Lompat ke konten utama
EP 48

Ngobrolin AI

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini mengambil sudut berbeda dari kebanyakan pembicaraan soal AI: bukan apakah ia akan menggantikan kita, melainkan bagian mana dari pekerjaan sehari-hari yang benar-benar terbantu. Jawabannya jujur dan tidak berlebihan — sebagian besar cerita justru soal batasnya. Percobaan menyuruh ChatGPT menulis fitur utuh dari tiket Jira disebut gagal telak: hasilnya jauh dari yang dibutuhkan, dan merapikannya lebih repot daripada menulis sendiri. Salah satu sebabnya, ia tidak mengenal gaya penulisan kode di tempat kerja kita. Menyusun ulang prompt-nya pun menguras tenaga tersendiri — capeknya berpindah dari mengetik kode ke memikirkan kalimat. Copilot dan Code Whisperer dari AWS dipakai untuk pelengkapan kode, dengan catatan bahwa untuk kode sederhana IntelliSense yang sudah ada sering lebih cepat. Yang benar-benar terasa berguna justru hal-hal sempit dan berulang. Regex disebut paling manjur, baik menyusunnya dari contoh maupun membedah yang sudah rumit. Lalu membuat data contoh untuk pengujian. Lalu mengingatkan sintaks yang kita pahami tapi malas mengetiknya — konfigurasi Nginx, perintah curl lengkap dengan header-nya. Lalu menyiapkan kerangka berkas unit test lewat Copilot Chat sehingga tinggal diisi. Ada pula pemakaian di luar kode: merapikan bahasa Inggris pada deskripsi pull request GitHub dan balasan email, serta menerjemahkan pesan ke klien Jepang lewat DeepL secara lebih halus dan tidak langsung sesuai budayanya.

Poin-poin Utama

  • Menyuruh ChatGPT menulis fitur utuh dari tiket Jira gagal telak — hasilnya jauh dari kebutuhan dan merapikannya lebih repot daripada menulis sendiri
  • Sebabnya ia tidak mengenal gaya penulisan kode di tempat kerja kita, sehingga terlalu banyak yang harus diubah
  • Menyusun ulang prompt menguras tenaga tersendiri — capeknya cuma berpindah dari mengetik kode ke memikirkan kalimat
  • Regex disebut pemakaian paling manjur, baik menyusunnya dari contoh maupun membedah yang sudah terlalu rumit dibaca
  • Untuk kode sederhana, IntelliSense yang sudah ada sering lebih cepat daripada menunggu Copilot atau Code Whisperer
  • Berguna untuk mengingatkan sintaks yang kita pahami tapi malas mengetik lengkapnya, seperti konfigurasi Nginx atau perintah curl beserta header-nya
  • Pemakaian di luar kode juga terasa: merapikan bahasa Inggris pada deskripsi pull request GitHub, dan menerjemahkan pesan ke klien Jepang lewat DeepL sesuai budayanya

[musik musik]

[telepon]

Halo, halo, selamat malam.

Selamat malam.

Selamat hari selasa, seperti biasa hari selasa, waktunya kita ngobrolin web.

Ngobrolin web.

Iya, selamat hari selasa, selamat malam.

Mudah-mudahan teman-teman semuanya sehat ya.

Di mana pun kalian berada.

Boleh dong, saya pengen tau teman-teman yang nonton nih, yang lagi hadir.

Itu dari kota mana aja.

Siapa tau kita bisa ketemu kan?

Di conference terdekat, Deves atau IO Extended atau apapun ya.

Atau WordCamp.

Atau WordCamp, betul. Yang mau ke Malaysia ya.

Siapa tau ketemu di Malaysia?

By the way, kalau ada yang teman-teman dari Tegal,

saya ngisi WordCamp Tegal nanti di Oktober.

Wow!

Seru ya, maksudnya bukan cuma kota besar yang kayak Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, ada Tegal.

Bandung hadir, kita nanti ketemu lagi di Bandung.

Ivan, langganan Bandung ya.

Oh iya.

Saya malah belum pernah ngisi Bandung.

Eh, kalau udah diubungi belum?

Udah.

Deves Bandung, bisa juga.

Tadi nomornya dapet dari saya.

Semarang. Ivan baru habis dari Semarang kemarin, kan?

Iya. Ketemu nggak kita, Mas Muhammad Rizky Putra Haji Utama?

Lihat transkrip lengkap (2351 segmen lagi)

Foto bareng nggak? Foto ke bareng.

Eh bentar, jadi penasaran.

Itu kan tadi ada di Tegal.

Apa? Acara WordCamp ya?

WordCamp, iya.

Eh, kota lain yang selain kota besar yang standar, pernah dimana aja di Indonesia.

Terenggalek gitu, atau apa sih, Ujung Kulon itu pernah.

Pasik Malaya.

Ubud termasuk kota nggak?

Ubud? Ya, Bali.

Iya.

Tapi kan itu kota, jadi ada kemarin pekan, Orchid Ubud di tahun 2017 ada.

Saya, termasuk organizer dan speaker di sana.

Keren aja sih, maksudnya bagus.

Jarang-jarangan lihat kalau acara teknologi kan biasanya di kota yang relatif besar ya.

Ya, yang itu-itu aja lah jatuhnya.

Kayaknya baru pernah lihat sih.

Event community tech, apa?

Yang major, tapi di kota yang...

Mungkin kalau yang event yang kita circle-nya kita kayak Google atau apa lagi, JSJSan, Fighten, itu banyak kan memang kota besar.

Tapi kalau menilik dulu-dulu itu kayak Firefox, jamannya Mozilla itu, community itu banyak juga loh di daerah.

Mozilla Community, Linux Community juga banyak di daerah.

Oh iya, banyak ya.

Nah, ini ada beberapa Bogor, nanti bakal salah satu, salah dua, salah tiga dari kita akan ke Bogor.

Ketemu lagi.

Bogor, Langkadan diri ya.

Eka udah dihubungi belum?

Udah.

Oh, berarti tiga-tiganya ya?

Nanti kita bikin konten khusus apa ya?

Ya, nanti, tunggu tanggal mainnya.

Nanti.

Ini ketemu kemarin katanya.

Abdul Malik juga ketemu.

Nah, malam ini topiknya agak sedikit beda.

Jadi, kemarin-kemarin kita udah hype-nya si AI ini sebenarnya udah agak lewat ya.

Orang-orang udah mulai terbiasa.

Banyak yang pakai juga.

Dan di sini kita mengambil sudut pandang yang sedikit berbeda.

Bukan ngomongin tentang AI ini akan menggantikan kita sebagai developer.

Tapi kita justru memanfaatkan AI ini untuk mempermudah pekerjaan kita.

Sehari-hari.

Sebagai developer khususnya, spesifiknya web developer.

Nah, mungkin kita...

Jujur sih, pengalaman untuk menggunakan tools-tools yang nanti akan kita perlihatkan itu...

Tidak terlalu...

Belum banyak yang kita gunakan.

Mungkin hanya satu atau dua aja yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Dan kita pengen tahu juga insider-nya teman-teman.

Di sini teman-teman udah pakai belum?

Udah aware belum?

Atau jangan-jangan, "Wah, apa ini?"

Dan...

Gimana manfaatnya buat teman-teman?

Kalau saya pakai sekilas di beberapa project...

Rasanya sih bermanfaat sekali.

Tapi nggak tahu juga buat teman-teman mungkin ada yang...

Wah, banyak error-nya lah.

Atau mungkin framework-nya terlalu baru sehingga si AI ini belum ngerti dan lain-lain.

Jadi boleh di-share juga pengalamannya.

Jadi kita bisa diskusi bareng malam hari ini.

Oke.

Nah, kalau Eka atau Ivan, boleh dong cerita.

Gimana pengalaman menggunakan AI di pekerjaan?

Nah, gue aja yang pengalaman paling dikit.

Nggak tahu kenapa sih, kayaknya...

Mungkin gue salah satu developer yang...

Pada sedikit atau paling belum banyak pakai tools AI.

Jadi kalau mau pilot sih karena berbayar ya.

Dan tempat kerja nggak bayarin.

Terus bukan bagian dari...

Apa sih?

Sebenarnya kalau maintainer dari project open source yang...

Cukup besar, dianggap cukup besar.

Cukup major oleh GitHub, kan bisa play ya?

Dapat akses ke pilot?

Nggak juga, jadi...

Nggak punya akses ke pilot.

Terus kalau Chet GPT sama Bert sih sebetulnya pakai.

Cuma...

Apa ya?

Nggak terlalu signifikan sih.

Jadi ini contoh-contoh penggunaannya sih.

Yang pertama tuh...

Paling utama...

Rejects.

Kayak lebih ke syntax aja.

Cuma...

Kan kalau di Twitter atau Hacker News atau apalah...

Sering kan ya orang yang...

Bisa sampai bikin prom sampai...

Sampai beneran suruh...

Nulis seluruh kodenya.

Nah...

Kalau sebelumnya sih gue pernah nyoba ya.

Karena FOMO aja, maksudnya...

Ada tiket nih di jira.

Tiket kerjaan.

Buat bikin suatu fitur.

Terus nulis prom.

Hasilnya sama sekali...

Sama sekali jauh dari yang dibutuhin.

Terus...

Kalau pakai kode yang dikasih...

Itu malah...

Kayak yang harus dibatuh banyak banget dan...

Jatuhnya malah lebih ribet dibanding...

Nulis sendiri.

Mungkin salah satu faktor kan...

Itu tergantung juga ya.

Maksudnya fitur yang ingin kita bikin apa.

Terus jenis apa?

Jenis aplikasi atau fitur yang...

Perlu kita bikin tuh kayak gimana.

Mungkin karena sebetulnya...

Fiturnya juga relatif simple.

Maksudnya nggak aneh-aneh amat dan...

Kebetulan di kerjaan gue juga...

Apa ya, agak repetitif sih.

Jadi relatif lebih gampang.

Kalau modify dari...

Segala macem yang...

Ada di kode atau struktur yang...

Udah ada. Sedangkan kalau...

Jatuh GPT atau Uber itu kan...

Dia nggak tahu style kode kita.

Jadi kayak banyak banget yang harus ubah.

Kalau yang kasus coba...

Sekali dua kali sih beneran jauh banget...

Hasilnya dari yang dicari.

Nah, kan terus...

Sebenernya kan kita bisa...

Kita bisa refine lagi. Kita bisa ngasih prom.

Bisa bilang...

Kita kan harus ketik ya?

Oh bukan. Maksudku...

Bukan yang ini-ini tapi bikin ini.

Terus malah jadi capai mikir kata-katanya nggak sih?

Kayak capai ngetik promnya.

Kayaknya maksudnya...

Akhirnya kalau buat tujuan itu...

Yang use case yang kayak gitu...

Akhirnya...

Kayak gue nyerah aja lah.

Mending nulis sendiri satu.

Cuma kalau untuk...

Mempermudahlah hal-hal yang kayak...

Malas mikir sintaksnya...

Itu lumayan sering.

Terus pakai salah satu...

Alternative Copilot juga sebetulnya...

Yang dari AWS.

Itu Code Whisperer.

Kita bahas lebih lanjut kali ya.

Intinya sih itu mirip Copilot.

Cuma nggak semua...

Bahasa dia support.

Yang React support...

Lumayan cuma ya...

Gitu lah pas-pas...

TS TypeScript, JavaScript TypeScript...

Support, Swift yang nggak support.

Yang kebetulan banyak...

Gue pakai di kerjaan.

Itu juga lumayan.

Cuma itu nggak tahu kenapa sih.

Mungkin...

Agak lambat gitu.

Kadang kalau misalnya kodenya simple...

Daripada capek-capek.

Jadi kan cara kerjanya kita ya...

Standard nulis code comment di atas...

Slash dua kali.

Terus kita nulis semacam promptnya.

Terus nanti sebenarnya tunggu 1-2 detik...

Dia bakal auto fill.

Ya udah kita tinggal tap aja kalau setuju.

Tapi itu tuh kadang lambat juga.

Jadi kalau misal...

Sementara itu kan sebetulnya...

Di PS Code, TIDE segala macem kan...

Udah ada IntelliSense itu kan...

Sebetulnya walaupun bukan AI itu...

Helper yang...

Existing ya.

Kadang kalau kodenya...

Lagi-lagi kalau kodenya simple...

Kayak lebih cepat nge-tick sendiri.

Karena udah ada masuk memoninya.

Dan kita nge-tick dikit juga udah muncul...

IntelliSense-nya kan.

Kadang kayak gitu. Cuma kalau misalnya ada...

Yang itu agak panjang, bisa sih nge-tick.

Tapi kita harus mikir dikit kan.

Maksudnya ada energi yang harus dihabisin...

Buat mikir kata-katanya.

Nge-tick tinggal nge-tick, tinggal ntar muncul.

Jadi kalau buat gue pribadi...

Yang paling majur, yang paling...

Maksudnya yang AI...

Faktor dari tools AI...

Yang paling membantu itu...

Pertama, rejects.

Itu manjur banget dan enak.

Enaknya karena kita bisa...

Kita tinggal ngasih contoh-contoh aja.

Yang begini, ini match.

Yang match, kalau begini, begini, begini.

Kita tulis aja semua use case-nya match.

Yang nggak dianggap match, kalau begini, begini, begini.

Terus nanti kalau kita penasaran...

Bagian-bagiannya kan bisa minta jelasin...

Satu persatu.

Pertama itu rejects. Yang kedua...

Rada nggak penting sih. Maksudnya...

Bukan hal yang sulit, tapi repetitif.

Tapi menurut gue kan ini hal yang...

Relevan banget buat kita nyuruh...

Kita nyuruh robot aja.

Dummy data sih.

Kita dengan macem-macem...

Satu yang valid, satu yang invalid.

Buat test case lah.

Test case atau misalnya...

Kalau bikin UI yang masih lagi nyoba doang...

Kan kadang males...

Ngefetch atau apanya kan...

Nanti aja kita pengen bikin UI-nya.

Nah, itu berguna banget.

Terus...

Sebenarnya ini ada turunannya lagi, tapi nanti aja deh.

Kayaknya bahas di kode dulu.

Sebetulnya buat command line.

Cuma nanti aja.

Cuma ke event dulu aja.

Kalau gue ya...

Kalau gue bantuan banget...

Sehari-hari. Karena pertama...

Otak sudah...

Nggak bisa ngapalin semua.

Jadi...

Jauh lebih gampang kalau...

Dibantu dengan AI.

Khususnya saat...

Apa namanya?

Saat ingin cepet ya.

Kalau misalnya harus...

Dibawah...

Tulis-tulis lagi...

Ingat-ingat lagi itu kayaknya...

Lama gitu.

Pakainya apa-apakainya?

Kalau gue pakainya...

Macam-macam tapi paling sering...

Tiga.

Chat.

Kalau untuk bertanya secara...

Apa?

Kayak lebih overall.

Misalnya kayak regex...

Atau diskusi, atau...

Yang paling sering menggunakan CNGPT itu...

Untuk membuat reply.

Bagaimana...

Reply email.

Gue tulisin.

Jadi buat nge-reply email...

Atau membuatin...

GitHub...

Description-nya.

PR Description.

Jadi PR Description itu bahasa Inggris saya...

Kacau balau, malarau.

Kacau balau lah.

Gremornya.

Terus tinggal gue tulis aja...

Kira-kira pokok pikirannya apa.

Terus minta CNGPT untuk...

Nge-replace.

Jadi lebih baik.

Terus...

Dari hasil itu gue tinggal copy paste.

Jadi PR Description-nya lebih...

Jadi kelihatan profesional.

Itu satu.

Kedua, gue paling sering pakai...

GitHub Copilot.

Jadi...

Kedua, lihat...

GitHub Copilot untuk code completion.

Sama Copilot Chat.

Ada juga Copilot Chat.

Itu extension-nya.

Jadi pakai...

GitHub Copilot Chat untuk...

Kalau yang...

Autocompletion sama lah ya.

Kayak IntelliSense.

Tinggal tulis prompt-nya apa.

Nanti dia bisa complete-in.

Terus nanti tinggal saya modifikasi.

Ada satu lagi yang chat.

Ya mirip kalau yang chat-nya sama kayak...

Sama kayak...

Chat GPT.

Tetapi dia...

Fokusnya lebih kanakul.

Biasanya saya pakai...

GitHub Copilot Chat ini...

Untuk bertanya...

Pertama...

Nanyanya...

Regex ini gunanya apa sih?

Buat...

Menjelaskan gitu ya.

Kayaknya segala umat tuh...

Regex ya?

Kalau Regex yang simple itu saya bisa.

Regex yang simple itu maksudnya...

Ya kompleks-kompleks sedikit.

Masih bisa dipahami dengan nalar.

Tetapi kalau sudah...

Kompleks banget.

Sampai ini...

Apa lah maksudnya.

Itu ada juga...

Nanti saya tunjukin ya.

Sample Regex-nya.

Kalau...

Itu satu untuk mengahami Regex.

Dua untuk bantuin nulis...

Biasanya...

Kayak...

Engine X Configuration...

Atau RTSS Configuration.

Itu...

Misalnya saya paham sih...

Configuration Engine X itu...

Paham sebenarnya.

Luar kepala. Tetapi kadang males mikir gitu ya.

Gue pengen di-direct ini.

Nanti dia tulisin, oh iya.

Gue lupa ada sindak sini. Tinggal copy paste...

Lubah sesuai dengan kebutuhan.

Jadi gak murni copy paste.

Ingat ya. Saya tidak murni copy paste.

Tetapi...

Untuk membantu mengingatkan...

Oh iya ini ada.

Biar kita gak usah mikir dan ngetik...

Sinteks lengkapnya ya.

Iya. Jadi tinggal copy paste.

Terus ternyata saya tau isinya...

Oh iya tinggal bantu.

Lalu...

Untuk...

Membantu menulis...

Cool.

Karena malas banget mengingat...

Header-nya apa, method-nya apa.

Terus...

Content type-nya apa. Itu malas banget menulisnya.

Ini kalau di-generate pakai chat...

Yang chat cepet.

Lalu terakhir...

Minta tulisin unit test.

Jadi...

Saya tinggal minta...

Tolong buatin...

Misalnya saya buka file-nya.

Terus tolong generate...

Program unit test-nya. Udah degenerate skeleton-nya.

Nanti sudah per function.

Sudah buatin skeleton-nya.

Misalnya tinggal jadi to do.

Right test, to do, right test.

Jadi tinggal saya copy paste sudah jadi.

Terus bootstrap untuk unit test.

Jadi saya tinggal isi test-nya.

Nanti test-nya nanti saya bikin prom lagi.

Nanti tinggal degenerate lagi.

Oh tapi yang di-generate...

Di pertama tuh skeleton-nya ya...

Cuma kayak describe...

Sama function-function-nya ya.

Isinya kosong.

To do, to do.

Function kosong.

Maksudnya kayak describe...

Tapi isinya kosong.

Nanti dia bantuin...

Sampai setiap function...

Yang ada di file itu...

Dia generate into skeleton-nya.

Jadi tinggal ikutin skeleton-nya.

Gak perlu mikir bikin skeleton.

Itu...

Tadi apa tadi?

Check-ex.

Terus kemudian...

Terakhir saya pakai...

Nggak berhubungan dengan boarding.

Tetapi untuk translation.

Ya jadi...

Ada kalau dari company...

Pakainya ya...

Pake deep L ya.

Jadi kita punya client Jepang.

Ternyata kalau untuk client Jepang itu...

Translation itu...

Nggak semurni-murninya kita...

Dari bahasa kita...

Atau dari bahasa Inggris...

Ke bahasa Jepang.

Tetapi harus memahami culture.

Jadi...

Untuk...

Kulture yang khususnya Jepang...

Mereka itu...

Culture-nya polite dan indirect.

Mirip bahasa Jawa lah ya.

Kayaknya bahasa Jepang, bahasa Korea.

Maksudnya bahasa Asia Timur itu...

Ada keminiripan sama...

Bahasa daerah Indonesia lah.

Terus nggak boleh bilang saya kan ya.

Bukan itu. Lebih ke arah pasif.

Jadi kalau misalnya...

Lebih ke arah...

Kalau bahasa Inggris kan...

Atau ketemu sama...

Westerner...

Atau yang pakai bahasa Inggris...

Negara yang pakai bahasa Inggris itu...

Biasanya bahasa direct.

Kalau ke orang Jepang khususnya...

Culture-nya bahasanya harus indirect.

Jadi minta ditranslating sama...

Deep L.

Dan itu bisa dibikin...

Di bikin polite dan indirect kita.

Keliatanya pernah denger kayak...

Orang sana tuh menghindari terlalu banyak...

Ngomong "I" atau "you" secara langsung.

Jadi kayak apa gitu loh.

Maksudnya...

Mungkin kalau orang Barat kan...

Ya itu direct ya.

Kamu harus gini-gini-gini.

Tapi kamu...

You should... Blah-blah-blah.

Cuma mungkin kalau di bahasa Jepang...

Jadi kayak cuma kata kerjanya aja.

Itu di-inverse sendiri. Silahkan simpulkan sendiri.

Bahwa itu maksudnya...

Anda yang harus begitu.

Ya gak tau rumit loh.

Kadang misalnya gue ngomong misalnya...

Fitur itu gak bisa gitu.

Bahasanya bilang...

Gak bisa gitu.

Ini contoh ya. Contoh simple gitu.

Gak bisa.

Tapi bilangnya kalau untuk fitur itu...

Membutuhkan lebih banyak waktu.

Dan tidak efisien.

Dan tidak efektif.

Kayak secara halus di usirnya.

Iya.

Jadi...

Gak bisa bilang gak bisa.

Bisa tapi...

Itu kan sebenarnya mirip tuh...

Kalau di bahasa Indonesia...

Yang mungkin...

Bahasa Indonesia informal kan...

Besok tuh bukan selalu berarti...

Tomorrow kan.

Besok tuh kan...

Ya maksudnya kalau...

Hari viahnya kan besok beneran nih.

Hari yang telah hari ini.

Tapi kan bisa besok itu kapan-kapan lah.

Next time.

Ntar ya.

Tapi itu belum tentu.

Ntarnya setahun lagi gitu.

Nah bentar.

Coba kalau di PL itu dibanding...

Yang free lah. Misalnya Google Translate.

Atau Bird. Atau apa. Itu lebih...

Powerful ya.

Saya gak. Ini karena bukan...

Atau gimana. Ini cuma...

Tools-nya sudah dikasih.

Tinggal pake.

Oh ini ya. DeepL Translate ya.

Website-nya ya.

Ini ya. Lihat ya.

Intip-intip aja ya.

Oke.

Oh...

UI-nya mirip sekali sama...

Google Translate ya.

Coba aja.

Tapi gimana memastikan ya? Coba.

Ini gratis.

Kalau disini gratis.

Tapi kalau yang company...

Pakainya dialog-in.

Ini gak coba aja kalau mau pakai.

Tapi itu ada integrasi sama...

IDE gitu.

Atau sama apa lah?

Litwani.

Kok Litwani ya?

Hah? Oh iya.

Kebalik-kebalik.

Indonesia.

Inggris.

Ya betul.

Low Growning Web.

Chatting the Web.

Web Chat.

Ya lumayan.

Not bad ya.

Oke. Menarik.

Kalau mau lebih konteksnya.

Harus yang panjang gitu.

Dan sebuah kalimatnya.

Loh Indonesia gak ada?

Apa ini?

Oh yang Pro.

Gak ada harganya ya.

Ada itu di Plans and Pricing.

Plans and Pricing?

Udah ini Pricing.

Disini.

Oh diklik negaranya.

Kita beli dari mana?

Singapura ya.

Oke.

28 dolar

per tahun.

Per user per month.

Per user per month bill annual.

Oke.

300-400 ribu per user per month.

Wah.

Yang mihil ya.

Mahal juga ya.

Saya gak bayar.

Ibu bayarin.

Co-pilot juga sebenarnya

kalau dihitung ini juga gak murah kan.

Makanya gue gak pake.

Chat GPT sama Co-pilot bayar.

Ya.

Chat GPT ada yang bayar ada yang gratis kan.

Ya.

Nah Chat GPT itu kan

sebetulnya dari OpenAI ya.

Katanya kita bisa.

Kalau kita akses API nya itu bayar ya?

Akses API nya bayar.

Jadi sebenarnya kita bisa bikin

versi Chat GPT, versi kita sendiri.

Jadi yang rapatnya.

Mau pake GPT 4K

3,5K atau apa

kita pake API nya.

Begitu juga dengan Co-pilot.

Co-pilot sebenarnya itu dibangun dengan

kodexnya OpenAI.

Di belakangnya.

Jadi kalau kita mau bikin Co-pilot sendiri

bisa sebenarnya.

Ya udah ada API nya.

Berbayar kan.

Per-token.

Per-token dia.

Kalau gue coba-coba sebenarnya

affordable lah.

Tidak terlalu mahal.

Selama pakai

GPT 3,5 ya.

Kalau 4 agak lumayan masih mahal sih.

Tapi

yang saya

perhatikan

jika chat GPT muncul itu

banyak

pesan

resign itu

puetis-puetis sekarang.

Oh ya itu tentunya.

Hubungannya sama yang bilang Ivan buat tulis email.

Ya itu

baca nya itu

terharu gitu.

Jadi curiga jadinya. Setiap ada yang bikin

itu reply itu

ini pakai chat GPT.

Jangan-jangan gitu ya.

Sebenarnya.

Ya.

Yang masuk kamar

duluan kan

yang check in duluan karena jet

flightnya lain

ananda pakai nama lain.

Udah nyuruh Bart kan.

Terus ya kata-katanya indah

email nya jadi panjang.

Kata-katanya oh kayak penulis profesional.

Cuma dia nambah-nambahin detail sendiri gitu loh.

Lupa sih detailnya apa.

Cuma yang gelas itu gak ada.

Itu salah.

Maksudnya itu gak ada di prom awal.

Gue revisi.

Oh gak. Bukan itu.

Jadi harus nulis

2 kali lagi baru

gak boleh mentah-mentah.

Karena dia kan

sebenarnya language model ya. Mungkin

punya cara buat ngedeteksi

email orang ke hotel nanya

soal check in atau detail

rata-rata gimana. Jadi panjang.

Panjang dan bagus. Cuma

ada bagian yang gak akurat kita harus

revisi. Nah terus

nama kedua soal surat-nyurat nih

nanya Bart lagi

buat ya waktu itu surat

keterangan kerja.

Buat aplikasi Visa Amre.

Oh iya Bart ini salah satu

kelebihan nya dia bisa import

export ke Gmail gitu-gitu ya

lebih gampang ya.

Terus ada UI nya yang mempermudah

di Gmail sendiri. Di dalam

Gmail juga sebetulnya ada. Cuma karena

kayak udah permanen aja di browser

ada satu tab Bart yang selalu terbuka.

Ya udah kan ngedetek di situ.

Kayak dia improve juga apapunnya ada hal ya.

Sebetulnya rintahnya

bukan itu. Cuma ya udah.

Nah. Terus akhirnya sih

akhirnya gak dipakai cuma karena alasan lain.

Karena kebetulan ya

kalau di kantor udah ada template-nya.

Itu agak

anti-climax ending-nya. Nah cuma

kalau buat PR

gue belum ada pengalaman pribadi sih

karena di tempat kerja

gak ada ekspektasi buat

penulis panjang-panjang jadi kayak

lebih ke biasa kalau harus bikin

feature atau task atau story

dibahas di tiketnya.

Kalau belum sepakat atau apa ya

di rundingannya di tiketnya.

Terus setiap PR atau

commit ya cuma

reference, apa? Nomor tiketnya

doang. Jadi belum. Sudah cukup detail ya.

Belum punya pengalaman

harus ngejelasin sesuatu

yang dengan profesional

atau dengan KC PR. Mungkin kapan-kapan

apalah contribute ke

project open source lain atau apa

yang harus kayak gitu. Mungkin bakal

coba.

Masteries-nya sendiri pakai

tools-nya udah apa aja?

Saya coba lumayan intensif

pakai copilot.

Ya chat GPT sama

Bart

juga kadang-kadang pakai ini

Bing Chat. Nah

ini nih dari Ari Bing Chat.

Itu salah satu kelebihan adalah

GPT 4 tapi gratis.

Bisa di Bing Chat.

Kalau misalkan chat GPT kan harus

bayar ya yang 20 dolar itu kan yang premium kan.

Kalau Bing Chat ini

gratis. Tapi syaratnya harus

menggunakan Microsoft Edge dan punya

account Microsoft.

Gitu.

Kok ya? Gak seru. Gak seru register.

Iya itu dia

harus pakai Microsoft Edge

gitu. Tapi GPT 4.

Sama juga buat. Cuma itu standar lah.

Maksudnya kita pakai Bart yang

kalau free kan ya

kita harus pakai account Google.

Itu kayaknya standar lah.

Dan

dapet juga itu. Akses

ke Dal I. Dal I-nya OpenAI.

Jadi bisa generate image

namanya thumbnail

gitu emoji yang

beda gitu. Jadi

lumayan menarik kadang-kadang pakai.

Cuma

kalau saya penggunanya agak sedikit berbeda

kalau untuk ini ya.

Kalau temen-temen kan tadi kayak ada

prom-nya kan.

/create

add function with

2 parameters blablabla. Kalau saya langsung nge-tick

kodingnya aja.

Jadi nggak ada perintah sama sekali. Jadi dia

ngikutin pass

function add. Nah itu dia udah

bisa-bisa. Biasanya udah autocomplete

kalau lagi pinter.

Cuma dia bisa ya?

Bisa. Bisa. Nah kalau pengalaman

kalau gue kan pakainya code list

perernya WS ya. Itu cuma

bisa kalau kita udah punya

kode yang mirip

sebelumnya. Jadi misalnya apa ya?

Sebelumnya ada data model

name, email, address.

Terus kita udah punya method atau function

validate name. Udah

kita harus nulis sendiri sampe selesai.

Entah pake prom atau nge-tick sendiri

atau gimana. Validate name sampe selesai.

Bawahnya kalau kita nge-tick validate

email dia bisa

bikinin sisanya

ya mirip-mirip berdasarkan sebelumnya.

Cuma kalau pas awal kita nge-tick

validate name, itu kayak

hit and miss. Kayak agak

kadang-kadang nggak, mungkin

ya nggak tau, nggak sebagus

belum sebagus co-pilot.

Belum sebagus co-pilot ya. Karena kan lebih baru

juga kan si whisperer ini.

Dan yang menarik tadi sama kayak Ivan

bikin unit test. Itu sangat

membantu sekali. Dan

entah, nggak tahu ya,

ini antara saya yang

mungkin merasa

dia terlalu canggih. Gitu ya.

Jadi kalau misalkan kita punya satu

satu code di satu

file.

Gitu kan. App.js misalkan.

Terus saya bikin lagi app.test.js

dia seolah-olah bisa membaca app.js

Ya.

Mungkin emang bisa. Mungkin emang bisa.

Betul. Emang dia baca.

Emang dia baca.

Satu project itu dia index ya.

Yes.

Dia akan index semua.

Jadi dia tau tuh.

Di app.js itu ada fungsi apa

aja yang udah dieksport.

Terus dia bikin intesnya.

Gitu. Yang

success case, fail case

dan macem-macem tuh. Jadi itu udah

membantu sekali.

Untuk

yang lain. Baru itu sih yang paling

intensif. Yang menarik juga

saya sering nyalain co-pilot kalau lagi

life coding kalau lagi presentasi.

Itu juga menghibur.

Lumayan menghibur. Karena kadang-kadang suka

ngaco.

Justru unsur hiburannya tuh

di dengan co-nya itu.

Menjelak-jelakan dia. No. Kan.

Ngaco kan. Nah. Gitu.

Kalau yang bener sih

membantu ya. Apalagi life coding kan

rentan salah kan.

Jadi kayak kita punya code snippet.

Itu membantu juga buat ituin mood kita.

Iya. Kayak code snippet

dan membuat kita lebih percaya diri kan.

Ada. Oh ada yang bantu nih. Gitu.

Jadi lumayan seru sih.

Cuman sayangnya memang agak mahal

si co-pilot ini.

Dan kayaknya ada beberapa

alternatif ya. Untuk co-pilot.

Iya. Alternatif yang free.

Code IUM ya.

Ada tadi

whisperer.

Amazon code whisperer ini.

Ini punya nya AWS.

Jadi kita harus, eh gratis-gratis.

Harus login ya. Harus punya account ya.

Iya. Harus bikin account jelas.

Harus bikin account. Tapi gratis.

Enggak di charge.

Kalau code IUM ini

kayaknya di open source.

Dan sudah ada chatnya juga.

Enggak ya?

Iya. Itu ada code chatnya.

Open source kan? Enggak.

Oh iya. Open source ya.

Kayaknya iya deh.

Wait. Free forever.

Tapi enggak ada code nya ya.

Eh.

Enggak. Enggak open source kayaknya ya.

Enggak ya. Enggak. Enggak open source tapi

freemium. Free. Iya. Free.

Freemium. Yes.

Tapi ada freenya kok ini.

Yes.

Nah ini

editor nya lumayan lengkap ya.

Kalau si co-pilot juga lumayan lengkap.

Yang kurang lengkap itu

code whisperer. Dia cuman bisa visual

studio code. Ya ini.

Cuman bisa ini.

Enggak bisa Vim ya.

Jadi kalau yang mau ngoding Vim

yang ngodingnya pakai Vim enggak bisa

pakai code whisperer.

Lalu ada

alternatif lagi ada code. Ini

enggak tahu nih. Berbayar ya.

Freemium juga. Jadi

code sama

source graph ini sama code IUM

sama mirip. Jadi

free. Bisa dipake free.

Cuma limited. Kalau

enterprise ya pasti. Perksnya

ada lebih banyak lagi.

Nah kayak gini nih yang saya sering pakai nih.

Jadi kita tulis fungsinya.

Terus isinya itu dipikirin sama si co-pilot.

Nah itu yang

cukup sering dan cukup

tingkat keberhasilan cukup tinggi dibandingkan

harus menggunakan komentar.

Oh iya sama tips.

Kalau kayak gini sih. Kalau yang sukses

biasanya kalau hal-hal yang

common banget. Yang umum banget misalnya.

Print days date.

Atau apalah. Calculate

difference.

Jadi kita harus

kasih nama ya.

Nama fungsinya itu harus

menggambarkan isi dari

si fungsinya kan.

Itu standar lah.

Clean code juga begitu kan.

Nah kadang. Cuma nggak tahu sih

kalau. Gue lagi buru-buru nih.

Kadang semua namanya full sama bar

sama bus doang. Abis itu

karena buru-buru ya.

Maksudnya belum rapih. Dikirnya.

Pas cuma pengen

cepat lihat hasilnya.

Abis itu baru di rapi-rapiin.

Cuma mungkin pelan-pelan harus

mubah kebiasaan itu.

Jadi pertama biar kita

kadang keburu-buru pengen ngetik

aja kan gitu. Pengen langsung ngetik, pengen langsung

lihat. Ini tuh kayak encourage kita buat

diem bentar. Dikir dulu.

Ini masanya scope-nya apa sih?

Nah kalau mekot kan juga sebetulnya

ada best practice-nya.

Biar se-clean mungkin dan gampang

boleh melakukan

lebih dari satu hal yang beda kan

lebih baik di pecah-pecah lagi.

Nah itu kita jadi misalnya

apa ya, validate date

and send and bla-bla-bla.

Nah kalau misalnya kebanyakan

ya itu nggak bakal muncul juga

dan itu juga encourage kita

buat pecah-pecah. Berhenti mikir

pengen bikin apa sih.

Terus nentuin scope-nya.

Terus ngetik nama yang

sesuai. Jadi

ada bagusnya juga latih kita.

Ada satu lagi yang

nggak ada

di sini.

Itu saya

pakai terminal namanya

Warp.

Itu ada AI-nya

juga sekarang.

Itu juga

gratis. Tapi maksudnya apa?

Ada limitnya. Tapi harus login kan?

Warp itu pakai login kan?

Pakai Warp pun harus login tanpa pakai AI-nya.

Bahkan tanpa pakai AI-nya.

Sekarang semua produk

kayaknya ditambahin AI jadi

valuasinya jadi naik ya.

No Shell ada AI-nya.

Semua ada AI-nya.

Warp itu bukan

code editor. Itu CLI.

Itu kayak Shell.

Terminal.

Itu aplikasi untuk Shell.

Tapi dia bisa prediksi

perintahnya mau kita tulis gitu ya?

Nggak. Jadi kita kasih prompt.

Oh, prompt.

Saya mau convert MP4

ke WP.

Pakai FFMPEG.

Kalau buat bash comment

atau apa lah yang Linux-Linux-an gitu loh.

Yang LS.

Dan sangat membantu sekali.

Karena kan kita nggak bisa ngapalin

semua comment ya.

Gue nggak ada minat sama sekali

ngapalin itu sih.

Dan parameternya.

Dan parameternya kan misalnya

aja parameternya banyak kan.

Siapa yang ngapalin satu-satu?

Pakailah.

OK.

Warp ya.

Ini yang menarik sebenarnya dari

kodi source drop ini.

Ini codebase aware.

Kalau copilot

walaupun kelihatannya dia bisa

tahu satu codebase.

Tapi nggak ada fitur itu ditulis gitu ya.

Nggak tahu ini benar atau salah ya.

Masih abu-abu ya. Antara dia memang benar

tapi satu codebase.

Atau dia hanya menembak-nembak aja.

Tapi yang jelas, kalau source drop ini

disini ditulis bahwa

dia bisa mengerti

satu project.

Jadi bukan hanya satu file aja.

Copilot bukan gitu kok.

Ada ya?

Ada keterangan ya? Saya nggak ketemu soalnya.

Gue nggak ketemu keterangan, tapi so far

secara general dia selalu sesuai.

Selalu sesuai konteks sih.

Sesuai konteks ya. OK.

Ada ya? Berarti ada.

Sama satu lagi ada

yang dari Rappel.it. Rappel.it ini

bisa dibilang IDE

cloud ya. Jadi kita

nulis codenya itu di browser

sama environmentnya sudah disiapin

semua. Dia mengeluarkan satu produk namanya

Ghostwriter. Ini juga

seperti copilot, tapi

buat editornya dia.

Khusus buat editornya dia.

Sama-sama aja sih.

Saya curiganya juga mereka pakai OpenAI.

Saya juga ini.

Cuma beda platform aja.

Atau

intinya LLM sih belakangnya ya?

LLM, iya pastilah.

Ada juga yang

mengembangkan

LLM sendiri buat belajar, kayak

Khan Academy gitu ya. Mereka pakai

LLM yang ada,

terus mereka refine lagi,

define tuning, disesuaikan sama

kebutuhan mereka.

Jadi sebenarnya LLM yang major itu

ada apa aja sih?

OpenAI.

Itu kan dipakai sama misalnya

check GPT, terus

apa tadi? GitHub Copilot.

Belum tahu nih. Kayak Quium

atau AWS Code Whisperer

pakai apa? Belum.

Nah, kalau

Vertex kan Vertex AI itu

punya Google ya. Google.

Dipakai di

Google. Dipakai di Bard.

Bukan.

Kalau Bard itu pakainya

Lambda.

Cuma mungkin, nggak tahu,

Vertex AI itu pakai Lambda juga

atau bukan ya?

Bentar. Sambil

share screen.

Ada lagi nih katanya. Black Box. Nah, ini kita

belum pernah tahu nih Black Box.

Gue tahunya BC Box.

Apa?

BC Box.

Itu Docker.

Oh.

Black Box. Ini ya

useblackbox.com ya?

Oh iya. Black Box AI.

Lambda.

Ini.

Kodo ASU.

Lambda itu dipakai Bard.

Coba pricing.

Yang pertama dilihat bukan feature-nya

cuma pricing-nya. Keren sekali.

Jadi mungkin

student. 2,5.

Not bad lah. 2,5.

Apply jadi student.

Kalau ditanya belajar apa.

Oh, ISGB Apply.

Selalu belajar.

3 dollar per bulan.

Kurang lebih ya. Untuk yang

standarnya.

Jadi, kayak tadi kan LLM itu

ada beberapa. Ada dari OpenAI.

Produk

B2B-nya itu temen-temen bisa akses

di OpenAI.com. Kalo

buat B2C-nya di ChatGPT.

Chat.OpenAI.com.

Itu buatannya OpenAI.

Kemudian ada Bard.

B2C-nya itu Bard.

Google.com.

B2B-nya ada di Google Cloud.

Ada banyak tuh. Ada Vertex.

Ada code juga.

Ada yang berhubungan dengan code juga. Saya lupa namanya.

Terak kodi atau apa.

Jadi Vertex AI.

Itu ada banyak ininya ya.

Vertex AI itu macem-macem jadi kayak

buat bahasa manusia.

Kayaknya buat yang

station ada kodi.

C-O-D-E-Y.

Ribet ya. Tadi ada kodi.

Yang ini kodi. Yang ini kode.

Yang ini C-O-D-E-Y.

Nah, ini bagian dari

Vertex AI juga.

Ada itunya di atas. Cuma yang

untuk berhubungan sama

kode. Ada code chat.

Ada competition ya. Autocompetit.

Standard. Maksudnya mirip sih sama

yang punya OpenAI.

Sudah ada model-modelnya.

Yang menarik ini.

Jadi dia dibisahin. Untuk

code combination ada sendiri. Untuk unit testing

generation ada sendiri. Jadi lebih

spesifik ya. Ada code fixing juga.

Optimization.

Bisa lebih cepat.

Sebetulnya ini ada

Google juga bikin. Ini kan yang

API-nya ya. Underlying

API-nya. Terus Google

baru aja nge-launching project

IDX. Itu

IDE Online.

Jadi yang mirip StackBridge

atau Github Dev

dan lain-lain.

Dia fork-nya dari Visual Studio Code.

Tapi ditambahin AI.

Sama ada emulator. Kalau teman-teman

develop aplikasi dengan Flutter

mungkin

isinya

kentang gitu ya. Bisa pakai ini aja selama

ada browser. Itu jalannya di server ya.

Jadi emulator

IDE. Environment.

Ya sebenarnya itu full environment sih.

Cuma di browser semua.

Dan dia suka ini-nya nih.

Form-nya.

Dia sudah ngasih

virtual container-nya

dia udah ngasih kan.

Iya.

Dan ada ya karena ini produk

Google ya. Ada apa sih

di permuda. Kalau kita mau

deploy ke Firebase Cloud

Hosting gitu kayak what. Ada

itu-nya. Tap-nya.

One click deploy.

Selain itu standard sih. Maksudnya bisa

import/export dari Github.

Ya. Mirip StackBridge.

Kelebihan utamanya ya itu ada si AI-nya.

AI-nya.

Generative AI. Powered by

itu tadi

Vertex Code AI.

Ini menarik.

Cuma sayangnya. Sayang sekali

mungkin alesan legal atau

belum bisa di-release di semua negara.

Negara kita

tercinta. Salah satu ya.

Belum.

Project IDX-nya

udah bisa jalan ya kayak

StackBridge, kayak apa sih

IDE biasa. Cuma

khusus AI-nya belum.

Kalau udah tuh sebenernya enak. Jadi kita tinggal

select code-nya.

Please explain this code.

Atau ya autocomplete.

Gratis.

Gratis ya.

Selain tadi untuk menjelaskan

atau membuat tragex. Mungkin

salah satu use case yang menarik juga adalah

kalau teman-teman belum terlalu

familiar dengan SQL. Nah bisa tuh.

Menggunakan GPT.

Apakah itu jadi GPT

atau bar atau yang lain. Kita bisa bikin.

Saya mau select sama ambil

data dari table apa

yang ditampilin nama

username sama password.

Bikin SQL-nya. Atau

ada kode SQL saya nggak tahu nih. Tolong

explain. Tolong dijelaskan. Nah itu juga

cukup membantu.

Plus ngambil data dari Redux.

Ngambil data dari?

Reduxer. Reduxer.

Reduxer.

Saya suka.

Malas mikir. Itu butuh

AI ya buat bantuin ya.

Sering komplikatifnya.

Jadi sebetulnya AI tools itu kan

apa ya. Kita tetep harus

tahu prinsipnya. Kalau kita nggak tahu

apa yang mau dilakukan. Misalnya kita nggak

tahu data apa yang mau dibil dan

dari mana. Yaudah kan.

Tools secanggih apapun

nggak ada yang bisa bantu kita.

Saya menggunakan AI untuk

mempercepat dan meneffektifkan

work tool aja.

Ya.

Betul. Betul.

Kalau teman-teman yang udah

secara

regular menggunakan baik itu

GPT atau bar atau yang sejenisnya.

Ada perubahan behavior nggak?

Tadinya googling sekarang lebih banyak

tanya ke chat GPT dan teman-teman.

Atau googling masih tetap aja?

Iya. Perubahannya berarti ya?

Banyak. Bar itu aku terbuka.

Lebih karena UI-nya enak

dilihat. Pertimbangan

utamanya agak kurang itu sih.

Gimana? Gimana?

Lebih banyak nanya ke chat GPT sama

kepada. Ini gue mau tunjukin ya.

Boleh. Boleh.

Asyik demo.

Demo. Demo.

Oh enggak. Boleh kalau

demo matilah. Kalo sempet.

Gue roba dulu dari

play text.

Kita share dulu.

Share.

Share.

Share screen.

Dah.

Keliatan ya?

Ya.

Regex tuh.

Regex ya?

Ini editornya apa nih?

Subline.

Kok putih semua?

Nah.

Nah.

Tuh. Ini regex

pisah nyata.

Mengerikan.

Tapi di bikin

penjelasannya.

Tapi harus pelan-pelan

nulisnya.

Jadi harus.

Jadi kalau misalnya

ini gue hapus

ininya.

Apa namanya?

Kaya commentingnya.

Kalian pasti akan bingung sendiri ini isinya.

Tuh.

Dan chat GPT bisa

ini juga bisa diperintahkan untuk

tolong tulis penjelasannya

sebagai komentar di sebelah kanan atau di atasnya.

Misalnya kita ke

oh kalau gue ke ini nggak kelihatan.

Nggak kelihatan ya.

Ntar gue buat dulu ke

Eval ya? Eval.

Eval

3, 4, L.

Pernah pakai nggak sih?

Apa itu? Evaluator?

Iya.

Jarang pakai regex sih.

Malas.

Oh buat PHP.

Stop dulu.

Share screen aja ya.

Mending-mending screen ya.

Gajang rebus nih.

Text editor pakai extension

kayak Copilot emang membantu.

Tapi kadang-kadang kode engineer jamet.

Jamet itu apa sih?

Maaf saya.

Saya tidak mengikuti

kata-kata orang jaman sekarang.

Malah bikin kesel.

Intinya ini ya.

Mengganggu, malah mengganggu ya.

Iya.

Ya, sebetulnya karena kadang overlap juga

sama top intelligence udah ngebantu.

Yang kayak gue bilang tadi, kayak

kadang lebih cepat ngetik aja, top

ada intelligence yang nyelesain sisanya.

Atau mungkin kalau contoh

curl request,

misalnya kita udah pakai postman sama

Insomnia, dan itu

mungkin service atau

cordless yang kita udah familiar.

Maksudnya udah kan bisa di save semua,

header-headernya segala macem,

udah tinggal pop-up, ya udah. Jadi sebetulnya

ada hal yang mungkin bisa

dipecahkan pakai teknologi yang lebih simple.

Mungkin kalau

reggets itu kan terlalu rumit ya

buat tooling yang udah ada.

Jadi mungkin

ada kasus yang kayak

reggets tadi yang bisa

useful.

Prompting itu tidak semudah yang kita bayangkan.

Saya juga sering banget

bertanya, tapi berhasilnya tidak sesuai.

Iya, mikirin kata-katanya.

Terus kita kan harus nge-revisi lagi.

Oh bukan, maksudnya bukan itu.

Kita harus nunjuk bagian ininya.

Maksudnya, saya maunya begini-gini.

Oh, dikasih lagi.

Itunya bukan.

Akhirnya tingkat kerepotannya

kita harus mempertimbangkan.

Kita pertimbangkan sih

worth it, ternyata kalau ini kayak gini mah worth it.

Iya, kalau gini mah

kita juga nggak tahu. Coba kalau kalian dapat

reggetsnya begini, kan mumet kan?

Iya.

Waduh panjang sekali.

Ini reggets apa ya?

Ini reggets, kalau tujuannya ya, dia

akan mencari white space yang

di PDM.

Sebelum dan sesudahan

karakter.

Atau

CJK, Chinese,

Japanese, Korean, single.

Jadi ini

sebenarnya nggak usah stress

lihat X3000 itu apa.

Ini cuma kayak

Indikasi mapping

Unicode untuk

CJK aja sebenarnya, dari antara

ini dan ini. Range-nya ya?

Ya, range-nya aja sebenarnya.

Dan intinya

kalau ada white space, hapus.

That's it.

Supaya waktu generate PDF

dia nggak

kejustified, karena di dalam CJK

itu nggak ada white space.

Ya, CJK itu

nggak punya white space.

Ya, itulah.

Ya, kalau misalnya

kalian mau

misalnya lihat bikini ini, stress gitu.

Biasanya saya ke

Itu udah kayak mantra

Minecraft.

Please explain

this reggets misalnya.

Loh, dia bisa

breakdown nanti.

Barulah dibaca satu-satu.

Oh, maksudnya gitu.

Maksudnya begitu.

Itu contohnya.

Terus kita

contohin sedikit nih, kalau saya

sering pakai. Misalnya ini

demo-nya begini nih.

Misalnya

saat ini

ini kan paski ya.

Kalau

sekarang paski-nya nggak worth it.

Emang dia tahu paski?

Enggak.

Jadi ini kan otomatis muncul ya paski-nya ya.

Karena ada conditional UI.

Jadi di codenya itu kan

saat DOM ready

ada

support atau nggak.

Langsung jalan kan.

Tapi saya nggak mau. Saya maunya pengen saat ini diklik

baru dia muncul.

Biasanya saya suka, saya bisa gini.

Matiin aja dulu kan.

Atau anggap aja kita belum sampe itu.

Jadi saya sukanya pakai gini.

Add click event

to user name

field.

Itu field-nya dia

auto-complete.

Ini jauh lebih bagus dari

code whisper.

Ada harga, ada rupa.

Ada harga, ada rupa.

Nah, jadi kan

terus di sini

check

if

if

if

if

if

if

if

if

if

if

if

if

if

oh, nice.

Jadi

cuma udah sampe 2 menit

kan, tetapi

apanya, tetapi

apa yang harus dikerjakan sudah ada di otak saya

kan, sudah tahu.

That's the point. Kayaknya

yang selama ini gue alamin

kita harus tau mau ngapain.

Cuma kan kita harus tau

add click event. Kita harus tau pertama

masalahnya apa. Masalahnya

kalau di contoh event tadi kan

paskey pop-up-nya muncul duluan dan itu

dia nggak mungkin kurang bagus atau kurang

bagus untuk QX. Nah,

terus solusinya apa? Kita harus

mindahin, apa, deteknya

ke click event.

Kan kita harus mikir dulu berarti kan

masalahnya apa, solusinya apa,

cara mencapai itu gimana, baru kita nyuruh

kita nyuruh si AI.

Nah, sebenernya

dia bisa mikirin kayak gitu sendiri gak sih?

Kayaknya kalau

yang di...

Ini kalau pakai word nih gue, misalnya pengen

ngilog, ya udah tinggal dia,

dia langsung kasih.

Atau seringnya kan

untuk simple aja ya, misalnya

cool only return

header-header

from google.com

Atau ya, macem-macem lah.

Misalnya kalau mau bikin prompt, jadi

paling sering pakai chat

atau dari sini misalnya

generate

skeleton

for the current file

sorry, generate unit test

skeleton

selesai.

Tapi kembali lagi ya,

temen-temen yang

menggunakan, jangan percaya

100% kepada hasil generate-nya

seringnya, sering kadang-kadang indoor.

Dan kita harus mengerti

mengerti

membaca kodenya,

harus mengerti alurnya yang kita inginkan

seperti apa. Karena kalau kita terima kayak

buta aja udah, copy-paste, copy-paste

sama aja karena

Stack Overflow versi 2

jadi orang yang copy-paste dari Stack Overflow

gitu, sama aja.

Commit, commit message.

Salah.

Misalnya tadi intinya

gue bikin commit-nya tadi,

change, on click.

Dia cuma nyemput sekali yang berubah ya,

itu mah ngerti.

On click,

on username,

on username, field, click.

Terus

nanti bisa juga generate

description, nanti dia bisa bantu. Cuman ya

kalau untuk commit tuh, nggak terlalu

bagus, tapi hanya bisa membantu

kayak memikirkan kata-kata yang ini.

Kata-kata yang phrasing-nya ya.

Iya.

Nah, pernah nggak

bisa bikin, apa,

project lah, atau maksudnya feature yang

kelompok feature, epic lah

kalau di Agile gitu.

Kelompok feature yang major atau

project. Jadi misalnya

kita problemnya cuma buat

authentication system

dengan OAuth 2, dimana

user bisa login dengan email

atau provider Google, misalnya.

Belum sekayanya, belum.

Belum.

Tokennya, nanti kalau terima token,

diapain? Itu kan kita harus mikir.

Bisa nggak sih kalau kita nggak mikir sama sekali,

cuma nyuruh bikin,

tolong bikinin authentication system

yang menerima login dengan ini-ini-ini,

service-nya, manggil di sini.

Bisa dijawab, tapi

nggak yakin bisa jalan sih.

Biasanya suka ngacot,

sama ya, kayak kita bikin

fungsi, ya, terlalu kompleks.

Kalau terlalu kompleks, dia

sering menggunakan

hal yang nggak ada

juga bisa sih.

Gue sering dapet

function itu nggak ada, atau function

itu sudah deprecated,

sering dapet.

Jadi sama aja

kayak kita bikin function, kalau bisa

pada saat prompting,

kalau bisa satu hal,

jangan langsung semua.

Misalkan buat login-nya dulu, bikin

form-nya dulu nih, HTML, abis itu bikin

fungsi CSS-nya, abis itu bikin

fungsi JavaScript-nya.

Tapi berarti dia belum cukup pinter buat

nge-breakdown project-nya, maksudnya nggak.

Belum bisa mikir, kalau

misalnya, ya itu tadi mau bikin

authentication system, itu berarti

unsur-unsurnya apa aja, UI-nya apa aja,

routing-nya misalnya apa aja,

manggil service, bagian mana

yang harus bikin, misalnya, post request,

apa, manggil service,

terus nanti, apa,

terima respons-nya gimana.

Kalau kita sebagai developer, kan kita

nge-breakdown mikir itu semua.

Tapi AI yang sekarang tuh

belum bisa

berpikir abstrak, ya.

Cuma bisa menggunakan prompt.

Iya, dan menjawabnya juga

berdasarkan data yang ada, kan.

Jadi kalau chat GPT yang

keluarannya OpenAI itu kan

training terakhirnya kan 2021.

Kalau misalkan kita pakai

spellkit katakanlah, dia belum ngerti.

Karena spellkit kan setelah 2021 kan.

Tapi kalau, apa,

yang online, yang bisa

access online kan sebetulnya dia bisa

access, ya. Cuma,

ya, misalnya BERT gitu, pakai BERT

atau Project IDX atau

apa lah, yang bisa

online, dia bisa nge-access sih sebetulnya.

Tapi tetap aja

kan nggak, nggak

bisa, tetap nggak bisa mikir

abstrak, ya. Itu tetap harus,

dia ngerespon ke prompt dengan

prompt. Iya. Kalau sekarang

state-nya lebih ke dia membantu kita.

Iya.

Kalau pendapat saya

bagaimana AI ini

bisa merubah banyak hal.

Namun tetap begini.

Kalau

kita lihat secara

kita kembali

ke jaman HTML

dulu deh, HTML. Kalau sebelumnya

untuk membangun website kita

pakai HTML editor,

upload, file-nya,

baru jadi. Itu kan banyak proses.

Itu kan secara

kualitas situsnya

terbatas. Lalu

lahirlah yang namanya

CMS dan

editor. Jadi

web yang dibuat

bisa menjadi lebih bagus, lebih

rapi, lebih dinamis.

Dan nggak perlu developer

lagi yang untuk

membuat konten. Memubah HTML

secara manual. Atau bahkan

bisa generate kontennya

generate layout juga, ada juga

side view dan segala macam. Sudah ada

dengan drop and drop.

Itu kan tools-tools itu seperti itu

sudah berkembang sehingga membuat web lebih

indah. Kita lihat sejarah

ini juga

game development.

Sebelum ada Unity atau

temannya Unity

Unreal Engine.

Game itu

terbatas.

Dan masing-masing company,

Squaresoft, Blizzard,

punya sendiri-sendiri-sendiri.

Dan mereka nggak akan membagi

engine itu kepada orang lain.

Dan hanya mereka yang tahu

pakainya juga.

Mungkin.

Dan nggak boleh dike mana-mana

ada NDA.

Setelah Unreal

Engine lahir, Unity lahir,

rata-rata semua

jadi keren-keren. 3D-nya

bagus, fisik atau collision

detection-nya sudah tercipta.

Sudah ada sendiri. Jadi game developer

itu jauh lebih permudah. Tinggal

hanya memikirkan story

dan

animasi dan

art-nya. Tinggal mikirin art-nya.

Tetapi teknologinya sudah ada.

Saya melihat

dua pattern yang sama

ke penggunaan AI.

Jadi kita tetap

sebagai game developer

atau web developer-nya

itu akan jauh dipermudah

ke depan. Kita tidak lagi memikirkan

hal yang low-level yang tadi.

Contohnya, how to...

Ya itu tadi regex lah udah

musuh kita bersama.

Nggak musuh sih. Maksudnya

hal-hal yang pasti kita temui dan

panjang regex,

SQL syntax,

script,

berulang.

Repetitive dan basic sudah

dihandle oleh

AI.

Sedangkan kita

memikirkan yang jauh lebih advanced.

Contohnya, memikirkan

solusinya. Memikirkan

solusi terhadap permasalah

yang kita pengen selesaikan.

Jadi, ke depannya

dengan bantuan AI-AI ini, saya akan

melihat perkembangan selanjutnya

adalah web developer

khususnya akan menciptakan

solusi-solusi yang lebih

mutahir lagi, dicanggih lagi.

Lebih kreatif karena

pekerjaan-pekerjaan yang...

Lebih cepat.

Bisa

pekerjaan-pekerjaan yang tadinya harus kita

kerjakan sudah bisa didilegasikan

ke AI. Tapi perlu diingat

seperti namanya copilot.

Jadi, yang pilot itu kita.

Kita yang mengendalikan.

Bukan kita yang diendalikan.

Kita di mengalui prompt gitu.

Bisa tadi kita minta bikinin code.

Tapi ternyata ada hal-hal

yang kurang tepat.

Ya, tetap aja kita harus capai.

Capai ngatur-ngatur.

Bukan itu

yang saya maksud.

Kita yang harus mengambil keputusan.

Dan saya juga relate dengan self-drive

yang kita pernah

di Silicon Valley.

Dengan mobil Tesla.

Meskipun namanya

self-drive.

Auto-pilot namanya.

Auto-pilot.

Auto-pilot, tetapi

auto-cruise, auto-cruise

control, blablabla.

Jadi, sebenarnya nggak fully

itu diserahkan ke

AI untuk mengatur jalannya kita.

Tetapi sangat

membantu sekali

si driver.

Kalau misalnya jalannya

lurus. Itu

bisa lebih baik.

Kaki nggak perlu

injap gas.

Terus kemudian...

Setir bisa agak belek-belak sedikit.

Gak usah ganti.

Gak usah pegang setir juga nggak apa-apa.

Tetap harus pegang.

Tetap harus pegang.

Kalau yang kita

sempat naik itu

tangan itu nggak boleh lepas dari

sekian detik. Nanti dia warning.

Karena itu tetap harus dipegang.

Karena bisa sewaktu-waktu lepas kendali

kita tetap mengendalikan.

Oh, intinya

tiba-tiba ada apa-apa kita harus

siap sedia.

Itu analog-nya bagus.

Itu juga teknologi bagus.

Nanti

bisa coba di sana, fanmo ya?

Bisa cobain taxi yang

driverless.

Itu di SM ya?

Silakan dicoba.

Saya mau coba.

Terus sebenarnya kalau ngomong

soal kerja nih kayaknya malah

justru ada peluang lagi kan

mungkin agak beda dengan

apa tadi yang kayak game engine itu

full proprietary

mungkin dulu kulturnya lebih

protective. Kalau sekarang

sebetulnya walaupun limitif,

ini kan semua bisa di-extend ya.

Walaupun bukan fully open source.

Biasanya

core-nya tuh disediain.

Kita bisa extend open AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai

Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Kita bisa pakai Google AI.

Cuma kita bisa pakai Google AI.

Apalah, misalnya

kan sekarang sebenarnya

kalau untuk yang

ada concern privacy, security, atau apa

mungkin nggak boleh

atau nggak bisa pakai

co-pilot yang entahan ya.

Maksudnya yang public

misalnya training

bikin co-pilot, tapi yang internal

khusus punya

khusus punya perusahaan, ya untuk perusahaan

besar ya misalnya. Itu kan pasti

ada. Ya pasti sekarang juga udah ada.

Yakin sih. Udah ada.

Dan ke depannya bakal banyak yang perlu

kayak gitu. Karena itu kan sebetulnya bagus

banget buat productivity. Cuma mungkin kalau

organisasi atau perusahaan

tertentu jelas ada concern soal

privacy dan mungkin ada

hukum yang, mungkin mereka ada faktor legal

apalah. Itu ke depannya bakal banyak

yang butuh. Kalau kita bisa bikin

service yang mempermudah

membuat semacam, ya nggak

harus co-pilot lah, punya apa sih

co-chat dan lain-lain.

Tapi khusus internal

codebase mereka dan nggak online

misalnya. Ya nggak online ke, maksudnya nggak

online ke server lain. Tidak bisa diakses

ya internal ya, internal tools.

Tapi misalnya bikinnya misalnya

dipermudah kayak drag and drop atau

notebook atau apa. Kalau bikin service kayak gitu

mungkin bakal laris kan. Atau mungkin

bikin co-nya sebenarnya perluan bikin

produk banyak banget ya.

Yang semi B2B lah.

Nah ini

juga pertanyaan nih buat

beberapa teman-teman yang

saya sempat ajak diskusi juga

banyak yang masih

apa ya, bukan meragukan

apa ya, masih abu-abu nih

co-pilot ini sebenarnya kode

yang kita tulis ini dipakai mereka

untuk training berikutnya atau nggak?

Karena kan perusahaan bisa jadi nggak boleh kan

kalau kita tidak bekerja

di kode yang open source.

Kalau

Ivan diperbolehkan kantor karena

mostly tools-nya open source atau

nggak? Bukan itu?

Semuanya yang

di bangun data

WordPress kan secara

secara license-nya GPL.

Tapi

itu kan

tergantung

dari company-nya GPL

doesn't mean

boleh di-share.

Ya kan, tidak perlu di-share.

Kalau ngomong ngomong di-share, dia langsung di-share.

Oke.

Jadi,

lebih terbuka ya.

Kalau ada perusahaan-perusahaan yang mungkin dia

menulis kode yang hanya private,

nggak ada di GitHub,

terus dia bisa

aja si kode ini

dimanfaatkan untuk melakukan

training berikutnya. Tiba-tiba begitu kita

prompting, tiba-tiba keluar itu kode yang

sebenarnya nggak boleh. Nah itu

masih banyak kecemasan di sana.

Untuk perusahaan-perusahaan yang suka mengisi.

Kode-nya bisa muncul di

tempat orang lainnya.

Iya, betul. Maksudnya itu.

Tapi nggak tahu ya, ini

kebenarannya gimana. Saya sempat nanya

ke Microsoft, mereka bilang tidak.

Kasus Samsung kan itu?

Oh iya.

Jadi, sempat

jadi engineer Samsung itu

pakai

CGPT, terus

apa yang mereka tanyakan itu

dipelajari lagi, disimpan.

Tiba-tiba bisa jadi kayak

jawaban untuk

orang yang bertanya. Untuk orang yang lain.

Nah itu yang harus

hati-hati. Jadi, kalau teman-teman

mau menggunakan tools AI di kantor,

izin dulu tanya, boleh nggak saya pakai

CGPT, boleh nggak saya pakai Copilot

dan lain-lain. Kalo Copilot

kayaknya harus izin kantor juga, harus

minta dibayarin juga sih ya.

Kalau sendiri lumayan.

Ya, kodium lah. Kodium kan gratis ya.

Itu harus tanya. Jangan sampai nanti malah

terjebak jadi kena kasus kan.

Itu yang

juga membuat orang jadi akhirnya

tidak menggunakan. Gara-gara ya

nggak bisa juga dipakai di kerjaan.

Nggak diporbolehkan dan lain-lain.

Nah, kalau yang Eka sebutkan tadi

sebenernya udah ada servisnya. Jangan khawatir.

Di Microsoft

mereka bisa...

Iya, mereka

kita bisa deploy

OpenAI versi

private kita di cloudnya mereka.

Tidak di Azure.

Sudah ada tuh.

Oh, yang AWS skinnya

jatuhnya larinya ke situ juga ya.

Yang AWS dan yang Google.

AWS, ada Vertex, ada...

Kalo si Microsoft kan kerjasama sama

OpenAI. Eh, ya, OpenAI

dan sama Meta.

Lama. Lama 2 kan.

Jadi ada LLM 1 lagi yang lupa kita

sebutkan yaitu Lama 2 itu open source.

Temen-temen mau coba di lokal bisa.

Di lokal host. Itu pakai Lama 2.

Nah, tapi kan itu

tetep ke servernya

server cloud ya. Kalo misalnya

ya, kumsa antunya atau namanya.

Bisa on-prem.

On-premnya masing-masing.

Bisa. Di lokal host pun bisa

itu cuma

model yang udah di-train. Jadi kita bisa

pakai, tapi belum bisa

retrain.

Jadi kayak udah dikunci itu. Ya, gitu aja.

Apa? Modelnya

segitu aja udah. Belum bisa

di-train, belum bisa di-retrain.

Tapi kalo apa?

Apa yang kita prompting

dikirimkan ke server. Nah, itu

saya nggak tau. Kita harus lihat kodonya mungkin ya.

Nggak bisa, nggak berani

bilang nggak. Karena bisa

aja, gitu. Kemungkinan ada

aja, gitu. Harus

dicek ininya, networknya.

Dia manggil nggak, lempar data nggak.

Kita nggak tau kan. Jadi dia harus

hati-hati juga, gitu.

Oke.

Dan

tadi kan kita bahas

itu ya, SvelteKit nih.

Di sini bisa dia?

Udah. Mantep juga ini.

SvelteKit kan baru ya.

Release yang mau main dulu.

Jadi kalo kita pake

chatqpt, cut off data-nya.

Dia nggak bisa.

Dia tetap menjawab, tapi

menjawab dengan Svelte. Bukan

SvelteKit.

Ya, kalo Svelte itu kan

apa? Ya, compiler-nya.

Kalau SvelteKit, framework-nya.

SvelteKit, framework-nya.

Ini kelihatannya sih

lebih.

Udah betul, udah prom-nya kayak ini.

Ya, belum dicoba sih.

Cuma kurang lebih cukup masuk

ke tam. Jadi misalnya kan

kita nggak tau nih. Apa?

Kan sebenernya dalam framework yang tricky nih.

Apa? Fasilitas meta framework

yang paling banyak dipakai adalah

Dynamic ID ya.

Apa? Prompting-nya.

Nah, kita coba tanya

sama Bert dijawab.

Nah, nggak tau nih. Buat yang

udah coba, betul nggak, apa?

Bener nggak sintaksnya kayak gini?

Kalau kita men-define.

Oh, itu define-nya di config ya?

Dia nggak pakai

holder ya?

Holder yang pakai kurung siku gitu?

Kaliatannya ya.

Kaliatanya kalo

SvelteKit itu bisa config-base.

Udah kayak file-nya

ada pattern-pattern-nya kan.

Nah, ini ngasihnya gini nggak tau

bener atau nggak. Nah, terus tadi coba

iseng tanya lagi kalo config-nya gitu.

Terus untuk file-nya gimana

buat ngakses si apa?

ID-nya.

Nah, nggak tau nih.

Ini bener sesimple ini atau dia ngaco?

Nah, sekarang coba kita tanya lagi deh.

Enggak, itu pakai

paste.params.

Berarti salah ya.

Oh, yang menarik dari Bert,

kalo misalnya kita curiga dia nggak akurat,

kita bisa kiruh dia cek lagi

dan kalo salah dia akan ngaku.

Sekarang kita coba deh.

Mau maaf gitu ya.

Are you sure

we can access

dynamic ID file-nya?

Kurang kasar ini kata-katanya.

You stupid.

Harusnya params ya?

Params, iya.

Paste.params apa?

Kayaknya.

Paste.params.

Coba aja tanya are you sure?

Error.

Kadang sih...

Yes, you can access.

Oh, dia masih bersih-kukuh ya.

Okay.

Oh, mungkin juga sih.

Karena ini pakai config base kan.

Kalo yang saya biasa pakai itu kan pakai

file apa?

Ya, mungkin juga. Enggak tau juga sih.

Belum pernah nyoba soalnya ini.

Blah, ini.

Kan kita..

Bukannya harusnya pakai params.

Yes, you are right.

Mana paramsnya? Tetep let ID juga.

Export let ID.

Nah, ini malah ada disk-nya.

Emang ada disk-nya apa?

Java script. Disk-nya javascript.

Enggak tau apa isinya.

Disk-nya javascript mana?

Apa? Window.

Window? Iya, window.

Kenapa dia pakai dollar params ya?

Trus jelasnya,

masih ada export let ID.

Halu dia, halu.

Coba sekarang

pertanyaan terakhir deh.

Ini seru juga sih. Apa kerjain?

File system route.

Routes to ID for these.

Disk-nya coba deh.

Kepas lagi. Dia suka bingung ada apa.

Sure, if you don't want to use conflict.

That's the right ID.

That's right.

And the example,

the component.

Component, true,

set, and let.

ID.

Set, prince.

If it's been coding,

we're done this time.

Sebetulnya,

if it's a practical solution,

as simple as using

template starter of swellkit,

30 seconds,

we're done.

But he still uses ID.

He still uses ID.

He should use

dollarpads.params.id.

Oh, I see.

So that's an example.

Let's stop sharing.

That's an example.

Contoh yang salah.

Jadi hati-hati.

Semua hal

AI tools itu nggak optimal

buat segala hal.

Jadi kita harus pilih-pilih mana yang bisa diselesaikan

pakai solusi lain.

Kalau contoh tadi,

kayaknya kalau pakai starter

template-nya swellkit yang official,

udah betul semua, udah ada contohnya,

30 detik, kelar.

Jadi kita harus pilih-pilih

kapan tanya AI, kapan pakai solusi lain.

Betul, betul.

Sebenarnya buat brainstorming, buat diskusi,

sebenarnya bagus. Cuman,

kodenya itu belum tentu jalan.

Jadi harus kita...

Itu tadi, kita adalah pilotnya.

Dia adalah co-pilotnya yang bantuin kita,

asisten kita. Jadi jangan percaya 100%

kepada mereka.

Kita tetap harus punya kemampuan untuk mengerti

dan bisa membaca kode.

Nggak sembarangan kopas aja.

Jangan ditelan mentah-mentah.

Jangan ditelan mentah-mentah.

Kita masak dulu, ya.

Ini ada dari Makassar, Gita.

Halo, halo.

Kapan kita ke Makassar lagi?

Oke, jadi untuk malam ini

mungkin segitu aja, ya.

Kita udah bahas lumayan banyak

bagaimana cara memanfaatkan AI yang

udah ada, baik yang berbayar ataupun yang gratis,

buat membantu kita

mendelegasikan tugas, beberapa tugas yang

sederhana, yang sudah

yang sering kita lakukan

secara berulang.

Kemudian kita bisa lebih fokus kepada

problem solving, building product,

building feature, dan lain-lain.

Contohnya tadi udah

kita sempet bahas juga

gimana

si AI ini memudahkan kita untuk

mempersiapkan project, untuk

membuat skeletron

unit testing, dan unit testing

yang sendiri juga bisa.

Jadi, mudah-mudahan

temen-temen dapat insight, ya.

Ini bisa dimanfaatkan, jadi ini bukan

musuh kita, ya. Dia belum bisa menggantikan

kita, karena dia belum bisa

berpikir abstrak, kalau disuruh bikin project ini,

project itu, dia belum bisa.

Nah, itu tadi bikin shortcut route aja.

Tapi kan sebenernya

dia bisa akses internet, ya.

Maksudnya bisa lain. Kalau di pikir-pikir,

tinggal kofi aja dari github-nya,

shortcut template, cuma dia belum bisa mikir

sampai situ, jadi tenang aja.

Masih aman, ya.

Tapi, kembali lagi,

kalau misalkan

temen-temen ini yang belum mengerti

programming,

terus memanfaatkan

tools seperti AI ini,

kalau ditelan mentah-mentah, ya

akhirnya menyesatkan.

Jadi, kalau misalkan temen-temen

belum mengerti, ya kalau bisa jangan pakai dulu.

Mungkin kalau baru belajar,

malah seru sih. Maksudnya, ini

mungkin experience orang yang baru belajar

dari known sekarang,

ini menarik.

Bukan karena AI

otomatis bikin kita bisa atau apa, nggak.

Jadi kita belajar. Cuma kan

kadang, mungkin nggak langsung

masuk dan nggak langsung ngerti semua hal, ya.

Jadi kita bisa buat,

kita bisa nyuruh dia bantuin kita

belajar, tolong belaskan pada ini.

Atau kenapa

kita harus nulis async di sini,

misalnya. Atau kenapa

kalau ini harus import, kalau ini nggak perlu

import, kita bisa nanya-nanya

lebih lanjut, yang mungkin nggak ada

di materi belajar awal.

Kalau tutorial kan ya standar, ya.

Apa, hal-hal yang penting-pentingnya doang.

Tutorial, dokumentasi, itu kan

sering ekspektasinya untuk

orang yang udah paham.

Padahal kadang ada konsep yang kita belum

terlalu paham atau belum kuat, atau masih

nggak nyambung kenapa kayak gini.

Nah, itu tuh kita bisa lebih gampang.

Kayak kita punya mentor sih, jadinya ya.

Iya, punya private trainer,

orang yang membantu kita, guru-guru

privat, ya. Itu

bagus buat explainer untuk menjelaskan

konsep AI ini

cocok, gitu. Bagus.

Bukan guru private, lebih tebaknya,

lebih ke arah partner.

Fair programmer, sih.

Tapi,

balik lagi, kalau misalkan

kita belum mengerti sama sekali,

dan kita nggak tahu bedanya

antara yang benar dan yang salah,

nah itu yang bahaya.

Cuma, iya ya, kadang

kalau kadang betul, kadang salah, itu

nyebelin sih. Kalau selalu betul, atau

selalu-selalu... Kalau konsisten,

it's okay.

Tapi kalau kreatuatif, tergantung

mood, ya nggak bisa, gitu.

Jadi, harus dilihat juga,

dan kita harus punya kemampuan untuk membaca

kode dan mengerti kodenya dulu.

Baru kita bisa mengoptimal. Kita harus cross-check

sumbernya lagi. Setelah dijelasin,

kalau kita curiga, kita harus cross-check.

Kan biasanya nih, ya,

nggak mau, apa ya, nggak mau

menjenerisasi gitu kan storitiknya.

Biasanya kan, wah, cari ini.

Lihat di Stack Overflow, copy-paste, nggak berhasil,

googling lagi kan, cari lagi kan.

Nah, kalau di Charged GPT...

Iya, kalau Charged GPT, susah

begitu. Begitu dicoba, nggak berhasil,

mau nanya lagi, ini salah. Tetep,

dikasih yang salah juga kan tadi, kan? Udah sampai

beberapa kali pertanyaan, tetep salah, gitu.

Jadi, kembali lagi,

kita harus

punya fondasi, punya fundamental

yang bagus dulu, baru bisa kita

manfaatkan dengan optimal.

Makanya rajin-rajin nonton

Go Branding Web, kita suka ngomong kuda mental.

Asik.

Nih, tuh, langsung ditembak, 9 Desember, langsung

berangkat.

Ayo beri tigaan di sana.

Beri tigaan lagi, gitu.

Kasian, yang lain nggak kebagian.

Beri tigaan kita beriga, loh. Belum menambah lagi, nih.

Kan Bandung, kan lo juga,

ini tanggal sembunyikan, aman.

Dosen harus bisa memfasilitasi.

Iya.

Tergantung,

kalau dosennya sudah menggunakan,

oke, tapi

kalau dosennya sendiri belum menggunakan,

bingung juga, gimana cara dia mau fasilitasi.

Tanya aja ke dosennya, kalau itu sih

confirmnya, maksudnya, bener nggak

pemahaman saya kayak gini-gini, bener atau nggak?

Oh, iya, benar.

Dosen tuh, sebaik itu bisa ditanya-tanya

sama asiswara tusen atau nggak.

Iya, iya, iya.

Kalau yang belajarnya nggak dari kuliah,

iya kan nggak bisa tanya siapa-siapa.

Tanya kita, nih, Cep.

Gak punya nampak kita.

Oh iya, satu lagi.

Ada pernah saya pakai copilot,

itu bisa untuk ngadepin

untuk meng-enhance code saya, loh.

Ada, ada, ada.

Untuk tolong enhance supaya

lebih error handling-nya

lebih bener.

Bisa refactor juga, tolong dipersingkat.

Dibikin lebih jelas.

Code comment dan lain-lain itu bisa ada.

Ya, bisa. Gak cek ESLinconfig nggak?

Kayaknya bisa.

Eh, nggak tahu ya.

Tapi kan ESLinconfig kan udah

nempelnya ke

IDE.

Jadi kalau misalnya nggak

code-nya bisa

auto-fix.

Iya, iya.

Kalau tadi kan enhance a code, misalnya

biar efektif aja.

Terusnya dia dengan base practice

yang udah kita setting, dia ngikutin

style. Kan kadang kalau organizasi

atau satu project kan udah punya standard

sendiri style-nya

harusnya gimana, terus

ESLinrules-nya gimana.

Kalau kita sedang refactor atau enhance,

oh dia belum se-pinter gitu ya.

Belum, belum. Belum sampai sana.

Nah, ada salah satu kelebihan

di whisperer, code whisperer-nya

AWS, dibandingkan

copilot, itu dia bisa

melakukan scanning

ke vulnerability code.

Jadi code kita itu ada

telah sekuritasnya nggak.

Itu pakai SNHK

kalau nggak salah ya.

Dan ada keterangannya

ini hati-hati, ini bahaya.

Misalkan kita menge-expose

Secret Gila atau apa.

Ya, dia bisa detect.

Cuman kalau yang free,

itu cuma bisa berapa gitu,

lima atau berapa gitu. Ada

jam lah.

Itu menarik sih.

Kadang-kadang kan kita nggak aware ya.

Ya, lumayan lah.

Cukup membantu untuk pekerjaan

sehari-hari, terutama sebagai

web developer ya.

Oke, mungkin sekian dulu.

Bahasan kita malam hari ini ngobrolin AI

tentang penggunaan ya.

Mudah-mudahan nanti di lain kesempatan kita bisa

bahas tentang cara penggunaan

si AI-nya

untuk bikin produk seperti yang Eka sebutkan tadi ya.

Atau kita bisa main-main dengan Generative AI

bagaimana cara bikin image

dan lain-lain.

Oke.

Mungkin itu aja untuk malam ini. Terima kasih banyak

buat semuanya yang sudah menemani

kita dari jam 8 tadi.

Saran topik, bisa pikirin?

Oh iya, lupa mulu ya.

Saran topik, masih kita tunggu ya.

Masih banyak

topik-topik yang menarik, yang bisa kita

bahas di episode-episode

berikutnya. Sampai jumpa

di hari selasa depan.

Bye-bye.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .