Lompat ke konten utama
EP 21

Ngobrolin Belajar

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini kedatangan bintang tamu dari kanal Web Programming UNPAS, dan pembahasannya berangkat dari satu pertanyaan penonton yang sudah lama menunggu: sudah belajar HTML dan CSS, lalu harus ke mana? Sebelum menjawab, keempatnya bergantian menceritakan jalur masing-masing — dari desainer grafis yang jatuh cinta pada antarmuka yang bisa diklik, dari kuliah berbasis produk Microsoft yang lalu berbelok ke open source lewat kelompok studi Linux, dan dari menyunting profil band di Myspace dengan CSS sambil menyimpan artikel ke flashdisk di warnet. Saran teknisnya konsisten: mulai dari fundamental, dan sebelum itu pahami dulu gambaran besar cara web bekerja — apa itu request dan response, apa itu domain, hosting, dan server. Baru setelah itu masuk ke HTML, CSS, dan seterusnya. Framework tidak dianggap musuh; justru dipakai sebagai pintu masuk, karena penasaran pada apa yang terjadi di baliknya sering membawa kita ke fundamental yang belum dikuasai. Cerita paling berkesan datang dari pengalaman terjebak selama tiga bulan mencoba memahami sebuah framework PHP dan tetap tidak mengerti. Framework itu akhirnya ditinggalkan, diganti delapan bulan mempelajari pemrograman berorientasi objek dan pola MVC dari nol. Ketika dokumentasinya dibuka lagi, semuanya terang — yang dikira fitur khusus framework itu ternyata fitur bahasanya sendiri. Dari sana lahir aturan sederhananya: kalau sudah baca dokumentasi dan tetap buntu, berarti ada fundamental yang terlewat. Ditutup dengan pembahasan tutorial hell dan tanda bahwa kita benar-benar sudah bisa.

Poin-poin Utama

  • •Sebelum HTML dan CSS, pahami dulu gambaran besar cara web bekerja: apa itu request dan response, domain, hosting, dan server — supaya tahu kenapa sebuah alamat bisa memunculkan halaman
  • •Kalau sudah membaca dokumentasi dan tetap buntu, itu tanda ada fundamental yang terlewat: tinggalkan dulu framework-nya, pelajari dasarnya, lalu kembali — dokumentasinya akan terang dengan sendirinya
  • •Framework bukan musuh fundamental; justru rasa penasaran pada apa yang terjadi di baliknya sering menjadi jalan masuk untuk mempelajarinya, asal tidak berhenti sebagai pemakai buta
  • •Menyelesaikan sebuah tutorial bukan akhir belajar melainkan permulaannya — ukurannya adalah bisa membuat ulang tanpa menonton lagi, lalu memodifikasinya jadi sesuatu yang berbeda
  • •Cara mengobati bosan pada fundamental: pakai dulu komponen jadi yang menarik, lalu bongkar kodenya dan buat versi sendiri dari nol
  • •Fundamental seperti pola MVC berlaku lintas bahasa dan framework, jadi yang dipelajari sekali terpakai di banyak tempat
  • •Kontribusi adalah cara paling mudah mendapatkan kasus nyata untuk dilatih — merawat situs kampus, ikut proyek open source, atau mengambil pekerjaan kecil berbayar

Hai, hai, hai, selamat malam, selamat malam, teman-teman.

Selamat hari Selasa, seperti biasa ketemu lagi,

kalau hari Selasa malam ketemu lagi sama saya Riza, ada Eka dan juga ada Ivan.

Jadi setiap Selasa malam, waktunya ngobrolin web.

Malam hari ini spesial ya, karena kita nggak bertiga,

tapi ada tambahan satu lagi nih, bintang tamu spesial.

-Tamu istimewa. -Istimewa.

Ini pertama kali ya, pertama kali dalam sejarah kita.

Eh, nggak.

Sebelumnya kan sudah dua kali sebelumnya.

Iya, pernah ada dari tim Android, ada Mas Danang juga dari Google.

Jadi ini berarti episode ketiga yang ada bintang tamunya.

-Iya. -Iya.

Jadi, ya langsung aja ya kita undang, karena semua udah kenal, udah ada di poster juga.

Gila, komentar udah penuh gitu.

-Halo, Panika. -Halo, Panika.

-Halo, Panika. -Selamat datang.

Halo, semuanya. Terima kasih sudah diundang kesini.

Terima kasih banyak nih, udah mampir-mampir nih di sini nih, di todong mampir.

-Komentarnya langsung banyak tuh. -Iya, ramai ya.

Biasanya cuma satu dua, ini sepuluh.

Ya kita nggak usah minta Pak Adika kenalin ya, karena pasti udah kenal semua kan.

Saya pengen tahu ini aja deh, apa kegiatan akhir-akhir ini yang baru apa?

Masih ngajar, kak? Masih bikin konten, kak? Atau ada kegiatan-kegiatan baru?

Ya, kalau kegiatan sih masih sama ya, Mas Riza, teman-teman yang ngajar sehari-hari ngajar.

Kebetulan semester ini ngajarnya cukup banyak karena kita di kampus ada dosen yang...

Ya, perang dosennya gitu ya, jadi istilahnya nasibnya nambah gitu sih ngajar ya.

Jadinya lumayan padat, udah gitu sekarang udah full ke kampus.

Oh, full udah offline lagi ya?

Ya, offline lagi baru keingat. Baru ingat lagi rasanya commute itu lumayan ya ternyata.

Lihat transkrip lengkap (990 segmen lagi)

-WFU, WFU. -Ya, WFU.

-Duruh juga nih, topik yang lagi sangat ya. -Bukan, ini WFK.

-WFK. -WFK dari kampus.

-WFK dari kampus. -WFC.

Ternyata ilang 2 jam setengah sampai 3 jam ya, ngajar 2 jam setengah sampai 3 jam.

Kebetulan kan dapet ngajarnya pergi pas padat, pulang pas padat juga gitu.

Aduh, lumayan.

Ah, 2 jam, 3 jam itu di Bandung, Macet ya?

Macet, Macet. Sekarang Bandung mah udah mirip Jakarta lah kayak Macet.

-Jalannya searah semua lagi ya? Kayaknya banyak. -Ya, bener. Banyak yang searahnya.

Tapi kebetulan ngajarnya 5 kelas semuanya sama mata kuliah. Jadi satu angkatan saya ngajar satu mata kuliah gitu.

-Mata kuliah apa? Web programming bukan? -Web programming.

-Web programming, oke. -Mengulang hal yang sama 3 kali dalam sehari.

Oh iya. Itu gimana tuh mengenasi kebosanan. Kan cape ya, maksudnya bosan lah ya.

Ngajarnya sama gitu. Hal yang sama.

-Dan bertahun-tahun gitu ya? -Bertahun-tahun, betul.

Diulang-ulang terus gitu setiap semester gitu kan.

Iya, ya didikmati aja sih, Mas Riza. Saya nganggapnya kayak orang stand up comedy kali ya.

Jadi ada overmix sama stand up special gitu.

Jadi biasanya kelas-kelas pertama tuh jadi kayak eksperimen gitu.

Mau approach kelasnya gimana, mau ngasih jokes apa. Matangnya nanti di kelas kelima.

Iya, berarti yang paling enak yang dapet 4-5 gitu ya.

5 mulai cape kali. 3-4 sih kayaknya pick-nya ya.

-3-4 enak, iya betul. -3-4.

Nah berarti temen-temen yang kebetulan mahasiswanya Dika tuh

-kalau pilih kelas, pilih kelas yang C atau D lah. -Belakangan.

Tapi jangan salah, yang awal-awal itu justru anggilnya besar. Karena jokes-jokes yang bagus-bagus itu

-dicoba dulu. -hasil eksperimen dari situ pertama.

Itu selain dinikmati, ada sesuatu yang mungkin di satu kelas dibawain secara berbeda atau sama aja semua?

Apa nanti kebentuk di pertemuan-pertemuan keberapa gitu ya, bahwa perilaku kelas itu ternyata

beda-beda gitu cara nanganinnya. Ada yang aktif, jadi kitanya lebih rendah effortnya gitu ya.

Mereka gak usah dimintapun nanya sendiri, ada yang pasif gitu, itu harus extra gitu.

Jadi ya sebenarnya meskipun materinya sama, kadang-kadang approach kita beda gitu.

Karena energi yang mereka, kan kita semangat ngajar itu dapat energi dari mereka gitu kan.

Kayak perform ya, stand up beneran itu.

-Jadi menyesuaikan dengan kondisi di kelas gitu ya? -Iya betul.

-Jadi kayak progressif lah, kalau bahasa yang progressif. -Progressif bener-bener.

-Progressive enhancement. -Progressive enhancement.

Oke, oke. Nah kita malam ini mau ngobrolin, ngobrol santai aja, ngobrolin tentang itu ya,

jalur, alur belajar. Karena ada pertanyaan dari salah satu pendengar atau penonton kita tuh.

-Ini kayaknya udah tanya dari beberapa bulan lalu ya? -Iya.

Ada yang bingung, dia udah belajar HTML, CSS katanya. Terus mau belajar apa lagi nih?

Kayak gak ada guide yang pasti, jadi muter-muter, balik-balik, gak jelas gitu pelajarannya.

Mungkin kita akan belajar bagaimana cara belajar web di malam hari ini ya, salah satu topiknya.

Dan pas banget karena Pak Dika juga selain ngajar di kelas yang tidak bisa diakses oleh semua orang,

juga dengan Sukarela membuat sebuah channel YouTube yang isinya adalah materi-materi belajar,

terutama tentang web pastinya ya. Programming web. Jadi ya itulah sumber belajar.

Kalau jawaban singkatnya ya, silahkan ke YouTube-nya Pak Dika.

-Web Programming web. -Uda lengkap semua gitu kan.

Itu kalau boleh tahu, singkat aja itu aspirasi mau bikin channel YouTube WPU itu gimana sih ceritanya apa?

Nggak mungkin kan bangun tidur, ah bikin channel YouTube, ah nggak gitu kan.

-Awalnya sih ya sebetulnya nggak kepingin jadi YouTuber gitu ya.

Jadi bikinnya itu memang buat anak-anak di kelas aja.

Karena saya kalau ngajar itu biasanya materi kelas itu nggak pernah cukup waktunya gitu, selalu bablas.

Kalau lagi kita ngajar 3 SKS kan 150 menit, misalkan hari ini ngajarin 1 topik, pasti topiknya nggak selesai.

Dan biasanya dilanjut ke minggu depannya.

Kalau udah dilanjut ke minggu depan ya seperti yang kita tahu mungkin udah ilang aja gitu kan dari ingatannya.

Jadi tetap aja ngulangnya nggak sisanya, ngulangnya balik lagi gitu.

Jadi ya solusi saya cobalah, siapa tahu kalau misalnya saya punya materi yang bisa diakses di luar kelas, saya bikinin.

Saya bisa aja sebetulnya, ayo kalian nonton videonya siapa gitu ya yang di luar.

Cuman kan jadinya itu nonton orang lain ya.

Saya pengen di kelas nonton saya gitu, di luar nonton saya juga gitu.

- Mau kabur kemana gitu kan. - Sampai muak gitu ya nonton.

Tidak lah, justru malah seneng gitu. Dan topiknya jadi berkesinambungan kan, nggak loncat-loncat kan jadinya.

- Itu ada komen yang cocok tuh, coba dulu dapet tulisan yang selalu update ilmu, ada yang curhat malah tuh.

- Kalau Pak Dika dulu waktu belajar web lah, belajar pemograman web itu gimana sih dulu waktu kuliah?

Atau waktu setelah kuliah justru belajarnya?

- Pertama kali belajar web itu pas kuliah ya. Pas kuliah kebetulan dulu semester 4 ketemu web.

Ya seneng aja gitu, karena awalnya dari desainer grafis.

- Oke. - Dulu saya dari sejak SMA tuh seneng desain-desain grafis gitu.

Pas ketemu web yang UI-nya bisa lebih interaktif daripada sekedar bikin poster, bikin banner gitu, bikin ilustrasi gitu.

Ada yang bisa diklik, ada yang bisa put, ada yang bisa tapit-tep, nyimpen unsur-unsur apa, desainnya gitu.

- Kelihatan sih ya. - Jadi pas ketemu web tuh ya seneng aja.

Cuman memang sampai lulus itu ya nggak jadi yang programmer gitu, jadi web desainer aja.

- Oke. Dulu belajarnya apa? HTML, CSS pastinya ya?

- Ya HTML, CSS, PHP, satu mata kuliah tuh. - Oke.

Javascriptnya justru nggak belajar di kampus atau gimana?

- Javascriptnya itu kayak apa ya, tambahan aja sih. - Oke. - Nggak yang programmingnya gitu.

Cuman tambahan kalau misalnya mau interaksi sederhana gitu, pakai Javascript, pakai jQuery kan dulu.

- Oh iya, dulu Javascript hanya pelengkap ya. - Iya.

- Nggak kayak sekarang. Belum-belum udah Javascript semua ya. Sampai CSS pun di dalam Javascript ya.

- Mulainya dari Javascript kalau kebanyakan yang saya tahu.

- Iya, iya, iya. Kalau Ivan gimana Ivan, dulu belajar web?

- Belajar web ya? - Inget sih. Kapan ya mulainya?

Kalau dulu mulai belajar web. - Langsung WordPress atau gimana?

- Nggak, jaman itu belum ada. - Kuliah juga? - Iya, belum ada web kan. Eh, belum ada WordPress jaman itu. - Ada kali.

- 2003, belum. - 2004 kan WordPress.

- Oh masih itu ya jamannya jumlah, jumlah. - Belum, belum. - Oh belum tuh kan? Oh berupa, berupa.

- Jumlah itu paling... - Jumlah itu sudah ada. - Jumlah sudah ada.

- Yang paling awal itu kan, apa itu ya, sebelum Mambo, sebelum jumlah. - Oh, Mambo jadi jumlah.

- Saya pernah pakai. - Tapi saya awalnya belum belajar, saya bukan PHP kuliah itu.

- Bukan ya? - Bukan. - Jadi awalnya... - ISP? - VB6, VB6. - Oh iya, iya.

- Jadi ISP lah ya, ISP dengan VB6. - ISP. - Terus, sorry bukan VB6, VB6 untuk application di Windows-nya.

- VBnet. - Saya tuh, sebelum VBnet, VB6, VB6. - Bisa di web sih.

- Gerti ini apa? - Enggak, enggak, enggak. - Enggak? - VBscript, kalau di webnya VBscript.

- Oh VBscript. - Temennya JavaScript, ya VBscript beda lagi ya.

Ya self-assign rendering-nya pakai VB gitu. Itu jaman itu.

Tapi setelah menuju lulus, saya mulai beralih ke open source.

- Karena mulai kayak belajar open source, mulai... - Kok bisa? Dari mana tahu open source gitu?

- Jadi di kampus itu ada kelompok studi kan, kayak kelompok studi. - Wah seru juga ya.

Jadi jamannya saya itu mulai bermunculan pentolan-pentolan teman-teman itu yang membangun kelompok studi.

Saya waktu itu membangun kelompok studi programming, ada yang membangun kelompok studi Linux, kelompok studi something. Apa ya?

Saya lupa satu lagi. Jadi saya coba aja lihat kelompok studi Linux ngapain, terus belajar Linux.

Akhirnya dari belajar Linux, baru ditetari open source, larinya ya ke PHP.

- Linux emang komunitasnya aktif banget ya open source-nya? - Jaman itu ya mulai. Mulai aktif ya mulai.

Jadi ingat nggak jaman-jamannya Firefox mulai masuk, open source, terus kemudian Linux.

Terus kemudian dari belajar Linux, kemudian saya belajar PHP, MySQL, segala macam.

Sebelumnya kan Microsoft main itu. IES, ASP, PHP, MS Skill Server, Oracle, itu yang diajarin di kuliahnya begitu.

Di kuliahnya nggak diajarin open source. Tapi menuju lulus, merali ke open source.

Oh, jadi lebih ke... banyak kan lebih ke auto didak juga berarti ya? Belajar sendiri. - Terus balik ke web-nya gimana tuh?

Dari sebelumnya Linux, open source? Masuk ke web lagi. - Ya, membangun web kan.

Jadi ya tetap belajar web kan. Karena tetap aja ya. HTML, CSS, segala macam.

Terus kemudian kan sudah... 2007 itu udah mulai ada ISPnet kan. ISPnet.

Dan membangun web juga pakai ISPnet kan. Jadi tetap aja perbedaannya ya jaman itu kan.

Satunya pakai Visual Studio. Kalo sekarang temen-temen taunya kan VS Code ya.

Jaman dulu itu kan VisualStudio.net. - Masih ada sampai sekarang kan.

Ada, cuma kan nggak dipake kan. Nah, jaman itu pakai VisualStudio.net.

Bikin web-nya drag and drop, kasih action-nya segala macam. Jadi itu web-nya.

Sedangkan waktu sudah berali, pakainya Notepad++. - Oke.

Itu untuk... atau Dreamweaver lah. Dreamweaver yang gratisan.

Ya sih tapi kayaknya kenapa ya di kampus tuh kayaknya Dreamweaver semua ya.

Drag and drop soalnya dulu. - Iya, drag and drop.

Jadi waktu bangun web itu image dimasukin. Terus static image kan. Terus klik 2 kali.

Bikin property-nya, image-nya langsung dimasukin. Langsung jadi HTML tag kan.

Kan semua dulu serba table kan. Itu lah web yang pertama kali saya belajar.

Setelah itu barulah mulai kejebak tuh pakai CMS ya.

Ya MAMBO, ya OS Commerce untuk shopping cart. Terus kemudian Moodle.

Saya juga ikut apa namanya dengan kelompok studi Linux ini.

Membangun apa namanya kayak forum-forum berbasis yang Moodle gitu.

Kayak maintain gitu. - Oh Moodle.

Ya itu lah belajar server. - Moodle itu LMS ya.

Learning Management System ya. - Betul.

Terus ini bulletin board kali ya? - Iya.

V-Bulletin. - Oh V-Bulletin.

V-Bulletin ya benar. - V-Bulletin. Saya pakai V-Bulletin untuk bangun forum di kampus.

Jadi dengan maintain-maintain seperti itu, ya dari yang nggak tahu pakai PHP, ngulik PHP, nggak tahu apa itu HTML, CSS.

Karena belajarnya kan udah dimanjakan dengan Visual Studio kan.

Jadi nggak tahu tuh HTML, CSS aja, belajar CSS dan HTML dari maintain-maintain open source platform ini.

Kalau WordPress masih lama, masih jauh. Belum matang gitu tuh.

Kalau Eka gimana? - Wah.

Next.js. - Dulu pas SMA.

Pernah sih kayak di sekolah, kayak ada pelajaran komputer, tapi masih HTML3 gitu lupa deh pakai front page atau apa.

Nah terus kan ya udah cuma belajar sekilas doang. Terus pernah nyoba-nyoba sendiri.

Nah dulu tuh nggak ngerti gitu, nggak ngerti sama sekali. Di rumah juga dulu nggak punya komputer.

Kan belum jaman laptop gitu, jaman furba. Terus simpen file HTML di floppy disk.

Kan kirain ya udah dibuka di Warnet atau numpang komputer orang bakal muncul kayak gitu juga kan.

Lupa deh front page atau Dreamweaver apanya yang ada, apa, ada GUI-nya.

Ya belajar tag-nya juga, tapi sebenarnya disuruhnya ngetik di apa, GUI yang what you see is what you get editor.

Dibuka di Warnet, ternyata nggak ada. Munculnya HTML doang. Bingung dengan sukses.

Terus cuma akhirnya apa, buka di notepad, ya udah coba-coba sendiri. Bisa lah dikit.

Nah, cuma abis itu kan, abis itu aku ngerasa nggak cocok buat komputer-komputeren.

Takut nggak bisa karena SMA juga judulusannya IPS. Terus kuliah Sastra.

Nah, terus ketemu lagi sama website-websitan itu pas udah kuliah udah beberapa lama, itu Myspace.

Nah, kalian ada yang tahu. Coba nih, pasti pada social networking Myspace, nggak ada yang inget kan.

Inget dong.

Kalau anak band pasti tahu ya, Myspace ya.

Myspace itu profil kita bisa kita edit dengan ada bagian yang bisa HTML tag tertentu dan bisa pakai CSS.

Dan kayak menu-menunya tuh bisa dikustom pakai sprite, jadi kayak misalnya kontak, message.

Itu kita bikin sprite, tapi kita positioning-nya harus pakai CSS.

Nah, dulu aku edit profil band ku jadi keren banget. Profilnya keren.

Kalau saya anak banser.

Oh, banser juga bisa kan sama...

Bisa, bisa, bisa.

Terus mati jaman dulu tuh bisa dikustomize sesukanya.

Yaudah, dulu kan juga warnet murah tuh sambil nunggu download MP3 illegal, sambil browsing CSS.

Nah, dulu tuh website yang ikonik buat aku tuh HTML5 Doctor.

HTML5 Doctor.com.

Nah, itu tuh pas mungkin 2011an gitu deh, itu awal-awalnya semantik HTML5 dan teknologi web yang mulai powerful itu kayak mulai lahir itu baru awal-awalnya banget itu.

Dan dulu tuh yang keinget banget website itu karena artikelnya tuh kayak penjabarannya enak aja, enak dibaca, enak diikuti, menarik.

Nah, dulu fun fact Flashdust itu masih mahal ya kan. Jadi Flashdust aku tuh dulu yang 128 mega gitu.

128 mega isinya apa itu ya?

Ya, dulu itu juga udah mahal loh. Jadi diwarnet, nge-save, nge-save artikel.

Nah, terus biar ngirit ya kan. Udah, udah kelar dibawa, dibawa ke kosan, di kosan baca-baca.

Ya udah, sebenarnya cuma CSS. Lama-lama ya awalnya CSS yaitu liat artikel jadi tertarik sama HTML juga.

Terus ya diingat bahwa dulu banget pernah belajar, cuma kayaknya ya sedikit beda kan dari HTML3 sampai 5 dan yang baru itu kayak udah mulai ada elemen buat artikel, heading.

Kayak ya tertarik aja sih. Terus coba-coba bikin website band sendiri. Nah, terus pokoknya pas dulu sih aku menganggapnya kayak sebagai hobi aja.

Karena beneran sama sekali enggak kepikiran. Kayak takut, kayak takut bego aja sih kalau masuk ke programming.

Karena dulu aku mikirnya image-nya kalau orang yang berurusan dengan coding atau pemerugaman tuh kayak yang harus ahli apa?

Matematika dan lain-lain yang kayak harus wah gimana banget kayaknya bakal susah. Jadi akhirnya ya iseng-iseng aja.

Tapi makin lama sih kayak ya sambil lebih kayak hobi. Jadi kadang kan ada orang misalnya kuliah art dan kerjanya tuh bidang A.

Cuma maksudnya di luar itu mungkin ngulik fotografi atau masak atau apalah. Nah, dulu tuh aku ngetreat pemerugaman web sebagai ya kayak site hobi aja.

Nah, terus lama-lama lupa dari mana kayaknya lihat temen pada itu loh yang kayak apa sih? Upwork.

Ya, pokoknya yang freelance-freelance sama luar gitu. Dan ternyata bisa diduitin. Ya udah iseng.

Nah, dulu kan masih anak kos kere. Ya, lihat kesempatan cari duit. Boleh deh.

Nah, terus pertama cuma ngambil kerjaan slicing. Jadi emang karena enggak pengen, karena enggak ngulik sisi pemerugamanya,

pengen yang murni HTML, CSS doang slicing. Cuma slicing kan bidding-nya juga sulit tuh.

Jadi ya udah kadang dapet, kadang enggak. Cuma udah mulai, udah mulai kejebak level 2 tuh.

Terus lama-lama itu kan, itu udah mulai 2000, ya 2013-an, 12, 13, 14 gitu deh mulai.

Itu WordPress masih banyak juga. Dan lama-lama lihat kok banyak, apa sih, task yang kecil-kecil itu dulu tuh lagi musim kan jQuery udah naik tuh.

Jadi ternyata banyak dengan banyaknya WordPress, plugin, theme, custom-custom gitu,

suka banyak yang pada bug bermasalah kayak contohnya jQuery-nya keload 2 kali.

Jadi apa, karena semua plugin bawa jQuery. Nah, terus ya ada bug-bug kayak gitu deh. Jadi coba iseng ngambil yang kecil-kecil gitu,

sambil ngulik juga cari Wi-Fi kreatisan, sambil cari di Stack Overflow cara bener-benernya gimana.

Ya udah lumayan dapet duit walaupun cuma berapa dolar lah, 5 dolar atau berapa dolar.

Ya udah, akhirnya pacar-pacar tentang jQuery, terus misalnya gara-gara lihat komentar kan,

oh ini karena race condition, apa itu race condition? Nah, ya udah, akhirnya lama-lama makin lama makin kecebur.

Terus karena lingkungan apa, itu kan dulu kayaknya di kawasan belum punya internet juga, internet belum se murah sekarang ya.

Jadi sering kalau lagi nongkrong sama teman atau apa, numpang Wi-Fi sambil belajar ngulik kayak gitu.

Nah, lingkungan di sekitar ngira aku tuh kayak aku beneran freelancer web.

Jadi setiap ada orang tanya, lingkunganku tuh semua nggak ada yang programmer.

Jadi lebih kayak banyak yang apalah ada yang art, ada yang ya apanya creative, apa creative culture lah, sub culture.

Terus kalau ada yang butuh, ada yang nanya misalnya, ada yang bisa bikin website nggak?

Pada nunjuk aku, karena mereka ngira aku freelancer web beneran.

Ya udah, karena udah ternyur tunjuk, iya-iya aja.

Iyain dulu.

Bisa.

Iya, karena ternyur iya, terus ya udah baca bikin work race team, bisa sih dulu custom, apa, kosongan.

Terus kan di custom ya tinggal, ya mulai, oh mulai belajar PSP juga, akhirnya mau nggak mau kan gimana lagi.

Ya udah, terus lama-lama, itu sih sebetulnya sambil di kehidupan pribadi dan karir dan lalala,

agak nggak stak sih, cuma ya kayak nggak maju-maju amat juga, terus random.

Aku kebetulan emang kayak apa ya, jack of all trades, master of none lah dulu.

Bisa A, B, C, P, L, G, D, Cuma nggak ada yang mendalam.

Terus gampang, gampang penasaran, misalnya diajak bikin project apa, ayo.

Cuma kan lama-lama, ya lama-lama nggak ada karir progress atau apapun, bosan juga.

Terus lama-lama mulai kepikiran gimana kalau si website ini diseriusin aja, ya udah gitu.

Abis itu makin lama, makin diseriusin, ternyata nggak tahu kayaknya cocok aja sih.

Ya terus akhirnya random one thing leads to another, akhirnya kerja full-time jadi webtape.

- Kejebak deh di webtape. - Kejebak ya.

Nggak bisa keluar lagi.

- Nah tinggal yang terakhir nih yang belum ceritain nih. - Apa tuh?

- Maksudnya gimana pula ya? - Kalau saya dari kuliah sih ya,

jadi di kuliah itu ada mata kuliah pomegranan web, itu belajarnya PSP.

PSP apa Java ya? Eh PSP, kalau Java itu objek ya, OP.

Jadi belajarnya PHP, pada saat itu, pada jamannya itu JavaScript itu hanya sebagai tools untuk support aja.

Jadi misalkan kita bikin form kan, formnya form standar HTML, diproses di PHP.

Abis itu nanti balik lagi ke alaman HTML-nya kan, alaman terima kasih, sudah mengisi form blablabla.

Nah JavaScriptnya dipakai di sisi validasi email, validasi input.

Kalau dulu kan input cuma ada satu kan, text aja nggak ada number, nggak ada date, nggak ada kayak sekarang gitu kan.

Date, number, email dll itu kita bikin widgetnya kita validasi itu pakai JavaScript.

Itu yang dipelajari di kampus, sampai akhirnya lebih mendalami lagi pada saat skripsi.

Karena skripsinya ya bikin ini, bikin ujian online.

Jangan sekarang mah udah banyak, gampang ya bikin ujian online ya.

Saya bikinnya di 2003 pakai PHP sama Postgre.

Itu studi kasusnya di Universitas Terbuka.

Dan kamarnya benar-benar dipakai, jadi senang juga.

Jadi abis kita si danskripsi dinyatakan lulus, kita harus presentasi lagi ke Universitas Terbuka

di depan guru-guru pengajar di sana, bahwa ini ada sistem yang kita buat.

Karena di sana problemnya itu banyak yang nyontek.

Jadi mereka itu misalkan diadakan di satu warnet misalkan.

Itu bisa saling melihat layar temennya.

Akhirnya kita bikin kayak ada bank soal, terus apa, diacak urutannya,

atau soalnya itu diganti dengan bobot yang sama gitu-gitulah untuk mengantisipasi.

- Abitesting ya, soalnya abitesting. - Soalnya abitesting.

Jadi bisa layar yang satu sama yang lain bisa beda.

Nah, dari situ jadi portfolio justru.

Gara-gara bikin skripsi yang bukan hanya karya tulisnya saja,

tapi benar-benar implementasi prototipe.

Akhirnya dari situ pas ngelamar kerjaan, ya bawa itu sebagai portfolio.

Dan akhirnya diterima dengan pekerjaan sebagai, ya itu juga sama, PHP dan Postgre.

Jadi masih berhubungan dengan sekolah juga, dengan akademisi maksudnya.

Jadi kita bikin sistem informasi sekolah dulu.

Pekerjaan pertama saya bikin itu.

- Begitulah. - Mantap.

- Jadi rata-rata... - Ada yang mulai dari react.

Ada yang mulai dari react ya.

Nah, mungkin kita bisa minta pendapat teman-teman masing-masing ya.

Kira-kira kalau ada teman-teman yang nonton nih,

yang ingin belajar pomograman, terutama khususnya web.

Gimana cara belajarnya? Apa yang harus mereka lakukan?

Coba dulu, Ivan dulu, Ivan.

- Oke, pertama belajar pomograman web ya khususnya ya.

Kalau menurut saya itu minimal punya pendak, punya ini dulu.

Punya minimal basic dan logika cara berpikir bagaimana cara web itu bekerja.

Minimal punya tahu caranya ya.

Misalnya gimana caranya, apa maksudnya request-response, HTTP itu apa.

Gimana sih caranya? Kenapa begitu diklik?

Apa itu domain? Apa itu web server? Apa itu hosting?

Bagaimana caranya nempelin domain ke hosting segala macam.

Minimal punya basic gambaran sederhananya dulu,

supaya tahu bagaimana kenapa web itu kalau dibuka dengan namanya,

terus tampilannya muncul.

Dan setelah itu baru kita memikirkan belajar apa itu yang, maksudnya HTML itu gimana.

Terus komponen-komponen dari web itu HTML, CSS, image dan...

Saya nggak bilang JavaScript itu komponen dari web karena itu cuma scripting.

Komponen utama dari web itu ya itu, HTML, CSS, image dan text atau font.

Meskipun font-nya nggak harus Google font. Font yang biasa aja juga bisa.

Terus kemudian ya install aja dulu, coba aja pakai dulu bikin...

Mungkin awalnya bisa pakai yang CMS yang sudah ada untuk belajar.

Supaya kita tahu best practice HTML yang semantik itu gimana.

Best practicenya gimana.

Karena tech-tech itu kan ada...

Tech-tech HTML kan ada strukturnya kan, HTML, head, body.

Yang penting tahu strukturnya.

Dan pakai dulu open source tools yang sudah ada dulu, install dulu, coba lihat apa yang ada.

Kayak Eka tadi, perbaiki aja dulu, tambahin aja dulu, coba rubah apa yang bisa ingin dirubah.

Setelah punya gambaran itu, barulah mulai beralih ke lebih dalam lagi.

Misalnya bagaimana buat widget sendiri.

Bagaimana bisa menggunakan JavaScript untuk merubah atau melakukan dom manipulation.

Bagaimana mengganti font, bagaimana mengganti image, bagaimana mengganti CSS.

Atau mungkin belajar CSS framework yang best practice supaya mengerti cara bekerja CSS itu gimana.

Atau best practice dari CSS, CSS yang opionated dulu deh belajar-belajar supaya tahu.

Dari situ baru mulai building dari scratch.

Jadi coba bikin sesuatu dari scratch.

Mungkin lihat tutorial-tutorial Pak Dika. Oh lihat ada sesuatu yang menarik untuk CSS apa atau membuat web apa gitu.

Ikutin aja dulu buat dari scratch.

Jadi sudah mulai dapet, karena sudah punya gambaran, punya dasar.

Gambaran dasar punya best practice yang orang lain punya sudah ada.

Ayo coba bikin dari dasar menuju ke sana, dilakukan step by stepnya, dicoba.

Jadi saya menurut saya sih begitu.

Dan jangan lupa kenapa saya mengatakan perlu basic, karena perlu begini.

Saya cukup beruntung bisa kuliah dan kuliahnya di bidang informatika.

Saya beruntung.

Dan di kuliah itu saya belajar, sebenarnya bukan belajar cara web atau belajar cara programming.

Saya tidak ada belajar banyak soal itu.

Belajar cara belajar ya?

Betul, saya belajar cara belajar.

Tapi nggak mesti harus kuliah.

Tapi yang penting tahu basicnya, tahu ujungnya dan belajarlah cara belajarnya.

Bagaimana Pak Dika bisa jadi kreatif begitu untuk membuat sesuatu pembelajaran tertentu?

Karena beliau bisa belajar ala baru.

Bagaimana cara bisa belajar ala baru?

Tentu harus punya basic.

Jadi belajar dulu basic.

Basic ya.

Jadi fundamental, terus tadi harus menentukan tujuan belajarnya apa.

Awalnya kita dimana, kita evolusi dulu.

Oh kita baru bisa ini, kita belum bisa ini.

Mau menuju kesana, mau bikin targetnya apa?

Bikin landing page misalkan.

Targetnya yang harus kita pelajari, HTML, CSS.

Ya udah, ke dalam sana ya.

Sudah fundamental, sudah tahu tujuannya.

Jangan langsung pakai yang sudah jadi.

Coba buat step by step.

Step by step.

Karena ada proses yang harus dilalui supaya menambah pengetahuan.

Kalau Pak Dika gimana cara belajar?

Nggak mungkin kan belajar lihat video Youtube WPU kan.

Kalau ada hal yang baru gitu.

Belajar sesuatu yang baru gitu.

Kalau ya kalau saya kayak Mas Sivan tadi ya memang fundamental ya.

Kalau belajar versi saya ya dari fundamental gitu.

Jadi memang benar-benar dari dasar dulu.

Jangan buru-buru pengen bisa sesuatu yang baru ya.

Dan yang paling penting sih senangi dulu sih, senang dulu kan.

Kita kayaknya kita berabat ini berakad dari senang dulu kan.

Kan agak aneh ya sebuah program itu kan udah jelas-jelas susah gitu.

Akan mudah bagi kita buat nggak senang terus ya udahlah gitu.

Tapi kayaknya kita bisa bertahan disini tuh ya karena senang dulu gitu dengan kesusahannya.

Banyak anak-anak mahasiswa atau yang baru belajar tuh pengennya cepet nyampe nya dulu gitu.

Itu yang nggak sabar gitu ini kenapa kok nggak bisa-bisa.

Atau kalau lagi belajar sesuatu yang fundamental tuh ya simpel lah.

Kalau misalkan saya ngasih orang yang baru belajar playlist belajar saya gitu ya.

Dari mulai HTML, CSS, JavaScript dasar.

Ini kapan react nya Pak?

Baru juga mulai gitu, tenang.

Masih jauh perjalanan Anda gitu.

Jadi nikmati dulu bikin sesuatu dari apa yang kita lagi pelajari dulu gitu.

Kan bisa baru belajar HTML, CSS bikin website yang tampilannya oke bisa gitu.

Gak perlu jauh dulu.

Ada pertanyaan sih terkait ini nih.

Kan mungkin sekarang orang yang lagi belajar, orang-orang yang baru belajar web.

Apa lihat, mungkin lihat di sosmed atau youtube.

Abstraksi lah istilahnya kayak meta framework misalnya.

Next.js, Tailwind, Framer Motion itu kan flashy dan apa ya.

Tangible bisa dilihat dan menarik dan wow.

Itu kan, ya maksudnya itu kan menantang dan bikin,

mungkin bisa bikin orang semangat ya.

Karena pengen bikin sesuatu yang seperti itu.

Tapi di sisi lain ya kayak dibilang Ivan tadi fundamental kan tetap penting.

Ya gimana pun pakai Tailwind,

kalau gak tahu misalnya cara kerja CSS, box model lah, atau flexbox,

atau grid kenapa behaviornya begitu, ya bakal muntah di tengah jalan.

Kalau gak tahu misalnya tentang JavaScript event,

mungkin bakal kepentingan kalau kirim forum atau sejenisnya.

Nah itu tipsnya gimana tuh,

mengimbangin antara kebosanan belajar fundamental yang kelihatan gak tangible dan gak wow.

Mengimbangin antara belajar fundamental dan langsung praktek di abstraksi-abstraksi yang menarik.

- Tipsnya gimana? Biar gak... - Dari saya, saya pernah lakukan yang seperti ini.

Dulu tau gak sih, pernah ada jamanya semua waktu itu pada pakai slider, semua dibikin slider, cakap-cakap, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus, trus. Bisa putar-putar kayak gimana gitu.

- Iya kan? - Iya.

Jadi saya dulu tuh waktu sudah punya fundamental, tetapi untuk membuat slider saya gak bisa. Tetapi pakai slider yang sudah dipakai, yang ada di tenfon.

- JQuery atau apa gitu ya?

- Tinggal ambil, comot, pasang, ganti image-nya, done gitu. Happy gitu. Tetapi saya tidak gitu, saya udah tau, eh, cakep. Saya coba pakai, pasang, trus habis itu saya bongkar kodenya saya buat sendiri.

Jadi sudah punya fundamental JavaScript, sedikit. Punya tujuannya karena ada sesuatu yang keren yang saya mau buat, terus saya buat sendiri versinya saya.

Karena itu permainan matematika semua tuh untuk domonikulisinya.

Permainan apa namanya? Ya itu, apa namanya, forlook untuk posisi, pol-pol, geser-geser, geser-geser.

Ya lucu-lucuan aja. Jadi, oh gitu tuh cara kerjanya, gitu. Cuma posisinya doang di ganti-ganti X, Y.

Tapi timing, ya kan, butuhnya timing di situ. Nah itu cara saya untuk mengubati kebosanan jika pengen belajar sesuatu yang baru.

- Iya, butuh keseimbangan juga sih. Intinya sebenarnya lebih ke belajar fundamental terus, ya bukan gak bagus, ya bagus sebenarnya kalau bisa bertahan gitu.

Tapi kan, capek kan, gitu. Jadi diimbangi aja, misalkan oh udah cukup nih fundamentalnya, oke kita fancy lah kita buat sesuatu, gitu kan.

Tapi misalkan tadi contohnya Tailwind, saya kurang bisa CSS, fundamental CSS saya gak terlalu bagus.

Tapi justru ada beberapa framework, ya contohnya Tailwind, gara-gara saya pakai Tailwind, saya jadi ngerti CSS.

Untungnya karena memang punya basic CSS juga sedikit, walaupun tidak terlalu bisa-bisa banget, gitu kan.

Tapi ketika ditunjang dengan adanya framework itu, justru kita belajar lebih dalam bukan hanya menggunakan, tapi oh ini kalau kita pakai misalkan Flex 1 itu apa sih yang dilakukan oleh C Tailwind itu?

Sama ya, model kayak Ivan juga ya berarti ya. Jadi kita cari tahu, kita cari tahu kira-kira di belakang layar itu dia ngapain, gitu.

Oh ternyata kalau... - Dan CSS itu kebantu banget, they have tools ya. - Betul. - Untung repelinnya.

Iya, kalau kita mau ketengahin div itu di Tailwind begini, oh ternyata hasil akhirnya CSS-nya seperti ini, gitu.

Jadi next time mungkin di project yang lain yang tidak menggunakan Tailwind, saya udah ngerti, oh CSS-nya vanilanya seperti ini, gitu.

Jadi sebenarnya framework itu nggak sepenuhnya jelek. Justru kalau kita pakai dan biasanya bisa menunjang, kita membantu kita untuk belajar fundamental.

Contohnya React lah ya. Mungkin kalau kita nggak menggunakan React, mungkin saya nih, cerita pribadi saya, kalau saya tidak menggunakan React,

mungkin saya tidak akan belajar tentang... - ES6. - Tidak belajar tentang fungsional programming kayak immutability,

fitur-fitur ES6 seperti spread, dan lain-lain semuanya ya.

Gara-gara React akhirnya saya penasaran nih cara kerja Redux ternyata harus pakai reducer. Reducer itu apa sih?

Jadi itu. Jadi harus ngulik sih ya. Hintinya sebenarnya itu ya. Belajar framework nggak salah.

Tapi yang salah adalah hanya pakai buta nggak ngerti apa-apa, pakai aja udah gitu. - Asik ya.

- Iya, agak keliru mungkin cara belajarnya. - Saya jadi implementator.

- Implementator, gitu. - Sama satu lagi untuk nyari kasus,

mungkin bosan, belajar fundamental terus bosan. Untuk nyari kasusnya paling gampang nyari kasus itu adalah kontribusi.

Kontribusi ke mana kek? Kalau di kampus, kontribusilah, maintain situs kampusnya, maintain situs forumnya, maintain situs apapun.

Tanya aja ke komunitas atau ke dosennya, "Pak, ada yang bisa saya bantu untuk di-maintain nggak?"

"Saya mau nih, luangkan waktu, saya maintain." - Masih suatu latin banget itu.

- Terus kemudian, atau cari dulu sana yang open source, project-project open source apapun itu.

- Atau ke EKA, ke EKA. - Cari samping.

- Cari duit. - Terima kasih.

- Terpaksa belajar. - Terpaksa itu ya. Jadi harus.

- Cari duit, iya. - Bisa juga ke EKA.

- Ini senada sama Pak Dika tadi ya, Mas Zain ya, salah satunya dulu ketemuin kliknya dulu, senangnya dulu.

- Senang, iya benar-benar. - Kalau udah senang tuh sesusah apapun bisa kita lewati gitu kan.

- Karena gemes kan, challenge kan, maksudnya penasaran sebelum bisa pahamin hal ini, kayak nggak mau berhenti.

- Oh iya. Ini gimana Pak Dika? - Aku punya cerita yang menarik sih.

- Boleh, boleh, boleh. - Saya kan awalnya tuh belajar,

ngajar tuh cuman mata kuliah webdesain ya, di sampai tahun 2013 tuh hanya webdesain aja, jadi HTML, CSS gitu.

Terus kalau dulu mata kuliah saya, malah HTML, CSS, WordPress, habis itu belajarnya langsung ke WordPress.

Nah satu saat di 2013 itu ada dosenka, salah satu dosen kami, dia keterima kerja di tempat lain.

Dia ngajar webprogramming, itu isinya PHP, MSGL. Nah karena beliau pergi, saya disuruh ngajar tuh.

Nah saya tuh nggak ngerti webprogramming saat itu, iya hanya bisa PHP dan MSGL yang biasa lah gitu.

Nah satu tahun pengajar di 2014, ada mahasiswa yang udah agak tingkat atas,

ngasih challenge gitu, "Pak jangan PHP native dong, pakai framework."

- Raffoli. - Minta nya Codingnator dulu.

- Codingnator dulu iya. - Codingnator Pak.

Jadi dari 2014 itu, saya mau kebetulan lagi semester ganjil,

jadi persiapan saya tersisa 3 bulan lah untuk masuk ke semester genap ngajar si CI itu.

Oke 3 bulan kayaknya cukup lah, saya belum pernah pakai CI belajar dulu, jadi udah PD aja gitu.

Dari ilmu PHP prosedural saya, langsung mau masuk ke framework gitu ya.

Itu nggak ngerti sama sekali ini apa, kok tiba-tiba ada panah, kan biasanya nggak pernah ketemu panah gitu.

3 bulan saya paksain belajar itu, pokoknya mentok, nggak ngerti.

"Ah udah lah kayaknya semester genap ini nggak akan saya ajarin tuh, si CI."

Tapi saya memutuskan ini kira-kira CI ini butuh apa sih komponen apa buat dia pelajari.

Ternyata dia tuh dibentuk dari Object Oriented, ternyata dia dibentuk dari konsep MVC.

Nah jadi saya korbanin tuh satu semester supaya saya belajar sendiri dulu gitu.

Jadi belajar sendiri apa itu Object Oriented Programming di PHP, terus coba pahamin konsep MVC di PHP.

Selama hampir 8 bulan tuh saya ngulik itu gitu.

CI-nya nggak dibuka sama sekali, saya udah CI-nya saya lupakan gitu.

Udah, begitu bulan ke-8 saya udah bisa bikin aplikasi MVC sederhana gitu pakai PHP native.

Saya buka lagi CI-nya, itu terang doang dokumentasinya.

Jadi begitu buka tuh "Oh!" gitu, jadi padahal saya nggak pernah nyentuh itu 8 bulan.

Jadi ya saya pikir ada yang salah gitu, waktu pas saya paksain kayak gimana juga kebentur gitu.

Saya nyangkanya itu fitur CI, padahal itu fitur PHP gitu, umum gitu.

- Umum semua ya. Wah menarik ya. Jadi intinya sebenarnya salah satu ciri khas yang harus developer punya itu

adalah penasaran, curiousity.

Jadi misalkan kayak DCI itu, "Oh dia kenapa folder-nya harus ada model, ada view, ada controller, ini apa sih?"

Gitu kan, kalau kita nggak tahu sama sekali gitu kan. Akhirnya kita cari, "Oh ternyata MVC."

MVC dipakai hampir di semua framework web kan. Mau di PHP ada, di Python ada, di Angular ada, di Frontend juga kan.

Di mana lagi, di Ruby juga pakai semuanya, hampir semua gitu ya, rata-rata pakai MVC.

Jadi kalau misalkan teman-teman belajar fundamental MVC-nya, artinya skill itu bisa dipakai di bahasa pengeluman lain.

Nggak hanya spesifik di satu framework aja.

- Java skill pun ada MVC loh. - Ada, backbone, ember.

- Sampai AngularJS juga masih MVC kan ya? - Iya Angular MVC, betul.

Jadi ya itu lah. Intinya harus penasaran itu, jadi nggak terima hanya terima.

"Oh, CI adalah framework MVC berbasis object-oriented." Oh ya udah, baca aja. Lanjut lagi, abis itu bingung kan.

Tapi kalau ditelusuri satu persatu, yang kayak ini ya, kayak ada memes gitu kan.

Kalau kita mau naik tangga itu jangan langsung tangga ke-4 gitu kan. - Diskip.

- Iya, jangan diskip. Jadi pelajari dulu. "Oh, dia terdiri dari MVC." Kita pelajari MVC.

"Oh dia pakai OOP." Oh, pelajari OOP dulu. Setelah itu baru.

Jadi bedang merah yang saya dapat dari Pak DK itu, kalau misalnya kita mau belajar sesuatu yang baru,

mentok, nggak ngerti sama sekali, sudah coba baca dokumentasi tapi masih nggak ngerti juga.

Berarti ada fundamental yang kita belum mengerti. Jadi lanjut dulu, mengerti dulu konsep framework apapun itu.

Mengerti dulu dasarnya dia apa, belajar dulu teorinya sedikit. Belajar dulu deh, mungkin sedikit atau apa.

Belajar dulu teorinya, mengerti dulu, paham dulu. Jadi begitu udah paham, saat kembali itu jadi terang.

Udah tahu gitu. Konek langsung. - Kan ada orang yang kalau belajar berenang katanya cemplungin aja ya.

Terus kalau saya tenggelam kayaknya. Ada orang yang bisa kan? - Ada.

- Saya tenggelam itu pasti. - Berarti harus pakai band dulu, tapi lama-lama bandnya dulu pas.

- Iya pelan-pelan. Saya belajar dulu teori berenang gimana. Lama, lama gitu.

- Tapi belajar teori nggak akan kemana-mana kan? Tetap harus praktek kan? - Iya betul.

- Karena kan Pak Dika ada praktek bikin PHP natif sendiri, buat MVC pakai PHP natif itu prakteknya di situ.

- Nah itu lepas band kan berarti, analogi berenang tadi. Tiba-tiba bisa, ternyata nggak tenggelam.

- Sama, kayak naik sepeda juga gitu kan. Pokoknya semua belajar ya begitu ya. Teori disertai dengan praktek.

- Jangan cuma teori aja atau praktek aja. Apa itu? - Ada masalah belajar. Sekarang kan sering itu ada istilah tutorial hell.

- Benar. - Terutama yang belajar sendiri kali ya.

Kalau di formal, kalau kuliah atau bootcamp kan udah ada ekspektasi waktu dan modulnya.

Tapi kalau orang yang belajar sendiri, misalnya mungkin ngebugmark seluruh playlist dari channel web programming Unpass lah,

Cursila, Free Code Camp, dia kayak ngikutin tutorial doang. Cuma pasif, kayak cuma sembarang ngikut aja.

Nggak, kalau Ivan bilang tadi kan, belajar dikit, habis itu praktek sendiri.

Nah mungkin kalau orang yang ngikutin tutorial kan cuma ikut-ikut-ikut, ngikutin.

Tapi peng, buru-buru karena bookmarknya masih banyak, jadi kayak di speedrun, cuma nggak mendalam.

Nah tutorial hell itu ada saran tips and tricknya nggak tuh? Biar nggak kejebak tutorial hell.

- Nah gimana tuh Pak Dika? - Kalau menurut saya sih banyak orang yang apa ya, bukan delusi ya.

Jadi pada saat ngikutin sebuah tutorial terus jadi, mereka menganggap dirinya tuh bisa gitu.

- Udah bisa. - Udah bisa.

- Baru nonton, udah bisa gitu ya. - Iya kan sampai beres videonya, berapa jam gitu.

Jadi websitenya, terus udah bisa.

Ya kalau misalnya masih nggak nganggap gitu, ya pasti akan terjebak di tutorial hell terus.

Karena begitu dapet kasus yang baru, nggak bisa ternyata, nggak ngerti gitu.

Harus paksain bikin sesuatu yang benar-benar berbeda, tapi pakai ilmu itu gitu.

- Iya, betul. - Iya.

Jadi kalau kita belajar dari tutorial entah itu nonton video atau free code cam kayak interaktif gitu-gitu,

diselesaikan itu belum selesai belajarnya, itu baru permulaan.

- Belajarnya adalah ketika kita bisa membuat sesuatu. - Udah selesai kalau bikin sendiri.

Tanpa melihat sama sekali tutorial itu.

Ya kalau misalkan bikin sesuatu yang berbeda, kita masih ngeblank, bikin sesuatu yang sama,

tapi nggak nyontek sama sekali, nggak ngeliat video sama sekali. Bisa nggak?

Kalau sudah bisa baru coba modifikasi. Mungkin tadi contoh kasusnya misalkan bikin to do list misalkan.

Yaudah to do list-nya ditambahin. Oh pakai kategori, oh pakai teks, oh pakai sub to do misalkan.

Bisa nggak? Kalau belum bisa artinya masih ada tadi fundamental yang tertinggal,

yang kelewat, yang belum kita pahami, gitu.

Kalau saya mau tarik apa yang kita lakukan dulu jaman saya kuliah praktikum,

dibagi dua tuh CC-nya, guided dan unguided.

Jadi guided itu cuma udah tinggal nyontek dari modul,

diikutin aja step by step apa yang diajarin sama ASNOS.

Dah selesai itu, jadi itu programnya.

Tapi setelah itu ada CC unguided, jadi dikasih kasus,

yang mirip kasusnya terima sudah harus mikirin secara logicnya sendiri

dan di CC unguided ini kita disuruh ngondingnya sendiri, ngonding untuk selesaikan masalah itu.

Wah bagus nih kampusnya. Kampus mana nih dulu?

Atma Jaya Jogja.

Jadi guided dan unguided, jadi memang gitu CC-nya.

Kasih sesuatu yang sudah step by step, tinggal mahasiswa mengikuti gitu.

Atau dalam tutorial kita tinggal ikuti tutorial beres.

Terus yang di unguidednya, studi kasus yang mirip.

Cuma berbeda logicnya. Jadi mereka harus bikin sendiri.

Kalau di kampus Pak Dika ada gitu, ada yang teori sama ada praktikum juga?

Ada, ada, ada.

Pak Dika berarti masuk yang praktikum atau gimana?

Iya, praktikum. Pasti ada prakteknya.

Di lab gitu ya?

Iya.

Gua ada kata Mas Zain tuh pas banget, just in time learning.

Bukan cuma runtime programming ya yang just in time.

Belajar juga ada.

Iya. Cuman kadang-kadang Mas Zain kalau just in time ini,

kadang-kadang kita nggak tahu kata kuncinya tadi.

Jadi misalkan, gimana caranya supaya bisa performnya cepat.

Kita nggak tahu istilah kecing gitu kan, belum tahu kan.

Nah itu cari kata kuncinya itu yang mungkin agak tricky di sana.

Karena kita nggak tahu apa yang kita nggak tahu kan.

Ini kita mau carinya apa, kata kuncinya apa gitu.

Paling itu sih.

Oke, sering-sering ikut komunitas.

Sering nonton channel WPU lah. Mungkin ada materinya.

Eh sering nonton kita juga nih.

Sering nonton ngobrolin web juga. Siapa tahu kita nggak bahas kasi.

Bisa aja.

Sering ikut komunitas.

Jadi setelah nonton sudah tahu basicnya,

ikut juga di komunitas dan ikut di belajar di kontribusi open source.

Kenapa saya bilang seperti itu?

Saya waktu belajar PHP itu, saya memang belajar teori,

sudah belajar teori programming, baca dokumentasi PHP,

terus kemudian install CMS, zaman itu OS Commerce,

dan set up shopping cart-nya untuk project.

Saya itu dibayar untuk bikin project.

Namun ada sesuatu yang menarik nih.

Ada permintaan dari klien,

"Saya mau nambahin fitur ini, tapi di OS Commerce nggak ada."

Terus gimana dong?

Saya harus kode sendiri.

Cara nambahin itu gimana? Nambahin extension.

Nggak ada juga. Jadi saya harus cari extension yang ada.

Saya belajar cara nambahinnya.

Terus dibongkar ulang, dibikin berdasarkan extension itu.

Iya, terus bongkar ulang supaya nambahin fitur saya.

Akhirnya jadi.

Dan ternyata setelah saya jadi,

saya balikin lagi ke forum-nya di OS Commerce dan Zencar,

dan ternyata banyak yang suka extension itu.

Jaman itu saya banyak dapat donasi PayPal dari extension itu.

Menghasilkan juga jadinya sekaligus.

Money-based development learning.

Jadi sudah dibayar buat projectnya,

dirilis open source,

dan banyak dapat donation dari situ.

Karena banyak banget yang minta fitur yang sama.

Tapi nggak ada yang buat.

Itu juga salah satu gunanya komunitas.

Misalkan teman-teman join komunitas,

atau nonton kita hari ini atau minggu depan,

atau channelnya Pak Dika.

Dikonsumsi aja, walaupun nggak ngerti.

"Ini ngomongin apa sih?"

Sama kayak tadi Pak Dika pertama belajar CI, nggak ngerti.

Dikonsumsi aja.

Tapi sempai kita belajar, "Oh, ini ngomongin tentang caching."

"Oh, ini ngomongin tentang MVC dan lain-lain."

Begitu kita belajar, misalkan selang beberapa bulan kita nonton lagi,

atau ketemu masalah yang sama,

atau ketemu kata kunci yang sama,

"Oh, maksud yang tadi kita omongin itu ternyata ini."

Jadi ada relasinya, pasti begitu.

Jadi kalau belajar itu ya nggak ada sesuatu yang sia-sia.

Jadi ya kalau belum ngerti,

ya memang belum saatnya aja mengerti.

Ketika kita udah belajar lebih lanjut,

"Oh, ternyata maksud yang dia omongin teman-teman itu ini."

Ternyata, gitu.

- Next, kita bahas itu tuh. - Apa tuh?

Petanyaannya, Bas. Pak Dika tuh yang di dokumen.

- Oh iya, boleh apa? - Apa banyak, Pak?

- Yang dari Pak Dika. - Kemampuan teknis apa

yang harus dimiliki oleh siswa atau masiswa

untuk masuk ke dunia industri ya?

- Ya. - Web ya, khususnya?

- Khususnya web. Eka. - Misalnya gini, maksudnya tuh gini.

Teman-teman kan ada di industri ini, melihat gitu ya,

bahwa kebutuhan untuk seorang web developer tuh seperti apa gitu.

Dan kita tahu, ini mah problem yang udah sistemik dari dulu gitu,

bahwa lulusan IT itu pasti ada gap-nya sama industri kan.

Ngejarnya agak susah, tapi kira-kira menurut teman-teman gitu,

apa sih yang perusahaan tuh butuhin skill yang udah bisanya apa gitu.

Ya saya gak bisa bilang harus bisa react gitu misalnya,

ya pasti gak lah gitu ya, ini out of the box, out of the box-nya apa gitu.

Justru non-teknis gak sih, kalau menurut aku?

Justru kalau kemampuan teknis kan ya udah, coding,

ya asal proper ya, maksudnya asal bisa bikin website yang layak,

performance, blablabla, itu kan bisa dipelanjariin.

Tapi kalau menurut aku sih malah justru soft skill karena perusahaan atau industri,

itu kan mereka pasti punya target, punya capaian ya metric entah KPI apa,

entah kalau yang paling standar mah misalnya e-commerce atau toko harus jualan,

atau harus meng-convert.

Nah kita kan sebagai developer harus bisa mengkomunikasikan

tanpa penyampaian yang ribet atau terlalu kompleks,

kita harus bisa buktiin bikin MVP yang bisa mencapai objektif industri.

Ya kita harus bisa mendemonstrasikan kemampuan kita membantu perusahaan

mencapai target mereka.

Atau kan perusahaan itu kan kalau dipecah lagi jadi tim,

gimana kita bisa membantu tim kita, tim tempat kita berada,

mencapai objektif tim kita.

Mungkin soft skill sih malah kalau opini aku.

Kalau dari saya, apa yang saya lihat itu memang benar soft skill,

kalau hard skill itu bisa dibina di perusahaan itu,

bisa dipelajari seiring dengan waktu.

Tapi soft skill pertama yang dibutuhkan itu problem solver.

Bagaimana mereka problem solver, berpikir kritis untuk menciptakan solusi,

dan accountable.

Ini yang kalau di perusahaan saya, kerja di perusahaan yang remote dan distributed.

Jadi accountable itu seperti number one.

Kalau kita memang mau meeting jam sekian, meeting jam sekian.

Jangan sampai datang gitu.

Dan juga butuh kemampuan berkomunikasi dengan baik.

Oh iya itu penting banget sih. Aku juga soalnya kerja remote.

Gimana caranya tim lead kita dan teman kerja kita percaya bahwa kita sebagai developer

ngerjain yang terbaik untuk tujuan tim tadi.

Jadi kalau misalnya kalau contoh konkretnya apa ya,

ada suatu masalah entah issue atau tujuan tiket tertentu

yang mungkin menurut kita agak sulit.

Mungkin kita bisa nawarin, kita bisa nyelidikin sebenarnya kebutuhannya apa sih.

Mungkin gimana kalau diakalin dengan A atau B.

Jadi kita nggak ngerendahin, misalnya kita nggak nyepelin atau ngerendahin rekan kerja kita,

tim kita yang non-technical kayak, ah itu kan nggak bisa masa minta begini-gini sih kan nggak mungkin.

Nah kita nggak boleh ngomong itu nggak mungkin.

Cuma kita nyelidikin sebenarnya kebutuhannya apa.

Bisa nggak diakalin dengan begini-gini?

Baru setelah problem software,

co-accountability, communication, barulah hard skill.

Hard skill itu sebenarnya lebih ke arah seluruh fundamental yang dibutuhkan untuk web saja sebenarnya.

Mengerti fundamental dari web itu seperti apa,

mengerti itu seperti saya bilang tadi, HTML, CSS, image, JavaScript.

Nggak perlu super mewah banget ngetahui segeluruh JavaScript framework nggak perlu menurut saya.

Jadi karena itu bisa dipelajari just in time.

Jadi kalau memang butuh projeknya, pasti akan ada yang membimbing untuk onboarding.

Kalau dia butuh, bisa ada projeknya pakai Next.js, ya udah.

Berarti perusahaannya kalau memang mau hire orang,

harus onboarding, belajar Next.js, dikasih waktu satu minggu, ya belajar aja Next.js.

Tapi karena sudah punya kemampuan seluruh soft skill yang saya katakan tadi,

dan punya fundamental untuk belajar itu menurut saya nggak akan lama.

Pasti diulik kalau kata Mas Zain itu pasti diulik.

Cuma tergantung perusahaan dan tergantung job requirement-nya juga.

Misalkan kalau misalkan ada perusahaan yang mengharuskan kita ambil kodiliti dulu, ambil read code, dan lain-lain,

ya itu hard skill-nya harus diaasah kan.

Dan itu juga bukan sesuatu, ya memang susah, apalagi kita jarang ya.

Nah itu harus dilatih. Jadi kuncinya ya latihan aja.

Lama-lama juga terbiasa. Tadi problem solving tadi sebenarnya.

Kenapa perusahaan mau menggunakan teka-teki, matematika, puzzle, dan lain-lain ya

untuk ngecek problem solving kita, skill problem solving kita seperti apa gitu.

Dan bahkan kalau sekarang ya nggak tergantung kepada framework tertentu.

Misalkan ya loongannya front-end misalkan, meskipun di perusahaan yang menggunakan salah satu framework,

apakah React atau Vue atau yang lain, mungkin, ya nggak tahu ya, boleh di, apa ya,

boleh di, kalau saya salah, mungkin boleh dikoreksi, dia nggak akan mencari yang bisa React.

Ya itu nilai tambah. Tapi kalau dia bisa JavaScript dan JavaScript puna metal-nya cukup bagus,

saya rasa kemungkinan diterimanya juga cukup besar.

Karena belajar, kalau kita udah tahu puna metal JavaScript, kalau React itu ya bisa sambil belajar juga.

Jadinya sama kayak tadi Ivan bilang tentang Next.js gitu.

Jadi, ya yang lebih ditekankan ya lebih fundamental-nya.

Selama fundamental kita bagus, ya harusnya lebih, apa ya, bisa diterima.

Saya punya cerita cukup menarik sebenarnya, ini mungkin tidak bisa relate ke semua orang ya.

Jadi waktu cari, awal-awal dulu ya, cari pengajar untuk bootcamp gitu kan.

Saya ketemu satu kandidat yang karena background pekerjaannya adalah konsultan di agensi,

itu dia nggak bisa Git. Bahkan dia nggak ngerti antara Git sama GitHub itu bedanya apa.

Cuman karena attitude-nya bagus, soft skill-nya juga bagus,

akhirnya waktu itu sempat perdebatan sih waktu mau hiring.

Ini masa Git nggak bisa sedangkan di bootcamp hari pertama aja ngumpulin tugasnya udah pakai full request gitu kan.

Perdebatan akhirnya saya bilang kita coba aja dulu. Tok juga ada probation kan.

Akhirnya dicoba dan bisa dia belajar dengan cepat.

- Tinggal suruh belajar, suruh nonton tutorial di WPU. Tutorial cara pakai Git.

- Karena dia attitude-nya bagus, dia punya kemampuan untuk ngulik, untuk belajar gitu kan.

Jadi ketika diwajibkan, oh kamu harus bisa Git, ya udah dia belajar.

Akhirnya berhasil gitu, bisa.

- Iya, tadi kalau pertanyaan follow up saya tentang itu Mas Riza, kalau Git gimana?

Oke kalau programming misalnya belum bisa satu framework tertentu,

oke lah bisa diajarin gitu kalau kata Mas Sivan tadi di onboarding aja.

Tapi kalau menurut temen-temen Git gimana?

Berharap udah bisa apa, ah itu mah gampang lah suruh belajar aja gitu.

Tadi kalau dari Mas Riza saya udah dapet jawaban ya sih.

- Git itu kan sebenarnya juga sudah ada UI-nya ya, sudah ada UI.

Jadi nggak perlu sialah, jadi kalau dia mau belajar juga sudah tinggal pakai Git.

Yang penting ngerti konsepnya.

Versi kontrolnya sebenarnya.

- Selama nggak pakai subversion atau CVS ya.

- CVS.

- Karena saya mulai dari CVS loh.

- Berarti yang diselidikin adalah si orangnya punya mindset untuk bisa belajar dengan cepet

dan nangkep prinsipnya atau nggak kan.

Yang kemungkinan yang bakal dicari adalah itu bukan exactly tahu cara pakai Git atau nggak.

- Tapi menurut saya kalau memang nggak bisa Git nggak masalah.

Karena tinggal dikasih nontonnya si penjelasannya Mr. Linus Torvald yang 10 tahun yang lalu

pasti mau ngerti itu cara konsepnya.

Saat dia presentasi Git di Google kok nggak salah.

Awal-awal.

- Kalau di kampus diajarin Git nggak Pak Dika?

- Saya mengalah ya.

- Mengalah nggak diajarin.

- Mengorbankan dua pertemuan saya untuk ngajarin.

- Oh iya soalnya.

- Karena kan harusnya itu bukan di web kan.

Harusnya itu memang semua coding kan pakai Git kan.

Ya udah deh nggak apa-apa saya ajarin aja gitu.

- Iya karena ini juga ya Pak, karena udah tuntutan zaman sih ya.

Jadi kalau misalkan kita mau belajar sesuatu kayak Ivan tadi kan kontribusi ke open source

atau melihat source code-source yang menarik itu kan larinya kan ke GitHub, GitLab dan lain-lain kan.

Jadi kalau misalkan kita punya kemampuan itu, belajar kita mungkin bisa lebih terbantu gitu.

- Itu kegantungan bangga kontribusi open source juga ya.

Bisa minimal, bisa bikin pull request lah ya.

Bisa nge-for, git commit, git push, git pull, dah.

Ini just in time tadi, sisanya just in time learning aja lah.

- Iya ini salah satu yang saya penasaran kan.

Saya pernah ketemu JD India kan, saya penasaran, saya tanya tuh,

"Apa sih yang membuat kalian tuh bagus banget gitu lulusan kampusnya gitu fresh graduate-nya?"

Apa yang beda? Saya tanyain kan detail.

Dia bilang sebenarnya nggak ada beda-beda banget sama negara-negara lain.

Yang membedakan adalah di semester akhir itu mereka diharuskan kayak pengganti kerja praktek,

pengganti magang dan lain-lain itu mereka diperbolehkan untuk ikutan Google Summer of Code

atau kontribusi open source.

Jadi dari kampus pun mereka sudah di-encourage untuk kesana gitu.

Itu bisa jadi pengganti, kita nggak perlu kerja praktek, nggak perlu cari magang,

kontribusi aja ke project-project open source.

- Berarti mulai next-nya Pak Dika bakal bikin program setiap Oktober harus bikin Oktoberfest.

- Oktoberfest. - Bagi-bagi kawas.

- Tapi itu kan melatih soft skill juga kali ya? - Betul.

- Itu secara nggak langsung. - Komunikasi, iya.

- Makanya kemarin saya agak menyesal sih waktu orang Gitnya nanya saya kan,

"Pak Dika siswanya berapa?" Saya bilang ya saya ngitung satu angkatan aja.

Saya 120, oh oke.

Terus tiba-tiba saya dikirimin tuh lembaran cheat sheet sama sticker banyak banget.

Dari Git gitu, langsung dikirim dari Git. - Git apa GitHub?

- Eh GitHub, sorry, sorry. - GitHub, dari GitHub.

Tau gitu saya bilang mahasiswanya 500 gitu ya, jadi banyak.

- Oke, wah mereka ini juga ya. - Disken aja Mas Dika,

habis itu bikin di print aja.

- Dikin sendiri. - Dikin sendiri.

- Dikin sendiri jual di Tokpep.

- Ada jadi cheat sheetnya buat dipajang gitu.

- Wah menarik ya. Itu GitHubnya tahu dari mana ke Pak Dika?

- Kan saya daftar yang student teacher itu kan, jadi fakulti member gitu.

Ada beberapa siswa, ada beberapa kelas ngajarin apa gitu, reponya mana gitu.

- Jadi sekarang mahasiswa harus tetap, maksudnya mereka harus punya account GitHub atau GitLab

dan kemudian semua tugas dikumpulkan ke repo gitu.

- Private repo atau maksudnya self-hosted atau ke public aja Pak Dika?

- Public aja. - Public aja.

- Public aja nggak apa-apa.

- Sekalian buat jadi portfolio juga ya.

- Menarik, menarik.

- Semester satu di Pak Dika, ini apa Pak?

Pokoknya add, push, udah add, commit, push, udah dipaksa.

- Itu yang penting, add, commit, push, bisa bikin brand, udah.

- Betul, betul, betul. Oh ya ada satu isu lagi, Nith.

Tadi ada yang bertanya, salah satu kesulitan, tantangan dalam belajar programming

adalah bahasa Inggris. Gimana menurut teman-teman?

- Ya itu, solusinya udah mulai banyak konten yang berubah se-Indonesia kan.

Terus ya apa, tapi tetap sebaiknya ya minimal bisa bahasa Inggris pasif lah.

Sekarang kan udah terbantu ya misalnya ada Google Translate

atau di YouTube juga udah ada auto-translate.

Jadi, sisanya ya dikira-kira. Apa lagi, nggak tahu.

- Udah banyak, udah banyak. Kayak, saya rasa kayak,

kalau framework-framework atau CMS-CMS yang sudah cukup matang, sudah mature,

itu rata-rata sudah punya banyak yang volunteer untuk melakukan translation.

Dan juga konten-konten kita di Indonesia sudah banyak yang berubah se-Indonesia.

Masa kayak Pak Dika, Mas Rizal, sudah banyak konten-konten.

- Kata Pak Dika harus bisa. - Iya, harus bisa.

- Iya, iya, iya. - Tapi bahasa Inggris tetap harus ini juga.

Ini harus bisa juga karena banyak kan dokumentasi in-code

di dalam kodanya itu sendiri bahasa Inggris, rata-rata.

- Dan kalau menurut aku, ini berguna banget buat networking dan berkomunitas sih.

Aku ngerasain banget kayak dulu bahkan mungkin pas awal-awal

skill coding dibanding skill bahasa Inggris justru skill coding kalah.

Cuma karena rajin bikin, apa sering bikin artikel misalnya di Dev2 atau apa,

malah jadi bisa kenalan sama banyak orang.

Nah, sementara skill coding kan bisa diasah ya, cuman ibaratnya udah menang,

udah menang dalam berkomunitas dan networking, bisa dapat kenalan baru.

Dengan jumlah yang, ya, pakai bahasa Indonesia pun bisa berkomunitas.

Tapi kalau kita bisa bahasa Inggris juga, kan cakupannya lebih luas ya.

- Ngebuka pintunya banyak banget lah gitu. - Betul.

- Daripada kita memaksakan belajar satu teknologi yang mungkin buka pintunya 5-10,

belajar bahasa Inggris, itu bisa hampir ratusan gitu pintunya kebuka tiba-tiba gitu.

- Iya, jadi kita juga ada konsiderasinya juga.

Saat kita mau translate WordPress ke bahasa Indonesia, beberapa error code kita nggak translate.

Ada tujuannya supaya mereka bisa Google.

Kalau mereka Google-nya hasil translate-nya kita, mungkin hasil solusinya jadi sedikit.

Karena nggak ada yang pakai itu kan.

Jadi error code itu rata-rata nggak kita translate supaya mereka bisa...

- Oh, make sense. Take over flow banyak, 10. - Iya.

Ini mungkin kalau buat teman-teman yang kesulitan banget gitu ya,

kesulitan banget belajar bahasa Inggris, saya punya rahasia.

Tapi harus ada modal nih, harus ada modal.

- Udah nggak rahasia lagi dong. - Jangan bilang siapa-siapa ya.

Rahasianya adalah kumpulin duit.

Liburan, liburan ya ke luar negeri, ke Singapura gitu, kita mau mazain gitu ya.

Itu nanti lama-lama bisa sendiri. Terpaksa.

Kayak tadi ya belajar programming, kayak Eka ya terpaksa gitu kan.

Karena harus bisa, apalagi udah terima project gitu kan.

Ya mau nggak mau harus bisa. Bahasa Inggris juga harus dipaksa gitu.

- Lama-lama juga. - Atau ke webcam.

Bisa bareng Ivan tuh.

Nanti kalau misalkan di imigrasi gitu kan ditanyain, "Mau ke mana?"

Kalau nggak bisa bahasa Inggris nggak jawab, nanti nggak bisa lewat.

Gimana tuh? Terpaksa kan harus bisa kan.

- Bisa tersang lah nunjuk-nunjuk print out webcam.

- Teman saya ini teman saya biasanya.

Teman saya, saya sama dia gitu.

Iya. Jadi apa namanya, harus dipaksakan untuk bisa.

Ya latihan lah. Intinya latihan sebenarnya.

Mau di Indonesia pun ya mungkin bisa join ini ya.

Inggris Club gitu ya mungkin ya.

- Terus sekarang kan hampir semua library atau framework

udah ada komunitas discord-nya ya.

Misalnya Next.js lah, Svelte lah, Astro.

Itu rata-rata semua udah ada komunitasnya yang cukup aktif.

Ya udah nyemplung aja ke situ.

Kayaknya banyak juga kok sering lihat programmer dari Indonesia

yang aktif di komunitas-komunitas kayak gitu.

- Itu Mas Zain udah ditunggu, udah menunggu

teman-teman yang mau ke Singapura untuk belajar bahasa Inggris.

Habis udah bisa bahasa Inggris langsung diinterview sama Mas Zain.

- Tapi bisa-bisa inggris doang.

- Gitu, ya selain untuk belajar,

bahasa Inggris juga penting untuk cari kerja.

Masa nggak mau sih belajar kerja sebagai freelancer

di Amerika, di Inggris, atau Eropa,

atau bahkan di Singapura dengan gaji dolar gitu kan.

Tapi kita tinggalnya di Indonesia, wah enak banget.

Apalagi jaman sekarang yang remote udah jadi sesuatu yang umum juga ya.

Jadi pintunya tadi bisa terbuka lebar

untuk opportunity untuk sumber belajar dan lain-lain.

- Karena paling banyak, paling enak belajar bahasa itu

bukan belajar bahasanya, tetapi belajar kulturnya.

- Kulturnya. - Wah, enak, berat.

- Jadi harus belajar filosofinya dulu ya?

- Enggak sih. Tetap aja cemplung,

tetapi saat belajar bahasanya jangan mikir, jangan kita berpikir.

Praktisnya ya, cara mempraktikannya adalah jangan memikirkan bahasa Indonesia-nya apa,

terus ditranslate ke bahasa Inggris, karena itu akan jadi delay.

- Iya, jadi aneh bahasanya juga jadi aneh.

- Iya, tetapi mulai praktis kalau kita ngomong sama berbahasa Inggris,

pakailah cara, pola, berba, bagaimana mereka menggunakan bahasanya.

- Nah itu sulit tuh, dipelajari itu.

- Ya, harus dijalani tuh, itu sih harus diperpikir.

- Just in time bahasa berbahasa Inggris dah, kata Mas Ja.

- Tapi nggak usah khawatir loh, kalau misalkan ketemu orang asing gitu ya,

ngomong aja mau semedok apa, mau grammar kita ngaco dan lain-lain,

pasti appreciate dan mereka bisa lah, bisa mengerti lah.

- Tenang, bukan EELS, tenang aja.

- Bukan, kita nggak dinilai, nggak dapet nilai gitu, ngomong-ngomong aja gitu.

Mau pakai, misalkan kayak bahasa tubuh dibantu juga bisa.

Kayak kemarin tuh saya waktu yang acara kemarin di Singapura tuh kan kita,

hari terakhir tuh ada game kan, itu startup-startup sama mentor juga digabungin

jadi satu kelompok, ada satu dari Filipina, ada satu dari Hong Kong,

ada satu dari Palestina, ya pokoknya daerah sana kan.

Terus pas ngomongin, pas ada tekat-tekin, terus saya bingung tuh tiba-tiba ngeblank,

mau ngomong kursi bahasa Inggris apa gitu kan, nggak keluar tuh chair.

Apa ya? - Kursi.

- Kursi, saya bilang kursi, ternyata si orang Filipina itu kayaknya mirip-mirip ya bahasanya,

kursi tau, oh chair, oh ya, jadi mereka ngerti gitu setidaknya.

Jadi yang penting ya pede dulu aja sebenarnya.

- Betul. - Nah ini ada pertanyaan nih dari Rozak.

Ngomongin soal GitHub, di Indonesia ada ekosistem yang fokus ke

how to contribute to open source nggak ya?

- Join ke WordPress community, Mas. Kita sudah menggalakkan bagaimana

mau kontribusi ke WordPress dari berbagai macam sudut, dari translation, forum,

code, justru kemudian support, meetup, segala macam.

Bagaimana caranya untuk kontribusi itu sudah ada semua bahasa Indonesia lagi.

- Wow. - Terus walaupun bukan fokus utama,

kalau nggak salah komunitas React.js ID yang Mas Zain jalanin juga ada itu kan

aktivitas. - Yup, ada.

- Jadi, walaupun itu salah satu aktivitasnya itu.

Contribute ke repo officialnya React dalam hal dokumentasi.

- Iya, tapi ada benarnya sih. Maksudnya ini kayak masih sporadis ya,

masing-masing ada, WordPress ada, tapi kan opinionated ya, React juga ada.

Mas Zain juga lumayan menggalakkan open source juga kan.

Kalau misalkan live streaming atau lagi ngerjain apa gitu kan.

- Oh iya, kayak bikin projek buat kontribusi open source semua.

- Betul, kawal Covid dan lain-lain projek-projek banyak kan.

Tapi yang benar-benar kayak belajar cara kontribusi ke open source.

- Ada lah ya. - Kayaknya belum ada deh.

Dan ini bisa jadi oportuniti buat kita.

- Jadi saya punya ini, punya satu repository itu bikinan anak-anak Discord.

Nama repo-nya tuh Belsaid. Jadi itu tentang repository untuk belajar

pemrograman dari memang dari 0 banget gitu, mulai dari HTML dan sebagainya.

Nah itu kita membuka seluas-luasnya kalau mau belajar pull request.

- Oh yang kemarin di Twitter itu ya yang ada pull request itu ya banyak ya.

- Jadi apapun itu mau nyok, ya kalau masih belum pede buat ke open source yang beneran.

- Takut ya kalau punya beneran. - Ya kita punya tuh.

- Web-nya apa? Web-nya apa? - Repo-nya Belsaid.

- Github.com/? - Belsaid. Github.com/Belsaid.

- Di promosiin tuh. - Mantap.

- Terima kasih Pamela. Pamela tuh salah moderator saya tuh di Discord.

Mantap. Discord-nya ramai sekali ya. - Berarti bisa juga kalau mau kontribusi

ke WPU ya kontik aja Pamela atau Pak Dika. - Masuklah.

- Saya mau jadi aktifis gitu. - Banyak aktifis.

- Untuk belajar. - Iya. Apa nih? Ini ya apa?

Kontribusi ke open source tapi bahasa Inggris ya.

- Gak apa-apa biar belajar. - Ya sekali belajar. Gak apa-apa. Salah.

Gak usah takut. Oh ini ya github.com/belsaid. Kita share di komen.

Nah ini juga ada benarnya nih belajar bahasa Inggris itu karena kebanyakan

dokumentasi resmi terutama kalau framework-framework yang baru rilis gitu kan

belum ada tuh translasinya kan. Jadi salah satu keuntungan untuk belajar

bahasa Inggris ya, dokumentasi. Jarang juga orang sekarang.

- Sekaligus. Sekaligus compong aja untuk jadi translator.

- Bisa juga. Saya kan kontribusi ke React juga itu lewat dokumentasi.

Jadi kontribusi komen source tuh gak musti kontribusi kode sebenarnya.

Jadi sederhananya. Iya. Lihat ritminya kan developer kan malas ya nulis ritmi ya.

Terus kita lihat aja, "Wah ini kayaknya menarik nih." "Ya udah, ritminya sini saya yang bikinin deh."

Sederhananya itu sebenarnya. Oh cara installnya gini ya, udah kita cobain.

Clone dulu, npm install, atau apa-apa, ya tulis aja step-by-stepnya.

Jadi, jadi ritmi. Terus pull request deh.

- Lumayan. - Lumayan buat nambah-nambah.

Oke, kita udah, udah hampir 30 menit lewat ya. Targetnya satu jam.

Ya udah kalau gitu. Mungkin untuk malam ini, udahan dulu.

Terima kasih banyak nih Pak Dika udah menimpat. - Terima kasih banyak.

- Sama-sama, seram banget. - Aduh, seru banget kalau sama Pak Dika tuh ya.

- Ngobrol ya. - Terima kasih.

- Ini tuh sebelumnya kita bikin pertanyaan, kayak yang ditanyain cuma 1-2 gitu.

Kalau diturunkan ini kayaknya 5 jam ada deh.

- Ini nih, "Apakah Pak Dika jadi web?" Saya nggak berani jawab.

Mari kita doakan saja, semoga. - Amin, amin, aduh amin.

- Semoga-moga ini dibaca sama Mas Danang.

- Mas Danang, monitor nggak Mas Danang?

Oke, oke, oke. Ya, jadi itu aja Pak untuk malam hari ini.

Terima kasih banyak buat Pak Dika. - Ada penutup nggak dari Pak Dika?

- Pekilmunya juga. - Wajangan, wajangan.

- Wajangan dari Pak Dika. - Enggak lah, sebenernya ini buat temen-temen yang nonton sih

sebenernya harus mengikuti setiap hari selasa ya temen-temen disini.

- Setiap hari selasa. - Itu kalau kata youtuber-youtuber sekarang,

apa, kolesterol gitu. - Kolesterol apa tuh?

- Karena isinya daging semua. - Aduh, apa ya? Bener juga.

- Tolong ditonton gitu, jadi saya juga selalu nonton.

Karena topiknya menurut saya seru gitu. Bukan cuman yang praktis-praktis gitu,

tapi kadang-kadang mendalam. Jadi saran saya sih diramein ya.

- Terima kasih. - Terima kasih.

- Wih, ini ada influencer juga nih, ada influencer.

- Sebuah biasa. Iya, kita sebenernya sama-sama belajar loh.

Kita banyak belajar, saling ngobrol aja tuh banyak belajar.

Jadi bukan hanya kita mau berbagi ilmu, tapi kita juga saling belajar gitu.

Ketika kita memberikan ilmu ke orang lain, ke temen-temen,

secara otomatis kita juga memperkuat ilmu yang kita punya gitu, mengikat.

Jadi semakin ingat dengan apa yang mau kita sampaikan atau materi-materi

yang kita kasih ke orang itu. - Itu mungkin retrospective learning ya.

Tadi ada just in time learning kan, pas lagi butuh kita belajar.

Nah, habis selesai nih, terus kita ngulang lagi, kita ngejelasin dengan kata-kata kita sendiri

tentang cara kerja, apalah casing atau apapun itu.

Kita ngulang, nah kan jadi tambah nempel tuh, mungkin.

- Iya, jadi diulang terus ya. Karena kalau tidak diulang, tidak dibahas ya,

bakal kami lupa. Dan untuk ngerti juga bahwa kita udah ngerti.

Kadang-kadang tuh kita merasa ngerti, memang kita benar-benar ngerti gitu,

dengan gaya kita sendiri. Tapi begitu kita jelasin ke orang, terus tiba-tiba ada yang nanya,

"Kalau kayak gini gimana?" "Oh iya juga ya."

"Oh, ternyata belum bisa nih, belum full seluruhnya."

- Saya sudah beberapa kali lho dapet kasus kayak dikerjaan setiap hari,

kayak kepentok, "Oh iya kan saya pernah bahas ini sama di ngobrolin."

Buka lagi, dikatakan. Catatannya saya buka lagi, dapet.

Barusannya saya solve masalah tentang incremental hydration dengan stream.

Barusan saya hari ini.

- Sebenarnya karena kita ngumpulin ring, kita ngumpulin materi, jadi gampang carinya.

- Ingat gak kita pernah bahas incremental hydration dengan stream?

Barusan saya ngasih solusi itu ke teman kerja saya hari ini.

Saya taunya dari Eka, di IDC Nandu. - Adil, dibayar sama perusahaannya Ivan.

- Ada yang kirim salam lho, kirim salam buat Eka. - Sama nih.

- Udah kayak ini aja ya, kayak radio. - Influencer, siap-siap jadi influencer 2023.

- Kita justru banyak belajar dari kita ngajar. Itu juga salah satu trik belajar ya.

Teman-teman mau belajar dengan cepat, ya. Udah belajar, ngajarin ke teman-teman yang lain.

Selain bermanfaat ilmunya, juga belajar buat kita juga.

Oke, itu aja buat malam hari ini. Terima kasih banyak buat semuanya.

Buat padika, buat Ivan, buat Eka. - Makasih.

- Kita ketemu lagi minggu depan. Masih di ngobrolin web.

Minggu depan kita mungkin balik ke tiga lagi ya. Kecuali padika masih mau...

- Nggak tahu, siapa tahu. - Siapa tahu jadi GDI.

- Amin. - Siapa tahu jadi GDI.

- Oke, nggak nutup-nutup nih. - Iya, macam benar ini.

Sekian dulu aja buat malam hari ini. Selamat malam, teman-teman.

Selamat istirahat. Kita ketemu lagi minggu depan ya. Bye.

- Eh, belum di-end. - Eh, asik.

- End dulu. Berut kasih belum di-end. Dadah.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Episode kali ini menghadirkan @sandhikagalihWPU dari kanal Web Programming Unpas. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .