Ngobrolin Buku Halo Koding
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiEpisode ini membahas buku "Halo Coding" karya Hilman, sebuah buku yang membahas dunia pemrograman dari sisi manusianya, bukan dari sisi teknis. Hilman berbagi perjalanannya menulis buku selama masa pandemi, mulai dari motivasi awal yaitu menggabungkan passionnya terhadap menulis dan pemrograman, hingga proses self-publishing yang ia lakukan. Buku ini lahir dari keprihatinan Hilman melihat minimnya literatur tentang pemrograman yang membahas aspek non-teknis seperti mental model, tantangan psikologis, dan masalah keseharian yang dihadapi programmer. Episode ini juga menyinggung tentang imposter syndrome, strategi menentukan harga produk digital, dan pentingnya memulai hal-hal kecil (start small) dalam meraih tujuan besar.
Poin-poin Utama
- •Buku "Halo Coding" mengisi celah di pasar literatur pemrograman dengan membahas aspek non-teknis seperti mental model, tantangan psikologis, dan masalah keseharian programmer
- •Proses penulisan buku memakan waktu sekitar 3 bulan dengan menulis per artikel untuk kemudian dikompilasi, bukan menulis satu file besar dari awal
- •Hilman memilih jalur self-publishing karena ingin kebebasan konten tanpa harus melalui proses seleksi penerbit besar yang mungkin tidak sesuai dengan visinya
- •Buku ini awalnya ditulis tanpa permintaan pasar (bukan dari demand), namun ternyata membantu sebagai marketing tool untuk Sekolah Coding milik Hilman
- •Strategi penentuan harga premium didasarkan pada perhitungan bahwa investasi belajar coding jauh lebih kecil dibanding gaji pertama sebagai programmer, membuat produk sangat worth it
- •Tips untuk pemula yang ingin menulis buku: mulailah dari hal kecil seperti menulis artikel secara konsisten, gunakan sistem reward untuk diri sendiri, dan jangan takut dengan ketakutan atau imposter syndrome
- •Hilman berencana menerbitkan buku kedua berjudul "Halo Error" yang akan membahas tentang cara mengatasi masalah dan error dalam pemrograman
(musik)
Halo, halo, halo, selamat malam.
Akhirnya bisa live lagi.
Berapa minggu kita nggak live ya?
Gara-gara itu.
1 dan lain hal.
Sebelum eh yang sesudahnya.
Terus ada cara lain.
Gimana kabarnya?
Mudah-mudahan semua dalam keadaan sehat ya.
Kita malam ini masih berdua.
Kayaknya Ivan bakal nyusul,
tapi kita lihat aja nanti.
Tapi yang jelas kita nggak berdua atau nggak bertiga,
tapi kita berempat mungkin ya.
Karena malam ini kita kedatangan tamu spesial.
Istimewa.
Kita udah lama nggak bedah buku.
Jadi kita mau bedah buku.
Bukunya namanya Halo Coding.
Nah kita dapat kesempatan spesial bisa mendatangkan.
Yang nulis bukunya langsung.
Jadi kita langsung sambut aja Hilman.
Halo Hilman.
Halo Mas Riza, halo Mba Eka.
Halo Bu.
Gimana-gimana?
Boleh mungkin buat teman-teman yang belum kenal,
terus teman-teman yang belum kenal mungkin bisa perkenalan singkat dong.
Kalau belum kenal.
Lihat transkrip lengkap (910 segmen lagi)
Siap-siap.
Terima kasih banyak sebelumnya.
Saya yang terima kasih
diundang ke podcastnya Mas Riza.
Sama Mba Eka, sama Mas Ivan, makasih banget.
Ya buat teman-teman yang belum kenal,
saya mengajar di sekolah coding,
sekolahcoding.com
di sekitar tahun 2015.
Mulai dari Youtube, lalu ada website-nya.
Dan seperti yang disinggung tadi,
nulis buku di masa Covid.
Nama bukunya Halo Coding.
Saat ini bekerja sebagai seorang
nama rolnya customer success engineer.
Jadi gabungan atau hybrid-hybrid
antara customer success
di mana audiensenya itu atau user-nya itu developer.
Jadi bantuin developer-nya.
Dan sebagian waktunya lagi
dipakai untuk bantu marketing si produk
dari yang kita kerjain ini.
Sampingan lainnya lagi ada project namanya Warung Kopi.
Warung Kopi itu bantuin teman-teman UKM
yang mau bikin-bikin konten pakai AI
biar lebih ramah interface-nya.
Mungkin itu sih perkenalan singkatnya.
Jadi berarti sekarang itu kerja full-time-nya remote.
Tapi ada passive income,
sekolah coding, jualan buku,
sama tadi ya, Warung Kopi.
Nah ini tamu kedua kita, ada Ivan.
- Halo Mas Ivan. - Halo, salam kenal.
- Salam kenal. - Kenapa salam kenal sih?
Emang belum kenal.
Udah pernah ketemu ya?
Patah-patah ya, bentar. Kayak itu isi saya.
Patah-patah?
Oke, nah ini kan kita malam ini kan bedah buku ya.
Jadi beberapa episode yang lalu udah agak lama
kita kan sempat bedah buku yang direkomendasikan Ivan kan.
Terus abis itu kita sempat nanya-nanya juga
ke teman-teman yang nonton,
ternyata mereka masih menggemari format buku.
Saya kira tuh mereka udah nggak baca buku lagi gitu kan.
Ternyata masih banyak.
Banyak juga yang merekomendasikan buku Halo Coding.
Jadi langsung kontak Hillman malah dapat sambutan
yang ya boleh lah diundang dengan senang hati.
Nah, kita mau nanya dulu latar belakangnya.
Kira-kira waktu rencana mau bikin itu,
kepikirannya itu kenapa sih mau bikin buku?
Kalau diingat-ingat mungkin ada faktor ini juga ya.
Ada faktor, apa ya, bilangnya bahasa,
saya bingung bahasa halusnya mungkin egois
atau ngikutin passion yang selama ini dipengen yaitu
saya suka banget buku.
Jadi masih inget pas zaman SMP tuh bisa lama di library,
bisa lama di perpustakaan,
buat baca-baca buku, walaupun itu baca novel kah,
atau baca apa lah, majalah lah, atau sekedar koran gitu.
Jadi emang suka banget baca dari dulu.
Dari situ emang pelan-pelan mulai suka nulis juga.
Baru untuk khusus spesifik si Halo Coding ini
karena memang ngegabungin beberapa passion yang lain
yaitu salah satunya pemrograman,
kenapa enggak digabungin hobi saya yang suka pemrograman
dan hobi saya yang suka nulis.
Kebetulan pada saat proses menulis ini,
pada saat proses menulis Halo Coding-nya,
kalau kita coba jalan ke toko buku, ke bagian kategori pemrograman,
kita mungkin ketemu kayak tutorial membuat website dengan PHP dan MySQL misalnya
atau belajar Python versi sekian dan seterusnya.
Cuman yang saya tidak melihat di sana adanya membahas dunia pemrograming ini
dari sisi manusianya, bukan dari sisi teknologinya itu sendiri.
Ini ada gap yang saya lihat, padahal kalau kita mikir-mikir atau enggak,
paling tidak pada saat mendapatkan pertanyaan dari teman-teman
sebenarnya banyak kekhawatiran atau pertanyaan-pertanyaannya itu berputar
yang kita bisa tarik beberapa tema yang sama.
Dari situlah kepikiran, oh kenapa enggak ini aja ya.
Ngegabungin passion yang tadi, passion saya yang suka membaca, yang suka menulis
dan membahas seputar pemrograman tapi dari sisi yang beda, dari sisi manusianya,
bukan dari sisi teknologinya.
Berarti dari sebelum jadi programmer, udah senang baca dan udah pengen nulis,
udah senang nulis ya berarti?
Iya betul, jadi kalau saya ingat-ingat malah pernah jadi gitu novel,
mungkin saya enggak tahu umur 17 tahun atau apa tapi untungnya pada waktu itu
enggak diterima oleh penerbitnya jadi karena kalau ingat-ingat juga aduh
nulis apa ya waktu itu jujur enggak ingat nulis konkretnya apa tapi kayaknya
pasti belum banyak ilmunya lah waktu itu belum belajar teknik nulis,
belum belajar pengetahuan nya juga belum banyak jadi untungnya waktu itu
ditolak kalau enggak mungkin ya lumayan malu lah sekarang.
Kalau diterima terus entar jadi novelis.
Benar-benar banget itu pet yang lain yang kita enggak lihat gitu pada waktu itu
ya mungkin pada saat ditolak waktu itu kecewa tapi baru melihat ke belakang
oh ternyata ini bagian dari prosesnya itu terus ya sempat kayak nulis-nulis
pen juga pernah dulu yang rajin nulis itu pas zaman masih di Facebook
jadi suka dapetin feedback gitu dari teman-teman.
Ya hobi sih hobi nulis tapi enggak bisa diperkir juga faktor besarnya juga hobi
membaca karena saya itu enggak pada saat nulis ini bukan dari demand jadi bukan
orang kayak minta "Masilman tulis buku dong" enggak ada yang kayak gitu enggak ada yang
minta nulis buku tapi karena itu tadi ada sisi egoisnya saya atau sisi mau
ngikutin passion saya, saya tahu oh saya kalau baca buku nih UX nya beda gitu
kalau baca buku tuh senang kayak bisa tersesat gitu di dalam buku nah karena
faktor itu tadi yaudah saya mencoba ngikutin atau nge-push bikin buku ini tadi.
Tapi menarik sih kelihatan loh diisi bukunya kan tadi tuh baca pilih apa ya kayak
banyak referensi yang di luar dunia pemprograman kayak ada tentang Richard Feynman
itu yang productivity dia kan terkenal learning teknik gitu teknik belajar
ada nyebut apa kayak Maria Popova itu kayaknya seumur hidup baru sekali liat
programmer yang ngerti penulis itu karena dia fokusnya di apa lah kayak literatur
poesi kelihatan banget sih dalam bukunya masih aval semua isinya karena
beneran barusan banget nih baca gilat. Terima kasih, terima kasih udah dibaca.
- Nah ini yang ngomongin novel tadi masih kebawa ya kayaknya ya ke buku ini ya
kata Mas Dadan ini bukunya itu kayak campuran novel sama buku motivasi ya.
- Ya halo-halo Mas Dadan, salam kenal.
- Nah kan tadi Hilman sempat mention kalau bukunya ini bukan berdasarkan kebutuhan
atau demand dari market. Tapi ada tujuan target marketnya sendiri atau
yaudahlah idealisme aja lah tulis apa yang ada di kepala atau gimana?
- Jadi bener banget itu salah satu mungkin bukan tantangan tapi ketakutannya ya
pada saat nulis itu ini ada gak sih yang mau soalnya bukan dari demand tapi
memang kalau dari kalau kita ngomongnya mungkin bisa dilihat dari dua sisi
kalau kita ngomongnya dari sisi bisnisnya karena saya waktu itu sudah ada
sekolah coding jadi marketnya sudah ada at least saya bisa promosiin ke market
sekolah coding ini tapi tetap aja kalau jujur waktu itu kalau ngebayangin gitu
kayaknya pas udah produksi doanya tuh kayak aduh satu lucin aja ada yang beli nih
bersyukur banget gitu paling gak malu lah udah nulis buku lama-lama terus gak ada
yang beli kan sedih banget kayaknya jadi tetap sisi itunya tuh ada terus kalau bukan
jadi dari sisi bisnisnya itu mikirnya kayak oh adalah yang beli at least itu tadi
satu lucin adalah dari sekolah coding yang beli terus kalau dari sisi lain
nge pushnya juga karena apa ya saya ingat juga waktu itu pernah podcastan
juga saya ngomong sama Mas Riza, Mas Riza nanya kalau kita bikin tutorial tuh
bukannya tutorial tuh bisa usang ya bisa teknologi itu kan berubah terus ya bisa
yang kita ajarin sekarang bisa hilang nah itu mungkin jadi salah satu faktor juga
kalau saya cuma ganti-ganti bahasa program ganti-ganti ngajar framework versi-versi
teknologi mungkin itu semua bakal usang bakal hilang tapi kalau saya nulis buku
apalagi bukunya gak membahas versi teknologi tertentu tapi membahas apa mental model
bahas masalah keseharian pengprograman, masalah tantangan, masalah kesempatan
cari kerja dan lain-lain mungkin itu bisa lebih bertahan lama dibanding
ngebahas teknologi tertentu jadi itu campuran beberapa faktor yang nge push
sampai nulis si haloko dingin.
- Oh enggak jadi enggak pakai sistem kayak apa kayak kalau di luar itu kan biasanya
kalau mau bikin produk mau bikin buku bikin landing page-nya dulu terus orang pre-order
bayar duluan udah sampai satu lucin baru dibikin enggak gitu ya sistemnya ya?
- Iya enggak jadi alhamdulillah belum belajar waktu itu kalau sekarang mungkin
harusnya bikin keingin tujuan waktu itu ilmunya belum nyampe sana
jadi itu tadi sih faktor egoisme pengen nulis buku sama mungkin faktor kurang ilmu
ya jadi enggak mempraktekan itu tadi.
- Oke bukan egoisme mungkin lebih tepatnya idealisme kali ya.
- Idealisme. - Iya boleh.
- Ini menarik nih jadi target market-nya Hilman katanya minimal adalah orang-orang
yang sudah ikutin sekolah coding tapi kalau dari sudut pandang saya justru buku ini
jadi leads untuk orang mau join ke sekolah coding gitu.
- Jadi istilahnya kaya buku ini sebagai apa ya menjual si sekolah coding juga
jadi saling ini saling berputar aja tuh di situ gitu.
- Blessing in disguise. - Benar-benar sangat-sangat
- Blessing in disguise.
- Jadi tifat dari ini ya mungkin konten ketika kita bikin konten dalam bentuk apapun gitu
dalam misalnya memposting Instagram bisa jadi itu mempromotikan hal lain bagitupun sebaliknya.
- Oke ya ini salah satunya adalah Anur Holit nih buku yang sangat memotivasi pas awal coding
orang baru mulai belajar coding kayaknya baca buku ini kayaknya cocok gitu ya.
- Ya sih ini motivasi banget kayak tadi pas baca sebetulnya karena udah teranjur ya
sebetulnya jujur kalau tadi pas aku baca sih ya bisa dibilang nggak terlalu dapet hal yang baru
karena udah ngalamin ya tapi dapet maksudnya oh iya bener juga oh iya lebih gitu.
Cuma maksudnya ini impact maksimalnya sih bagusnya pas belum mulai coding sih ini
maksudnya kalau menurut ngepadku pribadi jadi kalau baru mau dokter sekolah coding
atau masih tanya-tanya ini bagus nih cekokin buku ini.
Jadi apa, tercerahkan sama lebih tahu arah gitu loh jadi nggak misalnya
baru ikut satu dua pelajaran terus oh kok saya belum bisa bikin facebook
atau apalah sama saya jadi kayak buat vaksinasi untuk masalah-masalah deser
yang dialamin mungkin pas mulai ngikutin pelajaran di sekolah coding
atau ya atau program belajar lainnya.
- Iya setuju sih setuju banget jadi emang banyak hal-hal di sini tuh ketakutan
atau ketakutan atau masalah yang pasti semua programmer hadapin gitu
yang sebelumnya nggak banyak dibahas karena kalau kita lihat di forum-forum
atau komunitas biasanya tuh ya nanya specific error nanya but
padahal ada di luar itu yang sebenarnya kalau kita sharing
kalau kita ajar kan bisa jadi itu sama seperti apa ya ibaratnya ngasih pancingan
dibanding ngasih ikannya langsung.
- Ini juga kalau saya perhatikan dari konten bukunya ada manifestasi dari
tuh podcast teh atau kopi ya kalau misalnya ya beberapa ya.
Jadi mungkin brainstormingnya di situ ya atau gimana?
- Iya jadi kalau dibaca sih buku Halo Coding ini bukan kayak buku-buku umum
dimana yang ada ceritanya dari A sampai Z gitu kalau kita baca dari awal sampai akhir
tapi dia modelnya lebih kayak snippet-snippet atau artikel-artikel
yang digabung di grup jadi beberapa kategori karena emang inspirasinya pun
banyak dari situ salah satunya mas Reza sebut tadi untuk konteks
buat temen-temen yang belum tahu teh atau kopi itu podcast yang satu season
satu episode berjalan belum ada lanjutannya lagi.
Jadi itu podcast teh atau kopi banyak bahas hal-hal ya random banget sih
sebenarnya salah satunya misalnya bahas tema imposter syndrome yang dibahas
di podcast itu yang dibawa ke buku ini juga tapi dari sisi bukunya ini sendiri
emang dia formatnya seperti itu jadi banyak yang sebenarnya udah pernah
diposting di Instagram bentuknya atau sekedar status Facebook atau dalam bentuk YouTube
misalnya video jadi dari ini semua kita gabung-gabung di kelompokin semua kategorinya
mungkin sekalian aja dibahas ini apa ya mungkin salah satu tekniknya juga untuk
memudahkan dalam saya menulis yaitu dibanding ketika saya nulis blank dari 0
lebih enak ngambil referensi yang memang sudah relevan yang sesuai dengan tema buku ini
jadi nyomot-nyomot dari konten-konten yang sebelumnya ada termasuk salah satunya podcast tadi.
- Nah sekalian aja dilanjutin gimana sih proses bikin bukunya kan tadi udah ada itu
ide-ide nya tapi kan masih silo ya masih masing-masing gitu kan ada di podcast
video ada mungkin ya di posting Facebook atau di forum atau di mana catatan gitu
terus gimana cara menggabungkan sehingga jadi buku?
- Kalau teknisnya mungkin harus ada gambaran besarnya dulu atau mulai mungkin lebih enak dari targetnya tadi
yang ditargetin siapa sih si buku ini tadi yang disinggung Baeka yaitu
programmer pemula yang banyak bertanya satu dan lain hal entah karena baru nyemplung
atau belum nyemplung sama sekali masih ngintip-ngintip gitu.
Nah ini targetnya mereka atau temen-temen programmer pemula ini atau yang belum mulai sama sekali
jadi mulai dari situ targetnya terus kita bikin.
Saya bikinlah waktu itu apa aja nih tema-tema kira-kira yang sering ditanyain.
Ini yang menjadi chapter besarnya atau bab mensarnya masing-masing dari si buku ini
salah satunya ada mencari kerja atau masalah tantangan di awal
atau masalah gimana belajar pemrograman dengan baik.
Nah ini jadi tema-temanya barulah dari tema-tema ini dikecilin lagi jadi artikel apa aja
atau tema apa aja yang mau dimasukkan ke masing-masing chapternya ini tadi.
Nah prosesnya sendiri di situ baru digabung-gabungin bisa jadi dari konten yang sudah ada
yang tadi kita sebutin atau murni dari merenung seharian kira-kira apa sih dari pengalaman
yang pernah saya alamin yang bisa dibungkus jadi story.
Jadi dari story itu kita ceritain baru sampaikan poinnya di akhir bisa jadi-jadi seperti itu
atau dari emang niatin ingat juga waktu itu ngumpulin beberapa buku gitu di tema tertentu
terus udah dibaca bukunya gitu terus nyari referensi oh ini bisa nih masuk ceritanya si ini
si X ini kita masukin ke si tema ini.
Jadi pada saat prosesnya itu sendiri udah campur aduk tapi sebelum itu kita sudah punya target
marketnya target pembacanya siapa sama tema-tema besarnya apa yang mau dibahas.
Jadi nanti tinggal menglompokan si artikel-artikel ini ke tema-tema tersebut.
Nah mungkin dari situ ya baru nanti dipindahin ke satu buku satu word gede itu.
Oke total berapa lama proses pembuatannya?
Seingat saya yang betul-betul waktu itu disiapin waktunya mungkin sekitar 3 bulan ya
kalau gak salah tapi pasti lebih sih lebih dari itu.
3 bulan tuh kayak fokus ngerjain si bukunya ini 3 bulan.
3 bulan itu ngerjainnya setiap harika atau seminggu sekali atau abis kerja atau gimana?
Waktu itu statusnya...
Belum full time ya?
Iya belum full time jadi masih fleksibel ngatur jadwalnya jadi ini emang yang salah satu jadi
prioritasnya waktu itu seingat saya sih waktu itu hampir setiap hari jadi bikin manual
di buku fisik, buku yang bisa saya lihat.
Tunis manual?
Enggak ininya kayak tuduhnya gitu.
Outline-nya.
Di check box yang banyak jadi kayak aplikasi habit itu sekarang dicetak setiap hari
itu yang jadiin visualnya yang bisa saya lihat tapi di dalam bukunya ini juga
coret-coretan ininya caka rayamnya gitu coret-coretannya ada tema apa yang mau dimasukin
apa yang mau dimasukin soalnya sampe sekarang juga masih suka-masi suka beli buku kosong
sama full time buat nyoret-nyoret atau mikir masih pakai cara yang sama sampe sekarang.
Oke.
3 bulan ya?
Aplikasi?
Kalau aplikasinya dulu saya ingat saya tuh bare namanya ya bare beruang.
Oh iya punya tuh.
Nah itu sebelum tapi kalau sekarang mungkin bakal nulisnya di Obsidian soalnya udah
pindah juga dari.
Obsidian.
Oh ada pin Obsidian ternyata.
Dua tahun lalu cuma karena bukunya ditulis tiga tahun lalu mungkin waktu itu
tahunnya bare jadi format nulisnya itu dibikin per article tadi jadi gak satu file
semua bukunya disitu karena disitu bakal ada halangan saya harus nyari terus
nge scroll segala macem tapi kalau saya bikin per article saya bisa lebih mudah
nyarinya karena sebelum dia jadi satu buku pun kan dalam proses nulis itu pasti
ada proses ngedit itu jauh lebih enak ngeditnya ketika kita fokus ngeliatnya
secara visual ya kita ngeliatnya satu article itu aja gitu kita fokus kayak
nulis blog itu yang cukup ngebantu.
Oh ini Kaisah juga Obsidian.
Ada generasi yang pakai Apple Note gak sih?
Apple Note ada.
Tapi sekarang karena handphone nya udah ganti bukan Apple product jadi susah.
Kalau pakai ecosystem sih ngebantu kan di iPad nulis terus langsung muncul di netbook.
Nah ini mungkin di buku juga udah dibahas ya.
Tools itu kan gak penting kan. Kita nanya pensil apa yang dipake siapa?
JK Rowling kan gak penting. Tapi masih penasaran nih.
Kan kalau buku itu kan biasanya ada kayaknya dibahas juga di buku kalau gak salah ya.
Ada dua mode kan kita kalau misalkan mau content creation lah bikin content gitu ya.
Yang pertama adalah nulis dulu baru edit kan.
Jadi ada mode nulis sama mode edit kan.
- Editing sama editing. - Iya.
Jadi apakah pada saat edit itu ada apa ya ada editor atau apa yang ada orang lain
yang ngeliatin apa oh ini typo oh ini salah ketik atau gimana gitu atau sendiri aja semuanya?
Waktu itu editnya saya ngirimin bukunya setelah dicetak tapi cetaknya satu ya baru satu
biar ngerasa langsung gitu tadi baca.
Nah itu dikirimin ke temen atau yang nanti si temen saya ini jadi tim yang bantu jualin bukunya.
Jadi dikirimin ke situ prosesnya itu termasuk tadi bahas typo-tiponya dan minta feedback dari temennya.
Terus ini kan self-published ya publikasi sendiri gitu kan.
ISBN dan lain-lainnya itu gimana itu prosesnya? Sulit gak sih?
Ya jadi waktu itu juga belum ada pengetahuan seputar bikin buku jadi masih nyari-nyari juga.
Jadi setelah di programming kita pelajarnya di konstruk mungkin di pretalin satu-satu
apa sih yang dibutuhin sebenarnya yang nulis buku.
Jadi setelah kita gali-gali sampai dasarnya oh ternyata ya kalau mau bikin buku
satu bikin tulisannya dua kepercetakan dicetak bukunya gitu ternyata se-simple itu sebenarnya.
Nah terus yang ngebedain apa sih sama kalau gak self-published kalau kita ke toko-toko,
sorry kalau penerbit-penerbit gede jadi ya itu mereka udah punya channel ke toko-toko buku
jadi kita bisa bukunya itu bisa jadi didistribusiin langsung cuma dengan terms and condition mereka.
Balik lagi tadi kalau ke self-published jadi itu ternyata yang dibutuhin ya tulisannya sama
kepercetakan buku gitu tinggal kita kepercetakan eh mas ini saya ada PDF tolong di printin dong kayak gitu.
Nah terus baca-baca lagi oh ternyata ada juga yang disebut sebagai ISBN atau nomor-nomor identifikasi
bukunya ini, ini manfaatnya buat memudahkan orang mencari atau juga bisa dibilang kasarnya
dalam tanda kutip lebih official gitu jadi dia bisa ada di perpustakaan nasional misalnya
terus orang search by nomornya ini pun ada jadi si ISBN ini kita bisa secara mandiri
kalau saya gak salah ya kalau saya gak salah ke perpustakaan nasional kayak ngurus semuanya sendiri itu bisa
atau alternatif lain yang saya lakuin waktu itu saya ke penerbit Indi jadi bukan penerbit besar
tapi ke penerbit Indi minta saya mau dong ISBN doang jadi waktu itu berpisah tempat bikin ISBNnya
jadi setelah ada ISBNnya saya bisa pakai ISBN ini saya datang lah ke percetakan ngasih full tulisan
dan PDF yang saya punya sudah lengkap dengan covernya tinggal bahas material bukunya,
bahas size-nya dan lain-lain lebih ke fisiknya waktu itu kalau ke bagian percetakannya
udah setelah ke percetakan bukunya sudah ada nih kita udah bikin buku mau 10, mau 100
YPR berikutnya ya kita jualan, kita jualan bukunya itu entah kita mau bikin entah kita mau distribusiin sendiri
atau yang saya lakuin waktu itu saya nyari teman, saya nyari teman yang waktu itu masih jomblo
lagi kosong kalau malem begitu kalau udah pulang kerja kosong boleh deh bantuin
ini katanya sambil ini juga kan kita profit sharing juga jadi saling menguntungkan
Ada minimal order waktu cetak itu sendiri?
Kalau saya ingat saya sih di percetakan yang saya datangin ini nggak ada minimal order
tapi yang pasti kalau kita mesinnya satuan pasti jauh lebih mahal
mungkin mirip ini ya kayak mesin custom kawas
Jadi makin sedikit volume-nya makin mahal pasti
Tapi buat ISBN ya berarti itu tuh nggak ada syarat minimal ya berarti asal ada judul sama pengarang gitu
Iya sepertinya seingat saya itu sih tulisannya ada terus judul dan biodata si penulisnya bisa ngelitin ISBN itu tadi
Nah proses apa yang tadi bikin ISBN percetakan dan lain-lain itu
dipikirin atau ditanya-tanya sebelum bikin buku atau bukunya udah siap baru nanya-nanya
mau bikin ISBN gimana mau saya publish gimana atau sambil jalan?
Waktu itu statusnya mungkin jadi versi pertama tapi waktu itu udah tahu pasti bakal harus ngedit lagi
jadi sambil si versi pertamanya ini udah jadi udah mulai explore-explore nanya-nanya
atau lebih ke googling sih googling gimana sih caranya orang ngerbitin sendiri
jadi opsinya itu luas banget mulai dari yang tadi ya kalau nunggu oh sorry tadi saya lupa nyebutin perbedaannya
kalau kita penerbit besar itu ya dia harus accept tulisan kita kita nggak bisa minta tolong eh tolong terbitin
terus langsung diterima nggak tapi itu ada proses mereka harus nerima dulu beda sama yang saya lakukan
self-publishing ini ya terserah kita, kita tinggal nyetak sendiri apapun isinya mungkin isinya nggak ada
sensualship-nya atau nggak ada standar indinya ya standar yang kalau kita ke penerbit tuh
mereka mungkin punya standar masing-masing entah melihat dari segi market-nya melihat dari segi demand-nya
jadi itu mungkin salah satu ininya salah satu faktor kenapa ke self-publishing
hmm oke kita belum ada sih ya apa publisher yang indi yang apa ya yang nisnya ke programming ya kayak pragmatik programmer gitu ya
karena nggak sebanyak itu juga kayaknya orang yang bikin buku programan
ya cuma kalau kelebihan dari publisher besar adalah buku kita bisa ada di toko-toko buku kan ya
jadi ini kan kita benar-benar marketing sendiri ya, marketing sendiri ya
- Betul - Oke, nah selama proses bikin buku itu ada momen-momen yang menyenangkan nggak sih?
- Banyak sih ya karena mungkin karena hobinya itu tadi hobi dari dulunya tuh nulis
mungkin setiap nulisnya itu sebenarnya spend waktu untuk nulis yang sebelumnya apa mikirin pomrograman aja gitu
tapi ini ada spend waktu untuk nulis untuk belajar psikologi orang, belajar behavior orang, belajar masalah-masalah sama tantangannya
jadi itu kesenangan tersendiri meskipun mungkin bukan kesenangan yang terlihat dari luar gitu
kelihatannya mah kayaknya alisnya ngerut atau bete gitu padahal ya itu senang sebenarnya cuman
berbeda mungkin kalau ketika bukunya udah jadi, udah terjual itu senangnya kan mungkin ekspresif kelihatan gitu
ada angka kuantitatifnya terus ya itu senang juga cuman beda, senangnya beda
- Oke, kalau tantangan yang dihadapi selama pengerjaan buku itu apa yang paling berat?
- Tantangan mungkin ini yang gak bisa dihindari masalah ketakutan itu tadi
karena bikin bukunya ini bukan dari demand atau bukan dari permintaan orang-orang
jadi perasaan kayak aduh ngapain sih lu capek-capek nulis buku entar gak ada yang beliin, entar gak ada yang ini
ngapain sih kayak gitu jadi itu gak bisa dipungkiri ada terus pasti entah selama nulis, selama proses nyetak
atau sampai mulai ngejualnya pun pasti ada rasa itu mungkin itu tantangan beratnya
kalau selebihnya sih saya mungkin apa ya mungkin masuknya tantangan yang positif ya
itu hal yang menyenangkan sebenarnya yaitu nyari-nyari banyak referensi, mulai baca-baca buku lain
entah itu e-book atau buku-buku fisik, jadi memperbanyak referensi lebih ke ini ya
lebih ke apa yang saya lakukan waktu itu bukan tantangan yang negatif gitu yang hal saya gak mau
- Oke, cara menghilangkan ketakutan itu gimana sih?
- Ada kan itu di bukunya? - Ada ya
- Nah kalau versi panjangnya gimana coba dijelasin
- Iya jadi mungkin yang dialamin ini tadi jadi salah satu artikel yang ada di buku ini
yaitu masuknya dibilangnya imposter syndrome, imposter syndrome itu ketika kita ngerasa takut
untuk ngelakuin sesuatu meskipun kita sudah berjuang ngelakuin hal tersebut
meskipun sudah ada bukti-bukti nyata, meskipun kita udah ngelewatin prosesnya
ternyata pada saat sampai di posisi itu pun kita masih ada perasaan takut
entah itu kayak takut nipu orang, takut kayak wah ketahuan nih gue gak bisa apa-apa
padahal kita udah berusaha gitu untuk mendapatkan skill, mendapatkan pengalaman
dan bekerja di hal yang kita kejar itu tadi, jadi ternyata setelah saya pelajari
oh ternyata perasaan ini perasaan yang lazim, yang banyak dirasain oleh profesional lain
mulai dari penulis, mulai dari programmer dan lain-lain, jadi hal ini hal yang dirasain semua orang
dan ternyata bagusnya ketakutan ini gak perlu kita hilangin, gak harus nunggu hilang dulu baru kita action
tapi ya action aja kita lakuin tapi bukan dalam arti udah saya pakai knowledge yang saya punya sekarang
saya udah pintar bukan tapi kita tetap belajar terus tiap hari, kita tetap cari tahu apa sih yang dibutuhin
untuk apa yang mau kita lakukan ini, kita belajar benar-benar, kita praktekin benar-benar
habis itu baru kita lanjutin langkah-langkah atau step by step yang harus kita lakuin
mungkin bagian dari tipsnya juga nge-break task-tasknya apa yang mau kita lakukan
harus kita lakukan satu persatu, seperti tadi diceritain prosesnya mulai dari
nulis per artikel dulu atau nulis idil besarnya dulu baru nanti pikirin masalah percatakannya
masalah marketing, masalah jualan, dan lain-lain
- itu perlu di-highlight juga, jadi kalau misalkan temen-temen ada kepikiran gitu ya
kayaknya suatu hari pengen bikin buku, mulai jangan langsung ini ya, jangan langsung pokoknya ya boleh sih
tujuan mau bikin buku gitu tapi kayaknya lebih bisa digapai
bisa digapai kalau bikin artikel aja seminggu sekali atau sebulan sekali
dikumpulin nanti baru jadi, bisa dijadikan materi untuk buku gitu ya
- ya benar-benar dan sisi, sorry ya saya tambahin tadi sisi lainnya itu
kadang kita pengen sesuatu padahal belum tentu kita pengen itu gitu
contohnya tadi bisa jadi kita ngebayangin oh kayaknya keren nih punya bukunya
padahal pas ngejalanin prosesnya itu tadi baru nulis 2 artikel tiga artikel
ternyata udah aduh pengennya gak cocok deh, gue kayaknya gak suka deh
jadi dengan ngelakuin yang mas Riza bilang tadi, ngelakuin hal-hal kecilnya dulu
itu kayak kita ngetes-ngetes dulu, oh beneran gak sih saya suka, beneran gak sih
saya mau ngelakuin ini dalam jangka panjang, karena kalau enggak ya sekedar itu aja
sekedar lewat, ya benar, sekedar jadi kayak apa ya hal, enggak enak banget kayaknya ini
padahal ternyata pas udah dapetin itu bukan itu sebenarnya yang dia mau
- gimana Ivan tadi mau nanya atau mau komentar?
- enggak, cuma bilang ini aja beriklan doktas itu start small aja
semuanya berawal kecil juga kan kita juga di titik ini juga berawal dari langkah
kecil-kecil - betul, betul
Nah, Hilman waktu udah berniat mau bikin buku sempat belajar gak sih
gimana cara nulis buku, gimana cara nulis yang bagus, atau beli e-booknya dulu
belajar kursnya atau apa gitu? - Iya, belajar, cuman mungkin bukan
karena mau nulis Halo Coding ini jadi belajar nulis, tapi emang udah dari
mungkin udah bertahun-tahun sebelumnya, iya benar, udah punya ketertarikan
di dunia menulis, jadi banyak, salah satu ininya ya banyak-banyak membaca
banyak baca-baca, banyak, apa ya, banyakin referensi, tapi bukan dihususkan
untuk nulis si Halo Coding ini memang sesuatu yang udah terjadi selama ini
tapi sebelum nulis Halo Coding mulai lagi, mulai nyari-nyari lagi, reset-reset lagi
apa sih sebenarnya yang perlu disiapin gitu ketika mau benar-benar nulis buku.
- Oke. Nah ini berikutnya kita ada apa ya, ada beberapa hal yang menurut kita
menarik dari buku, dari yang ada di buku ya, salah satunya kalau dari saya tuh
yang sangat menarik di buku itu adalah gimana cara menentukan harga premium
sekolah coding ceritanya gitu ya, itu seru sih, maksudnya kan banyak ya cara-cara
menentukan harga dari sebuah produk kan, dan di sini diceritakan jadi dapat
ini juga, dapat insight juga menarik ya. - Iya, saya mencoba ingat-ingat jujur
saya nggak ingat apa yang saya tulis di bagian itu, tapi mengingat-ingat kejadian
dalam menentukan pricing itu memang agak challenging, untuk konteks,
si sekolah coding ini saya bikin website untuk ngajarin, bikin video tutorial
untuk pemeriksaan, konsepnya waktu itu agak berbeda kalau orang biasanya jual
pada zaman itu ya tahun 2015 biasanya orang beli DVD atau beli dalam bentuknya
fisik gitu, dalam bentuk buku, kalau ini dia modelnya video, video on demand
jadi orang model pricingnya pun berbeda yaitu subscription, dimana di Indonesia
sangat tidak di support sebelumnya, sebenarnya sistem payment ini karena orang biasanya
sampai sekarang juga masih susah ya. - Jadi dimana orang modelnya itu
bayar per bulan, tapi waktu itu kepikirannya karena saya pribadi mengajarnya
ada banyak hal kayaknya, sebenarnya lebih ke random ya mau bilang lebih ke random
ada front end, ada back end dan lain-lain, jadi kayaknya lebih make sense waktu itu
mikirnya untuk lebih affordable mungkin buat orang-orang udah sekali subscription aja
terus terserah dia gitu mau pilih pet yang mana, mau pilih belajar yang mana
terus untuk menentuin pricingnya sendiri di awal-awal mungkin agak nembak-nembak ya
agak nembak-nembak dulu, tapi saya ingat saya selama perjalanan sekolah coding itu sendiri
saya itu selalu naikin harganya, jadi mungkin setelah 3 bulan atau 6 bulan in
naik mungkin anggaplah awalnya 50 ribu dari 75 terus sekolah 50 yang ternyata
tractionnya itu gak menurun ternyata malah bagus-bagus aja, jadi mungkin
ya jadi kalau dari pricing ya mau gak mau kita harus tes dulu kalau pada saat itu
kasusnya saya karena belum ada komparasi di market tapi mungkin sekarang
karena situasinya beda kalau temen-temen yang mau bikin mungkin udah harus
ngeliat lagi di market harganya berapa sih apakah ini mahal, apakah ini murah
karena itu harus disesuaikan juga dengan target marketnya dan bisa jadi juga
si orang lain atau perusahaan lain ini udah ngelakuin riset ini buat kita ya
kita tinggal nyontek aja pricingnya mereka, gimana waktu itu tes-tes terus
kalau diingat-ingat ke belakang memang agak apa ya, agak kalau kita nanya orang
mungkin agak aneh gitu kok malah naikin harganya gitu, biasanya kan orang
suka dispon, orang suka tambah murah tapi ternyata ya memang kalau kita
pengen bikin sesuatu memang sisi idealismenya kita pengen mengajar gitu
pengen nyampein sesuatu tapi kalau kita mau survive, kalau kita mau bener-bener
bikin sesuatu dalam jangka waktu yang lama ya kita gak bisa bohong
apalagi waktu itu saya gak bekerja, saya full ngurusin sekolah boarding ya harus
ada incomenya, harus ada penghasilan yang bikin saya, bikin saya bisa gak
perlu banyak mikirin hal-hal lain selain bikin konten atau mengajar
programming itu sendiri. - Mungkin yang saya masih ingat nih apa gimana
caranya waktu, ceritanya di buku ya menentukan harga premium waktu itu
kalau gak salah Hillman itu matok harga kira-kira apa gaji pertama dari
audiensenya, jadi audiensenya yang tadinya gak belajar coding terus abis itu dia
mungkin belajar abis itu dia di-hire dan uang sebagian gajinya itu cukup untuk
membayar harga premium si sekolah coding gitu ya.
- Oh iya terima kasih, terima kasih Mas Riza udah ngingetin poin itu
jadi disampai Mas Riza tadi ini perhitungannya dari anggaplah gaji gitu
gaji UMR sekarang mungkin beda-beda tiap daerah tapi kalau dibandingin dengan apa
yang dia bayar entah itu per bulan bahkan sampai satu tahun pun angka ini
sebenarnya masih jauh di bawah gaji pertamanya dia itu sendiri jadi kalau
kita mau lihat dari sisi worth it tentu worth it karena apa yang dia akan
hasilkan jauh lebih banyak dari apa yang dia investasiin sekarang ini.
Cuma mungkin challenge nya itu ya ngebungkus, sorry ngebungkus ketika kita
ngejual sesuatu apalagi mungkin statusnya yang sebelumnya misalnya entah itu dia
gratis di hubung atau orang bisa akses lewat artikel mungkin tantangannya itu ya
apa sih value yang jadi tambahan biar kita bisa ngejual di harga yang layak.
Iya. Nah ngomongin harga, gimana cara menentukan harga buku ini akhirnya jadi
berapa? 150 ya kalau yang bukunya aja gitu ya buku yang paket eh yang paket
yang di print ya di print. Angkanya waktu itu kalau saya memang mau setnya dia
istilahnya di harga yang premium karena kalau kita buku atau sekitar 3 tahun
lalu itu emang harganya mungkin kalau ketukuh buku itu angkanya 50 atau 75 tapi
saya coba menghitung entah itu di excel atau di notes biasa saya menghitung oh
kalau saya harus bayar orang untuk sisi tadi untuk bantu menjualin terus kalau
saya mulai breakdown ini dulu cost, cost dasarnya dulu berapa sih biar balik
modal dulu nih harga satuan bukunya tuh berapa sih nah jadi itu yang jadi harga
awal anggaplah misalnya 50 ribu atau 75 ribu itu harga awalnya buat balik modal
nah setelah itu udah nambahin margin yang kira-kira bikin bikin apa ya bikin
saya pribadi buat worth it gitu buat ngejual si bukunya ini karena dengan itu
tadi dengan adanya dengan adanya profit tadi atau dengan adanya uang lebih dari
yang kita dapetin dari produk ini sebenarnya uang ini yang mau kita putar gitu untuk
biar kita lebih relax biar kita lebih santai untuk bikin-bikin hal-hal yang
kita mau bikin selanjutnya. - Terus juga buku ini ada versi e-booknya juga ya?
- e-book PDF. - Ya betul ada versi e-booknya saya nggak monitor ininya sih nggak
monitor angkanya berapa yang terjual sampai sekarang tapi dia selalu available
kalau si versi e-booknya ini berbeda sama buku fisiknya kalau buku fisik saya
biasanya beli cetak dulu per batch entah itu 100 atau 150 baru dijual.
- Oh jadi sistemnya pre-order ya? - Iya betul.
- Jadi order masuk dulu abis itu baru dicetak atau cetaknya ada berkala?
- Oh nggak kita itu tetap mesen otomatis mesen 100 atau 150 tapi di toko onlinenya
kita bilangnya itu pre-order tapi sebenarnya pre-order itu cuma sekedar untuk
menjaga-jaga soalnya kan saya mendelegasikan ini ke orang si orangnya ini full time
saya nggak mau ini kayak jadi perjalanan utamanya dia ya jadi saya nggak mau dia kayak
oh ada order masuk dia harus langsung packing jadi saya setnya di sana pre-order
mungkin 2 minggu tapi aslinya orang itu akan dapat bukunya mungkin sekitar 3 hari
atau tentupun ada tergantung availability dari masnya dari yang bantu saya ini.
- Yang bantuin itu ya oke menarik ya. Tadi kita iseng-iseng sama Eka tadi sebelum acara
sempat nyari-nyari ternyata banyak juga yang menjual bukunya entah bajakan atau dia
beli abis itu dia jual lagi gitu ya.
- Tapi kita sampai konspirasi penimbun apa soalnya banyak yang menjual lagi kalau biasanya
asumsi kita kan bajakan kayak beli aja pdf nya terus dicetak lagi dengan kualitas
yang terlalu bagus jual lebih murah buat orang-orang yang nggak mampu atau nggak mau keluar
uang untuk buku aslinya. Nah tadi tuh kita agak amaze karena ini lebih ajaib lagi
kayak dijual dengan harga lebih mahal itu emang begitu.
- Cukup kaget sih sempat juga waktu itu udah lama sih ngeliat di toko lain loh
kok banyak banget yang menjual tapi sejauh ini cuma ada satu yang dalam tanda
kutip ofisial yang memang dia belinya baj terus dijual ke audiensnya mereka.
Nah itu kita set harganya, harganya tentu lebih murah ketika dia beli baj tapi dari
dianya nggak boleh ngelewatin harganya kita.
- Oh iya tadi itu juga nemu tuh buku anak IT nama keponnya sampai file gitu.
- Iya iya iya oke oke menarik juga ya.
- Cuma berarti itu tantangan ya kayak misalnya itu ada nggak sih cara buat autor pemilik hak resmi
kan di salah satu e-commerce misalnya tinggal dicari nama bukunya muncul banyak banget tuh
- Bisa di report atau apa? - Bisa di report nggak sih ada hak buat nge-report?
- Mungkin bisa tapi saya jadi keingat kasus ini ya kasus YouTube jadi YouTube tuh banyak
yang ngelakuin hal yang sama jadi nge-re-upload terus dari akun yang jadi masalah itu
sebenarnya dari sisi kitanya kita jadi malah nanti malah capek gitu ngurusin soalnya
banyak banget. Prediksi saya sih atau guess-nya saya tuh mungkin si orang tersebut mungkin
ngeliat item apa yang lagi laku di kategori tersebut dia belum tentu programmer atau apa
tapi dia sekedar seller aja gitu dia coba yaudah gue beli yang sama tapi mungkin dia
maunya sistemnya dropshipping atau apa gitu saya ngebayanginnya dia ya pure-pure
orang bisnis aja dia kayak mau ngejual sesuatu yang dia nggak punya karena ngeliat
itemnya ini laku itemnya ini banyak yang cari jadi dia coba ngejual hal yang sama
dengan harga yang lebih tinggi. Mungkin ya itu tebakan aja sih tapi menjawab pertanyaannya
tadi saya menghindari melakukan itu karena kasusnya mirip kayak YouTube jadi kita capek
atau kebanyakan ngelakuin itu karena entry point untuk orang ngelakuin itu tuh
gampang banget jadi walaupun saya lapor sekarang ya besok kejadian lagi.
Gimana perasaannya pas ngeliat mungkin pertama kali muncul gitu eh ini dibajak nih apakah
senang ada chipen tertentu atau gimana apalagi ini cukup unik ya maksudnya biasanya kan
dijual dengan harga yang lebih murah supaya lebih banyak yang beli ini ternyata lebih
mahal gitu lucu juga ya. - Secara langsung ambil target marketnya kan?
- Ya mungkin ya sangat-sangat mungkin ke situ sih faktor dia bikin lebih mahal mungkin
karena dia mau sekedar pure business gitu dia mau beli di saya murah terus jual di orang.
- Mungkin karena pre-order mungkin pre-order jadi dari Hilman kan pre-order mungkin dari
dia bisa langsung mungkin gitu ya. - Betul bisa jadi itu ini ya tapi itu tadi sih
saya gak mau terlalu banyak mikirin karena iya kayaknya manfaatnya kesitu sedikit.
- Tapi terus ujung-ujungnya tetap beli di Hilman tetap beli di Hilman juga kan ujung-ujungnya.
- Ya mungkin sangat kecil sih kemungkinan mungkin ketika orang nyari keyword tertentu
di history tertentu di tokoan lainnya itu ya kalau dia ketemu dengan itemnya halokoding yang
original yang harganya lebih murah ya secara alami harusnya beli yang lebih murah ya dibanding
beli yang lebih mahal itu tadi. - Iya juga sih. Terus perasaannya gimana tuh waktu pertama
kali ngeliat ada yang bajak nih gitu? - Kaget sih tapi kayaknya ada perasaan itu juga deh
perasaan kayak oh keren juga nih orang udah mulai ini ya udah mulai. - Wow dia nge-ported
buat dibajak. Eh cuma gue juga pernah gitu sih dulu banget kan gue nge-band punya album
terus suatu hari liat ya maksudnya gak terlalu mainstream juga gak sekeci itu masuk radio
tapi yang gak se wow itu suatu hari di warnape dulu masih musim warnape. Tujuknya di warnape
ada bajakannya seneng sih jujur malah bangga. - Ada perasaan bangga juga ya ternyata ya.
- Tapi itu emang bukan nganggep sebagai sumber income yang gimana banget ya sebenarnya kalau dari
segi bisnis ya itu hal yang kurang menyenangkan buat kreator cuma pas itu emang feelingnya
"Oh dia nge-ported buat dibajak" - Ya bener-bener. - Itu juga ya.
Padahal kan ya tadi ya kita udah sempet bahas juga ini kan bahasannya nis banget kan programmer
abis itu seberapa banyak sih target audiensenya gitu dan mostly kemungkinan besar orang yang
beli ini kan setidaknya tahu antara tahu ilman atau tahu sekolah coding kan.
Kalau masih ada juga yang beli dengan harga yang lebih mahal kayaknya aneh gitu.
Masih gak habis pikir aja gitu. Tapi ternyata ada gitu ya. Jadi ya sudah lah ya gak usah dibahas lagi kali ya.
- Jangan-jangan itu kalau itu skema apa sih kayak pengadaan atau apa jadi orang mau bikin
perpustakaan sekolah mana. Kayak itu kayak cuci uang gitu loh. Kayak apa sih kalau yang tanaman hias
atau barang koleksi itu kan kayak harganya gak bisa dipatuk ya bisa diperibah mahal banget.
Ya itu kan gak bisa disalahin. Nah itu jangan-jangan skema yang aneh-aneh, skema kriminal.
- Bisa jadi semua-semua hal bisa terjadi di Indonesia. Semuanya mungkin.
- Nah sampe banyak komentar dulu tuh udah banyak komentar. - Oh iya komentar ya.
Nih ada dari Dita, For Dita nih. Salam dari Goa katanya. Saya tuh ngefan sama ilman soalnya.
Jadi ya gitu lah. Iri sebenarnya, lebih ke iri gitu. Kok ilman bisa saya gak bisa gitu ya.
- Harus jadi, semoga jadi motivasi Mas. - Amin, amin, amin.
- Halo Mas Dito di Goa, halo. - Ada masukan juga nih.
Mungkin akan menarik kalau cerita di Buku Halo Coding dibuat cerita animasi pendek.
- Menarik tuh. - Iya, dijadiin itu ya.
- Coding horror ya? - Hah? Coding horror?
- Ada itu. - Ada komiknya, ada komiknya coding horror.
- Coding horror atau coding humor deh? Lupa. Coding horror. - Coding humor kali.
- Oh coding horror. - Coding horror.
- Block kayaknya ya. Block. - Block kan coding horror?
- Ya, blocknya sih ini Jeff. - Oh kayak XTKD.
- Ya bener. - Iya, XTKD.
- Apa lagi ya yang menarik? - Iya, makasih ide-nya Mas Dadan. Terima kasih banyak.
- Jadi kalau ngeliat ini kalian ngeliat demand-nya juga atau ngeliat apakah orang tertarik membahas.
Ini kan lebih ke niche lagi nih, ngebahas al non-technis pemerograhan dalam bentuk animasi gitu.
Tapi terima kasih banyak ide-nya. - Setelah bukunya terbit,
apakah ada proposal dari penerbit-penerbit buku nggak untuk menerbitin bukunya?
Atau kerjasama atau gimana? - Sejauh ini sih belum ada ya dari...
- Belum ya? - Iya, dari penerbit besar.
Tapi emang waktu itu saya ada niat ketika udah reach, udah entahlah, entah mungkin dari satu tahun
atau mungkin dari angka penjualannya udah segini, mau propose ini ke penerbit besar itu tadi.
Tapi itu bukan apa ya, bukan prioritas atau bukan yang kayak harus diusahain banget gitu.
Tapi sejauh ini belum ada yang reach mau nyetak atau taruh di tokoh-tokoh buku gitu.
- Oke, jadi sekarang ini jalur penjualannya hanya dari online ya berarti ya?
Belum ada di tokoh-tokoh buku ya? - Iya betul, belum ada di tokoh buku.
- Hmm, oke. Nah ini tadi kita sempat nanya kan di penerbit yang programming ada nggak sih?
- Pemprograman ternyata ada. - Ada sebenarnya ya, ada.
Ada ya ternyata ya. Cuman mungkin proses masuk kesananya itu kayaknya agak beda ya.
Kita di luar sirkel kita kali ya, jadi kita nggak tahu caranya.
- Dan jenis bukunya kelihatannya ya kayak yang disebut Mas Hilman di awal tadi,
kayak tutorial PHP, MySQL, Ravelle 11, yang gitu-gitulah.
- Itu sih masih mending. Saya suka sedih ngeliat tutorial cara penggunaan Instagram, Facebook.
Itu lebih sedih lagi ngeliat buku IT. Di tokoh buku kok bukunya kayak gini banget gitu.
Kalau promembangan masih mending lah. - Di kategori IT ya itu.
Iya sih, informasi teknologi. - Terus ada yang pernah jadi memes juga kan.
Judul bukunya apa? Java, javascript, tapi logonya logo Java, gitu kan.
- Iya, tapi kurang tahu lah ya caranya, prosesnya di belakang,
tapi pasti kalau dari sisi penerbit besar pasti mikirin marketnya,
yang mungkin research-nya mungkin terbatas atau berbeda.
Mungkin bilangnya berbeda dengan market yang ini.
Jadi sangat-sangat berharap sih nanti makin lama hal-hal non-teknis seperti ini
juga bisa ada, nggak harus dari saya tentunya, dari Mas Riza atau siapa,
sudah ada buku-bukunya gitu di tokoh buku.
Jadi kita bukan cuma kelihatan di YouTube aja atau online-online,
tapi orang bisa berinteraksi langsung meskipun hanya bukunya.
- Kalau begitu Mas Riza, saya ada ide Mas Riza, podcast kita dari awal sampai sekarang
dimasukin ke AI untuk di note-taking, terus kemudian disummarize,
terus di cukur-cukur, jadiin buku, jadi artikel, jadi buku.
- Bisa, bisa. Boleh, boleh, boleh.
Dan apa ya, yang menariknya tuh waktu saya pertama kali dikirimin buku sama Hilman,
dikirimin ini, buku ini, kan ada pesen personalnya tuh.
Nah ini sebenarnya tujuannya, salah satu tujuannya adalah untuk itu ya,
untuk nyulek teman-teman content creator lainnya untuk bikin buku ya.
Benar nggak sih? - Iya benar.
Jadi ngasih konteks ke teman-teman, jadi pada saat setelah,
saya lupa cetak pertama mungkin itu mulai dikirimin buku.
- Jangan dilihatin ya. - Nggak kelihatan ya Mas itunya ya?
- Nggak kelihatan. - Jadi mulai ngirimin bukunya juga
ke teman-teman creator yang lain yang saya tahu aktif di channelnya masing-masing
atau orang-orang yang aktif di komunitasnya masing-masing,
meskipun itu komunitasnya offline, ya tujuannya itu tadi memang mau
memperbanyak hal-hal non-teknis ini dibahas di dunia nyata ya,
karena emang masalah kita tuh bukan cuma masalah teknis,
tapi seringkali ketika kita udah apa ya, nge-crack mental modelnya
atau nge-crack cara berpikir atau cara belajar pomrograman,
orang-orang tuh jadi bisa lebih mandiri.
Karena banyak orang pun yang meskipun setelah terjun di pomrograman,
udah dapet duit dari situ, tapi bisa jadi dengan hal-hal non-teknis
yang sebenarnya terjadi tapi mungkin tabu atau kita males bahas menganggap itu biasa
atau ah ntar juga orang lain ngalamin, padahal bisa jadi kalau kita sharing itu,
walaupun sekedar pengalaman apa gitu, apapun channelnya ya mau buku,
mau podcast seperti ini, mau artikel bisa jadi itu bisa ngebantu
dan ngebuka benar-benar mengubah hidupnya orang lain gitu, mau satu, mau dua,
tapi itu impactnya bisa sangat besar kalau kita mau sharing atau mau berbagai sesuatu.
Tapi di sisi lain ngelakuin yang tadi, ngebahas yang tadi ketika ngasih kreator-kreator ini
ternyata seperti Mas Riza dan teman-teman lain bantu posting, bantu sharing
yang saya gak mungkin pungkirin pasti membantu penjualan atau membantu promosi
atau marketingnya si buku ini tadi karena masing-masing teman-teman ini pun
sudah punya audiens yang berbeda, jadi kalau sebelumnya audiens saya terbatas
di Sekolah Kuening tadi, tapi nanti dengan mengirim teman-teman kreator si ASDB
kalau mereka posting atau nge-share informasi buku ini, jadi teman-teman tadi,
terutama teman-teman pemula yang ada di audiens mereka masing-masing
jadi jembatan juga untuk mengenal si bukunya ini.
- Oke, kalau gak tahu ya ini ada kaitannya atau enggak, tapi setelah buku Halo Coding ini terbit,
beberapa rekan-rekan kita yang ada di satu sirkel itu kayaknya nerbitin buku juga.
Pak Sandika Gali bikin buku kan, terus Mas Giri juga bikin sama Pak Ono.
Jadi senang lah gitu, mulai banyak buku, mulai banyak yang bikin dan masih apa ya,
istilahnya masih laku, masih banyak yang bikin buku dan seperti yang udah dimensin sebelumnya
di edisi beda buku sebelumnya itu ternyata kita kaget, masih banyak teman-teman yang terutama
audiens yang di sini tuh, teman-teman yang di sini tuh masih baca buku, saya kirain udah
udah gak jaman baca buku sekarang gitu, dan ternyata masih diminati, jadi ya menarik-menarik ya.
- Iya benar sih, cukup kaget juga sih, tapi kaget yang senang gitu, oh ternyata orang
masih mau kok baca buku, soalnya kan beda banget ya, sekarang tuh sama dulu behavior-nya orang belajar,
attention-nya orang kan pendek banget sekarang, kalau orang kebiasaan ngeliat fields, ngeliat TikTok.
- Kebiasaan aplikasi sosmed, apalagi kalau tau gak sih, setiap survei gitu soal literasi,
kayaknya kan Indonesia tuh selalu kayak dianggap... - Di paling bawah gitu.
- Iya, pokoknya di peringkat-peringkat bawah lah soal literasi, padahal jangan-jangan itu,
survei itu kan tergantung yang di survei siapa, apa respondennya, nah itu yang...
- Yang bikin survei nya juga. - Yang baca buku-buku itu ya gak ditanya kali,
yang ditanya yang sekalian aplikasi doang.
- Iya benar-benar, ya tapi itu fakta ini ya, fakta menarik sih, dan menyenangkan karena orang-orang
masih pada suka baca buku, dan ya gak perlu karena Halo Coding atau gak perlu karena buku saya,
tetap mengajak terus buat temen-temen creator, dan kalau belum creator pun,
saya yakin temen-temen pasti punya sesuatu yang bisa di-share ceritanya unik, tadi ceritanya
Mba Eka dari nge-band sebelumnya, terus entah kejemplung didorong atau mendorong diri sendiri,
terus jadi itu kan bisa sangat terrelated ke niche nya, ke orang-orang yang benar-benar
berbeda passion nya sebelumnya, berbeda aktivitas nya sebelumnya, jadi banyak hal-hal yang dari
setiap kita perjalanannya beda, pengalaman nya beda, itu yang bisa di-share ke orang-orang berikutnya.
- Oke, mungkin agak sedikit melenceng, sedikit tadi kan sempat dibahas perubahan behavior kan dari yang tadinya
mungkin dari sekolah coding kan mungkin durasinya agak panjang ya, 20-30 menit gitu kan,
terus sekarang kan attention penonton kan semakin kecil, apakah ikut beradaptasi mengikuti audience
atau masih tetap dengan format yang sama kalau untuk sekolah coding?
- Ini kelas-kelas nya ya maksudnya ya? - Kelas-kelas nya atau youtube channel nya Hilman sendiri?
- Kalau mengajar pemrogramannya sendiri sebenarnya memang dari dulu itu formatnya pendek-pendek
atau perpelajaran, misalnya bahas if statement sendiri atau bahas if else statement sendiri,
jadi memang di breakdown dari dulu, kalau pemrogramannya kalau dari youtube agak menarik
karena memang saya juga baru-baru mulai lagi belajar youtube, jadi dulu itu ya heboh
banyak orang yang nonton karena emang belum banyak kompetitor aja sebenarnya
kalau jaman-jaman dulu itu jadi mungkin views nya banyak atau orang banyak yang tahu
karena memang pada waktu itu belum banyak kompetitor di tahun 2015 atau 2016
tapi sekarang sudah banyak kompetitor saya harus belajar lagi, belajar masalah youtube
jadi itu lebih ke termasuk durasinya, termasuk gaya pembawaannya, itu semua saya belajar lagi dari nol,
saya belajar lagi dari youtuber-youtuber meskipun bukan dari industri pemrograman
tapi sama seperti mulis atau sama seperti belajar pemrograman dunia youtube itu menurut saya
dunia sendiri lagi yang harus dipelajari lagi buat saya, saya harus pelajari lagi dari nol
jadi yang sebelumnya saya sekedar record terus upload, record terus upload,
sekarang oh ternyata ada yang namanya hook misalnya, oh ada yang kita ternyata banyak youtuber-youtuber
yang script dulu misalnya, yang scriptnya diseriusin, ada orang yang mikirin thumbnail nya dulu
mikirin title nya dulu baru video nya, oh thumbnail nya harus mukanya yang "hah"
yang kayak gitu terus ada tulisan-tulisan klik B, klik B gitu
ya itu semua ternyata ilmunya sendiri gitu dan ilmunya pun berbeda-beda tergantung target audience kita
tergantung market kita sendiri, jadi kalau emang termasuk tadi ya masalah pemilihan thumbnail atau apa
kadang mungkin aduh kayaknya gak cocok-cok ini sama karakter gue masang muka, masang muka heboh-heboh
tapi oh ternyata target audience nya mau ngeklik, kalau mukanya digitu ini, oh yaudah kita harus ini
untuk sampai, ya karena sebelum orang nonton videonya, ya orang gak tau kita, gak mau nonton videonya itu
kalau gak tertarik entah dari title atau dari thumbnail itu, thumbnail sorry, jadi itu salah satu ini aja
salah satu hal yang saya pelajari dari setelah belajar-belajar youtube, jadi termasuk masalah durasi
lebih ke eksperimen sih sekarang nyoba-nyoba, oh gimana nih kalau orang panjang nonton gak, kalau pendek nonton gak
nanti baru, ya kayaknya kan ya panjang ideal yang kayak biar sering direkomendasikan dari algoritma lah
kayaknya banyak kisi-kisinya kayak gitu, ya bener, jadi ya orang-orang yang di ini pun ya mereka pun melakukan
eksperimen gitu, tapi yang penting kita jangan nelan bulat-bulat juga karena pasti setiap industri
mungkin bahkan setiap negara pun mungkin beda prakteknya terutama Indonesia yang sangat beragam orang-orangnya
jadi ya belajar dan lebih kayak eksperimen sih masalah durasi itu.
- Oke, oke. Nah mungkin ada tips gak buat temen-temen yang rencananya mau bikin buku?
- Mau bikin buku, tadi kan udah kalau bisa dicicil, dicicil kan sedikit-sedikit.
- Spoiler, spoiler, spoiler.
- Mungkin kalau dari tipsnya paling enak itu sih nyoba-nyoba testing kecil, kalau memang mau
nulis buku coba deh nulis satu artikel dulu, coba aja nulis, sekarang kamu gak perlu, orang kan biasanya
kalau programmer tuh, masalahnya tuh programmer kalau mau nulis blog sekarang itu harus bikin website-nya
sendiri, dia mau bikin website sendiri dulu, bikin blog engine sendiri.
- Installing burn, LH3A, Tursow, cobain semua teknologi baru-baru.
- Baru semuanya, baru postingan pertama, setelah itu udah gak ada lagi setelah postingan pertamanya.
- Nah itu challenge-nya diglover, padahal kalau mau nulis ya sebenernya pakai aja, kalau kita nanya
mas Irfan WordPress misalnya, atau ya ada Medium sekarang, ada bahkan nulis di sosial media pun,
Dev2, ada Hnode bener yang khusus programmer, padahal kalau di sosial media pun bisa nulis
di Instagram. - Blogspot masih ada gak sih?
Masih ada ya? - Masih kan di biar Google.
- Oh gak dimatiin sama Google ya? - Gak, itu kan kebus buat SEO.
- Btw saya ada tips nih, tips buat temen-temen yang mau belajar memulai nulis yang saya pernah
lakukan dulu, meskipun saya udah gak lakukan, udah jarang banget nulis, udah gak justifikasi.
Justifikasinya gak sempet, meskipun ujungnya sebenernya males.
Tapi zaman dulu waktu saya punya blog saya sendiri itu, saya sering banget nulis,
karena nulis itu pertama, karena waktu itu main SEO, jadi nulis itu bisa dapat duit dari AdSense,
dan dapat duit dari review. Jadi kalau nge-review produk orang biasanya, eh taruh dong,
semuanya backlink tuh dulu, kalau nge-review dapat backlink dibayar 100 dolar, 75 dolar,
lumayan buat jajan jaman dulu itu banget. Tapi mungkin sekarang sudah susah kayak gitu,
dari AdSense juga gak banyak-banyak amat, kalau main AdSense rugi kalau mau nulis.
Tapi bisa dari motivasi yang sama ya, misalnya kalian punya impian, misalnya mau ngeriward
diri sendiri, mau apa pun lah impian masing-masing, setiap orang berbeda,
saya gak bisa patokin jadi contoh, karena bisa jadi berbeda.
Ngeriward misalnya kalau saya nulis satu, saya ngasih duit ke diri saya sendiri sekian,
atau ngasih poin ke diri saya sendiri sekian, kalau misalnya poin itu tercapai,
boleh deh ngeriward diri sendiri, mendapatkan apa yang diimpikan itu.
- 10 artikel long form sebulan, beli sneakers baru atau beli salah.
- Apa pun lah ya. - Teknik ya sneakers ya.
- Yang sesuatu yang positif aja ya, sesuatu yang positif mungkin.
- Yang disukai. - Nintendo Switch atau apa ya.
- Beli MacBook baru gitu ya. - Macbook baru atau aksesoris, moto.
- Dua bulan bangkut, dua bulan bangkut.
- Saya pernah lakukan itu dan meskipun waktu itu nulisnya gak dibayar,
tetapi saya kayak ngeriward diri saya sendiri kalau waktu jaman itu,
saya nabung buat beli handphone jaman itu, tapi kalau melulu aja beli handphone
kayaknya keren asik saya. - Setiap bulan beli handphone.
- Setiap 10 artikel beli handphone baru. - Setiap nulis saya nabung 100 ribu.
Jadi waktu itu terkumpul 25 artikel baru saya beli handphone.
Jadi 25 artikel itu butuh waktu 2-3 bulan lah baru tercapai.
Itu cara saya jaman waktu masih muda.
- Menarik tipnya ngasih reward untuk hal-hal yang harus kita lakuin.
- PS5 juga bisa. - Kalau PS5 ini harus itu,
yang sudah berkeluar itu harus izinkan sama istri.
Kalau udah punya anak mungkin bisa buat anak gitu ya.
- Alusannya pemenaranya buat anak. - Tapi menulis, terutama menulis ya,
konten apapun terutama menulis itu kuncinya cuma satu ya, konsistensi ya.
- Iya benar. Dan emang ini ya, mungkin faktor di belakangnya emang ada sesuatu
yang mau di-share gitu. Saya ingat salah satu saran penulis yang saya suka namanya
Seth Godin, dia itu bilang, "Mungkin kalau emang ide yang kamu mau sampaikan
itu bisa jadi blog, ya udah nulis blog aja, ngapain bikin buku?"
Terus ada lagi yang baru-baru, sarannya Tim Ferriss yang nulis 4 hours workweek,
dia bilang, "Kalau kamu gak bisa spend waktu setahun khusus untuk dedikasi waktu
untuk bikin buku ini, yang mending gak usah deh, mungkin gak worth it bukunya
ditulis." Karena dari sisi gelapnya pun emang kita bisa ngeliat, oh jangan-jangan
ini ide saya doang atau kayak kita tetap ngelakuin step-step yang harus kita lakuin
karena ini ujung-ujungnya kita mau ngejual sesuatu atau mau orang lain yang menikmati
bukan untuk diri sendiri, ya kita harus tetap ngeliat, oh emang orang tertarik gak sih
dengan topik ini? Nah karena kita mau spesifik bikin buku, jadi kita bisa mulai
ngelakuin tes-tes kecil seperti tadi, nulis di sosial media, oh gimana nih
engagementnya orang dengan topik ini, emang orang tertarik gak sih dengan topiknya ini?
Jadi si sosial media yang gratis ini bisa kita manfaatin secara effort juga
lebih kecil dibanding nulis buku langsung, jadi kita bisa manfaatin ini dulu
untuk ngeliat arahnya audiensnya atau arah orang-orangnya atau kalau bukan dari
audiens kita sendiri kita terjun ke komunitas tertentu, ke grup-grup tertentu,
dari situ kita udah bisa ngeliat tuh apa sih yang sebenarnya orang cari, apa masalahnya
orang, dari situ kita bisa mulai ngebangun ide untuk si bukunya ini sendiri dibanding
ujung-ujung kita langsung, oh gue mau bertapa gitu 6 bulan untuk bikin buku.
- Tapi jangan juga jangan suka cari masalah-masalah orang juga ya.
- Cukup cari masalah dengan orang. - Berserta solusinya.
- Jangan cari masalah dengan orang lain juga. Cukup cari masalahnya orang.
Cukup cari masalah, tapi jangan cari masalah.
- Nah ini ada pertanyaan menarik nih dari Miracle.
Kalau pemula terus nulis tentang apa yang kita ketahui apakah gak masalah
soalnya terkadang kepikiran takut yang kita share malah sesat.
- Iya menarik pertanyaannya, jadi ketika kita nulis itu sebenarnya kita bukan
langsung nulis apa yang ada di kepala kita, tapi proses bagian dari nulis itu sendiri
kita ngelakuin riset, kita harus ngeliat oh bener gak nih apa yang pendapat kita
bener gak nih seperti ini, toh kalau pun ternyata yang kita tulis itu sesuatu
yang subjektif, kita boleh nambil referensi dari orang lain, nambil referensi dari
orang yang lebih ahli, kita coba kumpulin, kita jadiin satu, itu bisa dijadiin
satu ini. Jadi gak ujuk-ujuk yang dari kepala kita langsung dituang.
- Sorry, sebentar. - Kayak skripsi ya berarti ada hipotesa,
ada masalah, kayak rumusan masalah, hipotesa, terus ada teori, terus harus dibuktiin
pakai data atau apa lah, pakai penjabarannya, analisisnya, baru terakhir
kesimpulannya, hipotesa di awal betul atau enggak?
Iya bener, ingat itu biologi ya dulu, ada belajar kayak gitu jadi kita biologi atau
apa gitu, jadi ada ide atau hipotesa yang mau kita buktikan, jadi bukan langsung
ngambil kesimpulan dari apa yang kita tahu sekarang, tapi belajar lagi, kita belajar,
nyari referensi lain dan secara gak langsung manfaatnya buat kita pemulai ini
ya kita jadi tambah kuat akarnya, jadi tambah oh ternyata ini tuh yang saya
gak tahu sebelumnya saya jadi tahu, jadi sebelum ilmunya ini nyampe ke pembaca
kita sendiri sebenarnya yang dapat manfaatnya sebagai penulisnya.
Jadi saya recommended bukan cuma buat merekomendasikan bukan cuma pemulai
tapi siapapun untuk mulai nulis-nulis meskipun.
Jadi di kepala orang ini biasanya nulis tuh, nulis harus untuk orang padahal nulis itu
bisa untuk diri kita sendiri juga.
- Ikutan orang. - Betul.
Jadi kita bisa nulis buat diri kita sendiri juga tuh bisa loh sebenarnya kita jadi
belajar hal baru, kita nulis apa sih yang saya gak tahu sebenarnya dari topik ini
itu kita jadi cari tahu, nah masalah kamu mau publis tulisannya atau enggak itu ya
terserah kamu tapi kalau kamu mau share ke orang itu tadi ada step-stepnya kita
kita ngelakuin riset, kita nanya-nanya atau ngeliat pendapat ahli seperti apa
baru kita jadikan si tulisan itu.
Tapi sebelum itu semua kita boleh kok nulis untuk diri kita sendiri untuk
memperkuat apa topik yang sedang kita pelajari sekarang.
Setuju, jadi di company saya, tempat saya bekerja maksudnya kita tuh ada internal
blog plus yang tempat kita sharing apapun yang kalau misalnya banyak hal yang
sensitif kita sharingnya di private tapi kalau hal yang boleh dipublik biasanya
tim marketing akan nge-publish.
Jadi banyak kan artikel-artikel saya yang saya tulis itu teknis banget dan
misalnya apa masalah dan saya solve dan saya tulis dan sering terjadi kalau misalnya
saya hal-hal simple aja deh.
Saya mau nge-query table apa sih yang paling besar di database yang sekarang ini.
Saya lupa tuh query-nya tapi saya pernah tulis tulisannya, terus saya cuma cari
post-nya saya, oh saya copy paste aja query yang saya pakai dulu saya pakai lagi.
Itu sering terjadi seperti itu.
Jadi sebagai catatan pengingat aja karena saya pernah baca.
Kedua, karena blog post-nya itu disinkronize ke email, ke Gmail lebih tepatnya.
Gmail itu kan kalau search engine-nya bagus banget ya.
Di dalam searching-nya itu fungsi search-nya bagus banget.
Jadi kalau misalnya mau nyari sesuatu tuh nyari aja di email karena itu sudah
pasti keyword itu rata-rata dapet.
Ketiga, pernah beberapa kali juga saya mendapat masalah,
saya cari di Google search, yang saya dapatkan adalah ke-stakeoverflow
yang pernah saya jawab 5-6 tahun yang lalu.
Masalah saya itu.
- Itu juga ada di buku tuh tadi. Barusan baca masih inget.
- Itu ini loh kisah nyata dan itu sering terjadi.
- Betul. Jadi kayak apa ya, jadi kayak catatan pribadi aja.
Entah mau dipabris atau enggak itu terserah teman-teman ya.
Oke penutup.
- Terakhir, rencana selanjutnya. Halo Error tuh.
- Bikin-bikin apa lagi? Apakah mau bikin edisi kedua
atau ada update gimana gitu kan kalau masalah?
- Cuma itu tuh habis halo koding, terbu, halo error.
Kalau buku kedua, judulnya halo error.
- Tentang error gitu ya.
- Cara ngatasin masalah.
- Mungkin kan sebelumnya mungkin kayaknya waktu bikin buku ini kan
AI kan belum terlalu ini kan ya.
Jadi ada beberapa hal yang jadi kurang relevan kan
atau masalah tech winter juga.
Apakah bakal ada edisi kedua dan seterusnya?
- Iya kalau saya pribadi karena senang nulis ya.
Jadi pengen banget ada buku selanjutnya.
Tapi cukup, sorry, sorry.
- Nular batuknya.
- Biasanya nguap, nguap, ngular ya.
Biasanya ngeliat lalu nguap.
Jadi kalau ngeliat apalagi ini ya setelah, sorry masih ini.
- Oke. Iya, mohon maaf ya teman-teman.
Kemarin kalau nggak salah ngabarin saya kalau tiba-tiba batuk gitu.
Jadi agak terganggu sedikit ya.
- Saya masih batuk semenjak pulang dari China.
- Hah? Belum sembuh? Serius?
Wah flu Cina itu, flu Cina.
- Bukan flu Hongkong ya?
Kayaknya flu Hongkong karena kalian berdua dari Hongkong.
Terus kita sekamar lagi.
Mas Riza ya bukan sama Mbak Eka ya. Saya sekamar lagi sama Mas Riza.
- Tapi yang sakit duluan sih apa?
Begitu saya datang dan ilham langsung sakit.
- Tapi habis itu kena ya.
- Di Singapura.
- Wah ya, terima kasih.
Mohon maaf semua teman.
Jadi ada banyak banget emang yang pengen di update dari buku.
Tapi belum tahu bentuknya apakah itu volume dua atau cetakan kedua istilahnya
dari Halo Coding yang isinya direvisi atau benar-benar buku baru lagi.
Tapi dari saya pribadi tentunya pengen banget mulai nulis buku lagi.
Tapi mengingat kata-kata Tim Ferriss tadi yang dia bilang,
kalau kamu emang nggak ngasih, dia akan nyebut spesifik gitu satu tahun.
Tapi saya ngeliatnya bukan masalah angkanya satu tahunnya.
Tapi kalau emang kita nggak serius mendidikasikan waktu untuk itu.
Ya itu ngeliat terus kenapa orang lain harus baca buku kita gitu.
Kalau kita nggak serius itu untuk nulis bukunya.
Jadi emang masih nunggu.
Emang benar-benar ada satu tema yang pengen disampaikan lewat buku.
Tapi sambil nunggu buku ini saya udah ngelakuin hal-hal yang tadi
ya itu entah posting YouTube atau nulis-nulis artikel itu terus dilakuin.
Dan terutama ya salah satu faktor terbesar juga setelah kan hidup masih berjalan ya.
Setelah nulis buku saya juga kerja remot.
Saya juga nyobain kerja, pindahan kerja yang sebelumnya saya nggak punya experience-experience itu.
Jadi selalu ada hal-hal baru lagi yang bisa diceritain, yang bisa di-sharing.
Dan sangat-sangat berharap bisa ada buku kedua nantinya.
- Amin semoga. - Ditunggu ya ditunggu.
- Amin ditunggu. - Oke, oke, oke, mantap.
Oke kalau gitu, terima kasih banyak buat Hilman atas waktunya.
- Terima kasih banyak loh. - Terima kasih.
Saya yang terima kasih banyak sudah diundang dan dikasih tempat untuk ngobrolin bukunya ini.
Oke, terima kasih banyak juga buat teman-teman yang udah hadir malam ini
atau yang nonton nanti replay-nya. Kenapa?
Kalau ada yang mau pesen mungkin nanti Hilman bisa kasih kabar
di mana cara pesen bukunya, share-screen.
Yang mau pesen buku bisa langsung aja ke halokoding.com ya?
Iya, benar. Di website-nya di halokoding.com.
Atau di Tokopedia ada, tapi cari aja yang tokonya Halokoding.
- Halokoding. - Jangan di-search lagi ya.
Jangan di-search ya. Banyak yang menjual buku-buku yang mirip
atau yang sama tapi bahkan dengan harga yang lebih mahal.
Jadi kalau dari Halokoding di-klik dia larinya ke Tokopedia dan ini yang ofisial.
Benar.
Siap, langsung saya pesan satu buat nabah koleksi.
Siap, terima kasih banyak.
Oke, buat teman-teman yang mau kontak-kontak Hilman
kira-kira ke mana yang aktif sosial medianya?
Twitter-nya aktif di HilmanSKI.
- HilmanSKI. - Iya, bisa nanya-nanya di sana.
Siap, oke kalau gitu. Terima kasih banyak buat semuanya.
Kita ketemu lagi minggu depan di hari yang sama.
- Bye-bye. - Terima kasih semuanya.
Deskripsi asli dari YouTube
Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
8 Mei 2024
Ngobrol dan Diskusi Bebas
Episode ini membahas topik-topik seputar dunia pengembangan teknologi dan karier. Diskusi dimulai dengan pembahasan meng...
5 Feb 2025
Ngobrolin Video Player
Episode ini membahas perjalanan Imbre Nagi, seorang Cloud Engineer yang berbagi pengalamannya dalam mempelajari front-en...
15 Jan 2025
Ngobrolin Video Singkat bareng @dannydwic
Episode Ngobrolin WEB ini berbincang dengan Dhani Dwijaya Putra, seorang software engineer di Hijra sekaligus konten kre...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .