Ngobrolin Browser
Ringkasan Episode
Bantu KoreksiSetelah membahas HTML, CSS, font, gambar, dan testing, episode ini menutup daftar komponen web dengan yang paling mendasar: browser. Ia digambarkan sebagai jendela menuju dunia web sekaligus satu-satunya platform yang jalan di semua sistem operasi dan semua perangkat — dan semua kemampuan aplikasi web modern hari ini adalah buah dari kemampuan browser yang melompat jauh, sebagian justru karena perang browser. Sejarahnya ditelusuri dari browser pertama buatan Tim Berners-Lee untuk komputer NeXT, lewat Mosaic yang pertama kali menampilkan gambar dan teks dalam satu dokumen, sampai perang Netscape melawan Microsoft yang bukan hanya rebutan pengguna tapi juga rebutan bahasa — JavaScript melawan JScript. Dari kekacauan itulah lahir W3C: kalau mau bikin fitur, sepakati dulu spesifikasinya. Jejak masa itu masih tersisa, dan bisa dibuktikan sendiri: ketik navigator di konsol browser apa pun, appCodeName-nya masih Mozilla dan appName-nya masih Netscape. Yang menarik dari lanskap sekarang adalah arah yang berlawanan. Dari sisi mesin, pilihan justru mengerucut tinggal tiga — Gecko, WebKit, dan Blink — sementara dari sisi antarmuka browser justru makin beragam: ada yang menaruh tab di samping dan memperlakukannya sebagai to-do list, ada yang khusus untuk developer front-end, ada yang menempel wallet atau Fediverse. Dibahas juga kejengkelan lama bahwa semua browser di iOS wajib memakai WebKit sehingga Chrome dan Firefox di sana sebenarnya hanya kulit, plus Interop sebagai forum tempat semua vendor akhirnya sepakat memprioritaskan area yang sama.
Poin-poin Utama
- •Jejak perang browser masih tertinggal di setiap browser hari ini: ketik navigator di konsol, appCodeName-nya Mozilla dan appName-nya Netscape — bahkan di Edge yang sama sekali tidak memakai keduanya
- •Perang Netscape dan Microsoft bukan cuma rebutan pengguna tapi juga rebutan bahasa (JavaScript versus JScript), dan dari kekacauan itulah W3C lahir supaya spesifikasi disepakati lebih dulu
- •Mesin browser justru mengerucut tinggal tiga — Gecko, WebKit, Blink — sementara ragam browser malah bertambah karena yang dibedakan sekarang lapisan antarmukanya, bukan mesinnya
- •Semua browser di App Store iOS wajib memakai WebKit, jadi Chrome dan Firefox di sana sebenarnya Safari berkostum — dan pernah menyebabkan CSS Grid jalan mulus di emulator desktop tapi rusak total di perangkat aslinya
- •Chromium sudah berupa browser lengkap dan open source; analoginya seperti kernel Linux yang di atasnya ada berbagai distro, sementara Chrome, Edge, Opera, Vivaldi, dan Brave adalah lapisan vendor masing-masing
- •Opera Mini dulu cepat karena punya server perantara yang merender halaman jadi markup sendiri sebelum dikirim ke ponsel — hemat data, tapi dukungannya suka-suka mereka dan tidak mengikuti standar apa pun
- •Interop adalah forum tempat semua vendor besar akhirnya sepakat memilih beberapa focus area per tahun berdasarkan masukan komunitas, lalu skornya diumumkan di akhir tahun dari hasil pengujian yang repositorinya terbuka
Halo, selamat hari Selasa. Seperti biasa kalau hari Selasa ketemu kita di Ngobrolinweb.
Kayak kita harus decide gimana tangannya gitu biar asik kali ya.
Besok-besok lah, nanti otografi.
Kemajuan tapi ini, bisa ngomongnya compact tadi.
Jadi ketemu lagi kita ngobrolinweb malam hari ini bersama saya Riza, ada Eka dan juga ada Ivan.
Kita bertiga lagi dan seperti kemarin dan seperti episode kemarin kita tapping lagi.
Kita rekam lagi karena sudah masuk masa liburan ya.
Jadi kita mau tetap hari Selasa konsisten, berusaha untuk konsisten setiap masa.
Tetap komitmen.
Dan salah satu caranya adalah dengan rekaman sebelum hari Selasanya.
Karena mungkin hari Selasanya sudah pada libur ya.
Jadi malam hari ini kita akan ngobrolin apa nih? Kayaknya seru ya malam hari ini ya.
Ya, yang gak bisa dilepas dari dunia web ya. Coba kita bahas yang lalu, udah bahas CS.
Sudah bahas apa lagi? Fonts, udah bahasa TML, CSS, Statistik, Image, Phone.
Terus apa lagi dari komponen sebuah web yang gak bisa, oh ya testing.
Apa lagi nih yang gak bisa lepas dari web?
Apa lagi kalau bukan browser. Gak ada browser semua itu gak jalan udah.
Iya, browser itu jendela kita menuju dunia web.
Yes, apa yang bisa kita buat ya, kemampuan-kemampuan aplikasi web sekarang,
yang modern sekarang itu tidak terlepas dari kemampuan browser yang meningkat sangat tajam ya.
Terutama beberapa puluh tahun terakhir gitu.
Dan itu yang mendorong juga JavaScript, HTML, CSS maju berkembang
gara-gara salah satunya ya karena ada perang browser ini kan.
Kan gak enak kan kalau misalnya mau baca konten pakai core lewat comment line,
terus hasilnya gitu kan, HTMLnya, terus kita baca gitu.
Dan web API, kayak kata Mas Rissa tadi, web API yang jaman sekarang gak bakal bisa ada tuh
kalau pakai crawl kan. Gak bisa buka kamera, gak bisa ngerekam suara dari terminal.
Terus browser itu kayak jendela dan menyatukan kita ke semua device, semua OS juga loh.
Semua OS gitu ya. Dia jalan di semua OS, dia jalan di semua device.
Keunikannya media platform web dibanding native atau device lain juga itu ya?
Lihat transkrip lengkap (1739 segmen lagi)
Ya, selama ada browser, aplikasi web aman.
Tinggal kembali ke kitanya gimana mendesain aplikasinya, apakah mengakomodir platform-platform itu
atau ya kita cuekin aja gitu kan.
Kalau ingat jaman dulu ada salah satu Joportal yang kalau kita tidak buka dengan salah satu...
Gue tahu itu, gue tahu itu, gue tahu itu.
Gue gak tahu.
Tapi bukannya dulu common practice ya jamannya browser war, emang best view, in, blablabla.
Terus dulu kayaknya bisa ngatur resolusinya, kayak kita nyuruh best view, in, browser A dengan resolusi 1024x768.
Ya bayangin sekarang udah gak mungkin ya.
Terutama yang diceritakan Joportal tadi karena dia pakai teknologinya tertentu ya, jadi udah bundling gitu.
Kita sebut saja teknologi.net gitu ya.
Dia udah dioptimise untuk browsernya dia, mereknya yang sama gitu.
Makanya dia hanya menerima satu jenis browser.
Tapi semakin kesini semakin universal kan?
Karena adanya yang namanya web standard kan.
Jadi kalau dulu banget mungkin agak kayak world wide web gitu.
Masing-masing browser kan berkompetisi, masing-masing bikin feature yang proprietary yang ada di browser mereka sendiri doang.
Dan implementasinya juga suka-suka mereka.
Jadi kayak misalnya ya contoh random feature lah.
Misalnya apalah kamera, dulu belum ada kamera ya.
Misalnya fetch request atau apapun itu.
Jadi sintaksnya tuh di browser A begini, di browser B sepenuhnya berbeda.
Pusing juga kan, abis resource developernya kalau misalnya harus bikin kode dua kali.
Nah abis itu makin lama makin deketatin standard kayak spesifikasi yang di W3C ya.
Makanya lahirlah W3C karena sering war, sering berantem, satu bikin A, satu bikin B.
Terus satu maunya begini, satu maunya begitu.
Akhirnya gak ada ketemu kan.
Makanya lahirlah W3C, World Wide Web Consortium.
Jadi kalau mau bikin feature atau bikin perkembangan disepakatin dulu, spesifikasi teknisnya seperti apa,
behavior-nya seperti apa, sintaksnya kurang lebih seperti apa.
Jadi walaupun browser mungkin ada yang mengadopsi atau enggak, minimal ya teknologinya sama sintaksnya sama lah.
Tapi kalau sudah di-approved, misalnya spesifikasi tersebut sudah di-approved menjadi sebuah standard,
browser yang tergabung di consortium wajib menerapkannya.
Tetapi timeline-nya dikembalikan ke si developer web-nya, web browser-nya.
Kapan-kapan juga boleh, belum mau sekarang tapi kapan-kapan boleh.
Tapi so far kalau gak bisa ya pasti di user-nya yang jadinya ini kan ya.
Kalau emang feature itu penting, developer akan berisik kan, akan ngomong kapan nih, kapan nih.
User menekan developer, developer menekan vendor browser.
Biasanya dibikin dulu kalau bisa ada, apa istilahnya?
Kalau misalnya di browser itu belum ada, terus dibuat polyfill dulu, kalau misalnya ada polyfill dulu.
Kita pernah bahas ini ya, episode apa sih ponya yang mirip-mirip ini tentang standard,
tapi kita bahas tentang proses adopsi standard spesifikasi JavaScript ya.
Ya prosesnya mirip kan sebetulnya buat feature web API lainnya.
Kayaknya yang di itu ya, yang di ES, ECMAScript, TC9.
Nah, ngomongin browser nih, kita juga pengen tahu dong temen-temen yang dikomentar
mungkin bisa tulis ya, browser favorite-nya apa, yang dipake sehari-hari itu browser-nya apa.
Masaran aja gitu, biar siapa tahu kita bisa lihat kan.
Ada browser- browser menarik.
Mas Riza favorite apa, mas Baika favorite-nya apa?
Apa ya?
Kalau saya sebenarnya ini, agak mixed feelings ya sebenarnya.
Kalau untuk browsing sehari-hari, beberapa waktu yang lalu safari sih, safari.
Karena ya terbukti paling cepat.
Oh, kalau buat Mac ya Mark safari.
Banyak isu apa namanya, privacy kan, oleh si Apple-nya ini kan, banyak yang komplain gitu.
Jadi, ya disayangkan aja.
Tapi kalau untuk kerja, untuk bikin web dan lain-lain ya tetap Chrome sih.
Karena Chrome DevTool-nya itu sangat membantu.
Kalau aku pribadi, kalau penggunaan pribadi maksudnya browsing doang, kombinasi Firefox sama Chrome.
Kalau buat nge-develop, ya tiga-tiganya sih, nggak tahu kenapa kurang suka safari sih.
Walaupun pakai Mac.
Harus testing, harus testing ya kan.
Ya, keunggulan produknya si Apple kan itu seamless kan.
Jadi, kalau misalkan kita pakai handphone-nya Apple juga, kita bisa kayak, bahkan kayak OTP itu udah otomatis.
Dia bisa baca mesej di handphone kita, terus dia bisa kasih suggest bahwa OTP-nya segini tinggal kita klik.
Nggak perlu apa, nggak perlu ngetik, nggak perlu apa, copy-paste, langsung diklik aja di situ-nya udah bisa gitu.
Terus misalkan kita lagi browsing di handphone, terus kita mau push ke desktop juga.
Oh, open in.
Iya, jadi lebih ini, apa, lebih seamless aja.
Dan itu Chrome Android juga gitu, ke Chrome laptop apapun.
Iya, cuman kan problemnya adalah, tadi ngomong apa ya, lupa.
Safari.
Ya, safari itu adalah salah satu yang JavaScript engine-nya paling cepat.
Nanti kita akan bahas ya tentang engine-engine itu ya.
Nggak ada yang kayak saya ya, pakai Opera ya?
Opera, oh iya, kalau Yvonne, Opera ya.
Udah nggak.
Tapi sayangnya sekarang Opera udah pakai engine-nya.
Iya, sudah bukan engine game dulu lagi, udah ganti ke Romeo.
Terus dari Opera kan ada ini juga kan, oh iya, kita ngomongin ini aja kali ya.
Kita langsung ngomongin sejarahnya kali ya.
Nanti ada, apa namanya, ada...
Vivaldi apa ya?
Opera, Vivaldi, dan lain-lain gitu kan.
Terunannya Opera.
Terunannya Opera.
Coba kita lihat sejarahnya.
Kita lihat di sini.
Nah, kita mulai dari awal 90-an aja, yang pertama kali world wide web-nya muncul.
Fotonya jadul banget itu.
Iya, oleh Tim Berners-Lee.
Dan yang menariknya adalah pertama kali apa, first web browser itu dikembangkan untuk next computer.
Dibikin, dibikin sama Tim Berners-Lee itu.
Yang punya next computer ini pada saat itu...
Terus nama browsernya world wide web, ternyata lucu juga.
World wide web, iya.
Nah, dari situ baru kemudian apa namanya, berperang nih.
Nah, akhir 90-an perang tuh antara Microsoft sama Netscape.
Perangnya bukan cuman rebutan lahan browser mana yang paling menarik dan paling banyak dipakai.
Tapi juga perang bahasa.
Karena kan yang bawa JavaScript adalah Netscape kan.
Yang bikin siapa? Brandon Ake kan.
Yang sekarang bikin browser juga dia.
Brave ya, brave.
Ya, brave.
Dulu JavaScript dibikin in house ya, in house di Netscape kan.
Makanya kita dulu pernah bahas kan ya, itu ECMAScript bukan JavaScript.
Karena dulu JavaScript masih di trademark Netscape.
Betul.
Jadi si Netscape menjalankan script-script sederhana menggunakan JavaScript buatan dia sendiri.
Microsoft kamu kalah, dia keluarin juga.
Eh, apa sih Jscript ya?
Kalau gak salah Jscript atau Jscript.
Namanya maksa gitu Jscript lah.
Jscript ya, Jscript.
Tapi itu sebenarnya fork dari source code yang sebelumnya sebetulnya common ya.
Sama kaya, mirip.
Jadi sebagian besar mirip kaya JavaScript.
Tapi ya dibedain dikit.
Itu lebih annoying gak sih?
Jadi developer developnya juga susah kan.
Betul.
Dan prosesnya adalah si Netscape dan Microsoft ini kayaknya gratis tapi tidak open source.
Karena dulu bawaan Windows.
Bawaan Internet Explorer kan. Tapi kan gak open source kan.
Nah, si Netscape ini juga mungkin dia ada bisnis di belakangnya.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk melakukan open source untuk produknya.
Akhirnya dia buat lah Mozilla. Mozilla Foundation ya kalau gak salah ya.
Sebelum si Netscape-nya sendiri dibeli itu.
Dibeli kan sama American Online.
- Jadi kayak apa? Kan itu banyak divisinya gitu. Ada yang for profit, ada yang kaya organisasi lah, kaya non-profit.
Nah non-profit-nya itu diwarisin kaya dipindahin ke Mozilla biar gak conflict of interest.
Sementara yang divisi yang kaya bisnisnya for profit yaudah kaya merger, kaya dibeli sama AOL.
- Betul.
Akhirnya di tahun 2000-an, 2002, FireFox dikembangkan berdasarkan si Netscape tadi.
Dari source code-nya Netscape mungkin dimodifikasi atau gimana akhirnya jadilah FireFox.
Dan itu cukup rame ya FireFox ya. Pada saat itu kan karena belum ada pesaingnya.
Pesaingnya kan Internet Explorer ya.
- Ini dulu modern banget ya. Kayaknya break through banget pada masanya.
- 90-an kayaknya di Indonesia paling banyak FireFox rata-rata kalau di internet cafe gitu.
- IE lah. Dulu masih IE. Cuma dulu yang kerennya yang kalau orang yang techie kayaknya ngerti teknologi pakenya FireFox.
Terus ini sih ada trivia menarik. Nggak penting sisa apa, warisan kejayaannya Netscape dulu di browser apapun.
Kalau kita buka DevTools, coba deh buka DevTools Console.
Kalau kita ketik navigator, itu pasti masih ada itunya, nama apa?
AppCodeName sama app name-nya itu masih Netscape.
Coba deh ketik navigator.
Enter. Nah kan itu navigator objek tuh.
AppCodeName-nya adalah Mozilla, app name-nya adalah Netscape.
Padahal ini browser apa nih? - Edge, Microsoft Edge.
- Padahal itu Edge Microsoft yang sama sekali bukan pakai produk Mozilla ataupun Netscape.
Jadi itu kalau sisa kejayaan mereka dulu masih ada jejaknya sampai sekarang.
Dan sampai sekarang kalau kita pakai sistem operasi Windows, pasti bawaannya adalah browser-nya Internet Explorer kan.
Dan itu sempat jadi kasus juga. Karena itu ada kasus, nggak tahu siapa yang ini siapa.
Tapi yang jelas ada yang menganggap bahwa yang dilakukan Microsoft itu adalah Monopoly.
- Monopoly. - Sempat kasus juga, saya nggak tahu akhirnya seperti apa.
Tapi yang jelas setiap orang install Windows pasti sudah keinstall Internet Explorer.
Meskipun kadang-kadang Internet Explorer-nya hanya untuk men-download.
- Men-download browser lain. - Ataupun Chrome ya.
Tapi kiblat itu sedikit berubah ya sekarang ya.
Tapi kita lanjut dulu. Abis itu, abis dari Firefox muncul juga Internet Explorer tetap dikembangkan.
Terus ada Safari dari Mac OS. Padahal sebenarnya Mac OS pun juga melakukan hal yang sama kan.
Dia masukin Safari ke OS-nya.
Opera muncul di 1996. Dan pertama kali muncul yang populer justru di handheld.
Di game. Nintendo DS, Wii dan lain-lain ya.
- Dia banyak di mobile ya. Opera Mini. - Opera Mini itu dulu sempat hype banget.
- Di handheld ya. - Enggak, sekitar 5-6 tahun lalu.
Pas pertama kali gue jadi developer itu browser mobile yang paling ngetren itu terkutuk lah.
- Opera Mini. - Opera Mini sama UC Browser.
- UC Browser. - Bukan terkutuk sih.
Jadi Opera Mini itu kan pakai Presto. Yang dulu tuh gimmicknya adalah cepat dan hemat data.
Karena dulu kan mungkin 5-7 tahun lalu kan kayak data belum se murah sekarang ya.
Mungkin masih. Terus apa kekuatan HP orang belum se kuat sekarang juga.
Jadi ini lucu sih. Kalau dipikir sekarang lucu. Cuma kalau dulunya beli pas harus develop.
Jadi mereka punya server sendiri. Jadi kalau misalnya kita bikin website client-side atau apalah.
Yang pakai React dan semacamnya. Itu kan harusnya namanya client-side ya dirender di browser.
Tapi ini enggak jadi opera. Itu kayak ada server di tengah-tengah yang dia ngerender sendiri jadi HTML.
Nah, terus dikirim sebagai static ke HP user. Yang mana itu jadi lebih enteng kan.
- Karena browser-nya jadi... - Kayak proxy ya.
Proxy server. Ya, jadi kayak... Nah, mereka pakai bahasa sendiri.
Masih ingat namanya OBML apa. Opera Browser Markup Language atau semacamnya.
Nah, cuma dia nge-parsingnya ya, ya suka-suka dia lah.
Jadi kalau pakai React itu, apa, beneran harus nge-customize banget.
Sampai ke feature-feature-nya mana yang si proxy-nya opera itu support.
Ada yang support, ada yang nggak. Jadi harus nge-check satu-satu mana yang harus dipolyfill.
Dan itu nggak berdasarkan standar apapun. Ya, suka-suka dia aja udah.
Cuma kan kalau dari sisi end user itu jadi jelas lebih cepat.
Karena si browser-nya kan main thread-nya nggak kerja kan. Udah terima email render aja.
Nah, terus lebih ringan karena mungkin di strip image-nya di kompres atau bisa tanpa image sama sekali.
Terus juga kayaknya sempat masalah karena masalah privacy gitu sih di-inject iklan macem-macem.
Terus kalau UC Browser sama UC Mini itu biasanya iklannya aneh-aneh lah.
Antara pinjol sama yang kayak fullger, clickbait fullger semua gitu.
Itu sempatnya trend banget 5 tahun lalu. 5 sampai 7 tahun lalu.
Game stack yang sekarang yang render static saat itu mungkin terinspirasi dari opera mini kali.
Mungkin kayaknya, kayak Stadia gitu.
Ya, kita kan udah ngomongin apa Windows dengan IE.
Kemudian ada Firefox yang lebih umum ya, bisa dipakai di berbagai platform.
Terus ada Apple dengan Safari-nya. Nah, di Linux juga ada namanya Lynx Browser.
Nah, ini dia terminal-based. Jadi misalkan link www.google.com.
Nah, itu tampilannya ya terminal.
Eh, itu masih di-maintain loh. Kata-kata coba over tadi.
Jadi August Browser tertua yang masih di-maintain.
Sejak '92 sampai 2022 bayangin deh. Browser 30 tahun di-maintain.
Berarti itu maintainernya udah regenerasi kali ya.
Dari generasi bapaknya, ibunya, sampai anak-anaknya sekarang.
Tapi kan dia gak punya rendering engine yang aneh. Jadi dia gak perlu...
Dia pake rendering engine apa ya? Pake JS engine? Dia gak bisa jalan JS.
Dia cuma parsing aja.
Dia cuma parsing text aja.
Parsing aja ya? Iya.
Dia cuma milih mana yang text dan mana yang harus diprint.
Ya, gak sederhana. Cuma kan tugasnya cuma pilih mana text.
Untuk meet yang lain dan broser yang sekarang.
Iya, betul.
Ok, mari kita lihat landscape-nya ya.
Jadi dari '90 tadi kita udah bahas tentang WWW yang di awal.
WWW-nya Pak Tim.
Kemudian di '98 baru muncul Mozilla kan.
Internet Explorer di sini. Di '95 justru.
Ehh, Netscape dulu. Ehh, Netscape dari Mosaik ya.
Ehh, Mosaik. Nah, Mosaik itu juga breakthrough.
Mosaik itu yang pertama bisa ngerender image dan text dokumen sekaligus ya.
Jadi Mosaik formatnya kayak kita sekarang.
Kalo dulu sebelumnya kan kayak file system ya.
Kayak file system ya. Kalo buka dokumen ya dokumen.
Kalo buka image ya image.
Nah, yang bentuknya kayak udah makin GUI modern tuh.
Mosaik pertama kali '93 apa ya kalo gak salah.
Yes, '90an gitu. '95 baru Netscape ya.
Baru berevolusi jadi Netscape.
Ya, Internet Explorer di tahun '95an.
Dan menariknya Internet Explorer juga multi platform ya.
Ada buat Mac, ada buat Internet Explorer Mini.
Ternyata ada banyak ya.
Karena kan si Windows juga ada Windows Mobile kan.
Ya, Windows Mobile. Yang kagal itu.
Itu yang terkenal tetap Opera Mini ya pada saat itu ya.
Terus abis itu dilanjutkan, si Netscape ini dilanjutkan oleh Mozilla.
Di tahun '98 tadi seperti cerita kita tadi.
Yang itu merah ya, area di highlight merah.
Ini adalah si Mozilla, teritorinya Mozilla nih.
Ada banyak nih sebenernya.
Ada Chameleon, Netscape juga masih ada di jalan ya.
Sampai dia, sampai 2007 tuh masih ada Netscape Navigator.
Ada Cimpony, ada VLOG juga, Epiphany nih yang buat Linux kalau nggak salah ya.
Nah, yang menarik lagi adalah yang di sini nih.
Jadi di tahun 2000 itu, setelah Terminal Base banyakan,
tiba-tiba Linux muncul dengan Conqueror, KHTML.
Yang menjadi cikal bakal webkit.
Oh, wow, seru ya.
Iya, itu dari Linux.
Salah satu kontributornya adalah Mas Arya Hidayat.
Oh, mantap. Kayak dinasti-dinastian.
Akhirnya bikin dia Phantom.js kan.
Itu dari, basenya dari KHTML.
Abis dari webkit, kemudian di-fork oleh tim Chrome, akhirnya jadilah Google Chrome.
Sepertinya Safari dan Chrome itu nenek moyang sama, webkit.
Cuma sekarang udah beda banget.
Berarti yang beda kakek nenek cuma FireFox ya sekarang ya?
FireFox, ya. Cuma FireFox sama Opera sebenarnya.
Tapi Opera sudah bergabung.
Opera sudah bergabung.
Udah jadi anak angkat ya.
Jadi dari webkit, dari KHTML kemudian jadi webkit, webkit bikin Safari, dipakai oleh Safari, sorry.
Kemudian Blink dipakai oleh Chromium ya.
Chromium, Chrome.
Itu adalah versi open source dari Google Chrome.
Nah itu ntar bisa dibahas juga tuh.
Nanti kita bahas ya.
Lalu, apa lagi yang menarik ya di sini ya?
Kalau ditarik ke sekarang, berarti ya itu keluarganya cuma merah, ijo, merah sama ijo ya?
Merah itu keluarga besar Mozilla, ijo itu tadi webkit sama Chromium.
Oh iya benar-benar.
Ada Midori juga nih, pernah nyoba nih kayaknya.
Apa itu?
Midori.
Ya, ini opera yang merah sampai akhirnya dia, kok nggak ada berhentinya, oh di sini ya berhentinya ya.
Di tahun berapa tuh?
2016.
Dan kemudian ada Vivaldi, ada beberapa lagi yang lain ya yang based on opera.
Yang sekarang akhirnya menjadi Chromium based juga.
Udah masuk keluarga Chromium.
Chromium based jadi, jadi apa, mendominasi ya, sangat mendominasi.
Masuk keluarga ijo ya berarti?
Masih keluarga ijo.
Betul.
Itu sekilas tentang browser.
Perlu kasih tahu apa sih maksudnya browser tuh teman-teman.
Maksudnya yang di sini kalau yang kita masuk browser itu adalah bagian rendering engine-nya.
Oh iya, komponen-komponen browser apa aja, mungkin bisa dijelasin.
Apa aja nih?
Ya itu, satu browser terdiri tadi, rendering engine, ada JavaScript engine.
Ya udah, dua itu.
Major engine-nya kan, ya browser itu kan satu paket ya, satu bungkusan.
Kayak misalnya kita download Google Chrome.
Nah itu sebungkus, ada UI-nya sendiri kan, ada UI yang buat kita interaksi.
Ya itu yang luaran lah.
Ada tombol back, ada tombol home, blablabla gitu ya.
Tombol-tombol segala macam.
Nah terus kan sebenarnya engine-nya utamanya kan cuma dua kan.
Satu yang namanya browser engine, atau sering disebut juga layout engine, rendering engine.
Nah ini intinya lah.
Sama satu lagi bagian major lagi kan, JavaScript engine.
Yang kita dulu pernah bahas.
Nah semua browser, misalnya Google Chrome, Mozilla Firefox, Safari.
Nah itu semua harus ada komponen-komponen itu.
Kalau Dinosaurus-nya, kok bagian mana tuh?
Nah itu feature tambahan kan.
Dan menarik juga tuh membahas tentang JavaScript engine, karena masing-masing kan punya,
ya seperti yang kita bahas di ECMAScript ya.
Jadi ECMAScript itu adalah spesifikasi, implementasinya bebas, masing-masing browser.
Ternyata punya implementasi JavaScript masing-masing kan.
Dulu di episode berapa ya, kita pernah bahas.
Itu kayaknya layout engine-nya deh, bukan.
Oh layout engine-nya.
Spider Monkey.
Bukan JavaScript engine kan?
JavaScript engine.
Oh iya benar, Spider Monkey itu javascript engine.
Javascript engine-nya.
Si Firefox.
Kalau Safari itu punya, jadi Safari kan monopoli ya.
Maksudnya dia nggak harus mikirin perusahaan lain atau organisasi lain.
Jadi sebetulnya di WebKit itu dia punya built-in JavaScript engine-nya namanya JavaScript Core.
Jadi untuk rendering engine-nya kalau nggak salah namanya WebCore atau semacamnya deh lupa.
Okay bentar.
Private chat.
Oh yang ada di hit ya?
Gak, gue kasih di private chat.
Ya bentar, bentar, bentar.
Kan ada di dokumen juga kan?
Oh ada ya?
Oh ada, ada, ada.
Iya kan?
Browser engine.
Ini browser engine.
Browser engine adalah rendering engine, oke.
Ada timeline-nya biar bisa kita lihat.
Jadi sekarang itu apa aja sih yang ada?
Gekko, Trident itu punyanya.
Gekko tuh punyanya, Mozilla.
Microsoft.
Oh ya Gekko, Mozilla, Trident, Microsoft.
Mozilla.
Trident, Microsoft.
KHTML yang tadi ya WebKit ya.
Ini sama nih tiga-tiga nih sebenarnya.
KHTML itu KHTML sendiri rendering engine.
Default jadi WebKit.
Dan default lagi jadi Blink.
Yes.
Tapi KHTML sudah berhenti.
Tahun 2000.
Nah itu coba di scroll sampe 2022.
Scroll.
2016-2017.
Nah sisanya tinggal tiga.
Semua sekarang tinggal tiga.
Mau JavaScript, mau layout, apa?
Mau browser engine.
Paling atas Merah Gekko
dipake apa?
Firefox.
Terus yang kedua dari bawah WebKit.
Dipake Safari.
Blink dipake Chromium.
Iya Chromium.
Tapi masih ada Presto.
Ada sih Opera Mini masih hidup sih.
Masih, masih ada yang pakai.
Gak dianggep.
Sama editor Wikipedia-nya udah gak dianggep lagi.
Kalau dibuka di Can I use itu masih ada deh.
Di situ tuh.
Suka-suka yang collect dataset.
Nah mungkin agak scroll atas sedikit.
Ada bullet point yang
bisa buat
liat daftar-daftar.
Manager Engine.
Notable Engine.
Ya Notable Engine.
Ini kan dari KDE.
WebKit itu dari KDE kan.
Forkingnya dari KTML.
Terus yang Google kan
menggunakan WebKit.
Kemudian dijadikan Blink.
Jadi Chrome.
Dulu awal-awal ingat banget waktu Chrome muncul itu
pertama kali jualannya adalah
masing-masing tab punya proses
sendiri. Kalo Firefox
kan satu browser, dia satu
proses gede.
Kalau crass, bisa turis semua.
Ya.
Kalo Chrome, yang dijual adalah dia
istilahnya
multi-tasking.
Jadi satu tab itu punya
lifecycle sendiri. Kalo misalkan
satu tab itu not responsive.
Not responding.
Bisa di close.
Yang lainnya tidak terganggu.
Itu yang jualannya itu yang pakai
komik itu kan waktu dulu.
Iya betul. Masih ingat banget.
Itu presentasinya.
Tapi temen-temen coba nanti
jawab di kolom komentar.
Pernah gak punya
pengalaman, sudah capek-capek
nulis email atau nulis
di form gitu ya. Tiba-tiba
ternyata freeze. Browsernya
not responding.
Dulu tuh kalo
IE sering control out there ya kan.
Sekarang yang jadi
konsiderasi kita milih browser
selain
kalo misalkan kita develop web, ya pasti
DevTools-nya. Yang sebenernya
DevTools-nya
Chrome itu agak sedikit tertinggal
dulu di jamannya firebug.
Tapi itu basenya extension ya.
Jadi kita harus install extension namanya firebug.
Kemudian baru
diimplementasi
oleh si firebase untuk
firefox.
Wow, beda banget itu firefox.
Mau pindah ke club ini.
Wow.
Ini kode
kode keras.
Firefox dan firebase ya.
Firefire
semua sih.
Sebenernya firefox lebih dulu.
Karena memang dia muncul lebih dulu kan.
Jadi dia lebih advanced lah gitu.
Dan sebetulnya di beberapa hal
ekosistem DevTools-nya Mozilla itu
emang sampe sekarang juga bagus.
Khususnya apa sih yang kayak CSS gitu
kayak dulu pas grid pertama muncul
yang
bisa bikin
gridline duluan tuh justru Mozilla.
Firefox.
Iya.
Dulu waktu ngikutin ceritanya
si Chrome kan
DevTools-nya kurang. Akhirnya dia
nge-hire orang-orang dari firebug.
Untuk bikin Chrome DevTools.
Akhirnya jadi
sekarang developer-developer banyak
ketergantungan kepada Google Chrome.
Karena salah satunya itu DevTools-nya
sangat membantu ya.
Selain DevTools
yang biasanya menjadi
yang membuat orang enggan
pindah browser adalah extension.
Ah ya karena
teranjur pasang extension banyak
terus males cari-cari yang
equivalent ya.
Cuma ini loh ya.
Di satu browser.
Kayak di firefox itu extension yang
saya suka banget itu container.
Jadi kita bisa login di
eh contohnya aja
login WhatsApp di dua tab
berbeda.
Tapi pakai container.
Itu built-in kan?
Nggak. Itu extension.
Jadi
bisa bedain gitu.
Kalau kita pakai Chrome
gue nggak tahu ya kalau ada extension lainnya.
Anya bisa
login di main
browser utama. Satu lagi
di incognito misalnya.
Incognito aja. Yang simpel.
Tapi incognito
dua. Sessionnya gabung
kalau nggak salah.
Ya. Sessionnya gabung.
Karena incognito
itu satu session sendiri.
Nggak bisa multi incognito.
Kalau pakai
firefox.
Itu satu.
Ada container namanya.
Oke.
Jadi dari Chrome
akhirnya ada Chromium yang open source.
Kalau Chrome itu nggak open source kan?
Chrome
itu nggak open source.
Chromiumnya open source.
Nah mungkin temen-temen juga ada yang
bingung kali ya. Kenapa
ada Chromium, ada Chrome. Jadi Chromium
itu kan sebetulnya udah satu browser
sendiri. Itu udah browser beneran
kan? Jadi
Chromium itu
browser open source.
Itu kalau misalnya mau
di download dan dipakai
juga bisa oleh siapapun.
Mau compile sendiri juga bisa. Kayaknya
episode lalu kita bahas ini ya.
Cuma
Chromium itu
browser Chromium itu
dijadikan basis oleh
beberapa browser. Ya pasti
Chrome. Tapi juga
Microsoft Edge. Terus
Opera,
Vivaldi,
dan lain-lain.
Brave juga
yang bikin
JavaScript,
brand and edge. Yang itu kerja di
Red Netscape. Sekarang dia bikin perusahaan
dan bikin browser.
Jadi Chromium itu
sudah berupa browser.
Lengkap dengan segala engine-nya.
Tadi ada rendering-nya,
ada JavaScript-nya, apapunnya ya. Komplitlah
fungsionalitasnya sudah lengkap.
Yang dijadikan
dasar oleh browser lain.
Di browser
apa? Proprietary
atau closed source masing-masing vendor.
Ya masing-masing vendor
nambahin feature mereka.
Bukan feature sih.
Nambahin analytics,
tracking, dan lain-lain.
Perbandingannya
kalau kayak di Linux, ya
Unix, eh sorry.
Ya ininya sendiri apa namanya
kalau kayak engine-nya
Linux itu?
Kernel, kernel. Kernel-nya
sudah ada itu OSI
dan berbagai
jadi kernel-nya
plus GNU, ya.
Sehingga punya apa, command-command
untuk jadi operating system.
Terus atasnya ada Distro,
mau Ubuntu,
mau
Debian, mau
CentOS, masih ada namanya sih.
Red Hat, segala macam. Itu kan
Distro, ya. Chromium
ini ya rendering
engine-nya, JavaScript
engine-nya, apapun
komponen dasar
untuk jadi browser, Chromium.
Ada semua disitu. Tetapi itu
kosongan.
Bahkan dijadikan
project juga, elektron kan.
Chromium-based kan.
Kita bisa bikin aplikasi desktop,
tapi sebenarnya...
Tapi install, apa?
Ada installernya ya, ada executable-nya.
Tapi dalamnya browser.
Headless dari Chromium.
Oh ya, headless.
Kalau kita install kayak
selenium dan lain-lain juga
dia biasanya... Webdriver ya?
Ya, webdriver, gitu-gitu ya.
Dan yang menariknya dari
Chromium adalah yaitu ekosistemnya ya.
Jadi devtools-nya sudah ada.
Kemudian mungkin lebih mudah
dikustomize. Terus sama
ini compatible dengan
extension yang sudah cukup banyak
di Chromium kan. Jadi bisa dipakai juga.
Karena engine
dasarnya sama.
Jadi behavior-nya
kita bisa hampir
ya 99,9%
lah yakin behavior-nya bakal sama
antara ya browser-browser
browser A dan B
dan C yang pakai
Chromium.
Cara mereka, cara browser-browser itu
nge-parsing suatu kode
atau menjalani suatu web API
itu koding-an under the hood-nya
low-level-nya sama soalnya.
Beda dengan, tapi
bakal beda. Ada kemungkinan beda
dengan ya Mozilla atau
apa? Mozilla Firefox atau
Safari karena koding-annya
beda. Nah, tapi
sekitar 2 minggu lalu
saya ketemu nih, browser
baru nih namanya Orion.
Ini adalah
dia menggunakan webkit.
Oh, baru pernah lihat.
Dia menggunakan webkit
yang mirip seperti
Safari
tapi dia bisa
menggunakan extension dari Firefox
dan juga Google Chrome.
Oh,
sama kayak si Firefox.
Bati. Salah satu apa ya?
Salah satu yang bikin
malas pakai
Safari adalah extension-nya kan.
Gitu kan. Tidak selengkap
yang lain kan. Nah, ini dia
bisa. Dua-duanya.
Ajaibnya gitu. Mana ya? Ada tulisannya ya?
Ada. Gitu kan.
Favorite extension. Support Firefox
and Chrome browser extension natively.
- Oh, nice.
- Gitu.
Sama kayak si Opera juga. Bati.
Dia, Opera juga punya kompatibilitas
kayak gitu. Tapi
harus install extension lain.
Jadi bisa install juga.
Nice, nice.
Cuman lucunya, Orion browser ini
URL-nya, browser.kagi.com.
Kagi.com itu adalah
search engine yang
belaian. Ya.
Yang freemium. - Ya, tetap ada
udang di balik 1 lah. - Ada udang di balik 2
juga ternyata. Gitu kan.
- Ya, namanya. Ini kalau ini udah masuk
ranah industri sih ya. Namanya industri
Mozilla, Apple,
Google, Microsoft, ya semua
pasti punya apa? Bisnis objektif
sendiri ya. - Ada juga
yang udah agak lebih
lama daripada Orion ini.
Yang basisnya Chromium juga yang cukup
modelnya adalah Arc browser.
Kalau teman-teman tahu.
- Arc itu invite only, kalau nggak
salah ya. - Invite only.
- Semi-premium.
- Iya. Saya masih punya 5 loh.
Belum dibagi-bagi.
- Itu menariknya apa?
- Keunggulannya apa sih?
- Keunggulannya adalah ini, dia
mengganti layout-nya.
Jadi menurut dia, apa namanya,
kan kita biasanya buka
tab kan banyak kan. Dan yang
paling dia tekankan adalah dia
tab-nya itu di sebelah kiri, bukan di atas.
Padahal sebenarnya di add
juga bisa gitu sebenarnya.
Cuman ini dia menganggap
si tombol-tombol,
eh tombol, si tab-tab ini adalah
todulis kita, ceritanya.
Jadi kalau misalkan
kan sekarang apa-apa kerjanya di browser
kan, mau buka Google Docs, mau todulis,
mau nonton video
gitu ya, tutorial, dan lain-lain semuanya
di tab kan. Jadi dia
menganggap tab itu adalah sebagi todulis kita.
Jadi daftar perjalanan kita ada di sana.
- Buset, berarti gue
todulis gue bisa ratusan ini.
- Karena gue budget banget tab-nya.
- Oh itu ada ininya,
tab-nya juga bisa diituin lagi,
di kategorisasi berdasarkan
ini kerjaan, ini mainan,
ini apa gitu.
- Workspace bahasanya kalau di...
- Workspace bahasanya, iya.
- Ini Firefox sama Chrome juga ada deh.
Mungkin extension kali ya.
- Extension, iya.
Ya pokoknya ini lah,
gimmick-nya gitu lah ya, gimmick-nya gitu.
- Sama itu kayaknya kalau dari landing page-nya
artistik gitu kali ya, kalau yang
creative types mungkin
senang, desainnya paling bagus,
paling fancy.
- Dan apa ya, saya coba
beberapa minggu kayak tidak
merasa ada perubahan yang signifikan.
- Engine-nya apa?
- Engine-nya Chromium.
- Chromium juga.
Berarti intinya cuma
pindah tab doang.
- Kalau kita mau tahu
browser kita engine-nya apa,
pakai comment apa sih?
Navigator tadi ya?
- Enggak, itu nggak, maksudnya nggak manjur.
Comment-nya nggak...
nggak ngeretor nama engine-nya.
- Engine-nya versi berapa,
gitu, dari itu.
Ada nggak sih comment-nya?
- Ada.
- Tapi kalau di Opera,
harus lihat dari about-nya.
- Nah ini juga ini dia.
Ini web browser,
if there's a frame
some buttons and toolbar,
it's our window everything on the internet,
cuman ini terlalu clutter,
terlalu distracting.
- Itu masalah isi.
- Iya.
Tujuannya mereka bikin art browser ini
adalah untuk supaya bisa lebih fokus
dan lebih terorganisasi.
Jadi mereka nggak ada sistem
kayak bookmark dan lain-lain
yang setelah kita bookmark,
biasanya kita tinggalin, udah lupa.
- Kita nggak book lagi karena sulit nyarinya.
- Iya. Jadi tujuannya itu.
Entah sekarang tercapai atau nggak,
saya nggak tahu kalau...
belum dapet.
- Itu gemiknya dia.
- Mereka ingin melakukan itu.
- Tapi itu menarik sih, kan?
Tadi kita bahas sekilas tuh,
browser selain komponen utamanya
emang engine-nya kan,
yang pasti nomor satu layout engine
sama JavaScript engine.
Di luar itu ada hal-hal kayak UI
yang itu kayak kulitnya
gimana user berinteraksi.
Berarti kan si Arc itu fokus di...
justru fokus di komponen ketiga itu, kan?
- Iya.
- Bagian UI-nya kayak nggak bisa
ngebookmark, terus ketapnya
taruh samping, jadi kalau
soal rendering, layout,
engine, parsing, segala macam,
sama aja kayak Chrome, kayak Edge, kan?
- Anggap aja kalau browser itu
Chromium itu kan...
dulu kan sebutnya namanya Chromium OS, kan ya?
Chromium Operating System.
Browser itu sebagai operating system.
Dan di atasnya ada aplikasi-aplikasi, kan ya?
Contohnya,
banyak kan tuh aplikasinya untuk
melindungi privacy,
aplikasi...
Edge blocker, aplikasi...
Ada sekarang browser tuh
udah dibanding dengan VPN.
Ada browser yang dibanding dengan...
- Ada yang wallet juga,
web-free. - Wallet.
Ada kayak workspace, workspace ini kayak gini,
kayak mengkategorikan tab,
connect ke chat,
kayak telegram, whatsapp,
atau otomatis Twitter,
blablabla. Ada yang bisa
connect juga ke handphone, misalnya
kayak sesama
Firefox di mobile, sama
Firefox di...
di... - Di desktop.
- Desktop, bookmark-nya
bisa synchronize, ya kan?
Ada macem-macem.
- Terus Mozilla nih baru
menunjukan tahun depan, 2023,
kan sekarang mulai lagi aktif,
apa? Fediverse kan tuh, Mastodon,
nah Mozilla bakal explore itu
tahun depan, jadi misalnya
bisa ada build-in,
apa? Pakai standarnya activity pub
kan itu, jadi kayak mungkin semacam
RSS reader kali ya.
Vivaldi kalau nggak salah juga mau
explore ke area itu.
- Nah, ngomongin apa?
Tadi kenapa saya lebih
favoritin Safari,
gitu kan? Tadi saya sempat bilang
engine JavaScript-nya
kan salah satu yang tercepat ya,
si JavaScript core ini kan,
ya dibandingkan V8 yang
punya Chrome, namanya V8
bener kan? Bukan Blink kan?
- V8. - V8, ya betul.
Ya, yang akhirnya
diambil sama
Rian Dal, dijadikan server
kan, ditaro di server gitu,
jadi bisa dijalankan di server kan, akhirnya jadi
Node.js kan. Itu kan cerita awalnya
kan. Nah, sebenarnya
ini kayaknya Microsoft lumayan ini ya,
lumayan visioner ya. Sebenarnya
sebelum ada ini,
saya cerita ini dulu deh,
Boon. Boon ini,
dia bisa cepet kan, cepetnya bisa berapa kali
lipat kan. Karena dia pakai JavaScript core
ternyata. - Oh,
nice. - Bukan pakai V8,
dia pakai JavaScript core.
Ada tulisannya itu.
- Itu beda
sama Node dan Denum.
- Iya.
Ini,
level of performance extending
JavaScript core to engine. Jadi dia
tidak menggunakan V8 seperti halnya
apa, Node.js,
dia pakai JavaScript core-nya si
WebKit, gitu.
Makanya, mungkin bisa
jauh lebih cepat daripada Denum dan juga Node.js.
Dan
sebelum
Boon.js ini bikin untuk
ekuvalentnya untuk
Node, sebenarnya
Microsoft sempat bikin.
Namanya Cakra.
- Oh iya, Cakra.
- Jadi Node.js bisa dibuat dengan
Cakra core dengan
minus-minus something, engine-nya jadi Cakra,
gitu.
Sebelum
Microsoft Edge
berpindah engine.
Dulu dia bikin engine sendiri namanya
engine-nya Cakra.
Sebelum dia
memutuskan untuk pindah
menggunakan Chrome
atau Chromium-based, gitu.
Sekarang berarti
udah nggak ada itu si Cakra-nya.
- Cakra-nya.
- Udah selamat tinggal karena udah nggak dipakai lagi kan
si Edge-nya kan udah pakai
Chromium-based yang adalah V8,
gitu.
- Nah berarti JavaScript core itu
emang beneran cepat ya. Selama ini gue asumsinya
adalah JavaScript core itu cepat
karena dia jalan di
device-nya Apple, kan, yang mana
apa? - AN.
- Bisa difine-tune lah. Bisa
tweaking juga kan. Bisa disesuaikan
segala macem apa. Low-level-nya
misalnya kalau coding-nya pakai C++ ya
disesuaikan sama cara kerja
device-nya sendiri, kan.
- Betul. Betul. Tapi itu ada
ada poin
benarnya juga. Karena beberapa
temen ya nggak tahu ini nggak dibensmark
secara ini ya,
secara ilmiah, gitu ya. Tapi ada
yang merasa bahwa menjalankan
Edge
di Windows itu lebih cepat daripada
menjalankan Chrome. Padahal sama-sama Chromium-based.
Karena mungkin ada optimasi sendiri
di Microsoft Windows-nya. Mungkin ya.
- Atau salah satu di Throttle.
- Jahat.
Cuma kalau ngomong
jahat. - Nggak punya bukti.
- Kalau ngomongin
protek yang kayak gitu, paling
malesin itu di iOS.
Di iOS adalah satu-satunya
kelompok OS
di mana semua browser
yang di-download dari
Play Store iOS, harus
pakai WebKit.
- Iya. Itu yang sangat
disayangkan. - Cukup aneh.
Lagi-lagi itu kan
bisnis. Cuma buat kita developer
itu aneh banget. Jadi
yang semua kita bahas tadi itu
mau Chromium, mau
Firefox, mau Chrome, mau Edge.
Kalau udah dari
Play Store iOS,
itu semua engine-nya
WebKit. - WebKit.
Jadi ada peraturan dari Apple
yang menyatakan bahwa, kalau
developer-developer ini mau bikin
produk yang adalah
pesaingnya
Safari, yang adalah web browser,
itu harus menggunakan WebKit.
Jadi, apa yang teman-teman download
di App Store, baik itu Chrome,
Firefox dan lain-lain, itu cuma skin doang.
Safari pakai kostum Chrome,
Safari pakai kostum
Firefox. - Jadi,
saya ada cerita yang agak lucu.
Jadi, ngomong sama klien,
dia pakai iOS gitu ya.
"Ini, kalau
saya pakai test di Chrome,
itu bagus kok, tapi kenapa
kalau di Safari rusak?"
Oke, karena dia klien,
ya, iya.
Dalam hati, itu kan
sama ya.
Banyak yang gue tahu juga, ternyata,
gitu, pas
saya sempat ngomong beberapa kali
di beberapa tempat, banyak yang
"Oh iya, iya."
Karena emang sengaja dibuat kayak
skin-nya memang benar-benar mirip Google Chrome,
mirip Firefox, gitu ya.
Look and feel-nya mirip ya, walaupun sebenarnya
hanya skin aja. - Ya, dan ada feature
tambahan sih, maksudnya kayak kalau kita
pakai Chrome atau Firefox kan, ada
apa sih, kayak account organizer-nya itu
kita login pakai
akun Chrome kita atau akun Firefox
yang bisa nge-sync bookmark
dan lain-lain punya yang
misalnya ada password manager-nya.
Keuntungannya, satu-satunya
keuntungannya adalah kita tetap
bisa pakai itu. Cuma kalau dari segi
engine, apa, layout, rendering,
parsing, JavaScript, ya itu
Monopoly, iOS udah semua.
Monopoly, iOS.
- Oke. Nah tadi...
- Kena kegocek juga deh, ada cerita
juga. Ini cerita gak enak sih. Apa?
Beda sama ceritanya iPhone. Ini malasin.
Jadi dulu
ada kurun
waktu berapa bulan kan, sejak
CSS Grid di-release,
semua engine udah mengadopsi
CSS Grid kecuali
WebKit. Jadi itu ada kurun
waktu ya sekitar 2-3 bulan lah, kalau gak
salah. Nah, udah nge-develop,
nge-check di...
nge-check di iPhone-nya,
nge-check di laptop doang.
Nge-check di Safari di laptop,
pas itu CSS Grid udah
bisa juga. Cuma
pake emulatornya Safari.
Apa? Emulator
Safari di desktop,
di macOS. Jadi bukan
pake device iOS beneran.
Dicekan, lancar semua. Pas
buka di iOS, ya udah.
Uber semua. Grid-nya
gak jalan semua. - Gak jalan.
Pake browser stack.
Pake browser stack.
Terbagar itu.
Moralnya mungkin buat temen-temen,
dengan apa, walaupun
kelihatannya simple, pastiin,
check di emulator yang
engine-nya sesuai.
Safari itu ada di Windows gak sih?
Emulator di satu tempat.
Safari ada di mana?
Windows.
Ada, ada, ada. Safari ada di Windows?
Ada, ada.
Bisa di Insta. Safari
for Windows. - Oh iya, bener, bener, bener.
Ada. Jadi kalo misalkan
kalo di Linux yang gak ada ya.
Jadi harus pilih ya, antara punya
Macbook atau punya Windows,
OS ya.
- Atau itu tadi kalo browser stack
kan dia ngejalanin kayak virtual.
Dia nge-booting ya. Booting
virtual, virtual OS lah.
Semacam. - Biasanya
kalo sudah install
orang yang saya kenal ya
di sekitar saya, kalo memang dia sudah installnya
dan sehari-harinya pakai Linux
base, itu gak jauh-jauh
dia bakal ke Firefox.
Kayak sudah punya
base-nya.
Gitu gak.
Jadi spiritnya mungkin juga
orientasinya kayak satu
arah ya, sepaket.
- Iya. Dia udah bakal pakai
Linux, pakai Firefox,
dan gak mau pakai Google.
Kayak langsung pakai,
bukan Google search engine lagi, udah pakai
DuckDuckGo misalnya. - DuckDuckGo.
Oke. - Memang.
Nah, tadi kan sempat ngomongin DevTools kan.
Biasanya kan kita pakai Chrome atau
Firefox untuk kerja.
Pertanyaannya sekarang, apakah
ada browser yang khusus
digunakan untuk pekerjaan sehari-hari?
Sebetulnya gak. Kalo pribadi gak.
Yaitu browser Chrome sama Firefox
doang. Cuma kalo yang
direkomendasian mungkin itu tadi itu
link-nya Ivan.
Ada Polypaint sama
CZ. Itu
kalo Blisk malah belum pernah liat.
- Itu berbayar ya.
Jadi... - Berbayar ini ya?
Berbayar, tapi emang optimis banget
buat development. - Kalo misalnya dibantu
sama atau disponsori
sama kantor, kalo memang mau
minta sama sponsor,
karena ini sangat membantu sekali untuk
design, accessibility,
dan tools-tools lainnya
khusus kayak untuk kita
membantu kita
untuk mempercepat workflow.
Contohnya Polypaint. - Jadi ini sebenernya
Chromium-based. Sebenernya Chromium-based kan ya?
- Iya. Cuma ini emulator
aja ya.
Woi, woi, woi, emulator
device lagi. Woi, ini malah baru nih, saya baru
baca nih. Wow.
Ini malah...
- Oh, kalo yang di Chromium-based kan
emulatnya satu-satu gini ya?
Gini bener kan? - Iya.
- Iya. - Kalo Polypaint ini dia bisa...
- Ya, cape juga kan, drop-down.
Ganti-ganti drop-down. Nah, ini bisa
banyak view sekaligus.
- Ini saya baru tau nih kalo dia sudah emulat
real device. Sebelumnya saya gak tau.
Ternyata sekarang sudah...
- Sama kayak ada preset-nya kan, kayak buat
customize, misalnya kayak network
connection, terus apa?
Kayak highlight kalo... kan
sebenernya di Chrome DevTools pun udah ada ya
kontras rasio itu loh
buat aksesibilitas. Kalo misalnya
rasio nya kurang, bisa. Tapi kan susah nyari
yang ngeklik-ngekliknya.
- Kalo ini kayaknya untuk accessibility
testing, saya suka pake
Edge, karena dia sangat
ini banget. Ada
extensionnya tuh, ada extension.
Ada extensionnya tuh untuk ngetest accessibility
khusus tuh dari Edge.
- Microsoft Edge?
- Iya.
Apa ya namanya, sebentar ya saya cari.
Saya pernah install.
Begitu saya buka Microsoft Edge, langsung
bukanya parallel. Nanti aja lah.
Malah nyala, malah nyala Windows 10-nya.
Abis deh gue punya.
- Media preview. - Memory.
- CG juga sama ya?
- Sama. Ini ketiganya
sama.
Satu lagi juga saya dengan competitive
jadi pilih aja salah satu.
- Jadi problem yang mau di soft adalah
terutama responsive design.
- Development.
Responsive and tooling.
Ya, itu tooling testing
kayak apalah,
aksesibilitas, terus yang kayak buta warna
kontras warna,
terus dark mode kan,
dark mode, light mode.
- Oh ini, oh wow.
Seru ya.
- Iya. - Sama
kayak buat experimental
feature, itu semua udah
otomatis enable. Jadi kita
gak usah manual.
Enable. Kayak misalnya kita
pengen ngecek apa feature baru tuh
yang page transition. Kan kita harus
kalau Chrome kan, ya
by default karena dipake banyak orang,
kita harus cari-cari
dulu flex-nya, terus enable.
Nah, kalau ini udah otomatis
enable karena orientasinya adalah
buat developer kan.
Jadi ini untuk
developer experience ya.
Free ini.
Free, premium, premium.
- Premium ya. - Premium kayaknya.
Free untuk 14 hari.
- Kita coba
dulu, kalau misalnya trade
kecocok, minta
ngantur bayarin.
- Atau
Mas Riza bisa review di YouTube-nya
nanti kasih tau
siapa tau. - Ya udah kita review nih.
Disponsorin.
- Kenapa kadangnya? Siapa suruh review?
- Temen, saya gak pakai
karena gak, saya bukan
front-end yang apa namanya
goddess crush.
Jadi saya gak pakai. Cuman
temen saya sekantor
pakai dan dia
kayak, dia pakai empoly paint.
Dan dia kayak
berusaha menjual.
Dia bagus, dia sangat
terbantu sekali.
Dan memang jadi lebih cepat
jadinya. Jadi sekali
kerjain kan sudah pakai HMR tuh udah
auto reload semua tuh, eh gak auto reload
atau refresh code-nya
langsung disana ke refresh
semua, wah kayak langsung bisa
liat. - Bisa liat dalam satu layar
gitu ya semua. - Iya, apalagi dia pakai
layarnya yang 4K
yang besar dan 2 layar.
Jadi sudah langsung kayak
code-nya dan langsung liat gitu.
Jadi memang. - Lagi kalau hot reload
pakai feed ya kan? Yang
kita belum masuk. - Iya dia pakai HMR
pakai feed ya kan.
Diprojekin pakai HMR tuh. Nah
hot mode reloaded.
Jadi apa namanya dia
kerjanya cepat. Dan memang dia
front-end goddess crush.
- Oke, oke. - Cocok.
- Cocoknya. - Berarti
tipe-tipe browser yang kayak gini tuh
target marketnya
adalah developer.
- Developer khususnya front-end
yang kerjanya intensif
apa? Intensif harus ngecek
tampilan ya Pixel. - Bukan buat kita
yang sehari-hari yang
apa, cukup kayaknya
browser-browser kayak Chrome gitu
cukup kali ya Firefox ya. - Karena gini
gini juga kan, capek juga lho
kayak ngetes di browser stack
harus satu-satu.
- Hmm, I see.
Ya, ya, ya. Takes time lah ya.
Melakukan hal yang
sama berulang beberapa kali gitu ya.
Dan sulit di-automasi ya.
- Ya, ultimately tetap harus
di tes di device
atau emulator lain kan.
Karena itu tadi engine, kalau engine
nya beda, behavior nya bisa beda.
Tapi minimal ini memecahkan
masalah secara
visual lah. At least secara visual
responsiveness. Misalnya
kita baru nge-develop
markupnya sama stylingnya
ini membantu banget ya kan.
Dari misalnya ada Figma
beberapa versi, kita nggak usah
bolak-balik konteks switching
langsung muncul. Kita bisa
apa, nge-just dengan gampang kan.
- Kalau dari
ininya testimonialnya kayaknya
beli sini, ini
Firefox. - Iya apa sih?
Kalo belum pernah liat. - Oh iya.
- Masa? Kalau ngeliat ini kayak
promiung? - Nggak ya.
- Coba cari, ada
penjelasannya nggak? - FIQ, FIQ, FIQ.
- Nah, coba tolong.
What is blaze?
- Oh nggak ada.
What is?
- Coba berburu.
Search, ah, blaze
engine.
- Ya, nggak ada.
- Chromium.
- Masih misterius. Oh, Chromium.
- Oh, Chromium. Blink.
- Tapi ini fenomena
menarik nggak sih? Jadi
yang kita liat di timeline tadi kan
makin lama, kalo dari segi
variasi engine-nya
sendiri, layout
engine dan Javascript
engine, makin lama kan makin
merucut lah, bisa dibilang
merucut ya. Kayak cuma tinggal 2
orga besar doang kan.
Maksimal juga sekarang yang major
3 variasi doang, baik di layout
maupun di Javascript.
Tapi justru kayak
landscape browser makin bermacam-macam
di segi UI/UX
browser itu sendiri kan.
Tadi ada browser buat
art browser,
ada yang buat, itu mungkin
bukan buat non-developer ya.
Ada yang khusus
buat developer, ada yang
tadi integrate sama wallet
blockchain lah,
Fediverse lah, Mastodon segala macem.
Jadi makin bervaliasi
di penggunaannya
UI/UX-nya justru. Walaupun
engine-nya ya, muter-muter di 3
itu aja. 2 bahkan ya.
- 3 lah webkit
Blink. - 3, tapi
yang banyak di fork sama
dipake sama browser baru kan.
Cuma Chromium sama tadi ada 1
webkit kan.
Ya maksimal 3.
Iya kenapa ya, padahal open source.
- Coba nanti kita
tanya sama
Team Firefox kalau kita ketemu
di... - Apa?
- Di CDS.
Di CDS.
- CDS bukan yang nggak ada ya?
- CDS.
CDS, Chrome Dev Summit, bukan
Mozilla Dev Summit. - Tapi diundang,
diundang. - Oh, diundang ya?
- Iya. - Bagus lah.
Berarti sekarang walaupun
jelas masih
kompetisi secara bisnis, minimal
nggak setoksik dulu ya, perangnya.
- Masih sih, masih
diserang-serang sih webkit sama
orang-orang Blink.
- Cuma webkit itu emang dari
segi apa, segi perkembangan
sekarang beberapa tahun terakhir
sering paling ketinggalan ya.
Sering paling apa?
Nggak ngadopsi feature
baru.
- Masa sih? Bukannya
konten, dia sudah...
- Ada lagi, ada tapinya.
Jadi ya mungkin 5 tahun
per 5 tahun terakhir
tuh emang Blink sering ketinggalan.
Tapi kayak sekitar 1-2
tahun terakhir ini
mulai catch up lah.
Salah satu kalau yang
gue ngikutin sih dari segi
engine-nya ya.
Safari itu nge-hire
yang namanya
Jen Simmons, itu dulu orang Mozilla.
Lio itu dulu orang Mozilla
dan ahli banget di CSS.
Makanya sekarang
sekitar 1 tahun terakhir kan
feature CSS-nya webkit Safari
berkembang banget kan.
Jadi kayak, kayaknya mereka
bosan dibuli gitu. Mereka bosan
dibuli jadi yang paling ketinggalan.
Akhirnya catch up dan sekarang
kembang banget.
- Loh, loh, loh, image Mas Dizet kenapa tuh?
- Iya, error lagi nih.
- Tapi ada suaranya?
- Sebentar, sebentar, iya suaranya aman.
Ini webcamnya doang.
- Ha, ha, ha, baru tahu
kalau webcam mati jadi ada gambar gitu.
Kayak jaman TVRI ya,
kelar siaran dulu. Abislah gue rayuan
pulau kelapa.
- Ha, ha, ha, ha, anak jaman sekarang gak tahu tuh.
- Yang nonton bingung tuh.
- Oh iya, tadi udah cerita tentang
browser engine Servo, belum ya?
Tadi kita ngomong di belakang layar, belum ya?
- Belum, apa, Tom?
- Ini baru search ternyata masih aktif
sampai sekarang.
- Oh iya? Servo, pernah dengar sih Servo?
- Pernah dengar ya?
Jadi ceritanya itu
si platform Mozilla,
kan dia awalnya yang menginisiasi
Rust programming language kan.
- Oh iya, iya, iya.
- Salah satu
Rustnya,
salah satu
project yang mau menggunakan Rust
untuk eksperimen itu
adalah browser engine namanya Servo.
- Servo, nice.
- Servo,
jadi ternyata barusan
ngecek, ternyata masih aktif,
kirain udah mati Servo-nya, udah sempet,
dulu sempet nyoba kan, sempet nyoba
compile sendiri, belum, karena belum ada
ininya, belum ada
executable-nya, jadi harus compile sendiri.
Ternyata masih dilanjut.
- Oh.
- Servo.
- Tapi gak tahu ya, akan jadi web browser
beneran atau enggak ya.
Eksperimental itu.
Dia buat nyoba Rust ya,
karena dulu Rust itu dibawah Mozilla,
sampai belum lama ini mereka
apa, kayak ngelepasin diri.
- Beli diri sendiri.
- Jadi dia semua, developer Servo,
semua di PHK sama Mozilla
pada tahun 2020.
- Iya, iya.
- Terus sekarang dia diampu
di bawah Linux Foundation
ternyata.
- Belum, gak bisa, berarti ya udahlah,
gak usah pake gambar ya.
Tidak ada gambar.
- Berarti next topic,
webcam.
Cara ases webcam.
- Iya, ternyata masih aktif
sampai sekarang ya, walaupun
ya tadi, jadi Mozilla
theory struggling ya,
mereka struggling
untuk menjalankan sisi
bisnisnya.
Karena kan ini browser kan gratis ya,
si Firefox kan gak bisa
berbayar gitu kan.
- Dan Mozilla pun secara foundation kan
dia orientasinya non-profit ya.
- Betul, non-profit kan.
Tapi dia cari modong gitu kan.
- Mozilla itu dapet duitnya
dari Google search kan sebetulnya.
- Iya.
- Dan dari donation.
Ya, non-profit kali ya.
Tapi di sisi yang lain mereka harus cari
pemasukan untuk membayar
orang-orang yang mengembangkan si
Firefox itu sendiri kan.
Jadi mereka akhirnya bikin produk-produk seperti
VPN, mereka jual VPN,
mereka jualan
storage kan, kalau gak salah ya.
Gitu-gitu.
Nah, ini servo ini sebenarnya menarik, cuman
ya itu sempat
terhenti gara-gara banyak
lay-off di 2020 ya
yang gelombang pertama.
Itu banyak yang kena lay-off,
hampir semua developer
Rust kena ya.
- Rust dan servo,
cuman akhirnya ini servo diambil
sama, maksudnya dikelola
oleh Linux.
- Ya, termasuk juga Rust juga
dikelola komunitas sekarang kan.
- Oh, ternyata servo ini
penggunaannya orientasinya
untuk browser AR,
augmented reality.
Nah, ini nih. Pernah dicoba di
jadi Firefox bikin
Firefox Reality.
Ya, mungkin karena Rust itu kan lebih cepet ya
daripada apa, C++ mungkin.
Untuk apa,
graphic processing dan sebagainya.
- Oke, oke.
- Bahkan baru-baru sekarang nih
tahu ada yang namanya Firefox Reality.
- Firefox Reality.
- Untuk device AR,
eh, untuk AR ya.
- Oke, kita ke topik selanjutnya ya
kalau gitu ya. Topik selanjutnya
ini ada
Interop. Interop ini apa nih?
- Nah, kan
Interoperability ini
project yang berguna
banget sih. Tadi kan kita udah bahas
skill last two. Ada 3 engine,
kadang suka pusing, suka
lain-lain behaviornya,
ada feature yang di-support, ada yang nggak.
Terus, bugnya juga misalnya
di browser A, bugnya begini,
di engine A, bugnya gini,
di engine B, bugnya gitu, lain
lagi. Nah, ini
kayaknya pertama kali deh semua
major vendor bisa
ketemu dalam satu forum
dan sepakat buat
memprioritaskan
focus area, feature-feature tertentu.
Nah, coba, apa,
scroll ke bawah sedikit.
Ini, kalau nggak salah, dari 2021
dan setiap
setiap ada Dev Summit
itu di-announce juga.
Jadi, emang
focus area-nya itu ditentuin
oleh para vendor itu
berdasarkan community input juga
jadi kayak ngecek
dari masing-masing repo,
isu yang banyak di-open
itu tentang apa, terus
survei-survey gitu
dari komunitas developer itu paling
seru tentang apa, mereka sepakat
milih mau ngefix di,
mau fokus di area apa aja.
Jadi, sudah konsorsium
speknya, ini
konsorsium ngerjain, apa, kayak
kerjasamanya
mau fokus ke area mana
gitu. Jadi,
kan ada tuh fokus area-nya, nentuin
mau ngerjain itu. Nah, itu seru sih
dan ini semua dikerjain
open source,
kalau kode browser-nya,
koding-nya sih nggak open source,
cuma, loh, Mas Risa ilang.
Mendiskusikannya
yang open source, jadi
kadang ada kasus dimana ternyata
spesifikasinya agak rancu
atau kurang jelas dari
spesifikasi teknisnya.
Itu kan bikin misunderstanding ya, mungkin dari
vendor A, implementasinya
begini, B, begitu.
Nah, berarti solusinya adalah
diperjelas spesifikasi
teknisnya, atau mungkin
ada bug, ada implementasi yang nggak
sesuai, didiskusiin,
biar tujuannya
ultimately adalah developer
mudah menggunakan web API
di semua browser
yang bisa kerja di semua browser.
Iya sih, jadi
lebih ini ya.
Kalau kita lihat dari graph 2002,
kayak si
Chrome Edge mulai,
kok malah yang ketinggalan
Chrome Edge.
Ini feature yang baru
yang dienamkan sama Robert
Naiman ya, kalau nggak salah ya.
Sempat lihat sih di tweet-nya, tentang
Interop ini ya.
Mungkin ya, di akhir tahun biasanya mereka
announce hasilnya. Jadi ini
apa, period kerjanya
per tahun, mereka nggak
milih berapa, 5-10
area khusus mana yang mau
dibenerin, mau
bagusin, dioptimasi
interoperability-nya.
Nah, di akhir tahun mereka announce
hasilnya.
Hasil score ini, ini seru
sih, itu apa,
direpunya semua open source.
Dapat angka-angka itu,
itu dari testing, dan yang ditest
adalah file HTML, CSS
biasa.
Berarti ini Safari menang dong, 94?
Iya, buat feature yang baru
yang di focus area itu.
Oh, itu score, bukan
for see.
Wow, nice.
Berapa persen test yang
passing, jadi kita bisa lihat
test-nya mana bentar, cari
direpunya.
Oh wow, oke,
menarik, menarik. Oh ya,
selain broser-broser yang
Chrome, AS, dan lain-lain,
ada juga yang versi
eksperimentalnya, ada yang Dev, ada yang
Knightly, ya kan?
Ada yang technology preview.
Kan Ari,
banyak ya, banyak versi ya.
Ada, Firefox itu kalau nggak salah, ada
Firefox developer.
Ya saya ada 3 ya,
3 versi. Firefox developer edition.
Edition, ya.
Chrome juga ada ya, developer edition, ada yang beta,
ada yang developer. Gak pernah bisa
file, cuma biasanya ada 2-3,
ada yang Knightly ya.
Ada Knightly, ada Knightly. Knightly selalu
berubah tiap hari.
Kalau Dev itu lebih
nggak tahu ya gimana.
Kalau Kan Ari itu eksperimental,
Kan Ari itu terlalu eksperimental.
Pokoknya ada tingkat-tingkat
itunya
seberapa beta, seberapa
eksperimental.
Yang udah hampir rilis tuh ya,
apa ya?
Dev kalau nggak salah, atau yang beta, beta.
Kalau Firefox, Knightly sih.
Knightly. Cari link-nya.
Knightly, oh nggak,
Knightly itu yang ini kan?
Tidak, tiap hari berubah.
Justru itu masih yang
in progress kali ya?
Iya, yang alpha-alpha.
Oh ini nih, developers,
ada developer edition,
ada beta, ada Knightly.
Berarti developer edition tuh
sudah lebih stabil.
Iya.
Bedanya apa sih yang developer edition sama
yang versi biasa?
Entah.
Lebih sering update aja
kalau saya liat ya.
Oh ini bener ada 3.
Kayaknya beta yang paling
polis, yang paling hampir
hampir
di rilis.
Paling mendekati developer edition.
Ini yang tengah-tengah kali ya.
Developer edition
is an unstable
testing and development
platform.
Terus kalau Knightly
itu yang
Knightly itu yang paling mentah
yang tiap hari di update.
Chrome juga sama ya, ada
Canary, Canary itu yang kuning semua kali ya.
Kayaknya.
Apalagi sih ponenya, ada
beberapa versi juga kok.
Ada, ada.
Canary, beta, sama
sama sih.
Sama ya. Paralelo misalnya.
Sama.
Ada, oh iya
beta, dev, Canary.
Webkit ada ya? Safari nggak ada ya?
Safari itu teknologi
preview doang.
Iya, dia cuman
ada 2, yang apa?
Yang
stabil sama yang experimental.
Safari itu rumitnya
mungkin karena cycle release
nya dia harus barengan sama
apa? OS nya.
Iya.
Kalau major release, iya.
Kalau minor release sih, ya muncul
di update Mac kan.
Iya, di update doang. Tetep-tetap aja dibundle
gitu, nggak bisa kita
pilih gitu.
Iya, nggak bisa ketengan di download
sendiri, apa, executable
installernya.
Iya, iya, iya.
Oke, lanjut, lanjut,
lanjut, lanjut. Ada lagi yang mau dibahas?
Apa ya? Chromium
udah habis ya?
Habis ya?
Apa lagi?
Udah kan?
Udah? Udah.
Udah 1 jam lebih juga?
Udah 1 jam lebih? Berarti
sudah waktunya kita istirahat?
Iya.
Oke.
Seru juga ya, bahasa roser doang bisa lama gini.
Oh iya, kita selalu
episode berapa? episode 14 ya? udah episode 14? lumayan ya? iya. nanti kalau sudah sampai kita episode 100 kita harus bikin kayak video atau bikin bukunya semua topik-topik yang sudah kita bahas itu loh. catatan ngobrol in web.
episode 50 kita minta ini live di discord, jadi ngajakin teman-teman di discordnya Google Developer Expert, Google Developer Group untuk join ngobrol juga.
Oh boleh tuh, seru tuh. ngajakin Mas Danang tuh. asik, jauh ikh Mas Danang lagi. episode 50 ya? berapa episode lagi? masih panjang.
masih panjang. tapi ketiap minggu cepet kok itu, satu tahun aja 50. iya, iya, iya. bener, bener, bener, bener.
Ya, dan untuk mencapai episode 50 dari episode 100 kita butuh bantuan teman-teman, karena untuk topik dan tautan misalkan ada yang mau "oh bahas ini dong, bahas itu dong"
langsung aja ke bit.ly/mobrolinweb. kita akan monitor terus, dan kalau kita kehabisan ide, ya kita kesitu liatnya.
jadi pastikan teman-teman. masih banyak loh, gak habis-habis. belum habis ya, belum habis ya, masih banyak ya. masih banyak yang bisa kita explore ya.
sampe tahun depan. iya, ngikutin apa namanya, ngikutin moodnya kita kan. "oh lagi pengen bahas ini, lagi ada yang lagi hype" gitu kan.
jadi ya, gitulah. ok kalau gitu, mungkin untuk malam ini kita tutup dulu. episode ke 14 kita ketemu lagi minggu depan, hari Selasa, jangan lupa.
jam 8 malam. subscribe ya, subscribe. like, subscribe. pencet apa, lonceng ya. kayak youtube, gue gak pernah tuh ngomongin youtube.
kalau suka silahkan di like, kalau gak suka jangan dislike. cool juga masuk kapal.
iya, yang pasti kita butuh masukan. mau di like, boleh. alhamdulillah, syukur. kalau gak, ya gak apa-apa. tapi kita lebih perlu masukan dari teman-teman.
kita kira ini formatnya bagus gak, atau ada yang bisa kita improve atau gimana gitu ya. atau mungkin mau tanya-tanya, tanya-tanya renten juga boleh.
atau mau ikutan, mau ikutan juga boleh. oh iya, boleh, boleh. kalau ada yang mau ikutan ngobrol, nanti kita bisa undang juga.
oke, kalau gitu. untuk malam ini, udah Han dulu. terima kasih banyak semuanya. kita ketemu lagi hari Selasa depan. bye-bye.
Selasa depan, tahun depan. bye-bye. iya, tahun depan ya. iya, tahun depan. iya. oke, selamat tahun baru.
Deskripsi asli dari YouTube
Kisah seru 'perang' browser! ----------------------------------------------------------------------------------- Bergabung menjadi anggota elit di kanal ini: https://www.youtube.com/channel/UCHhAlFGFCGgIusQkQIqJLYw/join Donasi dapat meningkatkan kualitas kanal ini: 💰 https://karyakarsa.com/rizafahmi/tip 💸 https://saweria.co/rizafahmi ----------------------------------------------------------------------------------- Butuh merchandise untuk kenangan: 👕 https://www.ciptaloka.com/+rizafahmi/ Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.
Episode Terkait
1 Apr 2025
Ngobrolin Lebaran
Episode ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri dari tim Ngobrolin WEB. Eka, Ivan, dan Rizah memberikan salam Lebaran denga...
23 Jul 2025
Bedah Buku Problem Solving 101
Episode ini membahas buku "Problem Solving 101" karya Ken Watanabe, mantan konsultan McKinsey yang menulis buku ini seba...
8 Apr 2026
Bedah Situs
Episode ini adalah sesi bedah situs, membedah dua website yang dikirimkan lewat DomaiNesia secara langsung di depan peno...
Suka episode ini?
Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.
Memuat komentar dari GitHub Discussions...
Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .