Ngobrolin Ngobrolin WEB - Edisi Spesial 1 Tahun
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiEdisi khusus satu tahun ini berisi cerita di balik acaranya sendiri. Idenya lahir spontan saat mereka berjalan menuju makan malam di Bali, ketika GDE web dan GDE Android dikumpulkan dalam satu acara — pertemuan tatap muka pertama setelah masa pandemi, ketika orang-orang yang selama ini hanya muncul sebagai kepala di layar akhirnya terlihat utuh. Grup obrolannya dibuat saat itu juga, satu tangan memegang ponsel dan satu tangan memegang piring, padahal mereka belum saling menyimpan nomor. Alasan yang mendorongnya jujur dan spesifik. Pembaruan seputar web datang banyak tapi tersebar ke mana-mana — dari CSS, gambar, font, sampai browser dan sisi server. Sebelum pandemi selalu ada Chrome Dev Summit sebagai titik kumpul pembaruan, dan setelahnya sesi-sesi daring resmi berlangsung di jam yang tidak bersahabat bagi zona waktu mereka, sementara rekamannya tidak menggantikan sisi sosialnya. Ditambah lagi, hubungan informal yang dulu memungkinkan bertanya kabar pembaruan secara santai kini sudah tidak ada. Komunitas mereka sendiri disebut satu per satu: GDG, GDSC, Women Techmaker, sampai kanal Discord Google Developers Indonesia, dengan penonton yang datang dari Surabaya hingga Belanda. Yang mereka anggap paling berharga adalah perubahan cara belajarnya. Menonton video atau membaca artikel sendirian cenderung jadi konsumsi pasif dan tergesa-gesa; sementara membahasnya untuk orang lain memaksa mereka mengolah ulang dan menyampaikannya dengan perspektif sendiri, karena harus bisa dipertanggungjawabkan. Diakui pula bahwa sekitar separuh topiknya adalah hal yang tidak mereka kuasai sebelumnya dan baru dipahami saat membahasnya. Kunci bertahan setahun, kata mereka, adalah harapan yang sengaja dibuat rendah — namanya saja mengobrol — dan punya teman yang sama-sama berkomitmen.
Poin-poin Utama
- •Idenya lahir spontan saat berjalan menuju makan malam di Bali, ketika GDE web dan GDE Android dikumpulkan, dan grup obrolannya dibuat saat itu juga padahal mereka belum saling menyimpan nomor
- •Pemicunya nyata: pembaruan seputar web datang banyak tapi tersebar — CSS, gambar, font, browser, sisi server
- •Sebelum pandemi Chrome Dev Summit jadi titik kumpul pembaruan; setelahnya sesi daring resmi jatuh di jam yang tidak bersahabat bagi zona waktu mereka
- •Hubungan informal yang dulu memungkinkan bertanya kabar pembaruan secara santai sudah tidak ada, dan acara ini sebagian mengisi celah itu
- •Ekosistem komunitas mereka disebut satu per satu — GDG, GDSC, Women Techmaker, dan kanal Discord Google Developers Indonesia — dengan penonton dari Surabaya sampai Belanda
- •Nilai terbesarnya adalah berubahnya cara belajar: dari konsumsi pasif yang tergesa-gesa menjadi mengolah ulang dan menyampaikannya dengan perspektif sendiri
- •Sekitar separuh topiknya adalah hal yang tidak mereka kuasai sebelumnya, dan kunci bertahan setahun adalah harapan yang sengaja dibuat rendah plus teman yang sama-sama berkomitmen
Hai, hai, hai, selamat malam.
Belum ya?
Oh belum.
Selamat malam.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun.
Kita sendiri.
Selamat ulang tahun untuk kita.
Selamat ulang tahun untuk kita.
Bunyian banget ya.
Ini cuma kue apa?
Kuenya bagus-bagus semua.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun.
Tiuk lilinya, cepetahan.
Sebelum terbakar.
Iya.
Biar saya dimakan dulu.
Ga nyangka kalian senyat ini ya.
Dimakan dulu, dimakan dulu.
Sambil dimakan ya.
Halo, halo, halo. Kita belum nyapa loh.
Ini penonton-penonton di sini.
Ada...
Ada Dita.
Wess, halo.
Penonton setia.
Nanti ketemu di
Deves Makassar. Siapa? Eka?
Lihat transkrip lengkap (2544 segmen lagi)
Dan...
Saya, saya.
Oh, dan Ivan. Berdua ya?
Mantap.
Ada Razan juga, Razan.
Wess.
Ini GDSC ya, GDSC ya.
Ada...
Wah, ada penonton-penonton kita.
Angga.
Jauh-jauh dari Belanda, terima kasih.
Jauh-jauh dari Belanda.
Ada Audi juga.
Audi dari
Surabaya.
Ada yang ngisi Surabaya engga?
Deves Surabaya belum ya? Belum.
Mudah-mudahan nanti Ivanlah.
Tanda-tangan.
Harus Ivan.
Kurang satu.
Ini kusik-kusik item paling berkesan.
Udah mudah-mudahan.
Iya. Luar biasa.
Memang.
Ini adalah episode spesial.
Satu tahun kita
sebenarnya dua episode yang lalu sebenarnya ya.
Tapi kita ada
apa ya, sebuah
kalau kita ngitungnya bukan
berdasarkan matrik jumlah penonton.
Karena jumlah penontonnya ya,
kalau dibandingkan dengan
channel-channel lain pasti lebih banyak kan.
Tapi kita mengitungnya
berdasarkan jumlah.
Jumlah episode.
Konsistensi.
Kalau badinya sama PewDiePie ya
kalah lah kita ya.
Jangan kesana, jangan jauh.
PewDiePie, channel PewDiePie.
Sama Padika aja
talah jauh.
Sama Imre aja masih jauh juga.
Yang deket-deket juga masih jauh.
Cuman ya,
memang target kita
ingin lebih konsisten kan.
Kita nis, nis.
Dan topiknya juga cukup nis.
Jadi target kita adalah
tiap minggu kalau bisa
ada
episode lah. Walaupun
beberapa kali kita nggak live, ada satu
kali yang bolong gara-gara
anak lagi sakit juga.
Tapi selebihnya 52 episode kita
lalui. Sekarang udah 54 ya.
54 episode. Ternyata bisa.
Ternyata bisa.
Nggak nyangka loh.
Sama. Low expectation banget soalnya.
Low expectation.
Dan memang kita
set seperti itu kan. Jadi
ngobrolin web, dari namanya juga ngobrolin.
Kadang-kadang ada topik-topik yang
menarik, tapi kita
nggak tahu. Kita cari tahu sama-sama.
Akhirnya dapat
pencerahan gitu.
Karena memang tujuan awalnya adalah
supaya kita bisa diskusi.
Terutama untuk cari topik.
Ini awalnya gitu. Waktu itu
saya masih ingat banget ini. Waktu
di Bali ya. Iya.
Di Bali kan kita dikumpulin tuh. GDG,
GDSC, eh GDG.
Semua, semua
anggota. Ada cuma beda hari.
Jadi itu kan. Oh iya beda hari. Kayak
GDSC nggak ada deh. Ada nggak sih?
Beda hari. Nggak ada. WTM.
GDSC sendiri.
Soalnya di Jakarta. Ya.
WTM.
GDG, GDI.
Women Tech Maker.
Google Developer Group.
Dan terakhir datang.
Semua sehari doang.
Iya. GDSC nggak ada.
GDSC di Jakarta kan. Di kantor Google ya.
Terus. Dan itu kayaknya
memorable karena pertama kali
kan ada acara offline. Setelah pandemi.
Setelah pandemi. Jadi
seperti aku yang
apa generasi. Belum pernah ketemu.
Masuk GDI-nya.
GDI-nya itu beneran tas lagi
apa ya. Lockdown. Gak ada acara apa-apa.
Itu pertama kali banget
ketemu semua orang-orang
yang selama ini cuma di
Zoom atau Meet. Ternyata punya beden.
Selama ini.
Selama ini lihat kepalanya dulu.
Setelah jadi GDI kan.
Tapi sebelum jadi GDI kita udah
pernah ketemu di Bandung.
Kita ketemu.
Tapi yang lainnya
semua kan belum pernah ketemu tuh.
Ternyata punya beden semua.
Tadi mau cerita?
Berawal kalau gak salah
Mas Rizal kita lagi jalan
mau makan malam.
Bukannya kita mau dikumpulin
GDE web, GDE android
yang waktu ketemu sama Mani.
Lagi makan.
Makan malam ya.
Mas Rizal
lagi jalan. Kita lagi jalan
menuju tempat
makan malamnya.
Terus Mas Rizal
ngeliat tuh gimana
kalau kita bikin podcast
bareng-bareng aja, ngobrolin web,
ngobrolin santai aja. Itu tuh
Mas Rizal pertama kali punya ide itu.
Cuma gue tahu yang bisa
bilang tadi maksudnya
mungkin pertama kali dapet ide buat
kayak gitu. Emang pas kita
kumpul sama Mani
Google yang apa sih, Deffrel
atau apalah yang ngumpulin
feedback dari para GDI
yang dikumpulin berdasarkan bidang.
Kita kan GDE web
dikumpulin bareng ya. Terus
kayaknya salah satu topik
pembicaraan kita waktu itu kan
nggak
selalu ada
catch up atau apalah
aktivitas yang rutin
dari GDE web mungkin dibanding
GDE bidang lain. Kayak salah satunya itu ya.
Berawal dari kecumburan sosial
kita sebagai web.
Kecumburan sosial.
Kok kecumburan sosial?
Kok web update-nya
jarang di
ini ya, jarang, maksudnya
jarang diperhatikan
untuk update ke
Catch base-nya kayaknya nggak terlalu sering.
Padahal kalau di web baru
kan banyak ya.
Karena pandemi sih.
Sebenarnya semenjak pandemi.
Karena sebelum pandemi kan
ada Chrome Dev Summit, ada.
Sebelum Chrome Dev Summit tuh ada. Selalu ada update
kan buat kita kan.
Dan ada juga sebenarnya online kan.
Tapi di jam-nya
yang tidak bersahabat untuk kita
orang Indonesia. Karena dimulai jam 10 jam 11.
Jam 12.
Dan bahkan kadang jam 1 itu.
Jam 12, jam 15, jam 1.
Kita nggak bisa ikutin.
Gue beberapa kali
mencoba ikutin loh sebenarnya.
Ya, awal-awal sempet ngintip.
Nggak fokus.
Nggak fokus.
Karena sudah ngantuk banget akhirnya.
Cuma sebenarnya kita tinggal line up.
Terus kan ada recording-nya. Tapi ya tetap aja
rasanya beda sih.
Karena kan sebetulnya selain
kontennya sendiri
ada unsur sosialnya kan. Maksudnya
yang beneran kita touch base, ngobrol.
Dan itu tuh kayak kita
jarang ngedapetin.
Terus gue ingat banget tuh pas yang lagi sesi
sama Mani. Terus ada coffee-back-nya
kan. Kita ambil-ambil kopi
sambil ngerampok cemilan tuh.
Mereka ngerampok cemilan.
Kayaknya event yang pertama kali
duluan bahas apalah
CSS Container Queries nih.
Udah ada nih.
Benar-benar.
Nah, terus itu kita random
aja sih. Maksudnya kita nggak mikir sejauh
itu bikin konten
publik ya. Cuma ternyata kita
yang kondisi kita
bertiga kan mungkin nggak terlalu, selama ini
sebelumnya nggak terlalu
aktif di sosmed, jarang ketemu.
Ya, walaupun pernah ketemukan, ketemu
setahun sekali atau apalah
sekali, dua kali ke luar jalan.
Tapi ternyata begitu ngobrolin
web, ngobrolin web gitu, langsung
nyambung kan, langsung asyik ngobrolin.
Iya, gue langsung bahas
Container Query, langsung bahas macem-macem.
Begitu ngobrolin, kok langsung
keluar gitu, minat untuk
belajar. Langsung ngobrolin.
Nah, mungkin
pas Risa dapat ide buat nyajakin
bikin podcast dari situ kali ya.
Sebenernya udah lama
kepikiran kayak, kita kan
web GDI, terus update-nya itu
kan kayak, ya mungkin
berapa ya, 3 bulan sekali ada
meet up online, jamnya nggak bersahabat
kan. Mau bikin
web apa,
kayak meet up gitu, tapi private
di Google Meet gitu, cuman bertiga
kan nggak seru ya.
Ya udah, kita live aja sekalian,
sekaligus nambah-nambah, apa ya,
kalau kita nggak punya gig
untuk acara kan, kita bisa
jadiikan ini sebagai
reporting juga kan, gitu.
Sebenernya tujuannya satu,
sebenarnya.
Saya pribadi ya,
sudah mulai kesulitan
mencari ide, topik untuk
dibahas di acara-acara, baik itu
di meet up, apalagi DevFest,
Google I/O Extended, gitu.
Dan butuh teman ngobrol aja,
gitu. Bahkan udah ngobrol
banyak kayak gini,
masih susah juga, apalagi nggak
sama sekali kan. Tapi banyak
apa ya, banyak hal-hal baru yang
kalau kita belajar sendiri itu kadang-kadang nggak ketemu,
nggak dapat, gitu.
Iya. Sama-sama.
Sama merasakan itu juga. Jadi
update teknologi
di web itu
banyak tapi sporadik.
Banyak tapi sporadik.
Jadi nggak...
Kita nggak bakal bisa menguasai semuanya.
Iya. Beda antara
misalnya kalau saya boleh bandingkan
dengan kayak
framework tertentu
atau native Android. Flutter, flutter.
Native iOS atau Flutter.
Flutter, gitu ya.
Flutter, maksudnya
jalannya, komunitasnya
lebih niche daripada kata web.
Web itu lebih lebar. Iya.
Web itu ada back-end, ada front-end,
ada banyak ya, lebih general.
Lihat aja episode kita selalu, mau dari phone,
mau dari CSS,
mau dari image, segala macam.
Mau dari browser, segala macemnya ada.
Jadi
mau
belajar semuanya nggak bisa
sendiri. Mau catch up dengan teknologi
selanjutnya juga nggak bisa.
Sebenarnya dari
internalnya
GDE sendiri,
memang ada kan, itu update-update itu selalu
dikirimkan. Mana yang
masih RFC,
mana yang sedang lagi beta, mana yang
lagi di inisiatif selanjutnya,
itu ada semua.
Namun, kembali lagi,
di kerjaan
sehari-hari, saya
mau pakai yang beta
nggak bisa, nggak boleh.
Nggak mungkin lah.
Nggak mungkin.
Nah, jadi
butuh teman untuk
apa namanya,
untuk
mengoprek bareng,
gitu ya. Jadi bisa tahu.
Kayak kemarin, kalau nggak
ngobrolin gue, gue nggak coba
bun itu.
Setelah nyobrol bun, sekarang kok pake?
Sekarang gue pake bun sekarang.
Iya, pake. Udah bisa.
Kemarin kita ngecek bun lawan
PM-PM, lawan apa lagi
punya kemarin?
Iya.
Jadi sekarang, gue di project sudah
pake bun.
Tapi hanya untuk
package ini aja ya, untuk
compiler-nya, untuk runner-nya aja.
Jadi bukan buat
server-nya.
Bukan buat server, belum buat server ya.
Ada tuh
kemarin denger
podcast tentang
Hot Tech, tentang antara Note,
Deno, dan juga bun, itu menarik.
Bisa kita bahas nanti sih. Tapi
yang malam ini mau dibahas adalah, tadi kan
perjalanannya, cerita awalnya gimana,
keresahan-keresahan kita
yang, ya kemarin juga
pas ketemu sama temen-temen
dari Google, Janice,
Mas Danang, dan temen-temen,
saya juga sempat nanya,
DevRel Web di
Indonesia udah nggak ada ya?
Terakhir kan kita sama Mas Johan kan?
Terus kemudian kalau Southeast Asia pun nggak ada
ternyata, sudah hilang semua.
Iya, terakhir
Giseline. Terakhir Giseline, dan dia
juga domisilinya kan di Jerman kan, apa
base-nya kan, gitu. Dan memang sebagian
besar banyak di Eropa.
Tapi Southeast Asia pun nggak, gitu.
Kalau dulu, waktu masih jamannya
Mas Johan itu, kita masih bisa
ketemu informal di suatu meet-up,
atau ketemu malam-malam dimana, gitu kan,
random, terus tiba-tiba nanya, ya ada update apa?
Gitu.
Kalau sekarang kan,
ya nggak bisa, gitu.
Betul.
Kalau misalkan kita mau ngundang Googler,
mending Giseline,
ngundangnya gampang, gitu kan.
Kalau misalkan kayak Pak Thomas, gitu,
kita ngundangnya harus siapin pertanyaannya
dulu, di-approve dulu sama Google,
atau nggak, gitu kan. Panjang, kan.
Nggak ada yang
obrolan informal itu nggak terjadi,
gitu. Makanya,
obrolan kita bertiga,
dan mudah-mudahan sama teman-teman
yang di rumah juga, yang
apa, yang ada, yang
suka nonton, yang komen,
mungkin sekali-sekali kita juga
undang narasumber, mudah-mudahan
itu bisa
mengisi gap-gap itu, sih.
Jadi lebih kesana, sih, ya.
Nah, kalau aku, apa ya?
Apa ya?
Rasa berkesan. Berkesan.
Maksudnya kalau soal perjalanan, ya
pas, inget betul, tapi pas pertama
diajak sama kalian berdua, tuh,
pas lagi makan malam, kan, lagi
terus langsung bikin WhatsApp group.
Langsung mulai.
Oh iya, langsung mulai aja dulu, gitu.
Langsung bikin WhatsApp group.
Gang piring, gang piring,
dong. Gini, terus didatengin.
Kalian berdua, gitu.
"Sini, sini, sini bentar."
"Apa?"
Padahal kita kenal banget
juga nggak, ya.
Ya, kenal sebatas,
apa sih, ketemu setahun sekali, dua kali, kan.
Masih awkward,
lah, ya. Masih awkward, ya.
Tapi, maksudnya, ternyata kita
ketiga sama-sama semangat, maksudnya
sama-sama. Udah, ayo, hajar.
Terus, "Oh, gimana nih, gimana nih?"
Ya udah, bentar. Bahkan,
masih belum saling safe contact di HP
masing-masing, kan, itu pertama kali banget, ya.
Udah, ayo bikin WhatsApp group.
Ya udah,
tangan kanan, pegang HP, tangan kiri,
pegang piring. Nah,
terus, apa ya, hal
yang menarik lainnya, ya
masih nyambung sama yang disebut kalian
tadi sih. Jadi, apa ya,
walaupun emang ada konten, ada update,
maksudnya, ada update berkala
dari Google
DevRel-nya, misalnya, ya,
atau ada Meetup, atau
kalau soal ngikutin
perkembangan topik web, kan, sebetulnya, ya
kita sehari-hari juga bisa,
kan, nonton YouTube
sendiri, nonton video sendiri, atau
baca Hacker News, atau apalah,
Reddit, atau sosmed, atau apapun.
Tapi ternyata beda banget antara emang konsumsi
secara pasif, nih, scrolling-scrolling doang.
Ya.
Kalau pun ada contoh kodonya yang mau dicoba,
kan, hello world doang, ya, abis itu.
Tapi pasti buru-buru. Nggak mungkin.
Nggak mungkin niat ngamatin, kan.
Ya, itu insting. Orang emang
konsumsi, kayaknya kan buru-buru, dan ya udahlah.
Tapi, kalau misalnya
dengan kita ngelobrolin, gini,
terus, ada kayak semacam
accountability, kali ya, karena ini
public, kayak
ya, kita, walaupun
kita santai, kita kan tetap
ngumpulin, ngumpulin resource, ya,
ngumpulin link, resource
yang dikumpulin tuh banyak banget. Kadang yang dibahas
malah tentang hal lain, dan
itu nggak apa-apa. Dan atau separuh
dibahas, karena ternyata tadinya
kita mikir bakal kurang. Maksudnya,
oh, public-nya dikit banget nih, jan-jan kurang.
Ya, udah, masukin link banyak.
Ternyata nggak, ternyata malah
apa, banyak banget yang bisa dibahas.
Apa ya, dengan
kita, jadi kayak
bukan konsumsi pasif, tapi kayak
kita aktif, kayak kita mulang.
Apa ya, itu istilahnya. Pasti kan orang yang
ngerti...
Ya, maksudnya kita harus baca dulu.
Tetap harus baca dulu, supaya kita
bisa, jangan salah ngomong juga sih.
Ya kan?
Harus credible juga kan.
Misalnya, ada yang kita
nggak ngerti nih, kan pasti
kita saling, apa ya, kayak saling
ngebantulah, misalnya.
Kalau misalnya ada yang nggak terlalu
menguasain, kan pasti di antara
kalian berdua, ada yang lebih tahu,
ngasih dari perspektif yang
udah masing-masing pernah ngalamin.
"Oh, gue pernah begini-gini."
Atau dari, kadang-kadang dari penonton juga.
Iya.
Atau pertanyaan, atau teman-teman
penonton, apa ya.
Semua update baru itu
kita nggak cuma konsumsi secara
pasif, tapi kita kayak memproses
ulang, terus kita mulang lagi nih
dengan perspektif kita sendiri.
Dan itu ngaruh banget ternyata.
Maksudnya itu
ngebantu banget.
Halo, siapa nih?
Fahruzi Ramadhan. Kayaknya kenal.
Kenal.
Nggak kelihatan mukanya, siapa nih?
Nggak kelihatan fotonya.
Nah, kalau Ivan, hal favorit
dari ngobrolin web apa?
Jadi merasa punya
me time.
Me time.
Oh, jadi me time.
Iya, karena jadi ask time.
Kalo sehari-hari
sedikit cerita
aktivitas saya sehari-hari,
itu bangun pagi, sudah antar anak
sekolah.
Antar anak sekolah pulang,
siap-siap, udah kerja.
Udah kerja, terus
setelah kerja, jemput anak sekolah.
Habis anak sekolah, terus
antar les lah,
antar
segala macem. Terus sore
masih harus olahraga, ya kan.
Terus makan malam, segala macem.
Maksudnya
seluruh kegiatan itu
selalu berhubungan sama
either kerjaan
atau keluarga.
Jadi, maksudnya waktu untuk
kalau misalnya mau belajar sendiri lagi,
itu capek.
Capek banget.
Makanya kadang kalau misalnya kayak
mau ngoprek di hari
weekend aja udah harus kayak
jadi harus nyetir
kemana gitu.
Sudah antara...
Acara keluarga lah ya, pokoknya ya.
Acara keluarga atau acara event.
Atau acara event.
Itu aja udah habis waktu.
Pulang sudah capek.
Jadi sebenarnya, kalau rekaman
begini saya bisa bilang, jam sekian
sampai jam sekian jangan masuk kantor.
Dan mereka udah tau kalau saya setiap hari
itu online atau kalau lagi rekaman
itu masuk. Jadi kantor mereka
nggak ada yang masuk. Karena kalau
kerja, anak-anak itu juga kalau kerja
mereka bisa masuk sebebas-bebasnya
ke kantor saya. Jadi
kalau lagi rekaman, mereka lihat saya rekaman
"Oh susah."
Jadi bisa jadi kayak tenang
gitu di kantor selama
sejam, dua jam gitu.
Jadi itu yang berkesan satu. Kedua
ujung-ujungnya bisa
lihat, bisa
lihat muka teman-teman,
muka kalian.
Dan belajar banyak sebenarnya.
Banyak banget. Jadi
dari, bayangin aja
kita sudah berapa episode ya?
54.
54 episode. Hari ini 54.
Berarti 53 episode itu
topiknya aja bermacam-macam dari
sudah nggak bisa disebut lagi.
Banyak.
Ini kalau mau lihat catatannya, begini doang sih.
Itu setengah biasanya nggak
di-parti.
Jujur, 50 persen
diantaranya saya sebelumnya nggak tahu.
Ya. Dan taunya
saat lagi ngobrol.
Dan lagi ngobrol. Kayaknya
sama deh kita semua gitu.
Nggak juga. Kadang-kadang
saya tuh suka bingung kan, ini topiknya
mau bahas apa gitu ya. Baru
1-2
talking point gitu kan,
bullet point. Tiba-tiba jam
jam 8 kurang
15 Eka masuk, tiba-tiba udah
jadi banyak.
Udah lah, nggak usah
masukin, kita bahas yang Eka posting
aja.
Tapi itu ada konsep
apa sih? Jadi kadang kan
kalau misalnya kita lagi belajar nih,
kita lihat sosmed
atau apa, terus kita minder nih.
Karena ngerasa, oh ya ampun,
kayak pengetahuan gue kayaknya kurang banget
lihat orang-orang kok kayaknya canggih banget,
bisa ngerti semua. Banyak banget
yang nggak ada abisnya itu.
Nah padahal kan kenyataannya, orang A
ini punya apa, punya
kemampuan atau pengetahuan atau pengalaman
di bidang ini, ini, ini.
Nah orang lain punya di bidang
lainnya lagi. Cuma kalau kita liat
apa, ya kita random liat
sosmed, kayaknya semua orang gila ngerti.
Bisa bikin macem-macem, udah nyoba
pake ras, pake deno, pake bun,
pake apa semua. Padahal kan
nggak mungkin kan, musuhnya ya sehari
cuma 24 jam, nggak mungkin kita nguasain
semuanya sekaligus. Nah just
dengan ini, kita bertiga
ketemu ngobrol, kayak bisa
saling apa ya ya,
sama temen-temen yang
di chat juga yang nonton,
jadi kayak bisa saling ngisi
gap pengalaman
dan pemahaman itu sih.
Ada satu ini
yang cocok, term yang cocok yang
saya sampaikan. Yang paling berkesan
acara ini bisa bikin saya
decompress.
- Apa tuh decompress?
- Decompress. Jadi kalau misalnya, kan
pressure ya, work
sama life itu pressure.
Jadi dengan
rutinitas sehari-hari dan
kerjaan saya sehari-hari itu
itu compress
atau pressurenya tinggi. Kerjaan saya itu
pressurenya tinggi.
Jadi
ada juga banyak hal-hal
yang saya pelajari, tetapi saya
nggak sempat punya waktu juga untuk
membagikan.
Membagikan aja, nggak usah explore dulu deh.
Jadi membagikan aja apa yang sudah
pernah saya pakai
di kerjaan saya sehari-hari.
Dan saat
hanya di ngobrol di web ini
saya punya waktu untuk decompress itu.
Punya waktu untuk
membagikan itu. Dan saat saya membagikannya
jadi saya harus baca
dasar-dasarnya lagi yang lain
dan sesuai dengan pengalaman
saya bagikan. Nah itu
maksud saya dari decompress.
Dan kalau saya bisa decompress
artinya
saya bisa punya ruang
yang baru untuk belajar yang baru.
Nah itu yang buat saya berkesan.
- Salah satu
memang acara ini
sengaja kita format
nyantai dan
low effort ya.
Karena saya sudah
beberapa kali mencoba
bikin program ya
podcast, beberapa kali
bikin podcast. Itu
dibikin format
yang tidak santai
dan biasanya selalu ada
bintang tamu, ada narasumber.
Akhirnya jadi beban.
Jadi capek sendiri kan.
Kejar-kejaran.
Terus
untuk scheduling
sama narasumber itu tidak mudah
apalagi buat beberapa
orang seperti saya.
Susah itu, menurut saya. Menurut saya.
Menurut orang. Itu susah.
Dan dari awal kita sudah set
udah kita low effort aja.
Jangan kayak, "Wah kita harus siapin
materi presentasi yang detail
atau gimana." Enggak. Ya udah.
Kalau ada yang mau dibahas, dibahas.
Ada pertanyaan-pertanyaan. Ada link menarik
ditambahin. Gitu kan.
Kalau ada yang komentar di chat,
tiba-tiba bisa diajak
jadi bintang tamu.
Iya. Itu belum ada sih.
Iya.
Ada ya.
Yang sesama GDI minimal
misalnya. Atau
di GDI ada group chatnya
juga ya. Misalnya ada yang komentar
apa bisa tiba-tiba, "Oh iya
ajakin ini aja, ngobrolin ini."
Betul.
Ya gitu lah. Jadi
apa?
Berusaha untuk
se-effortnya se-minimal mungkin
supaya kita bisa ngejar tiap minggu.
Kalau misalkan
kita
harus lebih dalam, misalkan bahas
kayak kemarin tentang package manager kita harus lebih
ngulik lebih dalam, ya mungkin
nggak bakal bisa
seminggu gitu. Dan itu akan menjadi beban.
Karena saya tahu kita semua
sibuk kan. Ini bukan pekerjaan utama.
Dan ini saya nggak mau jadi pekerjaan
justru pengennya jadi
catch up aja gitu. Jadi
nggak usah yang
terlalu detail atau
gimana.
Kita serahkan aja sama flow
gimana nanti obrolannya. Kadang-kadang kita udah
siapin, "Oh jalan ceritanya dari sini sampai
sini, taunya loncat-loncat." Gitu kan.
Yang gimana. Tergantung sama
masukkan dari teman-teman juga, dari
flow, dari obrolan.
Obrolan, ya obrolan warung
kopi lah ya. Jadi
nggak perlu persiapan banyak-banyak.
Intinya itu. Jadi
yang penting ada waktu 1 jam sampai
2 jam di hari Selasa jam 8.
Mungkin persiapan 7.30
sampai jam 10 gitu kan.
Udah.
Kita nggak perlu siapin dari
ha minus berapa gitu.
Mungkin ha minus 2 menit pun
tinggal kopas-kopas
topik atau
link cukup gitu.
Lebih dari cukup dan
ternyata it works.
Itu kan eksperimen ya.
Ternyata bisa gitu dan
cukup bisa membuat
konsisten. Karena
proyek-proyek yang lain banyakan saya
sangat tidak konsisten. Jadi
akhirnya ketemu teman-teman yang
punya
visi yang sama untuk
mencapai konsistensi itu akhirnya bisa jadi
konsisten juga ikutan gitu.
Itu yang favorit yang
saya favoritkan dari acara ini ya itu.
Dan kita sengaja live juga
nggak rekaman karena
capek nge-edit itu
paling salah satu yang capek.
Itu bagian dari low effort juga kan.
Jadi ya udah kita show up
kita prepare topik yang
sebisa mungkin abis itu ngobrol aja.
Dan sebetulnya fun factnya
kadang sebelum kita
on air nih, pas kita prepare
jam 8 kurang 10
atau kurang 5, kadang kita udah mulai
ngobrol. - Udah ngobrol duluan
belum direkam. - Sambil liat
sambil ngecek link topiknya ya
misalnya. - Iya itu sering banget.
- Pertama kita definisi ini ya
oh itu bukannya blablabla
terus di tengah-tengah kita baru sadar
ya Allah loh ini
mentar aja. - Ini nanti dibahas dong.
Malah dibahas yang lain.
Kadang-kadang ya itu sering terjadi juga.
Banyak lah ya banyak apa
hal-hal yang
menarik gitu.
Dan ya
bersyukur sekali ya. Jadi
ya terima kasih juga buat
Eka dan Ivan
buat apa, sudah
meluangkan waktu. - Terima kasih juga
buat kalian. - Buat teman-teman semuanya yang
ngikutin, ngobrol-ngobrol kita.
Ini entah
ada beberapa yang mungkin
bahasa apa sih, bahasa apa. Kita juga kadang-kadang
gitu, oh nggak ngerti, ya udah kita ikutin
aja. Nanti tiba-tiba Ivan
oh yang kemarin kita bahas, saya pakai
loh sekarang gitu. Itu
itu sering terjadi gitu. Jadi ya
ya supaya kita bisa
banyak tahu juga kan. Setidaknya kan
kita tahu ada hal-hal yang
mungkin belum kita pakai gitu kan.
Dan tiba-tiba nanti dibutuhkan
ya kita tinggal review aja.
Tinggal flashback.
Nah ini ada pertanyaan nih.
Kayaknya lumayan
bagus juga nih cerita awal
terjun ke web.
- Ini pernah nih kita bahas kan
pas ada padika. Ingat nggak?
Ya tapi mau dikat juga nggak apa-apa.
Itu karena si padikanya juga cerita
kan apa, backgroundnya dia.
Terus kita juga jadi ceritanya.
- Maksudnya terjun ke web developer-nya.
Developer ya maksudnya.
- Iya. Kan kalau
kalau saya dan
Ivan kan kuliah kan.
Kuliahnya tapi nggak fokus ke web kan.
Software developer kan. Kok bisa
terjunnya ke web itu gimana?
- Kenapa pilih web? Kenapa nggak
apa gitu?
- Hah. Kenapa ya?
- Kenapa nggak jaringan? Atau
- Jaringan.
- Kalau kuliah IT tuh sebenernya skupnya apa aja?
Software yang bukan web itu?
- Kalau teknik informatika
saya tuh semuanya.
Dari jaringan,
operating system,
matematika,
matematika,
gulus.
- Iya. Fisika juga dapat.
Banyak. - Software-nya,
algoritma, database,
apa lagi ya?
- Semua ada. - Oh itu. Hardware, hardware.
- Hardware. - Kayak programming
microcontroller.
- Microcontroller. Oke.
- Baru penjurusan,
ada machine learning.
Sudah ada jaman dulu. - Iya. AI juga ada
dulu. - Data mining.
Data mining dan business intelligence
itu sudah ada.
Ya. Macam-macam.
Jadi kalau misalnya kenapa
terjunnya ke web,
skripsi saya nggak web kok.
Jadi apa ya?
- Nah. Dari temen kuliah
yang dulu satu angkatan sama
kalian deh, sama Riza, sama Ivan nih,
yang akhirnya kerjanya
di bidang web itu
seberapa banyak? Itu umum nggak sih?
Maksudnya banyak atau justru kalian yang kayak
langkah yang lain
di bidang apa lah, native lah,
hardware lah. - Susah.
Saya nggak tahu mereka kemana ya.
Banyak kan yang saya tahu,
banyak kan yang saya tahu ya.
Saya kenal itu
di corporate
dan corporate itu internal system
itu native. - Iya.
- Bukan native ini ya. Bukan native
mobile ya. - Bukan native
Windows, Android.
- Application. Jadi kayak Java.
- Desktop. - Desktop.
- Bukan web.
- Berarti internal software ya?
- Corporate lah ya.
Corporate Enterprise.
Saya sebenarnya
kenapa web?
Itu lebih ke
rejekinya aja kali ya. Jadi
pas skripsi dapat tugas
akhirnya itu ngerjain
aplikasi web, kemudian
waktu itu di Binus itu
kebetulan untuk
skripsi itu diharuskan berkelompok
tiga orang.
Tiga orang, dan
satu orang sekarang yaitu
sama kayak temennya Ivan itu
udah bekerja di
corporate, ya mungkin udah
sea level ya, CTO atau apa gitu ya.
Mungkin dia
menghandle ya .net
dan gitu-gitulah.
Nggak yakin dia ngerjain web.
Yang satu... - Biasanya ERP.
- Iya, betul.
Yang satu udah pindah haluan,
udah nggak ke programming lagi,
malah jadi
financial planner.
Ada satu teman kuliah juga
yang dulu barang-barang
jadi HR.
Banyak yang berubah haluan.
Saya doang yang konsisten.
Tapi dulu bukan hanya web,
nyobain semua, dari kuliah dapat
semua, pas
kerja juga nyobain
Android, nyobain iOS,
nyobain semua
platform lah. Tapi yang kayaknya
paling serak ya
di web ya, terutama
back-end. Memang dari dulu
sukanya back-end gitu. Begitu
bikin hektifate aja akhirnya lebih
nyemplung ke front-end juga karena
tuntutan harus ngajar
juga kan. Jadi
lebih kesana rejeki-nya
disana sih ya.
- Aku juga sama sebenernya.
Mas Risa juga. Intinya rejeki-nya
di web. Cuma lebih
random lagi. Karena dulu kuliahnya
Sastra dan emang
SMA-nya juga IPS.
Nggak ada planning kerja
di teknologi sama sekali karena
kirain bahwa susah dan harus serius.
Dan gue nggak bisa serius.
Dulu sempat
mikirnya kalau kerja
tuh pengen kerja di bidang yang
berkaitan sama bahasa ya. Entah
jadi copywriter atau
jadi penerjemah atau semacamnya.
Tapi ya
agak-agak jelas
untang lantung. Terus
kerja di bidang lain juga. Kadang
terus, kadang ambil
kerjaan pakai parameter yang agak
random berdasarkan pertemanaan
atau tongkrongan, atau yang selera
musiknya cocok atau apalah.
Jadi sempat lama karir
agak luntang-lantung. Cuma emang dari
jaman kuliah iseng
ngelik penasaran. Dulu
otml sama css doang sih.
Jadi emang front-end banget.
Dan dulu beneran
pure sebagai interest aja
hobi. Kayak misalnya orang kan
pasti ada ya yang
kerjanya apa. Cuma mesti
ngelik fotografi lah, atau ngelik
masak, atau apalah.
Itu pure hobi doang. Atau misalnya
apa ya, kerja tapi kalau hari
Jumat main futsal gitu. Tapi nggak mikir
bakal jadi atlet beneran kan.
Nah dulu tuh kayak bertahun-tahun
sekali-sekali aja
ngelik iseng. Terus dulu ada
sosmed namanya MySpace.
Kalau kalian tahu MySpace itu apa,
berarti udah tua.
Profil Ben
sendiri nih di MySpace.
Bisa bikin jadi keren, pakai
css. Kita bisa
specify background image ya gitu deh.
Jadi apa, baca-baca.
Terus bikin bintang-bintang jatoh, bintang-bintang.
Oh itu Friendster, itu Friendster.
Ya itu Friendster.
Nah terus lama-lama apa,
pas udah kerja, terus ya itu
cari lontong-lontong,
segala macam dikerjain.
Terus tiba-tiba
nemu itu lo website kayak
freelance online gitu kayak apa sih,
Fiverr, terus Upwork.
Upwork.
Lama-lama sadar, "Wuh, jadi
duit ini." Terus ya gitu
apa, pertama cuma
kayak minor edit doang.
Lama-lama makin
kecemplung lah, dan
ngulik, sempat ngulik bikin
WordPress Lim Custom gitu.
Nah terus karena sering
kan dulu belum punya internet, jadi
suka numpang online tuh,
di tempat, ya ada deh, di tempat tongkrungan
sempat-teman. Terus kan
nge-tick me, ngoding. Terus yang lain karena
di lingkungan perkembanan juga nggak ada yang
programmer semua, liat kan pada
"Wuh, apa tuh?"
"Wuh, bisa kan ya?"
"Ya, bisa, dikit-dikit. Betul kan,
bisa dikit-dikit." Nah, jadi besok-besoknya
kalau ada orang cari,
misalnya ada yang punya
toko lagi mau bikin
apa lah, online shop atau
siniman lagi pameran, pengen bikin landing page
atau apa lagi. Terus kan suka
apa, juga kan kecil ya,
apa, aktivitasnya banyak, cuma
orangnya itu-itu aja kan sebenarnya.
Jadi kalau ada yang nanya,
"Wuh, cari tukang bikin website nih,
ada yang menelan nggak?"
Terus ada yang nunjuk, ya udah.
Akhirnya jadi punya
beberapa portfolio.
Ya intinya, makin lama, makin
"Wuh, makin mikir, ini seru."
Menarik, maksudnya ternyata
dipelajarin di kulit lebih dalam lagi
itu seru. Dan ada duitnya, ya udah
makin lama, makin kecimpung.
Sementara itu, karir di dunia
penerjemahan atau penulisan
juga, tuh juga kayaknya nggak
kemana-mana. Terus
one thing led to another sih,
lama-lama, mutusin
"Ya udah, ini diseriusin
jadikan kerjaan full time."
Terus emang nggak
tiba-tiba sih, cuma dari
kerjaan freelance-freelancen gitu,
beberapa kali ditawarin kerjaan full time.
Jadi kayak mikir, "Ya udah, ini emang waktunya
diseriusin."
Ya udah, intinya, beneran
tadinya cuma kayak apa ya?
- Iseng?
- Iseng, tiba-tiba
ternyata bisa diduitin,
sekarang jadi pekerjaan
utama.
Eh jangan salah nih, Bahyu
katanya ngobrolin JS. Nggak, kita ngobrolinnya
PHP lho. Tadi Eka
barusan ngomong kan bikin WordPress team,
Ivan juga WordPress,
saya juga 8 tahun pakai PHP.
Siapa bilang kita nggak ngomongin
PHP.
- Bisa dijadiin tema tuh, ngobrolin
PHP.
Kita pernah bahas soal sebenarnya apa
tentang evolusi SSR
dan CSR ya, kayak
dulu server rendering,
ya kayak bahasa-bahasa yang dipakai
buat ngerender
markup atau apa aja.
Nah PHP tuh dibahas sama banyak
tuh pas itu ya.
- Kita sebenarnya bukan
kita sebenarnya tidak bahas JavaScript ya,
kita tuh bahas Web API
secara umum ya.
Ya mungkin kelihatan banyak karena
kita bahas juga karena banyak
framework sekarang lebih banyak
JS-based sih. Eh kapan-kapan
tapi kita ngobrolin Laravel apa ya?
- Boleh, boleh, boleh. - Ada nggak sih
komunitasnya di Indonesia?
Laravel ini? - Ada, ada, ada.
- Ada banyak, paling banyak.
- Ya orangnya, orangnya
komunitas, misalnya kalau ada orang yang aktif
itu ya seru aja kayaknya
diajak. Ya nanti kita cari.
- Salah satunya kak Sandi kakak lagi.
- Oh?
Dia lagi? Ya udah kita ajak lagi.
- Jangan lah. - Atau kalau ada
rekomendasi, rekomendasi
orang yang bisa diajak.
- Kalau bikin sesuatu yang kecil-kecil
jarang pakai, maksudnya
kalau mau pakai framework, saya pilihannya
langsung ke Lumen. - Lumen ya?
Eh ya. Apa?
Adiknya Laravel ya?
- Ya micro-nya sih Laravel.
- Micro-nya.
Iya. Sebenarnya kita nggak mengutang-ngutangkan
bahasa, ya bahasa yang bisa jalan
di Web aja, itu. Dan kebetulan ya
beberapa kita
sering pakai AGS, ada yang pakai PSP,
ada yang pakai bahasa yang lain
juga. Halo mas Yoga.
Sudah ngikutin channel ini dari
lama, dari 2016.
Terima kasih.
Lanjut cerita,
sampai jadi GDE. Waduh panjang ya.
- Panjang.
Dari mana dulu? Mas Dijadi dulu nih
jadi GDE Web.
- Jadi GDE Web. Jadi GDE Web
apa ya,
terkesan, apa ya,
terkesan mudah. Karena
sebenarnya saya sudah melakukan itu,
melakukan tugas-tugas GDE sebelum saya
jadi GDE. Gitu.
Ini kan banyak nih teman-teman yang
tertarik jadi GDE. Sebenarnya
saya penasaran juga kenapa gitu alasannya.
Kalau emang pengen jadi GDE, ya
lakukan apa yang GDE lakukan, gitu.
Jadi nanti kalau misalkan tiba-tiba Mas Danang
kontek, kita udah punya. Saya udah
pernah yang ini, ini, gitu.
- Saya nyobrol Mas Danang, tiba-tiba entar, Mas Danang muncul nih.
Biasanya gitu.
Dia mau nonton.
- Jadi saya udah
suka sharing-sharing karena
tuntutan pekerjaan juga, gitu kan.
Menyebarkan marketing
in Hektivit, gitu kan.
Sharing-sharing,
punya komunitas juga Jakarta JS,
bikin artikel,
waktu itu bikin podcast, bikin
screencast. Terus tiba-tiba
diajak ngobrol sama Mas Yohan
sore-sore tuh
sebelum meet-up.
Dia bilang, "Gue pengen
invite lu jadi GDE."
Bahkan gue waktu itu nggak
begitu tahu. Yang gue tahu adalah
salah satunya adalah Sidik, ya.
Yang lumayan terkenal
GDE Android, kan.
Tapi nggak tahu job desk-nya apa,
tugasnya apa, dan
kenapa
kenapa Mas Yohan
mempromosikan gue sebagai GDE, bukan
orang lain, gitu.
Itu yang gue tanya akhirnya,
akhirnya
disuruh
propose, disuruh submit,
abis submit
di interview sama Googler 1
sama GDE Thailand
1, udah.
Pak, warat ya lu ya?
Warat, iya.
GDI, Gopok.
Nanti kita undang.
Ketemu nggak lu warat waktu di US?
Kita mulai.
Cuma dia berarti
udah lama banget, ya?
Oh iya, dia udah lama banget, ya.
Gitu.
Kalau Irfan gimana, Irfan?
Sama seperti Mas Riza.
Kalau saya ceritanya
pendekin aja ya.
Meleng-leng Buana
di dunia web sudah cukup lama
dan sempat
punya komunitas juga, kan. Sama
berarti ya. Punya company,
one company, dan berurusan
dengan web dan digital marketing.
Lalu
ikut di komunitas WordPress secara
aktif sampai jadi lead organizer
di WordCamp.
Sering ngadain meetup, ya. Hampir tiap
bulan dulu ngadain meetup. Dan setiap kali
meetup itu gede-gede banget orangnya.
Banyak banget, hampir datang.
Dan di salah satu meetup itu
pemicaranya
Mas Johan.
Oh, semua karena Mas Johan ya?
Iya, karena kita
berutang buddha selama dia.
Nah, dan
mungkin just the right moment
and the right time, waktu itu
Google sedang
mendekati, Google secara
company ya, strateginya itu
mendekati
atau ada punya program untuk
support framework dan komunitas
CMS.
Jadi
memang strateginya
keras itu. Jadi dia mereka support
CMS dari
WordPress, Drupal,
Shopify.
Ya, mereka juga support
Shopify segala macem.
Dan intinya
ada
strategi keras sana. Dan salah satu
strategi itu waktu itu saya undang Mas Johan
untuk ngobrolin tentang
PWA.
Dia sedang memanjukan
PWA jaman itu.
Targetnya PWA tahun 2017 itu ya.
PWA, PWA, PWA
mulut itu. Dan saya dari
sisi performance.
CMS, performance.
Jadi bagaimana saya membuat
benchmark WordPress
di share hosting
dan saya bikin benchmarknya
di share hosting yang
50 ribu rupiah sanggup tahan
berapa traffic.
Dan saya bikin test-testnya secara
complete dan saya share.
Setelah acara
dia langsung bilang, "Van,
lo apply jadi GDI aja."
Dan gue nggak tahu apa itu GDI.
Dan
one lead to another, saya coba
saya iain, saya coba sanggupin,
saya
tanya-tanya lebih lanjut
apa sih GDI dan
jelasin gimana. Dan akhirnya dia jelasin
dan apa yang
dan satu hal yang saya
nggak perlu lakukan apa-apapun
selain apa yang sudah kamu lakukan
sekarang. Sama. Lanjutkan
aja, lanjutkan aja apa yang kamu lakukan
sekarang. Oh berarti Mas Yohan itu
scripted. Soalnya
saya juga bilangnya gitu.
Lakukan apa yang udah lo lakukan, udah
gitu nggak usah ngapa-ngapain. Jadi
buat kita itu kayak apa ya
kalau buat saya GDI
itu penghargaan apa yang saya lakukan
selama ini dihargai
embel-embel GDI oleh
Google gitu. Tapi
jangan salah GDI itu nggak ada duitnya.
Sukarela.
Voluntary. Bukan pekerjaan.
Bukan pekerjaan ya. Kita
tidak dibayar.
Voluntary.
Dan kita juga
dapat tapi nggak banyak.
Jangan berharap ya.
Yang dapat saldo yang lebih banyak itu
GDI Cloud. GDI Cloud
pasti dapat. Kalau kita kadang-kadang aja
kalau lagi mood bagi-bagi
voucher kita dapat. Tapi kalau nggak ya nggak.
Kita bisa request.
Biasanya kita bikin demo
tentang apa lah. Deploy
Next.js di Firebase yang
apa kan sekarang Firebase ada itu ya
yang kayak apalah feature SSR-nya
juga. Nah
yang auto detect meta framework.
Kita mau ngedemoin itu
konon bisa apply buat request
reddit. Cuma belum pernah.
Saya juga
gara-gara. Tapi
saya pernah buntung juga
gara-gara mau ngetes-ngetes. Saya pernah
coba beberapa hal. Kayak
machine learning. Apa? Yang
machine learning-nya atau
ngetes-ngetes
Google Workstation. Ya kan?
Ngetes lupa dimatiin.
Besok ya.
Jelaka itu. Jelaka.
Terpaksa saya bayar sendiri. Jadi
ada suka-dukanya jadi-jedi ya.
Mesti punya tes. Tapi kalau lupa
dimatiin, nombok.
Ya itu mah jadi
nggak jadi-jedi kalau pakai
serverless lupa
dimatiin, bengkos lah.
Nah dari
dari setelah
diajak Yohan. Nah itu sama prosesnya
ada 5 tahap.
Dan
interview. Dan interview
saya beda sama Mas Riza.
Kalau interview saya super
technical. Super technical.
Super tidak technical.
Yang ke
Google-nya saya super technical. Jadi saya dikasih
sebuah
challenge. Ini webnya.
Terus
coba analisis
dan kasih tahu. Saya
kasih tahu dia sebagai orang awam
apa step-step yang harus
dia lakukan untuk bisa perbaiki
performance-nya.
Untuk bisa jadi
sehingga bisa jadi progressive web
application.
Jadi saya harus kayak
bongkar
tampilan view source
segala macam. Tanya dia pertanyaan
gini-gini. Kayak coding interview ya
jadinya ya? Iya. Jadi kayak coding
interview terus saya analisis satu
one by one apa yang misalnya dia lakukan
step-step-step-step.
Dan langsung di tempat
dia lakukan step apa yang
saya insosikan dia lakukan
sampai jadi, sampai jadi
cepat.
Dengan Pak Thomas Steiner.
Pak Thomas Steiner. Oh sama Pak Thomas.
Pak Thomas.
Yang interview saya Pak Thomas.
Oh wow.
Ya meskipun
meskipun
pekerjaan sukarela
tidak dibayar. Tapi
yang benefit
yang kita dapat adalah kalau kita
diminta mengisi acara
kalau sekarang sih terbatas ke acara-acara
tertentu ya.
Misalkan Google I/O Extended atau
DeVest gitu kan.
Di Southeast Asia
di regional Southeast Asia
Asia Tenggara, termasuk Indonesia
itu kita dapat akomodasi.
Akomodasi tapi terbatas.
Jadi flight sama hotel.
Kalau ground transport bayar sendiri.
Jadi kita sebenarnya ya omokin sendiri
juga. Tapi maksudnya
yang lebih seru sih kita dapat kesempatan
ya itu. Maksudnya memudahkan
misalnya GDST
atau GDG kota mana
bikin acara.
Kalau nggak ada sistem ini.
Ya gimana. Maksudnya kita bayar
flight sendiri kan. Terus mereka juga
lihat GDG-nya juga kan nggak
punya budget berlebih kuat
ngebangin orang. Jadi
ngasih kesempatan
network Google
Developer Community biar ada
aktivitas lokal. Jadi kayak
apa. Kota-kota di Indonesia
kan banyak nih. Terus GDG
juga banyak di berbagai
kota. Nah itu jadi kayak bisa
hidup lah.
Yang menarik. Sama satu lagi
perks-nya ya kayak Eka kemarin
diberangkatkan ke US
ikut bootcamp AI.
AI bootcamp.
Eh AI bootcamp.
Bukan AI bootcamp.
Oh bukan AI bootcamp.
Ya GD bootcamp.
Atau sebelumnya yang di Bangalore juga
kan kalau kita aktif, salah satu
yang aktif
itu dapat undangan
minimal setahun sekali.
Kalau dulu kita dapat undangan ke Google I/O
dan GDG Summit.
Google I/O di awal tahun
ya bulan-bulan empat, bulan lima
di akhir tahun itu biasanya GDG Summit.
Tapi semenjak pandemi. Sejak jaman
lockdown udah
lebih.
Bisa tiga kali.
Google I/O
terus yang biru-biru
yang biru-biru.
F8 development conference
sama
GDG Summit.
Tapi Google I/O belum pernah
diundang. Belum pernah ikutan Google I/O.
Dulu sempat diundang, terakhir
itu kan apa
nggak dibayar full.
Iya. Terus nggak jadi.
Jadi harus
harus bayar uang sendiri juga.
Percsnya itu.
Jadi kita nggak
dapat dalam bentuk uang, tapi kita dalam
kita nggak dapat dalam bentuk uang
malah nombokin sendiri sedikit.
Tapi Percsnya ya.
Percsnya ya itu.
Dapat kesempatan buat ketemu
banyak orang, networking,
public speaking.
Akomodasinya juga ini ya
terbatas ya. Jadi kalau misalkan
hotel juga ya paling satu malam.
Kalau misalkan acaranya
udah terlalu malam, mungkin dua malam maksimal.
Selebihnya kita biasanya
ekstrem bayar sendiri.
Apalagi kalau, betul.
Kalau misalkan saya atau Ivan
yang di Jabodetabek terus
ngisi acara yang Jabodetabek
itu biasanya kita nombok sendiri. Kecuali hotelnya ya.
Misalkan di Bogor nih.
Besok ya.
Bulan depan di Bogor.
Nggak ada kan pesawat Jakarta Bogor kan.
Jadi kita harus naik. Antara naik
kereta atau naik kendaraan sendiri.
Mungkin kalau mau nginep di Bogor ya
mungkin dapat hotelnya. Tapi
pesawatnya ya nggak. Gak bisa diuangkan juga.
Tidak bisa diuangkan.
Jadi ya udah. Gak ada voucher.
Gak ada voucher. Gak ada. Pokoknya
tidak dalam bentuk uang ya. Benefitnya
tidak dalam bentuk uang.
Cuma itu balik ke yang disebut
Mas Johan tadi itu sih. Apa?
Iya kan toh tanpa ada ini.
Kita sudah melakukan.
Kita punya passion.
Kita emang punya guna. Tidaknya nih pengen ngelakuin ini.
Ya udah. Ini kayak di fasilitasi.
Jadi bukan
kekerjaan. Tapi kayak
lebih ke kita di fasilitasi
ngelakuin hal yang emang
pengen kita lakuin. Sama kita ngerasa ada value-nya
buat kita sama buat orang lain.
Buat web developer
di Indonesia lah. Indonesia
service. Ya.
Kalau yang sebelumnya kita lakukan. Atau Yvonne lakukan kan
dalam skala kecil. Hanya di Jakarta mungkin ya.
Nah yang Google bisa lakukan
adalah kita bisa sampai ke
Indonesia secara umum.
Bahkan South Asia kalau mau.
Kalau mau cerita
lengkapnya saya punya blog post.
Silahkan cek. Nah ini
Mas Johan orangnya inilah dia. Orangnya yang
berjasa buat kita ya.
Yang disebutkan tadi ya. Mungkin
web-nya kegigit nih berapa kali.
Kita semua, kita bertiga nih hasil
skeltingnya Mas Johan semua nih.
Ini warat nih. Warat.
Ini yang interview saya nih.
Jeff Posnick yang bikin
Workbox JS.
Oh yang bikin Workbox. Wow.
Yes. Tapi nggak ditanya
itu. Nggak ditanya
teknis. Nggak ditanya teknis.
Iya ngobrolkan lah.
Gue juga gitu yang interview tuh
Mas Francois Beaufort.
Ya mungkin salah nyebut namanya ya.
Apa? Jadi
tadinya kan udah parno banget nih sebelum
interview sama Googler-nya. Karena
gue punya kebiasaan
katastrofising ya. Kayak kalau lagi
mau
ada sesuatu.
Terus malem sebelumnya tuh pasti parno
tentang segala hal yang aneh-aneh.
Dari pertama apa? Ya kalau yang
ketakutan yang wajar mah takut
pas ditanya tiba-tiba freeze ya.
Atau tiba-tiba dadakan nggak bisa besar
inggris ya. Itu masih agak wajar. Tapi
makin pas tengah malem tuh parno-nya
jangan-jangan tiba-tiba ditanya tentang
source code browser-nya sendiri.
"Ajeng gue kan nggak bisa sih."
Terus udah parno gitu. Terus gimana
pelajarinya dalam waktu sesingkat itu
belum pas besoknya kan seharian
tetap harus kerja. Interview-nya yang kayak
jam 6 jam 7 malem gitu.
Oh parno. Cuma begitu.
Terus sempet
padahal pas itu sama Laura ya
devrel lokalnya.
Udah nanya juga ini bakal ada
coding interview yang kayak lead code gitu
nggak sih? Yang ada whiteboard-nya sih.
Dia bilang sih,
"Tahu gue nggak ya."
Cuma sempet parno juga, sempet latihan
lead code dulu, colongan latihan lead code
di tengah kerja ya biasa parno.
Biar nggak panik,
mendingan enakkan ngetik kan.
Maksudnya latihan-latian.
Nah, pas udah interview,
ternyata dia aja ngobrol.
Ya kayak gini. Formatnya kayak
episode ngobroling web biasa.
Nggak tahu ya.
Dia nilainya gimana.
Dia selalu ngetik.
Sambil kayak ngecek-ngecek notes-nya dia.
Jadi kayak nanya apa yang
kamu ketahui tentang browser engine.
Maksudnya pas sama Laura.
Ya udah kayak cerita yang open-ended.
Yang kayak gue cerita ya udah.
Misalnya ada webkit lah.
Ada lain-lain.
Misalnya firefox-nya sendiri.
Chrome punya sendiri.
Blink. Terus
apa lagi ya? Diitanya.
Oh, sebelumnya sering bikin
artikel. Terus
pernah ngasih top tentang apa, kenapa.
Terus ya udah, misalnya gue jawab.
Pas itu banyak
tentang service worker sama PWA.
Karena emang dipakai
di jalan. Terus
dipakainya begini-gini-gini.
Kegunanya begini-gini-gini. Terus
apa ya? Punya terus ditanya
tentang project. Beneran bikin project apa.
Ya udah, beneran kayak tanya-jawab aja.
Kayak ngobrol.
Cuma yang ngobrolnya berkaitan
dengan web teknologi. Terus ditanya
feature baru yang
kamu excited itu apa.
Ya udah, itu beneran tanya-jawab
biasa aja sih.
Salah satu trik, interview
secara umum ya, bukan hanya interview GDI ya.
Interview secara umum adalah ya yang udah dibahas
di episode sebelum-sebelumnya
yang apa, public speaking.
Know your audience.
Yang saya lakukan adalah saya cari tahu tentang
Jeff Posnick itu siapa, dia bikin apa.
Jadi begitu ngobrol, saya bilang
"Wah saya ngefans sama Work With JS."
Saya pakai.
Dan dia tidak ada bertanya
tentang itu sama sekali.
Karena mungkin dia menganggap saya udah pernah pakai
jadi saya udah tahu, padahal ya taunya
cuma itu doang.
Oh tapi emang pas
gue interview juga
kan ya kalau pelajarin
apa, fokusnya dia sih
udah juga dia tuh yang tentang
media, kayak misalnya
stream, transform, pokoknya yang
tentang apa
multimedia lah.
Ya udah melajarin itu juga
cuma dia nggak nanya itu sih.
Dia nanya secara umum
web API aja.
Oh dia nanya "Apa yang
kamu ketahui tentang API?"
Cuma dia nggak nanya yang
bidangnya dia secara spesifik.
Kalau stalking, stalking
kontennya dia sih udah jelas itu.
Over prepare lah.
Jadi kita harus tahu yang
interview kita itu siapa.
Setidaknya kan ada bahan obrolan.
Oh suka ini ya?
Gitu-gitulah.
Tapi itu fun.
Experience interview-nya tuh kayak
ya pertama ya itu
semalaman dan seharian
penuh udah grogi,
panik. Trus pas interview
ya kayak 5 menit pertama masih agak kaku
ya masih agak greeting,
membiasakan.
5 menit, 15 menit.
Akhirnya kerasa ngobrol dan
sepanjang interview itu hampir 1 jam
santai sih. Masih asik-asik aja.
Dan malah enjoy
pas udah mungkin udah setengah jam
lebih tuh kayak udah nggak kerasa
lagi interview sama sekali.
Kebetulan.
Beruntung mungkin.
Kita udah di luar jalur nih
dari script.
Kita kan tadi ngobrolin hal-hal favorit.
Nah, saya sebenernya pengen tahu juga
dari temen-temen yang nonton malam hari ini
kira-kira apa yang temen-temen
suka dari acara ini dan kira-kira
apa yang bisa kita improve, apa yang kita bisa
perbaiki dari acara ini supaya
semakin menarik lagi, semakin banyak yang nonton,
semakin menarik, semakin bermanfaat buat temen-temen.
Mungkin boleh di-share di kolom komentar.
Kalau dari Eka
atau dari Ivan, mungkin ada hal-hal yang perlu
kita perbaiki nggak dari
gimana cara kita
membawakan acaranya, topiknya, atau
apa gitu. Pengen apa sih ke depannya?
Nah, kita kan udah banyak banget nih
kontennya. Waktu itu juga
pas lagi acara di Surabaya
sempat ngobrol agak panjangnya
sama Audi.
Bahkan dia udah
ngetes nyoba
pake AI tool apa
gitu buat
jadi kalau
transkript kan, mungkin ini juga bisa
diteranskriptin. Memang karena ngobrol
begini dan overlap kan kurang jelas.
Gimana caranya biar bisa, intinya
biar bisa ada track recordnya,
ada dokumentasi, catetan,
apa aja sih. Biar lebih mudah
dicari ya.
Trus si Audi
poin-poin
dan di bagian mana. Maksudnya kan
si Audi cerita sih kadang
dia pengen nge-share ke temennya misalnya atau
share ke sosmed atau apa tentang
suatu topik. Tapi kan nggak semua orang
mau nonton kita
mau nonton kita selama
setengah jam atau 2 jam
dan agak sulit buat
ya nggak mungkin kan ngapalin
pas kita bahas tentang suatu
topik tertentu itu di menit
keberapa. Nah itu masukan
yang bagus banget sih dan sebenarnya setuju
cuman sekarang belum ada ide
pake tools apa dan
workslownya gimana. Cuman sebenarnya
hal yang mirip juga dikerjain sama syntax
FM sih.
Mereka pakai itu, Open AI
Whisper.
Maksudnya apa?
Wala sendiri deh kayaknya.
Tapi nggak tahu ya bahasa Indonesia apakah
mereka bisa catch up dengan bahasa Indonesia atau nggak
udah gitu kan ngobrolannya ini bertiga nih
dia bisa bedain nggak suara kita
dan kadang kita kan
kembuk-kembukan ya. Maksudnya ya karena ngobrol
design gini kan agak sulit apalagi
unscripted ya.
Apalagi online kan kadang-kadang juga
sepang lag kan.
Nah itu maksudnya itu satu gap
mungkin satu gap yang paling penting bahwa
kita nggak punya
rekaman, rekord, dokumentasi
tentang topik-topik yang kita bahas di
masing-masing episode dan di bagian mana
menit berapa itu sih satu yang paling
tagging ya.
Apa namanya?
Audi rajin banget loh
beberapa episode terakhir tuh Audi selalu
melakukan timestamp
Audi yang ini ya.
Dia komen, selalu komen
tuh timestamp. Menit 0 mulai
menit berapa bahas ini, menit berapa bahas ini
selalu tuh. Jadi terima kasih banyak
buat Audi yang bikin
secara manual. Saya tinggal copy paste
aja luar biasa. Terima kasih.
Ya mungkin itu salah satu
cara dia untuk menyelesaikan
problemnya tadi ya. Karena kita nggak
bisa pakai, belum mencoba
ke arah sana, mungkin pakai manual dulu.
Jadi ya effortnya luar biasa.
Terima kasih Audi.
Kalau Ivan, ada masukan mungkin?
Dari saya sempat kita
obrolin kemarin itu
lebih, coba kita bisa bikin
kayak kitab ripo
atau kitab issue. Oh iya menarik.
Yang bisa open
tentang topik-topik yang kita bahas.
Jadi summary-summarynya
kembali lagi dari summary yang tadi
dihubungi ke kitab ripo
dan bisa jadi bahasan orang
bisa kayak. Diskusi di sana ya
lanjut diskusi ya. Lanjut di
kitab ripo. Wah seru nih.
Jadi
misalnya kita lagi bahas BUN.js kemarin
kita coba nanti hasil timestamp
saya coba
misalnya di project apa?
Jadi bisa dikomentarin.
Saya komentarin. Jadi ada
rekodnya gitu di situ.
Dari pada kita tulis
di Google Docs, mendingan langsung ke GitHub aja
kita pakai readme.
Per episode.
Per issue.
Per episode buat satu issue.
Buat satu issue atau satu file gitu kan.
Nanti bisa dikomentarin bisa
disekusiin gitu ya. Wah menarik tuh.
Thank you. Thank you.
Hidup bagus. Hidup bagus.
Dan itu lebih apa ya?
Kan sosmed kan. Kayak gue nggak
sosmedan nih. Terus mungkin kalian juga
temen-temen masing-masing punya sosmed
lain-lain. Ya itu.
Daripada.
Maksudnya daripada kalau misalnya
harus di Twitter atau X gitu kan.
Itu centralize di satu tempat
yang nanti tiba-tiba Elon Musk
kenapa lagi diganti lagi
jadi skulit. Maksudnya. Kayak misalnya
sekarang thread kan udah nggak
muncul kalau user yang nggak login.
Maksudnya itu kan jadi sulit ya
dikonsumsi. Nah kalau di GitHub
repo, ya
relatif lebih kecil kan untuk
tiba-tiba sulit diakses. Jadi setuju
sih kalau misalnya obrol, kalau
mau ada obrolan atau diskusi
lebih lanjut di repo
aja. Iya setuju-setuju.
Karena kita biasanya
itu diskusi
sampai episode ini
selesai. Udah gitu. Kadang-kadang
ada beberapa temen-temen yang nonton setelahnya
terus ada komentar juga tapi
terbatas kan. Kalau ada.
Kalau nggak bisa masuk ke notifikasi
saya kalau di YouTube. Nah bener
itu juga ya. Jadi saya nggak tahu kalau temen-temen
itu sebenarnya. Nggak tahu kalau itu ada. Kecuali kalau
di mansion ya. Komentar dan bertanya.
Betul-betul-betul. Lebih enak
kalau di GitHub bisa tagging saya.
Bisa tagging Sanita, bisa tagging Eka.
Terus kita bantu jawab deh.
Tapi nggak sejauh-jauh juga ya
nanti di...
Buat episode mendatang mungkin bisa kita...
Buat episode mendatang
langsung kita buat tanya. Yang sebagian
yang episode kita sebelumnya mulai
kita masukin kesana aja ya.
Oke. Mantap-mantap.
Sip-sip-sip.
Terus juga kita bisa
taro topik yang mau
dibahas atau topik yang akan dibahas
berikutnya juga bisa disitu kan.
Jadi temen-temen juga bisa mulai
before acara sudah bisa
kayak ngasih... Bisa.
Bisa lihat oh ini kira-kira
nanti kita mau membahasnya tentang
apa gitu. Benar-benar-benar.
Wah baru kepikiran ya.
Luar biasa.
Masa-masa apa nih?
Apa yang perlu diimprove?
Apa yang perlu diimprove? Yang pertama adalah
kita harus punya account streamer
sendiri. Karena ini masih numpang.
Masih numpang Jakarta JS.
Terus awalnya
jadi awalnya itu kita live-nya
di channel Web Dev Indonesia.
Asuhannya Mas Johan juga.
Karena
saya pikirannya adalah biar neutral.
Jadi temen-temen kan
nggak punya account YouTube
kan. Jadi taro di satu tempat
yang neutral. Tapi
semakin kesini akhirnya di
episode ke-5 atau ke-6
saya experiment. Saya
live di dua tempat. Di account pribadi
sama di account Web Dev.
Dan semakin kesini penonton Web Dev itu semakin
sedikit. Kayak nggak ada perkembangan.
Jadi mungkin
mulai episode mendatang
kita hanya live di satu tempat di channelnya
saya.
Nanti temen-temen yang di Web Dev Indonesia bisa
cek di youtube.com/risafahmi
aja biar di satu tempat.
Jadi nggak usah
di dua channel sekaligus.
Karena channelnya juga
udah terbengkalai. Cuman kita
doang yang live. Dan ternyata nggak
works juga.
Dan at least dapat
audiensnya Mas Risa kan.
Maksudnya dapat keuntungan
juga.
Saya juga dapat keuntungan.
Jadi sama-sama. Win-win.
Nah kan Mas Risa juga
sebenarnya ada kayak extra labor
ngurusin setup stream yardnya.
Terus apa? Nge-hosting
nge-direct apa? Nge-buka, nge-direct
pertanyaan-pertanyaan. Jadi ya udah
fair-fair aja sih.
Iya kalau misalkan kita punya
account stream yard sendiri kan kita bisa
menjadikan kita bertiga sebagai admin.
Jadi kalau misalkan kayak kemarin itu
tiba-tiba internet saya mati, kalian
masih bisa operasiin. Kemarin kan nggak bisa ya?
Bisa. Cuma nggak
bisa, cuma nggak bisa.
Bisa share screen kan.
Gak bisa naikin share screen kan.
Gak bisa share screen.
Share screennya.
Iya karena yang admin sama saya.
Kalau kita udah masuk ya udah kita ngomong doang.
Di sini nggak ada yang ngomong.
Ya seperti itu. Jadi
kita harus mengeluarkan
biaya tambahan untuk
stream yard.
Mungkin kita langganan pertahun gitu kan.
Terus ya udah. Jadi kalau masing-masing sudah.
Atau kita open for sponsorship maybe?
Oh iya.
Kita pasti open for sponsorship ya.
Cuma
ya nggak tahu.
Kalau ada kita udah siapin
red card-nya.
Jadi kalau memang ada teman-teman
yang tertarik boleh lah.
Mau endorse nggak boleh.
Walaupun
kalau ada yang nyualan kaos kita pakai kaos.
Bagi-bagi sticker gitu ya. Give away.
Give away.
Dapat motor.
Dapat motor.
Apa kita mulai di channelnya
NullHolid.
Di channelnya NullHolid aja apa.
Jangan lah.
Ini Aldi.
Bisa ngundang GDE jadi speaker event
tech talk GDSC? Bisa kan?
GDSC bisa?
Bisa aja.
Bisa aja. Cuma kalau travel support nggak tahu ya.
Jadi maksudnya mending undang yang
dalam kota atau dekat-dekat aja.
Pasti mau sih.
Asal schedule-nya
aman.
Iya.
Asal jangan ini ya.
Jangan dia endorse yang ini ya.
Bahaya.
Itu memang dia duitnya banyak.
Tapi kita tidak terima endorsean seperti itu ya.
Jangan. Manti masuk berita
GDE dipanggil ke kantor polisi.
Bahaya.
Ini feedback dari NullHolid.
Katanya, pengatauan baru
yang paling disukain pengatauan baru, interaksi tanya-jawab.
Kita juga merasakan.
Jadi nggak cuman kita doang yang ngobrol.
Tapi teman-teman juga bisa
nambahin atau koreksi atau
kasih info yang baru yang kita juga kadang
tidak tahu.
Karena Ivan
masih aktif sebagai
developer. Eka juga masih aktif sebagai
developer. Cuma saya yang ex-developer.
Pengalaman bikin produk itu udah lama banget.
Nggak saya
alami. Jadi
kita sama-sama belajar. Teman-teman yang di sini
mungkin yang di komen lebih banyak
portion
nge-nodingnya daripada
saya sekarang.
Kita sama-sama belajar.
Wah kontaknya via apa?
Kontaknya...
Aldi ini GDSC mana ya?
Kontaknya
via Mas Danang. Oh nggak ya?
Bukannya ada channelnya ya?
Di Discord aja.
Ya, Discordnya
Google Developers Indonesia ya.
Dari Ludvi juga
dari nonton-nonton banyak ilmu
baru, siap. Nah
Aldi tuh bener kan? Discord.
Dah lama nggak buka Discord ya.
Baru tadi posting lagi.
Buka cuma kalau dimensiin aja.
Ya, kemarin itu
beberapa waktu yang lalu kan
timnya Android sering live ya
di Discord. Saya juga kepikiran
kayaknya interaktif seru juga ya. Rame ternyata ya.
Atau
kita formatnya seperti ini juga bisa sih.
Tapi Eka pernah
ngalamin ya live di Discord. Gimana
experience-nya?
Nah, kalau keroyokan, kalau yang
ngomong banyak banget, emang
lagging. Cuma kalau bertiga doang
kayaknya relatif aman sih.
Kan kalau misalkan di
Discord itu kelebihannya adalah penonton bisa
ditarik ke sebagainya itu kan
suruh ngomong gitu kan.
Kalau disini kan agak susah ya.
Oh, Depok. Depok bisa lah.
Bisa lah.
Lebih deket.
Nggak deket-deket juga sih ya.
Lumayan. Motor nyampe.
Nyampe.
Wah, itu diajak live di Discord.
Boleh, boleh, boleh.
Boleh kita live di Discord sekali-sekali.
Bisa multi-stream nggak ya?
Jadi kita biar nggak bikin acara
baru gitu sekalian.
Di Discord tapi di
ituin ke Youtube.
Jadi broadcast-nya di Discord, di Youtube juga.
Kalau Razan mau bantuin boleh
kita dengan senang-senang akan menerima.
Biasanya kalau pakai itu kali ya.
Pakai apa namanya? Kayak di screen capture.
Terus di OBS.
Pakai apa itu namanya?
OBS.
OBS.
OBS, yes.
Oke, oke.
OBS.
Ada lagi yang mau disampaikan mungkin?
Oh iya, ucapan terima kasih lah ya.
Buat semuanya. Buat teman-teman yang nonton.
Terima kasih teman-teman. Buat...
Nara Sumber.
Nara Sumber kita siapa? Siapa aja?
Ingat nggak?
Mas Angga.
Paling terakhir dulu.
Mas Irfan Maulana.
Mas Irfan Maulana.
Mas Angga.
Mas Angga.
Jesseline.
Pak Thomas.
Tim Android.
Tim GDI Android.
Sidik dan teman-teman.
Mas Budi.
Mas Andrew.
Ya.
Terus timnya React Indonesia.
React Komunitas.
Mas Zain dan teman-teman.
Terus siapa lagi?
Yang kita pernah undang?
Mas...
Yang mau diundang lagi? Mas Donny?
Mas Danang.
Mas Donny minta diundang lagi kan?
Buat ngomongin machine learning kan?
Belum tuh.
Kemarin juga ketemu sama
Dana. Dia sudah bersedia.
Kemarin katanya waktunya nggak cocok.
Jadi nggak...
Bahas microphone N kayaknya.
Ini Eka mau bahas microphone N
katanya. Eka namanya sama ya.
Nama pasaran gitu ya.
Nama pasaran.
Mau bahas tapi lagi nunggu Mas Dana.
Iya.
Ahlihnya.
Yang sudah pengalaman menggunakan
microphone N.
Kemarin emang tentang itu.
Dan pakai firebase juga.
Jadi emang cocok lah.
Cuma beliau ketemu lagi sibuk.
Iya. Kemarin dia bilang kontak
lagi lah. Nanti pengen dia
mau ikutan. Jadi...
Bu Esther?
Iya benar.
Ini juga nih GDE baru
harusnya diplonco.
Diinterview di sini.
Diplonco di sini.
Oh kita
sandingkan yang jauh sama
yang dekat Mas Imre.
Cloud sama
machine learning digabung.
Oh gitu.
Tapi kalau Imre
time zone nya beda.
Time zone nya beda.
Nanti Imre jadikan
satu sama Prabu.
Waduh.
Gak seru ini.
Ngerosting
nanti ya.
Sama satu lagi
Mas Budi. Udah deh.
Kita keluar aja mereka bertiga. Udah.
Bye bye.
Iya.
Ini juga
Mas Arya juga pengen kita undang juga
ngomongin open source ya.
Kemarin Eka gak ketemu sih ya.
Nanti kita coba ngobrol-ngobrol lagi.
Iya.
Oh iya ngomongin Mas Arya dulu
pernah diajakin podcast juga.
Setiap hari Sabtu pagi jam 8.
Karena kan jam
jam 10, sore jam 10.
Karena kan Mas Arya kan di California
kan time zone nya agak beda ya.
Jadi cari jam yang bersahabat untuk dia.
Tapi baru jalan 3 episode
akhirnya berhenti.
Kayak penggawa teknologi.
Ngomongin orang-orang yang
underappreciated.
Kayak yang bikin skeleit.
Yang pernah bikin doom.
Kalau misalkan kita kan
kenalnya kan dan Abramov.
Itu terkenal sekali kan.
Tapi yang bikin
react bukan dia.
Yang bikin react bukan dia.
Jadi orang-orang yang
bikin relax.
Gara-gara dia bikin relax.
Betul.
Dia public face nya react.
Di Twitter nya kan
I didn't make react.
Jadi banyak
sosok-sosok orang yang sebenarnya
perlu di highlight.
Karena karyanya.
Bukan hanya karena dia
ngetrend di Twitter atau
viral di Youtube
atau dimana.
Dulu sempat bikin.
Karena kesibukan ya
bentuk berikutnya adalah ini.
Jadi formatnya kayak gini sebenarnya.
Sama kayak yang bikin
C++ creator.
Betul.
Brands lossook.
Brands lossook.
Underappreciated banget kan.
Tahunya jaman itu ya
Steve Jobs.
Bill Gates.
Tapi
underline itu C++.
Atau Linus Torvald.
C++ kan.
Tapi nggak pernah ada yang tahu.
Mungkin ada yang tahu tapi
jarang.
Karena dia emang nggak
memposisikan diri sebagai public figure.
Iya.
Betul.
DHH itu kan
dia bikin
dia bikin apa sih?
Rails.
Tapi kan dia juga punya
punya company.
Dan dia aktif banget online influencer.
Ada tipe
creator.
Pencipta teknologi yang kayak gitu.
Ada yang yaudah bikin.
Yaudah dia kerja di balik layar.
Nah itu.
Kadang-kadang kan harus diangkat juga ya.
Supaya teman-teman di sini juga
punya apa ya.
Punya banyak
soritauladan lah. Nggak cuman orang-orang yang
viral atau terkenal aja.
Ini juga orang-orang yang
under-appreciated ya.
Kurang diapresiasi.
Kurang terdengar biasanya.
Itu sih.
Tapi ya nanti kita undang lagi.
Mudah-mudahan Mas Haria bersedia ya.
Cuman kita
trikinya adalah time zone-nya.
Kalau jam 8 itu, disana itu jam
5 atau jam 5 pagi.
Iya selisih jam.
Setelahnya 14 jam. Kita
pre-recorded aja kalau emang Leo mau.
Ya antara pre-recorded atau kita
ngobrol dulu 1 jam. Nanti jam 9
dia bisa join.
Udah ada tuh topiknya ya.
Yang kemarin apa?
Lodas ya.
Lodas.
Yang bangkrut.
Nggak.
Itu kan nggak jadi.
Yang kemarin itu Lodas.
Lodas kan library.
Lodas menyatakan dirinya
bangkrut. Bangkap sih. Betul kan?
Tapi kalau nggak salah
nggak jadi deh.
Nggak jadi. Dia mau bikin versi yang baru.
Mau bikin versi yang baru.
Jadi semua issue yang sekarang
di close. Ditutup dulu semua.
Ada aja ya drama
di bidang
open source dan teknologi.
Yang bikin
Cognator.
Cognator.
Ada apa yang bikin Cognator?
Siapa yang bikin Cognator?
Dulu. Oh nggak terkenal ya?
Yang terkenal yang si ini ya?
Cognator itu bukan
dia yang bikin itu kan si ex-present engine.
Iya.
Bukan perorangan ya.
Perusahaan. Company.
Tapi ex-present engine akhirnya
nggak mau lanjutin
Cognator.
Terus dianggap sama
Columbia apa
gitu.
Ya Columbia University.
Di take over Columbia University.
Itu kalau nggak salah Cognator 3 tuh.
Habis itu baru dibalikin
ke komunitas lagi kan.
Teman-teman di sini PSP yang tahu
si itu kan. Siapa?
Orwell ya yang bikin Laravel ya.
Yang apa?
Taylor.
Taylor.
Ada muatan juga lumayan di
dunia PHP kan.
Yang sekarang terkenal.
Itu kan sebenarnya lingkungan
pertemanannya orang Laravel kan.
Emang musuh
komunitasnya mereka.
Jadi sebetulnya
anak JS dan anak PHP
sebenarnya nggak jauh-jauh amat.
Namanya banyak.
Produknya banyak.
Mukanya itu-itu aja.
Yang bikin apa?
Fuel PHP gitu.
Gue lupa siapa.
Oh ya, Fuel pernah.
Ada, iya, iya. Ada framework-nya namanya Fuel.
Tapi gue lupa siapa
yang aktif.
Perlu diapresiasi.
Apresiasilah 1 jam nge-moding 7 jam
di baging.
Cara motongnya itu
suruh co-pilot aja yang nulis.
Jadi motong jam 1 jam nge-moding.
Tapi ntar di bagingnya jadi 8 jam.
Sama aja.
Sama lagi kalau PII gitu ya.
Sama
terakhir kita mau ucapkan
terima kasih juga buat teman-teman
yang disini nonton,
yang sharing-sharing link kita
di Twitter, di LinkedIn, di Facebook.
Yang selalu
standby hadir.
Terima kasih banyak.
Yang kasih ide
terus-menerus ya. Kasih ide-nya
luar biasa. Kadang-kadang kita suka bingung
tapi ngeliat topik-topik
ide-topik dari teman-teman kita jadi
semangat lagi, "Wah ini seru, itu seru."
Jadi tetap terus
lakukan apa yang teman-teman lakukan.
Seperti
kata Mas Johan.
Ohil Mas Johan.
Tadi ada
masukan juga. Tadi ada yang saran
project IDX.
Oh ya, IDX.
IDX kita belum bahas.
Kenapa? Karena kita belum dapet.
Eh, dapet.
Udah dapet? Udah dapet.
Tapi bentar ada demo.
Demo dong demo. Apa itu?
Tapi, tapi fitur utamanya kan
AI-nya. AI-nya belum ada.
Jadi sebenarnya ya, kayak
eh, apa kan?
Saat ada emailnya,
cari emailnya,
kodu daftar dulu, submit, langsung
reprove.
Udah daftar langsung di IDX-nya,
udah daftar di email juga,
belum dapet.
Webcontainer.
Ini menarik nih.
Ini baru, baru,
saya baru kepikiran mau bahas di
DevFace Bogor, kira-kira
menarik gak webcontainer?
Menarik, bahas.
Gue pengen tahu aja sih.
Oke, boleh, boleh, boleh.
Demo angular pakai IDX.
Kenapa angular?
Flutter kayak apa gitu?
Oh, itu
IDX bagusnya kan ada
template-nya gitu.
Kalau yang ada starter,
kayak ada starter template-nya,
lumayan user-friendly sih, enak.
Tapi lagi-lagi itu yang fitur
utamanya kan salah satunya AI-nya
tuh, coding AI-nya
yang khusus buat apa?
Kan product AI-nya
Google, macem-macem tuh,
ada yang kan professional.
Ada yang dipake di bar, ternyata tuh lain lagi.
Nah, ini yang untuk coding.
Nah, itu yang kayaknya salah satu gimmick-nya itu.
Tapi ya itu belum dipake.
Kodi ya namanya kalau gak salah, kodi.
Tapi fitur yang lainnya
saya lebih menarik justru.
Kayak GitHub Courses sih.
Oh ya, bisa buat running.
Cuma nyoba di
starter template-nya, Dirt Flutter.
Ya, bisa muncul.
Udah kayak beneran kayak.
Oh, enggak, kalau yang native,
gak tahu deh bisa atau enggak, belum coba.
Ya, cuma ada tampilannya aja.
Ada UI-nya aja.
Nah, cuma kan Flutter dikompil ke UI,
ke web juga ya soalnya.
Jadi, apa?
Mungkin itu hasil build
yang buat web ya.
Cuma kalau untuk target native-nya,
kayaknya gak ada deh
sejauh yang...
Oh, gak ada target native ya.
Jadi, Flutter pun, Flutter web ya.
Walaupun ya ada emulator, emulator web
aja gitu ya, mobile web gitu.
Ya, kayak ada preview pane aja sih.
Yang sejauh yang
bisa ditiat cuma itu.
Ya, ya. Mungkin nanti kalau
fitur AI-nya udah aktif, mungkin kita
bisa coba demo ya. Lihat-lihat ya.
Iya. Loh.
Ivan.
Aman, Ivan. Oh, kirain ngefreeze.
Oke.
Ada lagi yang mau dibahas.
Tadi PR kita adalah Transcript.
Kemudian pindah ke
GitHub juga sebagai
Transcript.
Yang lain kita bisa bahas nanti.
Ya.
Oke. Mungkin untuk malam ini,
sekian dulu. Terima kasih banyak sekali lagi buat
temen-temen semuanya yang sudah menemani
kita setahun belakangan.
Sekarang tiga orang abisin gue aja
ini. Masih separuh.
Masih separuh.
Dua saya kita akan tiup-lilin di
yang kedua.
Dua akan bisa. Target. Yes.
Oh iya, kita ada rencana mau
bertiga
di acaranya DevFace Bogor.
Antara live atau
enggak itu nanti kita coba cek ya.
Mudah-mudahan bisa live ya atau recorded.
Kita mau bertiga di panggung
ngobrolin web
di panggung DevFace Bogor.
Kalau temen-temen ada yang di Bogor
dan sekitarnya boleh datang.
Tanggal 25 November ya.
Jadi nanti kita akan
tanya-jawab lah seputar web. Pokoknya
topiknya bebas.
Jadi tanya-jawab seputar
dunia web. Kalian mau bahas apa?
Mau nanya apa? Kita akan jawab
kalau kita bisa. Kalau kita nggak bisa kita cari
sama-sama.
Kita googling aja udah.
Jadi gitu
rencananya. Mudah-mudahan bisa
teraksana dengan baik. Untuk malam ini
terima kasih banyak. Kita udahan
dulu. Ketemu lagi minggu depan
dengan topik yang berbeda pastinya.
Jangan lupa kalau
ada topik, ada
saran kritik
dan ada
narasumber yang mau diundang boleh
kesana.in/
ngobrolin web.
Oke. Sekian
dulu untuk malam hari ini. Terima kasih
banyak. Tunggu di Jakarta.
Tunggu di Jakarta.
Belum tentu Jakarta.
Jadi kita udah fix di Bogor
bertiga bawa topik masing-masing.
Terus nanti kita mungkin akan
ada dikasih waktu untuk
memungkinkan
diskusi panel, nah kita sekalian
live, ngobrolin web. Live atau
recording.
DevFest selanjutnya
Mas Dica kemana? Mungkin bisa diumumkan.
Baru terima
yang Bogor. Depok
udah propose, tapi kayaknya enggak.
Bali, tanggal 26.
Setelah Bogor.
Susah kan? Padahal pengen ke Bali.
Mepet.
Tapi tanggal 26, mepet banget sama Bogor.
Tapi bisa.
25 malamnya.
Ke Bali.
Bisa.
Bisa sih.
Kalau niat sih.
Bisa.
Tapi kayaknya
mepet banget.
Kalau Ivan kemana?
Udah ada empat ya katanya.
Bogor,
Bandung,
Magasar.
Gue hampir sama persis.
Kecuali Medan. Cuma Bogor,
Bandung, Magasar.
Cuma Bogor,
Magasar. Oh kalian nggak diundang
ke Bali ya? Oh Eka udah
pernah.
Bali tuh kayaknya
mepet-mepet ya.
Mepet-mepet ya.
Kayak tadi Prabu bilang 25 malah.
Oh bukan 26 ya?
Iya 25.
Pokoknya sehari setelah Bogor deh.
Iya kayaknya.
Ya udah.
Sampai ketemu lah ya.
Sampai ketemu minggu depan.
Sampai ketemu di DevFest juga.
Kalau ada yang datang, boleh say hi.
Foto-foto.
Atau minta tanda tangan seperti Audi.
Silahkan.
Iya Ivan tuh ke Surabaya berarti.
Iya Ivan harus ke Surabaya.
Main-main ke Surabaya tuh.
Mau menangisin.
Nambah satu lagi.
Siap.
Oke kalau gitu.
Udah dulu ya temen-temen.
Terima kasih banyak buat malam ini.
Kita ketemu lagi minggu depan.
Sampai jumpa.
Dadah.
Deskripsi asli dari YouTube
Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
1 Apr 2025
Ngobrolin Lebaran
Episode ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri dari tim Ngobrolin WEB. Eka, Ivan, dan Rizah memberikan salam Lebaran denga...
18 Jul 2023
Ngobrolin Public Speaking
Topik malam itu keluar dari kebiasaan: bukan teknologi, melainkan berbicara di depan umum. Ketiganya berbagi cerita awal...
8 Apr 2026
Bedah Situs
Episode ini adalah sesi bedah situs, membedah dua website yang dikirimkan lewat DomaiNesia secara langsung di depan peno...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .