Lompat ke konten utama
EP 16

Ngobrolin 2023

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode awal tahun ini berisi daftar hal yang menurut Riza, Eka, dan Ivan akan menarik sepanjang 2023 — bukan ramalan, melainkan apa yang mereka sendiri ingin lirik. Eka membuka dengan yang paling tidak terduga: kembalinya standar-standar lama ekosistem web. ActivityPub yang dipakai Mastodon sedang ramai, dan RSS mulai dilirik lagi seiring munculnya gerakan kembali ngeblog. Poinnya bukan nostalgia melainkan kepemilikan — dengan RSS kita bisa mengikuti sumber konten apa pun tanpa terikat pada satu produk milik satu perusahaan, berbeda dengan taman berpagar tempat kita cuma menumpang. Benang merah yang sama muncul di gelombang framework terbaru. Ceritanya ditarik dari CGI dan PHP yang serba server, ke era SPA tempat segalanya dipindah ke klien sampai muncul masalah SEO dan halaman yang berat, lalu berayun kembali ke multi-page yang sekarang sudah modern. Framework seperti Astro, Enhance, dan Qwik mengedepankan HTML first dengan alasan sederhana: platformnya sudah berkembang, jadi pakai saja apa yang sudah disediakan browser. Salah satu pemicunya adalah browser yang akhirnya bisa menjalankan JavaScript module. Sisanya soal perkakas yang ditulis ulang dengan bahasa lain — Turbopack, Rome, dan SWC dengan Rust; Bun dengan Zig dan JavaScriptCore alih-alih V8 — plus WebAssembly yang sudah sanggup menjalankan WordPress tanpa server sama sekali. Bagian penutupnya justru yang paling membumi: sebuah cerita interview di mana rekomendasi memasang plugin adalah red flag, dan jawaban yang lolos justru menunjuk gambar yang kegedean dan font yang berlebihan.

Poin-poin Utama

  • RSS dan ActivityPub kembali dilirik karena soal kepemilikan: kita bisa mengikuti sumber konten apa pun tanpa terikat produk satu perusahaan, dan informasinya datang ke kita alih-alih kita yang mencari
  • Sejarah rendering berayun bolak-balik — server, lalu klien, lalu kembali ke server — dan gelombang framework terbaru mengedepankan HTML first karena platform webnya sendiri sudah cukup berkembang
  • Perkakas JavaScript makin banyak ditulis dengan bahasa lain: Turbopack, Rome, dan SWC pakai Rust, sementara Bun pakai Zig dan memakai JavaScriptCore dari WebKit alih-alih V8
  • WebAssembly sudah sanggup menjalankan WordPress sepenuhnya di dalam browser tanpa server PHP sama sekali — berguna untuk demo, tutorial, dan workshop membuat plugin
  • Kalau mau mulai TypeScript, ganti dulu .js jadi .ts lalu perbaiki satu per satu sambil belajar; memakai any di mana-mana sama saja dengan tidak memakai TypeScript
  • Dalam satu cerita interview, menyarankan pemasangan plugin justru dianggap red flag — yang diminta adalah menelusuri sendiri penyebab lambatnya, seperti gambar kegedean dan font yang tidak terpakai
  • Jangan belajar hanya karena hype: fundamental dan kemampuan memecahkan masalah lebih tahan lama, tapi penguasaan bahasa tetap perlu karena tanpa lolos tes coding kita tidak sampai ke tahap menunjukkannya

[Menelefon]

Halo, halo, halo.

Selamat tahun baru.

Selamat tahun baru, ketemu lagi kita, Haris Lhasa waktunya ngobrolin web.

Web, yeah.

Masih bersama kita bertiga, web, web, web.

Ada saya Riza, ada Eka, dan juga ada Ivan.

Sembari kita mengecapkan selamat tahun baru.

Semoga tahun 2023 semua harapan, semua resolusi berhasil dicapai.

Kira-kira temen-temen di sini resolusinya.

Resolusi tahun lalu di Icebox, sekarang bikin resolusi baru.

Resolusi saya masih 1080p.

Satu dua lapan puluh.

Setiap tahun naiklah itu resolusi.

Kendo satu enam puluh.

1024, nggak ya?

Resolusi tetap pixel density naik.

Asik.

Ya, jadi senang sekali malam hari ini kita kembali live.

Setelah beberapa episode kemarin kita rekaman karena satu dan lain hal.

Salah satunya karena sudah liburan.

Dan malam hari ini walaupun masih ada aroma-aroma liburan,

tapi kita harus mulai lagi karena seru sekali pembicaraan kita.

Kalau kita ngobrol kayak gini ditambah dengan komentar-komentar temen-temen semua.

Jadi pembicaraan yang seru gitu.

Yang tadinya topiknya mungkin kita lihat, oh kayaknya biasa.

Ternyata seru gitu.

Ternyata banyak hal yang belum kita tahu, kita banyak belajar satu sama lain.

Jadi temen-temen juga boleh silakan komen-komen di kolom komentar apapun.

Kira-kira malam hari ini kita akan bahas tentang teknologi yang menurut kita masing-masing akan menarik di 2023.

Lihat transkrip lengkap (1019 segmen lagi)

Menarik, May 2023.

Kalau temen-temen ada teknologi yang ingin dipelajari atau yang menarik kira-kira,

saya pengen belajar astro, saya pengen belajar island arsitektur atau apa gitu.

Boleh ya, di kolom chat kita pengen tahu juga.

Ya, mungkin questlistnya 2023 pengen belajar apa.

Benar, benar, benar.

Oke, kita langsung aja mulai.

Dari siapa dulu yang mau membuka topik kita di 2023?

Kira-kira apa yang akan menarik?

Dari Mas Richard atau Mas Mbak Eka dulu, karena saya angle-nya berbeda nanti.

Jadi kayak penambah.

Aku dulu deh, coba ini yang paling random.

Nggak random sih, cuma kelihatannya, nggak tahu apakah itu biasa aku sendiri atau memang begitu.

Sepanjang tahun kemarin itu makin naik fenomena balik ke standar-standar ekosistem web.

Seperti yang mulai santar itu Activity Pop.

Itu kayak protokol yang digunakan oleh Rastodon yang kemarin sempat lagi heboh naik.

Terus juga selain Activity Pop, RSS itu kan udah umum banget ya.

Kalau bikin mungkin WordPress atau apapun dari dulu, itu hampir pasti ada RSS Suite-nya kan.

Dulu malah Google tuh punya produk RSS Reader yang cakep banget namanya Google Reader.

Sayang, udah berpulang, udah di pensiun kan.

Udah hamar umum.

Udah hamar umum ya, lama lah.

Terus kelihatannya kan setelah itu, dulu banget kan, nge-trend nge-block ya.

Block spot itu dulu yang akhirnya di Google sebelumnya.

Eh, iya kan ya? Kayaknya di e-Square kan, di acquisition.

Sebelumnya orang nge-block itu personal size dan block itu hal yang umum banget.

Itu jadi kayaknya metode publication yang paling umum.

Tapi kan lama-kelamaan mungkin ya dalam 10 tahun terakhir kali ya kayak pelan-pelan di-replace atau digantikan

oleh produk-produk yang sifatnya world garden dan jadi kayak taman yang dipembokin atau dipagarin.

Paywall ya?

Paywall.

Yang nggak selalu paywall sih, kalau medium mungkin paywall.

Cuma kan kalau kayak Facebook, Instagram, Twitter, kayak sosial media itu.

Harus login dulu gitu-gitu ya?

Walaupun nggak paywall, nggak berbayar dengan uang, cuma kan proprietary kan menggunakan.

Jadi orang nge-share itu mempublikasikan sesuatu bergantung pada produk, bukan pada standar ekosistem web.

Nah belakangan ini kayaknya mulai ada gerakan, kayaknya trend apapun tuh selalu gitu ya.

Jadi tadinya A, muter ke B, terus hadir bahwa B lama-lama tanya kekurangannya.

Mulai balik ke A lagi.

Jadi kelihatannya nih ada fenomena, mulai banyak orang menggalakan ke-blog.

Kalau blog sebetulnya kan sampai sekarang juga masih banyak.

Cuma identik dengan long form, tulisan yang panjang atau rumit.

Nah sekarang tuh mulai kayaknya mulai banyak yang tertarik micro-blogging.

Misalnya jadi nggak harus selalu panjang, ya mungkin mirip dengan nge-tweet atau nge-tatus.

Cuma di area, di tanah kita sendiri masing-masing punya blog.

Dihubungannya dengan apa? Dihubungannya dengan RSS itu.

Jadi RSS itu kan salah satu protokol standar bagian dari standar web.

Jadi mau kita nge-blog di hosting dimanapun, desainnya kayak gimana, model datanya kayak gimana,

orang lain bisa follow dari aplikasi RSS Feedreader.

Berarti portal-portal kayak itu mulai bisa naik lagi dong, kayak reddit, apa ya jaman dulu?

Reddit atau RSS Feed, yang lain ya, contoh apa lagi ya?

Agregator, agregator.

RSS itu kan sampai sekarang juga ada RSS-nya kan? Iya, formatnya RSS benar.

Nah maksudnya ini kayak trend di kalangan, trend niche yang cuma di lingkup web developer doang

atau bisa meluas ke kalangan umum lah, misalnya ke jurnalis atau website yang di luar developer.

Nah ini seru kita lihat aja tahun 2023 gimana. Ini nggak ngerapal ya, ini namanya nanya,

kalau menurut kalian gimana, ini punya masa depan nggak ini RSS?

Berapa banyak teman-teman yang dikomentar, yang nonton menggunakan RSS Client, berapa banyak?

Saya pengen tahu. Kita bertiga, siapa yang pakai RSS Client? Saya pakai.

Masih punya akun Fitly sih, cuma nggak? Saya pakai Fitly. Saya pakai Fitly juga, betul.

Semua sayangnya kalau di Indonesia kayak Apple News nggak bisa ya.

Kalau di, saya punya pengalaman karena waktu develop kayak client yang dari luar,

yang di negaranya ada Apple News, memang jadi standar.

Mereka suka pakai, kayak situs ada fiturnya itu kita harus kayak publish ke Apple News.

Pasti punya, ok. Edwin punya nih.

Satu lagi, nggak harus RSS Fit. Contohnya kalau pengalaman,

kalau bagi pengguna Android dan menggunakan Chrome browser-nya,

biasanya di bawah Chrome-nya sebelum mencari itu ada banyak news-news kan.

Itu kan dari Google News sebenarnya, yang kalau di web-nya kita itu

ada standar yang sendiri untuk pakai RSS juga sih belakang-belakangnya,

yang nge-push data ke Google News. Jadi kayaknya menarik juga ini

kalau semuanya mulai ke konten.

Salah satu keuntungan kita menggunakan RSS adalah, kalau buat saya ya,

jadi informasinya datang ke saya, bukan kita yang mencari.

Itu kan sebenarnya kayak follow ya?

Iya, misalkan kita baca dari Hacker News, kan kita harus buka dulu kan.

Iya, Hacker News apa gitu kan, alamatnya kan, HN News apa gitu,

terus kita baca gitu kan. Tapi kalau misalkan kita langganan RSS Hacker News,

kita nggak perlu buka website-nya, ada kayak semacam inbox, semacam di email gitu,

secara berkala mungkin sehari atau tiga puluh, ya tergantung kita yang set ya,

ngomong satu jam sekali, dia ngerequest ada data baru, dia langsung muncul gitu kan.

Biasanya kayak daily digest gitu ya.

Jadi itu kan sebenarnya menyerupai kita di Twitter nge-follow orang,

kita di Facebook nge-follow orang, kita di Instagram nge-follow orang.

Cuma bedanya kalau di Twitter dan sebagainya itu kan kita numpang,

kita pakai produk, proprietary-nya perusahaan. Sedangkan kalau RSS itu kan

nggak dimiliki satu pihak, nggak dimonopoly bukan properties-nya satu pihak doang,

kita mau pakai vidli atau kita mau bikin sendiri kalau iseng, pakai apapun,

ya itu tadi kalau Hacker News mempublish digest atau berita atau sumber berita apapun lah.

Biasanya aku pengen ikutin blognya Astrisa sama Ivan, ya tinggal follow, bisa langsung muncul.

Jadi itu memungkinkan kita memfollow sumber konten apapun

tanpa terikat di satu produk tertentu sih, menariknya.

Betul, betul.

Ngomong-ngomong soal RSS, itu ada pada tiny-tiny RSS nggak sih?

- Tiny RSS itu apa? - Tiny tiny RSS, itu open source.

Open source, kalau mau bikin sendiri, mau punya kayak web-nya sendiri.

- Oh tiny-nya dua kali, tiny tiny RSS. - Jadi TTRSS.

- Oh TTRSS. - Itu open source web application.

Anggap aja fitly versi open source yang kita punya sendiri, kita host sendiri.

Menarik, menarik. Sebentar kita share screen dulu ya.

Men, saya ada yang pakai itu soalnya. Dan menarik.

- Oh ini aplikasi web ya berarti ya? - Iya, betul.

Oke, wah seru.

Nah, dari beberapa hal yang disampaikan Eka tadi, ada benang merahnya.

Benang merahnya adalah beberapa standar-standar web muncul lagi ya.

Termasuk juga di framework kan.

Framework-framework baru kayak Quick, ada Remix, ada Astro dan lain-lain.

Itu kan mereka kembali ke ranahnya kan, menggunakan web standar.

Ya, kita pernah bahas juga ya di episode Eka sebelumnya.

Yang tadinya formnya harus dimana, sekarang pakai formnya versi yang sudah ada dari platform.

Dan platformnya juga berkembang kan.

Makanya sekarang beberapa framework bisa menggunakan web standar,

gara-gara platform webnya sendiri, browsernya sendiri sudah kembang.

Webnya mulai streamline ya.

Terus IS modul juga mulai merata, itu ngaruh ke tooling juga.

- Sepertinya karena si browser itu sudah bisa menerima JavaScript module sih,

bisa running JavaScript module. Sebelumnya kan nggak bisa kan?

- Sebelumnya nggak bisa, global semua ya.

- Iya, sekarang jadi modular gitu, jadi bisa jalan di module, JavaScript module.

- Iya, jadi modular. Bisa nginstal berbagai package dari NPM dan registri-registri yang lain ya.

Oke, nah ngomongin framework-framework baru,

ini juga salah satu trend yang akan mulai happening kali ya di tahun depan.

Di tahun ini, 2023.

- Masih berdasarkan tahun depan.

- Jadi ada gelombang baru framework katanya gitu ya.

Yang sebenarnya sudah muncul dari tahun lalu ya.

Dari 2022 sebenarnya sudah mulai muncul kan, pertengahan ya atau akhir ya.

Jadi kalau di sini, ini ada ceritanya ya, dari mulai sejarah halaman web itu ya.

Mulai dari CGI, Perl, terus ada PSP, walaupun PSP masih sampai sekarang gitu kan.

Sampai akhirnya, berarti itu yang jaman-jamannya PSP dan lain-lain itu berarti kan server.

Server site rendering kan, semuanya dirender dari server,

baru kemudian ada sedikit manipulasi atau ada fungsi-fungsi yang dijalankan di sisi klien.

Misalkan hide, show, gitu kan, yang sederhana kan.

Kemudian muncul interactivity gitu.

Kemudian muncul jQuery, ada Dojo, ada AXT.js, ada yang lain-lain.

Akhirnya mengarahnya ke server, tugasnya adalah mengirimkan data yang olah itu klien.

Jadi fat klien ya setelahnya ya.

Segala-galanya dikerjain di klien, sampai ngerender, bikin dom juga.

Akhirnya pas itu dipindah ke klien.

Betul, jadi kalau misalkan kita pakai React gitu kan, Create React App kan,

ada div dengan id root itu isinya kosong kalau kita buka ya awalnya.

Karena belum dirender di sisi klien.

Di sinilah React dan teman-temannya berjaya di sini ya.

Karena ini SPA, semuanya serba single-page application kan.

Yang tadinya server-side, sekarang udah client-side banyakan.

Terus abis itu ketemu masalah.

Yang pertama masalah SEO, yang kedua masalah scale.

Jadi ketika terjadi di sisi klien, yang terjadi adalah kliennya sibuk nih.

Browser-nya berat, kena CPU dan network.

Akhirnya... / Blotted, blotted.

Ya blotted, akhirnya... / Itu tadi dari A ke B, ternyata B kena masalah baru.

Kalau ini komen sih ya, tetap komen.

Akhirnya, gimana caranya? Beberapa hal kita bisa render di server dulu,

abis itu nanti beberapa yang kecil-kecil di client.

Ya itu kan sama aja kayak yang dulu ya, kayak jQuery, jaman-jaman jQuery kan.

Akhirnya balik lagi.

Balik lagi, cuma sekarang bedanya kayak standarnya udah,

yang kita bahas tadi standarnya lebih slimline.

Jadi ya, quality of life improvement lah.

Tapi bedanya virtual DOM sekarang mulai balik ke arah antara vanilla atau shadow DOM kan.

Beda approach. / Betul.

Dan setelah react dirasa cukup sukses, akhirnya muncul pesaing-pesaingnya ya.

Ada view, ada swell, ada solid, dan lain-lain, ada banyak.

Makin kesini makin langsing ya, karena nggak punya baggage.

Kalau react kan mulai munculnya pas transisi tadi, jadi kayaknya baggage-nya masih banyak lah.

Masih standarnya, transfile-nya juga kayak backward compatibility-nya kayak lebih tibet aja.

Sedangkan swell sama solid muncul di jaman udah enak lah.

Jaman udah relatif enak kan, makanya bisa dengan perspektif yang baru ya.

React 2012 kan ya, tahun munculnya.

React 2012 atau 2013? / 2012.

Udah 10 tahun. / Udah 10 tahun.

Jangan salah antara view atau swell itu yang punya filosofi sedikit berbeda dengan react-an.

Ada juga yang benar-benar mengikuti gaya-nya react, ada pre-react, ada inferno, ada yang lain-lain juga ya.

Jadi memang react itu salah satu filosofinya memang cukup banyak diikuti ya.

Konsep-konsep barunya menarik gitu ya, terutama dia menekankan ke arah developer experience kan.

Dan banyak konsep yang diadaptasi juga oleh framework yang lain.

Kemudian mereka juga sering belajar, akhirnya muncul lah meta framework kan, setelah itu kan.

Ada Next.js, ada Nux.js, ada... / Gatsby.

Gatsby. / Gatsby.

Ada spell kit, supper, spell kit, dan lain-lain gitu kan.

Yang tujuannya adalah untuk, itu tadi server render.

Yang tadinya hanya beratnya di klien, sekarang udah agak ringan karena sudah beberapa hal...

Itu semenjak node bisa dijalankan di server.

Jadi V8 engine bisa dijalankan di server side.

Jadi dia pendekatannya adalah server first ya, jadi di-serve dulu beberapa hal yang penting.

Kalau misalkan istilah PWA-nya kayak skeletornya itu udah di-load dulu, yang lainnya baru yang sedikit-sedikit.

Habis itu muncul lah multi-page application yang tadinya SPA.

Kita balik ke PSP dan teman-teman ya.

Udah multi-page lagi sekarang, walaupun multi-page-nya sekarang sudah modern.

Sudah menyerupai single page, transisinya, state-nya, semuanya sudah ditangani dengan baik.

Jadi kita nggak perlu refresh, seolah-olah tidak perlu refresh walaupun sebenarnya ada konteks antara klien dan server.

Bahkan page transition juga walaupun masih experimental, di web standar udah ada ya.

- Apa namanya? Multi-page snap? - Belum.

Transition API, belum standard.

- Masih drop. - Baru proposal.

Ya, semoga lolos lah. Berarti kita harus banyak-banyak komentarin proposalnya ya. Kita harus thumbs up.

Kita push itu transition API.

Jadi fitrahnya element A itu anchor kan link.

Itu kan link emang dari dulu udah ada, dari jaman multi-page app pun udah ada.

Single-page app ini agak ngelawan contact, dibajakkan, jadi di-prevent default untuk crafting.

Sekarang kalau misalnya si proposal page transition itu lolos, kita bisa by default tetap pakai anchor element itu ya.

Untuk lakukan client-side navigation.

Oke, kita lanjut sedikit lagi. Ini udah masanya multi-page application.

Beberapa framework mengedepankan HTML first, artinya adalah use the platform.

Karena platformnya juga sudah berkembang cukup pesat, jadi kita bisa menggunakan web, teknologi web yang sudah disediakan oleh browser juga.

Akhirnya muncul kayak Astro, Enhance, kemudian Quick dan lain-lainnya.

Marko ini kayaknya pemain lama ini ya, Marko kayaknya jamannya React juga udah muncul.

Marko ini solid kan ya? Marko itu main frameworknya solid kan?

Oh bukan.

Bukan. Yang bikin solid, dia bekerja di perusahaan yang bikin Marko juga.

Dia adalah karyawan di sana, tapi waktu senggangnya dia bikin solid.

Oh gitu. Ini lucu juga nih, ternyata Marko itu templating language. Kayak custom gitu ya saya?

Iya, awalnya itu.

Semacam handlebar gitu kan?

Iya, betul.

Terus habis itu dia bisa ada frameworknya sekarang, kayak gini kan.

Dan seterusnya, itu adalah, ini udah sampai ke gelombang ketiga.

Ini kayaknya mulai ya, ini masuk ke gelombang ketiga, termasuk juga meta framework tadi ya, ada remix, ada Quick tadi yang udah disebutkan, ada Nux, ada macem-macem.

Ini Quick juga, yang berhubungan dengan Hydration, yang berusaha menyelesaikan masalah Hydration ya, dengan cara Restomable.

Saya juga belum tau nih Restomable ini seperti apa, Hydration juga.

Nah itu udah cobain kan? Kayaknya kita bahas di episode A.

Yang lalu juga tuh ya.

Bisa jadi materi tersendiri ya, termasuk juga Edge ya, Edge. Ini adalah kita bisa punya fungsi di CDN dan tanda kutip gitu.

Nah, berhubungan dengan ini, seperti tadi juga ada Fresh ya, kalau nggak salah salah satu yang juga jadi gelombang ketiganya.

Adalah, tren berikutnya yang menurut saya akan seru adalah, beberapa runtime alternatif dari Node.js.

Ada Boon.js, yang terbaru sebelumnya ada Deno.

Jadi buat temen-temen yang belum familiar mungkin, Node.js kan running di LeapUV ya.

Running di server, atas bantuan ada library namanya LeapUV.

Itu yang, event loop ya, event loop.

Event loop, yang udah kita bahas di episode, beberapa episode yang lalu gitu ya.

Dan ternyata, dan itu LeapUV itu dibikin dengan menggunakan C++, ya kan.

Dan kemudian muncul alternatif, wah ternyata yang bikin Node akhirnya dia bikin Deno.

Karena dia merasa ada beberapa kesalahan yang tidak bisa terhindarkan, akhirnya dia bikin baru.

Dengan menggantikan LeapUV dengan bikinan sendiri, pakai Rush.

Oh.

Ya, awalnya dia pakai Golang, tapi abis itu dirilat pakai Rush.

Kemudian tahun lalu, tahun 2022, muncul yang lebih baru lagi.

Namanya Boon. Boon.js.

Nah ini juga cukup unik karena, selain dia menulis sendiri versi LeapUV-nya dengan bahasanya,

bahasanya apa ya, ada disini kekatan sebentar. Ziklang.

Bahasa yang baru juga, bahasa ya, sama lah levelnya dengan C++ sama Rush ya.

Itu, tapi perbedaannya dia tidak menggunakan V8.

Kalau Deno masih tetap menggunakan V8 sebagai JavaScript Engine-nya.

Sedangkan Boon menggunakan JavaScript Core yang diambil dari WebKit.

Yang kalau teman-teman familiar, browser yang menggunakan WebKit adalah Safari.

Ya, kita bahas kemarin. Kita bahas di episode kemarin.

Jadi, dia tidak menggunakan Engine-nya Chrome di backend,

tapi dia menggunakan Engine-nya Safari atau WebKit di backend.

Hasilnya...

JavaScript Core ya?

Ya, JavaScript Core ternyata kencang. Memang terkenal kencang sih.

Dan dicoba di backend dan ternyata memang kencang.

Jadi, menariknya adalah Deno dan Boon ini juga punya kompatibilitas yang cukup bagus

dengan package-package yang ada di Node.

Jadi, kita bisa easy replacement lah.

Ya, walaupun ada effort sedikit ya kali ya.

Saya tidak tahu pasti juga karena belum mencoba.

Tapi, bisa install si library-library yang ada di NPM.

Jadi, kayaknya lumayan ini, lumayan menarik nih.

Apa? Si Deno dan juga Boon.js ini.

Tapi hasil transparentnya tetap sama kan ya.

Maksudnya, itu hanya kayak...

Ya, maksudnya hasilnya semua tetap sama.

Pas udutnya pen-browser, harusnya sama kan.

Cuma jualannya lebih kencang gitu ya.

Lebih kencang. Dan trend ini juga berlanjut ya.

Maksudnya, akhir-akhirnya banyak library atau tools

yang dibuat menggunakan bahasa seperti Rust,

atau Ziclang, atau Golang, atau yang lain-lain.

Tapi, tools-nya adalah tools JavaScript.

Contohnya, TurboPack itu menggunakan Rust ya.

Dia untuk melakukan transpilasi atau bundling ya.

Penggantinya Webpack. Bukan penggantinya ya. Alternatif.

Karena yang bikin Webpack sekarang kerjanya di situ.

Dan dia bikin itu kan.

Jadi, seolah-olah pengganti.

Cuma kayaknya patternnya gitu deh.

Si yang bikin Noob, juga saya bikin Deno kan.

Bikin yang menurut idealisme dia, harus jadi penggantinya.

Ya, itu sih.

Terus ada lagi?

Sebetulnya, aneh nggak sih?

Dari dulu server-side runtime itu kan

cuma Noob bertahun-tahun ya?

Dapat tahun coba cuma ada Noob.

Terus tiba-tiba jreng banyak banget.

Nah, menurut teman-teman, tahun ini bertahun-tahun banyak.

Karena Rust naik.

Iya, malah orang bikin pake C++.

Iya, karena Rust.

Karena salah satunya Rust dan Golang juga,

termasuk bahasa-bahasa low-level yang akhirnya jadi mainstream.

Satu lagi, kayak Rust itu lebih apa namanya?

Bahasa pemugreman Rust itu,

ini baru sekilas ya.

Saya masih belum ahli di Rust.

Karena lebih aman secara untuk ininya.

Asistekturnya, daripada C++.

Karena C++ itu bisa mengakses lebih low-level.

Sedangkan Rust itu punya proteksi tahap yang low-level.

Lebih secure bahasanya.

Karena mau mengambil sesuatu itu,

harus kayak ada levelnya untuk permisi.

Jadi sedangkan C++ itu bisa mengakses semua.

Ya, dia sangat low-level.

Lebih low-level lagi berarti dia ya.

Iya.

Meskipun Rust itu kayaknya,

base-nya juga dipakai C++ juga kah?

Iya, paling.

Kecuali langsung assembly.

Jadi muncul tools-tools yang dibuat dengan bahasa lain.

Tools-tools yang dibuat dengan bahasa lain,

salah satunya Rust, yang paling terkenal.

Tapi untuk JavaScript,

yang tadi saya sudah sebutkan,

ya itu ya, TurboPack.

Kemudian ada Rome.

Rome ini juga ekosistem ya.

Ada Pretier-nya.

Itu Spaket kan ya?

Spaket, ada Pretier, ada ESLin ya, alternatifnya.

Itu juga pakai Rust.

Kemudian ada lagi...

Yang di Next.js itu lho,

compiler-nya yang dipakai Next.js, SWC, yang baru,

itu kan baru berubah.

SWC, betul.

Pah, alternatif untuk TypeScript compiler ya,

banyak yang komplain TypeScript compiler kan lambat kan,

pakai SWC bisa cepat.

Karena dia pakai Rust.

Oh iya, maksud saya tadi Sekir itu,

Rust itu memory-safe.

Untuk allocation memory-nya lebih baik.

Memang disiptakan untuk itu.

Ya, dan Rust juga cukup populer digunakan untuk web assembly.

Banyak yang bisa disingkirkan ke sana, betul.

Dan beberapa hari yang lalu saya ketemu yang menarik nih.

Jadi ada satu web framework, front-end,

tapi nulisnya pakai Rust.

Menggunakan web assembly.

Mantap, karena bisa dibaca browser ya, web assembly.

Jadi kita pernah bahas juga tuh.

Jadi ini bahasanya Rust,

tapi dia bisa memanipulasi DOM.

Nah, ini ada seperti GSX-nya lah, gitu ya.

Ngomong-ngomong soal web assembly?

Yes.

Selesakan dulu deh yang ini, biar tahu.

Ya, itu aja. Jadi sekarang sudah mulai ada trend

web application atau web framework atau front-end framework,

tapi tidak menggunakan JavaScript. Ini salah satunya.

Jadi kalau yang nggak suka JavaScript,

pengen bikin web app, sekarang bisa ya?

Sekarang bisa. Ada itu juga, kalau nggak salah,

Elixir itu ada Phoenix Live View,

itu juga tidak menggunakan JavaScript.

Dia pakai bahasanya sendiri.

Ada banyak lah ya.

Sama satu lagi soal Wasm. Tahu nggak kalau sekarang WordPress

jalan di browser? Di Wasm.

Nah, ini link-nya nih.

Server ya?

Dia itu link-nya.

Oh, wassumlabs.dev ini.

Ya, jadi WordPress running di browser.

Jadi server-nya di browser.

Di refresh-nya inang.

Oh, oke. Jadi nggak pakai server gitu.

Nggak ada server PSP-nya?

Nggak ada server. Jadi PSP random-nya running sebagai Wasm.

Dipakainya kan buat ini, Mas. Buat eksperimen,

misalnya mau tak ditaktik, buat end-to-end testing,

atau menjelaskan lagi. Buat tutorial, misalkan workshop,

belajar bikin plugin buat WordPress.

Betul. Bisa install di Insta.

Meskipun saya nggak tahu soal komponen.

Kayaknya dia masih download Wasm yang gede ini.

Iya, langsung.

Nah, itu udah. Karena saya udah buka sebelumnya,

jadi karena Wasm-nya udah di-catch, jadi cepet.

Oh, menarik ya.

Di WordPress running di browser.

Nggak pakai server.

Oh, nggak pakai server. Bukan serverless ya.

No server ya.

No server.

Server-nya sedikit, gitu kan.

Ini no server ya.

Bukan no sequel.

Wasm.

Nah, ini nyambung sama topik gue yang lain lagi.

Apa? Yang paling bawah.

Ini kan tahun kemarin machine learning, segala macam AI.

Makin naik kan ya.

2023 ya pasti hampir bisa dipastikan

tambah banyak machine learning dan lain-lain.

Ternyata TensorFlow itu ada versi JavaScript-nya juga.

Jadi bisa running di browser juga.

Ada beberapa contohnya.

Udah lama kan ini?

Udah lama.

Nah, cuma dengan naiknya AI,

ini mungkin bisa tambah populer nggak ya?

Selama ini kayaknya jarang,

belum terlalu banyak yang dipakai,

walaupun nunia lumayan lama.

Yes, menurut saya yes.

Kenapa? Karena begini.

Itu terkait dengan topik saya dari sudut pandang.

Apa sih yang akan menarik di 2023?

Masih tetap...

Oke, kita nyambung semua ya.

Masih tetap namanya, kalau punya web,

tujuannya apa? Promosi, marketing.

Intinya, webnya kita dibaca orang.

Kalau webnya kita mau dibaca orang,

berarti intinya page view.

Kalau page view berarti harus bisa cepat.

Dan satu lagi adalah SEO, organic search.

Bisa muncul dari searching, kan?

Gimana caranya supaya konten kita bisa cepat.

Nah, ngomongin soal machine learning,

di 2023 ini kayaknya content generation

untuk salah satu teknik yang namanya semantic SEO,

di mana konten harus bisa dimengerti oleh bot

atau crawler, sesuai engine.

Jadi kontennya itu bahkan bisa ditulis dengan bot juga.

Jadi content generation pasti...

[inaudible]

Iya, jadi...

Jadi gpt, banyak kan sih sekarang, konten generation sudah pakai gpt3.

Jadi terus-terus, ada satu yang pernah disarankan,

itu namanya neuron writer.

Neuron writer dia web-based.

Untuk nulis di SEO.

Neuron writer dia bahasanya.

Jadi, bisa ngetarget dan generate dan recommendation dari gpt3.

Jadi, kalau teman-teman mau berniat

menaikkan kembali content for projects,

research mengenai bagaimana bisa konten recommendation

yang bagus untuk membantu SEO,

gpt3 waktunya, waktu yang tepat.

Aku bahkan belum tahu ini nih, semantic SEO.

NLP, Natural Language Processing.

Oh ya, NLP tahu.

Cuma implementasinya untuk SEO,

exactly gimana baru lihat di sini nih.

Oke, seru ya.

Oke, sebelum kita lanjut, kita mau liat-liat dulu.

Lihat komentar banyak.

Web3, ada yang tahu gak?

Gimana web3 kabarnya?

Sejujurnya, aku belum tahu.

Belum melihat maksudnya.

Kayaknya kita kalau berbual-bual, kapan sih?

Kalau menurut saya, web3 itu konsepnya decentralized ya.

Tetap decentralized.

Decentralized web artinya dengan,

gak ahli juga ya.

Jadi intinya sih, bayangin saya itu,

instead of punya satu server,

tetapi dia servernya ada di mana-mana.

Dan konten kita di-serve dari berbagai macam resource.

Jadi sharing resource.

Kayak WebSocket lah.

WebRTC.

Saya gak tahu gimana.

Namun height-nya tetap tinggi.

Saya lihat ya web3 height-nya tetap tinggi,

gak bakal habis ya di 2023.

Masa depan, gak ada yang tahu.

Tetapi dengan teknologi.

Dengan teknologi, wasm, segala macam,

dimana browser punya JavaScript Engine yang semakin kuat,

saya merasa itu kayak similar nanti dengan web3.

Jadi processing-nya itu sudah mulai di client daripada di server.

Maybe.

Cuma kan kalau tahun lalu kan kayak fokusnya lebih banyak,

malah gimmick-nya kayak cuman di cryptocurrency,

sama NFT collection yang monyet-monyetan itu kan.

Sementara akhir 2022 kemarin kan mulai banyak yang jatuh kan,

mulai banyak yang kena kasus scandal dan lain-lain.

Cuma pengennya sih,

kalau pengen harapannya tahun 2023 nih pengen lihat implementasi.

Kayak web3 kan ada kayak protokol blockchain,

dan yaitu tadi peer-to-peer,

implementasi yang lebih mungkin di luar gimmick-gimmick yang kemarin itu,

misalnya buat mungkin autentikasi atau integrative system yang terintegrasi,

apakah bisa buat misalnya untuk memperbaiki sistem pendudukan,

KPP-nya di blockchain, atau gimana.

Pengen lihat aja sih, itu kan betulnya kan web3 itu kayaknya luas banget kan,

walaupun aku sendiri belum beneran mulik moding-nya,

cuman kayak baru baca-baca prinsipnya doang,

itu kan nggak sekedar cryptocurrency atau collection NFT doang,

pengen lihat aja sih kayak gimana nih implementasinya yang lebih luas dan yang lebih seru.

Web3 itu datanya disimpan di mana ya? Masih kayak blockchain itu?

Kayaknya di masing-masing, kayak kalau peer-to-peer kan berarti masing-masing ada nggak sih?

Ada, tapi terbatas.

Jadi kalau misalkan mau yang gede, itu ada storage-nya sendiri.

Kalau nggak salah ya.

Kapan-kapan cari kejaring bintang tamu yang jago web3 ini kayaknya.

Setuju sih tadi sama yang disampaikan Eka,

karena web3 ini sudah di asosiasikan dengan blockchain, dengan coin-coin...

Cryptocurrency.

Oh iya, sorry.

Cryptocurrency.

Blockchain teknologinya.

Iya, sorry, salah. Maksudnya bitcoin.

Saya nyubut bitcoinnya, keluarnya bitcoin. Pokoknya yang coin-coinan.

Yang semangat habis itu sekarang ancur, turun dan lain-lain.

Tindors artis, artisnya nggak ngerti, tohnya ancur.

Iya. Jadi sebenarnya web3 ini kan teknologinya secara teknologi,

pengennya sih di 2023 mereka mendapatkan problem yang mau disolve.

Maksudnya ini cocok buat seperti tadi, mungkin simpan data kependudukan,

atau ada yang pakai buat pemilu kah, atau apa gitu ya.

Jadi ada dapat use case yang killer use case lah yang bisa digunakan

untuk blockchain terutama secara umum ya, bukan hanya web3.

Aundang Mas Imre untuk bahas PMRI 2024 dengan blockchain.

Wah, Imre seru bahas PMRI lu, wah.

Pake react masih lihat dokumentasi mulu, bagus lihat dokumentasi.

Jangan lihat step by step dulu ya.

Nah, cuma ini kenapa sih beta dokumentasi RIAJS ini yang beta nggak dirilis-rilis deh.

Udah berapa tahun, udah dari 2021 kayaknya malah, bukan 2022 lagi deh kayaknya.

Yang ini loh, yang beta RIAJS yang lebih bagus.

Begitu betanya keluar, versi baru muncul.

Kider-kideran aja terus.

Partial rehydration di reakt sudah ada belum sih?

Oh, di suspen segala macam, udah di 18 kan?

Dan partial rehydration, bukan reakt suspen.

Oh, belum tahu, belum ngecek.

Udah jarang kukir ya.

Okay, next.

Dart, apakah ada harapan di 2023?

Kayaknya belum.

Enggak-enggak, ini kita udah sempet mau ngundang yang expert di Flutter.

Tapi dia bilang agak suram kalau Dart web ya, jadi masih suram.

Di 2022, mudah-mudahan 2023 ada secerca harapan.

Lebih cerah. Nanti kita undang lagi, coba kita tanya lagi.

Ya, kalau udah lebih cerah mungkin dia mau diundang ya.

Karena selama ini dia nggak mau diundang.

Quick, ini apa nih Quick?

Apa bedanya dengan MetaFramework?

Quick itu MetaFramework, bukan?

Iya kan?

Enggak, dia kan punya banget.

Itu kan sebetulnya kayak istilah, ya, password aja kan.

Framework yang memanfaatkan, yang mengkompose, kayak meng-extend suatu framework.

Contohnya React atau Svelte.

Svelte itu masih seperti routing, routing sama strategy rendering, hydration, dan lain-lain.

Kalau ini dia framework sendiri ya?

Kalau Quick itu passwordnya apa dong?

Framework sendiri kan?

Iya, dia framework dia.

Ya, framework sendiri.

Walaupun sintaksinya mirip seperti React kan?

Hanya mirip kan? Bukan dia nggak pakai React kan?

Dia nggak pakai React.

Ya, jadi bedanya itu ya?

Bedanya adalah dia bikin sendiri.

Apa? Dia punya templating language sendiri ya?

Dia memiliki templating language sendiri, yang memang bentuknya mirip sama JSX gitu ya?

Ya.

Ya, jadi ini bukan MetaFramework ya?

Oke, next.

Berikutnya, yang baru, Boon.

Iya, tadi kita udah bahas juga, Boon.js.

Itu juga menarik.

Ini nggak ada...

Kayaknya itu Smiley.

Ini Unicode.

Kita kena belas Unicode ini, kapan ini?

Kita udah bahas Boon dengan UnicodeRange, berarti si si si si si...

Oh, kan tidak ya. Maksudnya unicode nya sendiri.

Apa tuh? Rust kenapa itu?

Ada yang bilang Rust tidak produktif.

Nah, ini pasti dari tweetnya Imbre ini kemarin nih.

Imbre ngomong apa? Coba dibuka tweetnya.

Katanya dia masih susah belajar Rust, ada salah satu konsep yang susah dipahami.

Terus ada yang balaskan, katanya udah belajar bahasa yang bikin lu produktif aja, jangan yang aneh-aneh lah.

Yang susah-susah, yang gampang aja. Maksudnya yang gampang, yang cepet bisa jadi produktif.

Mungkin mindset juga ya.

Kalau aku sih nggak bisa C++ dan nggak bisa Rust.

Jadi mesti nggak bisa ngasih jasmen.

Kalau orang yang udah, misalnya orang yang teranjur dari kuliah atau sejak lama udah bertahun-tahun nulis C++,

mungkin ya jadi apa?

Kalau harus nulis Rust itu kayak pindah, beda paradigmanya terlalu jauh.

Maksudnya kalau terlalu jauh ya apa? Wajar, jadi nggak produktif.

Tapi misalnya ada orang yang baru belajar sekarang nih, baru beneran banget mulai, dan emang dari awal belajarnya Rust.

Mungkin dia jadi lebih produktif.

Itu fenomena yang kayak gitu nggak sih?

Bisa jadi sih.

Yang jelas kalau dari C++ ke Rust atau ke Goleng, mungkin paradigmanya sedikit berbeda.

Saya nggak tahu Rust itu paradigmanya apa.

Tapi mungkin kalau Sintak harusnya paham ya.

Tapi ada beberapa konsep yang hanya ada di Rust, di bahasa lain nggak ada.

Mungkin itu yang susah dipahami.

Tapi kalau misalkan dari JavaScript ke Rust itu cukup jauh ya.

Kalau dari JavaScript ke JavaScript dulu kali ya.

Belajarin type dulu, baru.

Tapi kalau misalkan dari C++ yang udah static type gitu,

harusnya sih belajar Sintaksnya lebih cepat lah.

Tapi kalau konsep-konsepnya mungkin agak berbeda ya.

Nah itu kalau Sintaks bisa autocomplete lah.

Cuma kayak filsafat.

Filsafat apa sih maksudnya?

Filosofinya.

Filsafat sih filosofinya.

Ya yang bikin namanya filsafat.

Oke, komentar berikutnya.

Apakah nanti ada OS yang jalan di browser?

Kayaknya udah ada ya?

Ada, namanya Brow6.

Unix sudah jalan.

Ada yang sudah bisa menjalankan Windows 95 atau 98 di browser?

Yep, pakai Wasm.

Pakai Wasm, betul.

Ada yang sudah bisa menjalankan Firm di browser.

Ada yang sudah bisa menjalankan Doom.

Doom yang jaman dulu ya.

Oh, Doom.

Doom yang dulu Quick juga ada.

Kalau pertanyaan selanjutnya di 2023 Flash balik lagi nggak?

Gila, itu memateri buat edisi April Mock, episode April Mock kali ya.

Flash comeback gitu ya.

Di 2023 ada kasaran teknologi bahasa pemograman apa yang akan naik down untuk web developer?

TypeScript.

TypeScript itu udah seperti JavaScript ASI 2.

Nah, kita bahas state of JS nih.

Kalau udah keluar hasilnya mungkin bisa jadi bahan ya, persimbangan.

Tapi saran saya, kalau mau belajar TypeScript, beneran pakai TypeSafe ya.

Jangan pakai Any, jangan semua Any.

Sama aja, nggak peduli nggak usah pakai TypeScript.

Gak apa-apa, startin dulu aja, ganti .js jadi .ts.

Karena kan semua yang sintaks jangka pasir kan valid kan.

Setidaknya itu dulu, sedikit-sedikit belajar.

Karena kalau langsung terjun ke situ apalagi dari codebase yang udah ada, ya ribet kan.

Any dan Object.

Terus sebetulnya pesan error itu membantu, kan pasti dari pertama kita, pertama itu tadi rename .js jadi .ts.

Terus jadi merah semua. Terus jadi Any-Any tadi.

Nah itu satu persatu ya, sambil kita nge-googling atau nge-search code errornya, itu kan kita pelan-pelan belajar.

Dan cara nge-benerinya gimana?

Mungkin kita random, kopas, takeover flow ya kan, sampai merahnya ilang.

Nah cuma dari situ, ya sempatkan juga buat belajar, ya mempelajari kenapa error dan itu kenapa jadi betul.

Itu lumayan manjur sih, buat belajar kalau mau belajar TypeScript.

Ya, TypeScript juga udah kayak apa ya, udah no-brainer tadi ya sebutannya.

Karena hampir semua frameworks sudah mendukung.

Jadi kalau misalkan teman-teman mau pake svel, terus bisa pake flag, script pasti lang sama dengan ts, udah jadi TypeScript.

Kemudian react juga bisa.

Kalau dulu kan harus, oh harus install kompilernya dulu, oh harus ini, harus itu.

Kalau sekarang kayaknya udah di-support semuanya secara langsung gitu ya.

Jadi kayaknya TypeScript akan semakin merajai.

Gimana gimana?

Nah itu tadi, ini kan pertanyaannya soal naikdaun.

Coba buka yang takeover flow survey itu deh.

Oh iya, mana kok hilang?

Tadi udah dibuka padahal.

Saya tutup.

Sebentar, sebentar.

Takeover flow ya.

Nah kalau naikdaun kan sumbernya bisa banyak tuh.

Bisa lihat di web almanak yang waktu itu udah kita bahas.

Itu kan, walaupun itu hasil dari tahun 2022, itu kan merefleksikan ke depannya arahnya ke mana pertama.

Terus ada juga ini nih, hasil survey takeover flow.

Yang udah baca masih bisa ya.

Itu juga belum banyak.

Baru sekilas sih, baru sekilas.

Sebentar, saya share dulu.

Ya ini demografinya juga banyak yang isi dari Amerika ya.

India dan Jerman. Indonesia kayaknya nggak terlalu banyak yang isi.

Nggak ada yang isi sampai nggak masuk.

Mungkin ada tapi nggak sebanyak yang lain.

Nah ini programming scripting and markup language in 2022 itu yang teratas adalah teknologi web, JavaScript, HTML, CSS dan database.

Type script nomor 5.

Type script sama JavaScript dipisah ya.

Penariknya di survey itu.

Nomor di bawah C++.

Di atas ada Java, ada Python yang cukup populer di rana data science dan machine learning kan.

Python naik lagi karena banyak di machine learning kan ya.

Betul, betul.

Dan bahasa-bahasa baru juga naik tuh. Ada Golang, ada Rust, Kotlin, Dart.

Minta kita omongin juga.

PSP mana, nyempil dimana?

PSP di sini, C++.

Di atas.

Oh, oh iya.

Bahkan C# masih banyak yang menggunakan.

Mungkin karena yang isi juga kalangan-kalangan korporasi yang menggunakan .NET kali ya.

Jadi banyak juga.

Ini survey ya.

Iya, ini survey. Jadi jangan ditelan mentah-mentah.

Subjektif. Suka-suka yang menyempatkan diri untuk mengisi survey itu.

Yang menyempatkan diri untuk mengisi, betul.

Oke.

Kalau mau berdasarkan YouTube, penggunaan web angmanak.

Ya, web angmanak lebih objektif.

Oke, pertanyaan berikutnya.

Saya biasanya menggunakan OJS Express React cuma di sekolah, dan di Bootcamp menggunakan Laravel.

Apakah mungkin belajar dua stack tersebut?

Mungkin.

Bisa saling melangkapi kan sebenarnya, kan?

Jadi misalkan back-endnya Laravel, front-endnya pakai React.

Tapi yang jelas harus, kalau Laravel ya, kan MVC ya, model view controller kan.

Kayak controllernya pakai PHP, jadi ya harus belajar PHP.

Atau ya kalau mau tulis, ya bisa juga pakai jalanin Laravel di browser.

Kan bisa PHP, bisa di Transpa, jadi JavaScript.

Ya tetap.

Nggak tahu kalau Laravel bisa ya.

Tetap belajar nulis.

Nah, kalau view kan orang-orang...

Gimana, gimana? Lanjut, lanjut.

The view-nya kan kalau Laravel bawaannya adalah blade.

Blade itu temp-lacing language dia sendiri.

Cuma sekarang enak kalau Laravel memudahkan front-end yang JavaScript-based.

Ada tuh inertia, inertia JF.

Jadi kita bisa pilih mau pakai React, pakai SQL, pakai view untuk front-endnya.

Dengan Laravel di back-end sama logiknya.

Cuma balik ke itu tadi sih, tetap kalau buat controller dan service-nya ya pakai PHP.

Jadi pastikan belajar PHP juga.

Atau kalau alternatif berikutnya adalah karena udah belajar express,

atau Node.js gitu ya, coba cari framework yang mirip-mirip sama Laravel di Node.js.

Ada namanya Adonis.

Oh iya, betul. MVC juga kan tuh ya?

Iya, mirip kan.

Gak apa-apa, sebenarnya oke-oke aja belajar dua bahasa.

Belajar JavaScript, belajar PHP di sisi back-end, dan itu bagus.

Memperkaya ini kita juga kan.

Iya, nilai lebih. Jadi memperluas.

Memperluas.

Jadi nggak ada masalah belajar banyak bahasa atau teknologi juga nggak ada masalah.

Tips saya, kuatin fundamental juga.

Sama kalau belajar bahasa atau framework tertentu, belajar juga filosofinya.

Jadi kalau saat pindah ke yang lain itu lebih mudah.

Ya, karena cara kerjanya sudah tahu.

Betul, setuju-setuju.

Oke, ini Python yang jalan di web.

Gimana kabarnya, kabarnya baik-baik saja.

Python jalan di web.

Jalan di browser atau jalan di web maksudnya?

Jalan di browser, jadi dia client-side-nya pakai Python.

Browser?

Iya, berhubung saya selama ini hari tidak menggunakan Python.

Client-side atau browser?

Iya, client-side. Jadi dia kayak Flash.

Ada loading-nya dulu, seret, abis itu dia loading.

Oh, berarti punya runtime yang dulu yang di-install oleh...

Iya, betul.

Kayak Flash gitu ya?

Iya, betul.

Sempet saya cobain, tapi karena saya nggak ngikutin Python sehari-hari,

jadi nggak tahu kabarnya gimana.

Kalau kita bertiga nggak tahu, artinya belum terlalu high.

Kuasar, ada yang tahu kuasar?

Belum tahu kok, Cik. Lihat nama doang.

Lihat nama doang. Ini kalau nggak salah ya, tolong dikoreksi kalau salah ya.

Ini ekosistemnya VDS bukan ya?

Kuasar, kita cari aja ntar. Kuasar itu apa sih?

Coba skena, cercing coba kuasar, C.

Dia bisa generate aplikasi mobile.

Untuk Defqon and Fremol dengan Vue.js, betul.

Vue.js benar ya. Ada PWA, ada SSR, ada mobile, ada desktop.

Oh, elektron.

Elektron?

Wah, lengkap ini.

Kalau bahasa indonesia, istilahnya treating by the kitchen sink ya.

Masa depannya gimana? Masa depannya oke.

Nggak tahu, kalau masa depannya.

Masa depannya ya kita nggak tahu, tapi ya posibel aja.

Kalau emang coba dipakai dan hasilnya cukup memuaskan untuk kebutuhan.

Atau untuk use case teman-temannya silahkan dipakai.

Cuma aku jarang lihat marketnya ya.

Keliatannya mereka promosinya.

Punya market sendiri kayaknya.

Iya, yang mau saya sampaikan adalah jangan sampai teman-teman hanya,

"Oh, kayaknya ini bisa solving problem saya dengan kuasar, misalkan itu dengan teknologi lain."

Tapi karena nggak popular, nggak jadi dipakai.

Gak mesti popular juga kan. Apa yang kita pahami, apa yang kita pengen belajar.

Tunggu popular dulu deh, baru kita belajar.

Ya jangan, gitu juga. Sesuai kebutuhan aja.

Tapi mungkin dari segi pertanyaan jawab resolusi di sektor flow,

itu mungkin popularitas lebih membantu situinya kali ya.

Oh iya, betul. Komunitas lebih tepatnya ya.

Komunitas.

Sama juga kalau makin populer, makin banyak yang lagi-lagi kayak ekosistem lah.

Makin membantu. Nah kalau kurang populer, harus emrol, harus bikin sendiri semua dari awal.

Ya itu konsekuensi sih.

Tapi kalau emang punya keunggulan yang kuat banget, ya tetap why not.

Selama solving problem dan nggak ada masalah dengan performa, user oke-oke aja, silahkan.

Oke, berikutnya.

Nah ini juga menarik nih.

Ada yang udah ngulik nih kayaknya ya.

Secepat-cepat nyeras untuk urusan dom masih belum stabil di wasm.

Itu bener nggak sih? Singkatnya, wasm tidak selamanya cepat untuk urusan dom.

Ini juga sempet dibahas di salah satu video yang saya lihat yang merekomendasikan Leptos.

Dia menggunakan benchmark dengan React.

Membandingkan si Leptos ini dengan React.

Dan hasilnya, ya cepat gitu.

Jadi memang ada sedikit delay kayak startup timelah.

Kayak semacam flashnya loading dulu untuk wasmnya masuk ke browser.

Seperti contohnya tadi WordPress tadi.

Tapi setelah itu, dia cepat.

Dan proses loadingnya itu masih dibandingkan dengan React tadi yang di video itu.

Masih lebih cepat si Leptos ini.

Jadi kayaknya problem ini sudah mulai ada solusinya.

Jadi bisa lebih cepat.

Katanya begitu, tapi saya sendiri belum coba ya.

Oke, next, bahas PWA. Ini juga menarik nih topiknya ya.

Saya bisa.

Nah ini mungkin di rencanain ya.

Apa yang mau dibahas di PWA?

Oh, komponen-komponennya ya.

Capability, Capability.

Ya, service worker lah yang paling menarik ya.

Service worker.

Oh ya, ini memang ada benarnya ya.

Hype membantu cari kerja ya.

So, better.

Winter kan di Northern Hemisphere.

Kalau di South itu lagi summer.

Winter ini, winter apa?

Winter is coming.

Oh gitu maksudnya.

Kiasan, kiasan.

Kiasan ya.

Tapi kan istilahnya enggak semua, tergantung ya.

Tergantung jenis pekerjaan dan tergantung role yang mau kita apply juga kan.

Mungkin sekarang udah lebih mainstream ya.

Misalkan perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia kebanyakan pakai apagoleng.

Tapi di sisi yang lain kayaknya kalau misalkan untuk tim data gitu kan

masih pakai python, masih pakai skala kalau nggak salah kan.

Kalau menurut saya, inside of benar-benar jago banget di frame waktu tertentu

atau bisa programming language tertentu, coba jadi problem solver.

Itu lebih generalis kan tapi bisa jadi problem solver.

Jadi meskipun contohnya, apa namanya,

kalau secara skill, saya nggak ahli di RAS, nggak ahli di Golang, terbatas limit saya.

Hanya bisa di JavaScript, CSS, HTML, PHP, dan berbagai macam programming language yang kecil-kecil.

Maksudnya yang sedikit-sedikit aja taunya.

Tetapi jadi problem solver itu kan soft skill ya.

Jadi kita lihat ada problemnya dan kita bisa pecahkan, kita bisa pilah-pilah.

Kemudian jadikan sebuah solusi yang mungkin sebagian solusinya perlu pakai X,

yang lain perlu pakai Y, yang penting goal-nya tercapai.

Jadi coba...

- Soft skill itu penting tuh.

- Apa? Next-nya bahasa soft skill nih.

- Soft skill.

- Iya, kapan-kapan.

Sama kayak mengkomunikasikan ya, kita punya ekspertis.

Misalnya kayak aku bahkan nggak bisa RAS, nggak bisa python, nggak bisa C++,

cuma lebih ke web dev aja, pure web dev dan lebih ke strong end.

Cuma kita mesti bisa mengkomunikasikan ke teman sub-team, ke product lead,

ke semua orang yang kerja sama kita kan mereka semua punya goal, punya metric.

Kayak orang marketing lah, orang growth, semua masing-masing punya tujuan.

Nah kita mengkomunikasikan dari sisi teknologi yang bagian kita nih,

misalnya pilihannya apa aja, trade-off-nya apa, dengan keterbatasan waktu dan tenaga yang ada,

apa yang bisa bikin tim kita atau tempat kerja kita mencapai goal-nya.

Itu kan, kalau kita bisa mengkomunikasikan itu dengan baik,

kita pasti punya nilai tambahnya, 3G+ bahasa atau stack-nya itu penting banget kalau buat kerja.

Betul-betul. Lagi pula sekarang kan secara teknologi, infrastruktur dan lain-lain

cenderung udah lebih murah dalam tanda kutip ya.

Jadi, kalaupun misalkan di satu perusahaan ada 2, 3 sampai 10 teknologi yang berbeda dipakai,

masing-masing di visi, itu udah banyak kan?

Udah ada microservice, masing-masing udah pegang database sendiri,

bahasa penggugamannya bisa beda-beda, ada micro front-end yang masing-masing bisa pakai framework-nya sendiri juga.

Jadi sebenarnya, ya dibilang membantu, ya jelas membantu untuk misalkan cari kerja dari loongan pekerjaan yang paling banyak.

Tapi, di sisi yang lain masih ada celah-celah yang bisa, kita misalkan suka banget sama satu bahasa tapi jarang digunakan.

Kalau misalkan kita benar-benar jago di sana, atau cuman kita sendiri yang bisa, orang lain nggak bisa,

begitu ada loongan, ya yang diterima kan kita doang, yang lain nggak ada yang apply kan.

Jadi, antara istilahnya itu kalau di dunia startup, apakah kalian mau jadi ikan besar di kolam yang besar,

atau menjadi ikan besar di kolam yang kecil gitu ya?

Ya tinggal pilih aja gimana strateginya.

Jadi ikan fugu.

Jadi ikan fugu.

Yang bisa membesar dan mengecil gitu ya?

Ya juga ya.

-Ikan buntal apa? -Ikan buntal.

Saya kalau gelabar kerja nggak pernah, maksudnya memang tetap sih ditulis apa aja achievement,

cuman kalau setiap kali interview itu saya nggak pernah menonjolkan saya bisa apa, bisa apa, bisa apa.

Saya bahkan cuman ditanya, maksudnya kalau kayak bincang-bincangnya itu,

lebih ke arah fast and how far untuk menciptakan problem solving.

Jadi solving a problem yang mereka buat itu, kita bisa ceritakan, kita pilah-pila.

Bahkan kalau nggak salah waktu interview GDI juga saya, interview teknikalnya itu sebagai problem solver.

Jadi dikasih sebuah situs, ayo ceritakan ini performanya bagaimana, apa aja yang bisa.

Pertanyaan simple, apa yang bisa kamu kasih rekomendasi terhadap seorang normal user

untuk membuat normal user ya, bukan developer ya, normal user untuk membuat website ini lebih cepat.

-Normal user? Oh user. -Normal user untuk membuat.

Jadi usahakan bahwa...

Misalnya kayak pemilik situs yang normal user.

-User WordPress-nya ya, admin WordPress-nya. -Iya, betul admin WordPress.

Waktu itu situsnya menggunakan WordPress dia setup dan saya langsung dikasih interview itu,

apa yang bisa kamu kasih tahu ke site owner, bagaimana untuk membuat situs ini lebih cepat.

Dan ternyata red flag-nya itu adalah kalau langsung kasih tahu install plugin ini, install plugin itu, itu red flag.

Bukan. Jadi harus kita kasih tahu.

-Iya, kita kasih tahu. Kita harus lihat dulu, buka situsnya, apa yang bagian lambat.

Yang pertama saya kasih isunya itu adalah dari sisi konten, saya bilang.

Ini image-nya kegedean, ini font-nya terlalu banyak, ayo kita kecilin font-nya.

Terus dia pakai themes yang ada font-awesome waktu itu.

Saya tanya, untuk saya lihat ada pakai font-awesome, terus kemudian apakah semua icon-icon itu dipakai?

Kalau nggak ada yang dipakai, ayo kita hapus saja.

Jadi saya kayak guiding, saya lupa orang Google-nya, itu guiding dia.

Ayo hapus ini, hapus itu, ayo yang nggak perlu kita singkirkan, dan image-image-nya kita kecilkan.

Dan saya tidak singgung sama sekali tentang cage, tidak singgung sama sekali dengan minify,

tidak singgung sama sekali pakai plugin-plugin apapun.

Dan ternyata lulus. Ternyata yang dimau itu, bukan install plugin ini, install plugin itu.

Jadi problem solver itu dari sisi ekspertis yang lebih dalam lagi, bukan sekedar instant.

Nah itu, banyak kan interview yang saya ketemu itu begitu.

Jadi kita bagaimana menanam di sisinya lebih dalam.

Ya benar, benar. Mungkin kalau interview memang dia lebih menekankan ke arah problem solving dan lain-lain.

Gimana mindset kita pada saat ketemu masalah, apa yang kita lakukan biasanya.

Tapi sebelum itu, kita harus menguasai bahasanya.

Yang misalkan dibuka longan toko lang, dibuka longan PHP, langsung dihadapkan dengan hacker rank, lead code, atau apa.

Jadi untuk menuju ke sana, tetap harus menguasai bahasa itu.

Dan salah satu indikator, kalau kita memang tujuannya untuk mencari kerja di sebuah perusahaan,

ya kita cari tahu dia menggunakan bahasa apa.

Jadi bukan nggak penting, sama pentingnya, tapi menguasai sebuah teknologi sama pentingnya dengan problem solving.

Karena kita nggak akan diinterview kalau kita nggak lolos tes coding dulu.

Kita tidak akan bisa memperlihatkan skill problem solving kita sebelum kita lulus coding interview dulu.

Itu masing-masing industri punya pattern sendiri juga, jadi harus cek dulu.

Nggak bisa pukul rata bahasa pengrebraman yang hype tahun 2023 itu.

Di startup, di corporation, di bank, atau institusi keuangan. Pasti kan polanya beda banget.

Bahkan juga ada beberapa perusahaan yang nggak peduli kamu bisa bahasa apa.

Dan juga kayak pertanyaan-pertanyaan diagnostik, misalkan coba bikin ini.

Contohnya bubble sort, tapi menggunakan bahasa yang kamu bisa. Terserah bahasanya apa.

Itu ada juga. Meskipun nggak semua, tapi ada.

Jadi nggak usah terlalu khawatir. Intinya adalah saya pengen nyampaikan bahwa jangan belajar hanya gara-gara hype.

Karena setahun berapa lama sih bertahan, setahun dua tahun jangan-jangan hilang hype-nya, terus kita mau bisa apa.

Karena di event juga sempat bilang fundamental jauh lebih penting daripada teknologi atau framework atau bahasa atau apa.

Jadi dalam banget.

Jadi bahas, iya. Awal tahun.

Karena 2023 itu waktu yang tepat untuk berkari di bidang web.

Kenapa, kenapa? Berikan alasan.

Karena web itu luas dan web itu adalah komunitas terbesar di dunia.

Iya benar-benar. Di GDI aja yang ada jurusannya itu cuma web ya?

Iya, yang lain.

Iya, cloud juga ada.

Oh iya, cloud juga gede.

Yang info, yang apa gitu pokoknya.

Tapi bedanya cloud itu, kalau GDI cloud itu khusus untuk produk Google Cloud yang dipecah.

Kalau web, kalau web kan bukan.

Ada satu lagi.

Hari, bahas teknologi dibalik web-web besar kayak Tokopedia, Blibli, atau web pemerintah yang sering kena di-face.

Aduh, jangan deh. Nanti kita digrebek, ada tukang basuh lewat.

Cuma kalau atau web besar kayak Tokopedia atau lainnya, mungkin kapan-kapan kita invite orang yang kerja di sana ya?

Ya, bisa sih invite orangnya. Kalau ada yang kenal ya, mohon direferensikan nanti kita undang.

Itu juga kalau dia mau, undang-undang sih mau ya.

Makanya teman-teman, like, subscribe, sebarin.

Sebarin ke teman-teman lain biar makin rame.

Jadi kalau misalkan ditanya, kita mau undang ini nih dari Tokopedia atau Blibli, Bukalapak.

Berapa viewer kalian ya? Kita bisa dengan bangga bilang, yang nonton ada 10 ribu, pasti dia mau.

Subscribe, subscribe.

Undang Mas Eko. Mas Eko ini Blibli ya kalau salah ya?

Yang punya apa? Yang content creator juga ya?

Programmer zaman now.

Boleh, boleh, nanti kita cari topik dan cari orang yang tepat.

Mas Riza juga content creator.

Oh enggak, saya itu aja.

Tadi topiknya web besar, corporate ya, e-commerce startup.

E-commerce startup, iya.

Oh, ada satu pertanyaan lagi. Terakhir ya, udah satu jam lebih kita, terakhir ya.

Saya dulu apply di fullstack, cuma pertanyaan menjurus ke sistem arsitek.

Contoh, bagaimana mengatasi postingan web semacam IG?

Seandainya pakai cache itu berapa lama?

Hmm.

Iya, makes sense ya, totokan casting strategi bagian dari fullstack.

Hal yang umum ya, ditanyakan yang berhubungan dengan arsitek ya, arsitektur.

Ya, kita sebagai developer juga harus tahu dong arsitektur aplikasi yang kita develop saat ini itu gimana gitu kan?

Enggak, mesti apply sebagai sistem arsitek dulu kan?

Apalagi kalau pengunjungnya banyak.

Pengunjungnya banyak kayak IG, kalau nggak casting ya jebul lah.

Iya, iya, iya.

Ini umum ya, ini pertanyaan umum yang ditanyakan.

Apakah hal yang wajar atau nggak ya?

Wajar ya.

Iya, maksudnya kalau menurut aku sih wajar aja.

Iya kan nanti seorang developer fullstack, bagian dari kerjaannya juga menentukan itu kan?

Hmm, iya, iya.

Kalau opini dari saya adalah kan interview itu kan proses penilaian kan?

Penilaian seseorang kan?

Yang mungkin dia ingin menilai kita itu sejauh mana sampai hal yang tidak kita tahu.

Oh, level dia segini nih gitu.

Oh, mungkin dia bisa jadi senior engineer nih karena dia tahu arsitektur.

Mungkin gitu.

Oh, dia nggak belum ngerti arsitektur, berarti dia junior aja gitu.

Jadi bisa diarahkan kesana gitu.

Kalau pun misalkan ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab ya, jawab aja jujur ya.

Saya belum tahu jawabannya seperti apa.

Jadi dia bisa menilai bahwa oh, ini dia ternyata belum cukup ekspertis untuk jadi senior engineer atau jadi senior arsitektur atau apa gitu.

Mungkin gitu sih kalau dari saya.

Bisa jadi, iya.

Setuju, setuju.

Oke, kalau gitu kita udahan dulu kali ya.

Sejam lebih.

Sudah 15 menit lewat.

Jadi itu aja, bukan prediksi ya, itu beberapa teknologi yang kita akan lirik di 2023.

Dan mudah-mudahan nanti di akhir 2023 kita bisa review ya.

Apakah yang kita suka, yang kita minati, itu berjaya atau berkembang.

Atau malah digantiin.

Atau jangan-jangan tiba-tiba ada sesuatu yang baru di tengah-tengah yang menggantikan semua itu.

Siapa tahu kan, kita nggak tahu ya.

Jadi, sekian dulu aja.

Kalo 23 mau cari kerja, nanti kita tanya lagi, udah dapet kerja atau belum?

Oh iya, bener.

Ini mudah-mudahan semua rejekinya lancar ya tahun ini.

Dapat kerjaan semuanya, naik gaji, naik jabatan, dan lain-lain sesuai keinginan.

Oke, kalau gitu kita pamit.

Kalau ada yang mau follow-follow, silahkan follow saya di Twitter.

LisaFami22, Eka di ekafori, dan ifancris.com.

Oke, sampai ketemu lagi minggu depan.

InsyaAllah kita akan bahas topik yang berbeda di episode ke-1.

Sampai ketemu lagi, selamat malam, da-dah.

Bentar, bennernya belum?

Kelamaan.

Ada kan bennernya?

Kok gak ada bennernya?

Oh, ini dia.

Goodbye.

Da.

Oke.

Eka mana?

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. * Gelombang baru frontend framework: qwik.builder.io, astro.build, enhance.dev dkk * Berbagai runtime baru sebagai alternatif node: deno.land, bun.sh * Rust sebagai bahasa untuk membangun tools JavaScript * Rome * Deno * Turbopack * Wasm: Web framework dengan Rust dan Wasm: Leptos (https://github.com/gbj/leptos) * Bun pakai Ziglang * Semantic SEO, Content reco Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .