clarity.

Sama, ya itu kemungkinan Google Analytics yang baru ini, GA4, mungkin akan lebih mudah untuk membuat GDPR friendly.

Tadi itu kita bahas tentang ASCII dan apa tadi?

Dan Outland nyambung-nyambung ke keamanan praksisi, kukis.

Next-nya, apa lagi yang menarik?

Kalau tadi udah dibahas maulana udah sempenonton WebAssembly, juga ada yang menarik ya.

Dari videonya, saya nggak tahu nih apa salah saya salah ingat.

Dia menyebut kalau WebAssembly masuk versi 2.

Ah, udah 2 aja, sebelumnya 1 udah.

Ada versi 1 kan, kan beneran gitu maksudnya nggak ada publikasi kayak gimana gitu, nggak kayak patah versi 1 kan, ebuk banget kan dulu kan.

Tapi mungkin kan sebenarnya udah banyak dipakai di production kayak Figma atau apapun itu kan udah awesome.

Mungkin sebetulnya walaupun publikasinya nggak terlalu hype, usagenya dan apa, scale-nya ya, maksudnya kayak dipakai Adobe juga yang udah pakai.

Jadi ya, sebenarnya udah lumayan besar.

Iya, sebenarnya itu dia.

Kita ada sempat ngobrol juga waktu tahun lalu ya di Bali kan.

Jadi WebAssembly diem-diem aja gitu, nggak ada pergerakan, padahal sebenarnya yang pakai juga tidak sedikit gitu kan. Banyak juga yang pakai.

Gimana, nggak ada gembar-gemburnya. Mungkin mereka baru mulai mau menggembar-gemburkan, makanya ini versi 2 nih.

Padahal update-nya itu sebenarnya kalau dibaca sekilas itu kayak update-nya nambahin beberapa bahasa pemobreman baru, kemudian improve performance.

Itu kan kayak minor kan dalam tanda ketip ya.

Tapi mungkin maksudnya ada yang breaking kali, misalnya ada yang udah nggak di-support.

Kayak kan mungkin dalam 3 tahun terakhir aja, kayak teknologi kan, maksudnya device, versi-versi yang dipakai tuh kayak udah berubah banyak banget.

Kan kalau nge-retire dependency major version kan, otomatis ininya juga harus major juga kan. Jadi emang konsekuensi semantic versioning.

Ya, dan kita kayak ngutang gitu ya, ngutang mau banget tentang WRCB, tapi belum-belum karena nggak benar-benar. Pengen ngundang orang juga, kita nggak kenal orang yang pakai di production gitu.

Nah, mungkin teman-teman di chat ada yang pernah bikin project web asli, coba naikung.

Ada juga, siapa gitu, orang yang... / Orang lain atau teman-teman sendiri? / Iya. Dan benar kalau project bekerja, setuju web GPU.

Ini graphic processing, apa itu? Unya apaan sih? / GPU? Graphic Processing Unit? / Iya. / Ini buat advanced capability ya? Kayak buat game canvas atau apa?

Graphic Calculation, dia pakai, kan bisa akses GPU langsung maksudnya sih, itu sebenarnya. / Akses GPU langsung dan untuk aplikasi web.

Jadi kita nggak perlu, sebetulnya ini diakses dengan bahasa low-level ya kayak C atau apa lah, mengakses... / WGSL. / Nah, ini udah nggak usah, kita pakai JavaScript. Oh nggak, bukan? / Enggak. Ini interface-nya depannya, kayak WAssembly juga dia.

Tapi kemudian dia melakukan pemanggilan ke sini, Cinder Basic. Ini mana? Nih, import aja. Dia bisa import, tapi ini bahasanya bukan JavaScript.

Bukan TypeScript. Ini apa di? RAS, bukan? / Tau itu apa? / FN. Bukan. Bahasa sendiri? / Enggak tahu. / Standard. Nah, mungkin ada yang tahu, teman-teman, lagi-lagi.

Sebenarnya cuma ini pakenya kalau bikin apa sih? Penggunaannya tuh kapan ya? / Bisa... Coba lanjut dulu.

Di video, didemokan, kalau misalkan melalui texture gitu, tanpa web GPU itu harus FPS-nya rendah atau kualitasnya diturunkan.

Tapi kalau pakai web GPU, ini bisa kayak gini nih, kayak foto 3D gini, juga udah bisa dianimasiin gitu. Jadi memang jauh lebih cepat karena dia langsung mengakses ke low-level sih GPU-nya.

Jadi kalau dulu kan kita hanya bisa pakai... / Jadi bukan di-render dom apa? Gampaknya bukan kayak render ulang buat setiap frame gitu, enggak kayak gitu ya? / Bukan.

Kan kalau animasi web biasa, animasi CSS kan, perbatas berapa? 60 FPS sih. / 60 FPS. Kalau ini bisa sampai kemarin didemoin bisa sampai ratusan, ratusan FPS.

Tergantung GPU-nya ya. Dan ini juga dampaknya bisa cukup besar ke machine learning, AI, frame learning, balik lagi ya. / Nah, balik lagi. / Ensorflow.

Ensorflow JS. Nah, ini kita bisa training di client jadinya, di lokal aja gitu. Di mini masing-masing, di client masing-masing, di browser masing-masing.

Karena kita dapat akses ke GPU-nya. Ya walaupun aksesnya nggak itu ya, idea-nya mungkin semakin ke-1, nanti semakin bagus gitu kan.

Tapi ini masih low-level sekali kalau dilihat. Contoh kodonya juga ini sangat low-level kan. / Ya kan, karena demo yang penting kita bisa lihat contoh penggunaannya.

Misalnya tadi rate yang jauh lebih smooth. / Ya. Jadi kan terakhir-terakhir ini kan banyak yang menggunakan GPU sebagai mendelegasikan tugas-tugas yang berat ke GPU kan.

Kayak menghitung matrix, tensor, kan. Itu kan pekerjaannya sebenarnya bisa dilakukan di GPU tapi sangat berat. Karena memang CPU ini naturalnya bukan tidak bisa melakukan hal-hal yang lama dan berat seperti itu.

Itu perhitungan yang panjang gitu. Membutuhkan kalkulasi yang panjang gitu. Dia lebih ke cepat gitu ya. Maksudnya kecil-kecil tapi banyak gitu. Nah sementara GPU itu udah biasa karena ya main game, buat game, buat meloding grafik, terus menghitung fisika, kalkulasi macem-macem itu udah biasa.

Dan kisah thread ya. Beda thread sama ini, apa, yang render isi layar. Nah ini ada pertanyaan bagus nih soal apa, permission ya. Kan apapun web API apapun yang powerful, misalnya yang bisa mengakses hardware lah istilahnya, itu kan butuh permission.

Nah ini berarti mungkin, bukan mungkin ya, pasti ada apa, layer permission. Biar nggak apa, ini kan bahaya banget ya kalau digabungin sama tadi tuh fingerprinting pas tadi.

Bisa, bisa. Iya kan bisa menambang Bitcoin. Bitcoin yang sudah apa ya, kabar-kabarnya sudah tertimpah oleh AI-AI dan genetis AI beberapa bulan belakang.

Jadi ya pasti akan mengarah kesana sih ujung-ujungnya dan nanti ujung-ujungnya juga akan ada cara untuk menghindari itu. Karena kan bisa bahaya sekali ya kalau misalkan.

Sensitif pengerti nih. Benar-benar dibuka. Kalau web kan dulu tidak ada larangan sama sekali kan. Kayak misalkan waktu web bisa akses file system aja, itu kan sudah bisa akses file system baru ada permissionnya kan.

Tapi sudah dipikirkan sih sama. Betul-betul. Itu kan kalau file system kan, file system AI kan itu baru. Dan itu dari browser. Kalau dari note, note udah lama banget ada.

Nah cuma kan ibaratnya note itu kan dijalani dari server. Kayak mungkin kalau mindset dulu, yaudah itu urusannya yang punya server mah udah kewajipannya dia kamaniin server-nya kan.

Kecuali kalau kita jalanin di lokal-lokal host lah kan itu laptop kita sendiri mau ngapain ya terserah kita. Kalau dari remote server ya kan server itu harus ada keamanannya.

Tapi kalau file system API yang dari browser nah itu baru lebih ketat layer permissionnya.

Iya kan dulu kan ya itu tadi kan benar kalau kita pakai note.js yang ada javascript juga itu kita bisa akses kan file system kan. Akan apa begitu dibawa kerana frontend oleh salah satunya contohnya ya.

Salah satunya misalkan electron yang backendnya adalah note.js kan. Yang dia baca file dan lain-lain itu misalkan temen-temen pakai code editor atom atau visual studio code yang mungkin biasanya dari electron itu dia pakai note.

Untuk baca file systemnya. Nah problemnya akan terjadi disitu karena kita udah pakai web technology udah ada di browser. Kan electron itu kan browser kan.

Asarnya gitu kan. Habis itu dia bisa akses file system baru lah muncul kan. Oh ini jangan gini ini harus pakai sandbox dan lain-lain gitu kan.

Jadi harus ada permissionnya kan. Terus ada consent.

Sama aja kayak android kan. Android kalau misalkan kita install aplikasi baru itu banyak kan permissionnya. Oh boleh baca contact, oh boleh baca gallery dan lain-lain kalau kita nggak boleh ini.

Oh semua orang rata-rata nggak liat lu. Iya itu harus hati-hati juga itu. Ada beberapa aplikasi yang tetap bisa jalan walaupun jadi terbatas. Ada yang tidak bisa jalan sama sekali.

Jadi itu yang jadi consentnya. Selalu ya kalau ada sesuatu yang baru pasti consentnya ini sejauh mana batasan yang diperbolehkan.

Oke itu tentang web GPU. Web GPU ini kan masih satu jalur kan dengan tren saat ini. Dan hal-hal yang kita bisa lakukan di sisi backend yang tadinya hanya bisa dilakukan di server.

Itu berarti sekarang udah bisa mulai bisa dilakukan di web juga. Jadi akan banyak inovasi-inovasi baru yang mungkin library-library baru yang menggunakan kemampuan dan kekuatan si GPU ke teknologi web.

Saya mau tunjukin satu contoh aplikasi kecil namun termasuk aplikasi yang gagal yang pernah saya buat itu yang 4 tahun yang lalu. 3 tahun yang lalu sini saya coba. Jadi pakai Tensorflow.

Itu coin bukan? Itu sudah jadi mobile app saya buat waktu lalu.

Kalau ini saya pakai, sudah di-share? Coba dimasukin. Sudah tinggal 5. Jadi ini pakai Tensorflow, pakai mobile net.

Jadi saya pakai. Sudah ada di Tensorflow, saya pakai. Saya retrain ulang untuk ngedetek gambar anjing sebenarnya, maksudnya gitu.

Datanya kalau ininya pakai mobile net dan datanya saya ambil dari kegel.

Oh udah ada kayak gimana ya berarti? Ya 5 tahun lalu nih. Ini saya main-mainnya 4 tahun yang lalu nih. Saya buat, apa namanya, saya train mobile net-nya.

Saya gak train dari awal ya. Jadi mobile net itu sudah bisa general. Saya retrain untuk ngedetek gambar anjing sebenarnya.

Terus waktu sudah dia jadi in web, saya convert dia jadi Tensorflow JS model dan pakai Wasm. Jadi pakai Shard. Ini sudah di-load pakai Wasm nih sebenarnya.

Lalu, sudah. Jadi waktu saya misalnya kalau saya mau ngedetek gambar anjing yang lain nih, yang bukan saya tinggal masukin.

Nah cepat kan? Dan gak perlu loading kan? Jadi datanya gak perlu di-loading.

Itu kan di-browser? Gak, itu ke server? Gak, gak ada ke server. Ini langsung di-browser semua.

Jadi berarti itu static file? Beneran asset semua dibuild? Udah gitu doang tinggal di-code tuh.

Udah di-code kan? Jadi dia ngedeteknya pakai, belum pakai web GPU ya. Jadi gak ada web GPU jamanan. Dia masih pakai datanya JavaScript-nya input ini ke model.

Dan si modelnya ngasih tau apa. Hasilnya sih salah ya. Ini kan harusnya Husky. Si brand Husky ini harusnya Australian Terrier.

Cuma dia udah bilang itu betul anjing, kan biasanya anjing atau bukan gitu, itu udah bisa.

Mungkin bisa, ya mungkin. Walaupun bedit. Kalau bedit kan lebih sulit ya. Mungkin train nya harus lebih ekstrem.

Saya harus train ulang kalau mau betul. Coba masukin gambar kucing deh.

Gak bisa kayaknya, tapi tetap gambar anjing sih dia kiranya. Mungkin kalau masukin gambar saya, mungkin dia bisa.

Mungkin masukin gambar orang yang anjing.

Ini 3 tahun yang lalu? 4 tahun yang lalu?

3-4 tahun yang lalu lah. Saya lupa kapan tepatnya.

Nah, saya sekedar main-main waktu jaman itu.

Saya juga pernah main-main nih. Pas banget lagi. Hari ini kan lagi ada tekinasia product development conference.

2018 saya pernah ngisi materi tentang machine learning for web developer.

Demonya itu lebih sederhana dari punya Ivan.

Demonya itu saya demo-in men-deteksi hot dog atau bukan.

Oh kayak di Silicon Valley ya? Yang di film. Pasti real Silicon Valley.

Waktu itu kalau nggak salah pakai tools-nya. Ada nggak disini?

Ada yang nawarin supaya dipakai untuk ini nggak? Ngedetek gambar ini bukan atau bukan?

Untuk sosial media-nya.

Ini didemo-in karena kalau di conference kan internet-nya agak-agak lambat ya.

Jadi agak-agak dekat juga. Untungnya bisa jalan walaupun agak lambat.

Dan berhasil waktu puto tangan dikasih kecap gitu dikasih saus tomatnya dia menganggap itu bukan sebagai.

Oh berarti udah yang betul. Hot dog atau bukan kan dia bilang itu bukan.

Oke cukup kameranya. 2018 itu 4 tahun yang lalu.

Ya berarti ya sama. Jadi waktu itu awal-awal TensorFlow mulai aktif.

Terus saya berniat. Nah saya tren-nya pakai, waktu itu harus tren-nya pakai PC Windows dan pakai.

Harus Windows gitu?

Iya karena lebih gampang akses ke GPU-nya. Saya pakainya Nvidia kan. Nvidia yang murah-murah.

Dan pakai Python. Jadi TensorFlow yang di Python dulu baru saya convert.

Kalau pakai yang JS dulu lama banget. Datanya besar 7,5 giga.

Gak selesai-sesai. 3 hari juga gak kelar. Kalau pakai GPU bisa tinggalin kayak 6 jam gitu kelar.

Nah itu kan yang tadinya gak bisa dilakukan. Sekarang posibilitinya ada kesana kan.

Jadi dengan adanya sekarang web sudah bisa, web GPU sudah bisa akses.

Let's say, saya belum coba ya. Jadi kalau saya lihat ke depannya kalau dengan adanya web GPU API ini bisa akses kayak Nvidia,

graphic card, berarti saya bisa nge-train kayak untuk ulang lagi project saya nge-train gambar anjing ini langsung dari web.

Gak perlu lihat PC lagi.

Terus ini kan super fast learning kan. Oh ini ternyata bukan gambar anjing. Salah gitu kan. Terus bisa nge-train lagi kan langsung.

Betul.

Tapi masalahnya yang data 7 giga itu kuat gak di web?

Kan dia tetap akses ke lokal kan. Intinya sih bisa dilakukan di web. Itu kan untuk datanya kita. Setelah ditrain kan sudah jadi model.

Hasilnya ya.

Ya, dan kan gini untuk meskipun apa namanya ya, kalkulasi kan tetap, kalau ini khusus image ya, bukan untuk text beda lagi. Kalau untuk image kan kita kan perlu sampling kan.

Jadi data itu kan waktu sebelum dia dimasukin ke model, dia kan image-nya perlu disampling untuk bisa jadi data yang bisa dimengerti sama si model.

Untuk ngerubah image yang sampling ini, kalau pakai prosesor biasa lebih lambat daripada pakai WebGL contohnya.

Jadi bisa lebih cepat kalau misalnya teman-teman punya aplikasi yang recognition.

Untuk proses sampling, misalnya live pun ya, live sampling dari video yang di-capture dari video, proses sampling-nya sebelum dikirimkan ke model itu bisa jadi lebih cepat.

Nah, ini ada pertanyaan nih. Webworker dengan GQ. Webworker bisa mengaksesnya ya? Belum coba sih. Belum coba, harusnya bisa ya.

Karena Webworker sama WebGL bisa. Karena dia nggak ada hubungan sama dom. Iya, bisa harusnya. Secara teori bisa ya, tapi perakainan ini kita belum tahu.

Belum coba. Belum coba. Karena ini sama-sama delegasi kan di luar. Kita mau menghitung sesuatu yang rumit misalnya, dan panjang gitu kan.

Ya udah, di delegasikan aja ke Webworker. Ternyata Webworker pakai GPU. Menarik ini. Tapi mungkin kalau kita dari main track, ya pilih salah satu mungkin ya.

Ada kasus tertentu yang kita lengpar ke Webworker, di handle Webworker. Apakah kita bisa, alternatifnya kita bisa mengakses GPU juga.

Ya udah, langsung aja ke GPU. Kenapa mesti lewat Webworker? Tapi kan ini belum di praktekin ya. Jadi apa, masih bayangan kasar.

Bisa juga untuk ini, kayak apa? Kayak web untuk streaming CCTV yang ada recognition juga bisa kan.

Oh, ya bisa juga. Jadi untuk processing image-nya dan processing recognition-nya bisa pakai Webworker. Jadi waktu di streaming.

Tapi kalau untuk streaming itu mau datang, GPU. Untuk recognition itu kan sebenarnya cuma overlay ke video atasnya kan.

Di video atas itu kan overlay. Jadi cara kerjanya kan seperti itu. Jadi ada video aslinya, terus di overlay sama hasil recognition-nya.

Jadi kalau pakai Webworker mungkin bisa lebih cepat. Minimal DOM-nya nggak terganggu.

Jadi selanjutnya, tadi Webworker udah. Apa lagi yang menarik? Baseline.

Nah, itu yang baru tuh. Baseline. Mariko ya?

Tersisa satu orang yang belum resign. Mariko Kosaka.

Katanya dua tahun terakhir ini kalau di web, update-nya banyak yang bukan lebih nggak ke teknologinya sendiri, tapi ke kerjasama antar vendor ya.

Jadi emang sejak dua tahun, kayaknya dua, tiga tahun terakhir kan ada interop. Kita juga pernah punya, ada episode tentang interop ya.

Interoperability, pilih feature-feature web yang jadi prioritas untuk di-streamline antar vendor. Sekarang ada lagi namanya Baseline.

Baseline itu adalah feature-feature web yang intinya sudah disupport oleh semua, aman buat dipakai.

Intinya sih itu. Jadi inisiatif baru, Baseline itu nama projeknya lah, untuk menstandarisasi feature web yang sudah disupport.

Jadi dua release, apa? Dua versi terakhir disuruh major browser.

Jadi dari sisi developer, kalau mau pakai relatif aman, nggak usah, pada umumnya ya, kecuali kasus tertentu kita punya userbase yang khusus,

tapi kan ini pada umumnya kita tinggal pakai aja, nggak usah terlalu pusing mikirin fallback atau progressive enhancement pakai library external dan lain-lain.

Udah tinggal pakai aja. Jadi kadang-kadang kita pengen pakai API baru, misal contohnya itu element dialog model pop-up.

Kan sebetulnya udah ada di web tanpa kita harus install third-party library, tapi mungkin kita khawatir, jangan-jangan di Safari atau di mana browser lain belum support.

Yang ini buat ngurangin kekhawatiran itu. Jadi kalau udah ada logo Baseline, kita bisa tinggal pakai aja.

Apa bedanya sama web? Kalau di MDN kan sudah ada di bawah tuh stable-nya disupport sama browser versi berapa gitu?

Iya, biar nggak usah ngecek versi browser-nya satu-satu. Jadi kayak lebih ke, apa ya, mungkin bisa dibilang istilahnya gimmick.

Satifikasi halal gitu.

Gimmick sih, gimmick tapi bukan dalam sens negatif ya, dalam sens positif. Untuk encourage, ya gini deh psikologinya, kita ke MDN, MDN atau Can I Use harus lihat tabel, ngecek satu-satu, ngecek versi-nya ada berapa untuk beberapa jenis browser kan itu terlalu ribet ya.

Kalau Baseline itu lebih kayak buat introduce a set of features, jadi sekarang kita bisa pakai ini, ini, dan ini langsung loh.

Jadi kayak encourage developer buat pakai teknologi yang sudah ada dan established.

Ya bayangin misalkan kita baru lihat framework baru, wakitiannya sudah lulus sertifikasi Baseline.

Bisa jadi kayak gitu ya.

Eh tapi ada yang menarik lagi baru inget, yang menarik tapi ini kodon interpretasinya agak negatif. Google mengeluarkan produk yang namanya Tailwind.

Ya itu top-twist banget, tidak ada gunanya dengan Tailwind CSS.

Tidak ada gunanya dengan Tailwind CSS, itu rusuh tuh di Twitter, ini tolong dong Google, ini giliran yang enak diketom, banyak yang hujat.

Karena kan bisa merusak SEO kan.

Bikin boxing nanti Tailwind tutorial.

Ini apa sih sebenarnya Tailwind ini, kita tidak tau ini apa ya.

Apa sih?

Project Tailwind.

Project Tailwind ya ini.

Ada gunanya dengan AI kan?

AI first notebook.

Kayak itu.

Oh kayak Google Note, kayak Google Note kali ya.

Google Notes, Jupiter Notebook.

Google Keep, Google Keep.

Tapi itu banyak promo AI.

Kayak Bud.

Nah namanya aneh sih, agak sulit.

Maksudnya mereka tidak ada yang tau si Tailwind sudah dipakai oleh CSS.

Nah pertanyaannya si Tailwind CSS sudah nge-trademark tidak?

Tidak ada lah, kan.

Tapi harusnya sudah.

Kalau harusnya sudah trademark bisa dituntut, tapi kalau tidak ya Google.

Kalau Google nya dulu nge-trademark Tailwind, abis itu Tailwind CSS.

Nah jangan-jangan itu sudah di develop dari 5 tahun lalu atau gimana.

Kayak sinetron sih, nanti kita lihat aja dramanya.

Ini sudah di develop sebelum Tailwind CSS muncul, gitu ya.

Cuman kita ini secret project nih.

Itu tuh ada komen mereka Tailwind Labs, nama perusahaan.

Perusahaannya Tailwind Labs, betul.

Yang Tailwind CSS.

Ya, betul itu.

Mereka belum punya perusahaan.

Kalau patent itu kan harus spesifik kan frasenya.

Jangan-jangan maksudnya kalau Tailwind saja tidak apa-apa.

Yang gabungin kalau orang pakai Tailwind Labs.

Kalau orang yang hukum itu kan harus spesifik banget ya.

Jadi banyak dari area nya.

Nah, cuma ini nyambung ke hampir semua produk atau item yang di-announce di Google I/O kemarin

berhubungan sama LLM yang baru di launching sama mereka namanya PALM.

Large Language Model.

Yang baru dirilis itu namanya PALM.

LLM, PALM 2, versi 2.

Yang itu kan yang jadi dasarnya si BART.

Jadi produknya BART.

Biasanya GPT kan.

GPT, kalau yang BART itu pakai language modelnya itu sih PALM 2 itu.

Nah, PALM itu yang dipakai buat semua produk yang di-launching itu.

Si project Tailwind itu.

Terus kalau di opening keynote nya itu ada feature-feature di workspace

buat bikin segala macam lah dari dokumen, sheet, Google Sheets ya.

Terus on, comment. Jadi kayak kita cuma bilang saya pengen cari info tempat liburan

yang bisa dikunjungi keluarga yang punya anak, lokasinya di sini.

Ya, itu dicariin dibikin tabel misalnya dibikin feature-feature nya.

Ini diintegrasi ke semua produk termasuk ke Gmail.

Cuma nggak tahu belum ngecek juga di Gmail belum muncul.

Jadi kita pakai PROM kayak buat ngebalas email.

Balas untuk, kalau contohnya yang di-opening keynote itu pesawat flight kita di-delay.

Atau gimana apanya apakah kita mau setuju atau nggak.

Bisa mau cancel dan refund ya. Minta refund.

Terus dia nulis tapi emailnya lengkap.

Biar blablabla, ya harap refund begini-gini sampai greetings-nya.

Itu di-generate oleh si language modelnya itu.

Kita tinggal bilang intinya.

Tapi kalau di BART itu bisa di-import.

Itu export. Export ke Gmail atau ke Docs.

Uih, udah dapet ya aksesnya?

Udah.

Semua udah. Bukan BART.Google.com di semua negara udah.

Sudah, sudah.

Nah, kalau yang di Gmail itu kelebihannya adalah dia ngebaca, dia kan paham isi emailnya.

Konteks emailnya kita ngebales.

Tinggal kita bilang mau merespon kayak gimana.

Entah mau refund atau minta reschedule apa.

Tolong cariin ulang bijatual lain.

Jadi bisa mengikuti konteks percakapannya.

Nah, ini ada implikasinya agak minor sih.

Cuma kalau buat di Rana Frontend atau UI, ini fenomena menarik.

Jadi kayak dulu kan, kalau kita bayangin email itu intinya form dengan text area.

Isi emailnya itu text area yang besar, di mana kita akan ngetik.

Kita akan nulis isi email kita.

Terus intinya button submit.

Nah, terus ini kan ya sekarang Google dan kedepannya mungkin makin,

bakal makin banyak teknologi yang mengadopsi apa, approach kayak gini nih.

Jadi justru kita ngetik, user ngetik atau voice input ya, sedikit mungkin.

Tapi ada step selanjutnya.

Stepnya misalnya nge-loading opsi-opsi pilihan dari based on si language model itu kan.

Mungkin kita tadi bilang ya saya mau refund.

Nah, user tuh ngetik sedikit doang.

Tapi kan itu bukan form simple yang bisa langsung di-submit.

Ada step selanjutnya nge-loading opsi-opsi responsnya.

Nah, itu kan harus step by step ya, harus lazy load semua.

Terus user misalnya pilih ya, opsi reschedule.

Terus muncul, dia kan harus manggil dulu, harus nge-loading lagi, respond email lengkapnya.

Terus user bisa meng-approve atau meng-edit baru dikirim.

Nah, ini kan ngaruh ke misalnya yang punya desain sistem atau membuat komponen-komponen UI form.

Kedepannya bakal ada pergeseran.

Satu apa namanya?

Cuma intel aja sih pengen gue coba.

Salah satu update juga itu ini kan ya, si DevTool untuk extension juga diperbarui kan ya.

Masih tinggi kan ya.

Lagi kepikiran dengan adanya AI-AI ini, terus kemudian WhatsApp itu kan bisa di web juga ya.

Pake extension di web, terus pake AI.

Jadi bikin chatbot gitu ya, tapi pake extension.

Ya mungkin auto-reply minimal.

Bisa bisa.

Tapi lewat web, bukan native.

Iya.

Harus dibuka dari browser kan.

Oke, next weekend project.

Auto-reply WhatsApp.

Nah, ini Mustafa Halo.

Mustafa Zaki.

Di Google I/O banyak produk baru gitu.

Mereka harap awet dan tidak depiket.

Ya Google tidak terkenal ya, salah satu.

Pemunuh produk.

Sampai ada website kuburannya kan.

Beneran graveyard kuburan produk-produknya.

Apa ya namanya?

Ya semoga yang diinot ini enggak masuk kuburan.

Sebenarnya produk Google susah di-search.

Ada Google, Dart, Carbon, Terwin, iya.

Bukan, sebenarnya bukan.

Google ini jadi pakai golang.

Mungkin kata-kata sesingkat mungkin ya.

Dan itu common name gitu loh, kata-kata yang juga dipakai di hidupan seri hari-hari.

Sebenarnya bukan cuma Google sih.

Google memang susah dicari.

Tapi kalau temen-temen cari swift, itu juga susah.

Karena sudah ada kadar swift.

Cari paupen, muncul ular.

Cari paupen, muncul ular.

Cari PHP, muncul di PHP sama bahasa Indonesia kan.

Cari boa, munculnya ular juga.

Iya, memang bukan Google-nya.

Tapi developer-nya cari namanya.

Masih ada yang pakai boa nggak sih?

Boa, apa itu?

Aku bahkan nggak tahu boa itu apa sih.

Programing language.

Oh, belum tahu.

Belum pernah paham.

Anyway, udah lama banget.

Terakhir yang saya membekas sekali adalah Google Reader.

RSS, oh, Reader.

Iya, RSS, Google Reader.

Stadia juga.

Inbox yang gue suka pakai dulu itu Sambis.

Inbox, iya, pernah Inbox.

Padahal bagus loh.

Terus apa lagi ya?

Angular JS.

Angular JS.

Iya kan jadi Angular 2.

Terus yang bikin di recruit.

Yang bikin pindah.

Google Sites.

Gue nggak tahu kenapa dia bikin Google Sites.

Padahal ada Blockspot juga.

Dan dia akusisi-akusisi.

Timely dulu, suka pakai.

Polymer udah mati ya?

Polymer? Merda nggak ada.

Di ganti Lit.

Lit, ya Lit.

Lit, Lit.

Lanjutannya tuh.

Science Jufnel.

Apa ya?

Oh, YouTube Community Contributions itu sedih juga sih dulu.

Karena itu bisa buat nge-submit terjemahan video.

Itu kan bagus kan.

Misalnya video berbahasa Inggris ya.

Yang bagus lah.

Educatif atau apa.

Cuma kan mereka kan nggak official iya.

Nggak punya versi bahasa Indonesia-nya.

Kita bisa submit bahasa Indonesia-nya.

Dulu.

Yang depiketif juga.

Yang dulu cukup spektakler adalah Google Wave.

Iya.

Eh itu apa sih?

Google Wave, social media.

Sekarang dia bertransformasi.

Bukannya Google+ dan lain-lain.

Bukan, social media.

Kayak Facebook.

Jadi itu, apa, collaboration tools.

Jadi kalau ngetik itu bisa bareng-bareng semuanya.

Kayak Google Docs sekarang.

Kalau dulu itu dia platform sendiri.

Yang banyak Google Wave.

Yang social media bukan Google Wave ya?

Bukan.

Google Glass.

Google+ ya?

Google+ ya.

Itu dari dulu mah.

Emang nggak ada yang pakai.

Cuma dulu privacy settings-nya.

Bagus.

Jadi jamannya.

Social media lain belum punya.

Feature.

Post visibility yang custom.

Google+ itu dari awal yang bagus.

Udah ada yang namanya Circle.

Dari awal kita advanced.

Kita menglompokan ke Circle.

Dan kalau kita bikin post.

Kita bisa setting-nya mau dilihat.

Circle mana aja.

Ide-nya bagus.

Cuma yang namanya sosmed nggak ada yang pakai gimana.

Itu tadi Mas Liza.

Ada project arah.

Itu salah satu yang digemur-gemurkan juga.

Apa nih?

Modular smartphone?

Yang itu loh.

Yang handphone-nya bisa

build sendiri.

Jadi kayak Lego.

Oh bisa pasang-pasang sendiri.

Oh saya mau prosesornya ini.

Jadi tinggal main buat.

Mau kameranya.

Mau screen-nya apa.

Ada bluetooth.

Sekarang malah Google bikin

Pixel.

Yang di-announce kemarin juga

lumayan seru sih.

Ada Pixel phone-nya.

Yang HP ada.

Terus yang tablet

juga ada tablet.

Ada pasangan docker

speaker-nya itu.

Yang buat home assistant.

Dan ini yang seru.

Oh iya.

Tadi sempat kita bahas foldable.

Apa sih efeknya apa

ke web?

Selamat datang di Mimpi Buruk.

Akhirnya kita harus

nubah lagi ini.

Responsive itu udah berubah sekarang.

Udah ada Pixel.

Bukan cuma ukuran layar, tapi juga

apa? Fold ya.

Iya.

Teman-teman webnya

webnya sudah bisa

ada opsi untuk

kalau dibuka default, sudah bisa

berubah gak?

Jadi job desk-nya udah bertambah lagi.

Kalau dulu kita bilang responsive.

Oh bisa. Di layar

HP, phone, tablet.

Di layar portrait bisa.

Sekarang ditambah yang fold.

Dulu banget malah

cuma laptop, cuma ukurannya

lain-lain. Lama-lama ada HP.

Lama-lama ada tablet.

Terus ada ukuran aneh-aneh kayak

phone, kombinasi phone-tablet

yang upper-nya mid-size.

Sekarang ada yang dilipet.

Apa tuh yang namanya untuk

kalau untuk

web API apa yang

untuk kalau misalnya intersection observer

ada satu lagi yang resize observer.

Jadi teman-teman harus pakai

resize observer juga.

Karena kalau misalnya

pertama si user-nya

pakenya

begini, baca-nya.

Eh ternyata dia

pengen baca lebih apa, terus dia buka

tapi kan

webnya kan

tidak nge-refresh.

Jadi cuma screen-nya

berubah. Nah kalau misalnya

teman-teman punya elemen-elemen

tertentu yang

butuh

susunannya berbeda

atau butuh edge. Contohnya edge aja deh

yang paling gampang ya. Tadinya

edge itu ukurannya

360x250

yang kecil. Tetapi kalau

misalnya dia di

ukuran yang lebih besar, dia harus 720

contohnya.

Ngereload edge gimana gitu.

Nah berarti teman-teman juga harus memikirkan

kalau

handphone-nya dibuka.

Web API-nya namanya

resize observer.

Jadi bisa ngedetek kalau

si viewport-nya

berubah

size, dia akan

manggil callback, dan teman-teman

bisa ngerubah

mereload edge-nya

untuk ukurannya berbeda.

Karena sesuai layout.

Itu cuma salah satu contoh.

Ada complexity line.

Orientation juga kan

ada event-nya. Jadi

kalau orang pakai fold kan biasanya

kalau lagi dilipet

begini biasanya

tingginya. Terus mungkin

dibuka

tapi kadang

orang pakai fold device

kayak dicontohin di keynote-nya

juga bakal ditaro kayak gini.

Petal ditaro.

Cuma kan ditaro-nya folding-nya begini ya.

Jadi ini akan ngebah orientation.

Jadi event yang harus

sudah ada API-nya juga

device orientation event.

Enggak.

Selamat datang, mimpi buruk.

Tapi jangan sedih. Sebenarnya teknologi

web itu kan dibikin untuk

jadi resilient ya.

Tahan bumping. Jadi

kalau kita pakai, misalnya walaupun

CSS yang sekarang, kecuali ya

atau kasus tadi yang

di-rendernya pakai fixed size ya

kalau itu harus diurus. Tapi kalau cuma

dokumen, konten biasa kayak

blog post kayak gini, ya nggak apa-apa

tetap bisa dibuka

di fold device walaupun aneh

tapi kan tetap bisa dilihat.

Tetap bisa dipakai.

Nah, dari situ kita harus

aggressive enhance.

Kalau form misalkan, di tengah-tengahnya tiba-tiba ada

input text itu.

Susah, kan?

Gimana tuh?

Meniturunin. Jadi ada get

pas, tapi di tengah-tengah

garis gitu. Gimana ya?

Di placeholder.

Atau...

Smartwatch.

Ini juga diumumkan, kan?

Google kan punya OS-nya namanya

Wear OS.

Ini udah di-announce juga.

Kayaknya kalau nggak salah ada versi baru.

Dan udah

pencing di

beberapa smartwatch.

Kayaknya Samsung Galaxy.

Cuma kalau ekosistem Wear OS

sejauh ini, fokusnya

masih di native.

Jadi apa?

Native app-nya

Wear OS. Yang udah ada

khusus WhatsApp sama

Spotify. Jadi kalian bakal

digenggu message chat. WhatsApp

bahkan di tengah. Mungkin lagi lari,

lagi jogging atau apa. Tetep WhatsApp-nya

bunyi.

Lebih banyak

variannya kalau untuk

Android, iOS, dll.

Tapi kan suatu hari ke depannya

bisa aja Chrome for

WatchOS.

Kayaknya ini lebih serem

dari pada phone.

Bisa loh.

Saya pernah lihat temen saya buka

WordPress

dashboard

di ini ya dia.

Di smartwatch-nya dia.

Gak tau lah pokoknya

geser-geser begitu dia cuma kayak mau

demo-in bisa dibuka gitu. Jadi

pencet-pencet tuh susahnya

setengah mati. Tapi bisa gitu.

Mungkin sebenernya udah ada

coba belum dioptimized dan belum

dipromote. Gak tau kalau yang punya

temen-temen yang punya

Samsung smartwatch

dicoba aja di Play Store-nya.

Siapa tau ada Chrome.

Bener-bener. Kalau yang Android

malah lebih banyak variannya ya.

Dari smartwatch, yang phoneable

juga dia penuh kan.

Yang apa? Yang bisa ditampilin

di dashboard mobil.

Bisa jadi

suatu saat ada PWA

di smartwatch.

Jadi cuma kayak tampilin kecil gitu.

Contohnya

simple application

pengingat jadwal solat.

Atau apapun sih to do note ya.

Kan apapun yang dipake

orang, suatu saat bakal

ada juga.

Siapa tau itu remote desktop?

Ada remote.

Bisa ada remote.

Saya SSH. SSH dari

watch.

Ada komen lain.

Siapa tau ada yang bikin smartwatch

Linux based.

Lama-lama kan nanti spesifikasi

dari

smartwatch kan semakin

naik kan.

Selama udah bisa buka browser ya, berarti

ada pasarnya.

Salah satu vendor yang masih belum masuk

masuk ke Voltan

baru si Apple ya.

Karena kalau dari Android

yang awal Samsung.

Terus Huawei.

Sekarang Google.

Nggak lama lagi udah lanjut

tuh. Mungkin ke

Xiaomi, OPPO tuh bakal lanjut ke

Voltan.

Standard ininya kan si Pixel kan.

Begitu Androidnya support

yang lain ikut.

OS-nya kan nanti

di update, ada API-nya ya udah.

Mulai tuh.

Banyak inovasi-inovasi game

gitu ya.

Yang cocok buat portable jaman dulu kan

dan Nintendo DS tuh yang ada dua layar kan.

Bisa didatasi juga

untuk game di Android mungkin.

Buat teman-teman yang front-end

sudah bisa mulai minta ke

bosnya. Kita butuh portable phone

buat kita bisa testing

device.

Kalau pengen email buat

apa, mau perbesarkan

diterima proposalnya, coba pakai itu.

Pake, apa tadi Gmail yang

large language modelnya.

Pake palm buat email

yang convincing untuk

minta test device portable.

Iya.

Terus bosnya tinggal bilang gini aja,

udah.

Dikir aja kalah.

Pake

pake

mark you.

Lebih murah.

Lebih ekonomi.

Surface Duo ini kayak gimana?

Yang Windows ya?

Windows ya?

Itu kan yang

dia bisa dua screen.

Itu Yoga apa Surface Duo?

Saya nggak tahu. Kayaknya Yoga deh.

Dua kepisah atau dua nyambung

kayak standar kayak sekarang?

Gimana kalau di fotonya

nyambung?

Udah Surface Duo

versi dua.

Oh iya, dia

bisa dipisah gitu.

Oh, tercabut gitu?

Kayak punya dua monitor ya?

Eh, nggak bisa.

Nggak, nggak bisa dicabut.

Nggak bisa, nggak bisa. Saya salah.

Nggak bisa dicabut.

Ya nggak, kalau pun nggak dicabut,

bisa dipakai sebagai

dua monitor terpisah atau gimana.

Iya ya.

Ini loadingnya lama sekali. Mungkin ada videonya.

Tapi dia nggak pakai progressive enhancement.

Oh, OPPO sudah ada, mah.

Saya mah nggak ikutin.

Kan bener kan?

Cuma emang kayaknya di Samsung

sejati dia.

Di public

udah cukup umum sih. Kayak waktu itu

pernah di ngantri apa,

di airport atau apa, lagi mau

ngantri naik pesawat. Ya ada orang

video call udah pakai phone device gitu.

Ini ya.

Mungkin naik budget airline. Jadi itu

kelompok masyarakat yang nggak

wow banget lah, yang orang

relatif biasa lah, kelas mengah biasa.

Udah

aktif pakai

phone device.

Ini berarti

tablet ya, gitu ya.

Yang foldable.

Jadi tetap, sebenarnya tetap

satu screen tapi dua.

Ada tempat buat statusnya ya.

Dia tetap,

screennya tetap sama untuk

buka web. Cuma dia jadi punya dua

layar aja.

Tapi nggak nyambung.

Kalau misalnya bikin UI, itu mau

render satu layar nyambung

atau gimana? Kiri kanan

gimana tuh? PR banget tuh.

Selain developer,

kayaknya UI UX designer juga

pusing. Mungkin lebih pusing.

Karena bisa dipindah kiri kanan kan?

Ini kayak itu, kayak

X10 monitor, kalau kita monitor

terus colok TGA gitu

di sebelah kiri. Itu ada beda, X10.

Ya cuma secara ergonomis,

misalnya tanpa konteks apapun nih.

Kita render satu halaman tuh

misalnya browsernya

full size. Jadi dari

paling kiri sampai paling kanan.

Kita mau nampilin gimana. Berarti

kalau teksi di tengah kan di bagian yang kelipet

tuh. Kayaknya nggak bisa.

Oh dia muncul

di satu tempat ya.

Jadi misalkan di sebelah kiri moding,

di sebelah kanan itu browser.

Ada lagi yang biasanya sebelah

kirinya

tampilannya, terus kanannya

IDE, bawahnya SSH.

Atau Bill,

NPM watch biasanya.

NPM watch. NPM test,

NPM test.

Ini saya dicabut

di video konser.

Oh iya bener ya.

Jadi lepas. Berarti

itu dua layar yang terpisah.

Cuma satu OS.

Kayak X10 monitor aja.

Kalau ada yang

maling atau jahatin,

kalau kita

mau bales, cabut, lemparin

satunya gitu.

Jadi kalau udah maling, kita

bentar dulu mas.

Atau kalau

mau dirampas, udah

sabar-sabar. Kita bagi dua aja ya.

Ini satu.

Si maling bisa nawar.

Sebentar nanti, sebelah-sebelah ya.

Ditukar sama

yang lain.

Itu mah kita tolak aja.

Maaf mas, saya nggak mau di maling.

Saya reject.

Siapa yang mau di maling?

Itu bisa disedupkan layar dulu.

Terus ini, ada pertanyaan

lain nih. Beda

konteks sama hal-hal lainnya.

Kalau tadi kan teknis semua. Kalau sekarang

ini kan kita lihat, makin-makin

banyak yang pakai LLM ya.

Bikin, lulus email lah.

Sampai ngaget gambar.

Research informasi. Terus

Bart yang jawab semua pertanyaan.

Itu kan udah, kayak

LLM itu udah

ada dari zaman dulu. Tapi kan dulu

eksklusif banget, mahal. Sekarang

murah, semua orang bisa nakses.

Nah, temen-temen ngerasa kerjaannya sebagai

webdev terancam atau nggak?

Ada yang pakai ini?

Google Copilot?

Saya pakai Google Copilot.

Dan terakhir, barusan hari ini saya di

GitHub Copilot.

Terakhir hari ini saya di...

dapat akses

GitHub Copilot Chat.

Apa itu bedanya pas Google Copilot?

Merasa terganggu atau merasa terbantu?

Terbantu banget.

Jadi ada, kalau GitHub Copilot Chat

anggap aja Chat GPT.

Tapi di

khusus untuk Copilot.

Mau jadi seniman.

Itu ada komen bagus.

Nah, ini kerjaan siapa yang

lebih terancam? Seniman?

Orang kreatif maksudnya, atau

orang

seni lah, kreatif dalam hal seni ya.

Atau web developer

lebih terancam mana ya?

Ini bisa jadi topik sendiri

sebenarnya.

Betul-betul.

Tapi ya, saya juga

2 minggu belakangan pakai

GitHub Copilot

dan sangat terbantu terutama

must testing.

Saya pakai Copilot

banyak banget.

Contohnya generate regex,

kemudian

belajar

tau itu fungsinya sebenarnya

buat apa sih. Terus bisa juga

pakai penyelesaian. Terus bisa juga

untuk, saya sudah

tulis fungsinya.

Terus nanyain si Copilot

ada hal-hal yang saya belum

lihat. Bisa buat

kode kita lebih robust

contohnya, atau lebih

kondisional kita.

Ada yang terlewat enggak? Dia bisa detect

juga.

Setelah saya tulis fungsinya, bisa

minta dia untuk nulisin

dokumentasinya buat saya.

Jadi bisa ditambahin to JS doc-nya,

PHP doc-nya bisa

dilengkapin sama dia.

Bisa juga

untuk

generate unit test.

Jadi saya suka pakai generate unit test.

Cuma

perlu teman-teman

tahu ya, jangan terima

secara

100%.

Karena saya 50-50,

50% itu masalah

kodenya.

Hanya sekedar bantuin

saya untuk

first level rubber duck. Jadi ada teman

yang ngomong sebelum nanya

orang lain, sebelum nanya Google, sebelum nanya

"Ini gimana secaranya?" Saya tanyainya

ke GitHub Copilot.

Atau nanyainya ke

Jack GPT.

Khususnya untuk

ngasih tahu

khusus untuk

apa namanya,

waktu itu saya mau belajar regex. Karena regex-nya

panjang banget. Nggak mudah untuk

dimengerti.

Dan saya pertanya

sama dia

dijelasin itu.

Apa regex ini

segmen-segmennya?

Segmen-segmennya ngapain, akhirnya

dikasih contoh, oh baru saya mengerti.

Karena regex-nya

panjang banget. Kayaknya ada

20-an

baris deh.

20-an baris regex-nya.

Untuk ngedetek ini,

ngedetek

nomor mobil.

Ngedetek

spasi yang tidak

kelihatan untuk

simplify Chinese

dan tradisional Chinese.

Setengah mati.

Susah, setengah mati.

Akhirnya

sudah lah, nanya aja.

Terus akhirnya saya dibantu.

Oh iya, mau buat SQL juga bisa.

Benar. Dama ternyata

pake ya dari akses beta.

Berarti berbalik aja.

Eh, kalau maintainer

Open Source kan

gratis. Nah, ini bayar

10 dolar.

10 dolar atau 16 dolar gitu.

Rembus Kantor. Rembus Kantor saya.

Saya Rembus Kantor

CetGPT sama

GitHub Copilot Rembus.

Karena saya pakai buat kerja.

Nah, tapi kan

disitu berarti sebagai asisten

yang ngarahin kita, kita minta

tolong secara spesifik.

Kayak kita punya ART gitu asisten

rumah tangga minta sapuin

ini, minta cuci piring. Tapi kita

yang ngarahin ya. Berarti

posisinya gitu kan. Berarti

kalau di film-film

atau mungkin di media

populer yang quickbait kan

apakah kerjaan mu akan

digantikan oleh AI?

Berarti kan sebetulnya

dalam waktu dekat nggak akan

lebih kepada ini, lebih kepada

second brand.

Leveraging sih.

Kita justru lebih cepat kerjanya.

Iya, second brand ini kita nggak perlu

mengingat gimana cara

baca file di Node.js.

Tulis aja, misalkan

fs dot apa. Tiba-tiba dia

udah bisa dapat konteks dari

apa yang mau kita lakukan sebelumnya.

Misalkan di atasnya ada, kita ada

variable file-nya misal ada itu blablabla.

Di bawahnya begitu fs dot something

udah tau, oh ini antara

red file atau red file.

Jadi sebetulnya nilai jual kita

sebagai developer manusia itu

kan kita bisa, cuma kita

yang bisa ngarahin

prompt-nya kan. Kita mendesain prompt-nya

tergantung berdasarkan

apa yang mau dibuat, misalnya mungkin ada

business requirement atau tujuan apa

yang pengen dicapai. Cuma kita

yang bisa mikir prompt. Dia nggak bisa mikir

prompt sendiri.

Sebenarnya simple-nya kayak gitu

kan ya?

Iya, cuman ini

kembali lagi ini kayaknya bisa jadi

apa ya, jadi topic sendiri ya.

Pak tanyaannya satu.

Ketika kita

sudah, apa ya, sudah

terlanjur

ketergantungan kepada kita chat

GPT, kak, atau co-pilot, kak.

Apakah ketika

misalkan kata-kata chat GPT udah

tidak bisa gratis lagi harus bayar.

Co-pilot juga tadi 100 dolar

per tahun. Apakah teman-teman

renyla mengeluarkan uang 100 dolar

per tahun hanya untuk

membantu kita

kalau tidak di-remburs. Ya, kalau

ngomongin remburs ya mungkin itu

privilege ya.

Ya tau nggak remburs tapi kita mendapat value

yang sebanding. Ya, misalnya kita bikin

product lah atau apa, atau

mempersingkat waktu kita, misalnya kita punya

consulting rate sekian

per jam. Nah, kalau misalnya itu bisa

mempersingkat kerja kita dari 3 jam

jadi 1 jam, kan 2 jamnya kayaknya

kita untung, ibaratnya untung

dan tanda kutip. Ya, udah tinggal

itungan, tinggal itung-itungan aja kan.

Tapi kan intinya kita

kita sebagai manusia harus

punya skillset yang

si mesin itu nggak bisa jalanin sendiri.

Kan intinya gitu.

Yang lebih, yang lebih

apa, kita mungkin

ini ya, tergantung

levelnya juga. Kalau digunakan oleh

orang yang kata-kata

dia nggak ngerti coding sama sekali

dia pake PTT atau

pake Copilot, ya itu mungkin akan

berbahaya. Karena dia akan terima aja.

Sama aja kayak kita copy paste buta dari stack overflow.

Iya.

Sama aja, gitu tentunya.

Tiba-tiba GPU-nya dipake

mining.

Karena low

permission.

All permission gitu ya. Semua kan

tergantikan ya, kecuali jQuery.

JQuery itu kayak

sekecuali ya, yang nggak bisa mati.

Kayak terdenggigat.

Yang tidak

tergantikan oleh jQuery

dan PHP.

Ada.

Ia akan tergantikan.

Nah, ini

Damar ada insight bagus lagi nih.

Sangat tidak membantu untuk design.

Untuk front-end, kerja front-end-nya.

Apalagi kalau pakai ThreadWidth.

Daripada nulis from, mendingan langsung tulis ASL.

Ini karena

si copilot ini, dia pakai

kodex

yang adalah API-nya

OpenAI.

OpenAI ini kan dibatasiin kan

trending-nya sampai tahun 2020.

Jadi tidak semua

codebase itu dipelajari

oleh kodex atau copilot ini.

Oh, ThreadWidth belum rilis.

ThreadWidth belum banyak.

Atau mungkin versi yang

masih versi satu, masih versi awal-awal.

Nah, kabarnya si Bart ini

dia open.

Jadi, kalau chat

gitu kan dia dibatasiin kan

sampai tahun 2020 atau berapa.

Kalau Bart ini

tak terletes, dan dia bisa akses internet.

Jadi kabarnya dia lebih...

Kayak training-nya real-time ya, berarti

bisa ke update terus.

Pokoknya train terus.

Jadi untuk coding katanya

si Bart ini cukup bagus, tapi belum coba.

Kalau Bart udah coba sih, iseng

cuma hal simpel kayak, please write

today's date in Indonesian.

Masih hit and miss, bahkan hal

se-simple itu ya. Kan ada

tiga alternatif jawaban si Bart, nggak sih.

Itu di random sih.

Jadi pertama kali nyoba, yang muncul justru

yang salah, yang beneran salah,

literally salah.

Jadi dari

tiga alternatif,

yang satu beneran salah, yang satu

betul, pakai apa?

Yang method lama to localize

date string gitu loh. Terus yang tiga

pakai yang baru muncul international

API. Yang kedua sama tiga ini

betul semua, maksudnya output-nya akurat.

Yang pertama, salah. Jadi kayak

cuma ngeprint angka tanggal,

angka bulan, sama angka tahun.

Jadi hit and miss sih.

Keliatannya kalau untuk strictly

coding, masih lebih bagus.

Co-pilot deh. Karena

itu kelihatannya

kan luas banget ya. Terus penggunaannya

kan lebih kayak ke apa itu?

Yang kayak di Gmail, yang kayak di Google

Workspace. Jadi emang nggak

dikursusin buat coding.

Betul, betul.

Dia umum. Kalau Codex ini kan memang

spesifik untuk

coding kan. Ada satu lagi

produknya AWS.

Namanya Codexpert ya kalau salah ya.

Itu

open for public juga?

Iya, itu free.

Ini juga spesifik untuk coding.

Nah ini, silahkan dicoba

kalau mau. Ini gratis juga.

Ini alternatif untuk

Co-pilot. Kalau Co-pilot kan

bayar. Kalau ini gratis.

Oke, kita jadi kaya aja.

Kapan-kapan lah

episode akan kita

digantikan? Nanti kita ngomongin AI.

Karena di perusahaan saya juga lagi

bukan saya ya, tapi tim yang

lain lagi explore mengenai

AI juga. Pakai chat GPT

sebagainya. Untuk

create content di

WordPress Block Editor.

Jadi promnya,

typing misalnya.

Buat artikel tentang 5

cara, apalah,

menjadi sukses mendadak.

Tapi more

than that gitu ya. Jadi misalnya

yang salah satu contohnya

kumpulkan

berapa kali

itu yang history landing, moon landing.

Terus dia kasih

cuman textnya biasa. Terus bisa

convert that into table.

Terus dibuah jadi table.

Terus

sort order by year.

Sort datanya by year.

Jadi bisa kayak prom.

Kita juga didemoin

kemarin tuh buat Google

workspace tapi.

Ya kan sama underlying teknologinya.

Jadi pakai prom

untuk membantu

menulis konten yang lebih menarik.

Namun

kontennya tetap, misalnya kita

udah bikinin konten.

Tetapi kita butuh data.

Terus akhirnya kita bisa minta data ini,

ambil dari mana. Terus di prom.

Terus akhirnya data yang muncul.

Daripada kita klakli-klakli untuk setting,

bisa minta si

AI-nya untuk ngurubah itu jadi setting.

Nanti setelah

si

Humanmade-nya publish

apa namanya?

White paper-nya

nanti saya share.

Dia sudah publish

sneak peek-sneak peek-nya.

Untuk

lebih dalemnya apa, bagaimana caranya sih.

Saya belum tahu.

Karna baru plugin-nya sendiri

masih baru

kayak private beta

gitu. Jadi

percuma juga saya share di sini. Teman-teman gak bisa

akses.

Tapi proprietary kan itu?

Open source.

Wah seru juga.

Ini videonya.

Kalau mau buka sedikit sneak peek-nya.

Press AI Generative Content & Block.

Ini bisa

banyak, akan banyak inovasi

produk-produk ya. Salah satunya

tadi ya, misalkan tadi

bisa bikin

plugin.

Plugin untuk WordPress

atau untuk DNS yang lain gitu kan.

Ada juga, saya pernah

lihat demo ini ya.

Coba di...

Terus...

Kelihatan, kelihatan.

Di screen-nya kelihatan ya?

Saya ini gak kelihatan.

Ha, kelihatan.

Make that into a table.

Oke.

Add another column.

Jadi kayak new ya?

Ya.

Ini mirip sama yang

di opening I/O kemarin.

I/O

feature untuk

Google Workspace.

Jadi kalau contoh yang

di I/O itu, apa?

Anak SMA, mau kuliah.

Terus minat saya

ini, ini, ini.

Dikasih rekomendasi.

Mungkin ini beberapa jurusan yang cocok

untuk kamu, blablabla.

Salah satunya game design.

Oke, saya minat game design.

Terus tinggal

di kota apa gitu

di Amerika. Terus dibuat

listing universitas,

kampus-kampus yang punya program

game design dalam

radius yang deket

sekitar situ. Terus habis itu

dibuat table

dan ada maps dan

kontaknya masing-masing

kampus itu. Jadi kalau

buat apply atau cari info lebih lanjut

bisa langsung itu. Terus bisa

di sorting berdasarkan apalah yang

jaraknya paling dekat atau apa.

Ya kan mirip, maksud saya

work flow-nya mirip.

Kan mudah munculkan ya

produk-produk seperti itu. Notion

udah ada AI-nya kan untuk content

generation. Red Bull juga udah

mulai ada. Terus juga

saya pernah lihat demo LMS

dan yang mana gimana sistem. Jadi kayak bikin

bikin course gitu kan

tapi dengan AI

jadi selalu bikin SEO course untuk

developer gitu. Terus nanti dia bikinin

outline-nya. Terus kita bisa detailin

satu-satu jadi

capta satu apa, capta dua apa dan seterusnya.

Jadi memang

oportunity-nya peluangnya besar sekali

kalau kita coba

melepatkan ya API-API yang

disediakan oleh ini.

Ada API-nya baru open AIC ya

yang lain belum.

Soon, sepertinya

Soon.

Ini Bahiyu ada yang

baru, platform apanya?

Ini

bukannya

no code platform ya

yang

backend-nya yang dibuat oleh

yang ujung-ujungnya Flutter, pakai

teknologi Flutter.

Jadi kita bisa bikin web.

Tapi nanti di generate-nya codenya Flutter.

Iya kayaknya.

Sama kayak apa tuh jaman dulu ada nih

juga kayak gini.

Dulu kan islanya Webflow kan.

Itu mah sampe sekarang ada ya.

Oh karena Webflow

terkenal ya. Jadi orang udah

familiar. Beneran dia buat Flutter Flow.

Pakai teknologi Flutter.

Ini oh mobile ya mobile.

Oh ada juga nih desktop.

Ini dipersinggatkan

oleh Flutter ya.

Semakin

seru ya. Bisa ke web juga nggak?

Nah tetep.

Lo flutter kan bisa.

Ini ada nih desktop nih, kelihatan

kan sedikit. Desktop bukan web.

Bukan.

Desktop bukan web.

Jadi apa?

Nggak ada gambar.

Nggak ada gambar.

Nggak terlihat. Feature.

Gimana kita bisa lihat?

Docs.

Ya kayak Flutter, mungkin

pas udah dikompile jadi aplikasi Flutter

biasa.

Web.

Arusnya ada dong WebView.

WebView.

Nanti kita tanya itu.

Jadi Flutter.

Hanya

bayu. Bisa nggak bikin web?

Bayu.

Kan kita ngobrolin web.

Ya kan Flutter bisa

kumpil ke web.

Terakhir kabarnya

masih mengenaskan.

Katanya jangan.

Kata Mas Angga ya.

Mas Angga masih mengenaskan.

Jadi Flutter ya.

Sekarang di Belanda.

Iya.

Gimana nih?

Mirip Framer.

Eh Core Base.

Mirip Framer. Apanya mirip Framer?

Oh itu ya.

Ionic.

Mirip Ionic jaman dulu.

Jaman dulu. Sekarang

udah beda. Ionic masih tetep

gitu juga ya? Masih ada kan?

Masih dan

semakin, ya inovasinya jalan terus kan?

Iya.

Framer bakal tetap menang

kayaknya buat web soalnya

first class framework motion.

Oh.

Tapi si Flutter Flow ini

keliatannya target marketnya orang yang

emang somehow entah untuk alasan apa

harus bikin

aplikasi Flutter.

Itu specific and niche banget

kali ya.

Ini kodenya bisa dia jenera

kode, abis itu dia bisa ubah-ubah

ke gimana ya?

Iya, kayak ngomplile

jadi web app.

Tapi kalau Flutter kan maksudnya bisa

diadaptasi ke

native.

Di import maksudnya ke

kembali ke Flutter-nya gitu.

Makanya dia

bawa-bawa Flutter ini ya.

Banyak ya yang

seru ya ternyata ya.

Walaupun di luar Google

ayo ya.

Kapan Google Ayo Standed?

He he he.

Kapan ya?

Kalau yang Jogja,

kalau nggak salah, Juli.

Kemarin baru tanya-tanya.

Juli-nya kapan? Nggak tahu sih.

Belum tahu, saya belum ada tangan.

Defog kemarin udah

nawarin. Defog kapan ya?

Nggak ada dulu.

Defog itu

8 Juli.

Defog 8 Juli.

Kenapanya sekitar Juli?

Masih nunggu ini invitation

Google Ayo Standed Medan.

He he he.

Berharap.

Berharap.

Makanya nih si Defog

kending dulu ya nungguin di Medan dulu.

Mudah-mudahan nggak bentrak.

Jadi bisa ngisi dua-duanya.

Defog salatnya terlalu dekat.

Nggak bisa naik pesawat.

Sebenernya kan dibayar naik pesawat.

Sebenernya kan dibayar naik pesawat.

Nggak bisa bayar.

Hotel bisa dibayarin.

Tapi ya udah iseng aja nginep di Defog semalam.

Nginep di Defog ya.

Tapi di Defog.

Tapi di Defog.

Oh, pernah waktu itu

ngisi.

Ngisi di Bogor, naik kereta,

ngajak anak-anak naik kereta,

gitu kan biar tahu.

Abis itu nginep di Bogor, nginep di hotel.

Hotelnya dibayarin Bogor.

Nggak dibayarin keretanya aja.

Soon, soon.

Ada lagi?

Udah.

Kalau lanjut, banyak banget lagi.

Nanti part 2 kita deep dive ya.

Nanti part 2 kita deep dive ya.

Beneran feature webnya sendiri.

Nggak yang tadi.

Minimal satu.

Kita bertiga,

sumbang, paling tidak satu topik

yang lebih deep ya.

Web specific.

Ya.

Kalau teman-teman ada yang mau request,

mungkin menarik nih.

Gitu ya. Bisa langsung aja.

Ya, topiknya web ya.

Topiknya web, silahkan

di komentar di bawah

atau di kanan di kiri, atau bisa ke

bit.ly/moboranweb.

Silahkan tulis di sana.

Nanti minggu depan

kita coba bahas.

Begitu.

Nanti WWDC, ada juga

ngobrol-ngobrolnya.

Kalau ada yang berhubung dengan Safari,

mungkin bisa jadi. Kita bisa bahas.

Tuh.

Karena Safari juga lagi menggenjot ya.

Mengenjot.

Mulai atix, ngejar.

Dia nggak mau dikatakan

jadi the next IE.

Next Internet Explorer.

Oke.

Kalau gitu, untuk malam ini, mungkin

udahan dulu. Terima kasih banyak buat semuanya.

Untuk topik-topik dan

diskusinya seru banget. Sampai ke mana-mana

kita bahas ya. Sampai ke AI. AI itu

sangat seru. Sampai kerjaan

digensur robot.

Jadi kerjaan kita

kan tinggal nyuruh-nyuruh aja.

Itu bisa jadi topik sendiri

dan

kita bahas nanti lah.

khusus gitu. Jadi lebih seru.

Sekian aja untuk malam ini.

Terima kasih banyak semuanya.

Sampai ketemu lagi

di selasa depan.

Terima kasih. Kita masih ketemu lagi

selasa depan. Selamat malam.

Selamat istirahat. Bye-bye.

Bye.

Sudah.

Sudah.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Topik bahasan: - Berbagai topik web di Google I/O - Passwordless Authentication - Wasm - WebGPU - Baseline - Tailwind project 🤔 Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .