Lompat ke konten utama
EP 102

Ngobrolin JavaScript Bangkok

Ringkasan Episode

Bantu Koreksi

Episode ini membahas pengalaman tim Ngobrolin WEB menghadiri JavaScript Bangkok Conference 2.0.1 di Bangkok, Thailand. Rizal menceritakan pengalamannya ditolak saat mengajukan topik presentasi tentang Local First AI, namun tetap mendapat kesempatan untuk hadir setelah nebeng hotel dan mendapat subsidi dari pihak penyelenggara. Selama konferensi, mereka menghadiri berbagai sesi menarik termasuk keynote oleh Lihao (maintainer Stealth) tentang cara kerja spell compiler, presentasi oleh Pak Thor (ex-Googler) tentang real-time translation dan semantic search menggunakan WebAssembly dan WebGPU secara offline, serta sesi tentang creative coding dengan P5.js oleh Patt Vira. Ivan memberikan presentasi lightning talk tentang WebDriver BiDi. Episode juga menyinggung perbandingan budaya dan kuliner antara Indonesia, Thailand, dan Malaysia, serta diskusi teknis mengapa framework JavaScript yang populer cenderung bersifat minimalis dibandingkan full-battery seperti framework di bahasa pemrograman lain.

Poin-poin Utama

  • Rizal dan Ivan berangkat ke Bangkok untuk menghadiri JavaScript Bangkok Conference 2.0.1, setelah Rizal mengajukan topik presentasi yang ditolak namun tetap diterima kehadirannya
  • Eka apply ke conference dengan topik eksperimental tentang Local First AI yang ditolak, namun hal ini membiasakan dirinya untuk tidak takut ditolak dan tetap mencoba dengan segala risiko
  • Keynote speaker Lihao (maintainer Stealth) menjelaskan cara kerja spell compiler dengan live-coding, membreakdown bagaimana kode biasa dikompilasi menjadi JavaScript yang dieksekusi
  • Pak Thor (ex-Googler yang sekarang di Supabase) mendemonstrasikan real-time translation dan semantic search yang berjalan sepenuhnya offline menggunakan WebAssembly dan WebGPU di browser
  • Patt Vira, content creator Thailand yang ahli creative coding dengan P5.js, berbagi cerita bagaimana dia merasa kesulitan belajar coding secara tradisional namun menemukan passion melalui creative coding
  • Alicia JS, framework backend minimalis karya developer Thailand dengan tema anime, diperkenalkan sebagai alternatif dari Express dengan performa yang lebih cepat
  • Diskusi teknis tentang mengapa framework JavaScript populer cenderung minimalis (Express, Hono, Alicia JS) dibandingkan full-battery framework di bahasa lain seperti Rails, Django, atau Laravel

[telepon ringtone]

Halo-halo.

Wee.

Kenapa udah gitu-gitu buat sih?

Halo semuanya.

Biar kaget.

Apa kabarnya?

Apa kabar?

Lagi sakit.

Wah, Ivan lagi sakit.

Kalau abis dari luar negeri pasti sakit ya?

Apa karena pencaroba?

Kemaren pas ke Beijing, pas nyampe sakit. Sekarang pas pulang ya.

Iya.

Aduh.

Ada yang kaget.

Kaget apa?

Kaget tadi, sorry.

Ini kaget sih.

Audionya beda banget, jauh banget sama suara kita.

Jomblang banget.

Kegedian ya, sorry, sorry, sorry.

Apa kabar semua?

Selain saya yang sakit.

Saya baik, semoga chat sehat semua.

Amin.

Gak bisa pindah katanya deh, para penonton.

Kenapa?

Pindah nular?

Nularin penyakit lewat layar.

Lihat transkrip lengkap (2177 segmen lagi)

Teknologinya belum ke situ.

Masa sih?

Siapa tahu?

Dulu tuh cahanya Google

atau apa?

April Mop, prank gitu.

Suruh kentut?

Bukan.

Jadi apapun Google itu

lewat layar.

Untung gak virus lewat layar.

Oke, oke.

Jadi

berhubung

saya sama Ivan baru nyampe dari

Bangkok, misi

JavaScript Bangkok Conference.

Oh, makanya kaosnya gitu ya?

Ya, dapat kaosnya.

Ini logo-nya keren loh.

Semunyak dari Bangkok kita

udah bisa baca nih. JavaScript Bangkok

2.0.1

0.1 harusnya.

Oh iya, harusnya 0.1.

Itu ada sedikit incident kita.

Mencetain gak sih incident-nya?

Cetain aja.

Cetain aja ya, gak apa-apa ya.

Cetain dari awal lah kan, belum untuk semua nontonnya.

Oh, saya pengen tau

dari mana.

Kenapa kalian ke Bangkok?

Ngapain?

Makan.

Ceritain kenapa,

apa ini makanan.

Jadi, Mas,

ya pas kita ke Beijing kan kita ketemu

salah satu, apa namanya?

Salah satu dedengkotnya

komunitas di

Bangkok kan.

Yang udah pernah kita undang juga kesini.

Karena kesini juga, Mas Swarat.

Mas Swarat kan.

Dia ngomong

kita mau bikin conference nih

JavaScript Bangkok 2.0.0

katanya. Karena dulu terakhir, sebelum

pandemi, ada JavaScript Bangkok

1.0.0.

Teman-teman bisa lihat di GitHub,

eh, di Youtube. Cari aja di Youtube

JavaScript Bangkok.

Jadi pakai semver ya?

1.0.0.

Iya.

Terus dia bilang,

berhubung budgetnya

terbatas, coba GDE

apply aja. Karena kan

nanti kemungkinan bisa

bukan kemungkinan, dia bilang nanti bisa

di support sama Google gitu untuk akomodasinya.

Wah, semangat lah kita

apply.

Eka juga apply.

Eka juga apply.

Gue ulang lagi ceritanya, karena Mas saya ini

sambil berusaha conditioning juga sih,

jadi gue pengen, kayak kecewanya

karena gak keterima, pasti ada lah.

Jujur, realistis, pasti ada kecewanya.

Tapi, gue pengen

biasain, mikir, itu bukan

hal yang malukan, aib yang

traumatis banget, yang patut dihindarin.

Jadi ceritanya adalah, gue pakai

topik yang agak eksperimental.

Tuh, trauma kan, Eka kan, jadi

ilang kan.

Oh, putus. Ya, lanjut.

Apa? Gitu tadi.

Halo, Tess.

Eka nya trauma tuh.

Enggak, enggak. Kedengeran kok, kedengeran.

Berarti koneksi lo yang

jelek. Oh, maksud gue ya?

Eh, tadi nyampe mana?

Gue juga apply,

ditolak dengan sukses.

Karena emang iseng,

topik yang agak eksperimental,

local first AI,

pakai function,

blablabla.

Tapi,

dengan use case yang buat personal,

kayak buat ngatur personal life gitu,

otomatis aturin kalender.

Kalau misalnya ada perubahan jadwal,

dia bisa mikir sendiri, memprioritaskan

misalnya, apa, tenaga,

atau ada aktivitas, kayak misalnya,

kalau nge-gym kan, enggak bisa tiba-tiba

reskejur ke jam 11 malam. Sedangkan,

kalau apply work trips,

atau apa, bales email, mungkin masih bisa

jadi kayak bikin smart system,

bermodel

local first AI. Karena itu

banyak hal privacy juga kan.

Tapi use case nya personal.

Karena jujur, itu kalau misalnya

buat production, buat yang

profesional, dipakai user lain kan,

ya, maksudnya belum kebayang lah. Cuma,

ada ide iseng aja.

Ditolak dengan sukses, tapi pas

gue sadar bahwa itu adalah topik

yang, maksudnya, enggak

kurang catchy, lucu, menarik, tapi

kan, enggak necessarily catchy

dan pas apply, udah tahu

risikonya juga sih, maksudnya,

ya, kalau kebetulan yang

menseleksi, ngerasau,

lucu juga, bisa keterima,

tapi cukup besar kemungkinan untuk

ditolak. Yaudah, apply dengan itu.

Ditolak dengan sukses. Tapi setelah

ngeliat daftar speakernya,

sebenarnya ada yang topiknya mirip. Lang chain

juga cuma lebih ke production, maksudnya,

lebih ke profesional. Jadi ya

makes sense lah, bahwa dengan topik

yang mirip-mirip, local first AI

yang diterima, yang

apa?

Lebih applicable.

Ya, gitu sih ceritanya.

Ceritanya kenapa gue ditolak dan

Rizal dan Ivan diterima.

Tapi emang pengen kubiasain, bahwa

yaudah, kalau udah punya ide,

punya rencana, ya

dihajar aja dengan segala

risikonya. Kalau misalnya terlalu takut,

maksudnya, kalau

nggak terima adalah AI

memalukan, hasilnya adalah

nggak mau apply.

Nggak pernah apply.

Tapi

nanti Deves

pakai topik itu?

Oh, nggak, nggak.

Deves ada deh.

Bahas UI

berkedok AI, ada lagi.

Bahas UI berkedok AI,

wah menarik ya.

Tak terlalu jauh.

Nah, itu ceritanya, backgroundnya

kenapa cuma Rizal sama Ivan

yang berangkat.

Iya, dan

akhirnya saya apply

topiknya itu,

ya topik yang dari

ngobrolin web sebenarnya, kan.

Saya sudah bahas, pernah bahas tentang

beberapa cara rendering,

mulai dari request response,

server render, client render,

terus island component,

terus sekarang

larinya ke, apa,

balik lagi ke server render, tapi

pakai web socket, gitu.

Akhirnya, ah, coba ah,

topik itu

untuk, apa,

study case-nya menggunakan

HTML dan Elixir.

Jadi membahas

bahasa pemogaman lain di

conference JavaScript.

Eh, keterima.

Begitu keterima,

coba apply di

Google platform

untuk supaya bisa dapat

pesawat sama, ya,

bukan perangkat Google ya,

maksudnya platformnya Google.

Ya, sebelum winter boleh, sekarang

lebih.

Kan katanya bisa dapat support

akomodasi sama pesawat.

Begitu dah dapat surat

bahwa topiknya diterima,

coba apply, ternyata

direject, gara-gara

gak pakai produknya

Google.

Gak ada mention

produknya Google, mungkin

kalau bilang pakai Gemini,

atau Google Chrome,

DevTools, gitu, mungkin masih

diterima, ya, kayak Ivan, ya. Ivan bahas apa?

Iya, saya bahas

WebDriver by Die, ya.

WebDriver by Die, dan

saya yang paling terakhir yang

apply di last minute.

Last minute,

terus diterima,

dan tambah

Google juga diterima.

Iya, padahal Ivan

itu ya, apa, lightning talk ya,

cuman 10 menit ya.

Malah diterima

akhirnya.

Tapi kan emang ada slotnya,

kan? Emang ada slot buat

lightning talk? Ya, lightning talk. Kan pilih.

Mau pilih apa, kan? Yang 40 menit.

Waktu buat pilih, yang 20 menit sudah gak bisa.

Sudah habis.

Jadi ya, tersislah cuman

lightning talk, ya, pilih aja.

Tapi itu good idea sih, ya. Maksudnya kan

jadi lebih banyak variasinya,

ya, kayak misalnya termasuk itu,

biasanya orang ngomongin JavaScript, kan, mau framework,

apa, atau mungkin dari

standarisasi ES6,

ES7, dan lain-lain, atau TypeScript.

Tapi kan testing bi-direktional,

yang gitu-gitu kan,

sering kelewat. Nah, dengan adanya lightning talk,

kan lightning talk

jadi bisa lebih berubah-ubah.

Terus Webdiver by Day itu gak bisa lama juga,

paling maksimal 20 menit doang sih,

sebenarnya. Karena,

terlalu...

terlalu, iya, karena

Webdiver by Day itu gak bisa lama juga, paling maksimal 20 menit doang sih,

karena Webdiver by Day

terlalu straightforward.

Ini protokol baru,

bisa begini, udah.

Paling nanti di...

Di DevFest, gue mau campurin

sama demo-demo sih, sebenarnya, ya.

Untuk kemarin demo-demonya gue gak siap.

Cuma 10 menit, ya.

10 menit baru buka laptop,

udah, ya, waktu habis.

Terus kan ganti-ganti

laptop, ya.

Jadi kan harus ada kayak pasang-pasang

lagi, gitu.

Tapi diperpanjang kan akhirnya, kan?

Sessinya jadi panjang, agak panjang.

Jadi gak, waktunya gak dikejar-kejar

dikejar deadline, gitu.

Nah, lanjut ya.

Setelah Ivan diterima,

dapat hotel, ya udah, nebeng aja

hotelnya, tinggal PR-nya pesawat.

Ternyata dari pihak

JavaScript Bangkoknya menyediakan

200 USD

di-subsidi.

Jadi akhirnya

pesan, meskipun masih

nombok, tapi ya lumayan lah, ya.

Dan nginapnya nebeng Ivan

dua malem. Satu malemnya kita bayar sendiri,

eh, dibayarin sama Bangkok, ya.

Karena Ivan kan pesawatnya gak perlu, tuh.

Jadi masih ada subsidi 200 USD

itu kita pakai buat hamis malamnya.

Iya.

Karena kan Jumatnya tadinya kita mau workshop,

tapi akhirnya kita jalan-jalan.

Hanya modus.

Orang, si warat bilang,

"Yakin mau ikut workshop?"

"Gak usah, jalan-jalan aja kalian", katanya gitu.

"Oh, ya udah."

Oh, karena tamunya.

Gak ini juga, gak dapet slot, kan.

Iya, udah full juga.

Terus ada beberapa yang bahasa lokal.

Wah, kalau bahasa susah.

Ini mah kayak, apa,

nostalgia Beijing kemarin.

Kita udah...

Ada apa nih, Bi? Udah cari ruangannya.

Cucing-cucang-cucong, oh.

Kagak deh interpreter-nya.

Ya udah, bayar lah.

Mending dulu konsumsi.

Kita berangkat hari Kamis, ya.

Kita berangkatnya...

Iya, Kamis. Kamis-Dini hari.

Sampai sana Kamis malam,

dijemput naik Tesla.

Tujukin dong Teslanya, C.

Oh, Tesla.

Ada fotonya.

Fotonya ada di Google Photo.

Tunggu.

Mana Tesla? Tesla malah kita foto

terakhir, ya.

Iya.

Tesla, Tesla, Tesla Coil.

Hah, Tesla Coil.

Oh.

Ya kan ada Tesla Coil. Tau gak sih Tesla Coil?

Pernah lihat gak sih Tesla Coil?

Hah?

Tesla Coil? Iya, jadi ada

2 kotob, bisa listriknya.

Oh, ya itu namanya Tesla Coil.

Iya.

Ini hotel kita nih, hotel kita.

Namanya Hotel Marsi.

Ah.

Tesla tuh di sana udah kayak mobil

Gokar ya?

Enggak.

Masih termasuk

Beijing. Masih termasuk

Luxury lah.

Pas di San Francisco tahun lalu,

naik Uber dari airport.

Dapatnya Tesla.

Tesla. Anjir, pas liat tuh kayak ada

rasa kampungan banget.

Beijing lebih parah.

Udah biasa.

Beijing lebih parah. Tesla kayak

mobil biasa.

Kalau ini masih ini lah, masih

Lux lah. Masih. Oh, di sana?

Kalau di Indonesia, di Indonesia kan Tesla

2 miliaran tuh.

Iya.

Kita kaget loh denger harganya.

Tesla di Thailand berapa?

Di Bangkok.

Seharga CRV.

Kata seharga CRV.

Atau seharga

sedikit di atas Innova.

Gitu lah.

Kalo dia bilang itu

45.000

US Dollar lah.

Jadi itu sekitar

800 juta, 700 juta lah.

Namun saya nggak miliaran.

Nggak emang-emang.

Gak seharga miliaran banget.

Berarti kayak kebijakan

importnya beda ya?

Iya.

Yang nggak import, kalo import kan

dia kan nggak lewat dealer.

Jadi import manual

atau si importernya yang import

ya kena pajak.

Pajak sana-sini.

Nah, ini yang punya nih.

Yang punya. Bukan saya yang punya ya.

Konfirmasi dulu. Yang punya adalah

warat.

Saya emang nebeng foto doang.

Iya.

Kita belum se level

Tyler O'Twale ya.

Tyler O'Twale.

Ivan mana?

Kok nggak ada? Nah ini.

Jadi kalian

gantian foto-fotoan

sambil lunjut teksa gitu ya?

Iya dong. Kata-katanya

sama temen sendiri lah.

Iya. Kita mau recreate itu.

Momen apa? Momen Tyler O'Twale

pamerin lambu kan kita

pamerin Tesla gitu.

Lumayan lah.

Lumayan.

Jadi hari pertama

kan ada workshop kita nggak bisa input ya.

Itu workshopnya.

Akhirnya kita memutuskan

untuk jalan-jalan.

Jalan-jalan.

Jalan-jalan. Cari oleh-oleh.

Karena hari minggunya kita jam 10 udah

harus jalan dari hotel kan. Jadi takut nggak sempat.

Iya.

Dan sabtu nya di itu

seharian.

Akhirnya kita paginya

cari sarapan.

Sarapannya kayak ada tempat ini ya.

Apa namanya?

Soto Ayam.

Soto Ayam.

Kayak pasar gitu. Tapi bukan

pasar ini ya. Pasar pagi

doang adanya.

Jadi kayak gini. Ini kan kayak Indonesia banget ya.

Kayak enak ya.

Nggak tahu itu apa.

Cuma kayak enak aja.

Iya makanya. Terus kayak gini.

Ada jajan pasar gitu ya.

Iya.

Tapi susah

cari makanan buat Mas Riza juga.

Karena harus di center-center pakai

Google Translate.

Ih enak. Tulisannya POG.

Liat lagi. POG.

Tapi orang sana bisa

bahasa Inggris nggak? Bisa ditanyain nggak?

Maksudnya

Google Translate bisa.

Tapi pakai Translate bisa ya?

Bukan Google Translate ada di dari center-center-nya?

Yang menjadi

tantangannya adalah

menjadi tantangannya adalah

ketika misalkan kita makan di satu tempat

yang ada menu-nya gitu ya.

Menu-nya itu nggak ada pork misalkan.

Dagingnya daging sapi. Tapi stock-nya

apa namanya? Kuahnya

biasanya mengandung gitu.

Makanya harus ada orang lokal yang nanyain.

Ini kuahnya itu ada

kandungan ini-nya nggak gitu.

Porknya nggak.

Kalau ada ya udah kita cari

lokasi yang lain gitu. Makanya

agak triki juga di sana.

Ini di pasar kita jalan sendiri.

Akhirnya ketemu...

Ini kalau di Translate itu POG.

Ini daging POG ini.

Daging babi.

Ini juga ya?

Iya.

Itu apaan?

Kalian ini bukan itu. Itu apaan?

Kayak bakso gitu kan ya?

Apa lo bakso-baksoan sih ya?

Mi bakso gitu.

Coba ini gue.

Translate.

Nah ini kan aslinya kan.

Ini tempatnya kan ya.

Yang kecil aja di mana-mana.

Coba back tadi sebelumnya.

Red pork rice.

Crispy pork rice.

Itu yang di tengah itu.

Crispy pork rice sama red pork rice.

Jadi kita center-center dulu sebelum makan.

Nah yang menarik lagi adalah

yang menarik lagi adalah

kalau kita pesen

teh. Disana itu udah

default.

Tau tai ti kan. Defaultnya tai ti.

Jadi teh sama gula.

Gula sama susu.

Udah lengkap semuanya.

Jadi kayak common kan di Tegal

gak ada warung Tegal ya.

Itu warung nasi biasa, warung nasi ramas.

Actually warung Tegal itu bukan

dari Tegal.

Warung Padang.

Tegal itu tegalan.

Tegal itu pinggiran.

Klusipnya adalah

di Tegal gak ada warung Tegal.

Yang gak tau kenapa Tegal.

Di Padang gak ada warung Padang.

Kalau di Jogja kesan

ST.

Manis kan ya.

Kalau Jakarta kan harus bilang

ST manis.

Yes.

Nah disana di Thailand

apa?

Kalau kita sebut teh.

Mau yang panas

mau yang dingin ya tetep.

Gak tau.

Kalau mau kesan teh tanpa

Gak tau ti. Gak bisa.

Mereka gak tau.

Gak ada konsepnya

tanpa susu.

Gak ada.

Dan kalau bilang kita mau

pesan Thai tea, mereka juga gak ngerti.

Mereka ngerti

ca.

Harus bilang bahasanya mereka.

Thai tea itu apa hal?

Bingung.

Ada orang Tegal nih.

Warung Tegal itu asli Tegal.

Yang jual pasti orang Tegal.

Orang Tegal.

Jangan klaim-klaim.

Baiklah.

Berarti saya salah.

Sekarang yang pernah bilang

Warung Tegal itu adalah

Warung Tegalan.

Tegalan itu pinggir jalan gitu?

Iya.

Ajarin saya berarti yang ngajarin saya

salah.

Kaji Vietnam juga gak ada

kopi Vietnam tau.

Kita udah sebut kopi biasa.

Serius.

Aku Vietnam.

Jadi kalian sarapan apa akhirnya?

Ini?

Bentar.

Thai tea doang.

Nasi telur dadar.

Ini aman.

Ini aman.

Tapi yang Ivan beli gak aman.

Ternyata ada dagingnya.

Ada dagingnya dan gak tau itu daging apa.

Udah dicincang tapi saya makan

enak-enak aja ya sudahlah.

Emang gak apa-apa juga kan

kalau ke makan yang main-main.

Ini kayak apa ya?

Kayak nasi

Hainan ya?

Nasi biasa ya?

Omelette rest aja.

Omelette ya.

Akhirnya makannya ini.

Karena di hotel

kita gak dapat breakfast.

Jadi kita cari

makan sendiri sekaligus

liat-liat.

Iya.

Terus liat oleh-oleh.

Wow.

Ini yang penting.

Ini banyak apa ya?

Banyak buah-buahan yang dikeringkan.

Kayak durian yang dikeringkan

terus mangga.

Ada apalagi ada strawberry ya.

Pisang, jambu.

Eh jambu ada gak ya?

Gak liat.

Ini ada tempat khusus sih.

Duran Montong ya?

Kata istri gue enak.

Duran Montong? Iya.

Enak banget.

Indomie. Gak ada Indomie.

Hah? Gak ada?

Biasa di mana-mana ada?

Kita gak ke supermarket yang ada

Indomie-nya.

Oh ini khusus oleh pusat

oleh-oleh ya?

Kita kecat-kecat kayak pusat.

Oleh-oleh buat turis sih.

Jadi harganya lumayan harga turis.

Gak, kalo buat orang lokal

dia gak bakal beli di sini.

Tapi enaknya itu ada pasar

tradisional.

Terus sebelahnya ada mall.

Jadi kalo misalkan mau gak

nyaman belanja di pasar tradisional bisa belanjanya

di mall.

Dan yang menarik juga katanya waktu pertama

kali dijemput itu di warning

sama warat kan

katanya. Kalo di Thailand itu

kalian akan sangat banyak menemukan

7-eleven.

Tiap berapa meter ada 7-eleven.

Tapi mereka gak ada saingannya.

7 semua.

Dan kita menyaksikan itu

wah banyak. Ya beneran banyak.

Terus orang sana itu

memang doyan makan.

Dan doyan manis.

Ya.

Jadi kalo ada minuman

atau makanan yang tidak manis itu mereka, eh makanan

masih ada sih. Minuman lah. Minuman

kalo gak manis tuh gak laku.

Berarti orang Jawa Tengah sama

orang Thailand begini ya?

Jadi kalo misalkan kita pesen

Thai tea, less sugar, itu

udah manis banget buat kita. Itu udah manis kalo

buat standar. Kita.

Kalo buat mereka masih kurang.

Oh cocok tuh kalo orang Thailand

kejawabnya berarti coba pesen

S-teh gitu. Selain S-tehnya

manis, manisnya gulanya kalo

standar nih. Kalo gak ngomong less sugar ya.

Beneran kayak diserok gitu loh.

Kayak segayung udah.

Nah kalo bilang gulanya

sedikit aja, ya kayak 1 sendok

teh. Itu gulanya sedikit.

1 sendok teh udah.

Kalo gak bilang gulanya kurangin beneran

apa? Sampai munjung gitu gulanya.

Ya.

Berarti kayak orang Thailand lah.

Ya. Nah lanjut ya.

Setelah jalan-jalan, beli oleh-oleh

sedikit ya. Ya beli oleh-oleh semuanya.

Kita gak keluar lagi.

Terus kita ke venue. Ini venue-nya.

Oh.

Itu venue-nya apa? Kayak

gedung conference atau apa gitu?

Kantoran. Kayak 1 gedung

buat startup.

Buat startup.

Jadi ada

aula nya. Working space.

Ada 3.

Dulu sebelum Covid kayak sempet nge-trend ya.

Gedung kayak gini di Indonesia juga banyak.

Di Jogja dimana.

Ada 3 layar

disini. Di tengah sama di ujung.

Ada 3. Nah. Pada saat

rencananya, pada saat keynote, ini

dibuka kayak gini. Jadi semua pada nonton keynote.

Terus abis itu,

pas udah siang, baru

di partisi. Per track.

Itu rencananya.

Setelah kita

pulang, nyobain slide

sedikit, oke.

Pulang besok paginya.

Kita datang.

Tiba-tiba ada masalah.

Tenggal rencana.

Karena ternyata

layar yang kedua yang di tengah ini mati.

Gak bisa dipakai.

Untung bukan panitia lemes ya.

Panitianya sih stres sih

sebenarnya.

Makanya, cuma kalau jadi speaker

yang ikut aja.

Yang gimana?

Yang kombusif aja. Cuma kalau jadi panitian

yang in charge itu bayang si lemesnya.

Iya. Betul.

Stres banget sih pasti.

Karena pada saat

malam itu, pada saat

ditinggal, itu dalam keadaan

oke. Tiba-tiba pagi-pagi jam

6 jadi gak bisa.

Padahal lampu, lighting-nya

keren banget loh.

Waking monster-nya.

Bagus banget deh.

Screen itu kan gak segampang itu

nyewa lainnya kan. Maksudnya belum tentu

cocok. Kalau misalnya yang rusak

proyektor, proyektor kan tinggal

sewa yang lain.

Screen LCD-nya gak abal-abal deh.

Bagus banget. Detail.

4K.

Dan apa ya?

Ini ya

pikselnya rapat banget.

Gak kayak yang apa?

Proyektor.

Jadi dark mode

aja bagus ya.

Itamnya

bagus.

Nah,

ditungguin sampai jam berapa ya?

Kita kan, kita datang jam

8.

Mulai acara itu rencananya jam 9.

Tapi karena ada incident itu akhirnya

dimundurin ya? Sejam ya?

Sejam. Sejam 10.

Makanya kalau temen-temen buka

javascript bangkok.com

itu bukan 2.0.0

tapi 2.0.1.

Mereka langsung update.

Oh, karena ada patch.

Ada commit-nya

fix event, schedule

and location.

Oh, lucu banget.

Fix update.

Kita begitu jadwal. Eh, jadwal kita dimana?

Udah 2.0.1 loh.

Cepet loh update-nya.

Ini pakai

astro loh.

Gue astro!

Iya.

Terus,

gak lama kita jam

9.15

apa?

Udah dikasih tahu bakal telat

sejam. Terus yang

isi keynote dateng.

Yang isi keynote adalah

Lihao.

Yang apa?

Kontributornya Stealth.

Salah satu maintainer Stealth.

Iya.

Ngobrol-ngobrol kita so

kenal-so dekat gitu kan. Kirain dia masih

ingat taunya dia lupa. Kamu siapa ya?

Kayak kenal tadi.

Dia kan ketemu orang banyak banget.

Ketemunya kan online juga kan. Kita ketemu sama dia

online kan. Jadi gak terlalu gini kan.

Akhirnya,

"Oh iya, kita pernah ketemu

di gini-gini." Iya, baru ingat kan.

Terus,

yang paling setres salah satunya

dia. Karena kan dia pembuka kan

keynote.

Dan pembahasannya sih

menarik sih menurut

Everybody sih bagus banget.

Jadi tentang

bagaimana cara spell

compiler bekerja. Jadi dia

jelasin, pakai kode

hands-on,

gimana bikin spell

compiler yang basic.

Yang sederhana.

Itu

keren sih.

Jadi dia jelasin bagaimana cara itu

dari kodenya

kode spell

yang biasa.

Dikompal jadi JavaScript ya salah.

Dikompal jadi-jadi

JavaScript yang bisa

dieksekusi.

Dia jelasin yang paling sederhananya,

kasus yang paling sederhananya,

dia breakdown, dan dia

life-coding. Keren.

Cuma itu jenis

beresiko banget

sih. Maksudnya life-coding.

Terus apa? Harus bekerja.

Kerennya pakai life-codingnya. Nanti

coba diceritakan sama Sriza.

Apa namanya? Udah di-program

lah ya.

Iya.

Ada lagin namanya

Hacker Typer. Jadi dia tinggal

ketik nasal, udah diketik

otomatis. Tapi tetap aja beresiko.

Cuman

topiknya itu

mendalam, artinya

biasanya kan tutorial kita

cuma cara pakai framework.

Ini cara bikin framework.

Sebenarnya tujuannya

bukan untuk bikin framework sebenarnya.

Tahu cara kerjanya gimana.

Gak hanya cuman pakai

doang, tapi tahu cara kerjanya.

Actually bukan framework sih.

Compiler.

Cuma kalau swell

dibilang framework pun dia gak nolak.

Kalau react kan agak

nolak.

UI library.

Bisa dibilang compiler.

Swellnya sendiri kan gak di input

di hasil build akhirnya.

Udah tinggal JavaScript biasa.

Kita sampe gak ada sempet nge-videoin.

Padahal bagus banget tuh. Tapi ada kok videonya

nanti.

Di Youtube kok.

Saya sempet koto tapi

kurang bagus hasilnya.

Agak goyang gitu.

Dari belakang jauh kan.

Kan penuh.

Ini bahkan setelah

ketunda 1 jam tetep

tetep entusias ya.

Tetep. Kan dari yang

banyak yang rame, berapa?

60-an, 70, lebih ya?

100-an lah ya.

600 venue ya.

Yang di venue yang besar.

Terus dipindah ke ruangan-ruangan

kecil.

Jadi yang kayak gini. Ini pakai

proyektor.

Akhirnya.

Ya cuman semuanya

berjalan lancar sih. Sampai akhir berjalan

lancar.

Kita gak tahu ada yang komplain depan gak.

Tapi sejauh ini lancar.

Dan ketika acaranya udah dimulai

layarnya bisa

nyala.

Itu sebel banget sih.

Jadi ruangan itu hanya

dipakai untuk makan siang.

Karena panitia udah gak mau

pindah lagi. Soalnya udah ribet banget kan.

Ya lagi berisiko kan kalau ternyata

layarnya LCD-nya besar.

Bukan.

Lebih berisiko mindahin alat-alat

ekonomi logistik buat

live streaming.

Lebih ribet lagi.

Karena kan ruangannya kan lebih kecil.

Ruangannya kan lebih kecil.

Jadi

dari yang keynote-nya

kayak contohnya Lihao ini,

di live streaming ke ruangan-ruangan yang lain.

Berarti ada penonton yang

nonton live streaming doang.

Ya penonton layar.

Karena ya

keterbatasan tempat kan.

Kita sampai

berdiri-bediri di belakang.

Kita sampai gak mau duduk, disuruh

duduk, kita gak mau kasihan penonton

kan yang lain.

Iya. Nah.

Begitu, setelah

si keynote ini

selesai, kita foto-foto dulu ya

sebelum itu ya.

Lihao-nya dewas banget

katanya.

Akhirnya kita ajak ngobrol, kita ajak foto-foto

habis foto-foto,

gak lama,

sempat lima.

Tapi...

Tapi kayaknya dia tau deh. Dia kan detainer.

Dia udah gak involve

terlalu banyak karena

satu pekerjaan, kedua...

Iya sibuk-sibuk.

Dulu bisa banyak

waktu gara-gara pandemik juga

katanya. Jadi kan lebih lama di rumah.

Kalau sekarang udah WFO

dan lumayan sibuk, jadi

dia udah gak involve ke

spet lagi

untuk saat ini.

Cuma menarik, kita

udah minta dia untuk

main-main ke, ngobrolin web

untuk bahas tel, telkit.

Sama

kalau dikerjaannya, dia kan pakai React.

Dan dia pakai

Micro Frontend.

Jadi bisa ditanyain juga.

Dan dia kerja

di Shopee, jadi...

Shopee Indonesia lho,

Shopee.id ya.

Semua web, iya kan, semua web

iya kok, bukan cuma id doang.

Mungkin codebase-nya satu,

dipakai di Indonesia, dipakai di Malaysia,

di Malaysia.

Tapi dia biasanya di Malaysia kan

stay-nya, maksudnya?

Singapura. Aslinya orang Malaysia,

orang Penang.

Tapi stay-nya di Singapura.

Udah,

abis itu kita sempat ketemu

si

Louis ya,

GDG Georgetown

Penang, dia ngisi juga

tentang

Cypress.

Tentang Cypress.

Mirip-mirip

topiknya Ivan ya.

Iya, tapi dia kan

Cypress, artinya

end-to-end testing kan.

Kalau saya kan buat testing banget.

Dan dia kan Cypress ini,

Cypress Ambassador.

Iya, Cypress Ambassador.

Kita sempat ngobrol

banyak.

Terus abis itu nonton beberapa, kita gak sempat

nonton dia sih ya.

Itu berapa track sih yang parallel?

Tiga.

Tiga.

Terus

kita siap-siap mas Riza

tampil.

Mana mukanya?

Layarnya kosong.

Layarnya kosong?

Harusnya kelihatan sih.

Jadi, setelah ini

tampil, abis itu

pindah lagi ya.

Pindah ruangan.

Pindah ruangan, nungguin Ivan ya.

Nungguin Ivan.

Nah, pas nungguin Ivan itu ada

beberapa

komater yang lumayan

menarik. Salah satunya adalah

Pak Thor ya.

Pak Thor.

Ini bagus ya Pak Thor.

Ini.

Jadi,

ya.

Ya, jadi dia pakai

apa?

Pakai LLF apa?

AI model yang

di download web browser.

Web assembly.

Oh.

Ya, gak tau ya.

Pasti Wasm sih sebenarnya.

Wasm dan Web GPU.

Ya.

Ya, kayak yang di demo-in

Pak Thomas Steiner yang di Beijing

kan. Jadi, Pak Thor ini

juga ex-Googler.

Dan dia sekarang di

developer experience

di SuperBase.

Dia sempat ngedemo-in

di browser

untuk itu ya.

Real-time translate.

Real-time translation.

Jadi, dia ngomong

langsung bisa di

di translate dari Inggris ke bahasa

apa dan kalau kita scan

QR code, kita bisa langsung

lewat mobile device kita.

Langsung lihat. Jadi, kayak

di bypass pakai

SuperBase real-time database

pakai web socket. Jadi, tempat

kita bisa langsung lihat

translationnya juga.

Ngerti gak? Jadi, kalau misalnya dia

lagi ngomong, terus

dia pakai

di browser.

Terus itu di streamingkan ke

SuperBase. Terus dari SuperBase

terus ada aplikasi

client

masih di browser juga.

Jadi, di aplikasi client

yang dia, ini satu lagi,

yang nge-fetching data dari SuperBase

real-time itu. Dan langsung

di translate ke

pilihan bahasa apa yang kita mau

di lokal handphone kita.

Oh, jadi

nge-translate-nya di browser

masing-masing ya? Di browser-nya dia

pas dia ngomong, di browser kita.

Tapi, maksudnya, yang si

real-time SuperBase-nya itu

cuma buat transmit

isi speech-nya, audionya.

Jadi, dari dia

the speech to text,

text-nya masuk ke SuperBase real-time

terus di client yang selanjutnya dari

text yang sudah

di streaming itu,

bisa di translate ke bahasa yang kita

tujung. Cuma, maksudnya,

kreativitas nge-translate-nya di

kalau kita ngebuka nih, terus mau pilih

translate ke bahasa Indonesia, kan

berarti itu kerjanya di browser, kan?

Iya.

Dan dia demo-in-nya

pakai Wi-Fi-nya

dimatiin.

Benar-benar offline.

Dan dia juga, yang menarik juga dia demo-in ini

apa?

Semantic Search, ya?

Semantic Search

offline, pakai

Light, yang itu, apa? Yang

bukan

Vector, ya? Vector, ya?

Vector, Context. Jadi, misalkan

kita ada

list nama makanan

buah-buahan sama barang

terus kita minta fruit

dia kasih tahu ini, ini, ini.

Jadi, kayak, apa? Semantic

kan, ya? Istilahnya, ya? Semantic Search.

Jadi, bisa tahu konteksnya.

Buat embed.

Embedding. Jadi, kita

convert sendiri data, misalkan kita punya data

tuh, apa, Jason?

Ada yang buah,

ada yang... Iya, contohnya

kalau, kayak, dia

dia sebut

fruit, nanti Apple keluar.

Kalau dia kita sebut equip, apa?

Computer. Apple, Apple

juga keluar. Bisa lebih.

Iya. Itu

dia pakai

embeding-nya, Vector

database-nya menggunakan SQLite.

Dan jalan di

browser dengan

menggunakan WebAssembly.

Wah, nice. Seru. Cuma

pas liat, apa?

Topik-topik menarik gini,

gue jadi lebih terhibur sih. Maksudnya,

ya udahlah, emang

topic gue sendiri kurang mateng dan

lebih menarik yang kolos-kolos ini.

Jadi, nggak apa-apa, ya.

Kalau yang lain topiknya garing-garing juga kan

kecewa. Apakah

apa gue sebego ini, nggak bisa

apa, nggak bisa pilih topik yang narik

dan dipilih. Cuma kalau topik yang kalah sama

yang begini-gini, ya nggak apa-apa juga sih.

Iya. Jadi... By the way,

topiknya ada banyak loh sebenarnya

sebagus. Cuma

yang kita ikutin, yang bahasa Inggris aja.

Iya. Karena bahasa Thai, nggak ngerti.

Iya. Dan beberapa

yang, terutama yang awal-awal

yang pagi itu kita jarang ikut, karena

kita masih fokus sama persiapan

kita. Iya, persiapan kita. Setelah

selesai, baru kita nonton beberapa

terus abis, Pak Tor,

kita nonton siapa? Nonton ini ya?

Itu F5.

F5JS. Oh, P5.

P5. P5JS.

Pira. Pira.

Ini dia konten kreator.

Konten kreator juga.

Kreatif coding, ya.

Kreatif coding, ya.

Bikin-bikin. P5 itu kan yang sering dipakai

sama, siapa? Coding train itu kan, Pak.

Iya, betul. Daniel Schiffman.

Dia abis

dia abis meng-interview Daniel Schiffman juga,

katanya.

Cari aja, namanya

Pat Vira. P-A-T-T.

P-A-T-T.

Dia orang Thailand?

Dia orang Thailand.

Thailand, tapi bisa lancar

bahasa Inggris.

Dan dia suka bikin

kreatif coding. Jadi, di

konten-kontennya dia itu kreatif coding.

Iya. Yang lucu,

apa namanya, background story-nya.

Jadi, awalnya dia belajar coding

dan dia tidak dapat

esensinya. Nggak suka. Jadi,

apa ya, kuliah kan. Dia kuliah.

Dan itu

apa ya, menyiksa gitu. Karena

dia nggak bisa. Tapi begitu

dia belajar kreatif coding justru

jadi lebih lancar.

Menarik sih.

Kita belum pernah bahas

kreatif coding, ya. Bisa di...

Mudah-mudahan bisa, mau dia

diundang kali ya. Kita udah nanya-nanya

sih. Mau nggak?

Biar, apa, kita bisa

dapat ini juga, apa namanya,

inspirasi juga.

Sudah.

Habis itu,

event siap-siap.

Habis

Pira, event siap-siap.

Aman sih.

Malah, malah

lebih lancar Ivan

daripada saya. Saya bahasa Inggrisnya, wah parah sih.

Dan kayak keburu-buru ya.

Kayak keburu-buru.

Udah sih, bagus juga.

Maksudnya penyampaian Mas Dinta

secara materi

komplit, bagus.

Banyak.

Ya. Tapi begitu udah saya...

Waktunya tinggal

berapa? Masih 15 menit?

Kenapa ini? Jadi bingung.

Tapi ya.

Oke lah, gitu. Kalo Ivan

kayaknya waktunya sempat dipanjangin ya?

Iya, dipanjangin.

Tadinya 10 menit, jadi 15 menit.

Tapi akhirnya nggak ada

demo code ya? Loh.

Gak ada demo code

jadinya.

Sayangnya, udah di-take out ya

demo code-nya ya.

Ya betul. Ya sudahlah.

Ya, Lightning Talk

bukan buat demo code juga sih.

Bukan demo code ya, ngeliatin

snippet code kan ya.

Ya, sebenernya sudah saya capture

jadi video sebenernya sudah ada.

Nah, ini contoh-contohnya.

Terus apa lagi?

Abis

Ivan selesai?

Kita masih disitu ya?

Iya. Alicia J.S.

Nonton yang bikin Alicia J.S.

Santi Om.

Iya, Santi Om.

Santi Om.

Kayak gimana kalo

device besok gua present

pake coupon.

Boleh, boleh, boleh.

Kalo disini, ya mungkin disana

udah kebiasa kali disini, disangka

"Wah, setres ini banget."

Disini kan ada niku-niku itu kan ada juga.

Ya, bukan

di tech conference juga.

Iya.

Tadinya...

Awalnya saya kira kan

dia ini adalah salah satu kontributernya

Alicia J.S. Ternyata dia kreatornya

yang bikin pertama kali, kaget juga.

Orang lokal. Soalnya kan

sehari sebelumnya saya sempet nanyakan ke warna

"Ada gak sih influencer disini

yang istilahnya

influencer coding?"

Dia bilang "Gak ada."

Makanya kaget. Ternyata ada orang lokal yang

jago kayak ini.

Ya, mungkin karena mindset-nya

gak diketliatkan.

Liatan gak ya?

Apa nih? Foundernya Alicia

laki-laki apa perempuan?

Kita gak nanya sih.

Gak berani nanya sih lebih tepatnya.

Iya.

Cuma toloknya dia

tentang apa? Tentang Alicia-nya.

Tentang Alicia J.S.

Lebih ke TypeScript.

TypeScript.

You might not need TypeScript.

Bukan, bukan. Apa ya?

Pahaya gimana caranya

bikin library yang

mengakomodir fitur-fitur TypeScript

gitu lah kira-kira.

Coba tanya nih penyonton nih.

Ini quiz-nya.

Apa tuh quiz-nya?

Quiz-quiz itu itu.

Oh ini. Dikirain, dikirain.

Interface.

Dijobanya apa?

Dijobanya apa?

Ada function add a.2 integer

b.2 integer

terus.2 integer diakhirnya.

Dikirin a.2 b.

TypeScript. Salah ya.

Dibakan.

Dibakan.

Dibakan. Bukan.

Bukan. Apa ternyata?

Ternyata adalah

ternyata

es4 itu

JavaScript itu hampir punya

system sebelum TypeScript.

Jauh sebelum TypeScript.

Es4 itu pas kapan aja bahkan itu

gue gak kebayang sih.

Gak diloncing kan?

Yang sempat ada yang dulu kita bahas

yang mereka konflik lama banget gak

ke aktivitas itu kan?

Iya. Jadi dari es3 langsung loncat kan?

Ke es5 apa es6?

Es5 langsung.

Sama kayak php

php 56

php 6-nya.

Php 6

gak loncing-loncing kan?

Berantem. Jadinya php 7.

Oh Valery tahu loh.

Valery tahu loh. Mantap.

Terbiasa. Kita aja gak

tau sama sekali ternyata

pernah ada history seperti itu.

Damar punya ide apa?

Mau

talk pakai ini ya? Cosplay ya?

Cuma isi talk-nya ada hubungannya

sama kostumnya dia gak? Atau cuma ciri

khas dia aja? Cuma style dia?

Alicia itu kan nama

anim kan?

Terus semua

release-release-nya itu berhubungan

sama OST

soundtrack-nya, soundtrack-nya anim

atau manga.

Bagi yang gak tau

Alicia JS itu apa?

Alicia JS?

Apa ini? Ini menarik.

Itu tidak mungkin untuk membuat typescript,

typescape, light from type.

Slide-nya dia coba gambar-gambarnya ada kayak

kartun-kartunnya gitu.

Wibu ya.

Alicia JS itu adalah framework

untuk boon.

Sudah mau

release-nya katanya bisa

menerima rantem lain.

Iya buat rantem lain.

Plus Alicia. Gila hipster banget itu

track-nya.

Mirip-mirip lah seperti

Express dan teman-temannya yang lain ya

yang request-response ya.

Didefinisikan,

redacted, ada

pos bisa websocket,

listen.

Sinternya kayak

Express. Cuma by default

typescape ya?

Ya, dibikin dengan

script juga.

Terus juga

kalau apa?

Lebih cepat daripada Express katanya.

Lebih cepat daripada Go tuh.

Spring, Java.

Fastify.

Di atas.

Ya.

Nanti bakal

release berikutnya bakal dibikin adapter

untuk berbagai runtime

termasuk Node dan juga

Adeno. Katanya gitu.

Ya, pesaingnya Hono.

Yang alternatif dari Hono juga.

Kebantu rantemnya

Boon. Ya, bisa jadi.

Kucuriga kayak gitu.

Tapi dia ada

ini juga. Pernama salah performance

dan dia berhasil resolve performance

issue itu.

Di salah satu beberapa slide-nya

menceritakan

kalau typescript itu

parsingnya itu membuat

lambat.

Jadi dia solve itu

banyak

dan berbagi pengalaman.

Yes.

Cool.

Udah.

Dari situ

habis ya? Terakhir ya?

Penutup ini ya?

Di akhir kali ya?

Di akhir ya?

Betul.

Setelah itu kita sempat foto

rame-rame.

Habis itu pulang

kita diajak ke restoran

yang fancy banget ya.

Seafood.

Itu yang punya

celebrity chef di sana.

Nih dari

bentar.

Ini tampang-tampang

sebelum makan.

Ini

orang lokal Thailand.

Ini Thailand juga.

Kita dari Indonesia. Ini Lihau dari

Penang. Ini Louis dari

Penang juga.

Jadi biasanya

kalau

ketiga rumpun ini berkumpul

yang jadi perdebatan adalah

durian mana yang paling enak?

The battle of the durians.

Mereka ribut tuh. Yang satu

montong, yang satu

musangking. Kita yang medan durian

murah, gimak aja ya.

Mereka kan duriannya

mahal-mahal semua.

Persatukan nasi dan durian.

Nasi dan durian.

Iya. Habis itu kita ngecek-ngecek

di sini

ada rujak nggak? Oh ternyata di

Malaysia itu ada rujak. Tapi R.O.

Rojak.

Terus ada apa lagi gitu.

Jadi seru sih.

Membandingkan buah mana

yang nggak ada di negara kalian.

Disana ada nangka nggak ya?

Ada.

Ada beberapa.

Rojak.

Cendol juga ada. Sehari

sebelumnya kita diajak makan ada cendol.

Betul.

Sama lagi.

Walaupun lebih enak karena di resto ya.

Karena di resto.

Baru inget di Thailand itu

ada satu buah yang nggak ada.

Yang cuma ada di Indonesia.

Buah batu.

Oh ini jok.

Ya.

Nah ini pasti efeksonnya.

Ya kadang-kadang ada

nama buah atau nama makanan yang

berbeda.

Tapi sama.

Kalau

Indonesia-Malaysia kan

Kepon versus Oneon-nya kan

kebelik.

Terus kemarin itu kita sempat dikasih

ada kue apa gitu namanya yang kecil gitu

taunya kayak naga sari.

Itu kapan ya?

Sehari sebelumnya.

Ada jumat-jumat. Jumat malam.

Yang habis liat venue.

Saya pengen kasih.

Gue lupa.

Waran.

Yang kita makan itu. Makan mie.

Oh iya.

Ada cendol, ada itu.

Ya emang.

Maksudnya fruitnya mirip ya.

Fruitnya sama.

Implementasinya yang

lain-lain sama namanya lain.

Kayak framework Javascript.

Yang lucu itu.

Kenapa di Malaysia ada yang namanya

es bandung? Di Indonesia nggak ada.

Itu es campur kan ya?

Iya. Jadi di sana itu artinya

bandung. Katanya bukan bandung

nama tempat. Bandung itu

di sana kayak campur.

Es pink. Pinky-pinky gitu.

Manis-manis.

Sirup.

Kue bandung.

Ada kue bandung ya?

Oh martabak itu kue bandung emang?

Gak tahu kita malah.

Yang pernah dikasih tahu cuma es bandung doang.

Gatanya itu nggak ada hubungannya sama

bandung nama tempat di Jawa Barat.

Anak-anaknya aja.

Ya gitu lah ceritanya.

Jadi malamnya.

Itu tuh katanya buah kepayang. Kluok nggak ada

di Malaysia. Kluok.

Berutahu. Kluok itu buah kepayang.

Mungkin ada.

Cuma kita nggak tahu namanya.

Cuma lebih

distracted sama itu sih.

Namanya buah kepayang kan ada mabok kepayang.

Berarti kalau makan kluok banyak

mabok gitu.

Kluok itu yang buat rawon sama

brongkos.

Denis ya kan.

Setau gua cuma buat rawon deh.

Brongkos.

Brongkos itu apa?

Brongkos itu apa?

Nama pemain bola.

Nama pemain bola.

Ya nggak apa itu.

Kalian

suka banget deh.

Kau nya bukan brongkos.

Ini namanya.

Bantuk Kaidong.

Bantuk Kaidong.

Mereka tetap pakai latin.

Kuruf latin juga ya.

Maksudnya nggak cuma alfabetnya mereka.

Ya supaya bisa

dibaca sama turis kayak kita-kita ini.

Iya.

Cuma berarti itu common practice ya.

Ini sambal.

Ini cumi.

Sayur.

Kawi.

Nah baru tau kalau Tomyam itu ada kuah bening.

Ada kuah bening.

Ada kuah merah.

Merah.

Nah ini pernah diceritain katanya.

Kalau di sana Tomyam itu sebenarnya kayak Soto

di Indonesia. Soto itu kan kita punya konsep

Soto tapi kayak bahkan

di Jakarta, di Bandung, di

masing-masing daerah ada variasi.

Sedikit-sedikit tapi kurang lebih mirip.

Kita punya bayangan Soto itu kayak gimana.

Kalau di Thailand, nggak tau nih bener

atau nggak, pas mau

mempopulerkan Tomyam ke luar negeri

men-streamline kan cuma satu

macam Tomyam yang selama ini kita

kenal. Jadi maksudnya biar brandingnya

gampang, Tomyam yang

di eksport lah yang

dipopulerin ke luar negeri itu

cuma satu macam itu walaupun internally

di Thailand varian Tomyamnya

macem-macem.

Iya.

Tapi pedes.

Iya, pedes. Pedes asem ya.

Pedes asem ya.

Ah tahun depan harus solos

biar bisa makan Tomyam kopi.

Iya, ini Tomyam, nasi goreng

seafood.

Ini Tomyamnya

lebih detail. Nah ini

kepiting ini.

Mbak Srisen nggak kan dimakan

banyak-banyak.

Kolesterol gila ya.

Takut.

Ketauan umur.

Dan umir.

Bukan mabok.

Tapi gara-gara kepiting

kolesterol.

Banyak ya buah kecapi kita nggak nanya.

Buah Gandaria, buah Bintaro

ada buah Bintaro.

Bintaro tuh ada pohon namanya Bintaro

dan itu buahnya bikin

gatel kalau nggak salah.

Rumbia nih.

Di Aceh sudah. Rumbia

tahu nggak? Tidak tahu ya.

Buat

rujak Aceh itu pakai rumbia.

Kalau Gandaria

tuh dulu cuma tahu kalau main

MBC 5 Dasar dapet G,

kudinyebut nama buah mah itu Gandaria.

Cuma nggak tahu. Gak ada yang lain gitu.

Gendaria sama GoHop

dan dua-duanya nggak tahu itu apa sih.

Cuma buat jawab.

Sama di sana ada itu

Polismuk.

Safe nggak ya kalau ditunjukin di sini.

Jangan, jangan, jangan.

Itu ada sensornya loh.

Tapi di sana.

Tapi kan

saya nanya kan waktu itu ngobrol sama

Ivan aja berdua gitu kan. Ini kok

biasanya kan

kalau ada sesuatu yang unik

seperti itu, biasanya kan

dipromosiin sama orang lokal kan.

Tapi ini waran nggak pernah ngomong sama sekali.

Akhirnya kita tanya,

"Pernah nyoba nggak?" Gitu.

Nggak. Terus pendapatnya

tentang itu apa? Ternyata mereka nggak

setuju sebenarnya.

Ya, tidak setuju dengan

legalisasi itu.

Legalisasi itu.

Tapi maksudnya ada

dempaknya jadi rusuh atau jadi gimana?

Nggak sih. Sepi-sepi aja ya masnya.

Sepi-sepi aja.

Iya.

Kalau yang nggak tahu apa Polismuk itu

yang daunnya 5 deh.

Yang daunnya 5.

Yang bikin melayang gitu ya.

Masa

logo iklannya itu apa?

Red Eye Smiles A Lot.

Kan aneh.

Senyum-senyum terus gitu.

Ya kan itu literally

dempaknya

if you know, you know gitu lah intinya.

Kita audience-nya langsung tahu kan itu apa

tanpa nyebut barangnya,

tanpa ngasih gambarnya.

Itu betul sih kalau dari...

Jadi ada 3 hal

di jalan yang kita dari hotel menuju

venue. Cuma ada 3 hal

yang banyak.

Makanan.

Makanan, bukan makanan.

Terus kemudian

massage, pijat.

Satu lagi tempat Holy Smoke.

Udah.

Ya kan simbiosis.

Abis dari situ

lapar kan makan.

Jadi ya sebetulnya simbiosis.

Abis sudah kerjanya, pijat.

Cuma berarti warga lokal kurang...

Mereka kurang setuju ya

beberapa... Tapi nggak sampai konflik.

Maksudnya nggak sampai gimana-gimana ya.

Cuma internally mereka nggak excited aja.

Iya.

Mungkin itu ditujukan untuk

orang luar kayaknya.

Sama kayak Malaysia lah.

Malaysia kan kalau judi

itu kan haram. Tapi mereka ada

Genting Island. Nah kayak gitulah kira-kira.

Bukan Genting Island, Mas.

Genting Highland.

Oh Highland.

Ya, di Pembukitan.

Oke.

Baiklah.

Udah. Malam

kita pulang, terus besoknya

berangkat jam 9.30.

Kita pulang dari restoran udah kayak penyengbego.

Penyengbego bener.

Udah lah, makanannya sepenyek-penyek itu.

Sampai hotel tidur.

Besoknya balik ke

Jakarta.

Sampai sini minggu malam.

Nah, ini ada pertanyaan

menarik nih. Teknis tapi.

Kenapa ya,

di JavaScript framework yang sering muncul itu

minimalis framework ketimbang full batteries.

Iya, semua itu ya.

Hampir semua gitu.

Itu kemarin yang red what full battery?

Iya, kan seringnya.

Keyword-nya adalah sering.

Yang muncul,

yang terkenal kan express.

Ada Hono.

Yang tadi Alicia JS.

Itu semuanya minimalis framework semua.

Next nggak minimalis?

Sering muncul?

Kan itu meta framework.

Back-end kali ya?

Back-end kali ya?

Full stack.

Cuma gimana ya, mungkin JavaScript itu kan

kayak fragmented.

Fragmented banget nggak sih?

Kayak kalau misalnya dikasih satu

paket itu semua, nanti nggak cocok

buat ini. Anggular?

Gak cocok buat itu, itu protes.

Anggular kan full-fledged kan?

Iya.

Dino juga

lumayan full.

Dino lumayan lengkap.

Jadi

sebenarnya tergantung

mainnya kemana sih?

Sebenarnya follow siapa?

Kalau follow-nya yang suka minimalis,

nggak terlata minimalis. Tapi sebenarnya

kalau kita ikut grup yang

yang anggular,

ya full-fledged.

Saya nangkep nih

pertanyaannya.

Misalkan contohnya ya, di Ruby,

itu yang terkenal yang paling populer apa?

Rails kan? Full battery kan?

Di Python ada Django.

Itu menominasi ya?

Kalau kita pakai Python,

otomatis hampir pasti kita akan

belajar Django orang-orang di sekitar kita.

Komunitasnya banyakan pakai Django.

Kalau PHP?

PHP, banyakan apa?

Laravel atau OCI. Itu full battery

juga kan?

Kalau JavaScript kayak cabang-cabang

pilih.

Kalau JavaScript yang paling populer apa? Express.

Kalau misalkan Ruby,

yang paling populer,

Sorry, bukan Django, Rails.

Tapi populer kedua,

baru yang minimalis.

Sinatra.

Emang kalau JavaScript, tekanannya

Express gitu?

Yang backend ya?

Kita ngomongin Node.js ya?

Bukan ngomongin frontend framework.

Nah, cuma salah satu

pembedanya itu juga sih, JavaScript

kan rancu. Bisa full stack,

bisa backend, bisa frontend,

bisa any combination thereof.

Kayak misalnya pakai Express

buat routing, di depannya,

misalnya client-side, di browser, pakai apa?

Pake React kan? Bisa aja kan?

Jadi mungkin itu memprescribe

nih, pakai sepaket.

Ya, itu kita ngomongin

web framework yang

request-response, yang

tradisional request-response kan?

Itu kebanyakan. Dan di

JavaScript, kalau dulu saya kebayangnya gitu,

benar juga ya, kenapa yang populer

justru yang minimalis-minimalis.

Baru kemudian muncul kayak

Adonis,

muncul Redwood, gitu kan?

Yang ada generate-generate-nya.

Meteor, lupa ya sama meteor ya?

Meteor, iya.

Ya, tapi

dia jalan, ya itu full stack sih.

Cuman kan nggak populer juga.

Ya kan? Tapi mungkin

bahkan kayak, apa ya,

di ekosistem JavaScript,

sunken fragmented dan banyak

banget kombinasi yang bisa dibuat,

jadi kayak nggak ada dominasi sama sekali.

Jadi maksudnya mungkin persepsi

orang lihat, oh iya ya,

kayak seringnya minimalis. Kayak tadi kan

persepsi seringnya minimalis.

Atau nggak kan sebenarnya,

itu kan berarti presentase ya.

Kayak kita harus, kalau misalnya

iseng banget pengumpulin data, framework

ada berapa, apa saja yang dianggap framework,

mana yang punya

full feature, kayak routing lah,

apa, run-end,

atau database,

ORM, dan lain-lain.

Cuma kan,

biasanya nggak se detail itu,

cuma persepsi aja.

Lihat ada express,

lihat ada tadi Alicia,

lihat ada semacamnya, kayak apa,

fresh, apa, deno fresh kemaren,

kerasanya, oh iya kayak

minimalis aja kerasanya.

Itu sangking banyaknya,

macam-macam kombinasi dan pilihan, jadi kayak,

oh, kita lihat beberapa yang

minimalis, terus persepsi kita,

oh iya kayaknya banyak yang minimalis.

Ada faktor itu deh.

Mungkin juga karena

si Node ini biasa

digunakan di ekosistem

microservice.

Jadi nggak monolitik.

Iya kan?

Kalau misalkan PHP,

Ruby,

Python, biasanya kan

digunakan di lingkungan yang

awalnya mulainya dari

monolitik kan, baru kemudian

dikecil-kecil jadi

microservice.

Kalau Node kan biasanya

memang dia,

memang dia

kuatnya,

strong pointnya adalah

di service-service

kecil tapi banyak.

Dia nge-serve kecil-kecil tapi banyak,

sering gitu, dibandingkan kalau service

yang gede, processing

lama, nah itu dia nggak kuat, makanya

orang lebih memilih Go, atau

Rush, atau makin yang lain.

Node kan single-credit.

Iya, justru itu dia

yang kecil-kecil tapi sering

kayak chat, real-time,

dashboard, apa buat

lempar-lempar kecil-kecil aja gitu.

Mungkin itu juga yang membuat kenapa

populitas frameworknya justru

yang minimalis. Mungkin ya.

Nggak tahu juga gitu.

Tapi semakin kesini kayaknya semakin mulai banyak

yang membandeling-bandeling gitu

sekarang udah ada Prisma, banyak

framework yang udah

pake Prisma sebagai ORM-nya,

terus kayak

apa, dibandeling juga

sama React, kayak Redwood,

ada apa lagi ya yang pake-pake

generator gitu.

Mulai banyak lah, termasuk juga

Deno, yang walaupun dia

mulai dari

sesuatu yang minimalis,

tapi dia menyediakan database-nya,

menyediakan templating language-nya,

menyediakan apa-apa.

Linter, Deno ada linter-nya.

Ada linter-formater ya.

Jadi mungkin

termasuk juga Un.js itu kan banyak ya.

Jadi kayak tools terpisah

kecil-kecil, nanti mungkin

siapa tahu bisa digabung jadi

satu tools

yang kesatuan gitu.

Jadi satu kesatuan.

Makanya boilerplate laku

banget ya.

Iya, iya, iya, iya.

Benar-benar. Yang opinion

negative jarang ya

kalau di

JavaScript ya.

Ya itu Redwood kan opinionated banget.

Iya, tapi

nggak begitu populer.

Kalah populer kan dibandingin yang

non-opinionated.

Kayaknya suku bangsa

pengguna JavaScript itu

dia lebih anti-opinionated

kebanyakan.

Mau yang agnostik dia ya.

Pengennya sesuatu yang gampang aja

kayak Next.js paket-paket sudah

selesai.

Padahal itu nyusahin depannya

sih mau milih apa.

Jadi harus mikir lagi.

Tapi mungkin ada faktor ini juga

karena di NPM

itu kan library-nya kecil

dan banyak kan dibandingkan sama

library

bahasa yang lain kan.

Apa aja ada gitu

di sana. Jadi orang

contoh ngeliat, oh ini ada. Ya udah, ambil aja.

Akhirnya nggak butuh yang

battery-included. Udah ada semua

gitu.

Sama mungkin penggunaan kayak

corporate, established

corporate versus startup

atau agensi

yang relatif kecil, yang bisa lebih

experimental.

Coba liat yang battery-included

semuanya kan, kayak

Laravel, Rails, atau Django, itu semua

mereka bikin sendiri kan. ORM-nya mereka

bikin sendiri.

Apalagi, pokoknya semua item-nya

itu mereka bikin sendiri kan. Sedangkan

kalau di JavaScript, kayaknya

oh udah ada di NPM nih, ngapain bikin

sendiri, ambil aja tinggal connect-in. Udah.

Hirebase.

Hirebase. Kan JS juga.

JS juga belakangnya.

Untuk connect.

Iya.

Apa lagi?

Ada lagi yang mau dibahas.

JS bisa fault tolerance nggak ya?

Bisa aja sih.

Tapi sulit.

Wait, fault tolerance itu

apa sih?

Kalau error

bentar. Tidak membuat

server-nya mati.

Ya. Tetap jalan

bisa. Nggak ngeblock. Oh, berarti

buat apa? Server-side

JS ya? Yes.

Betray chance.

Yang banyak.

Yang banyak.

Ya.

Mungkin next-nya kita bisa

bahas tentang Elysia.

Bisa bahas tentang creative coding

dan bisa bahas tentang spells

dan spell kit ya.

Kalau creative coding, sudah nemu

orangnya, mau

spell, itu kan

legal juga, mau. Ya, dia

mau. Si Pat-Cham mau juga?

Pat mau.

Jadi kita bisa

diskusiin.

Iya.

Terus,

kalau sama

Tion, kita nggak nanya ya.

Iya.

Dia sibuk. Banyak yang minta foto.

Banyak yang minta foto.

Iya. Begitu habis

ketemu sama Lihao, tiba-tiba

spell 5.

Tapi minggu depan

kita bahas apa?

Bahas ulang tahun dulu.

Iya, minggu depan kita sebenarnya ini

edisi 103,

yang adalah episode ke 104.

Sebenarnya ini adalah

ulang tahun yang ke?

2.

Yang kedua ya.

Gampangnya.

Gampangnya kalau udah ketemu Vidcon,

itu berarti

iya bener.

Bener, bener, bener.

Iya. Terus edisi ulang tahun

mau kita bahas apa nih, temen-temen?

Mungkin ada ide nggak sih?

Kita mau bahas rencana,

kemarin kita mau ngobrol juga.

Apa ya?

Kira-kira mau, ada

beberapa hal yang mau di...

Bahas Laravel.

Bahas Laravel.

Kok jadi Laravel?

Kita pernah bahas Laravel

nggak sih? Pernah kan?

PHP, bahas PHP.

Oh nggak, yang khusus ngobrolin

Laravel?

Belum.

Nah, bisa.

Mau lanjut

bahas drama WordPress?

Bosen.

Bosen.

Ini, pembahasan

kok bisa konsisten?

Karena ada temennya?

Kalau kayak gini, nggak konsisten.

Terus cari temen.

Itu sosial efek sih.

Sosial efek, iya.

Kok banyak banget yang mau bahas Laravel ya?

Nah, berarti ya emang harus

bahas Laravel.

Ada nggak sih Laravel Indonesia?

Komunitasnya?

Kita ajak-ajak.

Boleh, boleh. Nanti tanya

Pak Dika kali ya. Laravel siapa yang bisa

diundang ya?

Terus Pak Dika bilang, "Saya aja."

Ya boleh, nggak apa-apa.

Langsung viewer-nya jadi unatusan gitu.

Maksud kita juga gitu,

cuman kita nggak enak kan omongnya?

Kalau nodong hansung.

Enggak lah.

Kayaknya pasti Pak Dika

merekomendasikan orang lain, nggak mungkin

merekomendasikan diri sendiri.

Kalau dia bingung

merekomendasikan siapa,

baru kita tahu dong. Ya udah.

Masih ini aja yang pernah di

webconf, eh webconf apa?

webconf itu siapa?

Yang dari

Surabaya apa dari?

Mana tuh? Lupa namanya.

Siapa?

Yang punya

online course juga.

Sama satu hal yang

belum pernah kita bahas nih sedikit nih.

Apa tuh?

Kekompakannya Bangkok Jazz itu

luar biasa loh, sampai mereka bisa bikin

events gitu bagusnya.

Dan orang-orangnya juga kompak.

Kita

bagaimana membangkitkan lagi

ekosistem web

dan JS di Indonesia.

Itu kemarin kita sempat

bahas di taksi ya, pas mau pulang ya.

Rencana-rencana

kita, ide-ide kita.

Kalau

nggak digiatkan,

kalah kita sama

negara lain.

Oh iya, Bangkok JS ini

kan yang ada dengkotnya

kan, salah satunya kan itu ya

warat ya, yang udah

lumayan senior juga.

Sebenernya mereka itu

berhenti di pandemi kan, yang

Bangkok Jazz 1.0.0

terus nggak ada rencana mau bikin

yang 2.0 ini.

Mereka cuman bikin

meet up bulanan.

Regular meet up, iya.

Regular meet up aja, terus tiba-tiba.

Tapi bikin meet up bulanan rutin juga

udah hebat loh itu.

Udah hebat, luar biasa.

Ada konsistensi, ada regenerasi,

ada orangnya kan.

Nah, tiba-tiba yang muda-muda ini

ngide, yuk kita bikin conference yuk

tapi nggak usah sebesar yang

versi 1, karena versi 1

sampai ribuan yang datang.

Kalau ini kita batasin aja nggak sampai 1000 lah,

600 atau 500 gitu.

400 awalnya.

Oh 400 ya awalnya ya, 400.

Tapi tiket di jual 600.

Tujuannya adalah

ngumpulin duit buat

conference tahun depan sama untuk

bulanan meet up ini, gitu.

Jadi mereka ngumpulin duit buat meet up

dan conference tahun depan.

Jadi luar biasa sih

apa namanya, inisiatifnya

mereka yang muda-muda ini.

Berarti mereka udah mikirin sustainability

juga kan ya, maksudnya apa

tiketing, bisa buat

support aktivitas selanjutnya.

Keren sih berarti.

Iya, dan ya itu mereka

berusaha untuk lebih pragmatis karena ya

waktu duit kan.

Dan makin konsisten, makin

maksudnya makin mereka bikin bulanan kan

makin lebih gampang kalau bikin

proposal cari sponsor kan, karena bilang

ini event bulanan loh, ini dokumentasinya.

Hebat.

Iya betul.

Di Jogja nanti bakal ada Python

yang internasional.

Pycon ya.

Ya Pycon.

Terus ada IDSW juga.

Mudah-mudahan lah semakin banyak

senang sih ngeliat apa

bisa dateng ke conference ketemu

temen-temen lagi offline gitu ya, setelah

bertahun-tahun pandemi kita di rumah

cuma liat webinar kayak gini gitu.

Siapa tahu ya

kita bisa ini ya

offline meet up

ngobrolin web gitu ya, di satu kota gitu ya.

Surabaya, Surabaya.

Surabaya JS.

Bali.

Kenapa gak Indonesia?

Indonesia JS.

Surabaya JS.

Asik.

Iya.

Nah ini

kalau ada, kalau temen-temen punya

kira-kira siapa

yang cocok untuk

diundang, untuk bahas tentang

Laravel, terutama komunitasnya yang kita

belum terlalu mendalami ya.

Boleh di

agendakan ya.

Indonesia JS.

Itu Indonesia JS

yang kota lah.

JSD, kita kan sebutnya JSD.

Jadi

bisa di kota-kota lain.

Oke, kalau gitu

terima kasih buat malam ini.

Terima kasih semua.

Semoga dapat pencerahan dan semoga dapat

semangat untuk bisa ini lagi ya

kita berkomunitas lagi ya.

Dan semoga minggu depan kita dapat ide

ngebahas apa, ulang tahun tuh exactly

ngebahas apa, sampe sekarang gue gak kebayang sih.

Ya semoga dalam seminggu.

Bawa kue ya kayak kemarin.

Bawa kue masin-masi.

Sudah, abis itu

topiknya apa, nanti kita

tunggu aja minggu depan ya.

Oke, kalau gitu terima kasih.

Selamat malam, selamat istirahat, bye bye.

Good night.

Deskripsi asli dari YouTube

Yuk mari kita diskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia web. Agar tetap up-to-date dengan teknologi web terkini. Topik, tautan dan pertanyaan menarik bisa dilayangkan ke https://bit.ly/ngobrolinweb Kunjungi https://ngobrol.in untuk catatan, tautan dan informasi topik lainnya.

Episode Terkait

Bagikan:

Suka episode ini?

Episode baru setiap Selasa malam. Dengarkan lewat YouTube, Spotify, atau feed podcast favoritmu.

Pilih Cara Langganan

Memuat komentar dari GitHub Discussions...

Jika komentar tidak muncul karena ekstensi privasi / adblocker, kamu bisa berdiskusi langsung di GitHub Discussions .